Kopi Lembang Red Honey

Pahitnya kehidupan versus pahitnya kopi Lembang RH.

Photo : Quote di IGku @andriekw / dokpri

CIMAHI UTARA, akwnulis.com. “Pahitnya Kopi bisa mengurangi atau menutupi pahit getirnya kehidupan” Sebuah quote yang pernah diupload di IG dan FB ternyata menuai berbagai pendapat. Ada yang setuju, ada yang menentang dan ada juga yang setengah-setengah. Seolah menentang padahal dalam hati meng-iya-kan.

Eh ada juga yang comment lebay alias berlebihan.

“Trus?…. gimana donk?”

Jejak digital sudah tersimpan disaat kita mengirim tulisan, gambar, video di media sosial, sekaligus tanggungjawab sebagai pengirim menjadi melekat.. wadduh.

Eits tapi tenang dulu, daripada pusing mikirin postingan quote yang udah menjadi milik publik, sekarang mah introspeksi aja trus lebih berhati-hati dalam memposting dan meng-upload sesuatu.

***

Sebagai jawaban postingan pribadi tadi di alinea pertama. Segera dibuktikan saja dengan menyinggahi Cafe Kupu-kupu di jalan raya Kolmas Cimahi Utara yang menyediakan aneka menu makanan minuman dan tentunya kopi seduh manual yang menjadi favoritku, metode V70…. eh kelebihan, maksudnya V60.

“Kang, pesen V60 ya. Eh beannya apa?”
Pertanyaan singkat sama pelayan cafe, tapi sang pelayan terlihat bingung.
“Maaf mas, saya masih training, saya tanya ke belakang dulu yaa”
“Oke”

Tak berapa lama, “Kopinya pake kopi dari Lembang”
“Oke kang, peseen!!”
“Baik Mas”

Photo : Sajian Kopi Lembang RH dg V60 / dokpri

Percakapan singkat yang mengandung kejujuran. Pelayan yang masih magang dan belum tahu tentang menu kopi V60 dengan sopan minta maaf dan segera bertanya ke petugas lain. Bagus. Soalnya pernah mampir di suatu kafe, pelayannya nggak ngerti menu kopi tapi sotoy, jadi illfeel. Ini mah bagus, jujur dan sopan.

***

Kopi Lembang Red Honey produk dari @homesteadcoffeebdg tersaji apik pada gelas server dan gelas kaca kecil, tak lupa bean yang terbungkusnya ikut dimejengin sesaat di meja, memanjangkan tatapan mata dan semilir angin di Cimahi utara, betul-betul melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

Photo : gelas terakhir / dokpri

Bodynya medium menyegarkan, aromanya harum dengan acidity khas arabica priangan yang medium high serta taste fruittynya begitu menggoda lidah untuk terus menyeruputnya hingga tandas.

Ternyata, kopi tanpa gula Lembang red honey tanpa gula ini tidak pahit lho, begitupun kehidupan, selama kita senantiasa bersyukur dan bersabar maka perjalanan hidup ini senantiasa diliputi ketenangan dan kebahagiaan. Wilujeng ngopi lur. Wassalam (AKW).

Nulis Tanpa Mikir

Menulis itu perlu niat, Basmallah dan coretan awal, selanjutnya ngalir menyusuri waktu yang terus melaju.

Photo : Kutrat kotret di Diary / Japri.


Menjelang rabu dini hari, terasa ada yang hilang dan terlupakan.

“Apa yang lupa yach?” Suara hati menelusuri jalinan waktu yang telah sesaat berlalu. “Oh iya belum kotrat kotret, nulis sesuatu. Memintal kata mewujud kalimat rasa”, Senandung penyesalan tak bisa meraih momen yang telah hilang.

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, “Knapa ga nulis, khan biasanya apa aja ditulis dan langsung posting di blog?”

Jawaban pembenar segera berkibar menyemburkan berjuta alasan sehingga semua menjadi rasional.

Tanpa harus berjibaku dengan sesal dan berburuk sangka pada keadaan, rehat sejenak menarik nafas menjadi obat pengurang kegalauan. Apalagi jika kaki beranjak menuju kejernihan air tuk digunakan membasuh muka membersihkan hati dalam upacara mandiri yang miliki makna bersuci. Terasa seluruh kegalauan itu sirna, berganti ceria untuk menapaki hari dan mengisinya dengan alunan cinta.

Diingat kembali dengan membuka notepad di gawai pribadi, ternyata berserakan konsep tulisan yang terhenti sebelum mampu wujudkan satu paragraf. Atau konsep lain adalah poin-poin kata yang tergeletak tak berdaya karena tak digunakan untuk menjalin cerita. “Ada apa kemarin ya?”

Ternyata jawabannya sederhana, ‘Karena terlalu banyak berfikir!’

“Nggak percaya?”

Udah percaya aja dech, supaya cepat kelar nich cerita. Hehehe… maksa. Tapi bener ding, kemarin lebih banyak baca ketimbang nulis, lebih banyak terdiam dibanding mengetik hurup menggambar angka. Karena mencoba menulis sesuatu yang bermakna dengan ilmu bahasa yang sudah ada aturannya.

Seorang kawan memberi tantangan agar menulisnya menggunakan pola eksposisi disertai link yang mengajak diri membaca konsep ilmu kebahasaan yang ternyata beraneka rupa. Menantang memang, tapi alih-alih menulis sesuatu seperti yang diatur dalam tata naskah kebahasaan. Kenyataannya asyik membuka literatur menusuri alam gugel demi tahu tentang berbagai definisi paragraf menulis seperti apa itu ‘Narasi’ atau ‘Deskripsi’.

Ternyata menulis selama ini bener-bener ga pake kaidah bahasa tapi hanya berpedoman pada olah rasa. Xixixi… jadi malu juga. Karena dengan tulisan paragraf Eksposisi maka tulisan tersebut memberi makna dan bobot yang jelas didukung pernyataan ahli serta data terpercaya untuk menguatkan pendapat yang ditulis oleh siapa.

Ada lagi yang disebut Paragraf Eksplanasi mengupas tema lebih jelas lagi dengan bahasa ilmiah dan berbagai kerangka cara penulisannya. Beda dengan tulisan yang versi “ngalir aja”, cenderung menjadi paragraf narasi atau deskripsi yang tentu tinggi tendensi atau malah penuh emosi. Objektif di satu sisi tapi subjektifpun menaungi. Yang pasti luapan rasa hati bisa mewujud dalam karya diri, mungkin menjadi sesuatu untuk suatu saat dan mengerucut menjadi warisan abadi.

Ternyata tulis aja sesuatu bisa rumit ataupun bisa mudah. Nah daripada bahas sesuatu yang rumit hingga akhirnya tak kunjung menulis, mending gerakan jari jemari di layar gawaimu. Ketik sebuah kata diikuti kata lain, terus ulangi dan ulangi terus hingga membangun satu untaian kalimat dan berwujud paragraf.

Jika sudah jadi satu paragraf, ulangi proses menyusun kata tadi. Biarkan satu kata dengan kata selanjutnya bersinergi, berteman karib saling berjanji menaut rasa memadu niat untuk wujudkan paragraf yang bertujuan. Insyaalloh, dua tiga dan empat paragraf akan tersaji dan cobalah baca dari awal. Itulah modal tulisan perdana kita. Rapihkan penulisan, bereskan hurup rapihkan angka serta jangan lupa tanda baca.

Masalah isi or content tulisan tentu menjadi pertimbangan. Tetapi banyak orang yang tak jadi tak berhasil menulis karena ingin menyajikan yang terbaik (versi dirinya), ketakutan di cela oleh pembaca ataupun khawatir tak sesuai aturan tata bahasa. Sehingga adagium bahwa ‘Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tak tuntas dibuat’ kembali menggema.

Hidup ini tidak ada yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT saja. Mari menulis seiring kata hati dan gerakan jemari. Tapi ingat hindari tema yang tendensius dan memancing konflik. Bikin tulisan wujudkan warisan dalam bentuk buah pikiran original kita masing-masing. Klo belum pede ketik langsung di gawai, ya kutrat kotret dulu di buku catatan karena ide menulis itu datang tanpa diundang juga pergi tanpa bisa dilarang.

Manfaatkan kemajuan jaman, Jangan lupa niatkan dan baca Basmallah, mulai deh nulis di gawai trus upload di blog pribadi. Banyak yang gratisan seperti wordpress dan blogspot. Trus linknya share pada kontak WA kawan dan Medsos kita, Facebook, instagram, path, twitter termasuk status whatsapps.

Tunggu responnya dan tanggapi dengan santai klo ada komentar apapun. Klo ada yang ngoreksi segera perbaiki, klo ada yang menghina berarti pahala penghina untuk kita dan klo ada yang mengapresiasi jadikan lecutan diri untuk perbaikan kualitas dan kuantitas tulisan selanjutnya.

Selamat menulis…..

Wassalam. (@andriekw).

Photo loncat & Aku. Kamu?..

Ternyata berlevitasi telah dilakukan 3 tahun lalu dan sekarang dilanjut lagi. Hayuu… cobaa.

Menatap layar gadgetku, tersenyum sendiri melihat photo-photo terbang kawan-kawan dan juga bos-bosku. Mereka melayang beberapa senti diatas tanah, dengan wajah ceria dan sebagian tahan nafas. Sedikit tergurat rasa lelah, tapi sesaat terhapus oleh suasana gembira.

Wajar temen-temen dan para bos merasa hepi karena hasil photonya menyenangkan hati. Itupun bukan hasil instant, karena perlu persiapan untuk meloncat berulang kali agar mendapatkan moment terbaik.

Memang untuk berlevitasi alami butuh perjuangan lebih keras, tapi minimal sampai level jumpshot ceria sudah bisa dicapai. Alhamdulillah.

Levitasi adalah seni photography yang menghasilkan photo melawan gravitasi. Seakan terbang tidak menapak bumi, tapi bukan terlihat meloncat. Klo terlihat meloncat, itu namanya ‘jumpshot‘.

Ada juga yang menggunakan photoshop dan diedit sehingga melayang hasilnya. Tapi aku mah yach… alirannya yang alami ajah. Biarin ngesang (berkeringat) dikit, itu resiko perjuangan. Trus pakenya juga bukan kamera DLSR, cukup gadget we yang ada, khan cuman buat seru-seruan. Saat itu Samsung Galaxy Note 3 yang mulai digunakan cukrak cekrek.

Tapi sejak kapan yach mulai gandrung dengan gaya photo melayang?

……..

Penasaran… coba diingat..

Sumber : capture screen my IG

Eh sekarang khan jaman canggih. Tinggal buka instagram olangan… dan tralala… ternyata baru 3 tahun lalu, Agustus 2014 dan korban perdananya yang musti keringatan karena musti loncat 20x lebih adalah kawan-kawan di tempat kerja lama di jalan malabar Kota Bandung.

Sumber : capture screen my IG

Ada temen yang moo upacara HUT Kemerdekaan RI ke-69 dibajak dulu buat loncat-loncat pake baju Korpri, trus dilanjut bapak satpam yang baik hati sedang nyapu halaman.. disuruh juga lompat-lompatan dan diabadikan dengan smartphone yang ada.

Sumber : capture screen my IG

Begitupun di akhir agustus ada acara pekan olahraga di halaman gedung sate, 3 rekan berseragam olahraga melompat bersama. Termasuk sepupu yang sedang berwisata ke Tahura Dago, tak lepas dari permintaan untuk meloncat dan lumayan keren hasilnya (maaf muji sendiri).

Sumber : capture screen my IG

Dan sekarang, 3 tahun berlalu. Semangat jumpshot dan levitasi kembali menggelora. Tentu dengan strategi bagaimana agar tidak banyak loncat tapi hasilnya yahuud.

Jumpshotku di P. Belitung, 2017

Ternyata tetep saja harus take gambar lebih dari 10x loncat untuk satu photo melayang. Tapi hikmahnya memang terasa suasana gembira dan keceriaan serta dipaksa berolahraga dengan mode loncat-loncat ceria. 

Berlevitasi di Tanjung Aan, Lombok, 2017.

Cerita tahun ini tentang jumpshotku terasa lebih berwarna karena ada kawan yang pintar mengambil gambar pose melayang plus pelajaran berharga dari anak-anak kecil yang piawai bermain smarphone  sehingga bisa ikutan ‘terbang’ dan ‘melayang’.

Photo : Dokumen Pribadi

Terakhir ini photo Mr T yang cool dan cuek, akhirnya tertarik untuk mencoba sesaat terlepas dari bumi menjejak eksistensi.

Yang penting adalah, jalani kegiatan ini easy going, manfaatkan moment perjalanan baik urusan dinas atau pribadi dan jangan lupa, suruh orang lain loncat dan hasilkan photo ‘melayang’nya. 

Wassalam.

@andriekw

Gajahenam,   syawal 1438  H

Si kecil terampil di Tanjung Aan.

Pelajaran penting dari sekumpulan bocah cilik di Tanjung Aan, P. Lombok.

Photo : dokpri versi panorama

‘Ala bisa karena biasa’ pepatah lama terngiang dan terbukti. Tidak perlu melihat usia, karena keahlian itu bukan sudah berapa lama hidup di dunia. Tetapi berapa sering kita melakukan aktivitasnya. Setekun apa kita berusaha dan sekeras apa keinginan kita untuk bisa, itu yang menjadi poin pentingnya. Ditambah motivasi untuk menjadi bisa. 

Bicara motivasi itu sangat beraneka, ada yang mengejar keahlian karena mengejar pujian, tetapi tidak sedikit bahwa keahlian diyakini bakal mendatangkan kesejahteraan. Selain pujian, motivasi bisa timbul karena cacian, hinaan dan cibiran. Tinggal bagaimana mental kita menghadapi semuanya.

Photo : dokumen pribadi

Disini, di sebuah tanjung yang berpemandangan indah tepatnya Pantai Tanjung Aan Kawasan Mandalika Pulau Lombok. Masuk wilayah administratif Kabupaten Lombok Tengah. Tanjung Aan ini hanya satu dari sekian banyak spot yang bisa jadi tempat selpi, welpi atau jumpshot dan tentu para penggiat levitasi. Pokoknya ngemanjain banget orang yang suka photo2. Klo photografer profesional tidak usah dibahas, kita mah yang amatiran, berbekal smartphone canggih yang kameranya punya aneka fungsi tapi kita nggak tau cara pakenya kecuali cekrak cekrek selpi dan selpi hehehehe.

Klo buat apdet status di medsos dan hahahihi chat di WA, Bbm, Line dan sebagainya itu biasa. Tapi giliran kamera… ya cukrak cekrek aja. 

Photo : dokumen pribadi

Di Tanjung Aan ini membuka mata kami dan pepatah tadi terngiang kembali. Rombongan yang mayoritas orang tua, menduduki jabatan mentereng ternyata mati kutu dan tak bisa komentar dari celetukan anak kecil, “Yach hape nya jelek!!!”, “Yang serius donk pa, dengerin aba-aba!” dan menuruti celetukan serta perintah mereka.

Kami masuk golongan anak muda yang tergabung dalam rombongan besar inipun tersenyum dikulum melihat pa bos disuruh berulang-ulang meloncat demi hasil photo jumpshot yang keren. Atau juga diberi instruksi untuk berlari dan berpose dan berlari untuk dapatkan photo panorama yang menarik.

Photo : dokumen pribadi

Mereka masih anak usia SD kelas 4-5, dengan kaos lusuh wajah kusam tetapi mata terang  berbinar. Menyambut kami yang masuk area pantai dengan tawaran untuk membantu memphoto kami dengan HP kami. Awalnya terasa risih karena ngikutin terus sambil rewel mirip anak minta jajan. Tetiba muncul rasa iba, disodorkanlah smartphone kami dan langsung jemari mungil mereka bergerak lincah dan instruksi, “Ayo kita photo dorong pulau, terbang atau tembak-tembakan.” 

Photo : dokumen pribadi
Kami bengong sesaat dan coba ikuti intruksi. “Nah gitu pa, nich hasilnya”, hanya beberapa detik tersaji gambar yang tepat. Kami jadi semangat dan mencoba photo terbang…. tralaaaa… hasilnya luar biasa. Teman lain yang awalnya tidak mau bekerjasama dengan anak-anak kecil inipun jadi penasaran dan nyodorin hape masing-masing. 

Photo : dokumen pribadi



“Jelek ini henpunnya, ga ada mode panorama,” dengan bersungut-sungut anak kecil menyodorkan kembali hp ke yang punya. Teman saya menggerutu, “Sialan, jauh2 ke lombok eh diceramahin anak kecil klo hp nya jelek..”

Nasiib… nasib.


Photo : dokumen pribadi
Tak putus asa, akhirnya nebeng dech photo loncat dan sebagainya pake photo temen dengan komando dari anak kecil yang begitu terampil serta profesional. 

Photo : dokumen pribadi

Setelah tuntas, mereka tidak matok bayar berapa. “Lima ribu aja om”, gitu jawabnya. Tapi nggak tega, jadi meluncurlah duit lembaran 20rb an dan lumayan juga karena yang ngasih lebih dari satu orang.

Akhirnya kami kembali ke Bis travel yang setia mengantar kami. Menyisakan kenangan indah pemandangan mandalika dan wajah polos sang anak kecil yang begitu terampil menggunakan mode kamera di smartphone kami-kami.

Wassalam

@andriekw 190717

Kepala Kakap & Burung Punai

Enaknya kepala kakap dan burung punai goreng, yummy…

Sumber photo : Dokumen pribadi

Tawaran makan siang gratis memang tak bisa ditolak, apalagi setelah meeting sang perut sudah kerasa nagih untuk diisi. Maklum 18 jam perut hanya diisi air putih dan teh saja plus dua glek VCO dan setetes madu… 

Lagi pengobatan?..

Lagi diet?….
Nggak!!, cuman mencoba gaya hidup yang insyaalloh cocok untuk diri ini. Dan yang terpenting adalah pola gaya hidup (diet) ini akrab bingit dengan yang namanya rumah makan padang. Karena rumus sederhananya adalah Stop Karbohidrat, Stop Gula dan Ganti Lemak. Serta dipadu dengan pola puasa… entar aja dongeng lengkapnya yach. Khan moo cerita dulu tawaran makan siang lho, bukan cerita diet he he he.

Sumber photo : Capture Google maps

Ternyata tidak jauh dari sekitaran Monas tempat meeting pertama, dalam kendaraan tebengan yang meluncur membelah jalanan siang jakarta yang padat menuju bilangan pasar baru, tepatnya di jalan Krekot Bunder. RM Padang Medan Baru, itu nama rumah makannya. Tiba di depannya, sudah penuh mobil berderet parkir. Terlihat dari luar tidak terlalu luas. Tetapi setelah kaki menjejak ke dalam rumah makan, terasa luas dan panjang. Maka tanpa basa-basi menuju tempat yang sudah disediakan oleh sponsor :), duduk manis sambil ngeceng makanan yang disajikan, terutama itu tadi kepala kakappp…

Sumber photo : Dokumen pribadi

Ternyata kesampaian juga menikmati sajian kepala kakap di rumah makan ini. Termasuk bonus yang juga andalannya adalah burung punai goreng. Sedikit lebih kecil dari puyuh dan dagingnya empuk serta harum. Sajian rendang dan balado lainnya tidak sempat dicicipi karena sudah keburu terhipnotis oleh lezatnya kepala kakap dan burung punai goreng.. of course Tanpa Nasi.

Sayangnya burung punai goreng lupa diabadikan dulu, karena baru saja dihidangkan langsung menjadi rebutan para hadirin penikmat makan siang ini, kalaupun photonya adalah tumpukan tulang belulangnya serasa tak elok karena tidak beda dengan kumpulan tulang ayam goreng.

Maksi ini ditutup dengan segelas jus alpukat tanpa gula. Disajukan cepat dan betul-betul alpokat mentega less water, less Ice and no sugar. Segerrr. Nikmat. 
Alhamdulillah perut kenyang pikiran tenang. Sebagian teman berpindah duduk ke ruangan tanpa AC atau di luar area rumah makan untuk melakukan ‘ritual’ pembakaran sebatang dua batang rokok. 
Pas nyari toilet dan mushola, pegawai menunjuk arah belakang. Segera bergerak dan dibalik banyak orang cacaleuhakan eh makan-makan tersembunyi mushola yang asri dan bersih lengkap dengan tempat wudhu yang nyaman. Pokoknya musholanya rekomended dech… kecil tapi nyaman.

Setelah semua selesai maka rombongan dengan beberapa mobil bergerak ke tempat meeting berikutnya. Terima kasih kepada sponsor yang sudah mentraktir kami semua, semoga dibalas dengan rejeki yang lebih banyak dan berkah.

Wassalam

@andriekw kihapit160717

Bersua dengan Dewan Nasional KEK

Reportase sesi II bertemu dengan Dewan Nasional KEK bersama pengusul dan Tim KEK jabar

Pertemuan antara Sekretaris Dewan Nasional KEK dengan Calon pengusung KEK Aerocity Kertajati yaitu AerocityDev BIJB didampingi Tim KEK Jabar berlangsung di Gedung MR 21 Jalan Menteng Raya No. 21 Jakarta Pusat pada hari rabu, 12 Juli 2017 pukul 14.00 Wib sampai 16.00 Wib.

Meskipun beberapa anggota Tim Pendamping dan Perintis KEK Jabar ada yang harus balik arah di daerah Taman Ismail Marzuki karena gedung pertemuannya kelewat. Tetapi sesuai jadwal semua bisa berkumpul tepat waktu di lantai 13 Gedung MR 21 dimana Sekretariat Dewan Nasional KEK bermarkas.

Acara diawali pembukaan oleh pa Enoh S selaku sekretaris Dewan Nasional KEK dilanjutkan dengan pemaparan pendahuluan dari Ketua Tim Pendamping KEK Jabar (Pa AsdaEkbang) yang membahas tentang konsepsi pembangunan Jawa Barat yang terbagi dalam 3 kluster kawasan metropolitan yaitu kawasan BoDeBeKarPur, Bandung Raya dan Cirebon Raya. Didukung oleh 3 titik pertumbuhan di koridor Jabar selatan yaitu Palabuan Ratu – Rancabuaya- Pangandaran.

Setelah memperkenalkan Tim KEK Provinsi Jawa Barat, AsdaEkbang menjelaskan terkait rencana pengusulan beberapa kawasan di provinsi jawa barat untuk menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), ada 6 wilayah yang sedang berproses yaitu :

1. KEK Aerocity BIJB di Kertajati Kab. Majalengka.

2. KEK Walini TOD KCIC di Kabupaten Bandung Barat.

3. KEK Pangandaran.

4. KEK Geopark Ciletuh di Kabupaten Sukabumi.

5. KEK Jatiluhur Kabupaten Purwakarta; dan

6. KEK Jatigede Kabupaten Sumedang.

dan…….. hari ini adalah pembahasan awal terkait usulan KEK Aerocity yang diusung oleh AerocityDev sebagai anak perusahaan dari PT BIJB sebagai salah satu BUMD milik Pemprov Jabar yang dihadiri langsung oleh Dirut PT BIJB bp Virda Dimas beserta Tim.

Pa Virda Dirut PT BIJB menjelaskan bahwa pihaknya melalui AerocityDev mengajukan KEK dalam konsep aerotropolis, kota terpadu yang menggabungkan fungsi Bandara dengan investasi usaha, kawasan bisnis, residensial, taman bermain kelas dunia seta fungsional lainnya dalam satu kawasan yang terintegrasi.

Progres pembangunan bandara hingga awal Juli 2017 total mencapai 48,6% yang meliputi 3 segmen yaitu 1) Infrastruktur utama (runway-taxiway-jalan layang dst), 2) Terminal utama dan 3) Infrastruktur penunjang. Direncanakan seluruh konstruksi rampung di bulan desember 2017 dan Triwulan I Tahun 2018 bisa dilakukan soft launching.

Juga paparan pendukung untuk memotret kesiapan Tim Aerocity dalam proses menjadi Kawasan Ekonomi khusus.

Tanggapan dari Sekretaris Dewan Nasional KEK cukup menyejukkan dan bisa memberi semangat bagi calon pengusul dan Tim KEK Jabar untuk segera melengkapi dan memenuhi 17 item prasarat yang harus dimiliki oleh pengusul.

Terdapat 3 poin penting yang harus dicermati yaitu :

1. Legalitas lahan yang akan diusulkan.

2. Rencana Bisnis, dan

3. Pengusung usulan KEK (PT BIJB)

Saran selanjutnya adalah terkait konsep bisnis yang akan dibangun di aerocity sebaiknya tidak mengganggu bisnis-bisnis yang sudah ada di Jawa barat, memiliki keunikan tersendiri, atau diajukannya sebagai KEK yang pertama dengan tema ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Anggota Dewan Nasional KEK lainnya mengingatkan bahwa KEK ini adalah fasilitas untuk menarik minat investor, jangan dibiarkan setelah PPnya terbit. Tetapi dimanfaatkan segera. Termasuk juga sinergi dengan pemerintah daerah terutama terkait pembangunan infrastruktur regional plus komitmen Pengusung dalam proses usulan dan pelaksanaan yang memerlukan waktu cukup panjang.

Diskusi ringan menjadi tambahan dalam acara pertemuan perdana ini, tak terasa adzan ashar sudah berlalu 30 menitan. Tim penggiat KEK jabarpun berangsur bubar jalan, kembali ke bandung melalui jalur jalan tol dan kereta api.

*) Sumber Photo & Video : dokumentasi pribadi.

Wassalam,

@andriekw Gajahenam 150717

Menuju Jakarta, usulkan KEK Aerocity BIJB

Reportase sesi I untuk giat usulan proposal KEK di Kementerian Pariwisata. 120717

Adzan shubuh belum berkumandang, disaat raga sudah bergerak menyusuri dinginnya pagi menuju Stasiun Kereta api Cimahi. Tepat disaat kaki menjejak halaman parkir stasiun KA, Adzan Shubuh bersahutan, menenteramkan hati memanggil umat muslim yang sebagian besar masih terlelap dalam buaian mimpi yang penuh dinamika.

Shalat shubuh telah ditunaikan, 10 menit kemudian sang Argo Parahyangan menjemput dengan lengkingan dan wajah ceria. Hari ini begitu menyenangkan.

Perjalan pun dimulai menyusuri rel kereta yang berkelok menuju ibukota negara, Jakarta. Tidak lupa disaat Argo parahyangan menghela nafas sejenak di stasiun purwakarta, segera berlari menuju pintu keluar, mengabadikan tumpukan rel kereta yang menjadi mozaik warna warni sebuah saksi perjalanan masa silam.

3 jam berlalu dan menjejak kaki di Stasiun Gambir Jakarta. Karena kebetulan gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata hanya terhalang oleh Area Monumen Nasional maka diputuskan berjalan kaki saja menyusuri sisi kiri melewati jalan Medan Merdeka barat, melewati seberang pelataran kantor Gubernur DKI Jakarta.

Jrengg…… keringat lumayan deras mengucur tetapi tak lama tergantikan sentuhan angin AC di dalam gedung. Meeting di laksanakan di lantai 4 Gedung Sapta Pesona. Diterima dengan ramah oleh bapak Azwir dari Kementerian Pariwisata. Tim Penunjang KEK & Tim Perintis KEK Jawa Barat bersama Tim BIJB serta Perwakilan KCIC yang dipimpin bapak Asisten Perekonomian & Pembangunan mendorong Tim BIJB yang dihadiri langsung oleh Direktur Utama PT. BIJB, bapak Virda.

Maksud dan tujuan sudah disampaikan dan selanjutnya Dirut BIJB menyampaikan paparan terkait rencana usulan Aerotropolis Kertajati menjadi Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata, dimana pengusulnya adalah BIJB yaitu BIJB AerocityDev, anak perusahaan PT. BIJB.

Tanggapan Bapak Asdep Pengembangan Destinasi Wisata alam & buatan, bp Azwir Malaon dalam diskusi ini adalah pembahasan pagi ini sebagai pemanasan sekaligus pemantapan presentasi yang akan dilaksanakan sore nanti di hadapan para Dewan Nasional KEK. Sebagai ikhtiar menuju penetapan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Kulonuwun dulu, sehingga usulan yang sedang berproses dapat ditempatkan on the track sesuai mekanisme yang tercantum dalam regulasi tetapi dalam waktu singkat. Selanjutnya Dewan Nasional KEK bisa memberikan fasilitasi klinik dalam penyusunan & pengajuan usulan KEK ini.

Poin penting selanjutnya terdapat 3 hal penting yaitu :

1. Legalitas KEK dari sisi penguasaan lahan, Pengusul dan regulasi tata ruang.

2. Sense pariwisata dalam desain bandara.

3. Mengusulkan mengajak bapak Kemenpar untuk meninjau secara langsung ke lokasi calon bandara yang sedang dibangun.

Pa AsdaEkbang menambahkan terkait listing proyek strategis nasional (PSN) yang termaktub dalam Perpres No 58/2017 maka Presiden berharap dilakukan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan proyek lebih cepat.

Dimana secara umum pendekatan pembangunan yaitu:

1. Engginering problem

2. Financial problem

3. Political problem

Selanjutnya mengkritisi beberapa slide yang dipaparkan Dirut PT BIJB agar lebih singkat, padat dan tepat.

Sesi inipun berakhir ditutup dengan keceriaan karena ada surprise tiup lilin. Ada apa gerangan?…. ternyata bapak AsdaEkbang ultah ke 60 tahun dan pa Azwirpun 2 hari lalu berulangtahun ke 60 tahun. Maka potong kue dan berdoa memberi keceriaan serta optimisme.

“Happy Birthday To You”

*) Sumber Photo & Video : dokumentasi pribadi.

Wassalam

@andriekw 150717