Citra – Medsos – Kopi.

Secuil citra dalam menjaga konsistensi diri, jadinya ngopi.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah kekuatan rasa akan hadir dengan kerjasama apik dari aneka kata yang terserak berbeda. Dirajut dengan perlahan dan hadirkan kalimat yang mengikat niat. Meskipun bisa hadir sebuah dampak untuk menggiring sidang pembaca mengkristalkan persepsi tentang keseharian seseorang.  Apalagi dilengkapi dengan sajian video via youtube, reel-instagram dan tiktok, maka kristalisasi aktivitas begitu mengemuka.

Padahal….

Apa yang dilihat di medsos dan atau ditulisan blog tersebut hanya sebagian kecil saja serpihan fragmen kehidupan yang secara sadar ditampilkan demi alasan tertentu. Tentu kalau mayoritas adalah berpegang pada nilai eksistensi dengan indikatornya ramainya jempol serta komentar serta akhirnya viral… dan terkenal.

Tetapi ada juga yang ikut-ikutan karena dianggap tidak gaul jika nggak meramaikan jagad medsos, tapi ternyata setelah dapet respon dari netizen… malah keterusan serta ternyata rasanya menyenangkan.

Meskipun secara pribadi, memang sekarang sudah tidak bisa mengelak dengan perkembangan jaman yang begitu cepat. Termasuk eksistensi di media sosial yang akhirya tetap ikut posting di medsos, tentu dengan filterisasi pribadi yang ketat.

Nah kalau blog pribadi ini, diihtiarkan istiqomah bin konsisten, tulis apapun temanya meskipun tema utamanya adalah Ngopay dan Ngojay serta Mantay alias Seputar Kopi, kolam renang dan mereguk vitamin-Sea di pantai.

Juga sekarang sedang menggiatkan upload di akun youtube dan mencoba mendaki untuk memenuhi target minimal monetisasi, jadi jangan bosan dukung dengan like, share, subscribe dan juga komen yaaa…. akunnya ini ya : @andrie kw.

Termasuk cerita kisah nyata tentang musibah patah kaki dan operasinya, berurutan diposting dan ternyata banyak pembaca yang menilai ini cerita fiksi bin rekaan saja hehehe…. maklum karena seringnya menulis cerita fiksi bin rekaan saja.

Maka bagi para penikmat tulisanku ini, semoga tetap berkenan meluangkan waktu untuk membaca dan menikmati untaian kata yang mungkin miliki makna atau minimal silaturahmi virtual tetap terjaga.

Sebagai penutup, maka kita tampilkan photo sajian kopi arabica halu poek banana yang di seduh dengan bejana dan gelas kaca senada. Urusan rasa dan pengalamannya serta tempatnya nanti ditulisan pada postingan selanjutnya. Selamat malam semua, Wassalam (AKW).

PAKANCI – fbs

Ide cerita di pantai selatan Ujung genteng Sukabumi..

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah perjalanan memberikan inspirasi menulis dalam berbagai sisi. Tentu tulisan utamanya adalah cerita perjalanan yang nyata meskipun tetap harus bertema. Tema utamanya adalah NGOPAY dan NGOJAY, tapi karena berenang (ngojay) tidak memungkinkan maka jadinya MANTAY (main ke pantai) dan hasilnya adalah 2 tulisan serta video di youtube. Ini tulisannya :

1. KOPI HITAM & LAUT UJUNG GENTENG.

2. KOPI HALU BANANA – Pelabuan Ratu.

Ternyata ide dari perjalanan ini masih ada, dan dicoba ditulis dengan genre berbeda yaitu di ranah reka atau fiksi dengan tulisan berbahasa sunda yaitu fiksimini sunda.

Tulisannya singkat, hanya 149 kata saja. Nggak percaya?… silahkan hitung saja kata perkata.

Tetapi sudah membuat cerita singkat yang di paragraf akhir memberi peluang untuk melanjutkan cerita sesuai ekpektasi pembaca… seru khan?..

Ya sudah kalau penasaran, silahkan dibaca. Jikalau tidak paham kata dan kalimatnya, DM aja kakak… IGnya @akwnulis dan @andriekw.

Silahkan….

FIKMIN # PAKANCI #

Anjog ka vila geus ngaliwatan indung peuting, kaayaan simpè dibaturan hawar – hawar sora lambak laut kidul. Di gerbang vila, lalaki tengah tuwuh ngajentul, nungguan.

Ieu sosina jang, itu vilana” curuk pèot bentik kana wangunan di juru beulah katuhu.

Nuhun bah”

Uing leumpang sorangan muru vila, “Naha teu nganteur nya?”

Ah teu loba mikir, nu penting geus boga sosi. Tinggal asup vila, ucul-ucul, mandi, ganti baju, sarè, sanggeus 8 jam numpak èlf  ayeuna mangsana rinèh.

Assalamualaikum…” Uing uluk salam, ukur syarat wè. Da angger simpè. Sosi dicolokkeun, cetrèk. Panto muka, tepas simpè rada meredong.

Mèh teu keueung, muru cetrèkan lampu, urang hurungkeun kabèh. Aya deukeut panto ka pangkèng.

Cetrèk. Burinyay.

Peureum sakedapeun, sèrab. Pas beunta hookeun. Tepas jadi badag  aya korsi karajaan jeung lampu gantung nu baranang. Sagala inuman jeung bungbuahan dina bokor emas ngaleuya.

Dalapan punggawa kènca katuhu ngabedega. Duaan maju kahareup bari nyembah dokoh pisan, “Wilujeng sumping Pangèran…”

***

Terima kasih yang sudah berkenan membaca sampai tuntas. Tulisan ini hadir sambil menemani recovery pasca operasi patah kaki.

Wadduh patah kaki kenapa?.. operasi dimana?…”

Nantikan tulisan selanjutnya, Wassalam. (AKW).

Kopi Hitam & Laut Ujung Genteng

Akhirnya bisa menyeruput kopi hitam di tepi pantai, alias ngopay & mantay… Sruput.

UJUNG GENTENG, akwnulis.com. Deburan ombak dan semilir angin pantai akhirnya menyapa raga dan indra perasa dengan harmonisasi kedamaian. Setelah hampir 2 tahun tak bisa beranjak dengan segala keterbatasan, maka hari ini pertemuan dengan sang laut kembali terjadi.

Perjalanan panjang 7 jam lebih dari Bandung Ke Ujung genteng ini terbayarkan oleh sapaan alam yang begitu menggugah rasa memberikan sensasi berbeda serta mereguk ‘Vitamin Sea’ untuk menguatkan jiwa agar semakin bersyukur atas rahmat dari Allah Sang Maha Kuasa.

Tentu ini semua terjadi karena takdir-Nya, tetapi sebagai mahluk lemah ini nilai ihtiar perjalanan adalah sebuah catatan penting kehidupan. Dengan berbagai judul acara dan kegiatan, yang pasti kali ini bisa bersua kembali dengan pantai.

Yup, pantai di Ujung genteng ini cukup panjang dan ada beberapa lokasi, tetapi yang dikunjungi hanya 2 saja yaitu pantai ciracap yang sekarang sedang di datangi dan selanjutnya pantai pangumbahan dimana terdapat konservasi penyu yang menjadi andalan.

Nah, tak lengkap rasanya perjalanan ini tanpa ditemani sajian si kopi hitam. Maka segera mencari di kios – kios terdekat saja.

Lha nggak bawa kopi asli?”

Kebetulan keabisan lagian tadi malem sudah menikmati kohitala di Pelabuanratu kok”

Oalaah ternyata, ya sudah ditunggu tuh tulisan yang ngopay di pelabuanratunya”

“Oke, ditunggu yaa”

Percakapan imajiner melengkapi langkah tertatih ini, karena kaki kiri membengkak akibat keseleo di kantor pada hari sebelumnya.

Mendekati kios kecil, seorang ibu menyambut kedatangan. “Wilujeng sumping cep, badè ngaleueut naon?” (Selamat datang, mau menikmati apa?”)

Segera pesan kopi hitam yang ada, meskipun tentu kopi gunting.. it’s okey.. less sugar is very important.

Maka sambil menunggu kopi hitam tersaji, segeralah berjalan perlahan ke pantai, menapaki pasir pantai yang bersih memutih lalu menginjak air pantai yang menenangkan diantara perahu nelayan yang sedang beristirahat setelah lelah mencari ikan di tengah lautan.

Kembali ke bibir pantai dan telah tersaji kopi hitam bercangkir hitam dengan tulisan : Be Awesome Today but First, COFFEE.

Satuju pisan èta caption… cucok markocok.

Langsung perlahan tapi pasti… disruput guys.. hmmm… nikmat, kepahitan kopi ditemani deburan ombak pagi… ruar biasa, Alhamdulillahirobbil alamiin.

Inilah tulisan ngopi di pantai kali ini, pantai yang pertama. Sebuah keinginan menggebu ingin bercengkerama dan berenang di air laut terpaksa diurungkan karena kondisi kaki yang tidak memungkinkan. Cukuplah sedikit berendam, berpose dan duduk menikmati deburan serta angin kencang sambil menghabiskan kopi hitam di cangkir hitam.

Tulisan yang pantai pangumbahan, nantinya, nunggu mood dan kesempatan. Hatur nuhun. Wassalam (AKW).

SENSASI RASA RUJAK CINGUR.

Menikmati Maksi penuh rasa…

BANDUNG, akwnulis.com. Sudah lama memang tidak bersua dengan sajian makanan yang segar dan menarik ini, tetapi yang menggelitik hati adalah sebuah paduan yang mungkin agak jauh jikalau dipaksa padupadankan. Tapi ternyata ini malah menjadi sebuah sajian ciri khas yang menjadi trade mark kuliner sebuah provinsi di ujung Jawa.

Bagaimana tidak jauh, potongan buah nanas yang segar dan bengkoang dicampurkan dengan potongan tempe dan taoge plus daun kangkung di sandingkan dengan cingur atau potongan moncong daging hidung sapi atau kerbau dan akhirnya dikawinkan dengan kuah kacang yang menggugah selera.

Meskipun sekarang irisan daging hidung sapi atau kerbau tersebut lebih banyak diganti potongan kikil yang lebih mudah didapat di pasar – pasar. Tetapi memang penggabungan ini menurutku yaa… sebuah keunikan rasa tersendiri. Dari literatur yang ada, bahwa kuliner unik ini adalah perpaduan budaya jawa, tionghoa, arab dan madura.

Nah, pasti udah pada bisa nebak, nama sajian kuliner ini adalah RUJAK CINGUR.  Nama yang singkat dan langsung mengena, rujak sudah identik dengan irisan buah-buahan dan kuah sambalnya ditambah Cingur adalah moncing sapi/kerbaunya… tinggal bagaimana sensasi rasanya.

Jangan salah, rasa yang tersaji begitu nikmat menggoda karena perpaduan manis, asam, asin, kecut dan lembut serta segarnya berpadu sempurna. Pantesan banyak banget penggemarnya dan menyebar kemana-mana, tidak terkecuali ibu mertua.

Kenapa nggak ngebahas kuliner jabar aja?”

Aduh santuy bro, diriku menulis apa aja dan kebetulan kali ini ide hadir karena dihadapanku tersaji sebungkus Rujak Cingur yang menyegarkan. Kuliner di Jabar tentu banyak juga dan sudah banyak yang buat tulisannya. Sementara ini aneka rasa yang hadir menggoda mulut dan memberi ide untuk kembali merangkai kata.

Selamat menikmati makan siang yang segar dengan kuliner jatim yang lengkap unsur – unsurnya. Ada protein dari potongan kikil dan tempe, vitamin dan aneka mineral dari buah nanas dan bengkoang serta sayuran tauge dan kangkung plus karbohidratnya dari irisan kentang dan beberapa potong lontong, nyam nyam nyam.

Selamat menikmati makan siang ini dengan syukur tiada hingga kepada Allah Sang Maha Pencipta, Bismillah… (AKW).

Kenangan Kesegaran – Trans Hotel Bdg

Menikmati kenangan…

Photo : Swimming pool Trans Hotel Bdg – siang / Dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Dalam gemericik air dan hempasan lembut di pasir putih, disanalah tersaji ketenangan sore ini. Meskipun sesaat tapi cukup memberi hiburan pada jiwa yang sedang merindu begitu hebat.

Panggilan menyegarkan dari permukaan air kolam terpaksa ditepiskan tanpa alasan yang bisa menjadi pembenar. Tapi terkadang dalam kehidupan, perlu menolak tanpa jelas alasannya. Ya tolak saja. Titik.

Meskipun sejumput analisis selalu membuntuti suatu tindakan. Begitupun kali ini, alasan sedang shaum peringkat pertama. Karena kalau jadi berenang, khawatir menelan air kolam dan membatalkan puasa yang sedang berjalan.

Dahulu, menu berenang di siang bolong pas ramadhan adalah keharusan sekaligus kehausan. Menjadi modus melepas dahaga tanpa terlihat manusia, padahal Tuhan tahu. Tapi itu kenakalan remaja. Sekarang sudah remako atau remaki*), sudah bukan saatnya lagi curi-curi minum air kolam renang hehehehe…. tahan dan tahan, maka tuntaslah puasa hari ini dengan kumandang adzan mahrib yang begitu dinanti.

Photo : Swimming pool Trans Hotel Bdg – malam / Dokpri.

Alasan kedua bisa saja bentuk badan yang sudah custom, “Tahu khan ukuran custom?”

Ukuran custom itu adalah ukuran tubuh yang hanya diketahui oleh Tuhan, pasangan dan tukang jahit. Biasanya kombinasi ukuran. Leher, bahu dan dada itu ukuran XL tetapi pas perut dan pinggang jadi 4XL. Turun ke Paha dan betis jadi XL lagiiii… wkwkwkwkw…..

Sebagai pelepas rindu bergejebur dan bercengkerama bersama kesegaranmu, maka dokumentasi photo dan video yang mewakili. Minimal meskipun tidak bersentuhan dalam keintiman alami, tetap punya arsip dan dokumentasi bahwa daku pernah kembali kesini.

Tidak lupa dikala senja berganti warna, menggelap dalam malam yang merona. Maka mengabadikan suasana kolam renang lantai tiga Trans Hotel Bandung ini menjadi fitur wajib, sebelum meninggalkannya dengan sejuta kenangan yang tak lekang oleh harapan.

Selamat malam kawan, mari menunda kesegaran tetapi kembali ke halaman mesjid untuk melengkapi ibadah di malam-malam terakhir ramadhan. Wassalam (AKW)

***

*)remako : remaja kolot dan remaki adalah remaja aki-aki.

Sunrise di Hutan Bakau Pantai Mundu.

Mengejar Sunrise sendiri di Hutan Bakau.

CIREBON, akwnulis.com. Tatkala mentari hadir di garis cakrawala, di situlah salah satu keindahan dunia hadir untuk menentramkan rasa. Apalagi jauh dari hiruk pikuk pembicaraan, bisingnya lalu lalang kendaraan ataupun teriakan perselisihan termasuk bisikan unfaedah yang terkadang tumbuh menjadi gosip yang menjatuhkan.

Memang perjalanan pagi ini berliku dan tidak direncanakan, tetapi takdir tuhan adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dihindarkan.

Memasuki jalan kecil alias gang sesuai arahan gugelmep tidak jadi halangan, ternyata jalan hanya cukup satu body mobil sehingga dibelokan pertama terpaksa berkeringat karena harus manuver maju mundur di belokan yang super sempit.

Photo : Mentari mengintip / dokpri.

Berhasil disitu dilanjutkan menyusuri jalan gang padat penduduk, hingga menerima tatapan heran warga yang melihat mobil maksa masuk ke wilayahnya… tapi tanggung ah, lanjutkaaan… moga moga ada sesidikit tanah lapang di dalam sana.

Benar saja, jalan semakin mengecil dan pas bodi mobil… pengen nangis tapi gengsi, pedal gas tetap diinjak dan, “Krek!”… “Adduh” body kiri nyangkut di beca yang lagi santai di depan rumah. Apa daya maju kena mundur kena, ya udah maju ajah….. kreek.. srett.. oh terasa sobekannya menyayat hati, mengucur darah kesedihan akibat tidak teliti dan kesembronoan.

Tapi, itu pilihan yang harus diambil kali ini. Maafkan semuanya. Besok lusa ke sininya pake motor atau sepeda saja.

Setelah berbasa basi sejenak dengan seorang ibu pemilik rumah, mobil dijugrugin parkir disamping lapangan dan bergegas menuju pantai mengejar hadirnya mentari melewati batas cakrawala.

Alhamdulillah, kehadiran yang tepat waktu sehingga bisa menghasilkan gambar sesuai harapan dan doa. Sebuah siluet sunrise yang ditemani dengan kesunyian adalah treatmen diri yang mendamaikan.

Lalu sambil mengumpulkan keberanian memasuki hutan bakau Mundu ini dengan kegelapan memudar karena cahaya pagi sudah mulai hadir. Meskipun tetap saja suasana sepinya cukup membangunkan buku kuduk. Jangan takut, baca Basmalah dan bergeraklah.

Menapaki jalur jalan dari serpihan kayu yang ditata rapih, tetap saja harus hati-hati jangan sampai terjerembab ke lumpur pantai yang lumayan 1 meter hingga 2 meter dibawah sana. Asli suasana sunyi, dan… sedikit menegangkan.

Alhamdulillah tiba juga di tepi pantai dan bisa bercengekrama dengan sunrise sepuasnya ditemani tarian pucuk pohon bakau yang hijau menenangkan. Photo sana sini dan sesekali mencoba photo selpi sebagai bukti jikalau ada yang nggak percaya karena mengusung aliran NPH (No Photo, Hoax).

Rekomendasi klo moo cari vitamin Sea disini lebih aman pake motor atau sepeda, sehingga aman menyusuri jalan sempit dan gangnya. Tapi kalau maksa pake mobil ya lebih baik simpan di pinggir jalan besar dan jogging sekitar 1 km ke arah pantai.

Photo : Sunrise dance / dokpri.

Selamat pagi semua, Vitamin Sea kali ini sangat memuaskan karena bisa dinikmati sendiri dan kesendirian. Memang butuh perjuangan tetapi hasilnya luar biasa menguatkan jiwa dalam mensyukuri karunia Illahi sekaligus mewarnai tujuan pencarian makna kehidupan yang hakiki. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :

Hutan Bakau Pantai Mundu Cirebon
Jawa Barat.

Welcome Nagami

Anggota Squad baru sudah datang.

CIMAHI, akwnulis.com. Skuad sumber vitamin C alami kembali menambah anggotanya. Jika di postingan terdahulu sudah bercerita tentang jeruk kumquat sang jeruk mini aseeem tapi manis dan dimakan tanpa kupas kulitnya. Maka sekarang telah hadir dua anggota baru yang dikirim langsung dari higara agro di kota yogyakarta, menembus perjalanan panjang serta berbagai posko pemeriksaan karena pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di wilayah Bandung raya.

Anggota baru ini masih rumpun jeruk mini tanpa kupas dengan jenis ‘Nagami‘. Katanya sih buahnya lebih manis… tapi musti sabar karena ternyata 6 bulan lagi batu bisa berbuah… ooh tidaaaak… ternyata masih lama hiks hiks hiks.

Tapi tidak apa, karena semuanya harus berproses. Lagian masih ada pohon jeruk kumquat yang sudah mulai berbuah lagi, nanti bisa berlanjut dengan panen jeruk nagami ini, Insyaalloh.

Tanpa banyak basa-basi, paket kiriman dari yogya segera dibuka dan langsung siapkan peralatan kerja. Ember bekas langsung disiapkan dan di beri lubang- lubang kecil dengan obeng panjang yang sudah dipanaskan dengan api biru kompor dapur. Tanah sudah siap begitupun seongok sekam, maka proses pemindahan tanaman dimulai… Bismillah.

Tadaaa.….. dua pot ember sudah diisi dengan bibit pohon jeruk nagami yang sudah berpindah dari yogya kesini. Masih kecil memang, tetapi insyaalloh akan menjanjikan.

Selamat bergabung para baby nagami. Semoga bisa bertumbuh besar dan berbuah ranum, banyak, manis enak penuh berkah serta memberi kebahagiaan kepada mahluk dan hamba Allah SWT. Wassalam (AKW).