Arabica Sunda Héjo – Yo Coffee

Amunisi Kopi hingga Sang Baristi.

Photo : Amunisi Manual brew V60 gayo wine / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi ceria di dataran tinggi Kabupaten Kuningan begitu segar dan menenangkan. Apalagi di kala menikmati berlimpahnya air pegunungan, bikin betah dan pengen main air terus… tapi kenyataan harus di hadapi dan di jalani, musti pulang hari ini.

Trus supaya di jalan tiada kantuk yang hinggap di pelupuk mata, maka perlu dipersiapkan amunisi yang tepattt….. Kopi manual brew panas dan pilihannya sesuai stok yang ada adalah Arabica Gayo Wine.

Termos hijau kesayangan menjadi tempat penyimpanan sempurna, nanti di perjalanan sambil nyetir sekaligus nyuput kopay… eh nggak deng, bahaya nyetir sambil nyruput mah. Mendingan brenti sesaat baru minum kopi panas buatan olangan… yummy.

Tetapi ternyata rasa kantuk begitu ganas menyerang, apalagi Tol Cipali yang ‘lurus panjang’ makin mengukuhkan eksistensi kekantukan.

Jadi inget istilah dulu di kampung, “Wilayah yang jalannya berkelok-kelok itu namanya pasti wewengkon Cioray. Tetapi klo wilayah yang jalannya luruuus.. pannjaang, itu namanya wewengkon Tol”…… upsss…. iya gitu ajaah.

Ngantuk sambil nyetir itu berbahayyyaah…. Setermos hijau kopi arabica gayo wine pun akhirnya menyerah.. eh habis di sruput untuk menahan kantuk, karena tanggung jawab di belakang kemudi ini harus penuh konsentrasi supaya bisa mengendalikan kendaraan dengan baik dan benaaar.

Lepas Tol Cipali masuklah ke Tol Cikampek sedikit dan berbelok kiri ke Tol Cipularang, rasa kantuk kembali menyerang…. sementara amunisi kopi panasnya sudah tandas menghilang.

Akhirnya di putuskan mencari kopi keberlanjutan dengan memgarahkan kendaraan memasuki rest area 72A, siapa tahu ada yang jualan kopi seduh manual.

Tralaaaa…. parkir di depan toilet umum yang terlihat bersih. Melangkah ke sampingnya mencari kopi dan akhirnya berjumpa dengan Yo coffee di Yomart.

Photo : Gerobag Yo Coffee dan Baristi / dokpri.

Harganya untuk manual brewnya hanya 10 ribu saja dengan pilihan kopi yang dikemas menarik.. seduh manual lho. Tinggal pesen dulu dan bayar di kasir Yomartnya, balik lagi ke gerobag Yo Coffee dan bersiap menikmati nikmatnya kopi.

Kopi arabica sunda héjo yang menjadi pilihan untuk di seduh dan yang nyeduhnya adalah baristi Neng Choria53 (akun IGnya bro…..), dengan komposisi 15gr berpadu dengan 180ml air panas 85° celcius menghasilkan sensasi arabica khas jabar dengan acidity cenderung medium meninggi.

Hasil seduhan dimasukkan ke termos hijau kecilku. Memberi amunisi untuk melanjutkan berlari.. eh mengemudi menuju janji yang harus ditepati. Wassalam (AKW).

Mengejar Ayah – fiksi

Sebuah cerita fiksi reka-reka di suasana pencoblosan 17 April 2019…

Photo : Dipilih dipilihh… / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah cerita fiksi yang terinspirasi dari gegap gempita ‘election day’ hari ini… 170419 monggo.

*** MENGEJAR AYAH ***

“Naaaak…. Naaak!!!, Kesiniii cepaaat !!!”, Teriakan histeris ibunda dari halaman depan membuat sesaat terhenyak. Tanpa basa-basi, segera diri ini berlari dari dapur melewati tengah rumah dan menuju halaman depan menghampiri Ibunda, “Ada apa Bunda?”

“Cepaat ambil seprei atau selimut atau apapun, dan kejar ayahmu, cepaaaat!!!” Perintah Ibunda dengan wajah yang panik dan pucat bukan lagi sebuah tanya yang perlu tanggapan. Segera baluk kanan ke dalam rumah, ke kamar utama. Ambil seprei dan selimut yang terpasang dan segera menghambur keluar mengejar Ayahanda tercinta.

Di belokan warung Mak Onah, Ayahanda terkejar dan terlihat dalam kondisi memalukan. Tanpa banyak tanya segera didekati dengan tergesa-gesa dan menutupkan selimut serta seprei yang dibawa untuk melindungi aurat Ayahanda. Sayangnya, karena tergesa, tubuh ini malah menubruknya dan kami rubuh bersama menyentuh aspal jalanan, Ayahandaku pingsan.

Beberapa orang yang sedang ngopi di warung Mak Onah menghambur menghampiri kami. Mereka membantu menggotong Ayahanda menuju warung untuk mendapatkan pertolongan pertama.

***

Perlahan-lahan Ayahanda siuman dan terlihat kebingungan. Setelah diberi minum air teh manis sedikit, diriku penasaran dengan kenekatanan Ayahanda ini.

Ayah bingung, tadinya mau ke TPS pake celana panjang takut disangka pendukung pasangan 02, tapi kalaupun bersarung khawatir dianggap pendukung pasangan 01, padahal Ayah sebagai tokoh masyarakat harus netral. Begitupun celana dalam, yang merah dipake, salah. Pake CD putih apalagi, yang hijaupun beresiko, ya sudah Ayah polosan saja”

Diriku dan tetangga yang tadi menolong Ayahanda, hanya bisa tersenyum sambil saling pandang satu sama lain. “Ada-ada saja Ayahanda ini, maksudnya mau netral… eh jadinya malah memalukan.” ***

***

Photo : Menunggu Ayah nyoblos disini / dokpri.

Ini versi bahasa sundanya dengan genre fiksiminisunda, tidak lebih dari 50 kata, silahkannn…..

Fikmin # Ngudag Abah #

“Ujaaang… Ujaaang!!!……..” Sora Ema ngagorowok ti buruan. Uing tibuburanjat muru datangna sora, sieun Ema kumaonam.

“Aya naon Ma?”
“Enggal nyandak simbut atawa sepré jang, susul bapa maneeh, gancaaang!!!” Ema ngagorowok bari rarayna geumpeur tur pias.

Teu seueur tataros, beretek Uing lumpat ka pangkéng. Ngarurud sepré, langsung tibuburanjat kaluar ti bumi. Muru Abah nu ngagidig ka TPS.

Di péngkolan warung Ceu Onah, Abah kasusul. Teu antaparah deui, langsung di gabrug bari ngarurubkeun sepré.

Gubrag!!!, Abah nambru katindihan Uing, Abah kapiuhan. Nu keur ngopi di warung kalaluar, tuluy ngabantuan ngagotong Abah.

***

Dupi Abah téh kunaon, bet ka TPS teu dicawet teu dilancingan?” Uing naros semu bingung.

“Abah ogé bingung Jang, rék di pantalon bisi disangka grup calon ieu, di sasarung bisi disangki grup itu. Cawet beureum lepat, cawet bodas salah. Cawet héjo komo…. nyaa atos wé Abah ka TPSna saaya-aya”

Uing jeung tatangga nu ngariung ukur kapiasem, duh Abah aya-aya waé.

***

Photo : Salam tiga jari / dokpri.

Disclaimer :
Ini hanya cerita reka fiksi belaka, kesamaan nama, tempat dan sebutan, itu hanya kebetulan saja. Wassalam (AKW).

Glamping di Trizara Resort

Camping mewah di Bukit Lembang… dingin dan indah.

Photo : Gerbang awal Trizara di sore hari / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Sebuah nama ‘Trizara Resort’ menjadi 2 kata yang segera dimasukan ke kolom pencarian lokasi di Guggelmap, well… lokasinya dekat kok, belum nyampe ke Lembang, atau kota lembangnya. Terletak diantara Jalan raya Bandung – Lembang dan jalan Sersan Bajuri.

“Moo ngapain kesitu?”

Sebuah tanya yang musti dijawab dengan segera. Ini adalah tugas dalam pekerjaan sekaligus menambah wawasan karena undangan ini adalah sebuah kesempatan pelatihan yang diselenggarakan oleh PT Jamkrida Jabar, salah satu BUMD milik Pemprov Jawa barat yang bergerak di sektor Penjaminan kredit daerah.

Akses ke Trizara ini banyak pilihan, satu, dari jalur jalan Bandung – lembang langsung belok kiri memasuki jalan pager wangi. Kedua via jalan sersan bajuri ada 2 pilihan, cuman memang jalannya kecil, berkelok dan nanjak, jadi musti ekstra hati-hati. Ketiga akses dari jalan Kolonel Masturi, jadi dari atas, tinggal masuk ke gerbang arah Trizara dan luruss….. lalu ada pertigaan tinggal belok kiri, sampai dech. Tapi ingat, semua pilihan jalan tersebut akan menemui tanjakan yang cukup terjal, jadi musti bawa, pake atau diantar oleh mobil yang fit dan kuat nanjak.

Photo : Tangga kembar mengapit aliran air / dokpri.

Nah… pas nyampe depannya, disambut dengan pintu gerbang berupa benteng di Paris Prancis yaitu benteng kemenangan Arc De Triomphe, tapi didekati lagi terlihat nuansa india. Ya sudah ah…. masuk aja… eiit… mobil di parkir dulu di seberang gerbang. Ada lapangan parkir. Trus terlihat lapang bola volley, lapangan futsal dan arena bermain ATV… wuaah kayaknya seruuuu…

Memasuki pintu gerbang, disambut suasana pemandangan yang menenteramkan hati. Sebuah karpet raksasa berwarna hijau senada dengan hamparan rumput hijau di sekitarnya dengan tulisan besar ‘Trizara Resort’ memberikan penyambutan pertama, ruar biasa.

Melewati resepsionis, langsung meniti rangga… eh tangga menurut yang ditemani gemericik air bening berundak senada undakan tangga menuju ruang meeting yang berbentuk renda.. eh tenda besar berwarna putih…. keren euy, pelatihan di dalam tenda, tapi jangan-jangan panass…. jadi penasaran.

Photo : Suasana di Tenda sambil dengerin pembukaan oleh ibu bos / dokpri.

Ternyata….. perkiraan saya salah. Tenda pertemuan yang bisa menampung hingga 75 orang ini termasuk meja dan kursi ini nyaman lho, tidak panas karena ventilasi yang bagus ditambah kipas angin yang sudah disetting dipasang diatap tenda juga standing fan yang bikin suasana tetap menyegarkan. Ditambah dengan jendela-jendela tenda yang memungkinkan angin dari luar bisa masuk…. segerr dech.

Photo : 2 kursi santai depan tenda / dokpri.

Diseberang Tenda pertemuan ini ada juga ruang kelas dengan kapasitas lebih kecil, kapasitas sekitar 25 orang. Cocok untuk rapat terbatas tim kecil.

Nahh makan siangnya naik lagi ke atas, ke restoran yang cozy dengan sajian makan siang yang rata-rata hangat sedikit membara, maksudnya bumbu yang disajikan rata-rata bercabe… tapi enak, cuman agak khawatir sakit perut (ternyata tidak, baik-baik aja kok). Di dekat restoran ini, turun satu undakan tangga tersedia mushola untuk 3 orang lengkap dengan tempat wudhu. Satu undak ke bawah disitulah toilet bersemayam… eh berlokasi.

***

Giliran yang ditunggu-tunggu telah tibaaa…. pembagian kunci tenda. Berupa kunci gembok lengkap dengan nama tendanya yaitu Nasika 09.

Wuih nama-namanya unik, yang ternyata memiliki makna tersendiri. Semuanya terinspirasi dari bahasa sansakerta, mulai dari Trizara yang berarti kebun/taman di surga. Lalu area tenda dengan nama-nama dari aneka indra. Ada yang namanya Netra (penglihatan), Nasika (penciuman), Zana (sentuhan), serta Svada (Rasa) yang menjadi nama-nama untuk kawasan tenda dengan ukuran, dan keunggulan masing-masing. Kayaknya tenda Zana (sentuhan) yang dikhususkan buat honeymoon yang bikin penasaran nich… hehehehehe.

Termasuk kafenya juga bernama indriya cafe terletak di awal, di dekat resepsionis.

Photo : Menikmati Gunung Tangkuban Perahu / dokpri.

Tenda mewah untuk acara berkemah yang glamorous sehingga dikenal dengan istilah Glamping (Glamorous camping) adalah konsep yang diusung disini. Jadi pengen segera ajakin anak istri dan sanak saudara nginep bareng-bareng disini…

Tenda yang didapat adalah tenda Nasika, berkapasitas 4 orang. 1 bed ukuran king size untuk dua orang, 1 bed single tapi cukup lebar juga dan dibawahnya bisa ditarik sebuah bed yang tidak kalah nyaman.

Colokan banyaaak…. disamping kanan bed king size ada 5 colokan, didalam peti kayu harta karun ada 5 colokan, dibawah meja ada 3 colokan dan satu colokan deket pintu kamar mandi… berarti 14 colokan. Dikurangi buat teko pemanas, lampu sorot depan dan buat obat nyamuk elektrik.. sisa 11 colokan buat berempat… lebih dari cukup.

***

Photo : Suasana dalam tenda tipe Nasika / dokpri.

Kamar mandinya yang keren, wc duduk, shower air panas, wastafel, penyimpanan handuk berupa tangga, lengkap dengan sikat gigi, sabun, shampo, shower cap, dan body lotion dengan lantai tembok yang kokoh. Beda banget dengan camping beneran yang darurat, BAB nya ke semak-semak sambil bawa cangkul kecil dan air di botol plastic .. heu heu heu masa lalu.

Juga terdapat berbagai aktivitas outdoor yang menantang seperti bermain ATV berbasah kotor, flyng fox, trampolin, jogging, jojjing atau bermain futsal dan volley ball…. yang pasti memberi peluang untuk berolahraga dan beraktifitas di luar tenda, bersama-sama.. itu kereen pisan. Apalagi tidak ada TV dan AC, begitu alami dan menjadi cara memaksa agar nggak ngendon di tenda, tetapi beraktifitaslah diluar bersama kawan dan keluarga.

Klo urusan kopi disini nggak ada manual brew tapi gpp… bisa pilih espresso dan americano… cerita lengkapnya klik aja Kopi Trizara Resort... monggo.

Menu sarapannya juga standar hotel berbintang, lengkap banyak pilihan. Tetapi karena diriku sarapan hanya buah-buahan, jadi potongan semangka dan melon saja yang menjadi pengisi perut di pagi yang cerah ini.

Sebuah plang pengumuman yang cocok dengan suasana hati, diantara plang berwarna hijau dengan tulisan putih tersebar di berbagai titik area Trizara resort ini. Tertulis ‘Destinasi seseorang bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah cara baru untuk melihat sesuatu’.

***

Ah masih banyak kata yang ingin dicurahkan tentang Trizara ini, tetapi ternyata tersekat sampai disini saja, biarkan kelanjutan ceritanya menjadi kesempatan orang lain untuk bercerita.

Photo : Photo barengan

Segera mengambil payung yang tersedia di dalam tenda. Dibuka dan digunakan menembus derasnya hujan di malam hari menuju restoran tempat makan makan tersaji. Wassalam (AKW).

Terima kasih PT Jamkrida Jabar.

***

Weureu Pérprés 16

Maksad diajar kalah ka ….

Photo : Énjing-énjing di Cipageran / doklang.

CIMAHI, akwnulis.com. Nangkeup harigu tuluy tatanggahan nataan mèga nu keur otél jeung katumbiri, kabita. Angin pasosoré ngupahan diri, ngahiliwir tuluy ngélég, sugan waé jadi marahmay deui. Béntang masih nyumput kahalangan méga jeung layung nu keur nguyung.

Lambey teu tiasa dionggét-onggét, samutut bari uteuk mulek, boga kahayang.

“Silaing téh kunaon, jamedud bari ngaheneng tara-tara ti sasari” Mang Koko naros kanu jadi alo. Ocid ngabetem, norékeun manéh.

“Kasebeleun budak téh!!!” Mang Koko kekerot, culang cileung. Nempo émbér sésa ngepél. Gep!… byurrr!!, cai ledrek urut ngepél dibanjurkeun ka Ocid.

Photo : Pemandangan ti loténg / doklang.

“Astagfirulaah… nanaonan ari Amang?… Aing nuju ngapalkeun Péprés 16/2018, isuk rék ujian…. kalah ka dibanjur, musnah ideu.. musnaaah!!” Ocid molotot.

“Hampura lo, sugan téh kaasupan jurig, da teu ngawaro titatadi dicalukan téh”

Ocid ngusap beungeut bari ngarenghik, “Hésé capé konséntrasi, kalah ka leungit, …….nasiiib.” Mang Koko ngembang kadu, asa dosa tapi kumaha. Ocid tungkul tuluy mulungan pasal jeung ayat dina kalangkang katumbiri. Cag. (AKW).

Meditasi di Sensa Hotel Swimming Pool

Main air dan mencoba meditasi, disini.

Photo : Pemandangan jembatan layang paspati / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Iseng nulis tentang kolam renang yang pernah dilihat, dinikmati dan dirasakan ternyata ada hikmah yang tidak terhingga.

Yang paling utama adalah belajar konsentrasi dan menjaga ketenangan serta akhirnya belajar berdamai dengan alam dan memperkuat makna kesendirian dalam hakikat hidup yang sebenernya… “Hiiy kok sendirian bro?”

Maksudnya dari sisi makna hakiki, coba saja berenang dengan tenang. Meluncur dari pinggir kolam, biarkan wajah berada di dalam air dan bergerak perlahan dengan menikmati sentuhan air yang menyegarkan. Jangan diangkat kepalanya untuk ambil nafas, tapi tahan sampai paru-paru hampir tidak kuat menahan keinginan alami mengambil oksigen.

Photo : Kolam renang dewasa / dokpri

Coba dalam hati berdzikir dan bersyukur atas makna hidup ini. Nah, rasa sendirian akan dirasakan, sepi tidak ada suara lain selain gerakan air yang menenangkan sekaligus bisa menenggelamkan…. itulah suasana kesendirian yang bisa dimaknai sebagai cara memaknai indahnya berkehidupan.

Jikalau sudah tidak kuat, ambillah nafas dan ulangi. Tidak usah takut untuk tiba di ujung kolam selanjutnya, tetapi biarkan air kolam ini mengantar raga hingga tiba ditujuan…. insyaalloh rasa segar bukan ada di phisik saja tetapi jiwa dan pikiran semakin lebih tertata.

Nggak percaya?”… ayo cobaaa…

Jadi mirip meditasi yang sarat dengan konsentrasi. Cuman klo sambil berenang, konsentrasi buyar langsung terasa atau terlihat dari gerakan tubuh yang nggak selaras dan ujung-ujungnya raga perlahan tapi pasti akan tenggelam menuju dasar kolam renang… cobaa geura.

Nah.. kali ini kolam renang di salah satu hotel di jalan Cihampelas Kota Bandung, tepatnya di lantai 3 Sensa Hotel Bandung.

Photo : Kolam renang anak / dokpri.

Sebuah hotel yang mengambil konsep unik futuristik serta menyatu dengan akses mall yaitu Cihampelas Walk atau Ciwalk, serta akses belanja ke toko-toko di sepanjang jalan Cihampelas, plus juga skywalk yang memanjang diatas jalan Cihampelas menambah keunikan Kota Bandung.

Kolam renang yang tersedia, ukurannya sedang dan memang hanya ditujukan untuk tamu hotel yang menginap saja. Ada satu kolam renang anak berbentuk lingkaran dan satu lagi kolam renang dewasa dengan kedalaman sekitar 1,5 meter..

Yang menarik adalah salah satu sisi kolam renang ini menghadap langsung ke arah jalan layang pasupati dan pemandangan sebagian lanskap kota bandung sehingga ada beberapa media online yang memasukan kedalam golongan ‘infinity pool’.

Infinity pool itu adalah kolam renang yang tepiannya dirancang menimbulkan kesan memanjang sampai tak terhingga dan seolah menyatu dengan alam sekitarnya. Biasanya dibangun di tebing atau di tepi pantai sehingga menyatu dengan alam, bisa juga menyatu dengan lanskap kota kali yaaa……

Menikmati kolam renang di Sensa Hotel, bicara jenisnya maka masuk ke dalam kategori privat pool dengan bentuk yang geometris. Satu sisi yang langsung bisa melihat pemandangan kota yang dianggap masuk ke kategori infinity pool. Kata aku mah belum, tapi yaa gpp…. asyik juga kok, berenang terus nyantey sambil lihat deretan mobil yang berjajar di atas jembatan layang pasupati karena tersendat kemacetan.

Disisi kolam renangnya ada kursi santai, rumah-rumahan plastik untuk bermain anak dan meja kursi untuk menikmati pemandangan kota bandung juga ada akses tangga ke lantai lain menuju ruang fitnes.

Catatan penting, usahakan klo moo berenang diluar jam makan guys. Karena ntar malah jadi tontonan orang, soalnya kolam renang ini berbatasan langsung dengan restoran, terutama meja kursi yang outdoornya. … boro-boro bisa konsentrasi apalagi meditasi, yang pasti jadi ngobrol hepi-hepi. Kecuali memang kamu seneng berenang sambil diliatin orang-orang, itu mah beda lagiiih.

Itulah sekelumit kisahku dengan kolam renang di Sensa hotel. Selamat bersenang-senang, Wassalam (AKW).

Berendam Yuk..

Mencoba relaksasi di sela tugas yang bejibun.

Photo : Kolam Air Panas Gracia / dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Jikalau senja tidak berbisik tentang dinginnya rasa, mungkin raga ini tidak segera beringsut menuju kolam air panas yang penuh kehangatan alami. Karena ternyata yang paling sulit itu adalah melawan diri sendiri, melawan hawa malas yang begitu lihai memeluk kehendak, dari depan belakang atas dan bawah.

Ayo lawaaan……

Perlahan tapi pasti bergerak keluar cottage dan menuju kolam air panas alami.

Memasuki air dengan suhu yang cukup panas perlu berhati-hati. Biarkan suhu tubuh menyesuaikan dulu dikala kaki hingga sebetis mulai terendam air kolam yang berisi air panas alami yang berasal dari kaki gunung Tangkuban perahu ini.

Photo : Kolam Rendam air panas Sariater / dokpri.

Setelah 5 menitan dirasa siap, maka berendamlah sebatas pinggang. Terasa panasnya air seakan melunturkan lemak yang menggelambir… padahal hanya perasaan saja wkwkwkwkwk….

Atur nafas dengan tenang dan singkronkan kembali pikiran serta harapan agar bisa memaknai kenyataan dengan nilai syukur dan ketawadhuan.

Tahapan selanjutnya… ini yang penting. Berendam hingga sebatas leher…. ayo lalukan.

Terasa dada ada yang menekan dan punggung seperti ditusuk-tusuk jarum panas tak kasat mata, itulah sensasinya. Nah berdiam, atau gerakan tangan dan kaki di dalam air serta nikmatilah air panas karunia Illahi ini, Alhamdulillah.

Catatan penting, berendam hingga leher cukup 15 menit saja. Itu anjuran pengelola kolam yang tertera di berbagai sudut kolam. Karena khawatir bisa menimbulkan efek samping ke organ tubuh bagian dalam.

Photo : Teh 107 Sariater / dokpri.

Jangan suudzon juga ini adalah trik dari pengelola kolam, supaya pengunjung cepat hengkang, tapi ini himbauan yang didasari pengalaman serta kajian (kayaknya bukan kajian… au ah gelap).

Jadi yang mau berlama-lama di area kolam juga boleh, cuman untuk berendam, maksimal 15 menit. Lalu naik… bercengkerama atau pesan makanan di pinggir kolam air panas, trus entar turun lagi berendam… gituuuhh.

Trus yang mau berenang juga silahkan, hanya saja pas dicoba…. rasa panas air kolamnya terasa ‘nereptep’ di wajah dan kulit sehingga tidak bisa lama-lama.

****

Tuntas berendam dan sedikit berendam.. eh berenang di kolam air panas ini, segera beringsut keluar area kolam. Kembali ke cottage untuk mandi dan berganti pakaian.

Kkrubuk… krubiuuk”

Photo : Nasi goreng Seafood / dokpri.

Ahay alarm lain berbunyi, tuntutan lain yang harus segera dituntaskan. Rasa kemalasan telah sirna oleh panasnya air kolam, tetapi rasa lapar tetap harus diselesaikan.

Sayangnya, menu salad tidak bisa dipesen…. huuu huuu huuu….

Akhirnya, sajian teh khas disini ditambah dengan nasi goreng seafood menjadi pengganjal perut malam ini. Wassalam (AKW).

Kopi Cirkunsum

Beredar di 3 wilayah dan dapat 3 kopi.

Photo : kopi tahu / dokpri

CIMAHI, akwnulis.com. Nulis tentang kopi memang membuat inspirasi tidak pernah berhenti. Meskipun bukan kopi dalam arti sebuah sajian kopi, tetapi tetap unsur kopinya menjadi bagian utama dalam drama kehidupan ini.

Minggu lalu, perjalanan raga ini beredar di wilayah Ciayumajakuning.. eh minus indramayu tapi ditambah sumedang. Berarti ke wilayah Cirkunsum… ah kamu mah bikin singkatan seenaknya banget.

“Lha… knapa ada yang sewot?”

Sebuah singkatan bertujuan mempermudah mengucapkan serta membuat menempel di memori lebih lekat. Meskipun terkesan lebay. Contohnya : GoimJekisam (Goreng Ikan Mas Jeruk Sunkist sambel)… itu khan seena’e dhewe… tapi khan jadi unik. Bener nggak?

Lupakan dulu singkatan-singkatan, sekarang kita bahas perjalanan ke wilayah Cirkunsum.

Pertama, Kopi Tahu (Tofu coffee)
Nah apa itu?… nggak usah pake mikir, ini hanya sajian kopi hitam tanpa gula ditemani tahu sumedang sepiring lengkap dengan cabe rawit (cengek) yang digoreng sebentar. Rasanya nikmat, sruput kopi, am tahu sumedang yang masih hangat dan empuk… nikmaat.

Mana lontongnya?….” Demi alasan pencitraan, maka lontongnya tidak tersaji pada gambar hehehehehe. Sajian ini hadir di daerah Ujungjaya Kabupaten Sumedang.

Photo : Kopi buah / dokpri.

Kedua, Kopi Buah (fruit coffee)
Kalau ini tersaji di daerah Beber Kabupaten Cirebon. Kopinya tetap kopi hitam tanpa gula, yaa kopi kapal api juga nggak apa-apa. Lagian sebagai tamu nggak sopan dong kalau minta pribumi nyiapin kopinya manual brew dengan metode V60 dan beannya arabica wine.

Nggak lucu atuh.

Maka cara terbaik adalah nikmati dan syukuri, terus buat kombinasi, photo dan jangan lupa bikin singkatan. Ini namanya Kopi Burusak (ramBUtan jeRuk SAlaK)…. kerasa khan maksanya?…. tapi jikalau ada komplen, saya terima. Tinggal edit dikit dan berubah, khan ini blog pribadi… lagian daripada share berita hoax mendingan bikun tulisan di blog pribadi dan… share. Bener nggak?

Photo : Kopi Luwak lieuk / dokpri.

Ketiga adalah Kopi Luwak lieuk (coffee alone).
Apa itu?…
Kopi ini tersaji di Wilayah Kuningan. Kopi luwak sachet… di klaimnya kopi luwak asli. Ya gpp… sruput aja. Urusan kualitas rasa.. ya pasti beda dengan hasil metode manual brew yang bersih tanpa ampas. Nah untuk namanya ‘Luwak lieuk‘ itu merujuk ke bahasa sunda ‘Luak lieuk’ atau culang cileung… eh masih sundanesse… artinya nengok kanan kiri dan ke segala arah karena merasa sendirian.

Naah… kopi luwak ini merasa sendirian karena tidak ditemani sajian lainnya hehehehehe.

Begitulah muhibah kopi ke 3 kabupaten di Jawa barat ini.

“Jadi kamu jalan-jalan itu cuman buat nulis kopi?”

Jawabannya jelas : BUKAN. Saya beredar dan berjalan-jalan ini karena tugas pekerjaan yang harus dikerjakan seiring peralihan tugas yang baru. Nah tulisan kopi ini sebagai bumbu penyemangat bahwa ada sisi lain perjalanan dinas yang bisa di eksplorasi.

Jalani, rasakan, tulis, dan nikmati…. secara keseluruhan.. jangan lupa Menikmati.

Dont forget, my blog principle is Simple Story With Simple Language (SSWSL). Wassalam (AKW).