MIMITI coffee.

Mlipir dulu ke Mimiti Coffee.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah sajian Arabica Pangalengan Jabar dengan metode manual brew dengan kalita sudah ada di depan mata. inilah kisahku selanjutnya dalam perjalanan mencintai kohitala (kopi hitam tanpa gula).

Bodynya medium dengan acidity medium ke strong, dan aftertastenya muncul rasa lemonatau jeruk peres dengan sejumput manisnya madu dan gula merah, meskipun hanya sekilas tapi ikhlas.

Suasana cafe yang enak, ada ruang ber-AC, jelas inih mah no-smoking dan diluarnya berjajar meja kursi dari kayu dibawah pepohonan yang tinggi dan rindang, juga berdampingan dengan restoran yang menyajikan aneka makanan berat jikalau ingin memenuhi lambung selain menyeruput kopi sambil kongkow alam rangka mendamaikan hati sambil menikmati hari.

Lokasinya di Jl. Sumur Bandung No.14 Lb. Siliwangi Coblong Kota Bandung yaitu MIMITI coffee & space.

Harga sajian manual brew pake kalita 40ribu, jadi mungkin sesekali aja kecuali ada yang ngajak dan bayarin hehehe.

Selamat wiken sambil belajar mencintai kopi. Wassalam (AKW).

Kopi KOMA

menikmati Satu titik dua koma…

Photo : Japanese Arabica Gayo by Kopi KOMA / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Tangan mungil menulis di atas kertas pink wangi mawar, –satu titik dua koma, kamu cantik aku cinta-……… ahaay gombalan jadul anak 90an kembali hadir menggoda pikiran… ternyata waktu berlalu begitu cepat dan tak terasa, kepala 4 sudah di tangan, jangan macam-macam, tinggal bagaimana menata diri dan memastikan tujuan dalam kehidupan.

Sruput dulu…… nikmaat.

Segelas japanesse arabica gayo menemani hari ini, memberi rasa cerah ditengah suasana kesibukan yang begitu silih berganti bertubi-tubi. Cafenya simpel tetapi ciamik dengan harga sajian yang terjangkau, 25ribu.

“Dimana ini teh?”

inihh jawabannyaa…… Itu tadi nyambung sama gombalan jadul, nama cafenya KOMA kopi. Alamatnya di Jalan Siliwangi Bandung di seberang bank Mandiri. Cafenya simpel berlantai 2 dengan konsep minimalis tapi manis. Cocok buat nongkrong sendirian sambil mendamaikan pikiran dan lebih cocok tandem sama pasangan, bisa juga buat kumpul nyampe 10 orang di lantai 2 nya.

Ah udah ah… gitu aja dulu yaah. Wassaalam (AKW).

Kopi Baretto – Tasikmalaya.

Menyeruput kenangan sambil mengingat-ingat kopi.

Photo : Sang barista sedang siaga / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Jika ingat masa lalu, maka kenangan membuat hati bertalu-talu. Terkadang senyum dalam sendu ataupun tertawa tersipu-sipu, tapi itu dulu.

Kenangan adalah catatan hidup yang tak lekang oleh jaman, tak pupus oleh waktu, tersimpan di memory super terhebat yaitu otak manusia.

Ayo ngapain ngebahas masa lalu?”

‘Inii”... Telunjuk mengarahkan mata, melihat bangunan rumah heritage dengan tulisan nama “Baretto”.... ditulisnya gitu double t, tapi nyambung dengan rumah kuno yang resik, maka langsung nyambung bahwa baretto ini adalah ‘bareto’ dalam bahasa sunda yang artinya : masa lalu alias masa silam.

Photo : Suasana cafe baretto penuh kenangan / dokpri.

Dann….. yang.menarik tentang ‘masa lalu’ eh ‘baretto’ ini adalah sebuah cafe kopi yang sekaligus menyajikan aneka makanan berat plus cemilan dengan nama-nama yang khas… tapi nggak bahas makanan ah, entar klo penasaran, mampir aja yaa… Alamatnya di jalan Galunggung No. 22 Kota Tasikmalaya Jawa Barat

“Langsung ngopay ini teh?… ngopi apa brow?”

Berondongan pertanyaan, segera ditanggapi santai, “Alhamdulillah kang, cuman nyobain Manual brew Taraju arabica, Javanesse Karaha bodas dan manual brew v60 arabica Brazil.”

“Wadddaw… itu mah rewog vissaan”

“😀😀😀😀😀….. Alhamdulillah.”

Photo : Kopi Taraju / dokpri.

Sajian pertama adalah manual brew v60 arabica Taraju Tasikmalaya, Sang barista Kang Wisnu meninyuh… eh menyeduh bubuk kopi dengan temperatur air 90° celcius… 15gr bubuk kopi siap ber-ekstraksi…. clak…. clak… clak… keclak…

Disajikan dengan menggunakan teko keramik biru dan cangkir kecil merah, membuat suasana tabrakan warna ceria, tapi tidak mengapa karena yang dilihat bukan packingnya tapi kopi isinya… meskipun klo packing bagus… seneng juga memandangnya hehehe.

Kopi taraju ini profile bodynya strong dan acidity medium dengan after tastenya ada selarik lemon dan manis madu hutan.

Srupuuuut…. bersambung*)

********

Photo : Japanesse Karaha bodas & buku-buku / dokpri.

Eh nggak jadi, dilanjut ahhh….. ke sajian selanjutnya.

Kedua adalah sajian kopi dingin arabica karaha bodaa dengan metode japanesse, atau manual brew v60 yang langsung ditampung oleh es batu yang berserak di gelas server…. kebayang suegeeeernyaaah.

Eh bener aja… dingiiiin (khan pake es). Body medium dan acidity cenderung medium ke low, cukup menyegarkan untuk pemula atau sebagai pelengkap dari sajian kopi taraju tadi.

Srupuut… glek.. glek… srupuuut… glek.. glek…. habiiiis.

Sekali lagi ah, langsung memanggil pelayan dan kembali pesan kopi panas kohitala dengan pilihannya kopi brazil, manual brew v60.

Ternyata rasa dan harumnya biasa saja, atau karena ini ngopi yang ketiga?…. penasaran, maka berbincang ringan dengan sang barista. Dia meng-iya-kan jika profile kopi brazilnya memang begitu, tapi khan ada juga konsumen yang pesen kopi bukan dari rasa tapi sensasi gengsi…. udah minum kopi luar negeri.

Inilah beberapa kopi yang bisa di cicipi di cafe Baretto yang asri. Bangunan kuno yang disulap menjadi cafe homy dengan sajian makanan minuman yang relatif lengkap serta fasilitas mushola, kamar mandi yang cukup luas ditambah beberapa buku-buku bacaan baik novel, biografi dan juga buku tentang kopi.

Selamat menikmati kenangan di Cafe Baretto, sambil menyeruput secangkir demi secangkir kohitala yang miliki aneka rasa, karena dibalik kepahitan kopi banyak rejeki yang harus disyukuri dan ditafakuri. Hatur nuhun, Wassalam. (AKW).

***

Kopi Bunar di Ruang Gelap

Menulis lagi sambil menikmati ‘disayang-sayang’…

Photo : Sang Barista Ruang Gelap / dokpri.

CIAWI, akwnulis.com. Kali ini sebuah tulisan sederhana tentang perjalanan dan pengalaman diri, setelah beberapa hari sedikit terganggu untuk mengisi blog ini karena tergoda oleh content creator di medsos.

Maksudnya waktu luang yang disempet-sempetin menulis, terenggut oleh keasyikan belajar bikin konten buat di IG sehingga jargon ‘One Day One Article‘ agak terancam.

Untungnya kembali sadar dan kembali ke khittahnya, ngisi blog dengan kumpulan kata dan jalinan kalimat.

***

Sebuah kalimat tiba-tiba terlintas di kepala, ini bunyinya :

…..***Belajarlah mencintai sesuatu maka semesta akan membantu***

emhh…. kayaknya pas tuh buat diriku yang sedang belajar mencintai sesuatu.

“Pas gimana sih, kamu mah suka maksa nyambung-nyambungin ih”

Senyumin aja, karena tidak semua paham dengan kecintaan kita terhadap sesuatu. Yang pasti pengalaman membuktikan, bahwa kemanapun melangkah, selalu dimudahkan untuk bersua dengan sesuatu.

“Tau lah, pasti kopi khan?

“Benerrr, kamu jagoan”

“Bosen ah, coba cerita yang lain”

“Sabar donk ih, baca aja atuh”

Jadi inilah salah satu ceritanya…… Nah jikalau kita belajar mencintai maka berilah perhatian sepenuh hati, maka minim sekali kemungkinan bosan karena cintanya tanpa pamrih, begitupun dengan berusaha mencintai kopi…..

……Kemanapun bergerak raga ini, mayoritas sih urusan kerjaan, maka kedai kopi yang menyajikan kemurnian Kohitala selalu hadir dengan mudahnya…… booming bisnis kopi terutama di jawa barat memberi peluang usaha dengan menjamurnya cafe atau kedai atau warung kopi dengan kopi berkualitas dan proses manual brew yang berkelas. Maka begitu mudah untuk mencarinya, pesen, minum dan nikmati…. eh jangan lupa bayar yaaa.

Photo : Sajian kopi Bunar disayang-sayang / dokpri.

Cara mengapresiasinya ya itu tadi, belajarlah mencintainya meskipun dengan syarat ‘tanpa gula’ dan tanpa unsur lain, hanya bubuk kopi dan air panas beserta saringan yang boleh mewujudkan rasa kemurnian.

“Jadi semesta membantu itu gitu maksudnya?”

Yup, dengan diberi kemudahan bisa nongkrong dan ngopay di berbagai tempat tanpa perlu cape-cape merencanakan, itu adalah karunia dan dukungan semesta.

Seperti hari ini, bisa menikmati suasana cafe yang berbeda dengan atmosfer kebersamaan yang kental, diskusi komunitas termasuk para petani muda yang peduli dengan cara bertani kopi plus meningkatkan nilai petani dan produknya, plus barista yang riang penuh semangat memajukan kopi asli Tasikmalaya yaitu Kopi Bunar… Kamu keren.

Ruang gelap adalah nama cafe kopinya, berlokasi di samping belakang indomaret di pertigaan arah terminal Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. Sajiannya adalah single origin bunar yang diproses wash, natural dan honey proses.

Photo : Suasana Cafe ruang gelap / Dokpri.

Nama lain kopi bunar honey adalah ‘disayang-sayang kopi’, agak terdiam dan mikir sejenak, tapi…. bener juga, honey atau hanni memang harus disayang-sayang.. aww.. aya-aya wae.

Sajian V60 dan japanessenya.bikin siang menjelang sore ini makin ceria. Kang Dani barista menyeduh sambil bercerita termasuk tentang ruang gelap, “Penasaran?... klo pas perjalanan bandung – tasikmalaya atau sebaliknya, maka memasuki wilayah ciawi, segera siap-siap untuk berhenti sejenak dan bersua dengan kopi bunar yang miliki rasa khas tiada tara.

Yuk Ngopi dulu yuk. Wassalam (AKW).

***

Balik Deui – fbs

Aya nu balik deui…

Fikmin # Balik Deui #

Geuning teu sami sareng nu diimpleng, kahirupan senang, jalan takdir lénglang, rejeki loba ogé awak séhat euweuh nu karasa. Ari pék téh rudet pakujut, kawas sésa kenur langlayangan nu ditinggalkeun kapakan. Rujit nandangan kanyataan hirup nu ripuh, werit tur loba panyakit.

Tapi teu ilang akal, buru-buru ngajleng sakuat tanaga, asup deui kana alam implengan, muru jalan ngabulungbung, leucir, hotmix, hideung tur weweg.

“Har geuning uih deui kang?” aya soanten halimpu naroskeun.

“Sumuhun nyi, asa raos di dieu” Udan ngawaler tatag. Nyai rancunit, punggawa karajaan, méré imut pangbagéa.

Léngkahna anteb muru gapura raja, uluk salam deui sanaos tadi tos ditaros ku nu jagi, “Rahayuuu!!”

Bray……. gapura badag muka, jalan mulungmung ka tengah kota, nu caang baranang, loba wargana nu marahmay ningali Udan datang deui. Leumpang muru gedong sigrong, pang badagna di éta kota. Nu jadi jugjugan balaréa.

Udan ngarasa bagja, sanajan duka iraha tiasa mulang deui, ka dunya manusa. (AKW).

Note :

Fbs : Fiksimini sunda, genre penulisan cerita fiksi pendek, maksimal 150 kata dalam bahasa sunda.

Bastaa Coffee Stand – Cianjur

Belajar ikhlas dan jangan lupa ngopi kohitala.

Photo : Suasana Cafe & v60 Gununghalu / dokpri.

CIANJUR, akwnulis.com. Nilai sebuah perjalanan kembali kepada tata nilai yang dianut sang pengembara. Jikalau dijalani tanpa keikhlasan maka bukan hasil optimal yang dicapai tetapi malah sebaliknya, Hasilnya belum tentu, badan cape juga lelah secara mental karena hanya gerutu dan penyesalan yang menghiasi perjalanan.

Maka cara terbaik adalah awali dengan niat keikhlasan dan semangat untuk menjadi bagian dari problem solving. Ibarat tutup pentil, meskipun sangat kecil dan remeh tetapi memiliki fungsi strategis untuk menjaga tekanan udara di ban mobil tetap terjaga dan perjalanan kendaraan akan selamat plus lancar.

Jadi bukan berarti harus menjadi penentu, karena semua ada waktunya. Kerjakan saja tugas yang diemban dengan baik, optimal penuh kerelaan… insyaalloh hasilnya lebih baik… malah melampaui perkiraan yang bisa di ukur.

“Nggak percaya?… coba ajaa guys”

***

Begitupun kali ini, dengan segala sisa tenaga setelah beredar di Pangandaran, …. iya pangandaran, ceritanya klik aja PANGANDARAN 1, PANGANDARAN 2, PANGANDARAN 3,…..

Maka dari pangandaran segera bertolak ke cianjur demi menjadi bagian problem solve ‘sesuatu‘, karena ini adalah tugas maka berusaha ikhlas dan menjaga semangat agar tetap stabil, meskipun kondisi badan mulai labil….. cemunguut.

Alhamdulillah tahapan proses bisa dijalani meskipun langkah panjang menanti, tetapi itulah kehidupan. Dikala berbuat kesalahan dan ada momen untuk memperbaiki, tunjukanlah dengan sebaik-baiknya, kami tunggu dan monitor secara berkala.

Photo : Sajian kopi Arabica Manglayang / dokpri.

Energy boosternya tiada lain, selain jelas keikhlasan dan kebersamaan juga ditambah menikmati sajian kopi manual brew di Bastaa Coffee Stand. Berlokasi di jalan Siliwangi 20 kp. Pasar baru Cianjur.

Dengan metode V60 dan beraneka biji kopi pilihan, kehadiran secangkir kopi ini membuat perjalanan panjang Pangandaran – Bandung – Cianjur tidak terlalu melelahkan… hanya ringsek aja hehehehe.

Arabica Gununghalu Jabarnya maknyus meskipun disajikan dalam cangkir biasa berwarna kuning, terus terang saja menjadi cepat dingin dibandingkan dengan pake botol kaca server…. maka harus segera disrupuuut dan habis… lalu pesen lagiii……

Sajian kedua adalah arabica manglayang diolah natural, hadir kembali dengan cangkir biasa tapi rasa luarbiasa….. langsung sruput lagi…. habis lagi, alasannya takut keburu dingin hehehehe.

Pas moo pesen yang ketiga, beberapa pandangan mata rekan kerja terlihat agak gimana gitu…. urunglah pesannya. Tapi minimal semangat bisa kembali hadir membara.

Eh ada sedikit lagi diujung cangkir… srupuut… Tandass. Wassalam (AKW).

***

Sunset, Kopi& Janji.

Menanti mentari pagi, bersua di sore hari, besoknya kembali ngopi dan jalan-jalan sendiri. Disini.

Photo : Semburat Sunset di Batukaras / dokpri.

BATUKARAS, akwnulis.com. Gelombang ombak yang meninggi mengantarkan papan selancar dengan dorongan tenaga alam yang menakjubkan. Tinggal tunggu waktu yang tepat, berdiri di papan selancar dan jagalah keseimbangan maka… wuuuus… terdorong kencang meniti permukaan air laut dengan wajah riang dan hati senang.

Gampang banget lho, kalau ngeliatin mah. Padahal…. nggak semudah itu. Tapi memang watak penonton khan pasti (merasa) lebih pinter dari pemain… bener khan?… ngakuuu… pasti klo lagi posisi penonton mah.. kecenderungannya bakal begituuuh.

Yup, pantai batu karas, sekitar 30 menit jalan darat dari pantai pangandaran menyuguhkan suasana pantai berbeda. Relatif tidak terlalu ramai dan lebih banyak pengunjung adalah berniat latihan selancar air, juga terlihat beberap turis asing… atau malah mayoritas belajar selancar atau surfing.

“Kamu ngapain kesituh?”

Ajaw pertanyaan kepo, ya terserah aku donk, kemana kaki melangkah disitu berharap berkah. Dimana langit dijunjung maka disitu Allah disanjung… aih kok malah berpuisi.

Photo : Abadikan Ombak di Pantai Batukaras / dokpri.

Aku kesini mau mengejar mentari!!!…. karena tadi pagi dan kemarin pagi bukannya mendapatkan semburat mentari tetapi suasana sendu dan sepi hati, meskipun ditemani secangkir kopi.

Monggo baca KOPI & PILU.

Meskipun hanya bisa menangkap semburat cahaya mentari dibalik pepohonan sebelum tenggelam di batas horison, kurasa itu cukup, cukup untuk melepas dahaga ingin mengabadikan asa yang ada dari semburat cinta sang mentari yang bersahaja.

Photo : Terdiam memandang pantai / pic by DH.

Warna semburat kuning dan merah, memberi rasa damai walaupun secercah. Sementara debur ombak tak mau berhenti menghiasi pantai menghasilkan musik alami yang natural tanpa intervensi pihak-pihak berkepentingan.

Akhirnya malampun datang, dan cerita mentari sementara berganti dengan rembulan. Namun sayang agenda pertemuan ternyata menghadang, terpaksa malam ini dihabiskan dengan hanya berbincang dalam ruangan ditemani sajian makanan seafood alakadarnya, Yap… lumayan. Mari berbincang….

***

Esok hari kembali menyeduh kopi dan membawa ke pinggir pantai timur pangandaran. Suasana tidak terlalu sendu, tetapi memang hadirnya mentari masih malu-malu.

Photo : Kopi & Pantai, beda fokus / dokpri.

Akhirnya bermain-main dengan kamera smartphone dengan fokus segelas kopi asli atau pantai yang menjadi backgroundnya… begitupun sebaliknya…

Iseng amat ih!!!

Jangan digubris, biarkan saja. Berkesempatan mengabadikan suasana adalah berkah, jadi selama memori smartphonenya cukup dan yang diambil gambarnya nggak protes… lanjutt aja bung.

Meskipun jikalau beredar di jagad IG, banyak disuguhi photo dengan mayoritas wajah pemilik akun karena memang hasil selpi berkala. Awalnya suka eneg, tapi setelah dipahami bahwa itu adalah akun pribadi dan (mungkin) merupakan bentuk aktualisasi keeksisan diri…. ya sudahlah nggak usah peduli.

Kembali ke pangandaran, setelah selesai dengan kopi di pantai timur maka bergeser ke pantai barat untuk melihat suasana dan mungkin ada spot photo yang mungkin bisa berguna dan miliki makna.

Dikejauhan terlihat bangkai kapal yang karam, maka lensa smartphone mencoba mengabadikan dengan segala keterbatasan. Hasilnya lumayan daripada lu manyun hehehehe.

Udah ah cerita-ceritanya, selamat berkarya dan selamat kembali bersua dengan keluarga tercinta di waktu wiken yang sangat berharga. Wassalam (AKW).

Melayang & Berenang di Pangandaran.

Mari melayang dan berenang kawan…. jump.. jebuur.

Photo : Melayang dulu… / dokpri.

PANGANDARAN, akwnulis.com. Bermain di pantai menjadi menu andalan di kala raga beredar disini, kawasan wisata Pangandaran. Meskipun pagi harinya sedikit galau karena bersua dengan kesedihan, tetapi terlalu terlarut dengan kesedihan bukan cara terbaik menjalani hidup, monggo baca KOPI & PILU.

Sedih dan pilu itu manusiawi tapi tak usah berkepanjangan, hayu beredar di pantai dan merengkuh kesegaran.

Move… move.. move.

Tanpa banyak basa-basi, segera berlari ke pantai disambut hembusan angin kencang dan panasnya pasir putih karena menyimpan kekuatan yang dikirim via sinar mentari sedari tadi.

Dikala akan mencapai bibir pantai, baru tersadar bahwa stelannya masih cocok buat rapat, bukan mantai…. oww dilema.🤣🤣🤣😂🤣🤣

Moo balik ke hotel pasti lama lagi, moo nyebur juga bakalan aneh, masa celana kain dan sepatu resmi dipake berenang… mikir dulu donk.

Akhirnya berubah pilihan tapi tetap mantai, segera ajarkan ilmu (seperti) terbang kepada anak magang yang cepat menyerap ilmu dan penuh keingintahuan, yuk kita levitasian.

Panasnya pasir pantai tidak menjadi halangan untuk berulang kali meloncat dan mengikuti petunjuk :

1… 2… 3… jump….

tentu dengan gaya yang seakan tidak meloncat.

…. Ribet amat sih bro’

“Kalem, no pain no gain pren”

Maka meloncatlah dengan wajah tanpa ekpsresi, seakan tidak ada aksi yang terjadi.

Jump… Cetrek

Jump… Cetrek.

Berhasill…….

Meskipun tidak bisa mengambang terlalu jauh, tetapi jarak dengan pasir pantai tercipta dan efek melayang terwujud sudah, Alhamdulillah.

***

Photo : Swimming pool Suryakencana Hotel Pangandaran / dokpri.

Setelah puas bercengkerama dengan panasnya pasir pantai, maka bergegas kembali ke hotel tempat memginap, namanya Suryakencana Hotel.

Langsung bergegas ke lantai 3 dimana kamar yang menjadi.hunian sementara berada. Gerakan pertama tentu berganti stelan, dari sepatu pantofel menjadi sendal gunung aneka situasi, celana renang, kemeja pantai warna-warni dan tidak lupa kacamata hitam.

Tapii…… ke pantai masih panas terik, jangan sampai kulit wajah hasil perawatan jadi kembali kusam….ahaaay

Berubah rencana, jadinya turun ke lantai bawah menuju kolam renang hotel saja. Tersedia kolam renang berair biru jernih, kedalaman 1,5 meter dan juga ada sisi dangkal untuk anak-anak. Ditemani kerindangan pohon yang asri, semakin mempercepat raga unyuk segera bercengkerama dengan kesegaran air tawar di kolam renang sebelum nanti dilanjutkan dengan diskusi bersama air laut yang penuh sensasi.

Jeburr!!!!

Photo : Swimming pool Hotel Suryakencana / dokpri.

Segar menyelimuti raga dan seluruh permukaan kulit serasa disentuh secara bersama-sama, hadirkan ketenangan dan mendorong kelenjar syaraf pusat dan kelenjar hipofisis memproduksi hormon endorphin lebih cepat.

Rasa senang dan bahagia hadir tanpa jeda, kesegaran juga hadir merata, kemooon… jangan lupa bahagia. Wassalam (AKW).