Rindu Bapak Ibu.

Sebuah coretan rindu yang tertahan ‘sesuatu’.

Photo : Kopi Kerinduan / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sejumput haru bersembunyi diujung dada kesendirian, sebait harap tetap dipegang meskipun kenyataan belum sesuai harapan.

Hari lebaran yang emosional, harus menahan rindu untuk tidak bisa wajah, raga dan jiwa bertemu langsung dengan kedua orangtuaku…..m yang sebenarnya jikalau hanya bicara jarak, sangat mudah untuk ditemui.

Bersimpuh di kaki mereka, memohon doa keberkahan dan keselamatan dunia akherat di momen hari suci pasca dilatih selama 30 hari di bulan ramadhan 1441 hijriah.

Memeluk ibu bapak dengan penuh kehangatan dan ketulusan, dimana karena merekalah, karena pengorbanan, pola pendidikan, motivasi dan keikhlasan kepada anaknya hingga segalanya dilakukan demi cita-cita hakiki yaitu agar anak cucunya kelak bahagia di kehidupan masa depannya.

Mendengarkan cerita dari ibu dan bapak, betapa kenakalanku di masa lalu adalah rangkaian kebahagiaan yang mengharu biru, tiada umpatan kasar atau bentakan, tetapi peringatan halus yang memberi ketenangan.

Berpose terbaik setahun sekali dengan senyuman dan tawa yang tak pernah habisnya lalu memposting di media sosial agar tahu bahwa dunia ikut bahagia melihat kita ceria, itu dulu karena sekarang harus menahan diri terlebih dahulu.

Maafkan anakmu ibu bapak, pandemi ini membatasi hadirnya raga tetapi jiwa dan asa tetap tidak bisa dihalangi untuk senantiasa menyayangimu sepanjang hayat ini.

Ketidakhadiran kami di kampung halaman adalah bukti kasih sayang kami untuk menjaga kebersamaan ini memiliki kesempatan lebih lama lagi.

Ah sedih….. tapi inilah pengorbanan. Jikalau tenaga kesehatan berjibaku di medan pertempuran menyelamatkan nyawa manusia yang sedang melawan ganasnya covid-19, maka kami disini berkorban untuk menghentikan penyebaran pandemi ini dengan menahan diri, mengendalikan rindu sekaligus menata rasa agar tidak memposting photo ceria bersama keluarga di media sosial kita.

Karena….. mungkin banyak yang berduka atau malah merasa pengorbanan ini menjadi sia-sia akibat terjebak oleh sebuah kultur budaya yang sebetulnya bisa kita tahan sementara.

Ah sudahlah, jangan berfikir pengorbanan rasa ini sia-sia, ikhlaslah menata asa, karena hanya Allah SWT yang tahu pengorbanan kita, semoga menjadi pahala yang menyelamatkan kita di dunia dan alam akherat nantinya.

Tetap jaga silaturahmi dengan memanfaatkan teknologi tanpa harus pergi-pergi di masa pandemi ini.

Secangkir eh setengah cangkir kopi coldbrew cukup mengerti kegundahan ini, ditemani semerbak bunga sedap malam yang mekar mewangikan kesepian malam ini. Tanpa banyak basa basi merelakan diri disruput gelas pergelas hingga sebotol 250 ml tandas tuntas tanpa ampas dan keharuman bunga seolah tiada batas.

Banyak sekali yang ingin dituliskan untuk mewakili kegundahan ini, tapi biarlah sisanya tersimpan di sanubari dan catatan hakiki milik alam semesta ini.

Bapak dan ibu, maafkan kami.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

Jiwa semoga kembali suci dan bersiap melanjutkan hari, menjaga ibadah seperti sebelum idul fitri, serta tidak lupa kembali menulis tentang hari ini dan cerita kopi.

Semoga pengorbanan ini menjadi berkah, dan sembuhkan gundah menjadi masa depan yang indah. Wassalam (AKW).

Sono Pisan – fbs

Teu kiat nandangannana..

Photo : Jikalau ilustrasi ini tidak sesuai dengan cerita, mohon abaikan / dokpri.

Fbs : fiksimini basa sunda, seratan fiksi (rèkaan) dina basa sunda. Sanès kisah nyata, mung ngarang wè kaditu kadieu.

Fiksimini basa sunda, tulisan fiksi (karangan belaka) ditulis dengan bahasa sunda. Bukan kisah nyata, hanya mengarang tulisan kesana kemari (AKW).

# SONO PISAN #

Teu acan lami tepang sareng salira tapi naha bet hoyong patepang deui, meuni kacida. Èmutan marojèngja, antawis hoyong tepang sareng kasieun. Sieun dina panampiannana ngaraheutkeun manah balarèa. Sanaos anggang ku waktos, tapi geuning jamparing kapanasaran mah teu tiasa dipungpang, ngabelesur meulah jaman.

Akang kunaon huleng jentul waè?” Soanten halimpu bèbènè nu didieu ngagareuwahkeun pikir. Rikat wangwangan salira dibuntel ku imut ngirut, “Teu aya nanaon geulis, kumaha kumaha?”

“Hawatos wè pèdah titatadi ningal Akang huleng jentul, bilih Nèng gaduh kalepatan”

“Teu pisan-pisan geulis, biasa waè, ngèmutan padamelan”

Nu geulis nyarandè. Salajengna kaleresan tos manjing adzan magrib, tiasa buka shaum sareng nu geulis, boh buka saum tuang leueut ogè nu sanèsna.

Tèèt.. tèèt, hapè ngagibrig, aya whatsapp lebet, lalaunan diaos, ‘Pah dimana? Cios ngalembur deui?’

Sakilat hapè dibalikkeun, nangkub. Indung peuting mencrong geregeteun.

Oreo Supreme

Harga selangit apakah legit??

Photo : Oreo digenggaman / dokpri.

BDG, akwnulis.com. Terkadang memang sebuah nilai di dunia itu relatif, sesuatu menjadi sangat bernilai padahal sebenernya biasa saja bagi sebagian orang lainnya. Tapi ternyata sebuah nilai yang diukur dengan harga, membuat sebagian orang penasaran dan ingin ikutan memiliki dan mencobanya. Malah merasa bangga dan merasa ‘lebih’ dari orang lain jikalau sudah memiliki dan menikmatinya.

Ngobrol apa sih kamu?”

“Eta geuning, kue Oreo warna merah yang tulisannya SUPREME, dibanderol 500ribu per bungkus yang isinya cuman 3 buah”

O may gattt…. aya gitu?”

Deziggg…..!!!!

“Ah nggak gaul pisan”

“Bentar.. bentar, googling dulu…… (sambil buka browser di hape)… “Uluhhh mahal pisaaan, serius itu teh?

Akhirnya muncul komentarnya setelah membaca kenyataan. Diriku tersenyum, ya memang begitu kenyataannya.

Mengapa menjadi begitu mahal?”

Ya nggak tahu… yang pasti pro dan kontra pendapat pasti akan ada lha wong inilah ciri kehidupan dunia, selalu ada beda pendapat karena memang satu sama lain beda pendapatan.

Klo yang pro, maka berbagai untaian kata yang mungkun bermakna akan mendukung kemahalan ini dengan mengatakan bahwa bukan 3 buah oreonya saja, tetapi merk Supreme-nya ini yang memiliki nilai jual tidak terkira. Karena membangun brandingnya bukan waktu yang sebentar, penuh suka duka. Sehingga 3 buah kue ini dianggap wajar dengan angka segitu mewakili nilai harga gengsi bin prestise bagi yang membelinya, menikmatinya plus mengupload di media sosialnya supaya dunia tahu bahwa…… dirinya makan oreo supreme dengan harga fantastis.

Photo : Oreo hitam & Oreo marun / dokpri.

Yang kontra juga banyak, tentu ini terkait dari irasionalitas harga kue yang normalnya dibawah 10ribu menjadi berpuluh kalilipat, terhubung dengan terlalu mengagungkan gengsi dan prestise serta tercipta dalam gurindam pamer kemewahan dan ingin diketahui banyak orang bahwa bisa makan kue mahal.

Sementara, aku mah cenderung kontra karena secara harga tidak masuk logika. Lebih baik nilai harga segitu mah digunakan untuk hal lain yang berguna, apalagi buat umat muslim yang sedang beribadah puasa, nilai tersebut jika di infak shodaqohkan maka nilainya akan berlipat lipat ganda serta penuh pahala.

Tapi ada juga yang nggak terpapar dengan oreo supreme ini, meskipun mungkin besok lusa harganya makin naik ataupun drastis turun, yaitu orang-orang yang nggak suka biskuit oreo hehehehe.

Trus photo di awal maksudnya apa, mau pamer juga?”

Oh itu yang dimaksud, itu mah oreo biasa dan oreo red velvet dengan harga normal-normal saja dan membelinya di minimarket dekat rumah. Warnanya juga bukan merah, tapi marun.

Ohhh, kirain

Akhirnya kami tersenyum sambil mengunyah kue eh biskuit oreo yang tersisa. Selamat bepuasa di hari ke 26, Wassalam (AKW).

Pikir & Putuskan.

Mikir atau nggak mikir, putuskan.

Photo : Serangga lewat langsung jepret, nggak pake mikir / Dokpri.

SAGULING, akwnulis.com. Sebuah niat memang tidak cukup jika tidak dilanjutkan dengan emprak (implementasi), tetapi setiap individu memang memiliki pertimbangan masing-masing dengan berbagai perspektif rasional dan irasional atau gabungan keduanya untuk memutuskan suatu keputusan yang akan berpengaruh bagi ritme kehidupannya sekarang dan juga masa yang akan datang.

Bagaimana caranya kita tahu dampak dari keputusan kita?

Ya lakukan dulu, jangan berandai-andai atau melamun tak berkesudahan kawan… atau malah pilihannya nggak jadi.. menunda.. menunda.. akhirnya melupakan karena dengan berbagai pertimbangan. Ya… Itu sih kehidupan, karena setiap tahapan hidup adalah pilihan. Bukan masalah salah dan benar dengan perbedaan pilihan yang ada, tetapi kesiapan kita manakala konsekuensi pilihan itu yang harus dihadapi.

Berhitung berbagai kemungkinan dari suatu pilihan adalah wajib karena kita diberi anugerah akal dan pikiran, ditambah dengan mencari referensi dari berbagai literatur plus mengumpulkan testimoni dari orang-orang yang punya pengalaman tersendiri terkait konten yang akan diputuskan.

Tetapi memutuskan sebuah pilihan tentu tidak cukup dengan akal dan pikiran logika matematis fisika biologis sosial sastra dan guru BP….. lha kok jadi jurusan di SMA... maksudnya komprehensif gitu lho…. logika berfikir tersebut ditambah referensi dan testimoni ternyata tidak cukup. Itu semua penting karena akan menghadirkan keputusan yang sistematis dan terukur…. tetapi.. terdapat hal yang super penting yang harus diyakini yaitu Takdir Illahi.

Artinya dari semua tahapan pertimbangan akal tadi, akhirnya adalah sebuah kehendak yang sudah tertulis di atas langit didalam kitab lauh mahfudz yang harus diyakini dengan keimana rohani.

Terkadang sebuah keputusan diambil dengan rumus 99+1%, yaitu 99% nekat dan 1% logika… tapi tentu bersiaplah dengan kemungkinan dampak dari pengambilan keputusan ini.

Menurutmu yang ideal bagaimana dalam mengambil keputusan?

Sebuah pertanyaan pribadi yang mungkin mendapat jawaban subjektif, tapi tidak apa selama memang itu kenyataannya.

Penulis dalam mengambil keputusan bervariasi. Ada yang gercep (gerak cepat)… apalagi urusan diskon be-ol (belanja online) yang dimulai pukul 00.00 wib… terkadang pertimbangannya hanya beberapa detik hehehehe… nggak kalah sama ibu negara.

Photo : Helikopter lewat langsung nggak pake mikir, jepret / Dokpri.

Nah ada juga keputusan yang penuh pertimbangan dan perhitungan juga diskusi intens dengan pendamping hidup alias ibu negaraku hingga akhirnya akhirnya dilengkapi oleh kenekatan berjamaah dan tidak lupa senantiasa membaca Basmallah… karena ini memang sudah ada takdirnyahhh…

Pernah juga sih ngambil keputusan nggak pake mikir, langsung aja putuskan dan ambil…. tapi cepat atau lambat lebih sering hadirkan sesal karena ternyata keputusan yang diambil kurang tepat dan cenderung ngasal.

Tapi mikir kelamaan juga jangan, sayang nanti momentumnya terlewati… maka keluwesan mengambil keputusan dalam pilihan-pilihan yang senantiasa tersaji di dalam perjalanan kehidupan fana ini adalah keharusan.

Selamat mengambil pilihan dan menjalani indahnya dinamika kehidupan, Wassalam (AKW).

Doa setelah Shalat Witir.

Dzikir & doa setelah shalat witir.

Artinya :

Ya ALLAH, kami mohon kepada-Mu Iman yang Tetap, Hati yang Khusu, Keyakinan yang Benar, Ilmu yg Bermanfaat, Amal yang Baik, Agama yang Lurus, Rejeki yang Baik, Kemaafan & Keselamatan, Kesehatan yang Sempurna, Mensyukuri atas Kesehatan yg Diberikan dan merasa Cukup Terkaya atas Manusia yg Lain.

Ya ALLAH Tuhan kami, semoga engkau terima Shalat kami, Puasa kami, Berdiri – Ruku dan Sujud kami, Khusyu & Rendah hati kami, dan Sempurnakan Kekurangan kami, Ya ALLAH Tuhan kami yang Maha Pengasih.

Ya ALLAH limpahkanlah kesejahteraan kepada Junjunan kami Nabi Muhammad, keluarganya, dan semua sahabatnya. Segala puji bagi ALLAH penguasa seluruh alam.

(S&Dz Peruri,175-176)

Golden Ginger Latte.

Menikmati rasa dahaga di bulan puasa.

Photo : Golden Ginger Latte / dokpri

CIMAHI, akwnulis.com. Tuntas tarawih bersama masih tersisa waktu dan ruang dalam tembolok untuk memasukan sesuatu melalui mulut yang seolah tak pernah kenyang sejak adzan magrib berkumandang.

Mengapa begitu yach?”

Sebuah tanya yang memang nyata, tetapi cukuplah menjadi bahan renungan dan tasyakur bahwa bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah dan hikmah.

Urusan mulut pengen terus ngunyah, itu mah banyak faktor. Baik dari sisi momen sebagai faktor pertama, dimana kesempatan makan minum di batasi waktunya di bulan shaum sehingga ruab raeb – sagala hayang (pengen makan semuanya) padahal kapasitas perut itu ada batasnya. Jangan sampai berlebihan karena akan menimbulkan derita ‘kamerkaan‘ (kekenyangan) seperti pengalamanku dahulu, cerita lengkapnya monggo klik DISINI.

Faktor kedua adalah setelah shalat tarawih, badan lebih segar dan makanan berbuka shaum sudah tergerakkan sehingga di perut sudah mulai tertata, maka rasa laparlah yang ada lagi.

Faktor ketiga adalah kualitas makanan/kudapan/minuman yang disajikan memang begitu menggugah selera. Pasti sudah nggak tahan untuk menyantapnya setelah tarawih tuntas tas tas tas….

Nah ini faktor utama, berhubungan dengan RW yaitu RW06 atau dibaca Rewog alias senang barang hakan (makan segala), yang biasanya ini ada karena faktor keturunan, lingkungan ataupun memang si eta mah selalu laparrrr……. ini sulit untuk menjelaskan karena pasti kapanpun dimanapun selama lepas berbuka hingga sahur, maka digayem saja segala macam makanan kayak mesin giling hehehehe… ayo ngaku ayo….

Sementara bagiku, tuntas shalat tarawih tadi malam hanya mencoba segelas kecil minuman dingin jamu kekinian, ikutan istri yang begitu rajin mengkonsumsi minuman kuning pekat dingin manis dan rasanya menyenangkan.

Namanya Golden Ginger Latte (GGL), sebuah minuman perpaduan unik yang memberi sensasi rasa jahe dan latte serta manis madu yang memberi suasana rindu.. ahaay. Diproduksi oleh PINKu yang beralamat di Jl. Sultan Agung No.8 Bandung.

Gampang, klo mau tapi #stayathome ya tinggal gofood atau grabfood aja. Harganya 100rb/liter kalau via online, pernah beli langsung ke gerainya harganya 90ribu.

Srupuut…. hmmm.. segaar… eh sekarang mah udah pagi dan memasuki hari shaum ramadhan selanjutnya, selamat berpuasa di hari ke 19. Wassalam (AKW).