Coffee Gayo Wine

Menikmati sensasi Coffee Gayo Wine dengan Manual brew V60… seduh olangan.

Photo : Biji yang cantik mengkilap / dokpri.

Nggak pake lama, sang gunting menunaikan tugasnya. Membuka lapisan alumunium foil yang berisi biji misterius dengan lempeng mata tajamnya. Meskipun sepintas sudah bisa merasakan aroma rasa luar biasa, tetapi belum tuntas jikalau tidak melakukan proses penyeduhan mandiri dengan peralatan yang ada.

Yup… Coffee Gayo Wine yang segera di eksekusi dengan manual brew V60, kemoooon….

“Peralatan siaap?”
“Siaaaap”

Grinder langsung menggerakkan sendok dengan pikiran telekinetiknya, meraih biji kopi yang begitu cantik mengkilap. Dimasukan ke atas wadah penggilingan, stel ukuran 6-7 agar cocok untuk bubuk kopi yang bersiap diseduh ala Barista lalala…

Sesaat terperangah karena selain harum, bijinya mengkilat seperti berminyak. Tapi pas diraba tidak ada yang menempel di jari, berarti memang mengkilat alami, entahlah. Yang pasti penampilan bijinya cantik.. jadi sayang untuk menggrindernya.

“Tapi apa daya… kecantikannya harus melalui proses penghancuran menjadi serpihan-serpihan kecil untuk memberi peluang rasa nikmat yang tiada taraaa!!”

“Ihh kamu mah lebay, sok puitis. Gancang di seduh, sudah nggak sabar nich!!!”

“Ahiiiy!!!”

***

Corong V60 udah memasang sendiri kertas filternya, air memanaskan diri hingga mencapai 92 derajat celcius. Filternya mengguyur diri agar bersih dari residu pabrikan…. dan segera memasangkan dirinya pada gelas kaca yang setia menanti tetesan ekstraksi yang penuh aksi.

Photo : Hasil manual brew V60 Coffee Gayo Wine / dokpri.

Currrr…… pelan-pelan aliran air panas bersuhu 92 derajat celcius berpadu dengan biji kopi Gayo Wine hasil hunting di Kota Medan minggu lalu.

Tetes pertama dan tetes selanjutnya begitu memukau terlihat di gelas kaca. Prosesi ekstraksi biji kopi menjadi sebuah momen alami yang penuh sensasi. Harum semerbak kuan merebak, jadikan malam ini begitu semarak.

“Tuh kalah ka berpuisi lagi kamu teh!!!”

“Ih bawel pisan”

Diskusi monolog terus berlanjut, menjadi hiburan sambil menunggu ekstraksi kopi berkumpul sempurna.

***

..Surupuut… surupuut..

Deng…. agak terdiam. Kaget juga merasakan sensasi Acidity yang tinggi plus serasa ada rasa wine alami yang menstimulasi syaraf rasa semakin terbuka. Taste fruttynya muncul, rasa anggur kolesom… eh kok jadi kolesom…

Maksutttnya… rasa anggur yang berfermentasi terasa memanjakan lidah. Sensasi acidity berbeda yang ditampilkan oleh Kopi Gayo Wine ini. Kayaknya klo yang nggak biasa ngopi, musti pelan-pelan, takut kaget dan kenapa kenapa.

Trus setelah cairan kopinya masuk ke tenggorokan, eh masih nyisa rasa tebalnya di bibir bawah dan bertahan beberapa saat… yummy… hmmmm… enaaak brow.

Srupuut…. gleek.. glek.. glek.

Oke, itu dulu dech review versiku tentang Gayo Wine. Jangan komplen klo seakan berlebihan, tapi ini kenyataan.

Baca juga :

Kopi Kerinci

Kopi BTH

Kopi Manglayang Karlina

Jikalau beda pendapat juga dipersilahkan. Karena beda pendapat itu perlu, apalagi kita khan beda pendapatan…. upss naha kadinya (kesitu).

Udah ah, jadi ngelantur nulisnya, selamat menikmati, Wassalam”(AKW).

Jenis Kereta Api & KPBU

Yuk belajar tentang per-Kereta Api-an.

Photo : Penumpang KA Argo Bromo sedang berpose / dokpri

Sekarang mah ngurus kerjaan dulu aah…

Saatnya ngurus Kereta Api, “Apa itu kereta api?”

“Yaaa.. kereta api. Alat transportasi masyarakat yang merayap aja udah kenceng, apalagi klo berdiri trus lari… pasti lebih kenceeeng lagi…”

“Busyeet emangnya robot Transformer….”

“Udah jangan ngaco ah, yuk belajar yang bener”

Nich pengertian yang benernya :
‘Kereta api adalah sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian lainnya yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel yang terkait perjalanan kereta api.’ (Ps 1 UU 23/2007)

Photo : Kursi kosong di Gerbong KLB Argo Parahyangan / dokpri.

Jadi klo mau tau tentang Kereta Api udah buka aja :
1. UU 23/2007 Tentang Perkeretaapian.
2. PP 56/2009 Tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian, yang diubah dengan PP 6/2017.

Nah, karena bahasan kali ini terkait Penyelenggaraan Perkeretaapian melalui Skema KPBU maka musti dibaca, pelajari dan pahami :
1. UU 24/2009 Tentang Kebahasaan.
2. UU 23/2014 & Perubahannya Tentang Pemerintahan Daerah.
3. PP 28/2018 Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah.
4. PP 27/2014 Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
5. Perpres 38/2015 Tentang KPBU dalam Penyelenggaraan Infrastruktur.
6. PermenPPN 4/2015 Tentang Tata Cara Pelaksanaan KPBU.
7. Permendagri 19/2016 Tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah.
8. Permenhub 15/2016 Tentang Konsesi dan bentuk Kerjasama Lainnya Antara Pemerintah dengan Badan Usaha di Bidang Perkeretaapian, diubah oleh Permenhub 54/2018.
9. Permenkeu 78/2014 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemanfaatan Barang Milik Negara.
10. Perka LKPP 19/2015 Tentang Pengadaan Badan Usaha KPBU.

Nah lho…. baru liat judulnya udah pusing. “Kok banyak aturan yaaa?”

Yaa… itulah kenyataannya. Ayo donlot, buka, baca dan pahami. Kemooon!!!!

***

“Trus Kereta Api itu Sarana atau Prasarana?”

Photo : Suasana Stasiun Malang Jawa Timur / dokpri.

Hayoo bingung lagi. Maklum bedanya cuman pra doang…

Buka lagi UU 23/2007 aah… yaps dapeet… Kereta Api itu adalah Sarana (Sarana perkeretaapian adalah kendaraan yang dapat bergerak di jalan rel) , sementara Prasarananya adalah :
– Jalur Kereta Api
– Stasion Kereta Api
– Fasilitas Operasi KA agar KA beroperasi.

Perkeretaapian dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu Perkeretaapian Umum dan Perkeretaapian Khusus, pengertiannya adalah :

Perkeretaapian umum adalah perkeretaapian yang digunakan untuk melayani angkutan orang dan/ barang dengan dipungut biaya.

Perkeretaapian khusus adalah perkeretaapian yang hanya digunakan untuk menunjang kegiatan pokok badan usaha tertentu dan tidak digunakan untuk melayanai masyarakat umum.

Trus untuk penyelenggaraan Sarana ataupun Prasarana Perkeretaapian dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
1. Pembangunan
2. Pengoperasian
3. Perawatan
4. Pengusahaan
(Ntar dibahas lebih detilnya yaaaa…)

***

Kereta api menurut jenisnya terbagi jadi 8 kelompok guys, yaitu :
1. KA Kecepatan Normal (kurang dari 200 km/jam)
2. KA Kecepatan Tinggi (lebih dari 200 km/jam)
3. KA Monorel (KA yang bergerak pada 1 rel)
4. KA Motor Induksi Linear (KA yang bergerak menggunakan motor induksi linear dengan stator pada jalan rel dan rotor pada sarana perkeretaapian).
5. KA Gerak Udara (KA yang bergerak dengan tekanan udara).
6. KA Levitasi Magnetik (KA yang digerakkan dengan tenaga magnetik sehingga pada waktu bergerak tidak ada gesekan antara sarana perkeretaapian dengan jalan rel).
7. Trem (KA yang bergerak diatas rel yang sebidang dengan jalan).
8. Kereta Gantung (Kereta yang bergerak dengan cara menggantung pada tali baja).

Urusan KPBUnya manna?…. ih ntar atuh, ini juga mulai olab… eh bingung .. pelan2 yaaa.

Ntar kita lanjutin di postingan selanjutnya. Wassalam (AKW).

Kopi Kerinci di Otten Coffee

Menikmati langsung sajian Kopi Kerinci dengan V60 di OttenCoffee Medan Petisah… enaak pisan.

Photo : Dokumen pribadi.

Jalan Kruing Medan Petisah menjadi tujuan penting sebelum kembali ke kampung halaman. Bukan hanya Toko Bolu Meranti ada di jalan ini, tetapi sebuah toko yang spesifik, yang selama ini menjadi tempat transaksi online pembelian peralatan… ternyata ada di sini di Kota Medan Pulau Sumatera.

Yupp… OttenCoffee. Toko online terkenal bagi pecinta dan penikmat kopi karena memiliki barang-barang berkualitas peralatan kopi sekaligus biji kopi yang terstandarisasi. Memang harga-harganya rata-rata cukup mahal tetapi sebanding dengan kualitasnya (gaya bingit sok sok review, padahal cuman beli corong V60 sama grinder doang via onlen hehehehehe… pissss ah).

Photo : Aneka perlengkapan kopi / dokpri.

Tokonya tidak mencolok, tidak pake plang pinggir jalan. Langsung aja tulisan OttenCoffee serta pintu masuk kaca dengan pegangan dari kayu yang cukup besar dan artistik.

Masuk ke dalam langsung di sambut harumnya kopi yang sedang di roasting di sebelah kiri, mesin roasting Probat yang besar menjulang menyambut kedatangan dengan senang.

Photo : Coffee machine & me / dokpri.

Melangkah lagi ke dalam, semakin lengkap koleksi peralatan pembuatan kopi baik manual seperti Siffon, cemex, kalita, aneka grinder, filter hingga frenchpress dan segala macemnya. Untuk mesin juga tersaji cukup beragam termasuk peralatan cangkir, tumbler, hingga aneka bean kopi dalam dan luar negeri yang memanjakan mata tetapi menggetarkan dompet karena pengen semua bean kopi di beli hehehehe.

***

Tuntas menikmati suasana toko, tiba saatnya memilih biji kopi. Bantak banget pilihan, tetapi pengen nyoba yang acidity tinggi dan bukan kopi Java Preanger.

“Kenapa bukan Java Preanger?”
“Karena beberapa biji kopi Java Preanger masih ready stock di rumah”
“Oooh gituuuu, oke dech”

Setelah milih dan memilah dari sisi rasa, harga dan kemampuan maka untuk dibawa pulang, sebungkus biji kopi jantan seharga 75 ribu… satu aja ah… khan kmarin udah belanja juga Kopi Gayo Wine dan Mandheiling Bintang serta Kopi Jantan produk Sidikalang.com.

Photo : Manual brew v60 kopi kerinci / dokpri.

Tetapi tidak lupa order manual brew V60 Kopi Kerinci produk Ottencoffee yang menjanjikan rasa acidity khas dimana biji ini dibuat dengan natural proses.

Peseen!!!
Tring!!!…. adaaa!!! (15 menit menunggu tidak terasa karena mengambil photo dan video di toko Ottencoffee ini menyenangkan, hingga lupa waktu.)

Disajikan menggunakan bejana Hario 200 ml dan gelas kaca. Harumnya menyeruak rasa. Dengan aroma kopi yang menggugah selera, nggak pake lama.. glek… glek… gleek.

Bodinya medium low, aciditynya yang lumayan nendang, asem di mulut dan tebelnya asem nggak mau ilang disaat kopi udah lewat masuk ke perut. Di akhir rasa muncul taste jeruk dan asam tomat berpadu dengan selarik rasa berry… enak oge.

Bisaan yang bikinnya, pasti lah.. ini khan toko OttenCoffee. Kata si Neng Barista, V60 dibuat dengan komposisi 1 : 15 dan diseduh dengan suhu air 87 derajat celcius.

Alhamdulillah.

***

Akhirnya waktu jua yang memisahkan kita. Meskipun satu kebenaran baru harus diyakini bahwa suci itu bukan berarti putih tetapi beraneka warna sesuai selera kehidupan. Apalagi bagi penikmat kopi, suci itu berarti hitam karena jika suci itu putih maka tidak ada cinta suci diantara kita lagi….

“Apa seeeh kamuuh?”

“Au ahh… gelap”

Wassalam (AKW).

Bo wero

Diskusi ringan yang berbobot bersama The Legend.

Photo : Capture jilid buku ‘bo wero’ / dokpri

Buku adalah jendela jiwa penjaga raga agar terus merangkai makna dari setiap detik perjalanan dunia. Serasa sudah banyak buku dan gejala kehidupan yang telah dibaca, ternyata itu nggak ada apa-apanya.

Itu dibuktikan di kala bersua dan diskusi bersama sang Legend, beliau membahas perjalanan hidupnya. Romatika ke-keraskepalaan-nya, gaya dan usul nylenehnya hingga berada di posisi antagonis berhadapan dengan aturan sistem yang melingkupinya. Sampai mengisi waktu pensiun dengan berkegiatan ringan, tenang dan bersahaja.

Beberapa judul – judul buku yang sudah di lalapnya menjadi bukti haus ilmunya beliau, Pak Indrarto The Legend.

“Kamu tahu buku berjudul -Bo Wero-?”

“Euh….. belum pernah baca pa..” menjawab pelan sambil tergagap. Pertanda memang belum baca dan otomatis tidak paham isinya.

Pa In tersenyum, “Nggak apa-apa klo belum tau. Itu adalah buku yang pernah saya baca. Isinya mbling, nyeleneh, tetapi punya makna mendalam tentang kehidupan dan menjadi referensi keteguhan saya dalam menggenggam prinsip aturan”

“Waaah…. keren tuh buku pak”

“Tapi kayaknya udah langka sekarang buku itu” kata beliau. Kembali anggukan kepala meng-amini.

Tapi otak bergerak dan bersiap nyari di internet, buku apa itu.

***

Selesai shalat isya di tengah malam, segera membuka internet di smartphone dengan kata kunci ‘Bo Wero’

Jreng…..

Beberapa blog mengulas singkat tentang buku ini yang merupakan karangan Wandi S. Brata terbitan Gramedia Tahun 2003 dengan judul lengkap : Bo Wero – Tips mbeling untuk menyiasati hidup. Ada 2 cerita yang dimunculkan dan semakin menarik nich buku.

Bo wero adalah singkatan dari peribahasa jawa yaitu ‘ombo wero wero’ yang artinya menggambarkan sesuatu yang sangat luas tanpa batas. Trus untuk dapetin suasana yang tenang dan damai tanpa batas itu tidak harus di beli dengan mahal karena sebenarnya itu semua ada dalam diri kita, cuma belum tau bagaimana cara menemukannya (gitu kata mas Andana di blognya).

Jadi makin penasaran….

Ada beberapa penawaran penjualan buku di bukalapak tetapi ternyata stoknya habis, eh di Amazon juga ada atau via aplikasi seperti goodreads. Sementara mah capture dulu cover bukunya aja dulu. Ntar moo hunting ke Toko Buku Gramedia atau mungkin di Pasar Buku Palasari Bandung.

***

Balik lagi dengan Pak Indrarto Sang Legend, diskusinya terus mengalir dan lagi-lagi judul buku yang muncul menjadi basic referensinya juga teori – teori filsafati yang menjadi warna sikap serta perangai beliau yang sering jadi kontroversi.

Penasaran?…

Tunggu yach tulisan selanjutnya. Wassalam (AKW).

Emang Gue Pikirin

Emang Gue Pikirin, sebuah sikap yang penuh makna.

Photo : Secangkir kopi di Le Polonia Medan / dokpri.

“Disaat kamu menemukan Kebenaran, maka yakinilah dan masa bodoh atau EGP dengan hal lainnya”

Sebuah kalimat penuh makna yang terlontar dari mulut seorang bapak, yang disampaikan disaat bisa bersua pada sebuah perhelatan yang langka.

Sesaat terdiam dan berusaha mencerna sesuai dengan kemampuan rasa, juga olah pikir yang terus berkreasi seiring perjalanan kehidupan di dunia.

Mengangguk sambil berfikir keras, apalagi istilah EGP alias Emang Gue Pikiran khan bukan sebuah jargon masa lalu, tetapi istilah gaul yang nge-trend baru-baru ini.

***

Photo : Bersama bp Drs Indrarto, SH / dokpri

Pa Indrarto tersenyum, di usia 76 tahun kurang 85 hari ini beliau tidak berubah, tetap bugar dan bersahaja dan… senyumnya sambil sedikit menunduk serta bibir ditarik ke bawah kiri sedikit telah melemparkan jiwa membawa raga kembali ke masa 20 tahun lalu… di saat Beliau adalah sosok yang ditakuti oleh semua pihak terutama kami, calon pamong praja muda di Lembah Manglayang, Jatinangor.

Sebuah masa yang penuh tekanan, perjuangan dan ketidakpastian…. ahay Lebaay.

Konsistensi dan konsekwen yang Pak In tunjukan bertahun-tahun disaat mendidik, menjaga dan mengasuh diriku serta ribuan purna praja yang sekarang menyebar di seantero nusantara untuk menanamkan sebuah sikap yaitu INTEGRITAS.

Beliau selalu berwajah dingin, bersuara keras dan tegas sehingga teriakannya bagaikan guntur membelah langit di siang bolong, apalagi bagi praja yang melakukan pelanggaran.

***

Beliau melanjutkan, “EGP itu bukan sikap cuek bebeek…, tetapi sebuah sikap yang di pegang berdasarkan prinsip kebenaran yang diyakini benaar. Karena hidup ini tidak mungkin memikirkan SEMUA hal sendiri!”

“Itu yang Saya lakukan untuk membangun integritas dan disiplin serta etika kehidupan, butuh waktu lama dan extra kesabaran”

“Iya euy, bener bingiiit” suara hati menjawab dan semakin kagum dengan Beliau.

Sambil menyeruput kopi di sesi sarapan ini, Beliau kembali berkata bahwa “Musuh adalah Guru yang menyamar dan kalian dulu begitu bandel-bandel adalah guru yang menyamar untuk melatih Kesabaran Saya”

Hahahaha….

Kami tertawa lepas berdua.

Sebelum tuntus berbincang ringan tapi berbobot, beliau menyebutkan salah satu dan salah dua, salah tiga….. 🙂 referensi judul buku yang menginspirasi sikap dan gaya hidup beliau, salah satunya buku berjudul ‘bo wero, yang pengen tau klik DISINI.

Wassalam (AKW).

Tebing Keraton

Menikmati kesendirian di Tebing Keraton.

Photo Sunrise kesiangan dari Tebing Keraton / dokpri

Sebuah harapan jangan hanya menjadi angan, tetapi perlu ikhtiar dan usaha maksimal agar berbuah kebaikan.
Berbuat baik bukan hanya untuk orang lain, berbuat baik untuk diri sendiri juga sangat penting…

Aaah egois kamuuuh!!!

Jangan salah sangka dulu kawan. Egois atau egoisme itu asalnya bahasa yunani yaitu ‘Ego’ artinya ‘gue, aku, ana, aing’ dan ‘isme’ adalah tentang pemahaman dalam konsep filsafat. Jadi segala yang ada itu adalah aing, adalah aku. Akibatnya bersikap mementingkan diri sendiri, merendahkan orang lain, tidak mau mendengar pendapat orang lain dan banyak lagi turunan perilaku yang kurang atau malah tidak baik, dalam bahasa arab disebut ananiah.

“Klo PERSIB nu AING!!!’, itu egoisme bukan?”

Hehehehe, menurut aku sih bukan. Itu mah rasa cinta mendalam bagi klub sepak bola kesayangan atuhh.. “Hidup PERSIB”.

Klo egoisme mah.. slogannya, “Ieu Aing, kumaha Aing…..)”

Ah kok jadi uang aing yach… maafkan daku para pemirsyah. Memang klo udah nulis sesuatu itu bisa belok kemana aja… tapii tetep harus ada koridor pasti yang bernama ‘Tema’.

***

Saat ini sedang terdiam memandang hamparan hijau bentang alam kehidupan di ketinggian Kawasan Hutan Raya Ir. H. Juanda Bandung Jawa Barat.

Sebuah asupan gizi bagi jiwa dan pikiran serta membuat denyut bathin semakin tenang untuk sesaat bersatu dengan alam….. seraya menundukkan jiwa menengadahkan raga penuh rasa syukur atas nikmat Illahi Robb…

Tebing Keraton, itu nama tempatnya. Sebuah wahana alam eksotis yang memberikan kesempatan kepada kita untuk melebarkan mata meluaskan pandangan hati. Memandang indahnya jajaran hutan pinus yang pucuknya bercumbu bersama awan disinari mentari yang tak pernah letih memenuhi janji untuk terus mengitari bumi.

Setelah menyetir sekitar 30 menit dari rumah, melewati jalan Ir. H. Juanda atau Jalan Dago hingga ujungnya diataaas sana…. teruss ikuti arah ke Dago Pakar. Ntar ada petunjuk ke Tahura belok kiri… ikuti aja jalan berkelok hingga melewati gerbang pengunjung Tahura… masih lurus terus. Sekitar 300 meter ada jalan belok kanan… ikutiii….teruss..kira-kira 5 km akhirnya berhenti di parkiran sekitar Warung Bandrek.. (Masih bingung?… kemana arahnya ya, tinggal buka google map… ikutin.. nyampe dech…)

Dari parkiran mobil klo moo keringetan deras mengucur tinggal jalan kaki aja.
“Cuma 3 km dengan jalan menanjak berkelok dan ada yang masih berbatu..”

“Whaaat?…”

“Whaaat…”

“Yang bener aja?”

Kalem mas bro, akses 3 km itu tinggal 500 meteran yang kurang bagus, sisanya udah beton. Buat nyampe ke pintu gerbang Tebing Keraton ada jasa pengantaran ojeg. Tarifnya 30ribu per orang sekali anter, klo moo ditungguin sama mamang ojegnya 50ribu. Itu hasil kesepakatan Masyarakat sekitar dengan Pengelola Tahura.

Klo udah nyampe gerbang, bayar karcis 15ribu dapet secarik tiket dan asuransi plus gelang ijo unyu-unyu bertuliskan ‘Tahura Juanda, We are the forest’.

Tinggal jalan kaki menurun dikit ikutin jalan paving block yang tertata rapih. Plang petunjuk jalannya jelas, klo lurus terus ke arah perkemahan, klo belok kiri dikit.. itu arah ke Tebing Keraton.

Ada juga ke kiri menurun banget.. itu buntu menuju hutan pinus.

***

Photo selfie dan Welfie seolah menjadi keharusan, penunjung berebut untuk mengabadikan diri agar ada bukti pernah hadir disini. Setelah itu dengan sekejap mengabarkan diri kepada dunia bahwa aku sedang disini, dengan berbagai pose serta sentuhan teknologi aplikasi penghalus wajah agar meraup ‘like‘ mengumpulkan jempol serta menanti taburan komentar yang menghiasi medsos masing-masing…. perkembangan jaman tidak bisa dilawan.

***

Alhamdulillah, suara binatang hutan menemani kesendirian ini. Memberikan harmoni musik alami diselingi siulan burung bersahutan. Dedaunan hijau memandang dan memberi kesejukan, membuat jiwa ini tenteram dalam balutan alam… tetapi akhirnya panasnya sinar mentari mengingatkan diri bahwa waktu ‘me time’ sudah berlalu.

Ayo kembali ke dunia nyata yang penuh suka duka. Wassalam (AKW).

Idul Adha & Kopi Arabica BTH

Tuntas berQurban disambut Kopi Arabica Pangalengan Premium BTH (Breaking The Habits).

Prosesi penyembelihan kambing / dokpri.

Tuntas memotong kambing bersama tetangga di belakang rumah, terasa kebersamaan itu begitu indah. Berbagi hewan qurban bersama tetangga belakang rumah. Bersiap menikmati daging domba yang sedang di recah serta nanti di bagi bersama-sama, insyaalloh penuh berkah.

Perayaan Idul Adha melatih diri mengasah iman dan keikhlasan tingkat tinggi yang dicontohkan Nabi Ibrahim A.S. jika di Mekah sana semua wukuf di arafah, disini kita shaum sunnah arafah lalu shalat ied qurban berjamaah lalu berbagi bersama saudara-saudara muslim dan muslimah.

***

Beres menyaksikan penyembelihan segera beranjak dan kembali ke rumah karena sedari pagi belum sarapan. Tetapi setelah tiba di meja makan langsung berganti tujuan. Sebungkus biji kopi Arabica Java Premium Pangalengan sudah menanti untuk dinikmati penuh kemenangan.

Sarapan tahan duluu….. nyeduh kopi segera beraksi.

Jreng

Jreng…..

Dengan panas air yang tepat maka menghasilkan tetesan kopi penuh rasa niiiikmat… biji kopi arabica Pangalengan Jawa Barat yang berlabel ‘Breaking The Habits’nya Kang Agung Fatwa menebar aroma harum membunga disaat baru membuka kemasannya.

Apalagi berpadu dengan gigi-gigi tajam grinder, semakin membuka rasa kopi khas Jawa Baratnya… aroma segar melingkupi seantero ruang pernafasan. Menyebar memenuhi ruang makan hingga menyentuh ujung hidung anggota keluarga yang sedang berkumpul merayakan hari Idul Adha.

Dari anak kicik nan cantik, Binar Wardana hingga para ponakan dan ayah ibunya pada bejibun kumpul bersama di meja makan… bukannya moo nyantap sambel goreng ati tetapi nonton Mang Kopi dadakan yang lagi atraksi manual brew pake V60.

“Tapi bener kok, prosesi seduhan ini perlu tahapan yang ajeg, regulasi jelas serta ketetapan hati plus teliti juga konsentrasi, baru hasilkan rasa abadi tentu dari biji kopi yang memang sudah teruji” Gituu khotbahnya dari Mang Kopi.. hahahahaha.

Semua hadirin terdiam sambil senyum-senyum sendiri, dengerin ceramah kopi yang bikin geli. Tapi yang pasti rasa kopi Arabica Pangalengan ini memang patut diadu… haruuumnya itu.. nggak bakal nyesel dech.

***

Srupuuut……. hmmmm…. yummmy!!!

“Bener bingit, nich kopi ajiiib. Harum, asemmnya seger plus pahitnya menenangkan”, komentar Adik ipar sambil trus nuangin lagi di gelas kaca mini….

Paket lengkap buku dan kopi BTH / dokpri.

Srupuuut, Mang Kopi juga buru-buru minum, takut keabisan… sedih atuh, Aku yang nyeduh cuman kebagian harumnya doang….

Ternyataa…..

Pemirsyaaahh…..

Acidity khas Java Preanger premiumnya dapet… nendang abis, medium high. Berpadu dengan taste fruitty beraneka berry dan selarik jeruk. Body medium cenderung bold, meninggalkan jejak agak lama di bawah lidah, bikin kangen nyeruput gelas selanjutnya.
Aroma jangan ditanya.. harum abiis.. segaar dan bikin terlena.

***

Sebagian perlengkapan prosesi kopi / dokpri.

Akhirnya tandas tanpa menunggu lama. Seduhan kedua dan ketigapun habis dinikmati bersama, sajian kopi Arabica Pangalengan Premium ‘Breaking The Habits’ menemani kebersamaan di hari raya.

Selamat Hari Raya Idul Adha
Berlatih Ikhlas serta berbagi dengan sesama
Jangan lupa Ngopi bersama.

Satu lagi, hatur nuhun kopinya Kang Agung Fatwa. Wassalam (AKW).