Nikmati Kopi Gayo di Juliet.

Menikmati Kopi Gayo di Kota Depok..

Photo : Aceh Gayo by Aeropress / dokpri.

DEPOK, akwnulis.com. Melangkahkan kaki di sepanjang jalan Margonda ditemani berisiknya suara mobil dan motor yang bergerombol dalam lautan kemacetan, terasa sebuah tekanan kehidupan yang musti dihadapi day by day.
Wajah-wajah lelah dibalik helm mereka, berbaur juga helm dan jaket hijau para pejuang ojol (ojeg online) mengantarkan penumpang menuju tujuan masing-masing.
Suara klakson dan bisingnya mesin menjadi musik harmoni keterpaksaan yang harus diterima dengan kepasrahan. Semoga semua sabar menjalani kehidupan.

Jalan kaki terus berlanjut, naik turun trotoar jalan Margonda yang terkadang terhalangi oleh gerobak dorong pedagang ataupun kumpulan motor pejuang ojol yang menunggu panggilan di aplikasi. Jadi berjalan di pinggir jalanpun harus hati-hati plus konsentrasi.

Photo : Ruangan Juliet Cafe / dokpri.

Tetiba di pinggir jalan sebuah bangunan putih terlihat terang benderang dan kayaknya ada sajian kopi yang mungkin saja bisa ikut mewarnai hari, khususnya malam ini di sebuah kota satelit ibukota, yakni Kota Depok meskipun hanya beredar di area terbatas jalan margonda.

Namanya Juliet cafe, masuk aja. Nuansa simpel dan elegan menyambut diri, tapi sudah tidak berfikir pilihan menu yang akan tersaji, fokusnya satu, pesen kopi.

Sesaat basa basi dengan pramusaji, akhirnya menjatuhkan pilihan pada sajian manual brew menggunakan aeropres bukan v60 (katanya sih memang nggak tersedia, ya sudah…. kita coba).

Pilihan bean kopinya pun simple, hanya ada gayo saja untuk manual brew tapi untuk menu kopi lainnya mereka menggunakan houseblended_coffee. Ya sudah gayo pake aeropress aja.

Kafe ini baru direnovasi setelah 2 tahun terbengkalai, dan mengusung tema baru beserta aneka fasilitas yang ada, termasuk tersedianya ruang meeting di lantai 3 yang juga bisa di sewa. Buat gathering dan juga meeting.

Disinipun tersedia pilihan untuk membeli bean kopi, tapi hanya terbatas di display saja…. harap maklum donk, ini khan buka kafe atau kedai kopi… jadi kopi bukan bagian yang utama….

“Ih aku mah pengen kopiiii”
“Berarti kamu salah masuk cafe”

Gitu diskusi dalam kepala, tapi akhirnya sepakat bahwa tak usah berdebat ah, udah nikmati aja. Sruput, rasakan, tulis, edit, postinglah pada dunia juga broadcast via WA.

“Khan WAnya lagi down?”
“Iya bener, tapi share link blog sih baik2 saja, lagian bukan ngirim hoax ini mah….”

***

Photo : Display kopi di cafe ini / dokpri.

Akhirnya sebuah sajian kopi hadir menghampiri, cangkir merah dan aeropressnya datang serta langsung mengambil posisi di meja. Gula dan sendok ditolak karena bertentangan dengan prinsip nikotala.

Currr…..

Srupuuut…

Overall lumayan bisa menikmati kopi tanpa gula. Tapi karena media seduhnya adalah aeropress maka sajian yang dihasilkan masih mengandung bubuk-bubuk kopi yang mengeruhkan. Kopi gayo yang tersaji lebih cenderung mirip biji robusta, less acidity and strong body, atau mungkin beannya hasil roasting dark roast atau juga air untuk menyeduhnya terlalu panas sehingga yang hadir lebih cenderung rasa bean hangus… ah sudahlah… sruput saja. Lagian khan bukan cafe spesialis black coffee juga.

Sruput lagiie… tandas.

Harga 21ribu bagi sajian ini, menjadi pantas karena bukan hanya kopi yang dihitung tapi suasana kafe yang perlu perawatan agar senantiasa bersih dan elegan.

Tadinya moo kepo nanyain romeo, khan ini cafe juliet… tapi ternyata asal kata namanya cafe ini nggak urusan sama romeo tetapi didasari dari nama Julianna, sang pemilik. Selamat menjalani malam ramadhan di Kota Depok guys, Wassalam (AKW).

Kopi berbulu.

Udah lama nggak bikin sajak, nulis aah.

DEPOK, akwnulis.com. Sajak dulu yaaa…..

***

Photo : coffee & cat / dokpri.

Pertemuan dengannya tidak disengaja
Tetapi itulah kejadian nyata
Semua terjadi apa adanya
Tanpa ada yang bisa menghalanginya

Plang merah sebagai penanda
Menarik raga untuk memasukinya
Ternyata aneka kopi menyambut dengan tangan terbuka
Bersiap dinikmati dengan berbagai cara

Terpilihlah kopi gayo arabica
Diseduh manual dengan filter setia
V60 memberi sensasi pasti
Aroma rasa dan keasaman nyaris sempurna

Disaat menunggu kedatangan kopi
Disitulah dirimu menanti
Lembutnya dirimu menggetarkan hati
Menyegarkan fikir setelah perjalanan tanpa henti

Sambil membaca aneka buku
Kamu tersenyum hilangkan kaku
Mencoba berbincang diantara kuku
Malam termangu menjadi haru

Para pembaca tidak usah mengharu biru
Ini hanya pertemuan terbaru
Sejumput raga diriku
Dengan seekor kucing berbulu

***

Wilujeng ngopay… eh jangan sekarang mah, ntar batal. Wassalam (AKW).

Bulao Bodas – fbs

Niat jeung tindakan nu ditungtungan ku hanjelu.

CIBOGO, akwnulis.com. Keur anteng nyuruput kopi, karasa mentegeg deui. Inget Si Kucrit, love bird bulao bodas nu geus teuing aya dimana, teu karasa panon beueus haté rakacak.

“Atos Akang, ulah diémutan waé, khan urang gaduh langkungna tilu juta” Sora jikan nu halimpu, beuki ngagejtrétkeun rumasa, ngagulidagkeun cimata, keuheul amarwatasuta. Ngan teu wasa.

“Bilih aya deui, love bird nu siga kamari, engké dibantos dipangicalkeun deui ku Mamah”

“Sumuhun Mah” waléran sopan bari unggeuk lalaunan. Padahal kakeuheul geus numpuk dina ubun-ubun, tapi tetep kudu sabar bin soléh.

Kabayang deui love bird bulao bodas, si Jawara kontés. Ditebak dina lélang tujuhlas juta, “Investasi ieu mah” kitu gerentes haté, bari ngajingjing mawa balik ka imah.

Ngan bisa kumaonam Jikan, diakukeun wé meunang meuli dua juta, bisi ngamuk. Téhaér can aya, ari manuk mahal dibeuli.

Ari pék téh….

Ayeuna tinggal carita, love bird ngilang, duit ngoléang. Raga nyangsaya dina tihang. Hanjakal. (AKW).

***

fbs : cerita fiksi singkat berbahasa sunda.

Arabica Wine DNA Coffee

H15 ramadhan, nyeduhnya Kopi Arabica Wine, yummy…..

Photo : Hasil seduhan Arabica wine DNA coffee / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Bersua dengan kolega lama yang juga penikmat kopi adalah kebahagiaan tersendiri. Apalagi mengusung prinsip Nikotala*), cucok sudah…. pembicaraan kesana kemari bercerita tentang suka duka masa lalu ditambah dongeng roasting-cupping-drinking weh hehehehe.

Tapi nggak bisa nyruput kopay karena siang hari masih bulan ramadhan.

Batal atuuuh…..

“Ini kopinya kang”…. sebungkus kopi dengan wadah plastik coklat dan ditempel label kertas bertuliskan DNA coffee dan roastingnya medium dan prosessingnya wine…. woaah arabica wine… tak terasa mulut membasah oleh liur yang tetiba hadir… geuleuh ih… yaa nggak ngeclak donk, ini khan cuman hiperbola…

“Duh jadi pengen mau cepet magrib, sok atuh adzan!”

Kawan lamaku Mang AT langsung tertawa, “Kamu mah sakaw kopay yach?”

“Hahahaha…. enggak!, cuman pengen bingitt”

Kami terbahak berdua, ternyata dengan tertawa mengurangi nafsu ingin ngopay lho, tapi setelah berhenti tertawa… eh pengen lagi ngopaay.

Keneh keneh kamu mah…

Akhirnya pembicaaraan berakhir karena ada meeting yang nggak bsa ditinggalkan. Kami berpisah setelah berbagi kisah, membahas kopi tanpa banyak basa basi dan tertinggal sebungkus arabica wine DNA Coffee yang akan segera dinikmati, nanti.

***

Rakaat akhir shalat witir hampir terganggu, di kala membaca salah satu surat juz Amma.. eh pikiran melayang ke Dangiang Nur Alam….
“Apa itu dangiang nur alam?”

“Ntar jawabannya yaa… solat dulu”

Photo : coffee wine siap dinikmati / dokpri.

….untung saja hanya sekilas… lalu kembali pegang kendali hingga ucap salam kanan dan kiri.

Dzikir pasca witir telah tuntas ditutup dengan doa niat shaum, setelah itu bergegas menuju ruang tengah, mempersiapkan prosesi yang sudah dinanti-nanti yaitu…. nyeduh kopi.

Oh iya.. jelasin yang tadi dulu, Dangiang nur alam itu adalah kepanjangan dari merk kopi, DNA coffee…. jadi bukan DNAnya deoxyribonucleid acid atau asam deoksiribonukleat, adalah sejenis biomolekul yang menyimpan dan menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme dan banyak jenis virus (id.m.wikipedia.org).

Ihh kok jadi kesitu,…. DNa itu adalah dangiang nur alam. Penjelasannya lebih afdol klo bisa jumpa dengan sang pencetus nama itu, tetapi dari searching via website, istilah danging lebih merujuk kepada kekuatan diluar manusia yang memberi pengaruh kuat (komara) dalam perjalanan hidup ini….. ah ntar aja ah, bisi salah pengertian.

Tapi yang menarik ternyata sejalan dengan cerita Mang AT yang tadi siang ngirimin kopi ini. Bahwa petani pembuat kopi ini dalam prosesnya tidak hanya melakukan hal teknis sesuai aturan main memproses kopi, tetapi juga disertai ritual sembahyang, sholat dan doa, memohon kepada Allah Swt agar kopi yang dihasilkan sesuai harapan, itu semua atas ijin Allah Swt, Tuhan Sang Maha Pencipta…. Amiiin.

Prosesss…. proseeees… sess

Metode manual brewnya tetep pake corong V60 dengan segala keterbatasan penulis. Perbandingan 1 : 12, suhu air 88° celcius dan putaran air seduhan mengikuti arah jarum jam disertai pikiran jernih dan sebait doa…. prosesi penyeduhan berjalan sempurna…..

currr…..

serpihan biji kopi arabica wine DNA coffee berekstraksi dengan sepenuh hati, mengeluarkan potensi rasa yang tersembunyi…. tak sabar menanti.

Setelah gelas server berisi cairan hangat memanas kopi ini, dituangkan perlahan ke gelas kaca mini kesayangan…. currrr.

Srupuuuut……. waaaaaw…. puleeen.. eh rasanya nendang dengan proses roastingnya, tetapi lembut menyentuh syaraf-syaraf lidah, enak dan terasa menenangkan.

Body dan acidity bersaing di kelas serius, asamnya maksimal dibalut pahit getir yang kokoh bertahan, serta after taste yang begitu betah ninggal diujung lidah, woaah…. kopi wine yang sejajar atau lebih baik dari gayo wine….. Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang bisa menyainginya.

“Kamu aja nggak gaul, padahal ujungberung khan deket, nongkrong di kedai aja, alamatnya di Jl. Walagri Mulya, RW.09, Pasanggrahan, Kec. Ujung Berung, Kota Bandung, Jawa Barat 40617”

Anggukan lemah menandakan persetujuan, tapi agak sulit untuk merealisasikan. Maklum istiqomah hehehehe.

Bicara after taste, variasinya lumayan, dominan rasa fruitty…eh jeruk lemon dan dark chocolate, plus selarik karamel dilingkupi oleh keasaman maksimal…. jeddd.. dank pokoknya. Seakan keasamannya menggigit bibir dengan rasanya. (Lebay nyaaa?…..)

Buat kelompok aliran bergula, mungkin kurang cocok menikmati kopi ini. Tetapi bagi penikmat kopi jalur nikotala*)… very recomended.

Srupuut….. hmmmmmm… nikmatt… Alhamdulillahirobbil alamin. Hatur nuhun Mang AT, Wassalam (AKW).

***

*)nikotala : nikmati kopi tanpa gula.

Kopi & Puasa.

Nyeduh kopi di bulan penuh berkah, butuh seni dan nilai tambah.

Photo : Menu berbuka puasa dengan yang manis / dokpri.

PADALARANG, akwnulis.com. Sebuah kebiasaan akan membentuk watak, rutinitas menghasilkan budaya jika dikerjakan oleh banyak orang. Begitupun kebiasaan – kebiasaan yang dianggap sederhana, akan menyisakan jejak tindakan di dalam otak tentang sebuah peta perilaku manusia.

Terkait kebiasaan ngopi…… eh minum kopi juga sama. Setelah setiap hari minum kopi #tanpagula serta diberi kemudahan oleh Allah untuk bisa menikmati aneka cita rasa kopi yang sangat bervariasi, maka bulan ramadhan inipun harus bisa mengendalikan habipi (hawa bikin kopi)….. maksudnya bikin kopi di waktu berpuasa yaitu dari adzan shubuh ke adzan magrib.

“Kok sampai di-warning gitu gan?”

“Harus ituu!!!” jawaban berapi-api karena memang pengalaman diri sendiri. Apalagi baik di kantor dan di rumah, peralatan seduh manual ready every time.

Di kantor lebih lengkap lagi, mulai dari grinder, pemanas air, timbangan digital, termometer, gelas server, corong v60, filter, gelas kaca mini, teko leher angsa dari kaca, dan tentu beraneka bean yang siap grinder. Trus nyeduhnya nggak kenal waktu, bisa pagi, siang dan sore… suka-suka aja… dan dipastikan tiap hari digunakan untuk menyeduh kopi atau berulang-ulang.

Di bulan shaum, singkirkan dulu aneka peralatan tersebut dan masukan di lemari, khawatir reflek buka bungkus bean yang ada lalu digiling pake grinder trus… seduuuh aja dan srupuuut.

Syukur klo lupa lagi shaum sampe tuntas sruput…. tapi klo baru giling bean trus inget lagi shaum… bete donk, apalagi ke adzan magrib masih lama…… kebayang khan?

Photo : Kopi dan cangkir nangkub / dokpri.

Nah klo di rumah sih… kesempatan menikmati kopi bisa dilakukan setelah berbuka shaum, jadi peralatan kopi yang ada tidak harus terpenjara di lemari, tetapi cukup di telungkupin aja cangkir sengnya di nampan bersama teko goose neck dan tentu kopi yang akan diseduhnya…. itu tandanya jangan digunakan sebelum waktunya.

Beberapa kopi sudah antri untuk di seduh, tetapi bulan ramadhan penuh berkah ini harus lebih disibukkan aktifitas ibadah di bandingkan prosesi kopi (baca pencitraan diri….), ditambah dengan gangguan intensif dari anak cantik sang buah hati yang senantiasa ikut sibuk jikalau bersiap nyeduh kopi pake v60 di malam hari.

Akhirnya….. sikap sabarlah yang menolong kita. Contohnya sabar menunggu anak tidur dulu, baru bangun trus nyeduh kopi…. eh ternyata ikutan ketiduran sampai waktu sahur, jam 04.00 wib…. mana sempet prosesi manual brew dengan waktu yang terbatas… ya sudah.. besok lagi… besok lagi…. dan nggak jadi.

Photo : Cafe Otutu Leuwigajah / dokpri.

Akhirnya sempet juga ngopi dengan mampir di cafe deket rumah, itupun sebentar saja, demi ngopi yang sudah menjadi kebutuhan eh keinginan sejati.

Selamat berpuasa kawan, yang suka ngopi yaa… nanti setelah adzan magrib baru bisa kongkow dan ngopi, atau ngajakin diriku untuk ngopi bareng, pastinya setelah shalat tarawih dan witir supaya tenang hati. Wassalam (AKW).

Kopi Tri Tangtu penghapus pilu.

Move on bersama arabica Tri Tangtu…

Photo : Salah satu patung di Hotel Borobudur Jakarta / dokpri.

JAKARTA. Akwnulis.com. Sebuah tanya mungkin menggantung di ujung cerita. Begitupun kehidupan, tidak akan berakhir dalam satu jalinan kata tetapi terus berubah dan berganti pasangan kata. Ada suka diselingi duka, ceria berkawan erat dengan cemberut, tertawa terbahak berpadu dengan lelehan air mata kesedihan serta pertemuan akan diakhiri dengan perpisahan… itulah hakikat kehidupan.

Setelah dua tulisan yang menyiratkan kedukaan, yaitu Kopi Tubruk kegalauan dan Lara di Pantura….. maka dalam tulisan ini berusaha move on dan mengumpulkan kembali serpihan semangat, merajut lagi keceriaan dan senyuman demi melanjutkan perjalanan kehidupan fana yang hanya sebentar saja.

Hakikatnya hidup hanya singgah sebentar, lalu bergerak kembali menuju tujuan kehidupan abadi yang sebenar-benarnya.

Jadi tidak usah terlalu terlarut dengan kesedihan, meskipun itu yang menguras rasa dan suasana tertekan. Memang menjadi berat karena harus berperan menjadi bagian dalam menentukan atau cukang lantaran (penyebab) berubahnya nasib seseorang secara drastis.

Photo : Kopi Arabica Tri Tangtu Pulosari / dokpri.

Padahal itulah yang terbaik baginya, untuk semua pihak sebagaimana sudah tercatat di lauh mahfuz… di atas langit sana.

Trus gimana caranya me-move on-kan diri dan kembali ke rel kehidupan yang selama ini dijalani?”

Pertanyaan yang cukup mendasar dan sulit dijawab, karena dengan semua peristiwa yang telah terjadi tentu ada hal akan berbeda dengan makna ‘suasana sediakala‘…. tetapi minimal menjadi sebuah ujian keseimbangan psikis untuk tetap bisa fokus meskipun realita tidak bersahabat dengan harapan dan keinginan.

Keyakinan tentang takdir Allah adalah jawaban yang paling hakiki atau fundamental, sementara secara teknical perlu mood booster agar ketenangan raga dan jiwa kembali stabil dan menempatkan logika pada dudukan rasionalnya melalui treatmen suasana dan sajian kopi arabica atau robusta.

“Deuh kopi lagi… nggak ada yang lain ini teh?”

“Kalem masbro… kopi itu banyak ragam banyak rasa dan banyak cerita, makanya jangan khawatir kehilangan makna, serta punya kemampuan untuk dikait-kaitkan dengan aneka peristiwa”

“Trus kopi apa yang sekarang akan dibawa-bawa dalam kisah kita?”

“Ini aja….” tangan kanan menggenggam bungkus kopi arabica Tri Tangtu Pulosari Village dan tangan kiri Kopi Arabica Tri Tangtu Bali Heaven.

Weleh weleh… seriusan geuning”

Sebuah senyum menjadi pembuka prosesi seduh manual v60 bagi kedua varietas kopi arabica ini. Dengan suhu 86° celcius dan perbandingan 200 ml air versus 15 gr kopi bubuk kasar-alus, maka tersajilah mood booster penyeimbang kehidupan dan penglipur lara dari duka yang baru saja terjadi, baru saja terlewati. Sebuah cerita takdir yang tak bisa dihindari.

Photo : ARabica Tri tangtu Bali Heaven / dokpri.

Arabica Pulosari Village menghadirkan acidity dan body medium berpadu dengan aroma khas kopi pangalengan varietas sigararuntang yang mengusung after taste fruitty, berry dan selarik aroma coklat.

Sementara untuk body dan acidity lebih strong bin bold maka arabica Bali Heaven menjadi pemenuh dahaga rasa tentang kepahitan dan keasaman sajian kopi dan betah ‘ninggal‘ di pangkal lidah memberi pengalaman berbeda meskipun mungkin untuk yang belum terbiasa akan sedikit meringis tanpa kata-kata.

Ternyata benar, menikmati dua sajian kopi arabica bisa kembali menstabilkan rasa dan memberi ketenangan di pikiran serta perlahan tapi pasti hadirkan rasa damai dalam menjalani hari-hari selanjutnya. Selamat menapaki hari dan menstabilkan rasa diri. Wassalam (AKW).

***

Lokasi ngopay :
Otutu coffee & Kitchen – Kerkof Leuwigajah Cimahi.

Kopi Arabica Sunda Hejo ‘Klasik Bean’

Kopi dalam balutan silaturahmi, kopi asli arabica klasik bean sunda hejo.

Photo : Sajian Kopi Sunda Hejo arabica / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Berkah silaturahmi itu salah satunya mendatangkan rejeki yang tidak disangka-sangka sama sekali. Begitupun dengan urusan menikmati kopi, tidak usah khawatir dengan stok yang sudah menipis, karena akan segera terganti.

Yakinlah itu.

Diawali dari sering mengganggu dengan share link tulisan blogku yang mayoritas berisi cerita tentang kopay (kopi) & ngojay (berenang) via japri kontak whatsapp kepada kolega, saudara dan teman-teman yang sudah ada di kontak smartphoneku… tentu semuanya sudah kenal duluan.

Tujuannya sangat sederhana, belajar memerangi hoax atau berita bohong/tidak jelas dengan membuat tulisan sendiri di blog dilengkapi photo hasil jepretan Smartphoneku.. sehingga hadir sebuah tulisan singkat dan ringan, …..mungkin nggak penting juga, tapi yang utama adalah…. diriku bisa bertanggungjawab atas apa yang di tulis dan dibagikan linknya kepada orang lain.

Gitu dulu yaach... oh satu lagi, rutin menulispun bisa menjaga otak tetap berfikir dan raga bergerak sehingga menghindarkan dari berbagai penyakit khususnya penyakit kepikunan lho.

Plus tulisan-tulisan ini bisa jadi warisan bagi anak cucu dan generasi selanjutnya.

Setuju khan?…. setuju aja, biar cepet.

***

Kembali ke hikmah silaturahmi tentang hadirnya rejeki, maka dalam pertulisan ini akan dibahas tulisan dengan tema ‘rejeki kopi’…....

Begini ceritanya… monggo… cekidot.

Photo : Kopi Arabica sunda hejo & prosesi V60 / dokpri.

** Rejeki Kopi **

Penulis mengenal beliau beberapa tahun lalu, sebagai pejabat di bidang audit dan pernah berinteraksi beberapa kali. Lalu sang waktu berlalu, tahun demi tahun berjalan tanpa menoleh ke belakang……. dan setahun terakhir berkomunikasi lagi karena memang nomor kontak WAnya masih tersimpan.

Komunikasinya bukan urusan dinas, tetapi mengomentari artikel di blogku yang dominan urusan kopi dan kopi dan kopi…. dan kopi.

“Kenapa sihh nulis kopi?”

Bentaar…..

“Emmmmm….. tema tentang kopi itu universal dan sangat luas, sehingga bisa dikaitkan dengan berbagai hal. Juga emang seneng kopi dan intensif sejak 2 tahun lalu”

Wadaw jawabannyaah….

Ternyata….. sekarang beliau sekarang mendapat amanah tugas di Kota Intan Garut, dan…….. yang cocok pisan adalah… sama-sama penyuka eh penikmat kopi.

“Mau nyoba kopi sunda hejo?, minta alamat lengkapnya”

Photo : Kiriman Kopi Sunda Hejo dan kawan-kawannya / dokpri.

Pesan via WA dari beliau, dijawab segera dengan memberi alamat lengkap…. ta-daaaa

Sehari kemudian sebuah dus besar JNE datang ke rumah dan diterima istri tercinta.

Awalnya bingung juga, tiba-tiba ada paket. Tetapi pas inget penawaran beliau, kayaknya kiriman kopi nich
.. Alhamdulillahirobbil alamin.

“Udah buka aja say, itu kiriman dari Pak bos,…. teman di Garut”

***

Malam hari baru tiba di rumah, dan setelah mandi serta tarawih… teringat untuk mencoba kopi kiriman beliau.

Melewati dus merah dan penasaran lihat isinya…. wadduh kok banyak banget ya?…

Kebayang nggak fren…. isi utamanya adalah sebungkus kopi arabica sunda hejo klasik bean, sebungkus kopi robusta dan sebotol kopi cold brew IPQ coffee... ditambah dengan beraneka makanan ringan oleh-oleh khas garut seperti kerupuk cungur, kripik bawang, dodol piknik original dan campur, dorokdok, kerupuk kulit, rangginang, roti bagelen plus baso aci instan….

Jadi prinsipnya adalah… kopinya ada, ditemani balad-baladnya banyak bingit…. bikin meriah.

Photo : Aneka kopi Klasik Bean Sunda hejo / dokpri.

Maka perjalanan di saat pengiriman, sang kopi tidak merasa kesepian, tetapi bersendagurau dengan kawan-kawan oleh-oleh keringan lainnya. Membawa kehangatan dan kebersamaan hingga tiba di tempat tujuan.

Alhamdulillah, hatur nuhun Pak Is atas kirimannya. Semoga kebaikan ini tergantikan dengan rejeki yang lebih banyak dan penuh berkah… serta suatu saat bisa kongkow bareng di Rumah Kopi Rancasalak 771 Kadungora Garut, bercengkerama sambil menikmati racikan manual brew di situ, Insyaalloh.

***

Prosesi yang pertama adalah manual brew pake V60 Arabica Sunda Hejo klasik bean semi wash dengan komposisi 1 : 15, menggunakan air panas bersuhu 90° celcius..

cuuurrr…. pelan tapi pasti.. menetes di tabung server.

Setelah tertampung semua, dituangkan ke gelas kaca mini merk duralex (gelas kesayangan… cuman itu yang dipunyai hehehehe).

Srupuut……

Uenaaak euy… rasa kopinya yang khas dan segar menyeruak di rongga mulut, seluruh lidah dan menyebar ke aneka arah sambil yang pasti meluncur ke lambung untuk berkumpul dan berproses.

Kopi arabica ini di roasting pada tanggal 30 april 2019 lalu… berarti 12 hari lalu, … pas banget tuh. Bisa munculkan rasa dan karakter kopi yang sebenarnya.

Aroma harum menyeruak indera penciumanku, acidity medium dengan rasa buah-buahan… berefek zegaar.. eh zegaaar… eh segaaar.

Body medium dan ada sedikit after taste ninggal di belakang lidah dengan menyisakan sejumput rasa lemon dan tamarind…. yang bikin asyik adalah rasa segarnya spesial sehingga tak perlu berlama-lama 200 ml yang tersajipun tandas di seruput tanpa syarat.

Yang robusta besok lagi ah nyeduhnya, sekarang udah hampir tengah malam….. udah ngantuk moo bobo dulu, bersiap menjalani puasa di esok hari.

Xie xie, merci beaucoup Pak Bos, Pak Is…

Mantabs kiriman kopinya, Haturnuhun, Wassalam (AKW).