Turbulensi Kopi.

Biarkan turun naik & naik turun yang penting sruput dulu.

Photo : Ngopay & Ngojay di Intercontinental / dokpri.

DAGO, akwnulis.com. Semilir angin pagi menyambut raga yang galau karena didera dengan bertubi tekanan luar dalam. Tahapan perjalanan rollercoaster mengemuka dalam minggu-minggu ini.

Siapa suruh keluar zona nyaman, dan tertarik dengan tantangan”

Sebuah pendapat terngiang ringan di telinga kanan, seakan menegaskan bahwa turbulensi rasa dan angin puting beliung kenyataan ini memberi berjuta makna.

Hidup itu tidak selamanya datar kawan, adakalanya menanjak dengan drastis lalu terjerembab karena tidak pas dikala memilih pijakan. Adapula yang sudah berulangkali terjerembab dan kembali bangkit untuk meraih cita-cita yang penuh tanda tanya.

Jadi, dikala diharuskan lakukan sesuatu dalam waktu yang terbatas, maka tidak banyak galau, tetapi segera bergerak. Ikuti ritmenya dan nikmati alunan ketidakrutinannya sehingga akhirnya terasa melodi turbulensi bisa membuat senyum dikala ramai dan terbahak manakala sepi.

Memang pasti ada jetlag karena sudah sangat jarang melakukan pendadakan, tapi ibarat bersepeda meskipun sudah lama jarang menaikinya, masih bisa menjalaninya… menikmati meskipun sedikit oleng ke kanan dan ke kiri.

Sebagai pelengkap menapaki turbulensi hati maka perlu ada penyeimbang yang mengembalikan kekisruhan otak dan nurani agar kembali damai seperti hari-hari yang telah terlewati.

Caranya sederhana, ingat tagline awal corat coretku ini yaitu ‘ngopay dan ngojay‘…. aktifitas yang berbeda tetapi ada kemiripan tulisan dan pelafalan….. yang artinya ‘minum kopi dan berenang’…..

Jadi dikala kesempatan itu datang, ambil secepat kilat dan biarkan suasana turbulensi musnah berganti kesegaran raga dan hilangkan dahaga. “Nggak percaya?… monggo di coba“.

Photo : Infinity pool at Intercontinental Hotel Dago Pakar / dokpri.

Sruput secangkir kopi double espresso sambil menikmati keindahan infinity pool yang dikelilingi kehijauan alami, memberikan ketenangan yang hakiki. Melepaskan dari kegalauan, dan mengembalikan percaya diri bahwa perjalanan ini memang betul terjadi.

Selamat bertasbih dengan untaian hari, jalani ketidakpastian dengan sepenuh arti dan biarkan semesta yang memetakan arah takdir hingga pada saatnya tentu akan hadir. Wassalam (AKW).

Makanan & Tulisan.

Makan sambil nulis atau nulis tentang makanan?..

CIMAHI, akwnulis.com. Ide menulis adalah berkah, karena belum tentu setiap orang mendapatkannya dan bisa menuangkan dalam jalinan kata yang saling bertaut hingga hasilkan suatu makna dalam kesederhanaan cerita.

Menulis memang identik dengan rangkaian kata, tetapi menulis tidak harus terjebak dengan jalinan kata panjang yang sulit terlaksana, 3 hingga 5 paragrafpun sudah bisa menjadi batasan minimal untuk menyampaikan gagasan atau sebuah cerita super singkat yang bisa di share ke teman-teman via media sosial atau mengisi kolom blog pribadi yang semangatnya ODOA (One Day One Article)…. hehehehe… idealnya di temenin dengan aktifitas ODOJ (One Day One Juz)… tapi ternyata beraaaat kawan… kecuali pas bulan ramadhan lalu.

Dalam beberapa minggu terakhir tepatnya sebulan lalu, penulis lagi gandrung dengan aplikasi pengolah-pengedit photo dan video dengan menambahkan caption kata-kata. Ternyata menyenangkan, meskipun cukup menyita waktu ‘menulisku‘…. yaa karena dilakukan diluar jam kerja yang biasanya dipakai untuk mengkotret cerita singkat, dan di upload-publish di blog ini.

Nah, yang menjadi objek utama dari sisi gambar, penulis lebih cenderung memilih gambar makanan sehari-hari yang cenderung makanan tradisional. Lalu ditambah dengan captionnya yang relatif nyambung dan informatif. Maka lahirlah berbagai gambar dihiasi kata-kata yang bisa dilihat hasilnya di IG akwnulis.

Pertama diwakili dengan hadirnya kumpulan rawit alias cengek dengan caption ‘Habis cengek terbitlah seuhah‘ dilanjutkan dengan makanan Cuanki ladha, menu maksi sederhana, sajian Lobster, jengkol, toge, sate, kupat tahu, mie kocok hingga pencok kacang panjang.

Ternyata, photo makanan tersebut bisa juga menggambarkan suasana hati lho guys. Seperti cuanki ladha dan mie kocok itu cocok banget mengubah mood sedih jadi kenyang…. (lha bukannya jadi senang?)… minimal kesedihan berkurang kalau perut kenyang hehehehe.

Goreng jengkol dan pencok kacang panjang plus sambel dadak adalah menu favorit penghabis nasi sebakul, inipun sama bisa menghilangkan kegalauan dan menghadirkan kekenyangan…. hahahaha… makan mulu sih yang dibahas.

Ya udah ah, serius dulu ah. Selamat menjalani hari senin pagi dengan hati berseri. Wassalam (AKW).

Senyum Singa.

Sebuah senyum yang berbeda….

Photo : Senyum singa / source : IG wildandwilder diedit.

DAGO, akwnulis.com. Hadirnya gigi diantara keramahan wajah menjadi prasyarat sebuah senyuman tanpa tekanan. Senyum ikhlas dan seimbang terlihat dari ikuran yang pas antara tarikan ke kanan dan tarikan ke kiri, juga batas atas batas bawah.

Gigipun hadir tidak harus terlihat semua, tetapi cukup menghadirkan jajaran gigi depan yang (mungkin) menawan.

Tetapi ternyata ada juga senyuman seimbang yang beraura menegangkan. Bukannya rasa senang yang didapat tetapi dedg degan nggak karuan pas melihat senyumannya.

Deretan giginya bersih dan lengkap, tetapi terlihat seperti siap menangkap. Begitupun sorot mata yang tajam, ternyata membuat hati ini terancam.

Nggak percaya?…. Silahkan lihat photo senyuman di awal tulisan ini, monggo

Mayoritas berpendapat setelah melihat gambar tersebut di IG akwnulisdan di FB selaras dengan pikiran penulis, senyum garang yang menegangkan hehehehe.

Pertama yang senyumnya dulu, siapakah?…. Singaaa. Yup jadi melihat senyuman tidak hanya bibirnya saja, tetapi siapa yang senyumnya, karena jika dihadapan kita seekor singa tersenyum menyeringai, itu bukan maksudnya menghormati kita tapi…. bersiap untuk menyantap menu makanan lezat yang hadir dihadapannya.

Kedua dimana dulu tempat seseorang eh seseekor itu tersenyum lepas. Karena senyuman di alam bebas dengan senyuman khusus yang diberikan kepada kita, memiliki arti yang berbeda.

Terakhir yang patut kita yakini adalah, sebuah senyuman yang kita hadirkan adalah sebuah senyum yang merupakan bagian dari ibadah sesuai tuntutan hadist, tentunya diberikan dengan tulus ikhlas.

Duka ari senyuman seekor singa mah, Waalohualam bissawab, Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

Ikuti tahapan & Typica puntang.

Jangan galau kawan, seduh saja dengan perlahan.

Photo : Ujian dulu cuy / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Tahapan demi tahapan mulai bergerak menjalankan fungsinya, mengoyak mental dan membebani pikiran tanpa bisa mengelak. Itulah sebuah pengalaman yang akan dikenang kelak.

Sakit perut atau tiba-tiba pusing terkadang menjadi penanda bahwa jiwa kita sedang dalam kondisi tidak biasa, atau muncul kekhawatiran yang tidak beralasan sehingga sulit mengkonsentrasikan akal dan pikiran. Itulah sebuah tahapan meraih asa yang lebih mapan.

Padahal jikalau merunut ke masa silam, suasana ekstrim penuh pendadakan memang tidak mengenakkan, tetapi sekaligus menjadi hiburan.. jadi kenapa mesti galau kawan?…

Jalani saja fragmen permainan kehidupan kali ini, nikmati tiap tahap permainannya… insyaalloh akhirnya kelar juga dan terbebas dari beban pikiran.

Tapi….. ternyata kegalauan masih setia menguntit raga menggelitiki jiwa yang sudah terforsir mengikuti ritme percepatan permainan tingkat tinggi ini, ada rasa lelah mendera dan menggerogoti kemapanan rasa, tapi itulah indahnya menjalani suasana berbeda.

Photo : Persiapan Ngopay / dokpri.

Kegalauan masih me-nangkod (menggelayut) di samping kanan raga dan itu harus segera diobati dengan cara seksama dan waktu yang sesingkat-singkatnya. Tanpa basa basi peralatan anti galau digelar…. jeng jreeeeng.

Filter V60, corong V60, gelas ukur, server, grinder, sendok plastik, timbangan, termometer daaaan……. beannya adalah Sunda Typica Puntang Coffee.

Grinder kasar langsung mengharumkan suasana, 40gr beannya berubah menjadi bubuk kasar siap seduh. Proses brewing dipercepat dengan tetap panas airnya 90 derajat, diharapkan mendapatkan hasil yang tepat.

Currrr…. keclak.. keclaak.. keclak... wah baru ikutin tahapan proses aja udah mulai tenang nih perasaan. Alhamdulillah.

Setelah cairan hitam penenang rasa hadir di server kaca, tak pake lama langsung tuang di gelas kaca dan sruput panas – panas itu sensasinya ruaaar biasa.

Photo : Sruput guys / dokpri

Galau sirna berganti bahagia, rasa kopinya yang medium baik body juga acidity tetep bikin hepi. Sedikit ada acidity yang ninggal di bawah lidah dilengkapi after taste fruitty, tamarind dan citrun meskipun selarik tapi menarik.

Tahapan permainan sesaat terlupakan, berganti kenikmatan menyeruput si kopi hitam. Biarkan esok masih ada tantangan untuk meyakinkan pihak yang berkepentingan, tapi minimal hari ini semuanya bisa dengan lancar dilewatkan.

Selamat ngopay kawan, galau akhirnya musnah, berganti menikmati sajian yang bikin hati cerah dan pantang susah…. Terserah. Wassalam (AKW).

Biru di Hilton

Akhirnya bisa lihat lagi…

Photo : Swimming Pool Hotel Hilton Bandung / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi cerah mengharu biru, mengantarkan raga menuju kawah candradimuka. Biarpun baru pada tahap pendakian pertama tetapi ternyata segumpal khawatir hadir menemani ketidaktahuan.

Itulah kehidupan, perjalanan menuju sebuah titik yang sudah ditentukan seyogyanya adalah memulai titik baru perjalanan yang nantinya perlu pendalaman, percepatan dan tentu saudaraan.

Nah daripada kegalauan malah datang mendera tanpa belas rasa, lebih baik bercerita tentang sebuah suasana damai yang ada di lantai 6 hotel ternama.

Kehadiran disini memang bukan untuk bercengkerama dengan kesegaran air bening penuh suka, tetapi menghadiri meeting perdana yang dilaksanakan di hotel semenjak merebaknya pandemi corona.

Berbagai protokol kesehatan diberlakukan dari semenjak masuk area hotel hingga ruangan meeting yang sulit melakukan bisik-bisik karena posisi duduknya masing-masing berjarak 1,5 meter, padahal banyak rahasia kehidupan yang ingin di curhatkan heuheuheu.

Handsanitizer juga disediakan masing-masing satu botol kecil begitupun di pintu masuk ada juga hand sanitizer untuk umum plus tissu dan bunga, pengen liat photo dan tulisannya klik DISINI.

Dilantai 6 lah kedamaian terasa, semilir angin bercengkerama dengan gemericik sendu air kolam renang memberi sensasi keindahan yang sulit untuk dilukiskan. Andaikan tidak ada batas policeline… eh covidline kali yaa… karena bentuknya hanya seutas maka sudah dipastikan meloncat dan byuuur….. bergabung dan bercengkerama dengan kesegaran tiada tara sambil menghirup oksigen dengan bebas….. segaaarnyaaah.

Terima kasih Ya Allah atas kemudahan bernafas, kebebasan menghirup oksigen sepuasnya dan tentunya kenikmatan semuanya tiada hingga dalam menjalani kehidupan fana ini.

Selamat tinggal kolam renang lantai 6, raga ini harus kembali ke tempat meeting dilantai 3. Selamat menjalani hari ini kawan. Wassalam (AKW).

Deadline

Mari kita jalani…

Photo : Deadline / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Detik dan menit seakan berlomba beradu kecepatan, membawa suasana yang tenang menjadi sedikit tegang. Seiring gerakan waktu berlalu, sejalan dengan detak jantung yang berdetak tidak menentu.

Segala upaya dikerahkan dalam perlombaan abadi ini, meskipun mungkin ritmenya yang tak selalu memaksa berlari. Sesekali bisa menghela nafas tapi sisanya adalah pendakian perasaan yang menyesakkan penuh dengan perjuangan.

Memang ini situasi tidak bisa, tetapi ingatlah bahwa kehidupan ini tidak selamanya biasa. Ada saatnya bergerak cepat meraih asa dan ada waktunya sedikit melambat dan mengambil posisi santuy… semua ada saatnya.

Sekarang menit dan detik begitu aktif menggelitiki nasib, memberi senyuman monyong sedikit supaya tidak terlalu tertekan dengan keadaan. Lumayan menguras rasa dan membebani badan tambun yang bersahaja.

Tapi ingat kawan, ini semua bukan beban, tapi tantangan untuk kita bisa berkarya lebih terdepan. Biarkan menit dan detik berkejaran dalam batas waktu berbingkai batasan, karena sebenarnya adalah bagaimana kita menyikapinya, menghadapinya, mensyukurinya dan tentu menjalaninya….. ikuti saja permainannya dan ikhlas menjalani tahapan yang mengharu biru.

Eh ternyata sang menit dan detik terus berpacu menuju batasan awal kenyataan, mau tidak mau mari ikuti ritmenya, gerakan tangan dan kakimu sehingga melarut dengan nada dasar kehidupan.

Jangan khawatir dengan batasan, karena setelah tiba pada batas yang ditentukan, sejatinya kita bersiap dengan tarian detik dan menit untuk tahapan harapan selanjutnya. Selamat berpacu kawan, Wassalam (AKW).

Rindu bersandar.

Mencari sandaran & pegangan….

Photo : Lagi mikir / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sejumput rindu bersandar dan bersenandung di bahu, memberikan kedamaian meskipun nirharapan. Itulah salah satu fragmen kehidupan.

Mengapa kamu perlu bersandar di bahu seseorang sebelum bersenandung?, padahal bahumupun lebar tak kurang suatu apapun

Sebuah tanya yang dijawab dengan senyuman, dilengkapi dua kedip mata kanan yang bisa menyelesaikan semua permasalahan.

Bukan bahunya sebetulnya yang diperlukan, tetapi sebuah simbol kerapuhan yang harus dipertontonkan sehingga pilihan terakhir adalah bersandar pada bahu seseorang, yang ternyata sebenarnya lebih rapuh dari yang bersandàr.

Yang bikin keren adalah, keduanya tidak menyadari itu. Sehingga dapat ditarik garis merah persoalan bahwa kerapuhan bisa disandari kerapuhan yang lain asalkan masing-masing tidak paham dengan kenyataan.

Jadi sebuah istilah ‘Ketidaktahuan adalah berkah’ memang sedang berjalan disini.

Kesimpulan lainnya adalah, manakala sebuah kerapuhan bersua dengan kerapuhan lain maka mungkin saja terjadi simbiosis mutualisme yang berakhir dengan semangat saling menguatkan dan berusaha bangkit kembali dalam keterpurukan ini…. ataau saling merapuhkan dan akhirnya luruh menjadi puing-puing ketiadaan.

Photo : Awas jatuh, ayo pegangan / dokpri.

Itulah kehidupan, banyak makna yang mendalam dari seluruh kejadian. Semua kejadian dan kenyataan tidak ada yang terjadi begitu saja, tetapi skenarios super rumit tersebut sudah disiapkan jauh jauh hari oleh Allah Sang Maha Pencipta langit dan bumi beserta isinya.

Mari berjuang bersama dan memberi sandaran kepada yang sedang merana, meskipun kita sebenarnya sedang butuh sandaran juga.

Selamat weekend kawan, jangan lupa memberi sesaat kesempatan untuk seseorang yang perlu sandaran, meskipun sebenarnya kitapun perlu dukungan. Dengan begitu semoga jiwa kita tetap tegar dan fokus dengan segala beban dan tantangan. Wassalam (AKW).

Air mata

Hapuslah dengan senyuman…

BANDUNG, akwnulis.com. Uraian kalimat yang disampaikan begitu panjang dan tanpa jeda, meskipun dari sisi nada terkadang melemah menahan duka dan beban yang dirasa.

Akhirnya ada juga masa dimana kalimat dan kata terhenti karena mulut tercekat oleh perasaan dan menahan diri agar air mata tidak tumpah di hadapan khalayak warga.

Jikalau hanya berdua, mungkin lelehan airmata adalah salah satu cara membersihkan penglihatan dan mengurangi beban stok air mata yang tersimpan diantara kulit dan tulang kenyataan. Tetapi dihadapan banyak orang, air mata tertumpah malah menghadirkan ketidakberdayaan dan bukan dukungan yang datang tetapi tatapan sinis dan dianggap lemah mental…. mungkinn…

Bisa saja ada satu dua pihak yang merengkuh luruh untuk membantu saudaranya yang sedang jatuh. Membantu kembali berdiri tegak dengan sokongan ikhlas yang penuh pengertian.

Sebuah kata yang menjadi utama adalah sikap kita menghadapi dilema. Tahanlah airmata tertumpah dihadapan banyak manusia, simpan untuk nanti dikala bersimpuh di malam hari, sambil bernunajat kepada Robbul Izzati.

Kesedihan bukan akhir dari segalanya, karena kesedihan adalah pelengkap dari kebahagiaan yang setia mendampinginya. Berbahagialah kita yang masih bisa merasakan sedih, karena dengan merasakan sedih kita akan tahu betapa bahagianya merasakan bahagia.

Seiring uraian kata selanjutnya, ketegaran mulai terasa. Menampilkan secercah harapan diantara puing asa yang tertunda. Biarkan kesedihan itu ada, tetapi semangat bangkit kembali adalah yang paling utama.

Sebuah pantun semoga bisa mewakili keadaannya :

Berhimpun di meja menyantap ikan,
Langsung berkeringat berebut suapan’

‘Biarpun kenyataan masih menyedihkan,
Tapi semua tetap semangat untuk perbaikan’

Selamat beraktifitas di jumat sore ini kawan, Wassalam (AKW).

Waspada yuk.

Harus itu, penting sekali.

Photo : Handsanitizer dan bunga / IG akwnulis

BANDUNG, akwnulis.com. Media sosial semakin booming pasca pandemi covid-19 melanda negeri. Kaum rebahan yang sebelumnya dicap golongan pemalas unfaedah menjadi bertambah banyak meningkat signifikan karena diperintahkan negara dengan slogan singkat #stayathome juga #workfromhome.

Kenapa booming?.. karena medsos menjadi tempat berinteraksi baru, bersilaturahmi sekaligus menginformasikan aktifitas diri kepada khalayak banyak

Tiga bulan telah berlalu, ternyata mencoba menjadi kaum rebahan itu tidak mudah, rasa bosan melanda, tertekan karena ingin melihat dunia luar, sementara belum ada kepastian bahwa vaksin buat sang virus hadir segera di hadapan kita.

Nah, sekarang muncul istilah new normal juga adaptasi kebiasaan baru (AKB) yang mulai melonggarkan pergerakan dengan pola terbatas dan protokol kesehatan yang ketat, tentu disambut antusias oleh masyarakat dan semua pihak untuk kembali beraktifitas.

Tapii…. protokol kesehatan menjadi mutlak diperlukan.

Kenyataannya ternyata belum semua paham, baik kaum rebahan dan non kaum rebahan. Mayoritas adalah anggapan sepele dan kembali beraktifitas biasa… sehingga kasus-kasus baru bermunculan dari momentum kerumunan salah satunya yang pasti tak bisa dihindarkan adalah pasar.

Maafkan jika pilihannya dengan istilah kaum rebahan dan rebahan, karena mungkin juga ada yang variatif antara seneng rebahan tapi sibuk beredar, jangan risau kawan, ini hanya istilah saja.

Jadi jikalau harus berinteraksi dengan kerumunan, pastikan kita siap dengan peralatan perang. Minimal menggunakan masker, bersarung tangan dan menjaga jarak dengan orang lain, gunakan handsanitizer dan mencuci tangan…. minimmmmal itu teh. Klo bicara maksimal… usahakan jangan berinteraksi dengan kerumunan….. tapi khan kita banyak kebutuhan yang perlu interaksi.

Ibu-ibu mayoritas berkomentar terkait belanja di pasar adalah, “Tapi da aku mah nggak bisa onlen, paling ke warung tetangga atau nyegat mang sayur yang lewat”

Photo : Ruang rapat jaga jarak / dokpri.

Maka kembali ke rumus tadi, gunakan masker dan sarung tangan serta jaga jarak. Senantiasa mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap selesai berinterkasi dengan orang lain.

Begitupun jikalau harus meeting secara phisik, pastikan bahwa protokol kesehatan sudah diterapkan. Penyediaan handsanitizer bukan lagi hiasan, tetapi suatu kewajiban yang harus kita gunakan. Kursi meja berjarak minimal 1 meter harus didesain sedemikian rupa dan penggunaan masker sudah pasti, itu mutlak bin harus kawan.

Jangan sampai ketidakwaspadaan kita menjadi celah bagi sang virus covid-19 ini merajalela. Selamat beraktifitas kawan, Wassalam (AKW).

Catatan : akwnulis juga ada di IG, kepoin aja IG : akwnulis.

290515ku.

Tak perlu kata tetapi tindakan nyata.

CIMAHI, akwnulis.com. Waktu 5 tahun memang baru seumur jagung dalam perjalanan kehidupan membangun sebuah tali cinta kasih pernikahan, tetapi inilah fase pertama yang fundamental dalam membangun mahligai kebersamaan dalam kehidupan dunia akherat.

Insyaalloh dengan fondasi kuat maka perjalanan selanjutnya tidak akan terasa berat tapi akan semakin erat dan melengkapi kekurangan dengan penuh semangat.

Tiada kata seindah doa, dan tiada kalimah semenarik amanah. Maka biarkanlah bunga mawar dan bunga kapas ditemani baby breathe dan canvas mini mewakili segunung rasa syukur dan terbentang kasih sayang abadi sepanjang masa.

290520, Wassalam (AKW)