Pantun di Tanah Lancang Kuning

Pantun ‘terpaksa’ demi menyesuaikan budaya bahasa di Tanah Lancang Kuning penuh asa.

Pekanbaru, akwnulis.com. Di tanah Lancang Kuning hampir setiap momen selalu bersua pantun, deretan kata berima sejukkan rasa. Mulai dari pesawat Citilink, sebelum makan siang, hingga pelaksanaan rapat kunjungan kedinasan, semuanya berpantun dulu.

Maka sebuah tantangan berbuah tulisan, pantun sederhana yang terbit dengan tergesa. Semoga masih bisa menambah catatan dalam perjalanan dunia, cekidot :

Timun merambat berbenang labu
Beralih rupa menjadi nasi
Selamat siang bapak dan ibu
Salam jumpa dalam kunker Silaturahmi

Ikan baung membawa surat
Naik ke darat dicampur tomat
Kami datang dari Bandung Jawa Barat
Mengirim hormat salam sahabat

Bolu kemojo enak rasanya
Di pasar bawah lengkap semuanya
Terima kasih atas penerimaannya
Kami tunggu kunjungan balasannya

Kue talam dibungkus lagi
Ikan salai berbumbu cinta
Sekali lagi terima kasih
Atas keramahan dan kehangatannya

Kain batik bermotif bunga
Digelar di Taj Mahalnya indonesia
Kami pamit dengan bahagia
Ditunggu yaa kunjungan balasannya (AKW).

Ruang Seduh – Jkt

Kemacetan di Jalan Kemang Raya Jakarta bukan menjadi masalah karena memang tidak setiap saat melewati jalan ini.

“Ih kamu mah egois, coba emphati dong dengan kami yang menjadi rutinitas lewat jalan ini!!!”

“Ups maaf kawan, tiada maksud begitu. Tapi aku mah apa atuh, bisa ke Jakarta aja paling 3 bulan sekali. Maaf yaa”

Kami bersalaman virtual dengan suara tanpa wujud. Nggak pake lama, kami berteman tanpa ikatan. Meski kemacetan tetap menghadang, tapi minimal rasa lelah antri agak teralihkan.

***

Jadi yang lamanya di Jalan Kemang Raya, hampir 1 jam hingga tiba di tempat tujuan.

“Kamu mau kemana sih?”

Bukan jawaban suara yang keluar, tetapi bahasa tubuh menunjuk ke arah kanan jalan. Jajaran toko dan salah satu tokonya menjadi tujuan utama.

‘Ruang Seduh’ tertulis sebuah nama yang unik. Itulah tujuan malam ini. Berdasarkan info dari IG, tempat ini ada 2 lokasi. Yang satu di Yogyakarta dan satu lagi disini, di Jakarta.

Sebuah tempat menikmati kopi yang disuka para millenial untuk berjumpa, bercengkerama, bekerja ataupun menyendiri menikmati seduhan kopi sambil membaca bermacam buku-buku yang tersaji cantik di rak-rak minimalis yang ditata dengan tema penuh kehangatan.

***

“V60 Kopi Aceh Wonderkid dan Croisant Coklatnya!”

“Oke bang”

Dialog singkat yang menjadi momen penyamputan di kafe ‘Ruang Seduh’. Pelayannya anak muda, wajah datar tanpa senyum.

“Kok nggak sehangat penyambutan seperti beberapa review di IG-nya??” Pertanyaan kecil menggelitik hati, tapi kembali didebat, “Mungkin mereka sudah cape atau memang begitu sama orang yang pertama datang. Atau memang harapanku yang terlalu tinggi disaat membaca IG-nya, ah sudahlah”

Setelah duduk di tempat kosong, memandang sekeliling. Tempat yang menyenangkan untuk bercengkerama menikmati sajian kudapan dan kopi. Sambil kongkow dengan temen-temen. Juga bisa sekaligus bekerja karena konsep mini co-working space tersaji disini. Colokan listrik berhamburan diberbagai tempat, memanjakan golongan Facok ‘fakir colokan’, jadi jangan khawatir lowbatt kawan-kawan.

Photo : V60 Aceh Wonderkid + Croisant / dokpri

Trus di kanan terdapat beraneka buku-buku yang bisa dibaca sambil santai, duduk di bangku-bangku yang berbentuk kubus atau kursi meja yang ditata variatif, ditambah juga pilihan sajian gelato yang bisa diorder terpisah, masih di dalam kafe ‘Ruang Seduh’ ini.

***

Over all, kafe ini enak buat kongkow atau juga untuk menyendiri. Tentunya ditemani secangkir kopi pilihan diri yang bisa diorder berulangkali, tapi jangan lupa membayar lagi hehehehehe.

Alhamdulillah, rasa lelah dan kesal menembus kemacetan dari Jakarta Utara hingga ke daerah Kemang terbayar sudah. Keluarin buku bacaan andalan, juga kabel charger smartphone sambil menkmati harumnya kopi dalam suasana cozy.

Udah ah gitu dulu yach. Sruput. GoodBye. (AKW).

Sendiri & Kopi Wine

Mencoba menyendiri agar menyerap diksi dan aksi dalam warnai kehidupan hakiki.

Terdiam memandang meja coklat yang seakan menyeringai, mencemooh kesendirian ini. Tidak mengusik semedi cantik di siang bolong yang cukup terik.

“Bukan tak ingin bercengkerama denganmu sang meja, tapi kesendirian ini pun penuh makna” sebuah ungkapan pembenaran yang memang apa adanya. Meja coklat tersenyum simpul.

Beberapa menit kemudian, kesendirian ini terusik oleh hadirnya senampan harapan yang berisi.gelas kaca beserta bejana yang berisi cairan hitam nan harum. Sesaat terpaku oleh sihir natural yang datang tak diundang. Mematung meski otak tetap waras, mata menyipit mencoba membaca mantera yang tertera di secarik kertas coklat lusuh, “Kintamani Wine!!!”

Aku tidak sendirian.

Sebelum cairan hitam nan harum ini berubah wujud, maka secepat kilat sekuat guntur, segera menuangkan ke gelas kaca. Angkat gelas senyuman kopi Wine mengubah kesendirian menjadi kehangatan dan jalinan persehabatan.

Masalah rasa jangan ditanya, Kintamani Wine dengan manual brew V60 memberi sensasi tersendiri. Aroma, body dan aciditynya memiliki citra kuat dan penuh kesegaran.

Sekali lagi aku tidak sendirian.

Banyak kawan-kawan Kintamani Wine yang juga bersedia menemani, tapi apa daya sang waktu dan kekuatan perut juga yang membatasi perjumpaan ini.

Dengan berat hati, kesendirian ini disudahi. Kembali bergabung dengan kumpulan para pencari jatidiri yang terus berdiskusi meskipun hari sudah tidak pagi lagi. (AKW).

***

Catatan : Lokasi Genesis Cafe, Jalan Raya Lembang No.70 Gudang Kahuripan – Bandung Barat (Sebrang RM Pengkolan).

Army Look

Sempatkanlah dan bergaya.

Kesempatan itu tidak datang dua kali, sebuah peribahasa yang sudah mendunia. Meskipun memang kesempatan itu baru satu unsur saja, karena tanpa unsur lainnya maka akan percuma dan semua berlalu seperti biasa bagaikan pasir di gurun yang berubah seiring angin mengendalikan arah.

Jadi kesempatan adalah momen berharga yang muncul pada waktu-waktu tertentu saja, dimana jika digunakan dengan tepat akan menghasilkan sebuah pencapaian yang luar biasa. Pengertian luar biasa ini relatif, tergantung siapa dan apa parameter penilaiannya.

Meskipun mungkin tidak memiliki nilai bagi yang lain, lagi-lagi sang nilai itu adalah relatif. Kepuasan batin sulit diukur dengan angka, tetapi mudah terbaca dari seulas senyuman jujur ataupun seringai kepuasan yang melepaskan hasrat liar dalam tubuh.

Akhirnya dengan berbekal gaya ‘Army Look Maksa’ maka kehadiran diri semakin nambah percaya diri, apalagi kacamata hitam punya istri tercinta makin bikin gaya hambur kelas lembur makin bertabur subur. Berkeliling di stand-stand pameran dalam rangka Hari Ulang Tahun TNI Ke-73 dan akhirnya kembali berjumpa dengan senjata idola, SPR 2 produk PT Pindad. Sebelumnya di area Monumen Nasional Jakarta pernah bersua.

Terasa bangga bisa memanggulnya eh menentengnya, meskipun ini adalah senjata mematikan tetapi memiliki keunikan tersendiri karena sangat terbatas orang yang bisa menggunakannya. Dengan spesifikasi daya jangkau efektif 2000 meter, serta varian peluru yang spesial hingga minibom yang bisa menembus baja lalu meledak sendiri.. wow ngeri tapi bangga.

Berat 20 kg terasa begitu membebani otot ini, gimana klo pajurit yang jadi penembak runduk berarti staminanya harus luar biasa.

Lumayan buat olahraga.

Yang pasti, meskipun yang dipegang adalah senjata, giliran gaya tetep pegang gitarnya versi Rhoma Irama, jeng jreng…

Wassalam (AKW).

****

Catatan :

SPR : Senjata Penembak Runduk

Kolam Renang Park Regis Arion Kemang

Review iseng Kolam Renang Hotel

Photo : Malam menelang di kolam renang / dokpri

Tadinya udah semangat mau berenang, memanjakan diri bercengkerama dengan segarnya air di kolam renang. Meskipun kejernihannya didukung penuh oleh kaporit tetapi tetap saja memanjakan mata dan menenangkan hati.

Padahal berenangnya pun belum fasih dengan aneka gaya, baru bisa meluncur lalu gerakkan tangan dan kaki hingga tubuh bisa bergerak ke depan secara perlahan tapi pasti.

Jam 21.09 baru bisa masuk kamar di lantai 3, simpan tas dan buka sepatu. Giliran buka tas, ternyata celana renang nggak dibawa, kecewa.

Eh nggak juga, memang nggak niat berenang juga kok. Ini sih klo kebetulan ada kolam, ya nyebur deh. Tapi survey itu penting, minimal jadi referensi jikalau next time nginep lagi di hotel ini.

Nggak pake lama, segera keluar kamar, masuk lift dan menuju lantai 7 dimana kolam renang berada, info dari petugas hotel.

Bener saja, keluar pintu lift di lantai 7 langsung ada petunjuk ke kolam renang, ruang fitnes dan Spa. Tapi sepi nggak ada orang, mungkin petugasnya lagi ke toilet.

Photo : Kolam renang lantai 7 / dokpri

Langsung menuju pintu akses ke kolam renang dan akhirnya bisa menikmati suasana damai sambil terdiam di pinggir kolam. Bentuknya standar persegi dengan kedalaman 1,5 meter. Panjang sekitar 20 meter dan lebar 7 meter (ahay kira-kira, maklum nggak bawa penggaris bro).

Sambil berkeliling di area kolam renang, menikmati sedikit pemandangan Jalan Kemang Raya dari lantai 7. Semilir angin malam menyapa jiwa melewati gazebo kayu di ujung kanan, 1 set meja kursi serta terdapat 4 kursi santai yang bisa digunakan pasca berenang ataupun untuk rilex sesaat sambil menikmati hidangan yang dipesan.

Tapi, niat berenangnya urung terjadi karena malam mulai larut juga kebetulan malem jumat. Jadi segera diputuskan kembali ke kamar di Hotel Park Regis Arion untuk beristirahat menyongsong esok yang penuh harap (AKW).

Move On RBI

Pengen curhat biar cepet move on…

Photo : The Grey Millenial

Jakarta. Disaat kawan lain Peserta RLAXIV di Kabupaten/Kota ikut bangga melihat kami sudah bersua dengan mentor sekaligus bos dan diposting di medsos bos, disitu ada rasa nyesek membara karena momen yang ditampilkan itu adalah dokumentasi patah hati, konsep ideal yang dicoba dikerjakan disela kesibukan masing-masing seakan musnah berganti kegalauan…. dan itu kenyataan yang musti dihadapi.

‘Gudang Gandeng’ sudah menjadi konsumsi publik via medsos bos dan mungkin menjadi viral, sementara untuk itu, aku ikut bangga.

Tetapi tataran implementasinya harus dibangun kembali dari puing-puing keriuhan tadi pagi. Kembali menyusun puzzle dan mengubah mindset serta pandangan agar lupakan objek tempat awal dan menuju tempat sesuai arahan bos meskipun konsep idealis menjadi menjauh dan meringis, sadis.

***

Perencanaan harus dibuat day by day, karena sebelum 1 November adalah batas dari RBI harus tuntas. Maka :

1. Jangka pendek adalah manajemen even di Area GOR Saparua dengan tema anak muda, extreme sport, kuliner & leasure. Terdapat 5 poin yang harus kita cermati bersama :
a. Tempat dipinjemin ke Tim kang Eben by even;
b. Kebersihan dan keamanan disupport pemprov;
c. Perijinan even disupport pemprov;
d. Subsidi anggaran untuk even;
e. Manfaatkan sarana pemprov u branding even seperti di Medsos pemerintah, media luar ruang punya pemprov hingga bilboard di Bandara.

Berarti harus segera diputuskan segera dan bagaimana, karena pihak Kang Eben sudah siap bantu.

Termasuk pertanyaan terkait, “Apakah bisa, skateboard fasilitasnya dibangun di sudut kiri utara serta alihkan peralatan yang berada di area Taman Jomblo?”… belum berani jawab.

Konsep Kang Eben cs adalah mengembalikan peran saparua di barudak bandung (de javu) sebagai pusat kumpul para generasi millenial dan juga grey generation (generasi rambut abu2/huisan yang berjiwa muda… seperti peserta RLA XIV dari pemprov Jabar) dalam satu even yang akrab kekeluargaan tapi menghasilkan nilai kreatifitas, kebersamaan serta nilai ekonomis realistis.

2. Jangka menengah adalah rekomendasi Untuk mewujudkan ‘Gudang Gandeng’ di 7 titik Kab/kota di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data dari Bu Novi-BPKAD.

Pertanyaan mendasarnya adalah :
a. Bagaimana skema kerjasamanya? BOT, BTO, Sewa dan sebagainya;
b. Berapa lama masa kerjasamanya? Ini berhubungan dengan hitung-hitungan terhadap revenue;
c. Bagaimana tata hubungan selama kerjasama sehingga tidak muncul intervensi buta dari pemerintah?
d. Apakah harus serempak dilakukan atau bisa bertahap di 7 titik?

Diskusi masih berlanjut guys, tetapi yang pasti ada 1 nilai dari bu novi yang bisa diamini serta disepakati yaitu : Aset Pemprov diharapkan tetap terpelihara, terjaga dan termanfaatkan terutama bagi masyarakat sekitar serta pemprov jabar. Konsep ‘Gudang Gandeng’ ini kembali terasa menggaung, sebuah area yang lengkap, baik outdoor ataupun indoor dengan fungsi sebagai inkubator, co-working space makerspace dan creative space, yang menyisir generasi millenial dengan kelebihannya berupa connected, confident dan creativity.

3. Jangka panjang adalah merawat keberlanjutan ‘Gudang Gandeng’ di semua titik di kab/kota di Provinsi Jawa Barat dengan ragam dan cara pengelolaan sesuai dengan karakteristik daerah dan dikelola oleh OPD terkait sesuai tupoksi OPD masing-masing.

Udah dulu ah, sekarang sudah mulai #moveOn meskipun air mata masih menetes melewati pipi yang penuh harapan dan akhirnya harus disimpan dalam benak terdalam dengan filling data berkode ‘Pahlawan70’… Merdekaaa!!!!

Semangat perubahan.
Hidup RLAXIV
Hidup RBI Jabar
Hidup Gudang Gandeng.

Wassalam, 23:02 Jakarta. (AKW).

***
Catatan : Makasih yach, udah baca curhat ini. Amiin.

Kolam Renang Grand Inna Padang

Nongkrong di Kolam Renang Kota Padang

Photo : Suasana sore di kolam renang / dokpri

Sebuah fasilitas hotel yang berusaha untuk dinikmati adalah kolam renang alias swimming pool.
Bukan berarti harus nyebur bin ngagejebur tapi menikmati suasana damai memandang birunya air sambil nyruput segelas espresso adalah sebuah kenikmatan tersendiri.
Itu yang terjadi di salah satu hotel di Kota Padang tepatnya Hotel Grand Inna Muara yang terletak di Jl. Gereja No 34 Padang Bar, Kota Padang.

Bukan tidak ada keinginan nyebur dan menikmati kesegaran air kolam, tetapi kesempatannya belum tiba guys.

Pertama, karena jadwal acara yang padat, nggak lucu khan tiba2 menghilang demi berenang. Trus klo malam hari setelah acara usai, giliran kolam renangnya tutup, karena operasionalnya jam 07.00 wib sampai jam 20.00 wib, tanggung khan?

Kedua, kebetulan nich badan agak menurun kondisinya, kurang fit, batuk pilek. Udah hampir seminggu, harapannya dengan penugasan ke Padang ini bisa sembuh karena bisa sambil beredaar….. eh ternyata di pesawatnya selama 2 jam dengan AC yang dinginnnnn…. menembus jaket serta baju yang dipakai, melanggengkan batuk pilek hingga berada di Kota Padang.

***

Photo : Segelas espresso di bibir kolam renang / dokpri

Jadi cara menikmatinya adalah….. ngopi kopi panas… pilihannya espresso di cafe kecil kolam renang sore-sore menjelang magrib disela-sela istirahat menjelang makan malam.

Klo belum puas, tambah americano atau longblack, memang penyajiannya agak lama karena dibuat di restoran hotel yang lokasinya sebelah dalam. Tapi ga papa… nunggunya bisa sambil ngelamun ditemenin riak segar air kolam.

Belum puas juga ngopinya?…

Tinggal keluar hotel, mlipir kiri jalan besar… 400 meteran nyebrang, ada namanya Cafe EL’S, disitu tinggal ngopi banyak pilihan, penasaran?.. ini tulisannya : Ngopi Takengon Longberry Coffee.

Photo : kolam renang lewat magrib / dokpri.

Ngobrolin kolam renangnya memang kecil sih tetapi untuk fasilitas pelengkap hotel ya lumayan. Ada 2 kolam kecil untuk anak dan kolam dewasa berbentuk lekuk-lekuk dengan kedalaman 1,5 meter, cukuplah buat ber 5 orang dewasa. Ditambah terdapat pohon-pohon penyejuk, kamar mandi buat ganti baju, shower juga offcourse…. handuk sebagai fasilitas.

Jangan lupa sebelum ke kolam renang, lapor dulu ke resepsionis sambil liatin kartu kamar. Ntar dapat secarik kertas yang akan digunakan buat dapetin handuk di petugas kolam renang.

Gitu dulu ya guys. Wassalam (AKW).