Tebing Breksi bikin iri.

Menjajal Tebing Breksi meski tak direncana tetapi berakhir ceria. Edisi beredar di Jogja.

Perjalanan bersama setelah seharian melaksanakan 3 paket meeting dan kunjungan… itu ruar biasa.

Kunjungan terakhir ke Instalasi Pengolahan Air Limbah Sewon memberi pengalaman tersendiri, yang penasaran bisa Klik Disini IPAL SEWON.

Sekarang acara bebas dan segera suara mayoritas ibu-ibu yang berkuasa. Dari opsi kembali ke hotel versi bapak-bapak yang langsung pupus oleh jeritan ibu-ibu yang bersama-sama bersuara, “Breksi.. breksi.. breksiii!!”

Segera pilot elf pariwisata mengarahkan kendaraan sesuai harapan dan keinginan meninggalkan daerah Sewon Kabupaten Bantul menuju Tebung breksi yang katanya seksi… seksi apanya ya? Jadi penasaran.

***

Perjalanan terasa begitu singkat padahal sekitar 19Km-an.. maklum sambil ngalehleh kecapean alias tertidur pulas. Alhamdulillahnya nggak ada yang iseng motoin posisi terkulai karena semuanya tidur serempak kompak dan penuh kebersamaan ditemani musik alami dari mulut bapak-bapak… zzzzz… kerrr.. keeer.. woaaaah.

Gujleeg!!!, mobil melewati gundukan dan jalan berlubang. Membangunkan sebagian besar penumpang termasuk diriku. Ternyata sedang menanjak di jalan desa, jalan terlihat di beton mulus tapi ada beberapa gundukan yang harus dilewati perlahan. Jalanan sempit yang agak rawan jika ada bus pariwisata melintas, sehingga perlu bergiliran. Untungnya kami ber-16 pakenya mobil elf yang praktis dan bertenaga besar.

***

Tebing Breksi adalah objek wisata baru yang dikembangkan dengan memadukan dan mengedepankan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama memanfaatkan bekas galian batu ini menjadi sebuah kawasan wisata yang ciamik. Tak berani berkomentar banyak karena harus dapet informasi primer dari narsum yang tepat.

Jadi cerita ini adalah apa yang di rasa oleh diri sendiri dan dibalut asumsi serta prediksi plus tungak-tengok dikit di wikipedia.. apa bener Tebing Breksi ini seksi?

Cekidot….

Dari jalanan kecil ada petunjuk belok kiri, elf menuju kesitu dan jalan sedikit menurun. Baru 50 meter, kami terperangah karena ternyata di hadapan kami sebuah tempat parkir yang besar, banyak bis pariwisata berjajar parkir dan tak terhitung jumpah mobil pribadi plus ratusan atau ribuan orang tengah asyik dengan kesibukannya masing-masing.

Tiket masuk gratis tapi dikenai biaya seikhlasnya… pantesan rame bingiiit.. khan kita mah seneng yang gratisan hehehehe.. yang bayar hanya parkir pas masuk kawasan tersebut, Motor Rp 2.000, Mobil Rp 5.000, Mobil dan bis pariwisata 15.000. Untuk pengunjung mah saridona (seikhlasnya)… asyik khan gan?

***

Shalat dhuhur asyar Jama qoshor di mushola outdoor yang bersih dan nyaman sekaligus tempat wudhu dan toilet yang bersih membuat betah berlama-lama. Deretan warung makanan yang tertata apik memanjang di kedua sisi dengan aneka makanan yang variatif. Plus meja kursi yang khas di depan warung masing-masing plus kursi meja kayu di trap bawah yang makin memanjakan pengunjung untuk bersantai.

Jangan lupa siapin kostum yang pas yaa…. kaos dan celana kargo atau celana pendek plus sepatu outdoor atau sendal gunung… itu yang pas. Tapi kalaupun pake batik ya gpp… harap maklum beres kondangan langsung wisata xixixixixi….

***

Pilihan berkeliling lokasi ada 2 pilihan kendaraan tapi masing-masing ada konsekuensinya.

Pertama, menggunakan kendaraan offroad berupa jeep yang sudah berjajar menanti. Tapi ya siap2 rogoh kocek agak dalam… kayaknya. Soalnya nggak nanya2 berapa tarifnya.

Kedua, skuter. Nah ini mah gratis karena singkatan dari ‘suku muter’ alias kaki yang bergerak. Gratisss tis.. bayarannya adalah bersyukur kepada Allah SWT sudah diberikan nikmat kesehatan termasuk kaki yang kuat tanpa keluhan apapun… Amiin Yaa Robbal Alamin.

Tebing pertama adalah sebuah tebing batu Breksit… nah itu dia kenapa disebut kawasan wisata tebing breksit, karena awalnya ini adalah tempat penambangan rakyat dan yang diambil adalah batu breksit. Digunakan sebagai bahan dasar ukiran yang bernilai ekonomi.

Trus ada penelitian para ahli dan hasil penelitian pada ahli geologi ternyata batu breksi ini masuk ke dalam golongan batu purba yang berusia ribuan tahun… jadi nggak boleh diambil atau ditambang sembarangan.

Trus gimana?…

Kebijakan pemerintah untuk menutup begitu saja tentu akan berdampak terhadap sumber mata pencaharian masyarakat. Maka dalam rangka menjaga urusan ferut yang fundamental ini, perubahan menjadi tempat wisata yang baru adalah pilihan cerdas.

Sehingga batuan breksit dapat lestari dan masyarakat tetap berseri karena tidak terganggu kehilangan periuk nasi.

***

Yang bikin menarik diriku ada beberapa hal meskipun kunjungan inipun sangat singkat dan dadakan, tapi biasanya yang singkat dan mendadak itu yang ngangenin… apa seeeh.

Pertama, sinergi masyarakat seakan terbangun sempurna (ini mah analisis subyektif awaminisme), siapa berbuat apanya jalan apa adanya, bagian tiket parkir, yang jualan makanan, jagain mushola dan toilet, jagain spot photo diatas bukit yang disetting dengan kreatifitas hingga penggunaan alat mekanik yang bisa bikin pengunjung duduk diatas sangkar burung berbentuk telur setengah dan dikerek 2-3 meter diatas tanah trus di photoin sama yang jagain nya… bayar nya?… nah ini yg kedua.

Kedua, pola pembayarannya sukarela alias saridona tapi tidak gratis. Dan itu berlaku sejak pintu masuk. Yang dipatok hanya parkirnya saja sementara untuk masuknya pengunjung… terserah yang penting ngasih.. keren khan? Itu tidak hanya berlaku di pintu masuk, tetapi di tiap spot untuk berphoto, petugasnya sukarela membantu, motoin dan tidak minta bayaran tapi tersedia kencleng atau tempat uang dengan nominal bebas…. jadi siapin recehan. Karena klo duitnya 100rebuan trus berphoto buat dipasang di medsos di 10 spot.. atuh kudu 1 juta khan… nggak bangeet hehehehe… tapi juga jangan ngasih 1000 perspot bro… ingat toilet aja 2000 rupiah hehehehe.

Ketiga, dukungan fasilitas parkir yang luas serta infrastruktur pendukung seperti bangunan warung2, toilet dan mushola yang nyaman… bikin iri dech.

Keempat, adalah kreatifitas menyambungkan dengan tempat wisata lainnya yang bertebaran di sekitar tebing breksi tersebut sehingga para pengunjung mendapat kesempatan pilihan wisata yang beragam.

Udah itu aja dulu ah… udah sore, sebelum meninggalkan area tebing breksi ini tak lupa mengambil photo semburat mentari sore yang seakan nempel dengan tebing breksi. Haturnuhun, Wassalam. (AKW).

Memaknai kelengangan

Hanya mencoba memaknai sebuah moment ‘Lengang’

Photo : Jalan Braga Kota Bandung/Dokpri.

Ternyata kelengangan itu bisa muncul tiba-tiba. Ada yang memang menskenario untuk dijadikan latar #kehidupan , Tetapi ada juga yang ditakdirkan terdiam karena pembatas #putih #merah yang terkesan #rapuh tapi hampir semua pihak mematuhinya.

Itulah gambar dan tulisan yang diunggah di medsos pagi ini.

***

Trus?…. nah itu pertanyaan yang ditunggu.

Jadi….

…….. Sebenarnya ini adalah sebuah kejadian yang buat manusia seolah kebetulan, padahal ini adalah takdir yang sudah jelas ketentuannya.

Siapa sangka dari tadi beredar keliling bandung… eh keliling sekitaran daerah ciroyom-pasar baru-gasibu-taman lansia hingga ke balaikota. Harus berhenti tepat di jalan braga sebelum perlintasan kereta api sebidang.

Klo di sengaja belum tentu dapat, tapi itulah takdir. Tepat berhenti di lintasan terhalang oleh palang penutup yang di cat putih merah selang seling. Terlihat rapuh dan akan mudah diterjang oleh moncong mobil… tapi ternyata tidak ada yang berani menabraknya meskipun se buru-buru apapun.

Kenapa?….

Dibalik penutup lintasan itu tersimpan resiko yang sangat besar jikalau nekad dilewati…. Kecium idung lokomotif yang melaju itu… ya cilaka pokoknya mah.

***

Semua berhenti dengan tertib, menunggu sang kereta api lewat. Biasanya mudah sekali iseng tebak-tebakan, “Dari arah kiri atau kanan?” Hati-hati dengan undian, jangan sampai terjebak apalagi dengan tumpangan sejumlah uang. Klo yang kalah jitak gimana?….

Gimana ya?…. eh malah nglantur.

Diseberang lintasan otomatis jalan lengang karena jalan braga ini satu arah. Seketika ada ruang kosong dan lengang terhampar di hadapan.

Ternyata momen itu dinantikan sekelompok anak muda ya g terlihat sudah merencanakan sesuatu. Satu orang bawa kamera, satunya papan refleksion, dan satu orang pengarah gaya.. total 3 orang cowok dan satu lagi remaja putri menenteng tas bersiap berpose dengan background kereta yang akan lewat….

“Itu pasti buat iklan tas” celoteh istriku sambil terus asyik memperhatikan aktifitas mereka. Benar saja beberapa tas di pakai bergantian oleh remaja putri itu dan kameramen plus kru serta pengaeah gaya sudah sibuk dengan peran masing-masing.

Suasana hening, lengang tapi tegang.

Diawali suara dan getaran derrrrr…… tuiiiiit… deerrrr…. ttiitt tuuut tiiit tuuut, kereta api ekspres melewati kami dari arah kiri, memusnahkan lengang dan mengembalikan keadaan seperti biasa.

Kereta api lewat, 4 remaja di seberang sudah menghilang dan kendaraan berlomba merangsek maju mengisi ruang kosong di jalanan.

Terima kasih atas momentum kelengangan yang tak sampai 5 menit, tetapi memberi kesan harapan bagi beberapa orang meskipun masing-masing memiliki perspektif berbeda. Itulah hidup, yang pasti memaknai syukur setiap saat yang terkadang begitu sulit.

Yu ah… cussss… beredar keliling kota lagi. Minggu-290418 (AKW)

1 hari 6 moda transportasi bagian 2 (tamat)

Petualangan dalam hitungan belasan jam di ujung pulau Jawa, dari mulai Bis, motor ojeg, kereta api, becak, grab car, pesawat terbang dan grab car lagi bagian ke2, tamat dech.

Ini lanjutan cerita dari Bagian 1.

***

Photo : Petugas lagi meriksa tiket/dokpri.

Disaat keringat masih mengucur, nafas sedikit tersengal tetapi perasaan begitu tenang karena bisa duduk di kursi kereta Jagabaya yang akan mengantarkan diri ini ke titik pemberhentian berikutnya di Sidoarjo.

Kelas ekonomi yang dinaiki sesuai tiket cukup bersih dan nyaman. Kursi keretanya menyatu dan bisa digunakan berdua. Seorang bapak yang sedang bersila dengan santai, menurunkan kakinya dari kursi dan memberi ruang untuk duduk melepas ketegangan.

Posisi kursi saling berhadap-hadapan, dan sudah paten nggak bisa diputar-putar… sesaat petugas Restoran KA melewati dengan membawa beraneka makanan dan minuman yang kudu dibeli termasuk sewa selimut seharga 7 ribu saja selama perjalanan, dengan nyimpen KTP di petugas tentunya.

Petugasnya sopan dan ramah, begitupun bapak yang disampingku, kira-kira usia 55 tahunan yang ternyata sedang dalam perjalanan menuju Jakarta dengan kereta ini. “Kebayang pegelnya” celoteh dalam hati. Tapi melihat wajahnya yang sumringah, mungkin saja bapak ini naik kereta dengan bahagia karena bahagia itu tidak bisa dinilai oleh orang lain tapi hanya orang per orang saja merasakan karena bahagia itu domain Illahi robbi.

“Bapak mau pergi kemana?” Sebuah kalimat ajaib yang sukses membuka pembicaraan selanjutnya. Ternyata beliau seorang guru di salah satu Sltp di Kota Malang, sedang dalam perjalanan menuju Kota Bogor Jawa Barat bersama salah satu saudaranya yang duduk beda kursi. Beliau bercerita tentang ketiga anaknya yang sudah sukses bekerja. Dua diantaranya meneruskan profesi ayahnya menjadi guru di Malang dan di Pulau Madura serta yang satu lagi penempatan di luar jawa.

Dengan gaya yang sederhana, beliau memaknai perjalanan hidup dengan bersahaja. Bahasa yang santun dan tutur kata yang tenang serasa kembali menjadi anak smp sedang dinasehatin ama guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sementara di hadapanku, setelah berbasa-basi adalah ASN di Pemkot Malang yang sedang dalam perjalanan menuju Kota Cirebon. Diskusi kecil tentang kondisi pemerintahan di Malang pasca operasi KPK beberapa waktu lalu yang mencokok orang nomor 1 serta pimpinan dan jajaran legislatif.

Tapi diriku agak takut ngobrolin politik, untung saja bapak sepuh yang tadi menimpalinya dengan membahas keberhasilan anak-anaknya sehingga arah pembicaraan bisa lebih variatif dan mengarah kepada tema bagaimana ‘mensyukuri hidup dan menghidupi rasa syukur.’

Tak terasa perjalanan 1 jam 15 menitpun hampir berakhir, padahal pas inget tadi naik bis 4 jam karena kemacetan….. wuih memang Kereta api luarbiasa.
Kebayang klo kereta api ini bangun dan berlari…mungkin jauh lebih kencang lagi. Lha wong sekarang aja melata di rel udah cepet jalannya hehehehe.. Ngayal.com

Pas moo turun di Stasiun Sidoarjo, ada kereta api berpapasan dan namanya itu lho, ngingetin daku sama kawan dan kakak senior di Bandung sana yang berkutat di urusan peningkatan sumber daya manusia seperti Kang Budi, Bu Diah, Bu Retno, Teh Lis, Bu Tina, bu Nur, pa Firman dan banyak lagi nama-nama yang berkantor di Cipageran Cimahi. Penasaran?….. nich penampakan KA yang cocok dengan BPSDM…

Photo : KA yg cocok dengan Bandiklat/dokpri.

Bener khan?..

Berhenti di Stasiun Sidoarjo, sebuah stasiun kecil yang tertata rapih. Sejenak menvhela nafas dan menikmati toilet untuk berjumpa dengan wastafel sehingga bisa membasuh muka dan melihat raga di kaca… ternyata gagah juga. Segera keluar menuju ruang tunggu penumpang, buka smartphone dan pilih aplikasi Grab.

Photo : Nampak luar stasion Sidoarjo/dokpri

Proses order yang singkat, dan sang driver yang komunikatif. Langsung dia nelpon dan menyatakan area stasiun adalah ‘Zona merah’ alias nggak boleh masuk dan nunggu agak jauh di salah satu mini market. Ya sudah, setelah memotret bangunan stasiun, bergerak keluar gerbang dan…. melihat becak berjejer.

Mas ke depan ya, dekat minimarket xxxx” “Monggo mas, ndereng pinara” transaksi sederhana penuh tatakrama mengantarkan diri menikmati transportasi ke empat yaitu becak tanpa atap… wuiiis, angin menerpa wajah disaat becak melaju kencang.

***

Moda transportasi ke 5 adalah sebuah mobil Suzuki Ertiganya bapak Moch Cholil seorang bapak berumur yang ramah. Tak banyak bicara tapi nyaman membawa mobilnya. Ternyata dari titik ini menuju bandara Juanda memakan waktu lumayan lho, 31 menit. Untungnya waktu yang tersisa masih leluasa sehingga perasaan tetap nyaman dan gembira.

Setelah beberapa titik terdapat kepadatan lalulintas, akhirnya tiba juga di gerbang bandara juanda dan mengarah ke Terminal 2. Dari penjelasan pak driver, terminal 2 ini adalah terminal lama yang direvitalisasi dan digunakan untuk penerbangan Garuda Indonesia dan penerbangan internasional sementara terminal 1 untuk penerbangan domestik lainnya. Jaraknya memang berdekatan tetapi akses pintu masuknya beda.

Jadi bagi para pelancong, jangan malu bertanya jika sedang beredar di luar daerah atau di luar negeri. Ingat pepatah ‘Malu bertanya sesat dijalan, besar kemaluan susah berjalan’ ….. upppps maaf.

***

Proses check in yang mudah, suasana bandara yang ramah serta hati ceria meriah karena bisa melewati perjalanan yang begitu variatif dalam waktu sangat singkat. Bukan 1 hari sebenernya… tapi beberapa jam menikmati beraneka moda transportasi. Coba dirunut :
08.15 – 11.15 Bis Pariwisata
11.15 – 11.35 ojeg lokal
11.45 – 13.05 KA Jagabaya
13.10 – 13.26 Becak Sta. Sidoarjo
13.31 – 14.01 Grabcar – S.Ertiga

Wow 5 moda transportasi darat dalam 5 jam….

Satu lagi transportasi udara… nunggu panggilan.

Rehat yang panjang di terminal 2 Bandara Juanda terasa menyenangkan karena tiket sudah dipegang tinggal menunggu panggilan masuk pesawat. Sambil berkeliling menikmati suasana bandara, pikiran terus berputar dan ide menulis mulai bermunculan. Tetapi ternyata sang perut perlu diisi sebelum merana kelaparan, ya sudah cari tempat makan yang nyaman sekaligus beristirahat menunggu panggilan.

Bebek goreng setengah tanpa nasi menemani penantian ini ditemani segelas teh tawar panas… nikmaat. Pedasnya bikin otak membara dan so pasti bibir, lidah hingga lambung mendesssah…. pedeeees tapi enak dan untuk menghindari pedas berkepanjangan, maka semangkok soto ayam tersaji sebagai makanan penutup. RW06.com

***

Diawali panggilan lembut di pengeras suara bandara, masuk mengantri via garbarata akhirnya tiba di dalam pesawat Garuda. Duduk di tempat yang sesuai di tiket tertera, pasang sabuk pengaman dan segera mengutak atik fasilitas penerbangan yaitu VOD (Video on demand), pasang earphone… eh sebelumnya photo dulu citylight Kota Sidoarjo dari balik jendela. Kerlap kerlip lampu kota menyimpan kenangan serunya perjalanan soang tadi, disana.

Sebuah kotak makanan ringan menghampiri dan yang ajibb adalah segelas kopi hitam tanpa gula dengan rasa lumayan, menemani perjalanan pulang menuju Bandung kota tercinta.

Tepat pukul 19.20 sang burung besi mendarat di Bandara Husein Sastranegara. Segera menghambur dari pesawat bergerak cepat sambil nyalain smartphone dan order Takol (taksi online)…. ternyata…

Kembali istilah ‘Zona merah’ muncul dari percakapan dengan sang calon driver. Tapi karena cuman sendiri dan tak banyak bawaan, tanpa bagasi juga. Ya udah ngloyor keluar bandara dan menyusuri jalan lurus menuju jalan padjajaran sekitar 900 meteran (soalnya nggak diukur.. hanya rumus kira2)… melewati puluhan taksi yang menunggu penumpang plus para pengemudi yang memberi tawaran.

Ya klo yang bawa sepuh atau yang sakit, plus juga kondisi hujan.. ya sebaiknya pilih taksi yang ada. Tetapi syaratnya pastikan kejelasan harga dari awal ataupun kepastian menggunakan argo. Hindari transaksi setelah masuk di taksi, hindari pokokna mah.

Soalnya klo taksi online nunggunya di luar area bandara dan cukup jauh berjalannya. Kecuali sendiri atau rame-rame dan sehat semua. Juga tidak sedang hujan.

Akhirnya transportasi darat lagi, Grab car Toyota Avanza mengantarkan raga dan jiwa ke arah bandung utara, menuju tempat dinas ibu negara.

Setelah jumpa, barulah pulang ke rumah bersama istri tercinta dengan posisi sebagai pengendara.. jadi totalnya 7 moda transportasi… 6 angkutan umum dan 1 angkutan pribadi.

***

Itulah sebuah kisah perjalanan menggunakan berbagai moda transportasi dalam waktu singkat, andaikan ada juga perahu atau speedboat yang digunakan… itu lengkap sudah mameeen.. darat-laut-udara hahay.

Wassalam. (AKW)

1 hari 6 Moda Transportasi

Petualangan dalam hitungan belasan jam di ujung pulau Jawa, dari mulai Bis, motor ojeg, kereta api, becak, grab car, pesawat terbang dan grab car lagi…

Deru mesin bis pariwisata bergerak sempurna, membawa bobot besarnya yang berisi rombongan pelancong meninggalkan halaman Hotel Santika Surabaya dengan tujuan pasti ke Kota Malang. Kenapa diriku ada di bis itu?…. ceritanya panjang, tetapi yang pasti takdir itu mesti di jalani bukan diratapi.

Awalnya memang tidak akan bergabung dengan rombongan yang berencana ke kota malang karena penerbangan dari Bandara Juanda ke Bandung dijadwalkan sore ini. Jadi rencana hanya keliling kota saja trus lanjut ke bandara. Tetapi… diskusi dengan beberapa kawan dan dari biro travel yang mendampingi rombongan, kekejar kok klo ikut ke kota malang dulu… paling 3 jam. Ya udah… ikuttt dech.

Ternyata…. di sinilah petualangan dimulai.

***

Perjalanan keluar kota surabaya melalui akses tol menuju Kota Malang relatif tidak banyak hambatan, meskipun ada sedikit tersendat tetapi prinsipnya masih pas untuk hitungan waktu.

Memasuki jalan tol sengaja duduk mendampingi sopir agar memiliki ruang pandang yang jelas serta so pasti bisa ngambil photo lebih leluasa. Meskipun urusan kualitas photo…. itu mah tergantung. Selain tentunya kualitas kamera di smartphone juga yang penting adalah kemampuan untuk menggunakannya.

Terus terang meskipun daya tarik selpi itu begitu menggoda tetapi berusaha istiqomah untuk menghindari photo selpi dan di share di blog akwnulis.wordpress.com. soalnya terasa gimanaaa gitu kalau objek photonya udah oke tapi 1/3nya wajah selpi yang senyum seringai…. yang baca dan suka posting selpi di medsos atawa di status WAnya ya nggak usah sensi, klo itu nyaman dan merasa diri adalah keharusan… monggo lanjut aja. Tapi klo diriku berusaha hindari itu, titik.

Sambil menikmati perjalanan pagi, tangan tetap mantengin smartphone buka aplikasi traveloka buat liat jadwal sekaligus beli tiket kereta dari malang ke arah Bandara Juanda. Ternyata stasiun terdekat adalah di Sidoarjo… ya udah gpp. Dibeli aja via online, bayar via internet banking… tring.. tiket di tangan. Jam 11.45 KA Jagabaya rute Malang – Sidoarjo sudah ditangan… tenaang.

Keluar tol memasuki daerah pasuruan…. jalanan mengecil dan kendaraan membludak termasuk banyak kendaraan ukuran besar baik bis pariwisata juga truk-truk tronton yang bergerak perlahan menyusuri jalanan. Praktis si bis berjalan terseok-seok…. dan 3 jam perjalanan sudah di lahap.. tapi tujuan masih jauh.. peserta rombongan nggak terlalu aware dengan kondisi ini karena mereka khan pulangnya masih besok sore. Hanya sang pemandu dari travel dan om Widi yang mengkhawatirkan jikalau tertinggal jadwal kereta serta akhirnya tertinggal penerbangan sore sesuai jadwal untuk kembali ke Bandung kota tercinta.

***

Skenario awal untuk ikut wisata ke satu spot yaitu kampung warna warni di malang trus baru pulang memisahkan diri dari rombongan harus berubah karena kemacetan yang mendera. Lupakan kampung warna warni dan konsentrasi mengejar jadwal kereta Jagabaya saja.

Masuk kota malang sudah menunjukan jam 11.15… keringat mulai terasa membasahi dahi. Perhitungan via google map… pake mobil ke stasiun malang 30 menitan… pasti telat. Klo pake motor bisa 15 menit… kepikiran pake grab. Tapi jangan-jangan Lama…. putar otak.

Sambil liat kondisi jalanan yang macet parah, didepan terlihat sekumpulan ojek pangkalan sedang berkerumun…. ini dia. Tak banyak cakap terucap, segera sambar mik di bis, ucap maaf dan pamit kepada seluruh rombongan karena harus kembali lebih cepat ke Bandung.

Segera turun dari bis dan beralih menggunakan ojek pangkalan di lota malang menuju stasiun malang…..

***

Cobaan ketegangan belum berakhir.. eh dapet supir ojegnya udah sepuh dengan motor bebek jadul. Ngebonceng diriku dan tas kopetr jadi sekintal lebih terlihat agak kesulitan. Motor sedikit terseok-seok dan tak berani nyalip mobil di depan… entah belum lancar… entah grogi… entah keberatan hehehe.

Pas ditanya, “Masih jauh pa?”

“Bbbentar laggi deek” jawaban bergetar yang bikin kasian…. tapi waktu jalan teruuuuus…. disini kesabaran diuji lagi. Yo wis… tarik nafas panjang dan berdoa dalam hati, semoga Allah memberi kelancaran dan tiba di Stasiun kereta tepat pada waktunya.

Ta daaaa….. tiba di depan stasiun Malang pukul 11.40 wib. Bayar ojeg dan segera menghambur ke stasiun… untungnya jaman sudah maju tinggal cari alat print tiket… scan barcode di HP…. treeeet. Tiket muncul… alhamdulillah 3 menit sebelum KA Jagabaya bergerak, daku sudah bergabung di dalamnya…. ahhhhh tarik nafas dulu mas brow…..

***

Kereta bergerak seiring keringat memgucur deras. Tapi perasaan jadi tenang karena titik krusial terpenting bisa dipenuhi… yaitu nggak ketinggalan keretaa… alhamdulillah.

Karena jika kereta ini meninggalkan diri karena keterlambatanku maka perjuangan ke bandara juanda pasti lebih berat karena alternatif kereta selanjutnya… terlalu sore untuk tiba di bandara jam 16.00 Wib. Yang kebayang sewa ojeg dari Malang ke Sidoarjo… wah nggak kebayang dech.

(Bersambung… Bagian 2).

Diary Coffee 7

Cerita si hitam di Kota Surabaya terangkum dalam bait puisi DCvol7.

Panasnya Kota Surabaya
Tidak urungkan semangat berkelana
Malah jadi pengen nyoba
Sensasi kopi di Kota bu Risma

Tapi nggak bisa sebebasnya
Karena agenda acara sudah jelas adanya
Jadi ikuti semuanya
Hunting kopi di sela agenda

Memang rejeki tidak kemana
Disaat ada sesi belanja
Ibu-ibu berhamburan semua
Tuntaskan penasaran dan hasratnya

Segera menyelinap ke bangunan tua
Yang menyajikan si hitam nyata
Espresso manual dan kopi arabica
Menjadi pemuas dahaga

Rasa espresso manualnya lumayan
Kopi tubruknyapun bikin nyaman
Bersandar sambil nikmati keadaan
Terasa nikmat nian

Beranjak sore menuju bangkalan
Pulau madura jadi tujuan
Suramadu sangat berperan
Bikin lancar perjalanan

Di madurasa segera tersaji
Segelas kopi Toraja kalosi
Meski ditubruk pake air panas asli
Yang penting kopi dan kopiii

Disaat yang lain berburu batik maduratna
Daku duduk merdeka
Menikmati secangkir suasana
Menuju temaram di pulau madura

Esoknya double espresso secangkir
Bikin otak terus berfikir
Hidup ini suatu saat berakhir
Jadi inget belum berdzikir.

Garuda Indonesia sudah di udara
Datanglah sang pramugara
Tawarkan si hitam menggugah selera
Kopi hitam yang menggelora

Akhirnya selesai dulu ya
Diary coffee akan ada lanjutannya
Si hitam segar pasti menggoda
Dimanapun ia berada.

*) Edisi diary coffee sambil beredar di Surabaya (AKW).

Kunker STBM 110418

Cerita singkat tentang pembelajaran STBM ke Jawa Timur

Perjalananan dini hari menuju bandara setelah semalaman melukis langit kamar terasa begitu singkat. Hanya 8 menit, grab Datsun Go+ mengantarkan ke pintu gerbang kemerdekaan.. eh ke halaman keberangkatan Bandara Husein Sastranegara Bandung.

Turun segera dan tidak lupa bayar ongkos grabnya. Nengok kanan kiri dan akhirnya bersua dengan wajah-wajah yang sudah kenal ataupun agak kenal hehehe. Basa basi dan sejumput kata memulai bincang dini hari ini. Tapi tidak lama berbincang itu bertahan karena adzan shubuh berkumandang syahdu. Menyentuh kalbu untuk segera mengadu kepada Allah Yang Maha Tahu.

Ngapain di bandara nyubuh bro?..

Pasti itu pertanyaan yang muncul. Pas bingit jawabannya yaitu tugas negara dinas luar kantor.

Photo : Delegasi Dinkes Kab Bdg berpose.

Yup ada tugas ke Jawa Timur dan lebih efektif waktu jika menggunakan pesawat terbang. Tapi tetep harus liat kemampuan budget kantor juga, jangan sampai melewati pagu atau batasan yang udah ditentukan.

Photo : Sarapan bersama di Jawa Timur / Dokpri.

Pesawat Lion Air JT 915 terbang mulus dan mendarat nyaman di Bandara Juanda Sidoarjo jam 07.20 Wib. Proses pengambilan bagasi rombongan relatif lancar, sarapan bersama di rumah makan hingga akhirnya tiba di tempat tujuan yaitu Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

***

Judul besarnya dateng ke Surabaya adalah keinginan untuk belajar kepada Pemprov Jatim khususnya tentang STBM.. bukan STMJ ya. STBM adalah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Kenapa itu menjadi strategis bro?… itu ceritanya panjang. Tapi dari pada nggak mau baca tulisan selanjutnya yaa dipersingkat saja. Intinya urusan sanitasi ini adalah sebuah bentuk kerja bareng lintas sektor lintas OPD untuk mewujudkan pembangunan sanitasi bagi masyarakat melalui wadah Pokja Program PPSP (Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman) dimana di Sekretariat Daerah digawangi oleh Biro SPIBUMD – Biro Yanbangsos – Biro Prodi bersama dengan OPD-OPD diantaranya Bappeda, BPKAD, Dinkes, Disperkim, DisLH, Disdik, DisPMD, Diskominfo serta Satker KemenPUPR & Bappenas.

Bicara STBM yang merupakan domain Dinas Kesehatan adalah salah satu metode program yang efektif untuk membangun kesadaran hidup sehat dan menjaga sanitasi lingkungan secara langsung kepada masyarakat, selanjutnya secara phisik dari Disperkim dan DisLH untuk monitoringnya. Eitt tidak lupa dari sisi arah perencanaan dan tentu komitmen penganggaran maka peranan penting Bappeda dan BPKAD adalah sinergi berkelanjutan untuk mewujudkan universal akses serta amanat SDGs pesan nomor 6, antara lain pada tahun 2030 mencapai akses sanitasi dan kebersihan yang memadai dan layak untuk semua dan mengakhiri BABS…

***

Alasan pembelajaran itulah, sebuah rombongan besar bergerak ke Jawa Timur dari berbagai arah meliputi perwakilan 16 kabupaten/kota di provinsi Jawa Barat, terdiri dari para Kabid Kesling dan Kabid P2PL, Para Kasi dan stafnya serta Kota Banjar hadir langsung Kepala Dinas Kesehatannya serta tentunya sohibul baitnya Dinkes Provinsi Jawa barat didukung perwakilan Diperkim, Biro Yanbangsos dan Biro SPIBUMD dengan total rombongam 72 orang.

Jawa timur menjadi jugjugan karena dari 38 kabupaten/kota di Jatim, 5 kab/kota sudah ODF (Open Defecation Free) atau Bebas BABS (buang air besar sembarangan)… jangan salah arti kawan.. bukan bebas BAB sembarang….. tetapi sudah tidak ada lagi masyarakat di 5 kab/kota tersebut yang BAB sembarangan.

Keren khan?… sementara di Jabar belum ada satupun kab/kota yang ODF… jadi semua semangat yang sama untuk menimba ilmu dan segera mengimplementasikan di kab/kota di Jawa barat. Dengan luasnya wilayah dan tentunya 48,1 juta jiwa penduduk jabar tentu perlu implemetasi strategi komprehensif pasca pembelajaran ini.

Pembelajaran ini tentu komprehensif menyangkut kebijakan, komitmen anggaran, regulasi, SDM serta berbagai kiat-kiat jitu agar kab/kota ODF di Provinsi Jawa Barat segera terwujud.

***

STBM Jawa Barat!!!
Lebih bersih-Lebih sehat

‘Yes Yes Yes!!!

Teriak para peserta kunker penuh semangat.

Wassalam (AKW).