Kolam Renang Aston Hotel Cirebon

Air yang menyegarkan dan suasana nyaman menghijau, silahkan coba.

Photo : Kolam renang dewasa, kedalaman 1,3 m / dokpri.

CIREBON, akwnulis.com. Panasnya hawa di Cirebon ternyata tidak membuat rasa dan pikiran ikut membara. Justru menambah keinginan untuk segera bercengkerama dengan kesegaran air di kolam renang yang membiru ceria.
Apalagi kolam renang yang tersedia berpadu dengan hamparan rumput hijau semakin menegaskan keteduhan dan ketenangan.

3 kolam renang tersedia di halaman belakang Hotel Aston Cirebon memberi daya tarik tersendiri untuk menginap di hotel ini.

Untuk yang tidak menginap, maka masih bisa menikmati fasilitas ini. Tentu dengan membayar, harga di Weekday 75ribu dan weekend 100ribu rupiah. Langsung datang saja ke notaris… eh resepsionis, tapi ingat jangan datang tengah malam yaa… karena area kolam renangnya masih tutup. Jam operasionalnya tiap hari dimulai pukul 06.00 wib sampai dengan 18.00 wib.

Photo : Kolam renang anak / dokpri.

Masuk dari lobby hotel, lokasi pintu masuk ke area kolam renang terletak di sebelah kiri pintu masuk lobby. Tapi musti belok kanan dulu, ke resepsionis. Klo udah registrasi (buat yang nggak nginep yaa, klo yang nginep ya tinggal datang aja ke petugas dan sebutin nomor kamar)… jadi sekali lagi, masuk lobby, belok kiri, trus belok kanan ada pintu kaca.. masuk aja. Disebelah kanan ada meja putih dan petugas yang akan melayani.

***

Kolam renang anak terletak di tengah-tengah dengan bentuknya yang tidak kaku. Sebelah kiri adalah kolam renang dewasa dengan kedalaman 1,3 meter dan satu lagi kolam renang dewasa dengan kedalaman 1,5 meter. Semua kolam bentuknya juga menampilkan bentuk lengkung yang menarik.

Tempatnya luas disertai taman-taman yang indah menghijau. Terdapat kursi santai yang cukup banyak. Di posisi tengah sejurus dengan kolam renang anak terdapat mini zoo, beberapa binatang ada disini, akan semakin melengkapi liburan keluarga yang menyenangkan juga edukasi membangun rasa keperi-binatangan.

Photo : Kolam renang dewasa 1,5 m / dokpri

Urusan lokasi dimana, bukan hal yang sulit. Tinggal buka google map, dan ketik saja ‘Aston Cirebon Hotel & Convention Center’… jreng… langsung ada. Eh tapi tetep kuota internet musti on, atau juga manfaatin free wifi.

***

Balik lagi urusan kolam renang, sebuah tempat yang menyenangkan dan menyegarkan. Baik segar phisik juga psikis. Fasilitas shower dan kamar mandi yang lengkap. Petugas ramah serta suasana bersih dan nyaman.

Nama area ini adalah ‘Nana Land’ diambil dari nama anak owner hotel ini. Selain berenang, juga akitifitas outdoor lain yang menyenangkan.

Selamat berenang kawan, Wassalam (AKW).

***

Catatan :
No telepon Aston Hotel Cirebon & Convention Center : 0231-8298000

Transformer Americano

Bergerak bersama menyelamatkan bumi, dilanjutkan ngopi.

Photo : Siap bertarung bersama menyelamatkan bumi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. lagi jalan menyusuri semak belantara pertokoan, melihat lalu lalang para pelancong dan petualang cuci mata sambil menggamit tangan mungil anak tercinta. Tiba-tiba mata tertumbuk sesosok besar, berdiri tegak dengan penuh kegarangan. Senjata di tangan kanan dan kiri serta penuh amunisi. Sesaat tersentak kaget dan menghentikan langkah.

“Ayaaah…. mau jadi tampomerr!” Tiba-tiba terdengar request dari anak kecil yang tadinya bengong melihat sesosok besar berada dihadapan.

“Tampomer?” Agak loading sedikit, maksudnya Transformer kali ya?. Robot canggih yang bisa salin rupa menjadi mobil-mobil mahal tergabung dalam pertikaian semesta antara Autobot dan Deception.

“Robot besar say?”
“Iyyyaa ayaaah, yang ituu!!” Telunjuknya lurus menuju jajaran robot besar yang berbaris menanti perintah untuk bergerak bersama manusia menyelamatkan bumi dari kehancuran.

***

“30 ribu kakak” itu jawaban dari penjaga robot penyelamat bumi. Transaksi terjadi, sementara calin customer kecil ini terus memilih dari beberapa robot yang tersedia.

“Ayah yang blue”

“Mangga geulis”

Darah pendukung persib ternyata menetes ke anak semata wayang ini, jajaran robot berwarna lain tidak mau dinaiki, pengen yang warna biru. Halik ku Aing heu heu heu.

Jadilah kami berkolaborasi menjadi bagian dari transformer selama hampir 10 menit. Menjelajahi dunia dengan gerakan kaku yang diatur konsol di tangan kanan dan kiri. Sabuk pengaman melindungi kam dan anak kecil yang awalnya tegangpun akhirnya bisa menikmati. Rentetan tembakan serta misil tempur yang meluncur menghancurkan musuh-musuh bebuyutan, memaksa pasukan deception hengkang dari muka bumi kembali ke planetnya di ujung luar sabuk milky way.

Dor dor dor dor… blaaar….. jegerrr!!!

Teretet… ter..ter.. dor dor dorr!!!

Pertarungan sengit yang menyenangkan, anaknya seneng, bapaknya seneng. Untung aja bapaknya masih punya jiwa kekanak-kanakan, jadinya main bareng.

“Seraaang musuhhh”
“Tembak ayaaah”

Istri tercinta memperhatikan keseruan ini sambil duduk di sofa pengunjung, tak lupa mengabadikan pertempuran ini dengan gadget canggihnya.

Akhirnya pertempuranpun usai.

Photo : Secangkir Americano Coffee Justus / dokpri.

Setelah lelah bertempur menyelamatkan bumi, maka kebutuhan jasmani harus segera dipenuhi. Kami bergegas melepas sabuk pengaman dan turun dari robot transformer yang melanjutkan petualangannya menjaga bumi dari musuh dan enemy.. ih sama aja ķamu mah.

Sambil menunggu sajian makanan yang dipesan, maka secangkir americano coffee ala kafe Justus Pascal 23 menjadi booster bagi diri agar segar kembali dan terus bersemangat mengasuh anak istri yang menjadi tanggung jawab abadi, lahir batin. Wassalam (AKW).

Kolam Renang V Hotel Bandung

Kolam renang dan kebersamaan.

Photo : Kolam renang V hotel Bandung / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Minggu pagi baru saja menyapa diri, dikala sang mentari mulai mengintip dari balik jendela hotel di lantai 5 ini. Sebenernya masih berharap bisa leyeh-leyeh dulu setelah seharian kemarin ikutan sibuk jadi panitia nikahan sepupu. Tetapi anak semata wayang begitu semangat, menagih janji untuk segera bermain air di kolam renang hotel.

“Hayu ayah, kita berenang” rengekan manja anak 3 tahun dengan gayanya yang ngegemesin. Sulit untuk menolaknya. Apalagi dari kaca depan kamar bisa langsung melihat ke bawah dimana kolam renang berada.

“Ayah, coba ajak dulu di jacuzzi di kamar penganten.. eh di kamar orangtua pengantin” istri ngasih opsi, pertimbangannya, airnya hangat dan mudah diawasi.

Setelah siap dengan stelan baju renang dan ban pelampung lengan kanan kiri, bergegas menuju kamar 501 yang dilengkapi jacuzzi di lantai atasnya.

Ternyata bukan itu harapan anak ini, pas masuk ke jacuzzi, “Ayaah ini bukan berenang, ini mah mandi bareng”

“Hehehehe…. anak ini bisa aja”

Akhirnya dengan bercucuran air, padahal sudah pake handuk. Bergerak turun via lift ke lantai satu, menuju kolam renang yang sebenarnya.

***

Kolam renang fasilitas hotel dengan kedalaman 1,2 meter. Cukup untuk anak remaja dan dewasa, anak kecil wajib didampingi atau digendongi orang tua, wajib banget karena beresiko tenggelam.

Ada juga paket 25ribu, untuk yang mau berenang plus dapet segelas jus.

Photo : Main air di kolam renang V hotel / dokpri.

Yang pasti anak cantikku seneng banget teriak-teriak meskipun pelukan erat di leher ayahnya nggak mau lepas. Jadi kombinasi senang dan takut, tapi nggak apa-apa, lebih aman begitu.

Kaki mungilnya digerak-gerakin berkecipak kecimpung di air, sementara kedua tangannya tetap memeluk erat leher ayahnya.

Moment kebersamaan ini tidak lama, karena seiring waktu, sang anak akan beranjak menjadi remaja dan dewasa. Investasi universal berupa kedekatan emosional kepada sang ayah yang akan ikut menentukan karakter dan kekuatan mental dalam jalani dinamika kehidupan. Selamat berenang, Wassalam (AKW).

Kopi & Sopir Tembak

Menjalani hari dengan tugas yang nggak mau berhenti, diusahakan tetap bisa ngopi.

Photo : Sajian Kopi Ijen dengan metode V60 / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala harus tampil mewakili pimpinan, disitulah latihan kepemimpinan terbuka lebar. Tidak usah takut, coba saja. Ini kesempatan bagus untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum sekaligus ajang belajar untuk menyampaikan materi yang diketahui dan dipahami.

Itulah yang terjadi hari ini, istilah bekennya mah ‘sopir tembak‘ heu heu heu heu.

Dengan berbekal sejumput keberanian dan serpihan-serpihan puzzle pemahaman, segera tampil menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara pelatihan di sebuah hotel yang indah, Hotel Amarossa.

Tadinya kirain bakal ketemu penyanyi mungil asal sumedang, Rossa. Ternyata nggak ada, memang nama hotelnya Amarossa.

Alhamdulillah acara lancar dan bahagia, nambah temen nambah sodara.

***

Tuntas bertugas menjadi ‘sopir tembak’, bergegas pamit kepada panitia. Karena harus bersiap untuk meeting lanjutan di siang hari. Padahal coffee break sudah tersedia, ya sudah lewat saja.

Ternyata pas keluar hotel, mobil nggak ada. Eh baru inget, khan tadi yang nyopirin disuruh beli sesuatu ke daerah Buahbatu… lupa euy.

Ya sudah jalan kaki saja ke kantor, lumayan sambil berolahraga.

Photo : Acting membaca bahan rapat di cafe 9/11 (dokpri)

Maka ngagidiglah.. eh basa sunda, berjalan kaki lah keluar dari halaman hotel Amarossa menelusuri jalan Aceh, belok kanan jalan Banda dan lurus saja… trus belok kiri dan dipertigaan jalan Halmahera berhenti sejenak, ada yang menarik di seberang sana.

“Apa yang menariknya kang?”
“Sesuatu”

Sebuah bangunan berdinding putih, bertuliskan 9/11.

Langsung masuk, aroma kopi semerbak. Iya cafe kopiiii……. cuman nggak leluasa tanya-tanya dan pilah pilih karena waktu yang terbatas. Sebuah dilema, pengen ngopi tapi waktu sedikit sekali. Ya sudah dibujeng enggalna.

“Neng, pesen manual brew V60, kopi ini nich, kopi Ijen sama satu lagi cappucino”

“Oke kakak, semua jadi 36ribu”

Nggak banyak nanya, bayar, tunggu kembalian, ambil kembalian dan cari tempat duduk di luar.

Photo : Sajian secangkir Capucinno / dokpri

10 menit kemudian, muncul sajian yang dinanti-nanti. Kopi manual brew V60 dan secangkir capucinno untuk kawanku.

Disajikan dengan gelas botol server bening dan gelas mini yang menarik.

Srupuut….. euh… acidity ada sih, khas rasa kopi arabica, tapiiiii….. euh.

Suasana hati yang diburu-buru atauu…..penyebabnya, air yang digunakan nyeduhnya kurang pas takaran suhunya. Mungkin cuma 60°celcius jadi ‘baleuy’ alias rasanya hambar karena ekstraksi bijinya nggak maksimal.

Tapii… ya sudahlah. Mungkin lain kali kalau mampir, bisa dinikmati sajian lainnya.

Photo : Sebungkus kopi Ijen / dokpri

Berhubung waktupun begitu sempit, ya usah sruput… glek glek glek… tandas. Langsung bergerak kembali mengayun kaki menyusuri jalan Halmahera-Riau-Banda dan akhirnya sampai di gerbang belakang kawasan Gedung Sate.

Tiba di ruangan, sepatu ganti sandal dan segera wudhu, sholat dhuhur dulu bray.

***

Baru beberapa detik selesai sholat, handphone berdering.

Tap…. segera diangkat, “Assalamualaikum!!”

“Waalaikumsalam, Maaf pak, kata bapak, rapat yang jam 13.00 tolong dipimpin saja, wakili, bapak masih kegiatan dengan Menteri di Subang” Suara aspri bos menyampaikan mandat.

“Siap”

Owwmaygaat….. tugas kedua hari ini, jadi ‘sopir tembak’ lagi. Semangaaaat!!!.

Sedikit bulir keringat tiba-tiba hadir di dahi, mengingat rapat sekarang bukan rapat sembarangan. Tapi ya sudahlah. Hadapi, jalani, dan jangan lupa ngopi. Wassalam (AKW).

V60 versus Chemex

Saatnya battle antara V60 versus Chemex dengan biji kopi yang sama, apa bedanya dihasil akhir?

Photo : Kopi hasil manual brew dengan metode chemex dan V60 / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com, Siang berlalu dan sore menjelang. Perut sudah bernyanyi riang karena jadwal makan siang tertunda akibat meeting penting dan harus jadi ‘sopir tembak’ karena para bos ternyata berhalangan hadir memimpin rapat pada saatnya.

Maka bersegera untuk makan siang di sore hari dengan sajian yang menarik hati, dengan menu vegetarian.

Selesai makan siang, maka ada hal penting yang ingin diceritakan. Yaitu sebuah ide iseng membandingan sajian kopi dengan biji kopi yang sama tetapi metode sedikit berbeda.

“Maksudnya bagaimana?”

Begini ceritanya…..
Sang biji kopi arabica pangalengan adalah biji yang dibandingkan. Oleh sang barista digrinder sesuai aturan. Komposisi 15:15 digunakan. Nah giliran nyeduhnya (manual brew), yang satu pake metode V60 dan satu lagi dengan chemex.

Sebetulnya terlihat mirip, sama-sama dikucurin air tetapi beda alatnya.

Photo : Sajian makan siang versi vegetarian. Shorgum, jamur, tempe, edamame, tomat cherry, sayuran / dokpri.

Jeng jreng…. maka tersaji 2 buah botol server yang kembar, bagai pinang dibelah dua. Berisi masing-masing 250ml sajian kopi arabica pangalengan yang akan dinikmati barengan.

Dari sisi tampilan, bedanya adalah gelas kecilnya. Untuk sajian V60 gelasnya persis gelas sloki, untuk yang chemex agak besaran dikit gelasnya, tapi tetap gelas kecil. Yang pasti semuanya bening sebening cintaku padamu….. “Apaaaa seeeeh kamuuuuh??”

“Mari dicoba”
“Siiip…..”

Sruput…… tahan dulu dibawah lidah, yummmy.

Ternyata kami bertiga yang juga hari ini miliki kesamaan karena ‘MASIBAT LANPI’ alias makan siang terlambat dilanjut ngopi, memiliki kesimpulan yang sama tentang perbedaan rasa yang tersaji.

Aromanya oke, bodynya lite, taste-nya muncul selarik karamel dan kacang tanah. Giliran acidity, ini yang beda. Metode V60 menghasilkan acidity moderat yang nikmat, sementara dengan chemex, biji yang sama memunculkan acidity mediym bold alias agak kuat keasamannya sehingga sedikit meringis… haseum pisannn.

Kesimpulannya, kami bertiga yang terbiasa minum kopi tanpa gula dengan metode Manual brew V60, cenderung akan dipertahankan. Nah metode chemex mungkin sekali-kali aja, karena ternyata rasa asamnya yang tinggi…. agak gimana gituuu.

Ngomong-ngomong, makasih traktirannya kawan.

Nah itulah review singkat tentang percobaan sederhana sore ini di greensandbeans cafe. Wassalam (AKW).

Arabica Java Preanger pake Chemex

Nikmati kopi pake metode chemex, nikmat.

BANDUNG, akwnulis.com, Sajian penutup setelah makan siang sehat ala Cafe Greensandbean sebenernya banyak pilihan, tapi tetep saja kurang afdol tanpa hadirnya si hitam nikmat, kopi.

Dari mulai bye bye doctor, energy booster hingga aneka teh yang bisa refill hingga 3x. Tidak bisa mengalahkan hasrat meng-kopi, menikmati kopi. Maka dari 3 pilihan kopi yang akan di buat secara manual, kali ini jatuh ke kopi Arabica Java Preanger. Flores Bajawa dan Liberica bean.

Inilah dia, sajian kopi arabica java preanger dengan metode manual brew chemex. Hadir dihadapan dengan ditemani 2 gelas kaca mini, berarti bisa buat dinikmati berdua.

Bagi yang tidak biasa ngopi dikit-dikit, kemungkinan besar akan terjadi kecanggungan. Tapi itu adalah sebuah cara, bagaimana dengan gelas kaca mini ini, kita bisa minum perlahan tapi pasti, menyecap rasa yang tersaji tanpa basa basi. Trus tidak hanya sendirian, bisa juga menikmati bersama teman. Meskipun terus terang, segitu mah klo barengan, yaa takarannya kurang. Tapi tak apa, yang penting bisa minum kopi yang dibuat manual dengan biji spesial. Wilujeng ngopay, Wassalam (AKW).

Kopi Bebek Hijau

Paduan dua unsur yang berbeda, tetapi dengan kopi, insyaalloh semua bisa.

Photo : Kopi bebek hijau / dokpri.

SETRASARI, akwnulis.com, Disaat senja menyeruak didada, maka tiasa kata yang bisa menghambatnya. Begitupun dengan rasa, bisa hadir kapan saja, mau disengaja ataupun tidak.

Begitupun dengan secangkir kopi, bisa hadir kapan saja dimana saja. Secara keyakinan, hadirnya secangkir kopi adalah takdir. Meski terkadang kita merasa menjadi bagian yang menentukan, padahal semua gerakan dan kejadian sudah ada takdirnya masing-masing.

Maka, dikala hadirnya kopi adalah karunia yang harus diyakini. Akan muncul rasa syukur yang mengingatkan tentang rejeki dan keberkahan.

Photo : Sajian Kopi Toraja Benteng Ajja / dokpri

Di sebuah tempat di lantai 2, bersua dengan sajian kopi Toraja Benteng Ajja. Bersua kembali dengan kopi single origin yang membawa berbagai cerita. Sebuah rasa body yang strong, dan acidity lite-nya bikin suasana hati ceria. Bicara harum, sudah pasti ada begitupun dengan taste-nya, sejumput rasa fruitty tersaji meskipun hanya sekilas saja.

Sebagai penambah penasaran pembaca, maka disajikan judul kopi bebek.

“Kopi bebek hijau?”

“Penasaran khan?”

Padahal sebetulnya adalah secangkir kopi hasil racikan sang baristi.. eh barista putri. Kopinya… ya. Itu tadi. Kopi Toraja bentteng ajja. Menggunakan metode manual brew kalita lalu disajikan di meja kayu nuansa alam yang bersahaja. Tetapi…. terasa lebih afdol jika disandingkan dengan patung bebek dari kayu berwarna hijau yang sedang tegak sempurna, memberi nuansa photo yang lebih lengkap dan penuh romansa.

Photo : Suasana Kedai Rimbun / dokpri.

Bebek hijaupun merasa senang, bisa tegak berdiri bersama secangkir kopi. Disini, di Kedai Rimbun, V hotel, Jalan Setrasari III Bandung.

Selamat ngopay dan jangan lupa bahagia, Wassalam (AKW).