2-Ngo Tibra Cafe.

Kembali ke tema utama, 2ngo.

CISARUA, akwnulis.com. Ternyata pemilihan tema dan konsistensi dalam menjaganya terasa semakin dimudahkan dengan setiap momentum yang ada. Tema blog ini dalam tulisannya memang fokus di dua kata, yaitu Ngopay & Ngojay. Dalam pengertian bebasnya yaitu tulisan santai tentang seputar kopi, pokoknya yang terkait atau bisa dikait-kaitkan dengan kopi, ngopi atau ngopay. Lalu tema ngojay adalah sagala we yang urusannya ngojay, berenang kolam renang, laut, balong eh kolam dan urusan air.

Yang termudah adalah ngopilah di sisi kolam renang. Lengkap sudah Ngopay & Ngojay.

Tapi kesempatan itu tidak bisa setiap saat, maka momentum seperti ini segera diabadikan dan selanjutnya tentu dipublikasikan.

Klo di cafe kopi, bisa pesan kopi tapi belum tentu ada kolam renang. Sementara kalau sengaja ke kolam renang untuk berenang, belum tentu dapet kopi nikmat sesuai harapan. Apalagi jika sambil berenang minum kopi, dijamin bakal ditegur oleh pengelola karena jelas menyalahi aturan dan akan mewarnai sedikit kolam renang hehehe.

Maka disinilah momentum takdir memainkan peran dan capture the moment perlu insting yang terasah serta smartphone stanby untuk segera menjepret kenyataan.

Nah kali ini akan berbagi dengan salah satu memontum 2-Ngo ini…. sebuah tempat eksotis di cimahi utara bisa mempertemukan keduanya. Secangkir kopi tanpa gula dengan nuansa biru dari kolam renang yang ada. Tidak lupa tulisan di gelas kertas kopinya adalah ‘Anti pahit pahit club’.

Kopinya memilih cafelatte karena semua berbasis kopi mesin, manual brew V60nya nggak ready hiks hiks hiks. Tapi gpp, segelas latt tanpa gula bisa menjadi pilihan menikmati kopi sambil bersantai di pinggir kolam renang. Lumayan atuh ah.

Jangan dibahas besar dan kecilnya kolam renang, tapi mari nikmati kebersamaan secangkir kopay dengan tempat ngojay.. ay ay ay.

Sruputlah segera karena desir angin di dataran tinggi cimahi utara eh Bandung Barat ini cepat sekali mendinginkan suhu kopi. Sruput.. dan sruputt… habiis.

Lokasi :
TIBRA Cafe & Coffee, Jl. Kolonel Masturi 508A Cisarua KBB.

MORNINGLATTE Time

Sebuah kombinasi langka.

BANDUNG, akwnulis.com. Kesempatan dalam kehidupan terkadang kita lewati begitu saja, ataupun malah menjadi keluhan karena ketidaknyamanan sesaat. Padahal momentum tersebut adalah saatnya untuk semakin tawaddu dan bersyukur.

Seperti pagi ini, dikala sedang menikmati siraman cahaya mentari yang kaya dengan vitamin alamiyang menyapa kulit wajah, rambut dan sebagian badan ini terasa begitu hangat dan lembut. Tetapi di meja sebelah malah terdengar keluhan, “Pindah yuk, silau dan panas nich” lengkap dengan mimik wajah cemberut.

Padahal bisa menikmati hadirnya sinar mentari pagi adalah berkah kesempatan yang tidak bisa dirasakan setiap hari. Hari kerja maka jam segini sedang berjibaku dengan kemacetan dan detak jantung berdebar cepat sambil memandang jam digital yang seolah berlari kencang.

Manakala diberikan libur, biasanya tantangannya adalah rasa cape dan kemalasan untuk berpisah dari selimut dan bantal yang melenakan.

Jadi kesempatan inilah yang menjadi begitu bernilai, apalagi teman setia yang penuh misteri hadir menemani yaitu secangkir kopi versi cafelatte tanpa gula yang tersenyum penuh makna, maka nama yang cocok adalah morninglatte, yuhuu….

Dikala sinar mentari semakin hangat di wajah maka cangkir morninglattepun mulai disentuh dan diangkat mendekati mulut.

Srupuut…. aaah, nikmat.
Lagi, … sruput.

Alhamdulillahirobbil Alamin, sebuah rasa dan suasana bersatu dalam momentum pagi ceria. Ditemani kicau burung dari tebing rimbun kehijauan dan semburat cahaya keemasan menambah epik suasana pagi ini.

Selamat memaknai pagi dan bersyukur atas nikmat Illahi. Wassalam (AKW).

Mariottalatte Yogya.

Sebuah perjalanan, tugas dan harapan.

CONDONGCATUR, akwnulis.com. Pagi hari sudah kembali menikmati semilir angin kota Yogyakarta dengan memegang erat pinggang mas gojek yang melaju sedikit kencang karena sebuah permintaan. Udara segar dihirup bersama berbagai nuansa kenangan yang begitu kental di kota ini. Sulit memang melupakannya.

Melewati ruas jalan besar dan sesekali masuk jalan kecil plus menyusuri sisi kampus UGM dan terus menuju sebuah hotel yang tertera dalam surat undangan, Hotel JW Marriot Yogyakarta. Perjalanan 17 menit dari jalan sosrowijan ke lokasi. Setelah berterima kasih dan pijit tombol bintang lima dilanjutkan dengan prosesi photo selpi dengan background hotel yang dituju.

Cetrek…
Cetrek..

Ini penting guys, karena setiap photo aktifitas dinas ini bernilai rupiah. Tentu dengan pelaporan rutin dalam aplikasi kegiatan harian dilengkapi syarat lainnya. Kebetulan juga seneng photo selpi, jadi ya saling melengkapi hehehehehe.

Materi rapat nanti di bahas di nota dinas, dalam tulisan singkat ini lebih menyoroti sajian kopinya sekaligus tempat ngojaynya yaitu kolam renang, lha terlalu bertele-tele masa iya berenang di kolam ikan. Apalagi hotel bertabur bintang maka jelas standar kolam renangnya segede gaban. Entar ah, di jam istirahat coba beredar.

Ternyata, keinginan menggabungkan Ngojay (berenang) dan Ngopay (ngopi sruput kopi) langsung cespleng dikabulkan Tuhan. Pertama adalah ruang meeting dilantai 2 acara Kemenparekraf ini tersedia mesin kopi… yuhhhu… minimal espresso, latte  cappucino, americano bisa direquest.

Setelah bersabar 24 jam lebih karena ‘gagal ngopi’ hehehehehe.. lengkapnya di tulisan ini YOGYA, KOPI & MATI. maka sekarang diberi jawaban dan kesempatan yang lengkap. Bisa ngopay daaan….

Kedua, ternyata pemandangan dari koridor depan ruang meeting tersebut adalah kolam renang infinity pool yang luas… Alhamdulillah lengkap sudah.

Maka sebelum acara resmi dimulai, langsung pesen kopi caffelatte dan mengabadikannya dengan background kolam renang.

Cetrek…. inilah hasilnya.

Sebuah gambar yang mewakili tema besar dari blog ini yaitu ngopay dan ngojay, memberi kesan tersendiri. Meskipun jelas bahwa ini bukan hanya kebetulan dan keberuntungan saja. Tetapi sebuah takdir dari Illahi Rabbi. Maka tunduk syukur dan berdua adalah sebuah ritual pribadi dari segala kemudahan ini. Baru setelah itu srupur tiada henti…. eh… maksudnya sruput dulu dan jika dimungkinkan pesan lagi. Karena petugas hotel yang menggawangi mesin kopi tetap setia berada disisinya dan disibukkan dengan reques para penikmat dan pecinta kopi yang hadir dari berbagai penjuru nusantara untuk hadir di meeting ini.

Sebuah nama tersemat untuk secangkir kopi ini, yaitu Mariotalatte Yogya. Maafkan jika terkesan maksa, namun itulah keindahan kata yang menjadi pengingat tentang sebuah rasa, kesan, tempat dan kenyataan.

Selamat ngopay dan diskusi kawan. Wassalam (AKW).

Yogya, Kopi & Mati

yogya dan kopi, bersabarlah.

SOSROWIJAN, akwnulis.com. Perjalanan kali ini adalah kembali ke kota kenangan, Yogyakarta. Tentu berbalut penugasan kedinasan, tetapi di sela padatnya jadwal harus bisa mlipir sedikit untuk menikmati si kopi hitam. Maka skenario dirancang meskipun eksekusinya menyesuaikan, ada plan A, plan B dan no plan alias spontan lihat situasi.

Ternyata yang kepake adalah No plan euy, karena keberangkatannya begitu mendadak acaranya cukup padat. Jadi harus pinter – pinter baca, yakni baca situasi.

Perintah datang di rapim dan tak banyak waktu berkemas. Langsung pesan tiket kereta untuk keberangkatan di malam hari. Tentu stasiun Bandung menjadi saksi, berangkat sendiri karena yang lain agak kesulitan kalau didadak untuk berangkat. Ya sudah, Bismillah.

Dengan perkembangan teknologi maka pemesanan tiket kereta dan hotel bisa dilakukan segera. Apalagi setelah vaksin 3 kali, sudah tidak lagi harus rapid tes antigen.

Nah kesempatan pertama menikmati kopi adalah cafelatte di stasiun bandung, akan tetapi harapan tinggal harapan. Waktu yang tersedia begitu terbatas sehingga pilihannya adalah bersegera memasuki stasiun dan mencari gerbong KA Mutiara Selatan yang akan menjadi tempat bermalam sambil bergerak menuju stasiun tugu yogya.

Kesempatan kedua adalah menikmati kohitala di restoKA atau menunggu petugas restoKA yang bergerak mendatangi penumpang secara berkala. Baiklah ditunggu di kursi saja sambil sedikit rebahan meluruskan badan dan pikiran karena akan menghadapi perjalanan dengan estimasi selama 8 jam.

Tapi lagi – lagi harus bersabar karena menu kopi hitam sudah keburu habis di gerbong lainnya. Hehehe gagal ngopay kedua kali. Maka pilihan terbaik adalah mencoba kontak istri dan anak dan ngobrol ngaler ngidul di telepon. Sudahlah malam ini dipastikan untuk beristirahat dulu.

***

Tepat jam menunjukan pukul 03.30 wib waktu yogyakarta. Raga ini harus turun dari gerbong dan bergegas keluar. Karena kalau tidak segera turun, akan terbawa pergerakan kereta selanjutnya, menuju pemberhentian akhir di stasiun gubeng Surabaya.

Maka setelah keluar area stasiun tugu bergegas menyebrang jalan dan memasuki jalan gang menuju jalan sosrowijan. Pede saja seperti yang sudah biasa di yogya, padahal bermodal petunjuk googlemap di smartphone. Tujuannya jelas sebuah hotel kapsul yang bernama The Capsule Hotel Malioboro.

Kok milih hotel kapsul sih?”

Ada beberapa pertanyaan senada dan jawabannya simpel saja. Itulah gayaku, menikmati menjadi backpackeran beberapa jam adalah kebahagiaan tersendiri. Sekaligus mengingatkan diri pada ujung kehidupan bahwa segala keindahan, kemudahan hidup ini akan berakhir pada kotak tanah nan sempit, gelap dan lembab dikala nyawa sudah tidak dikandung badan. Nah kotak hotel capsule ini bisa mengingatkan lagi itu semua.

Terkait sruput kopi masih harus menanti kesempatan dengan sabar. Sekarang saatnya meluruskan badan dan terlelap sejenak. Wassalam ( AKW).

Gedung Negara Sumedang & Aku.

Ternyata sang waktu begitu cepat berlalu, tapi memori tetap abadi.

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala mentari pagi hampir muncul di ufuk timur, maka raga ini sudah bergegas keluar kamar mandi dan bersiap dandan berbenah diri tak peduli hari ini tanggal merah atau tidak. Karena sebentar lagi tugas – tugas telah menanti.

Teeeeeeett teeeeeeet…”

Benar saja, tepat jam 06.30 suara bel panggilan menggema. Kaki melangkah cepat menuju sumber suara dan langsung berhadapan dengan atasan yang menanyakan dengan metode 5W1H.

Apa saja acara hari ini, Siapa saja pendamping dinas yang hadir, Berapa orang tamu yang akan datang, Dimana akan diterima dan Mengapa harus pagi dan siang menerimanya dan Bagaimana teknisnya?”

Berondongan pertanyaan yang langsung diberikan jawaban lengkap dan tegas. Terlihat air muka atasan tidak menegang, tandanya beliau menerima semua jawaban ini dan ditutup singkat dengan kalimat, “Oke dipersiapkan semua dengan baik”

Siap Bapak”

Barulah raga ini balik kanan dan langsung menuju ke dapur untuk bersua dengan menu sarapan serta secangkir teh hangat sebagai mood booster dalam hadapi rangkaian acara yang begitu padat di hari sabtu ini.

Rangkaian acara dimulai di jam 07.30 wib bertempat di alun – alun, dilanjutkan jam 10.00 menuju ke daerah Darmaraja dengan judul peresmian puskesmas hingga kembali ke gedung negara dan pukul 14.00 wib menerima tamu dari tokoh nasional didampingi para kepala dinas dan asisten dilanjutkan pukul 16.00 menerima audiensi seniman dan budayawan hingga dilanjutkan malam harinya berdiskusi tentang pengembangan konsepsi pembangunan di kampung toga bersama beberapa komunitas dan tokoh masyarakat, sambil bermalam minggu menikmati city light kota Sumedang.

Ternyata …

…..itu adalah memori 20 tahun yang lalu… oh my God, betapa berkah perjalanan waktu begitu ajaib. Serasa semua itu baru terjadi kemarin. Alhamdulillah Ya Allah diberikan berkah waktu yang menakjubkan. Semoga terus diberi kesempatan umur yang panjang penuh keberkahan.

Memori 20 tahun lalu dikala ditugaskan mengabdi menjadi ajudan bupati Sumedang yang penuh dinamika serta suka duka menjadi pondasi dan pijakan awal untuk meniti karier menjadi birokrat muda hingga saat ini. Menjadi ‘buntut gajah‘ alias ajudan Bupati yang tinggi besar, tegas serta penuh wibawa, Bapak Drs. H. Misbach yang memegang jabatan bupati sumedang periode 1998- 2003.

Maka berada di gedung negara Sumedang kali ini begitu sarat makna. Terima kasih bapak Bupati Sumedang saat ini, Bapak Dony Munir yang berkenan mengundang untuk hadir disini menikmati dan memaknai kenangan masa lalu. Juga terima kasih kepada bapak Kadisparbudpora dan Kabid pariwisata kab sumedang yang juga dulu pernah mengabdi menjadi ajudan bupati sumedang meskipun berbeda periodesasinya.

Raga bergerak menyusuri ruang tengah gedung negara, menatap kursi – kursi dan penataan cahaya yang menguatkan makna sebuah kenangan. Berjalan ke aula depan gedung negara, kembali disuguhi suasana tenang dan jendela-jendela kaca yang pernah menjadi saksi pontang pantingnya seorang birokrat muda untuk mendampingi pak Bupati yang selalu tegas plus perfeksionis.

Ahh… tak habis kata untuk terus berceritera. Namun biarlah kenangan lengkapnya menjadi memori indah yang tersimpan di kepala serta sebagian dititipkan di berbagai tempat di gedung negara.

Maka beberapa pose penting sedang berdiskusi di kursi bapak bupati dikala memimpin rapat di ruang tengah gedung negara, yang diperankan bersama kabid pariwisata sumedang menjadi replika kenangan yang tak ternilai serta penuh makna. Lalu berpose sendiri dengan berusaha hadirkan senyum terbaiknya. Alhamdulillairobbil alamin.

Tidak lupa juga mlipir ke belakang melewati pintu keluar dan menikmati sentuhan semilir angin di pinggir kolam besar yang dikenal dengan ’empang gedung negara’ serta ditengah terdapat bangunan mushola yang sering menjadi tempat favorit untuk kontemplasi diri, 20 tahun lalu. Wassalam (AKW).

NYÈRÈNGÈH – fbs

Teu pira sakerejep wèh..

BRAMBANGAN, akwnulis.com. Panon geus dipeureumkeun bari teu poho babacaan, tapi kalahka beuki cènghar. Beunta deui bari ningali jam nu naplok dihareupeun, geus ngadeukeutan waktuna indung peuting.

Padahal beurang tadi pabeulit gawè cilingcingcat kaditu kadieu.  kuduna mah capè. Tapi beuki seger waè. Meuni kasiksa. Kahayang mah gèk diuk dina korsi nu merenah tèh tuluy nundutan. Reup sarè bari ngimpi nu èndah, kabayang nikmat pisan. Pas gigisik sautik, laju beunta tèh geus nepi ka nu dituju. Kari jrut turun, cènghar teu tunduh deui.

Tapi geuning kahayang ogè lamunan teu sajalur jeung kanyataan. Istuning patukang tonggong.

Babacaan deui, sugan wè pitunduheun datang. Panon dipeureumkeun lalaunan. Gebeg tèh, korsi gigireun aya nu nyèrèngèh.

Pas panon beunta mah suwung, korsi gigireun kosong euweuh sasaha.

Lalaunan dipeureumkeun, janggelek aya deui. Huntu rogès nyèrèngèh. Teu loba carita, nangtung bari beunta. Pindah kana korsi kosong di tukang bari teu eureun istigfar.

Karèk gè gèk dieuk, beunta kènèh. Gigireun geus nyèrèngèh. (AKW).

TERAPI IKAN & LUWAK LIAR

Menanti magrib sambil dicumbu bibir imut terapi ikan.

GARUT, akwnulis.com. Cerita perjalanan kali ini bertema binatang lho, yaitu kombinasi dua jenis binatang berbeda yaitu ikan dan luwak. Mereka berdua bisa dipertemukan oleh sebuah cerita yang penulis susun berdasarkan pengalaman nyata.

Tema utama dalam tulisan selama ini adalah ngopay kohitala alias minum kopi dengan sajiannya kopi hitam tanpa gula, tentu dengan penyeduhan manual yang hasilkan citarasa apa adanya sekaligus mengeksplorasi rasa biji kopi yang sebenarnya.

Tetapi di bulan ramadhan ini aktifitas ngopay jelas berhenti disiang hingga magrib tiba, karena penulis sedang berpuasa. Sementara gelora menikmati kohitala tetap bisa terlaksana setelah tarawih atau ba’da isya, hanya saja penyajian di rumah tentu akan hadirkan kebosanan bagi pembaca. Juga biji kopinyapun tak banyak pilihan yang ada, tinggal kopi arabica natural sugih wangi dan arabica wine java preanger papandayan saja.

Maka perjalanan ke garut ini menjadi kesempatan untuk kembali eksplorasi kopi yang ada, tanpa tersekat batasan dari stok kopi yang ada. Hanya saja karena masih siang, mampirlah untuk shalat dhuhur asyar di sebuah mesjid yang asri yaitu mesjid Iqro di daerah leles kabupaten garut.

Mesjid ini begitu nyaman, bersih dan luas, ada yang unik bahwa untuk di dekat mihrab imam terdapat undakan anak tangga dan space untuk shalat. Begitupun di kanan kiriya ada lantai dengan ketinggian berbeda. Ini mempermudah membedakan bagi calon makmum untuk bergabung di jamaah shalat biasa ataupun jamaah shalat jama.

Setelah tuntas melaksanakan shalat barulah bersua dan bercengkerama dengan ikan – ikan kecil di dalam kolam yang begitu aktif membersihkan kulit mati di kakiku dengan judul fish spa atau terapi ikan.

Yup, mesjid Iqro ini begitu memanjakan siapapun yang akan menunaikan sholat dengan suasana yang adem dan dilingkupi pohon rindang plus fasilitas ditengah area masjid antara tempat wudhu dan tempat shalat terdapat kolam ikan yang berisi ikan-ikan khusus untuk lakukan terapi ikan.

Memang perlu waspada dengan terapi ikan ini karena beberapa pakar kesehatan memperingatkan kemungkinan penyebaran penyakit. Tapi menurut penulis, yang terpenting kaki yang direndam dan dikerubutin oleh ikan imut tapi agresif ini tidak ada luka terbuka sekecil apapun sehingga menghindari peralihan virus dan bakteri.

Tuntas shalat dhuhur dan asyar dalam kerangka jama qoshor, saatnya merendam kaki dan bercengkerama dengan mulut ikan imut yang terlihat bersemangat mencopoti kulit mati. Geli sekali rasanya juga seperti kesemutan, tetapi setelah konsentrasi dan mengatur nafas perlahan… Alhamdulillah… tetap geliii guys.

Kaki kiri tidak berani berlama-lama di rendam dalam air kolam ini karena masih ada jahitan pasca operasi yang khawatir menimbulkan luka baru karena di ciumi oleh bibir lembut kawanan ikan imut ini. Khan berabe nanti kalau terluka lagi.

Lalu kaitannya dengan binatang luwak adalah dikala adzan mahrib berkumandang, maka segera berbuka dengan potongan buah – buahan yang manis dan dilanjutkan shalat magrib. Lalu acara inti bersama luwak adalah menikmati sajian kohitala arabica java preanger Luwak liar dari gunung papandayan, cerita lengkapnya di KOPI LUWAK LIAR CIPANAS GARUT.

Maka tuntas sudah tulisan bertema 2 binatang ini, ikan di kolam dan luwak di biji kopi berjumpa bersama dalam tulisanku karena keduanya dalam waktu yang sama berjumpa di kabupaten garut. Selamat bermalam minggu dan bertarawih bersama. Srupuuut, Wassalam (AKW).

Kopi Luwak Liar Java Preanger – Cipanas Garut

Merasakan citarasa liar dari kohitala.

GARUT, akwnulis.com. Catatanku kali ini tetap berkutat di seputar pengalaman ngopay (ngopi) yang dilakukan di bulan ramadhan 1443 hijriyah ini, tentu dilakukan pasca kumandang adzan magrib menggema dan prosesi pembatalan puasa terlaksana di meeting area Hotel Harmoni. Nah berbuka puasa tetap dengan air putih dan potongan buah-buahan yang ada dilengkapi sedikit cemilan siomay dan burayot yang menjadi kue khas di garut ini.

Setelah tuntas pembatalan puasa, shalat magrib dan akhirnya memastikan acara resmi tuntas. Saatnya berburu kenikmatan ngopay di garut ini, tepatnya di kawasan Cipanas.

Tadinya ada ide untuk berendam, khan cipanas adalah daerah yang kaya air panas alami yang berasal dari gunung….  Tetapi dengan waktu yang terbatas dan harus kembali ke bandung untuk dan atas nama keluarga serta bejibunnya tugas dinas, maka aktifitas berendam air panas di tunda menunggu saat yang pas.

Meluncurlah ke sebuah tempat ngopay yang difasilitasi bos Yudi dan rengrengan, nuhun pisan. Nama tempatnya RM Saung Pananjung Cipanas Garut.

Menu makanannya bervariasi dan tempatnya nyaman, tetapi konsentrasinya adalah ke ujung kiri pas pintu masuk, dimana pojokan ini adalah markas sang barista meracik kopi dan ditemani peralatan manual brew plus mesin dilengkapi jajaran bean siap diproses. Beannya cukup lengkap dari wine, natural, honey gunung papandayan serta kopi luwak dengan pilihan luwak liar dan luwak penangkaran.

Pesan V60 bean luwak liar ya kang”
Mangga kang”

Maka tanpa berlama-lama, sajian V60 manual brew berproses dan tersaji. Disajikan langsung oleh sang barista, kang Rasid.

Sebuah sajian kopi manual brew dengan beannya yang spesial dihargai 45 ribu rupiah, lebih mahal 5 ribu rupiah dari kopi luwak penangkaran. Tepatnya beannya adalah Kopi Luwak Liar Java Preanger (KLLJV)

Sebuah cerita dari sang Barista, membahas tentang asal muasal kopi yang baru saja dinikmati yaitu kopi luwak liar dari hutan sekitar gunung papandayan.

Katanya proses pengumpulan bean kopi ini dikumpulkan oleh petani dari ceceran kotoran luwak liar yang berada di sekitar hutan di gunung papandayan. Nggak kebayang bagaimana mulungannya (mengumpulkannya)… tapi penulis berusaha percayai bahwa proses itu terjadi, mungkin besok lusa pengen juga ikutan kukurusukan ke hutan merasakan betapa sulitnya melakukan pengumpulan kopi dari (maaf)… keluar dari pantat binatang luwak ini.

Udah ah, sekarang saatnya menikmati sajian kohitala spesial ini, bismillah.

Rasanya enak dan berbeda, ada kepahitan diujung lidah yang meyertai sebuah body medium dan acidity menengah yang mudah dirasakan tanpa perlu terkaget oleh rasa asam yang berat. After tastenya agak sulit didefinisikan karena terasa banyak campurannya, tetapi yang cukup menarik adalah selarik rasa manis hadir ditengah kepahitan yang mendera.

Itulah salah satu cerita singkat ngopay di ramadhan tahun 2022 ini, pertemuan singkat namun bermakna. Tidak bisa berlama-lama karena tarawih dan witir sudah menunggu untuk segera terlaksana. Oh ya disini juga tersaji steak domba dan domba bakar yang juga miliki kenikmatan sensasi rasa berbeda.

Sekali lagi hatur nuhun fasilitasinya Bos Yudi serta ditemeni Ezi, jangan bosen ya. Srupuut.. Wassalam. (AKW).

***

Lokasi : RM Saung Pananjung, No 509 Tanjung, Jl. Raya Cipanas Pananjung Kabupaten Garut. Provinsi Jawa Barat 44151.

BERPISAH

Alhamdulillah, Akhirnya terbebas sudah..

KOPO, akwnulis.com. Perjalanan pagi sedikit berdebar mengingat akan ada keputusan besar yang ditentukan berdasarkan kondisinya, dilengkapi standar keilmuan dan pengalaman yang mumpuni. Tapi tetap terselip rasa khawatir andaikan putusan yang hadir jauh dari keinginan dan harapan. Namun itulah makna kehidupan, dimana harapan dan kenyataan tidak selalu seiring sejalan. Minimal adalah kita senantiasa tidak kehilangan harapan, berikhtiar optimis dalam segala hal.

Diawali dengan registerasi lalu antri untuk mendapatkan tindakan dan perhatian, diskusi santaipun berjalan dengan terapis yang bermasker double sebagai standar prokes yang dijalankan. Di lantai 3 RS Immanuel Bandung.

Masuk registerasi kedua dan beranjak ke lantai 1 untuk photo rontgen, sebuah pelayanan prima hadir dari Pak Amar, seorang ambulatory*) yang baik hati dan menjadi sahabat baru selama 3 bulan ini. Lancar sudah berphoto di ruang rontgen ini, meskipun ukuran photonya nggak bisa milih karena sudah ditentukan dan hasilnya adalah photo klise besar dan nggak berwarna, cuma hitam putih aja. Tapi tetap diterima karena itu syaratnya untuk kontrol ke dokter spesialis orthopedi.

*)Ambulatory adalah istilah yang digunakan untuk petugas yang melayani pasien rawat jalan, jadi pelayanan khusus dari mulai turun dari kendaraan di lobi hingga diantar ke tempat pendaftaran, rontgent hingga ke poliklinik.

Nah istilah bahasa inggris juga menyebutkan bahwa ‘ambulatory care’ artinya rawat jalan.

Tadinya kirain orangnya disebut ambulator, eh ternyata artinya beda lagi… ya udah ah.

Kembali ke lantai 3, getar khawatir melingkupi diri. Tertatih dengan kruk tongkat penyangga di tangan sebelah kiri, memasuki lift dan tetap optimis bahwa putusannya nanti dari dokter yang terbaik harus diterima dengan keikhlasan.

Bapak AndrieKW, silahkan ke ruang dokter” Suara perawat memanggil, maka raga ini bergegas. Dokter Alvin, seorang dokter muda yang berdedikasi, menyambut dengan wajah cerah dan senyum merekah meskipun tertutup masker di hampir separuh wajah.

Mempersilahkan duduk dan menunjukan hasil rontgent beberapa saat lalu, “Ini hasil photo rontgent terakhir pak, kalus sudah terbentuk di sisi kanan dan kiri tulang yang patah, serta kondisi tulang yang semakin membaik, bapak boleh lepas tongkat penyangga, Congratulation”

Alhamdulillahirobbil alamin” Sebuah ungkapan bahagia setelah 3 bulan terbatas bergerak karena harus berkursi roda dan kruk penyangga, hari ini kembali normal meskipun tetap harus ekstra hati-hati dan bertahap.

HORE…

HORE…

Tanpa banyak kata segera beranjak pergi dan hindari menggunakan tongkat penyangga. Tapi nggak ditinggal di rumah sakit tongkatnya, karena harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Lalu kursi roda yang setia di bagasi mobilpun harus berakhir tugasnya, setelah sekian purnama menemani menjadi sahabat karib, hari ini harus rela berpisah dan kembali ke markasnya di Museum Sribaduga.

Meskipun harus tetap menggesek ATM untuk proses registrasi-terapi-rontgentphotograpy-kontrolisasi tetapi keputusan yang dinanti meringankan suasana hati. Lepas tongkat dan kembali normal sabihara bihari.

Goodbye kursi roda, dadah tongkat kruk penyangga. Tugasmu sudah tuntas menemani hari-hariku dalam menjalani kejadian patah kaki ini. Tak usah bertemu di lain hari, tetapi menjadi memori yang abadi. Wassalam (AKW).

Kong Djie Coffee – Karawang Belitung

Kopi hitam dari sebrang, dinikmati di karawang.

KARAWANG, akwnulis.com. Sebuah langkah menggerakkan raga ini, untuk mencari sesuap nasi eh segelas kopi yang berada di sekitar acara tetapi tentu memiliki ‘sesuatu’ untuk dinikmati bersama.

Maka mbah google dan getok tular serta interogasi singkat kepada mitra yang berada di karawang melengkapi pencarian ini. Meskipun akhirnya harus kompromi dengan rute arah pulang karena ternyata tugas lain menunggu kehadiran, agar catatan ‘tiada kesan tanpa kehadiranmu’ tidak terjadi.

Google map mengarahkan ke area Grand Taruma dan disitulah kami bersua dengan warung kopi eh kedai kopi atau lebih tepatnya cafe dech, karena terletak di sebuah ruko yang strategis. Nama cafenya ‘KONG DJIE COFFEE’.

Maka, nongki dan ngopi dulu kitaaah….

Sambil sedikit terkesima oleh tempat kopi dari almunium atau stainless kali ya… yang berjajar sesuai ketinggian, tatap mata beredar dan tangan berusaha mengendalikan layar smartphone untuk mendokumentasikan kenyataan. Tentu secara etika meminta ijin sang barista eh teteh dan aa yang melayani untuk di rekam.

Mereka setuju dan tentu senang karena cafenya akan semakin viral. Inilah jaman dokumentasi digital, dimana semua informasi berbentuk gambar dan video begitu mudah didapatkan. Jadi siap – siap viral ya guys.

Pilihan menu utama adalah kohitala, kopi hitam tanpa gula dan disini kopi hitam adalah menu utama, hitam sehitam-hitamnya yang disajikan dengan gelas kaca dilengkapi sendok kecil dan segelas kecil gula putih yang disajikan terpisah. Tetapi sesuai prinsip kohitala, maka gula putih hanya pemanis dokumentasi saja.

Menu tambahannya adalah es coklat yang juga ‘katanya’ khas rasanya, rasa coklat hehehehehe..

Udah ah, balik lagi ke kopi. Pas disruput serasa kenal ini rasanya, pahit flat tanpa rasa asam tetapi keharuman kopinya mengingatkan sebuah perjalanan tahun – tahun lalu ke kepulauan belitung…. iya bener ini rasa kopi belitung. Maka bergegas mencari tulisan – tulisanku yang lalu dikala beredar di pulau belitung, ini dia linknya :

1. Berburu Sunset di Pulau Belitung
2. Ber-Levitasi di Pulau Belitong
3. Rumah keong di Belitong

Srupuut… kepahitan merata memenuhi mulut yang sedikit ternganga, memberi sensasi berbeda dan kesegaran di dalam dada. Nikmaat.

Jadi bagi penikmat kopi ataupun penongkrong sejati, jangan lewatkan kesempatan ini. Jika lihat di google, ada beberapa tempat Kopi Kong Djie ini, tidak hanya di Karawang tapi tersebar banyak… tinggal milih aja yang terdekat.

Nah iseng nanya ke tetehnya, “Apa bedanya wadah-wadah stainless ini dengan tinggi variasi ini?”

Isinya sama om, kopi siap untuk disajikan, bedanya hanya ukuran saja”

Ternyata sesederhana itu jawabannya, padahal jelas kehadiran empat wadah  stainless tersebut memberi daya tarik tersendiri sebagai salah satu penciri dari cafe kopi ini. Have a nice day, dan selamat beredar di karawang dan sekitarnya kawan. Wassalam (AKW)