Wild Luwak Coffee.

Bercengkerama dengan Luwak sambil nikmati Wild Luwak Coffee di sini….

Photo : Senyum Ayu Baristi dan se cup Wild luwak coffee / dokpri.

UBUD, akwnulis.com. Berjalan diantara para penjual kerajinan di pasar Ubud Gianyar Bali bikin betah dan panas terikpun seolah bukan halangan. berbagai produk kriya, bermacam kerajinan menghadirkan pilihan yang sangat beragam.

Tetapi karena bukan itu fokusnya, maka hanya sebatas cuci mata dan nengok kanan kiri saja, sementara ibu-ibu dengan kemampuan alamiahnya pasti akan memilah memilih dan akhirnya menjinjing hasil pilihan terbaiknya untuk menjadi souvenir seseorang.

Setelah lurus dan hampir mencapai ujung pasar kerajinan Ubud ini, akhirnya sepasang mata tajam dengan moncong berkumis menyambut dengan senyum liarnya.. interesting.

Bulu halus hitam menutupi seluruh raga yang begitu lincah dan gemulai, mengajak lebih masuk ke dalam sebuah kedai yang dominan hiasan bali.

Photo : Cafe Bali Star di Ubud Gianyar Bali / dokpri.

Tiba di dalam disambut lebih akrab oleh para baristi Kafe Bali Star dengan senyuman tulusnya dan menawarkan berbagai varian kopi asli yang menggugah selera, klo nggak salah namanya Ayu.

Berhubung sang moncong berkumis sudah menguntit terus dari belakang, tak ada salahnya mencoba bercengkerama lebih akrab meskipun bebas dari kepentingan.

Perlahan tapi pasti kulitku bersentuhan dengan telapak kaki eh tangan mungil yang lembut tapi penuh tenaga untuk mencengkeram… awww… Sang Luwak tetrsenyum sambil nengok ke kanan dan ke kiri, “You kenapa?, sakit tangannya?”

“Nggak Wak (maksudnya luwak), cuman geli-geli gimana gitu”

Sang Luwak tersenyum penuh arti, lalu bergerak menaiki pundak, leher dan kepala… aduh calutak pisan (Nggak sopan), tapi mungkin inilah dampak dari sok akrab….. jadi aja nggak mau lepas, susah mau berpisah… ada chemistry kayaknya…

Photo : Senyum penuh kegetiran / pic by NN.

Sambil sang Luwak masih bertengger, pilihan kopi yang akan dinikmati tanpa gula semakin menarik.Di cafe Black Eye sudah menikmati manual brew V60 arabica kintamani, maka di Cafe Bali Star ini harus mencoba yang paling spesial… yaitu ‘Kopi Luwak Liar’.

“Apaan tuh?”

Kopi luwak liar adalah kopi yang langka karena tidak ditanam dan tidak dibudidayakan, begitupun luwaknya bukan luwak yang berada di kandang atau di penangkaran, tetapi luwak liar yang berada di hutan…..

Tadinya memang tidak tertarik dengan kopi luwak, karena selain terbayang binatang luwaknya yang terkungkung jeruji kandang dan mungkin jadi sedih karena keterkekangan, juga dari sisi harga memang bisa di nilai selangit.

Tapi disini, rasa penasaran adalah sebuah modal untuk mencoba sajian kopi yang berbeda, biji kopi yang berasal dari hutan dan di fermentasi oleh pencernaan luwak liar, maka bisa menghasilkan rasa spesial khas bin unik.

“Ini jenis kopinya arabica atau robusta?”

“Nggak tau om, saya beredar di hutan terus ada pohon kopi siap makan, ya makan dech…… trus entar…… procot….. legaaa” gitu Sang Luwak yang makin menggelendot manja, meskipun gigi tajamnya mulai iseng gigitin jari, meskipun gigitannya penuh kasih sayang…. tapi jari jemari penuh dengan air liur luwak itu… sesuatu bingiiiit……

Tisu basaah… mana tisu basaaah!!!..

***

Sajian kopi luwak liar diproses oleh (neng) Ayu sang baristi, dengan panas air 80° celcius menggunakan perbandingan 18 gram diadu dengan 230ml air….. “gimana rasanya yaaa?”

Asli bikin penasaran….

Nunggu dulu sambil mengamati proses manual brewnya, tangan sang baristi cekatan mengolah proses mengawal sebuah cerita tentang prosesi kopi yang bisa memberi arti dan jalinan cerita yang terkadang tidak untuk dimengerti, tetapi melekat di hati.

Tak berselang beberapa menit…..

“Silahkan Mas”

“Makasiiih”, Secangkir cup kertas disorongkan ke muka, dengan cekatan segera di terima. Di cafe ini, kopinya tidak disajikan dengan bejana saji dan gelas kaca tetapi cukup dengan cup kertas di tambah stiker bertuliskan ‘Wild luwak Coffee’…. Srupuuuut…..

Woaah rasanya agak asing… enakkkkk ….. Bodynya low, acidity medium tetapi aftertastenya muncul rasa manis alami yang agak sulit di definisikan… dan ternyata inilah khasnya kopi luwak liar…. ada rasa manis alami yang selarik muncul tetapi dengan rasa khas alami…. eddddun euy.

Menurut Ayu baristi, kopi luwak penangkaran menghasilkan rasa asam (acidity) yang tebal dan ninggal, tetapi minim rasa manis seperti kopi luwak liar ini…. sayangnya tidak keburu menikmati kopi luwak penangkaran karena agenda perjalanan ada yang harus dituntaskan.

Akhirnya harus berpisah dengan si monyong lucu yang menggemaskan, seekor luwak yang sudah agak jinak, meskipun wajahnya tetap memperlihatkan pandangan tegas dan berbahaya.

dahhh luwak..
dah baristi…. dadaah semuaa… muaach… good bye.

Untuk harga per cup eh persajian agak lupa karena ada yang nraktir hehehe… makasih mas DK & kang IR… jangan bosan yaaa.

Akhirnya kembali melewati kembali pasar kerajinan dengan membawa sebuah kenangan, pernah bercengkerama dengan Sang Luwak sekaligus menikmati sajian kopi luwak liar, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Cafe Bali Star
Jl. Karna, Pasar Kriya Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.

Main air di Citumang

Main air di Citumang yang ternyata dalam lho….

Photo : Jernihnya air sungai Citumang / dokpri.

CITUMANG, akwnulis.com. Adzan shubuh di aplikasi smartphone membangunkan raga menenangkan jiwa. Segera beranjak wudhu meskipun rasa dingin mendera. Tadinya mau membuka gordeng dan membiarkan mata bisa memandang keindahan alam di HAU Citumang ecolodge ini…. ternyata masih gelaap. Apalagi posisi jendela dinding kontainer ini lebar dan besar sehingga jikalau gordeng dibuka dan suasana terang benderang dalam kamar kontainer maka malah jadi aquarium jikalau dilihat dari luar.

“Emang kamu nginep dimana?”

Monggo baca Nginep di Hutan Citumang, Pangandaran… atau cerita sebelumya yaitu Sunset di Batukaras.

Photo : Jalan menuju Kontainer & glamping / dokpri.

Tepat pukul 06.00 wib baru berani menjejakkan kaki keluar dari kamar kontainer, dengan stelan celana pendek dan sandal gunung karena akan mengeksplorasi alam yang begitu dekaaat dan pasti menantang.

“Sedekat apa?”

Dekat banget kawan, keluar kontainer, turun tangga.. langsung bersua dengan sungai Citumang yang airnya jerniiih bingiiit…. perlahan memasukan kaki ke dalam air bening dingin menyegarkan….

Photo : Sungai Citumang dg variasi kedalaman sd 4-5 meter / dokpri.

Oh iya lupa… diambilin rompi pelampung, fasilitas gratis dari HAU Citumang ecolodge, plus 2 perahu kano warna pink dan biru lengkap dengan dayungnya…. jadi pelampung wajib di pakai karena kedalaman sungainya sangat variatif…. dari mulai semata kaki hingga 10-15 meteran, atau lebih yach?… soalnya nggak berani ngukur kedalamannya.

Photo : Tempat bersantai di sekitar kontainer kamar / dokpri.

Perlahan tapi pasti badan mulai terendam dan…. 10 meter bergerak, kaki sudah tidak bisa menapak ke dasar sungai…. dilihat bahwa kedalaman sungai sekitar 2 hingga 3 meteran, dasar sungai bisa dilihat karena begitu jernihnya air yang mengalir ini.

Agak menegangkan tetapi tetap tenang karena banyak kawan-kawan. Bergerak lagi, air sungai mendangkal dan terdapat sebuah bendungan yang membentuk kolam buatan berkedalaman 1,5 meter. Serasa mandi berenang di kolam renanggg…..

Photo : Berpose di bendungan / dokpri.

Didepannya adalah tanggul bendungan yang diperkirakan 20 meteran tingginya. Dibalik tanggul bendungan itulah aliran sungai berwarna hijau seolah terdiam padahal menyisakan kedalaman yang cukup bikin menegangkan… dalem banget bro dan masih suasana hutan yang tenang tapi bisa menghanyutkan atau malah menenggelamkan.

Oh ya, bendungan ini juga berfungsi menjadi irigasi, mengatur aliran air untuk fungsi pengairan. Nah selokan pengairannya itu bisa digunakan untuk papalidan… palid = hanyut, euh maksudnya body rafting... tapi jangan sendirian.. khawatir ketiduran dan hanyut sendirian, apalagi terhanyut dalam kenangan para mantan….. beraat bingit kawann.

Photo : bersiap loncat ke saluran irigasi / dokpri.

Jadi bareng-bareng kawan, dijamin rame ramai, penuh canda dan gelak tawa serta menghasilkan pengalaman tak terlupakan…..

Jadi tidak ada pilihan lain, buat yang penasaran. Datanglah ke Pangandaran, selain sensasi bermain air di pantai juga bisa menikmati sensasi adrenalin dengan air tawar yang dingin menyegarkan dan dijamin jadi pengalaman tak terlupakan. Wassalam (AKW).

Rapat di Hutan Citumang

Rapatnya di pinggir hutan, nyampe malem lagi.

Photo : Ruang makan pinggir tebing sungai di sulap jadi ruang rapat / dokpri.

CITUMANG, akwnulis.com. Malam semakin larut tetapi diskusi terus berlanjut. Adu argumen berpegang regulasi bersama dengan data yang dibalut narasi, menjadikan perdebatan malam ini padat berisi.

Judulnyapun pake istilah LB.. luarbiasa karena ini adalah RUPS-LB, selain regulasi yang menyebut LB atau dalam UU 40/2007 disebut RUPS lainnya maka cocok bingit dengan suasana rapat malam yang luar biasa…

“Emangnya seluarbiasa apaan gan?”

Pertama, Rapatnya malam-malam. Bukan sengaja ingin malam hari, agendanya dari jam 14.00 wib, tetapi ternyata poin bahasannya begitu banyak dan perlu pembahasan yang cukup mendalam, maka ba’da magrib masih dilanjutkan dengan semangat kebersamaan.

Photo : Suasana sebagian peserta rapat / dokpri.

Kedua, Rapatnya di hutan, ruang rapat outdoor berbatasan langsung dengan sungai dan pepohonan besar yang begitu alami, menyegarkan tetapi semakin malam, terasa angin bertiup makin dingin dan kencang… awwww.

Ketiga, Meskipun rapat di hutan, peserta rapat datang dari berbagai penjuru angin dengan beragam kendaraan. Ada yang bermobil dan bermotor roda 2, dari bandung, tasik, ciamis dan sekitarnya.

Keempat, Fasilitas nginepnya yang ajibb… di dalam kontainer lho… di tengah hutan. Pepohonan besar melingkupi jajaran kontainer… yang disulap jadi kamar lengkap dengan tempat tidur dan kamar mandi bersih wc duduk serta shower air panas…

“Udah ah segitu dulu…. luar biasa nggak?”

“Iya bener… sensasionaaal, dimana itu teh tempatnya?”

Photo : Indolor adalah obat kedinginan di kala rapat berlangsung / dokpri.

Namanya HAU Citumang Ecolodge, sebuah kawasan wisata alami dengan model glamour camping (glamping)… menyatu dengan alam bebas tetapi tetep didukung fasilitas menginap yang memadai. Selain kontainer yang disulap menjadi lamar hotel terdapat juga lokasi glamping yang cocok buat bareng-bareng keluarga…. .1 bangunan kontainer bisa diisi hingga 10 orang dengan tidur di lantai beralaskan kasur empuk tentunya dan toilet memadai.

Tulisan tentang tempat glamping di Bandung utara, klik aja disini, Ber-Glamping di Trizara.

Berlokasi di pinggir sungai Citumang Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran, sekitar 30 menit perjalanan dari pantai wisata pangandaran.

Lokasi tepatnya mah… gampang sekarang, googling aja guys. Ribet amat tanya-tanya. Pasang aplikasi gugelmep, ikutin petunjuk. Meskipun harus hati-hati jikalau perjalanan malam hari, pengalaman peserta rapat yang harus memutar jauh karena salah satu akses jalannya terhambat oleh proyek pengecoran jembatan… terpaksa musti muter-muter masuk hutan dalam keheningan yang (katanya) mencekam.

Yang pernah body rafting atau tubing pasti udah tau namanya Citumang, tetapi nginep di kontainer pinggir sungainya (mungkin) belum pernah kesampaian….

***

Rapat tuntas menjelang tengah malam, hasilkan kesepakatan yang menjadi ikhtiar kemajuan bagi lembaga juga para pemilik modal demi menjadi bagian penting akses kemudahan keuangan bagi masyarakat sekitar. Wassalam (AKW).

Mesjid & Pendopo Cianjur

Menjejak di rumahMu dilanjutkan berdiskusi tentang sesuatu.

Photo : Interior mesjid agung Cianjur / dokpri.

CIANJUR, akwnulis.com Perjalanan pagi memberi nuansa kesegaran, juga cenderung masih lengang melewati rute Padalarang Rajamandala.

Mau kemana kawan?”

“Beredar donk, masa kalah sama dodol. Dodol aja piknik”

“Ah basiii!!!, dodol sekarang nggak hanya piknik, tapi sudah bersinergi dengan coklat dan berubah sebutan menjadi chocodot.”

“Iya maaf, aku mau ke Cianjur”

“Gitu donk, jawab gitu aja susah”

Nggak ada sanggahan lagi selain sunggingan senyum penuh arti yang menemani pagi hari ini.

***

Tanpa banyak rintangan, perjalanan Ke Cianjur berjalan lancar hingga tiba di sisi bangunan bersejarah yaitu mesjid agung Cianjur. Dalam waktu yang singkat sebelum meeting berlangsung, sujud munajat menjadi cara mujarab untuk meraih ketenangan dan mengumpulkan keberanian karena segala tampilan dalam kehidupan, segala kemampuan berdiplomasi harus atas ijin Allah sang Maha Pencipta.

Photo : Mesjid agung Cianjur / dokpri.

Ornamen mesjid agung mensiratkan keagungan, ketenangan dan kedamaian. 2 rakaat menjadi nikmat, membuat tenang rasa dan raga untuk menjalani kehidupan di dunia fana serta (semoga) menjadi bekal nanti di akherat sana.

Tak lupa dari luarpun, mencoba mengabadikan sisi mesjid dengan sudut ala-ala, yang penting bangunan mesjid dan menara dapat masuk dalam satu frame gambar kamera.

Tuntas dari situ, segera bergerak menuju pendopo, rumah dinas bupati yang anggun dan penuh nilai ornamen bangunan kerajaan masa lalu, disitulah sebuah acara akan terlaksana.

Photo : Kereta kencana / dokpri.

Tetapi sebelum memasuki pendopo, ada 2 kereta kencana yang terparkir eh berada di samping kanan depan pendopo dilindungi bangunan beratap joglo. Yang menarik adalah ukiran di depan kereta tersebut adalah replika kepala binatang yang dibuat dengan presisi dan kelembutan.

Photo : Ruang pendopo Bupati Cianjur / dokpri.

Tiba di pendopo disambut dengan semangat kebersamaan, kehangatan yang mensiratkan kekeluargaan menjadi pembuka diskusi tentang bagaimana bersinergi. Diawali dari saling memahami, saling menghargai dan memposisikan diri dalam satu kesatuan gerak demi tercapainya maksud dan tujuan bersama.

Sinergi bukan hanya sebatas retorika janji, tetapi sekecil apapun harus ada langkah implementasi. Wassalam (AKW).

Kopi Promosi, Mutasi & menanti.

Prosesi Pelantikan Jabatan, Rotasi dan Promosi ditambah Ngopi… ajiib pisan.

Photo : Coffee La Granada / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Ucapan selamat memang akan memberikan semangat, untuk segera bekerja dengan baik sesuai dengan amanat. Tetapi ternyata ada juga ucapan selamat yang diterima dengan terperanjat, seolah tidak siap dengan sebuah tugas yang hebat, tapii…. semoga itu hanya sesaat, dan selanjutnya langsung bekerja dengan giat… Semoga.

Perubahan dalam hidup adalah keniscayaan, sehingga pilihannya sederhana, hadapi, terima dengan lapang hati segala amanah yang menghampiri, jalani, nikmati dan syukuri.

Termasuk perubahan kedudukan atau perpindahan karena jabatan akibat sebuah prosesi mutasi, baik itu rotasi apalagi promosi, tiada jalan lain selain hadapi dan jalani.

Selamat kepada Akang Teteh Kakak Adik dan Kolega semuanya yang menjadi bagian penting dalam prosesi pelantikan kali ini, terutama yang berubah, meningkat atau bergeser jabatannya, itulah jalan hidupnya… perubahan ini dibuktikan dengan tulisan dalam surat keputusan dan dimulai dengan upacara akbar dengan baju kebesaran (Bukan kegedean tapi baju PSH,.. itu tuh baju jastong alias jas sepotong yang sering dipake sama para guru pengajar SD SMP SMA… inget nggak?)

Bagi yang belum ikutan berprosesi mutasi, kalem saja, semua ada saatnya. Jangan terjebak dengan anggapan mahluk, bahwa tidak atau belum promosi karena tidak mampu, tapi yakini bahwa keberhasilan bisa juga berupa keberuntungan, keberuntungan ini bukan sembarang keberuntungan karena keberuntungan disini adalah ‘Berjumpanya kesiapan dengan kesempatan.’

Mungkin belum ikutan karena masih harus terus ‘sharpen the saw’ dan ‘Seek first to understand, than to be understood’…..

…..hingga saatnya tiba, why not?…. itulah sekelumit cerita kehidupan.

“Trus kopi apa yang cocok dengan momen ini?”

“Emmmmh… bentaar… bentaar!!”

Bisa coba nikmati Kopi La Granada di Toby’s Estate Coffee & roastery Pascal23 yang miliki body yang soft dan flavour black tea & lemon plus fig yang asalnya dari Quindio Columbia, kayaknya bisa sedikit menenangkan hati dari rasa galau atau ketidakjelasan rasa karena dimutasi ke tempat yang terasa belum berkenan di hati (Padahal khan jabatan nggak bisa milih)

Photo : Coffee geulis dan teteh manies / dokpri

Jadi inget arahan bos di masa lalu, “Jabatan itu P3G!!”
“Artinya bos?”
“Prestasi Prestasi Prestasi…. dan akhirnya Ghoib”
“Ohh….”melongo weeh.

Kopi selanjutnya yang bisa bikin ceria adalah Arabica Ciwidey yang disajikan di Cafe MOKKA Pascal23 Hypersquare Bandung. Insyaalloh bikin ceria, pasca mutasi apalagi promosi. Coba aja perhatikan sajian kopinya…. sajian kopinya nikmat dengan body medium dan low acidity, after tastenya menenangkan dengan rasa fruitty dan tamarind serta selarik cocoa serta backgroundnyapun bisa menambah semangat, apagi jikalau sang background sambil tersenyum….. ahaaay.

Ah sudah ah… sekali lagi selamat menempati amanah jabatan baru, baik bergeser apalagi naik level, perlu kemampuan untuk adaptasi dan bersabar menghadapi proses perubahan. Jadilah pejabat yang amanah, serta bersama-sama bahu membahu mewujudkan ‘jajulaba de inoko’..

“Waw, apa itu Jajulaba de Inoko???”

Mau tau?… itu singkatanku yaitu Jabar Juara Lahir bathin dengan Inovasi dan Kolaborasi….

Selamat ngopi, wilujeng rotasi dan promosi ataupun yang setia menanti. Wassalam (AKW).