WFH Ngantor di rumah.

Working from home dulu…

Photo : Aku & WFH / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Dalam rangka mendukung program pencegahan penyebaran virus Covid-19, maka pilihan WFH adalah sebuah tindakan tepat yang harus dilakukan.

Work from Home satu minggu terakhir telah dilakukan dengan pola giliran yang temanya FWA (Flexible Working Arrangement) dan mulai hari senin ini bener-bener WFH diterapkan.

Hari pertama bekerja di rumah berbuah hikmah, selain mendukung program pencegahan pandemi juga semua level ‘dipaksa‘ melek teknologi melalui aplikasi teleconference untuk mengkordinasikan banyak hal yang terkait pekerjaan.

Baik level bos, setengah bos, yang ngerasa bos juga yang disuruh-suruh sama bos dan setengah bos, musti bin wajib ngedownload aplikasinya. Pahibut eh repotlah semuaa…..

Disinilah mental suasana perubahan berlaku, ada yang segera menyesuaikan dengan tangkas, ada yang semangat berubah meskipun sedikit gagap tapi mau bertanya dan ada yang bertahan dengan status quo, meskipun akhirnya mengikuti dengan setengah hati.

Tapi itulah konsekuensi sebuah penyesuaian, tidak perlu banyak keluhan. Jalani dan ikuti…. Yuk dukung program pemerintah sekaligus jadi mahir berteleconference sambil berkumpul bersama keluarga tetapi tetap bekerja, “Kenapa tidak?”

Jikalau masih gagap, jangan malu bertanya. Jika masih bingung, yaa kasihin (sementara) aja hpmu ke teman atau anak buah yang paham, tolong downloadin, instalin sekaligus sign-inin… pokoknya tinggal pake aja.

“Gampang khan?…”

Rapim perdana berjalan meskipun masih banyak kekurangan, tetapi nilai pentingnya adalah ketaatan. Taat kepada anjuran untuk di rumah saja, taat juga untuk tetap bekerja sekaligus taat juga untuk memasang aplikasi teleconference di hp masing-masing juga di beberapa laptop.

Aplikasi yang di gunakan adalah zoom cloud meeting, dengan otodidak dan coba-coba, akhirnya rapat virtual bisa terlaksana, meskipun harus jeda hingga 3x karena masih zoom basic yang gratisan, dibatasi 40 menit meeting dan akan tiba-tiba mati sendiri…. hikmahnya… lumayan bisa jeda teleconference, tarik nafas, minum dulu atau siapa tahu pengen ke toilet.

Rekan sekantor mengatakan bisa juga dengan aplikasi google meet,….. insyaalloh dicoba dan dipelajari secepatnya sebagai alternatif……

Yuk tetap semangat bekerja, meskipun berada di rumah masing-masing. Semoga wabah pandemi Covid19 ini segera berlalu, dan kehidupan kembali normal. Wassalam (AKW).

Coffee Buntis Village Aromatic Fruits.

No WFH but always Ishomapay…

Photo : Kursi direnggangkan dulu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Perkembangan pandemi Covid19 diantisipasi dengan berbagai tindakan termasuk pengaturan kerja bergiliran di rumah atau work from home (WFH), maka 2 hari kebelakang sudah mulai dilaksanakan dengan dasar surat edaran dari para bos-bos.

Tapi karena tidak berlaku bagi diriku, ya sudah protokol kesehatan waspada covid19 harus dijalankan dalam berbagai keadaan, terutama pas masuk kantor, menerima tamu dan pulang ke rumah.

Pagi ini… eh pagi kemarin lalu, cuman baru sempet nulis hari ini karena pabeulit (sibuk) dengan mempelajari aplikasi untuk teleconference sekaligus dalam waktu yang sama musti mengedukasi mitra-mitra kerja yang tersebar di seantero jabar banten.

Tindakannya sebenernya sederhana, memisahkan kursi baik kursi tamu di ruang kerja ataupun kursi tamu diluar ruang kerja serta menempelkan peringatan ‘please jaga jarak’ yang merupakan prinsip SOCIAL DISTANCE di kursi agar tidak diduduki.

Lalu menyemprotkan disinfektan buatan, mengelapnya (ini mah dibantuin OB) dan terakhir tentu memotretnya untuk dokumentasi.

Setelah semua tuntas, maka kembali ke meja kerja dan berkutat dengan surat, berkas, surat, berkas dan surat serta berkas hehehehehehe… yang harus diselesaikan.. ditambah koordinasi via WAcall dan Vicall bersama beberapa mitra…. hingga tak terasa adzan shubuh…. ehh adzan dhuhur berkumandang.

Alhamdulillah…. saatnya ishoma, istirahat – sholat – makan.

Photo : Persiapan Ishomapay / dokpri.

Selain ishoma juga ishomapay, istirahat, sholat, makan dan tidak lupa ngopay alis manual brew kopi bean yang sudah sedari minggu lalu nongkrong dan nemenin diri ini, menanti saatnya menari dalam proses ekstraksi yang akan menghadirkan rasa alami penuh misteri.

Kali ini, kiriman dari Mas Didit – antapani yang diutus langsung bu Dini Cirebon, ternyata mereka kawan lama. Beberapa pilihan bean yang dikemas apik serta berbeda dengan keterangan di bungkusnya yang cukup lengkap, menambah kepenasaran rasa yang ada.

Pertama tentu dialak ilik eh dilihat bolak balik dulu kemasannya baru perlahan tapi pasti dibuka….. hmmmm harum aroma kopinya nya luar biasaa…. ada harum buah-buahan dan…. tembakau yang menyengat, “Ini teh kopi apa rokok?”

Makin penasaran ih, langsung peralatan perang digelar. Filter V60, corongnya, termometer, air panas langsung dididihkan dan tidak lupa bean yang begitu harum ini di grinder dengan ukuran 3 supaya menghadiran butiran sedikit kasar yang cocok untuk filter V60.

Hmmm…. prosesi yang penuh arti dan semerbak harum aromaterapi kopi mulai melingkupi diri, indera penciuman menajam dan menambah rasa bahagia…. currrr…..

Belum disruput aja udah nikmat… Alhamdulilah.

Setelah prosesi tuntas dengan 400ml air bersuhu 90° celcius, maka hadirlah kopi hitam tanpa gula (kohitala), srupuut….. hmmmmm… woaaaah rasanya begitu kaya, eh kok ada rasa tembakau?…. atau winey ya?… enak euy.

Photo : Sajian Coffee Buntis VAF / dokpri.

Bodynya strong dan aciditynya juga high…. bikin terbelalak sesaat dan dilanjutkan hingga bèak (habis)…. nikmat nyaaa….. after tastenya banyak sesuai note di bungkusnya, tapi memang sulit disebutkan dengan kata-kata… sruput dulu aaaah.

Eits jam ishomapay-nya sudah hampir habis, mari bersiap kembali ke dunia nyata, bekerja dengan protokol pencegahan pandemi covid19. Jangan lupa cuci tangan sebelum makan dan tentu berdoa untuk keselamatan serta keberkaham dari rejeki makanan dan kopay yang tersaji.

Itulah sejumput cerita kali ini, selamat berkarya dan tetap waspada. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Ini tertulis di bungkusnya,
Buntis Village Aromatic Fruits
Single Origin
Koperasi Tani Buntis
Proses anaerobic Natural
Altitude 1400-1500Mdpk
Roaster Suka Sangrai
Varietal (s) Typica, Lini s 795
Flavor Notes : Jackfruit, Jasmint tea, dark plum, winey, ripe manggo.

Detox Margarita.

Siang yang sendu ditemani minuman sehat ‘Detox Margarita’…

Photo : Detox Margarita di meja kerja / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Siang yang begitu sendu dan sepi karena berusaha mengisolasi diri ternyata agak susah juga mengubah kebiasaan. Butuh perkuangan dan ihtiar meskipun seolah sepele, ternyata hese (susah).

Maksudnya perlu niat dan semangat untuk mengatur jarak dan menjaga alias mengurangi komunikasi dengan orang lain, khususnya orang lain eh tamu luar dalam rangka social distancing ceunah….

Biasanya ramai penuh gelak tawa dan tamu silih berganti diselungi berdinas keluar kantor berkeliling jawa barat & banten, sekarang diam di ruangan, relatif menyendiri sambil mengutak atik aplikasi teleconverence dan video online… terasa membatasi interaksi sosial itu.. menyedihkan. Tetapi ini adalah suatu ihtiar besar demi menahan dan mencegah penyebaran pandemi covid19 yang sedang mengguncang dunia.

Nah…. giliran makan siang, …. sekarang belum rutin bawa dari rumah, karena baru hari-hari awal pelaksanaan FWA, maka musti beli dari luar. Sesuai fatwa ibu negara untuk order makanannya adalah makanan yang lengkap dengan sayuran dan disebut makanan sehat… pesanlah via grabfood sekaligus minumannya.

Tring…. tralalala

Tak perlu lama sang babang grabfood hadir di lobby lantai bawah dan ternyata sudah melaksanakan protokol kesehatan anti covid lho, nggak mau bersentuhan, jaga jarak dan pembayaran uangnya dimasukin amplop dulu lho, kebetulan satu lembaran merah tak perlu kembalian, karena cuma 2rb perak, monggo aja.

Makanannya nggak diekspos ya disini, takutnya pada kepengen hehehehe..

Tapi minumannya yang bikin suasana segar dan lebih bersemangat guys…. namanya aja menarik ‘Detox Margarita’... jangan disingkat ‘DEde monTOX MARi jaGA diRI KIta’ ya… karena itu kepanjangan yang maksa… tapi…. miliki arti yang sebenarnya.

Photo : Detox Margarita / dokpri.

Detox berarti bisa membersihkan racun dan kotoran ditubuh juga kotoran-kotoran pikiran yang selama ini sulit dihilangkan dan dilunturkan ditambah margarita, sebuah minuman rasa manis asam khas yang aslinya berbahan dasar minuman ber alkohol seperti tequila, miras lemon dan jeruk lemon serta disajikan menggunakan es batu… aslinya mah haram untuk umat muslim karena beralkohol… tapi minuman ini free alcohol…. karena isinya setelah diubek-ubek pas airnya habis adalah : daun sirih, sereh, irisan lemon juga ada sedikit rasa manis, mungkin ditambah madu.

Rasanya…. seger euy.. dingin, asem, sedikit nyereng…. rasa daun sirihnya dapet, jadi nambah semangaat…. “Tapi nggak jadi rapet khaan?”

Sruputtt….. suegerrr… Alhamdulillah. Ntar nyoba bikin ah di rumah. Khan bisa lebih murah.

Selamat wiken kawan, jangan lupa jaga jarak dan jaga perasaan serta bersihkan pikiran dari kotoran dengan detox kepasrahan dan keikhlasan. Wassalam (AKW).

Kopi FWA anti COVID19

Yg lain kerja dirumah, aku mah ngopay aja.

BANDUNG, akwnulis.com. Perkembangan penyebaran Virus yang dikenal dengan COVID19 diantisipasi dengan banyak hal, termasuk aktifitas tugas rutin dari aparatur sipil negara. Pagi ini … eh sejak tadi malam istilah yang paling ngetren di jagad maya yang melingkupi lingkungan WA grup, line dan Telegram serta WAcall adalah istilah FWA.

Naon eta FWA?”

Eta geuning, yang sudah ramai diperbincangkan dalan beberapa hari eh minggu terakhir, yaitu…. bahasa simpelnya dulu yaa… para pegawai bekerja di rumah.

Ohhh…. itu, trus kenapa baru tadi malem ramenya?

Karena di lingkup pemprov jabar, tadi malam eh kemarin sore Surat Edaran Sekdanya terbit dan otomatis menjadi pedoman untuk mulai mengatur mekanisme bekerja di rumah.

Trus hubungannya kerja di rumah dan FWA apa?”

“Ih nggak sabaran kamu mah, slow sloww”

“Okeh okeh”

Sambil benerin masker yang terpasang diwajah, eh di depan idung dan mulut, maka mencoba meraba-raba… membaca berulangkali dan (mencoba) memahami tentang instruksi pemerintah pusat hingga daerah yang disebut dengan istilah FWA (flexible working arrangement) yang pengertian bebasnya adalah pegawai dimungkinkan melaksanakan tugas di rumahnya masing-masing secara fleksibel demi menekan penyebaran pandemi COVID19.

Maka diaturlah fleksibelnya kehadiran para ASN ini dengan berbagai prasyarat, diantaranya dilakukan sistem shift sehingga bergiliran melaksanakan tugas dikantor, kecuali Pejabat Tinggi Pratama dan Pejabat Administrator atau level I dan II di setiap unit kerja.

Tapi yang kebagian bekerja di rumah juga tetep kudu (harus) produktif, dengan cara melaksanakan tugas yang diberikan dari pimpinannya plus melaporkan secara online pekerjaannya melalui aplikasi TRK dan absensi online dengan KMOB dimana posisi lokasi rumah menjadi lokasi dinas luar selama FWA ini berlangsung.

“Trus hubungannya dengan kopi gimana?”

Gampang pisan, karena diriku ternyata masuk kategori yang dikecualikan.. sehingga musti stanby di kantor seperti biasa selama FWA ini. Jadi….. kopilah yang menjadi teman setia, menemani kesepian ini hiks hiks hiks…. karena jika bersosialisasi dengan teman lain… atuh melanggar prinsip ‘Social Distancing’…

Naon deui eta?

Ih kamu mah euweuh kanyaho, itu di medsos berseliweran infona, intinya hindari kontak dengan siapapun, dan jaga jarak”

Nah karena bersentuhan atau kontak dengan orang lain mah dilarang, maka kontak paling aman mah sama…

sama Kopi… hehehehe

maka…..

Hari pertama FWA diberlakukan, kopi Lanang Arabica Peaberry yang menemani….. prosessss……. dengan metode V60 dan panas 90° celcius, komposisi 1 : 15 dan gramasi (kira-kira) 19gr maka berproseslah……. manual brew perdana FWA di ruangan kerja sambil tidak lupa mengerjakan tugas-tugas rutin sebagai Abdi Negara. Wassalam (AKW).

Manual Book Kehidupan.

Jangan lupa baca manual booknya…

Photo : Lentera Kehidupan / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Perjalanan hidup memang menarik dan penuh kejutan, bersiaplah kita dengan dua senjata kebanggaan yaitu syukur dan sabar.

Syukur digunakan dikala kita mendapatkan kesenangan, kebahagiaan, keceriaan, kemudahan, keramahan dan keadaan yang berlimpah rejeki dari Allah. Sementara sabar dihadirkan pada saat suasana duka, sedih, merana, kenyataan jauh dari harapan kita hingga berbagai kondisi yang menyesakkan dada, hati, pikiran dan semua indera perasa. Insyaalloh perjalanan hidup kita akan berjalan baik-baik saja.

Teringat kembali simulasi sederhana dari Kang Asep RK minggu lalu, sebuah permainan singkat yang seperti main-main, iya atuh da namanya juga permainan.. ternyata menyimpan makna mendalam setelah di renungi bersama, tentu dengan fikiran terbuka.

Pertama, pelajari aturan main. Sebelum melakukan apapun, cari dulu dan buka manual booknya, pelajari dengan seksama dan sesingkat-singkatnya.

Pertanyaannya, “Permainan apa yang akan kamu jalani?” Lalu “Apa tujuan dari permainan ini?”

Jawaban akan bervariasi, dengan kecenderungan adalah masing-masing ingin berhasil meraih kemenangan. Nah karena tergesa-gesa, maka manual booknya nggak tuntas dibaca sehingga di akhir permainan semuanya dalam posisi kurang berhasil, ada yang rugi banget dan ada yang rugi sedikit… usut punya usut, ternyata semuanya menerapkan konsep win-loss, karena khawatir pihak lain yang mengambil keuntungan…. disinilah kebersamaan diuji, karena ternyata egois diri berakhir kepada rugi dan dirasakan oleh semuanya yang seharusnya saling berbagi.

Photo : Wajah lelah mencari manual book / dokpri.

Semoga permainan ini mengingatkan kita bahwa berfikir win-win dengan berkorban, bukan berarti kita akan dirugikan. Tetapi bersama-sama meraih keberkahan dan kesuksesan sebagaimana tertera dalam manual book permainan…. baca dulu yang lengkaaap….

Abis di buru-buru sama Motivator nya” sebuah kalimat lirih terdengar, itulah kehidupan, selalu ada komentar yang membela kekurangan.

Bagi yang ingin kehidupannya sukses dan penuh keberkahan, khususnya umat islam maka manual booknya adalah Alqur’an dan Hadits dilengkapi penjelasan imam dan ulama serta cendekia. Sementara sabar dan syukur adalah tools praktis dalam menjalani kenyataan hidup ini, Bismillahiroohmannirrohimm (AKW).

#ARK

#motivator

#AKW

#2020

Illy Americano Aston Pasteur.

Ngopay dan Ngojay di Aston Pasteur…

Photo : Illy Americano / dokpri.

Bandung, Akwnulis.com. Pagi hadir disambut dengan senyuman dan harapan, itulah kehidupan. Apalagi jika dilengkapi dengan segelas kopi hitam dipinggir kolam renang, serasa lengkap sudah kehidupan hari ini.

Yang lengkap tentu tagline blog ini, ngopay dan ngojay. Ngopaynya ada dengan gelas illy putih, ngojaynya jelas karena kolam renang tersedia. “Apalagi coba?”... tinggal sruput tipis tipis, ucul ucul…*) (aww bahasa planet)… gejeburrrr…….

*)buka baju celana dengan segera dan tentu sisakan solempak eh celana renang, karena kalau dibuka semua khawatir mengganggu ketentraman dan ketertiban hotel yang ada.

Kopi hitam yang tersaji adalah americano standar hotel, jadi secara rasa harus bersiap dengan sesuatu yang biasa, tetapi kelebihannya adalah suasana pinggir kolam renang yang membuat kedamaian sekaligus keceriaan.

Nyebur nggak?

Pertanyaan yang menggantung, karena jelas tidak bisa dijawab sempurna. Lha wong kesini nya juga mau meeting dan meetingnya marathon lagi, 4 agenda meeting lho (aww… sombong), tapi itulah kenyataan yang harus dijalani dan dihadapi.

Photo : Kolam renang aston pasteur / dokpri.

Meeting pertamalah yang bisa hasilkan gambar ngopay dan (tempat) ngojay/berenang, karena meetingnya semi formal di meja pinggir kolam renang. Sehingga sebuah dokumentasi bisa didapat tanpa mengabaikan tujuan me-rapat.

Meeting kedua dan ketiga sudah tidak bisa lepas dari konten materi, meskipun kopi hotel tersedia free tapi kebanyakan minum khawatir menghitam hehehehe… jadi dibatasi saja dimulai dari diri sendiri. Selamat menikmati hari ini kawan, Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Hotel Aston Pasteur – Bandung.

KOPI Ikhlas Cirebon

Bermain makna dalam kutipan rasa.

CIREBON, akwnulis.com. Menjelajahi sepi meresapi sederet arti dalam balutan fana ketidakpastian adalah sebuah fase kehidupan. Sebuah rencana yang sudah disusun dengan (mungkin) sempurna ternyata harus buyar karena sebuah kondisi dimana alam tidak mendukung. Maka beragam reaksi muncul dengan aneka varian, membuat analisa masing-masing baik berdasarkan (katanya) keilmuan ataupun asbunisasi (asal bunyi – sasi).

Disini terlihat kualitas pribadi seseorang dalam menyikapi suatu kejadian. Mayoritas sih mengungkapkan kekecewaan dengan semburan kata dan kalimat atau minimal memunculkan wajah tegang seolah terlipat, sebagian lagi menjadi sedih karena telah melakukan pengorbanan demi terwujudnya moment ini. Tapi ada juga yang menyikapi dengan biasa saja, karena memiliki keyakinan bahwa semua ini sudah ada maha kreator yang mengatur terjadi atau tidaknya suatu kejadian dalam dunia yang fana ini.

Nah ini yang menarik, yaitu respon perilaku dari suatu kejadian yang bertentangan dengan harapan dan keinginan, inilah hal sederhana yang bisa digunakan untuk melatih nilai hakiki, yaitu Keikhlasan.

Salah satu cara menjalani ketidaksesuaian antara rencana dengan kenyataan adalah menyeruput kopi hitam dimanapun anda atau saya berada.

Kenapa harus Kopi Hitam?

Karena segelas atau secangkir kopi hitam tanpa gula mewakili kepahitan kenyataan di dunia yang harus diterima. Manakala kita bisa menemukan rasa berbeda dari kepahitan sajian kopi, maka tidak sulit untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang sedang mendera tiada henti.

Apalagi jika mampu mendefinisikan rasa dari kopi hitam tanpa gula, yang ternyata menyimpan beratus rasa serta bersedia bersemayam sesaat di lidah segar yang kita punya, sebuah berkah kenikmatan tiada hingga.

Photo tentang kopi tubruk di 2 tempat di sekitar Kabupaten Cirebon ini hanya ilustrasi saja, tetapi mewakili sajian rasa manis dari kepahitan cairan kopi tanpa gula yang ada disela-sela tugas yang penuh dinamika.

Photo pertama berada di sebuah kantor dan sang kopi di gelas begitu nyaman karena keberadaanya ditemani oleh kawan-kawannya yang disebut lalawuh (b.sunda).

Photo kedua, sang gelas kopi nangkring di meja makan sebuah rumah makan dengan background-nya sajian pilihan makanan a la carte dan berakhir di kasir yang terus bersiaga.

Keduanya kopi hitam tanpa gula, tetapi sesudah diseruput maka terdapat serpihan rasa manis dan ketenangan yang membelai lidah serta memberi nyaman di dalam lambung.

Bagi yang belum bisa meraih nikmat dari kopi hitam atau kopi tanpa gula, tidak usah berkecil hati, tetaplah bersyukur karena sang lidah masih bisa menikmati rasa lainnya bukan hanya dari sajian kopi hitam saja.

Selamat mensyukuri hari, dan memaknai setiap kejadian yang dialami. Wassalam (AKW).

Kopi Dinas.

Menikmati kopi dinas..

KBB, akwnulis.com. Berdinas sambil menyeruput kopi menghasilkan sebutan ‘Kopi Dinas‘.

Kopinya tetap kohitala (kopi hitam tanpa gula), statusnya kopi standar hotel, jadi nggak tahu bean yg sebenarnya. Kecenderungannya adalah jenis robusta dengan rasa flat pahit yang merata.

Harganya free… karena fasilitas rapat heuheuheu.

Selamat bekerja.

Kopi Tupoksi.

Kerja dulu baru sruput… eh sruputt dulu, baru kerjaa.

GARUT, akwnulis.com. Secangkir kopi hadir mengawal pagi, secercah harap berkumpul dalam tumpukan data yang lengkap dikelilingi kerangka pekerjaan yang relatif tetap.

Sebelum map pekerjaan dibuka maka sajian kopi dulu yang lebih dulu berhadapan dengan muka. Biarkan sruputan perdana menjadi penyemangat rasa dan selanjutnya berjibaku dalam diskusi penuh makna.

Jadi, jangan ragu bahwa seiring pekerjaan yang rutin sepanjang hari selalu ada sisi-sisi penting yang wajib disyukuri. Selain rasa syukur memiliki pekerjaan yang pasti, sekaligus rasa syukur bisa menyeruput kohitala berulang kali…. gratis lagi hehehehe.

Selamat pagi kawan, selamat bergelut dengan tupoksi*) serta jangan lupa ngopi. Wassalam (AKW).

***

*)Tupoksi : Tugas Pokok & Fungsi.

Kopi Romantis Ujala Cafe.

Mencoba minum kohitala dalam balutan mawar bernuansa cinta.

CIANJUR, akwnulis.com. Secangkir kopi bisa menjadi penyampai pesan hati, meskipun rasanya masih sedikit pahit untuk sebagian orang tetapi miliki sisi romantisme yang penuh keunikan.

Ah yang pasti pahit rasanya klo tanpa gula kakak, kagak ada romantis romantisnyaa….”

Ungkapan sanggahan beraroma skeptis adalah hal biasa, karena kopi adalah objek rasa yang misterius sehingga akan menghasilkan persepsi berbeda dari tiap kepala.

Umumnya pasti begitu komentarnya kalau menyeruput kopi tanpa gula (kohitala), tetapi ada sebagian (besar) orang yang menemukan rasa manis, rasa nikmat, sensasi rasa berbeda manakala menikmati kohitala, termasuk yang lebih ajiib…. merasakan sentuhan cinta dari sebuah sajian kohitala… ahaaaaay.

Nggak percaya?

Coba perhatikan gambar sajian kopi diatas, sebuah komposisi natural yang menghadirkan nuansa pink mewakili dimensi romantisme dari sebuah penyajian manual brew arabica sarongge Cianjur.

18 gram biji kopi yang dihaluskan berpadu dengan air panas 90° celcius menggunakan metode V60 menghadirkan sajian kopi panas dengan acidity dan body medium dilengkapi aftertaste rasa berry yang menggoda ujung lidah ini.

Hendri sang barista Ujala Cafe yang memproses ini semua dilanjutkan dengan sedikit krearifitas untuk memadupadankan dengan bunga mawar artifisial yang sudah hadir lebih dulu diatas meja sehingga akhirnya mempersembahkan sebuah karya sederhana mewakili asa penuh cinta terhadap kohitala.

Srupuuut…… nikmatttt. Selamat menjalin rasa melalui seduhan kohitala bersama orang-orang tercinta. Wassalam (AKW)

***

Lokasi :
Ujala Cafe & Roastery
Jl. Selamet No. 60 Bojongherang Kab. Cianjur Jawa Barat 43216