M.Si vs MSI

M.Si adalah sesuatu yang menarik untuk di bedah dan dipelajari. Apalagi MSI ternyata miliki arti dan makna berbeda. berbeda itu biasa, tapi bersama-sama memahaminya, itu luar biasa.

Weekend time…. saatnya kutrat kotret nulis sesuatu yang terlintas di otak dan gerak bergerilya di kepala. Mengajak untuk menyusun kata menjalin kalimat untuk selanjutnya dicurahkan menjadi cerita singkat setelah tuntas bercengkerama dengan keluarga tercinta….

Tret.
Tret.. kotret..

Pikiran melayang ke hari kerja di selasa pagi…..

Langit sedikit berawan disaat beranjak menjemput harap. Melangkahkan kaki menuju tempat berbakti, sebagai seorang pegawai negeri. Seragam telah melekat rapih di badan dilengkapi papan nama, pin Korpri dan tanda pengenal yang menampilkan pasphoto 3×4, dengan pose terbaik pada masanya. Sebuah gelar di belakang nama lengkap menemani keseharian terutama urusan kedinasan.

Mau tau gelarnya?….

Mau tau atau mau bangeet?..

Ya udah, gelarku itu ada M.Si.-nya.

Udah itu aja….

Eit belum atuh. Klo cuman gitu, berarti somse kata om Doel Sumbang mah, sombong sekali. Padahal gelar itu banyak banget yang punya. Termasuk di lingkungan pegawai negeri.

M.Si itu adalah gelar yang disematkan kepada lulusan pasca sarjana (Magister/master)atau S2 yang tuntas melaksanakan pendidikan di Universitas Dalam Negeri di bidang ilmu terapan. Tidak hanya yang terkait itung-itungan tetapi juga keilmuan lain seperti ekonomi dan pemerintahan. Nah klo di luar negeri untuk Magister Science itu M.Sc, klo lulusan S2 Universitas di dalam negeri dapetnya M.Si.

Gelar ini klo bicara kepangkatan maka bisa mempermudah alias memuluskan mencapai golongan IV/a atau klo di POLRI selevel sebagai Pamen yaitu AKBP dan Letkol klo di TNI… meskipun di POLRI dan TNI ada syarat lain untuk kenaikan pangkat tersebut (klo salah mohon koreksi).

Tapi… ada juga yang mlesetin singkatan M.Si ini yaitu Master Segala Ilmu hehehehe…. meskipun itu ada benernya juga. Menguasai aneka ilmu?…. nggak juga sih. Karena ilmu itu sangaaaaat banyak ragam rupa dan bentuknya. Klo beberapa tetes ilmu itu mungkin, itupun hanya kulit-kulitnya saja atau istilahnya generalis bukan spesialis.

Lalu balik ke M.Si lagi, ada arti yang lain lho. Nggak percaya?.. googling geura. Klo tanpa ada titik, maka diyakini para penggila Game di komputer atau laptop akan sangat kenal. Yup MSi, merk komputer, laptop, notebook, motherboard dan berbagai kelengkapan wajib gamer yang merupakan merk produk dari Micro Star International, Co.Ltd. perusahaan yang berbasis di Taiwan dan berdiri sejak 1986 (kata wikipedia ini juga).

Daan… trakhir untuk MSI ini sebuah singkatan yang hanya melekat kepada beberapa individu aja. Berarti tidak bersifat umum. Yakni gelar yang melekat kepada pegawai yang paling rajin pindah jabatan. Setiap kali ada upacara seremonial pelantikan maka selalu dia diundang dan dipindahkan. Sehingga gelar MSI tersebut adalah ‘Mutasi Selalu Ikut’.

Pernah juga itu melekat pada diri ini, sehingga dalam kurun waktu 8 tahun, 7 kali ikutan pelantikan untuk jabatan yang berlainan. Semoga MSI yg ini nggak berkelanjutan, soalnya lumayan juga musti penyesuaian tiap tahun, khan butuh kesiapan phisik dan mental serta kesiapan aspek lainnya.

Udah ah…. jadi itulah beberapa istilah tentang M.Si-MSi-MSI.

Maaf jikalau dipaksa membaca celoteh malam yang mungkin nggak penting-penting amat. Tapi mungkin saja tulisan ringan dan ringkas ini bisa membagi sedikit rasa ceria di weekend ini.

Sambil tak lupa nyobain baju PSH yang telah setahun lebih tersimpan rapi di lemari sejak upacara pelantikan tahun yang lampau. Wassalam. (AKW).

Ngeboldin 2 Ke Bungbulang

Ngebolang dinas sesi 2, rute Pangalengan – Cisewu – Bungbulang – Pakenjeng – Cikajang – Garut Kota – Bandung.

Setelah tuntas di 4 titik mengikuti alur rencana pembangunan SPAM Regional Bandung Selatan, Maka ngebolang dines dilanjutkaan….

Meskipun ngeboldin sesi 1 ini klo ngikutin pola aliran air mah terbalik. Dari hilir ke hulu. Padahal idealnya mah dari sumber di hulu hingga hilir, karena sudah hukum Allah bahwa air itu mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Berhubung ini mah peninjauan dan posisi para calon konsumen penikmat air sekaligus rumah tinggal kami para pebolangnya di sekitar cekungan bandung maka startnya dari hilir ke hulu.

Eitts tapi sebelum bergerak ke tujuan selanjutnya, tawaran sarapan terlambat dari PT TGR tentu tidak ditolak dengan syarat ‘Makanan lokal cepat saji’, maksudnya?..

Yaitu makanan yang bisa cepet disajikan nggak usah nunggu lama. Makanan yang butuh proses seperti Sate yang musti dibakar dulu. Ayam kampung geprek yang musti nangkap dulu, kejar-kejar tuh ayam. Sembelih, bersihin, bumbuin dan dimasak trus finishing touchnya digeprek baru disajikan dan juga belum ngulek bumbunya. Sajiannya dijamin segar, enak dan menggugah selera tetapi perlu waktu menunggunya.

Ternyata bener juga sesuai request, hanya 5 menit setelah pesan, tersaji bermangkok-mangkok sop iga dan sop buntut sesuai dengan jumlah person yang ada. Tidak lupa untuk bos dan kru yaitu nasi putih, sambal cengek hijau dan teh tawar panas menjadi menu sarapan (kesiangan) yang maknyoooos. Yummy. Nyam nyam nyam.

(Sayangnya saking enaknya makan jadi lupa photo penampakan Sop iga dan sop buntutnya. Gpp ding, supaya yang baca jadinya nyipta-nyipta).

Photo : Sungai Cirompang Bungbulang / dokpri

Perjalanan etape 2 dimulai dengan menyusuri jalan raya pangalengan melewati Situ Cileunca hingga menembus perbatasan Kabupaten Garut tepatnya Kecamatan Cisewu. Jalan berkelok naik turun dihiasi pemandangan alam yang luar biasa, menjadikan sensasi yang ‘beda‘ padahal ini bukan perjalanan perdana. Eksotisme Situ Cileunca dipadulanjutkan dengn hamparan teh hijau Perkebunan Cukul mendamaikan hati, meskipun lambung agar berulah karena kendaraan yang ditumpaki… eh ditunggangi melesat agak cepat di jalan berkelok-kelok. Lembah menghijau dan jurang menghitam di kiri jalan memberi sensasi kengerian tapi mengasyikan, berpadu bukit berhutan yang hijau serta memancarkan misteri alam. Menjadi penyadar diri bahwa manusia itu hanya setitik debu di alam yang maha luas ini.

Perjalanan terasa lama padahal hanya 2 bokan dan 2 kontur jalan yang dilewati yaitu belok kiri – belok kanan – nanjak dan mudun (menurun), cuman karena kombinasinya sangat banyak jadi pinggang terasa dibetot sana sini dan perut serasa naik kora-kora. Ditambah kecepatan kendaraan yang lumayan kenceng, makin kebanting2 nich body. Untung aja safety belt memeluk erat, sehingga jarak 90 km bisa ditempuh lebih cepat 30 menit dibanding perhitungan googlemap.

Yuppp… setelah 2,5 jam berguncang-guncang (jalannya sih okeh tapi belok2 itu… wow pokona mah), akhirnya tiba di lokasi yang dituju yaitu PLTMH Cirompang yang terletak di Desa Cihikeu & Desa Bungbulang wilayah Kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut. Pembangkit listrik yang berkapasitas terpasang 8 MW ini adalah salah satu unit usaha PT Tirta Gemah Ripah yang memanfaatkan sumber air dari Sungai Cirompang yaitu Bendung Cirompang (existing).

Disaat memasuki power house PLTMH serasa dejavu karena hampir setahun lalu wara wiri ke lokasi ini bersama-sama tim di kantor dalam rangka rangkaian kunjungan jugavtetapi dengan bos yang berbeda. Trus juga ada beda lali, kalau tahun lalu rutenya via Garut Kota dan. menginap di Bungbulang, nah sekarang dari arah berlawanan yaitu Pangalengan Kabupaten Bandung.

Peninjauan 4 turbin dan diskusi singkat di main control office membahas beberapa hal penting terkait keberlanjutan usaha ini. Dari sisi kepemilikan lahan sudah clear tinggal hitung-hitungan nilai usaha dan potensi permasalahan yang bisa menjadi hambatan di masa mendatang.

Konstruksi PLTM Cirompang ini tersebut terdiri dari bangunan Intake (bangunan sadap) yang saling berbagi dengan saluran irigasi yang sudah ada. Lalu terdapat kolam Sandtrap (bangunan pengendap pasir), Saluran pembawa (Waterway) beserta Tunnel (terowongan) dengan panjang ±173 meter. Lalu air mengumpulkan diri di Headpond (kolam penenang). Disitu terdapat penyaringan dan pengendapan terakhir sebelum diterjukan ke dalam Penstock (pipa pesat) dengan panjang ±2 km. Air melesat hingga masuk ke 4 buah Turbine dan Generator di dalam Power House (Gedung pembangkit). Berproses memutarkan turbin untuk hasilkan listrik. Kondisi eksisting pada saat peninjauan, 2 turbin sedang bekerja dan 2 turbin lainnya idle. Hal ini disebabkan beberapa faktor, yang utama adalah debit pasokan air yang relatif terbatas dan mekanisme pemeliharaan dari turbun-turbin yang ada.

PLTM ini bekerjasama dengan PLN untuk proses jual beli listrik yang tentunya memberikan keuntungan bersama. Kususnya kepada PLTM Cirompang dan tentunya bagi PT Tirta Gemah Ripah.

Tuntas dari power house, shalat dhuhur dan asyar segera ditunaikan di mushola sederhana. Daan… . Tawaran makan siang disambut ceria, karena sop iga dan sop buntut yang tadi disantap di Pangalengan telah hilang ditelan bantingan tubuh akibat jalan berkelok dan turun naik serta naik turun.

Sajian goreng ayam kampung, bakar ikan dan sambal lalap serta ditutup dengan nyruput air kelapa muda mengembalikan kesegaran dan tentu rasa kenyang. Kembali diskusi ringan dengan beberapa pegawai PLTMH, terkait harapan peningkatan debit air sungai melalui sodetan sungai yang berfungsi untuk tambahan irigasi bagi masyarakat. Dimana dengan chatcment area diatas 1.000 ha hingga maksimal 3.000 ha maka pemerintah provinsi jawa baratlah yang berwenang mengelolanya. Sehingga dianggap akan mudah koordinasinya karena kewenangannya di level pemerintahan yang sama… sruput dulu air kelapanya dan jangan lupa nanti kelapa mudanya dibelah untuk dinikmati daging kelapa mudanya.

Akhirnya peninjauan PLTM Cirompang selesai sudah, kami bergegas memasuki Fortuner dan Rush karena rintik hujan berubah lebat.
Ternyata…. titik peninjauan belum berakhir karena tujuan baru harus di buru yaitu Bangunan aset milik salah satu BUMD Provinsi juga yang terletak di daerah Cikajang Garut.

Apa mau dikata, siapkan phisik dan mental untuk nikmati jalan berkelok dan naik turun di kisaran 2 jam perjalanan. Waktu menunjukan pukul 14.45 wib disaat kendaraan menjejak kembali di jalan raya Bungbulang menuju Pakenjeng Kabupaten Garut.

Sesuai perkiraan hampir tepat 2 jam, kami memasuki area luas dengan bangunan-bangunan besar eks pabrik, sisa kejayaan BUMD masa lalu.

Di lokasi tak banyak berbincang karena yang ada hanya segelintir pegawai saja. Di satu ruangan terlihat menumpuk seperti rumput kering yang sedang di pak, ternyata itu stevia kering. Tumbuhan dari Paraguay yang diolah menjadi pemanis alami pengganti gula. Iseng-iseng dijumput secuil onggokan stevia itu. Masukin ke mulut dan dikunyah. Rasanya… manisss bingit.

Lalu kru dan bos masuk ke pintu sebelah yang terdapat mesin-mesin pengolahan teh. Sementara diriku kebelet pipis, melangkah keluar dan mendekati pekerja, “Kalau toilet sebelah mana?”
“Gedung sebelah pak, pintu kedua”
“Terima kasih.”

Langsung bergegas khawatir tak kuat menahan rasa. Ehh ternyata musti sabar karena toilet cuma satu yang moo pake banyakan. Terpaksa antri dengan menahan sekuat hati. Lumayan 10 menitan antri baru dapet giliran… surrrrr… legaaa.

Balik ke tempat mesin teh ternyata bos sudah selesai peninjauannya. Ya sudah kita nenyesuaikan dan pamit kepada pekerja yang ada.

Alhamdulillah titik peninjauan usai pada pukul 17.25 wib. Segera bergegas naik di kendaraan dan bersiap pulang ke Bandung via Kota Garut dan menyusuri jalur jalan nasional.

Sampai jumpa di cerita ngeboldin (ngebolang dines selanjutnya) hari ini, klo di lihat di guglemep perjalanan ini menempuh jarak 231 km dengan waktu tempuh perjalanan 11 jam 20 menit 52 detik dengan rute melingkar menyusuri sebagian kecil daerah di Jabar. Wassalam. (AKW).

Ngebolang dines di Cimaung

Cerita ngeboldin (Ngebolang dinas) etape 1 sama bos ke wilayah Cimaung Bandung Selatan. Berkunjung untuk mengamati, memaknai dan tentunya silaturahmi ke jalur SPAM Regional dari JDU – Reservoir – IPA – Praset – Intake.

Photo :Tim yang nyubuh udah ready di Tollgate / dokpri.

Adzan shubuh menemani pergerakan dari rumah yang berada dipinggiran kota menuju titik kumpul di pinggiran kota (juga) tapi pinggir yang lainnya, ah ribet amat, rumah di Cimahi dan ketemuan di exit tol Mohammad Toha, gitu aja repot. Oh ya, Tentu tak lupa menyegerakan mencari mesjid yang terlewati untuk tunaikan kewajiban rutin harian sebagai bentuk ketaatan hamba.

Hari ini adalah dinas luar perdana di awal tahun 2018, istilahnya ngebolang. Berkeliling untuk melakukan monitoring, koordinasi dan fasilitasi urusan kerjaan yang berkaitan khususnya urusan infrastruktur di Jawa Barat.

Tuntas sholat shubuh, bergegas menuju titik kumpul yang telah disepakati. Gerbang tol Moh Toha masih lengang meskipun tetap gagah menyongsong hari dan menyambut siapapun yang keluar masuk dengan syarat mutlak membawa dan menempelkan e-tol. Jikalau ada yang make tongtol alias tongkat e-tol ya itu sah – sah saja, lha wong tujuannya membantu pengemudi agar tidak menjulurkan tangannya terlalu jauh.

Eh kok jadi bahas tongtol seeh?… gpp atuh, apalagi tongtolnya yang warna pink dan hijau muda. Lucu kayaknya.

Tepat pukul 06.00 wib bos dateng dan sang pengantar sekaligus penanggungjawab objek yang akan dikunjungipun tiba yakni dari PT Tirta Gemah Ripah, salah satu BUMD Pemprov Jabar inipun bersiap memimpin konvoy. Mini konvoy tepatnya karena hanya 4 mobil doang.

Photo : Peninjauan Titik ahir JDU / dokpri.

Titik pertama adalah ujung JDU yang akan nyambung dengan jaringan yang dipasang PDAM Kota Bandung. JDU itu singkatan dari Jaringan distribusi utama, yaitu jaringan pipa yang menghubungkan reservoir dari IPA dengan SR.. oalaaah apa lagi itu?… IPA Instalasi Pengolahan Air dan SR itu sambungan rumah.

Photo : Semburat mentari pagi menyambut kami / dokpri.

Konvoy bergerak lagi dan pukul 07.02 Wib sudah tiba di Titik kedua dipinggir jalan raya Ciherang – Cangkuang yang berada di wilayah Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung. Melihat batas pemasangan JDU oleh Disperkim Provinsj yang terhubung dengan jaringan PDAM. Nah disini ada rencana penambahan PRV.

Bingung lagi… apa itu PRV?

Yang spontan muncul di otak ada 2. Pertama, PRV di Daerah Gerlong hilir yaitu nama perumahan elit, Parahyangan Rumah Villa. Komplek perumahan tempat tinggal bigbos dahulu.
Kedua, adalah kendaraan dinas tunggangan para sekretaris OPD di Pemprov Jabar. Oppps…. itumah CRV :).

Nyerah?… Akhirnya googling dech.

Tuh mahluk PRV adalah sebuah alat untuk mengatur ketinggian tekanan air sehingga sesuai dengan kondisi jaringan. PRV adalah Pressure Regulating Valve. Kebayang khan klo nggak diatur tekanannya. Air nggrojok dari sumber reservoir begitu besar langsung masuk jaringan pipa yang lebih kecil, ya jebol. Rencananya dititik kedua ini akan dipasang PRV untuk memaksimalkan penyaluran air bersih kepada masyarakat pelanggan.

Photo : Kantor Instalasi Pengolahan Air SPAM bdg selatan / dokpri.

Perjalanan berlanjut ke titik ketiga, memasuki jalan desa yang berkontur nanjak berkelok serta relatif sempit untuk ukuran Toyota fortuner. Untungnya kami mah nyetirnya Toyota Rush, ramping lincah dan lumayan irit. Perjalanan terasa nyaman karena kanan kiri adalah kebun sayuran yang menghijau manjakan mata. Jalan berkelokpun tidak terlalu mengocok perut karena ada tumpuan lain yang bisa alihkan perhatian, hingga akhirnya jalan berbelok kiri menurun lalu tekuk kanan memasuki jalan beton hingga tiba di gerbang area perkantoran yang terletak di dataran tinggi Cimaung Pangalengan ini. Tertulis megah di atas gedung, SPAM Regional Bandung Selatan.

Diskusi dan peninjauan titik ketiga ini cukup hangat terutama diskusi yang membedah dari awal alur cerita dari SPAM Regional ini. Mulai sumber air dari Over flow PLTA Cikalong dan Sungai Citanduy, masuk ke Intake, trus Kolam Prasedimen, ngalir terus ke Instalasi Pengolahan Air, Reservoir terus ke pipa JDU, dibagi per sistem PDAM Kabupaten Bandung dan PDAM Kota Bandung hingga akhirnya sampai ke SR di rumah-rumah masyarakat.

Photo : Gunung Patuha dilihat dari lt atas gd IPA / dokpri.

Pembahasan ditemani jagung dan kacang rebus serta kopi hitam sekaligus sarapan kami pagi ini di dataran tinggi Cimaung Bandung Selatan. Terkait sumber anggaran yang multi sumber baik APBN via Dirjen SDA dan Dirjen Ciptakarya KemenPU juga APBD Provinsi Jawa barat dan APBD Kabupaten Bandung dan APBD Kota Bandung. Juga urusan lahan dan kewenangan pemerintahan menjadi pembahasan yang menarik dengan kerangka kerjasama sinergis antara tingkatan pemerintahan. Termasuk menyeruak istilah BASTO dalam diskusi ini. Awalnya kirain tentang bakso (maklum efek belum sarapan jadi yang kepikirannya makanan) tapi pas lama-lama diperhatikan adalah urusan serah terima aset. Yakin ini mah yang dimaksud Basto itu adalah Berita Acara Serah Terima Operasional.

Photo : di lantai atas gd IPA / dokpri.

Tuntas diskusi sambil duduk dilanjutkan diskusi sambil melihat instalasi pengolahan dari mulai pipa masuk ke area IPA, masuk di sistem pengolahan hingga ke reservoir. Naik tangga ke lantai atas terlihat bak penampungan air raksasa seperti kolam renang dengan kedalaman 6 meteran. Melewati itu menuju lantai atas bagian luar terdapat beberapa lubang besar yang ditutup besi-besi baja sehingga tidak khawatir untuk diinjak. Udara sejuk memanjakan kami dan di lantai atas ini segera kami menikmati pemandangan alam yang luar biasa, ke utara terhampar dataran cekungan bandung dan di arah selatan berdiri gagah Gunung Patuha.

Tuntas dari lantai atas, kembali turun ke lantai bawah dan keluar bangunan gedung menuju halaman kantor dimana 2 reservoir air berada. Melihat secara langsung terasa berbeda dengan pemaparan di kantor, padahal dengan objek yang sama. Sehingga peninjauan obyek pekerjaan itu sebuah keharusan. Selain bisa melihat kasat mata bukan sekedar imajinasi juga bisa melihat beberapa potensi permasalahan yang musti diantisipasi, lebih khusus lagi adalah menambah silaturahmi.

Titik keempat terkait peninjauan Sistem Penyediaan Air Minum Regional Bandung Selatan ini adalah lokasi kolam Prased yang terletak sekitar 4 km dari lokasi IPA dan reservoir. Bergeraklah mini konvoy ini menuju lokasi Prased yang masih berada di wilayah Cimaung ini. Peninjauan titik keempat ini menjadi akhir ngabolang (sementara) di awal tahun 2018 ini. Sekaligus titik awal ngabolang awal tahun etape 2 menuju wilayah Garut selatan.

Tunggu yach di tulisan selanjutnya. Wassalam. (Akw).

(Bukan) Resensi ‘Bagaimana Saya Menulis’

Sebuah catatan kecil (bukan) resensi buku dari kumpulan pengalaman dan perjalanan penulisan para pegiat Gerakan Birokrat Menulis.

Photo : Buku Bagaimana Saya menulis + kopi / dokpri.

Malam telah kembali sunyi, gelak tawa anak semata wayangpun telah tergantikan dengkuran halus sambil mulut mungilnya tak mau lepas dari nenen ibunya. Untaian doa rutin sebelum tidur mengantar mereka terlelap di malam ini. Perlahan melirik jam meja ternyata sudah pukul 23.05 Wib, persiapaaan……

Me time mulai berlaku. Berjingkat keluar kamar dengan suara minimal. Buka tutup pintu ekstra hati-hati. Bergeser ke ruang makan, menggelar koran sebagai alas di meja makan karena khawatir ada tetesan sisa minuman atau ceceran makanan yang bisa merusak mood karena harus bersih-bersih dan lap-lap dulu.

Amplop besar warna coklat yang menyambut kedatanganku tadi ba’da isya di ruang tamu begitu menggoda untuk segera dibuka dan dibaca. Meskipun raga masih terasa lelah karena sabtu tanggal merah inipun harus dinas luar ke wilayah Cirebon dan Majalengka. Tetapi klo lihat ada paket kiriman buku baru, tidak ada kata kompromi untuk segera dinikmati. Ditemani seduhan kopi Arabica Java Preanger ‘Gunung Tilu’ versi pribadi pake V60, rasa segar menyeruak dan paket buku segera dibedah.

Dua buah buku mungil bersampul semburat mentari sore yang menjadi latar alami seseorang termangu di dermaga sederhana di tepi pantai berjudul ‘Bagaimana Saya Menulis’ memberi energi baru untuk melahap 127 halaman tanpa jeda. Karena berisi pengalaman dan perjalanan penulisan para pegiat gerakan birokrat menulis.

Eh jeda kok disaat menyeruput kopi hangat seduhan sendiri, nikmat tak tergantikan.

Buku yang disusun oleh para penggiat gerakan ‘Birokrat Menulis’ ini mulai dibolak balik dan entah apa yang mendorong diri ini untuk baca dari halaman 127 dulu. Berjumpa dengan para penulis yang berkontribusi lengkap dengan photo dan CV singkatnya sebanyak 13 orang. Para birokrat yang sukses menulis dan karyanya telah bertebaran di berbagai media internal ataupun media massa. Jadi iri dech…

Mas Muji Santosa (Nyebut mas ah, soalnya moo pake pak atau bapak, kok jadinya serasa bikin nota dinas atau telaahan staf hehehe) yang sudah menginspirasi banyak orang dengan buku-buku tentang pengadaan dan kontrak. Dilanjut dengan tulisan Mas Raden Murwantara mengupas tuntas tentang penulisan Jurnal Ilmiah internasional yang begitu lengkap dari mulai persiapan hingga syarat-syarat. Menjadi tantangan pribadi untuk bisa membuat tulisan jurnal ilmiah dan berkelas internasional hungga bisa terindeks SCOPUS & SCIMAGO dengan impact factornya. Meskipun bahasa inggris pas pasan tapi yang penting khan keberanian untuk menuangkan ide dan gagasan seperti kata Bang Marudut R. Napitupulu. Jangan lupa ikutin tahapan proses mendengarkan – membaca – berbicara – dan terakhir menulis seperti yang terjadi disaat ikutan test IELTS.

Test IELTS atau International English Language Testing System, itu sodaranya TOEFL (Test of English as a Foreign Language), Sebagai syarat untuk kuliah di luarnegeri.

Photo : Peralatan nyeduh sang kopi / dokpri.

Lanjut yaa…….

Mas Ilham Nurhidayat yang aktif di majalah kantor hingga mempersiapkan pembuatan bukunya. Kegelisahan menjadi energi awal untuk menuangkan sesuatu menjadi tambang ide tulisan menurut mas Setya Nugraha, hingga filosofi jalinan kata dari Bang Mutia Rizal yang menggugah selera membaca dengan mencontohkan berbagai tokoh penulis dunia dan indonesia. Memaksa diri untuk terus setia membuka lembar berikutnya padahal jam dinding sudah melewati dini hari.

Menulis itu mengasyikan, apalagi bersua dengan seseorang dan lingkungan yang mendukung untuk terus menghasilkan karya seperti kata Mas Eko Heri Winarno juga Kakanda Andi P.Rukka yang hasil karyanya telah menghiasi perpustakaan National Library of Australia. Hingga tips keenam yaitu Write first-Edit laternya mas Ardero Kurniawan semakin membubungkan semangat untuk menggerakkan jemari ini menuangkan kata demi kata.

Mbak Nur Ana Sejati melengkapi dengan aktivitas catat mencatat itu sangat penting karena akan sangat membantu memahami apa yang sedang dipelajari. Didukung oleh Bang Adrinal Tanjung bahwa menulis itu tidak untuk menggurui orang lain tetapi menulis itu menggurui diri sendiri maka menulis itu bukan perkara sulit. Disusul oleh Mbak Pratiwi Retnaningdyah yang fokus pada konsepsi pelayanan umum dari pengalamannya di dalam dan di luar negeri, membuka pemikiran diri untuk terus menulis apapun khususnya kegiatan sehari-hari yang terkait pekerjaan atau profesi di jajaran birokrasi.

Dan…. terakhir tulisan yang tersaji adalah wejangan dari Bang Rudi M.Harahap berbagi tips agar bisa membuat tulisan berkualitas adalah peran mentor dan motivasi kita menulis sesuatu. Ide bisa muncul dimana saja maka gunakan fasilitas catatan di smartphone untuk mencatat topik yang menarik untuk ditulis. Serta segera tulis, tulis dan tulis.

Tak terasa bercengkerama dengan buku yang diterbitkan ‘Birokrat Menulis‘ telah usai. Meskipun masih ingin membolak baliknya, tetapi harus adil juga berbagi rasa dengan raga yang harus beristirahat juga untuk menyongsong hari esok yang senantiasa bahagia serta ceria.

Terima kasih mas Ardero Kurniawan atas paket bukunya. Semoga menjadi jalan kebaikan bagi kita semua dan tentu semakin suksesnya para punggawa serta anggota ‘BM’ dimanapun berada. Wabilkhusus BM semakin berkibar dan menjadi wahana berlatih dan menghasilkan tulisan bernas serta ilmiah untuk kemajuan bangsa.

Tak lupa gelas kedua seduhan kopi Arabica JP Gunung Tilu menutup sesi dini hari ini. Dentang jam dinding pukul 01.30 wib di hari terakhir tahun 2017 ini mengingatkan kembali untuk menutup percengkramaan dini hari ini. Wassalam. (Akw).

Ngopi pagi di Pakuan

Bekerja di pagi hari sambil Nikmati sajian kopi asli di Gedung Negara Pakuan yang penuh harmoni.

Photo : Ruang utama Gd Negara Pakuan / Dokpri.

Disaat sang mentari masih bersembunyi dibalik lelahnya hari, raga ini sudah melesat membelah sepinya jalan menuju kediamanan Gubernur Jabar. Perjalanan dari Cimahi Selatan ke jalan Otista satu Kota Bandung bisa ditempuh 15 menit saja, padahal klo siang hari pas padat-padatnya para pengendara beredar kesana kemari maka bisa 1,5 jam hingga 2 jam.

Jarum jam menunjukan pukul 05.25 wib tepat disaat moncong toyota rush ini memasuki gerbang kediaman jabar satu yang disebut gedung negara pakuan. Disambut kehijauan taman yang asri memberi kesegaran hakiki. Mobil bergerak melengkung ke kiri mengikuti arah jalan menuju parkiran di halaman gedung art deco ini, eh ternyata bukan yang pertama karena sudah berjajar tujuh kendaraan yang bertamu pagi itu.

Setelah parkir sempurna, mengemasi berkas yang harua dibawa. Yah meskipun bukan panitia inti acara pagi ini tapi persiapan itu penting. Jadilah pendukung acara yang baik.

Segera bergegas mengajak kaki untuk melangkah menuju gedung yang indah. Gedung bercat putih terang penuh kelembutan, gedung negara pakuan yang penuh dengan kenangan.

Photo : Stand sarapan / dokpri.

Menaiki sepuluh anak tangga menapaki ruang tunggu tamu terlihat beberapa undangan sedang berbincang. Bergerak memasuki ruang depan disambut kemegahan kursi-kursi dan meja klasik bertabur hiasan ukiran yang mempesona. Belum selesai dari situ, bergerak kembali semakin masuk ke dalam gedung dan di ruang utama sudah tertata 14 meja bundar dengan kanan kiri stand – stand makanan minuman yang dipersiapkan untuk sarapan.

Yummy……

Photo : Stand kopi Java Preanger gnhalu / dokpri.

Daan… yang bikin hati ini lebih berbunga adalah satu stand yang membuat pagi ini semakin ceria dan dijamin acara pagi ini akan lebih berwarna. Gimana ga seneng, grinder listrik ready, bean sudah standbye 2 botol besar, peralatan menyeduhnya ada, kertas filter ada dan tentunya V60pun sudah melambaikan tangan agar segera digunakan. Tidak lupa pemanas air yang berdiam gagah disamping kanan. Tapi masih harus bersabar karena barista sang penyeduhnya belum terlihat. Sabaar.

Tepat jam 06.00 wib para Tamu undangan yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan. Pejabat Pemprov Jabar mendominasi, Pangdam III Siliwangi, Bupati Majalengka dan Sekdanya, Kepala BPN Jabar, Kakanwil I BJB & rengrengan. Unsur dari Polda Jabar, Polda Metrojaya, Kodam Metro Jaya, Kejaksaan Tinggi Jabar, PT. BJB, PT BIJB sudah lengkap dan mulai menikmati hidangan yang tersaji.

Disaat para tamu mengantri di stand makanan berat, segera menyelinap dan berdiri disamping barista gaul, namanya Kang Yuda. Masih muda, gagah dan pinter nyeduh kopi, ya iyaaa atuh… khan dia Baristanya.

Tepat pukul 06.30 wib, Pak Aher muncul dan bergabung bersama tamu undangan untuk bersama-sama sarapan dilanjutkan acara resmi yang dipandu oleh bagian keprotokolan.

Aku mah masih stay ditempat strategis, deket stand kopi. Tapi tetap mengikuti acara dengan khidmat.

Suara grinder menjadi musik pagi yang membumi, memberi suasana ceria di pagi yang sendu ini. Menghancurkan biji kopi java preanger gununghalu menjadi serpihan semi kasar pake ukuran 4,5 sampai 5 sehingga tidak terlalu halus. Tujuannya agar bisa tersaji kopi panas dengan metode V60 yang mengedepankan rasa sweet fruity, terasa maniis gitcu kayak aku… ahay.

Tujuannya menyajikan kopi tanpa gula cenderung fruitty adalah langkah bernas untuk memperkenalkan cara menikmati kopi tanpa gula dengan rasa yang relatif bisa diterima oleh seseorang yang bukan penikmat kopi. Bener saja, seorang bapak gagah berseragam mendekat, “Minta kopinya kang”

“Silahkan pak” Segera mengucur cairan kopi yang harum ke cangkir kopi karena kebetulan baru persekian detik tuntas membuat racikan perdana.

“Duh pahit nich, ga pake gula ya?”, Bapak berseragam meringis. Kami tersenyum, Kang Yudi menjawab, “Nggak pak, ini kopi asli dan dinikmati tanpa gula.”

Setelah bapak tadi berlalu, segera mengambil cangkir yang sudah terisi kopi. Menyeruput pelan-pelan, terasa sensasi manis buah-buahan menyeruak di seluruh rongga mulut. Enak dan kayaknya cocok untuk yang tidak biasa ngopi. Tapi dari sisi body kurang paten, acidity sedang dan ya itu tadi sweety diutamakan. Rasa manis ini didapatkan dari proses penyeduhan diatas V60.

V60 itu yang mirip corong dan digunakan untuk nyeduh kopi bubuk. Jangan lupa sebelum nyeduh menggunakan kertas filter yang disiapkan khusus. Tapi sekarang udah banyak yang jual. Harga V60 dari mulai 70ribuan yang berbahan plastik hingga ratusan ribu atau jutaan, itu yang keramik dan stainless stell. Sebelum kopi dituangkan dalam V60 yang udah dilengkapi kertas filter, basahi dulu kertas filter dengan air panas. Lalu tuangkan kopi bubuk yang sudah digiling tadi dengan ukuran 28gr/sajian/cangkir. Air panas yang dituangkanpun harus diukur, kang Yudi ini pake di 75 sd 85 derajat celcius. Jadi termometer adalah teman setia barista.

Proses penyeduhan pun harus bertahap. Tahap awal adalah blooming, yakni menyeduh sedikit bubuk kopi tersebut dengan tujuan melepas CO2 yang terjebak di dalam bubuk kopi. Diam beberapa saat, klo udah kelihatan ngaburukbuk ada gelembung udara itu tandanya proses blooming selesai dan siap seduh.

Ternyata cara nyeduhnya ini yang bisa hasilkan rasa kopi yang berbeda. Jika ingin mendapatkan rasa sweety maka putaran seduhan melingkar searah jarum jam dan berputar dari arah luar sementara untuk meraih rasa body atau level pahitnya kopi (ini biasanya untuk yang udah biasa ngopi item.. ya espresso juga dopio) maka menyeduhnya fokus dari tengah secara dominan.

Karena nempel terus sama sang Barista, maka yang bisa dinikmati adalah 2 cangkir versi sweety dan 2 cangkir versi body yang dapet rasa pahitnya citarasa kopi asli parahyangan dari dataran tinggi Bandung Selatan.

Itulah sekelumit kisah tentang ngopi gratis kedinasan. Pekerjaan tuntas dan ngopi aslipun bisa bergelas-gelas. Jangan merasa ribet dengan proses dan aturan pembuatan kopi yang berbelit dan memakan waktu. Karena jangan salah dalam proses itu terletak suatu makna keindahan. Bagaimana sebuah proses seduhan yang berbeda menghasilkan rasa yang berbeda?…

Amazing bingit dech.

Trus rasanya kok pahit?… coba pelan-pelan dan kontinyu. Maka lidah akan terbiasa dan mampu membedakan mana yang memang dibuat pahit karena ngejar bodi, keasaman aciditynya ataupun rasa manis buah-buahannya. Yakini kopi tanpa gula itu nikmat, tidak pahit karena lebih pahit kehidupan ini.

Jikalau kopi yang tersaji masih teuteeeep terasa pahit, ambil kaca. Sruput kopi pahit sambil pandangi wajah kita yang manis. Insyaalloh hati sedikit berbunga dan mulut senyum dikulum.

“Nanaonan ari kamu, nginum kopi bari ngeunteung?!!”

(“Kamu ngapain, minum kopi sambil bercermin?”) Paling itu yang bakalan terucap.

Nggak percaya? Silahkan coba.

Photo : Gubernur & pimpinan Instansi / dokpri.

Alhamdulillah, pak Gubernur Jabar tuntas berpidato setelah prosesi penandatangan dengan beberapa pihak dalam rangka pengamanan pilkada 2018 dan juga percepatan pembebasan lahan PT BIJB. Diakhiri dengan doa dan photo bersama. Kamipun tuntas menyeruput cangkir kopi ke-5, buatan sang Barista.

Hidup pagi ceria. Wassalam.(Akw).

Bahas KEK di Bogor Icon

Bergerak dan bekerja sambil mencoba merangkai kata. Jangan bertanya kenapa masih banyak kurangnya, tetapi bacalah dengan seksama dan ‘japri’ kalau ada yang tak tepat menyentuh asa.

Photo : Tamanhijau depan ruang rapat / dokpri.

Kala mentari baru beranjak menyinari hari, kami susah melesat menyusuri jalan bebas hambatan berbayar Cipularang – Cikampek – Cikunir JORR – Jagorawi – Lingkar luar bogor sehingga total 4 ruas tol yang dilewati, alhamdulillah perjalanan lancar sehingga waktu 2;5 jam sudah mendekati tempat tujuan sesuai yang tertera di Undangan.

Tak ingin berbasa-basi dan tak suka berujar harap, tetapi sebuah usaha menangkap kata meskipun berjuta makna untuk dipintal menjadi cerita yang bisa berguna bagi yang suka ataupun memang demi pelaporan semata.

Yup, rapat inipun adalah suatu wujud komitmen bersama antara pihak pemerintah baik Kementerian Pariwisata, Kemenko Perekonomian, Pemprov Jawa Barat, Pemkab Pangandaran dan Sukabumi untuk mendorong Badan Usaha yang menjadi Pengusul Kawasan Ekonomi di Provinsi Jawa Barat.

Photo : Suasana Rapat FGD / Dokpri.

Telah berpuluh rapat beraneka diskusi yang dijalani tetapi tak ada kata menyerah menghadapi semua hambatan dan halangan yang ada justru menjadi lecutan untuk mampu lewati semua tantangan dengan cara bergandengan tangan bahu-membahu tanpa terganggu ego sektoral untuk wujudkan harapan bersama.

Berikut tersaji catatan hasil rapat pembahasannya, semoga bisa memberi secercah manfaat baik secara administratif juga mungkin melengkapi konten untuk raih hasil yang kompetitif.

Haturan….

Assalamualaikum Wr Wbr.
Laporan kegiatan Acara Forum FGD Penguatan Kemitraan Jejaring Kawasan Terpadu & Pengembangan Kawasan Wisata Terpadu Kementerian Pariwisata, di Bogor Icon Hotel, Selasa 05 Desember 2017 sbb :

I. Rapat dimulai oleh Pa Burhan Kemenpar lalu dipandu oleh Pa Azwir selaku Ketua Tim Percepatan KEK Kemenpar dihadiri oleh Pa Arifin KabiroSPIBUMD, SahliEkbang, KabiroDalbang & KabiroProdi Setda Prov Jabar. Direktur Badan Usaha Pengusul KEK di Jabar, Pemkab dan Tim Perintis KEK Prov Jabar.
Prof DJP selaku Ketua Tim Perintis Pembangunan KEK Provinsi Jawa barat datang menyusul.

II. Acara dimulai dengan paparan dari 4 Pimpinan Badan Usaha Pengusul :
a. Pa Anggoro Dirut KCIC
b. Pa Dani Direktur PT. Bintang Raya Lokalestari – Geopark Sukabumi.
c. Pa Abi Direktur PT PMB Pangandaran.
d. Pa Virda Dirut PT BIJB.
disela acara tersebut dilaksanakan Prosesi penandatanganan Kerjasama antara PT. Bintang Raya Lokalestari – Geopark Sukabumi dg PT PGN (Perusahaan Gas Negara) dlm rangka dukungan investasi pembangunan dan pengembangan KEK di Kabupaten Sukabumi.

Photo : Refleksi gaya kebersamaan / Dokpri.

III. Kesimpulan FGD Penguatan Kemitraan Jejaring Kawasan Terpadu adalah :

A. Pak Arifin :
1. Pembagian tugas yang jelas antara tugas teknis adminstrasi, fungsi eksekusi & Substansi di pemkapb dan pemprov Jabar.
2. Mekanisme pengusulan sesuai regulasi dan dokumen administrasi segera dilengkapi seperti berita acara verifikasi di level kabupaten dan selanjutnya dikirimkan ke gubernur dengan surat pengantar bupati untuk diverifikasi di level provinsi, baru gubernur membuat surat pengajuan usulan KEK ke Dewan Nasional KEK.
3. Tambahan 1 slide tentang perbandingan pertumbuhan ekonomi di jabar dengan adanya KEK untuk segera dilaporkan ke Tim Perumus.
4. Perlu simulasi final dengan Badan Usaha Pengusul sebelum pertemuan Gubernur dengan Menpar tgl 14 Desember 2017.

Photo : Menu maksi (sebagian) / Dokpri.

B. Pa DJP :
1. Kesimpulan hasil pertemuan tgl 23-24 Nopember 2017 dari 6 vadan usaha pengusul dikategorikan Berdasarkan kelengkapan perrsyaratan adalah KEK Pangandaran dan KEK Cikidang Gepark Sukabumi disebut Batch I dan KEK Walini KCIC dan KEK Kertajati BIJB adalah Batch II dan sisanya KEK Jatigede Sumedang & Purwakarta kemungkinan mundur karena tidak bisa melengkapi persyaratan.

2. Selain syarat normatif yg tercantum pd PP 2/2011 & Permenko BidEko No 07/2011 juga ada surat pernyataan dari Direksi Badan Usaha Pengusul bahwa dokumen yang diajukan adalah benar dan bisa dipertanggungjawabkan serta status lahan yang diajukan tidak sedang bersengketa juga sah legalitasnya.

3. Bertanggungjawab secara eksekusi & substansi usulan dan teknis administratif berdasarkan regulasi adalah AsdaEkbang & KabiroSPIBUMD.

C. Pa Buchori, Sekretariat Dewan Nasional KEK :
1. Beberapa isu penting dlm usulan KEK : Ketersediaan Air sehingga AMDAL harus ada, Pemerataan Ekonomi, Kepastian Luas Lahan, komitmen Investor dan pembuatan tabel untuk memudahkan monitoring & evaluasi.

2. Untuk BIJB secara konsep rencana bisnis sudah dinilai OK oleh Wakil Ketua Sekretariat Dewan Nasional KEK tetapi ketersediaan lahan tetap menjadi syarat utama. Jikalau belum dimiliki bisa saja dikuasai dengan kerjasama yang mengikat dan janfka waktu yg jelas seperti dengan pihak Perhutani.

3. Sepakat dengan ide adanya panduan yang jelas dan penyajian usulan proposal KEK dari Dewan Nasional KEK, tetapi untuk saat ini masih informal dimana tahapan usulan KEK ini berproses di Tim Kecil DNKEK, level Eselon I Kementerian hingga mengerucut di Sidang Dewan Nasional KEK.

4. Hal penting dalam usulan KEK ini adalah terkait Devisa negara yang bisa dioptimalkan.

5. Top of mine dari tiap usulan KEK harus diterjemahkan dalam bentuk angka-angka yang rasional seperti laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan perkapita.

D. Pa Azwir :
1. Lahan yang diajukan harus clear & clean, pengusul yang jelas dan dukungan penuh pemerintah daerah.

2. Tindak lanjut dari akselerasi usukan KEK ini akan ada pertemuan dengan Menteri Pariwisata. Surat undangan pertemuan Pak Menpar dengan Gub jabar, Gub jatim, Gub babel, Gub Sumbar pd tgl 14 Desember pukul16.00 wib sd 18.00 akan dibuat oleh kementerian Pariwisata.

3. Gubernur diharapkan hadir dengan para bupati pengusul KEK serta para mitra calon investor yang akan berinvestasi di area KEK.

4. Mari kita dukung penuh Usulan KEK dari 4 badan usaha pengusul sehingga momen berharga ini dapat menjadi sejarah khususnya terwudnya KEK Walini dan Kertajati yang akan mengubah konstalasi ekonomi di Jabar.

Photo : Rada Eksis dikit / Dokpri.

Demikian laporan dan info kami, semoga KEK di Provinsi Jawa Barat dapat segera terwujud. Wassalam. (Akw).

Mengejar dirimu….*)

Melawan rasa menyeret hasrat untuk bisa bersua denganmu meski jarak tetap membuat jarak berlaku. terima kasih atas kehadiranmu yang senantiasa tepat waktu.

Langkah lelah berbuah hikmah, sengal dan peluh hilangkan keluh. Genggam berpadu menyusuri waktu, erat berpilin membentuk siluet kebebasan. Perjalanan ini harus tetap bergerak karena kehidupan tak kan pernah diam.

Photo : Sunrise di Ciwidey / dokpri.

Disaat teman-teman kembali terlelap bergumul dengan selimut kemalasan setelah shalat shubuh berjamaah. Maka dicoba menyeret langkah menapaki jalur bukit untuk mengejar dan menyambut hadirnya rutinitasmu menyinari alam dunia hingga nanti terbenam di ufuk barat.

Photo : Pagi yang dingin di penginapan dokpri.

Shalat shubuh tadipun menjadi sebuah pembuktian dari aneka motivasi dan nawaitu dari masing-masing. Ada yang memang sudah terbiasa, ada juga yang takut atau segan sama pak Boss yang hadir pribadi, atau juga ada yang memang belum bisa tidur hingga adzan shubuh berkumandang karena kedinginan yang teramat sangat atau akibat bersendagurau dan bermain gapleh bersama hingga lupa terhadap ketika, luruh berbalut waktu sehingga akhirnya dini haripun tiba.

Kembali kepada langkah yang terus menjejak terjalnya punggung bukit serta bercampur tanah merah yang sangat licin sehingga kehati-hatian menjadi keharusan. Meninggalkan teman-teman sekantor yang bersibuk dengan kepentingan masing-masing sebelum sarapan pagi dan kegiatan outbond dimulai.

Kenapa kamu bersusah payah menyendiri demi abadikan sesuatu yang biasa terjadi?…

yap, momen matahari terbit adalah biasa, tetapi yang luar biasa adalah bagaimana mentafakuri kehadiran sang mentari pada punggung bukit kehidupan, bergerak perlahan menyemburat sinar keemasan, memperlihatkan setitik mikron saja dari bentuk keagungan Allah SWT. Lokus untuk menikmati kehadiranmu adalah sensasi tersendiri, meskipun harus berpeluh dan melawan dinginnya hari, tetapi kehadiranmu dengan semburat keemasannya dan lambaian aneka warna harapan dalam harmonisasi keindahan, begitu memukau melupakan segalanya.

Menikmati kehadiranmu yang tak pernah ingkar janji adalah cerminan diri, begitupun disaat harus kembali dan bertukar harapan dengan sang bulan, semua dijalani dengan ketenangan. Tak pernah dirimu bertahan untuk terus menyinari bumi, tetapi legawa disaat waktunya sudah tiba pada saat yang dinanti untuk kembali bersiap menghadapi esok hari.

Akh kok jadi melo begini.. tapi itulah kekuatanmu yang menjadi bukti bahwa diri ini tiada daya tiada upaya tanpa restu dan perkenan Allah Sang Maha pencipta.

Setelah tuntas mengabadikan kehadiranmu ingin rasanya memandangi dan menikmati kehadiranmu hingga tenggelam nanti. Tetapi kewajiban kehidupanpun harus dijalani karena itulah yang menjadi tugas kami, yaitu untuk berserakanlah di bumi.

Wassalam (AKW).

*) Curhatan ringan mengejar sunrise di Dataran Tinggi Ciwidey.

KEK – Usulan dari Badan Usaha

Belajar memahami tentang prasarat pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus (Special Economic Zone).

Asswrwbr.

Sekarang nulis yang serius ah, berpadu antara suka dengan kerjaan. Meskipun bukan tugas utama tapi khan nggak berat bawa-bawa ilmu mah. Tinggal save di belahan otak da gunakan disaat diperlukan. Gitu aja kok repott…. eit ternyata yang repot itu niat dan waktu untuk baca regulasinyanya, plus yang lebih menantang adalah memahaminya.

Photo : Susana Seminar tentang Kawasan Industri & SEZ / Dokpri.

Tapi patut dicoba khaaan….. akhirnya PP 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan KEKpun di print setelah beberapa bulan terdiam dalam bentuk file di folder laptop tersayang. Alasan di print ya itu tadi…. supaya puas dan (semoga) paham dengan cara dicoret2. Khan ga elok juga jikalau layar smartphone ini dicoret2 hingga penuh goresan.

Mencoba ngebolak balik nih PP, maka didapet kesimpulan awal bahwa dari 7 Bab dan 55 pasal ini terbagi menjadi 5 bagian besar penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus ini yaitu :
1. Pengusulan
2. Penetapan
3. Pembangunan
4. Pengelolaan, dan
5. Evaluasi Pengelolaan.

Porsi terbesar hingga 43,4% atau 23 pasal adalah yang mengatur tentang Pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus baru disusul tentang pembangunan KEK 12 pasal (22,6%) dan sisanya bab lainnya.

Simpulan awal berarti memang proses awal usulan yang banyak ragam aneka cerita, diantaranya adalah calon pengusul yang terdiri dari 4 pihak yaitu Badan Usaha, Pemerintah Kabupaten/kota, Pemerintah Provinsi, Kementerian/Lembaga Negara Non Kementerian. Belum lagi klo wilayah yang diusulkan untuk menjadi KEK ini lintas beberapa kabupaten/kota, beda lagi mekanisme dan persyaratannya.

Tapi jangan khawatir, yuk kita pelajari pelan-pelan. Baca… klo nggak ngarti… baca ulang.. baca ulang, eh kagak ngarti juga ya udah rehat dulu sambil sruput kopi item tanpa gula, moo robusta ataupun arabica yang penting halal. Trus berdoa supaya dibukakan kemudahan belajar dan memahami apa yang ingin kita tahu,… trus ya baca lagi bro.

Sekarang moo bahas tentang pengusulan menjadi Kawasan Ekonomi khusus oleh Badan Usaha, cekidot…

Dasar hukumnya Pasal 12 butir 2 PP 2 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan KEK. Disini disebutkan beraneka syarat manakala badan usaha mengusulkannya, yaitu :

1. Surat Kuasa Otoritas, jika pengusul Konsorsium.
2. Akta Pendirian Badan Usaha.
3. Profil keuangan 3 tahun terakhir audited. Atau kalau perusahaan baru, profil keuangan 3 tahun terakhir dari Pemegang Saham audited. Kecuali, BUMN & BUMD.
4. Persetujuan dari Pemkab/Pemkota terkait dengan lokasi KEK yang diusulkan.
5. Surat pernyataan kepemilikan nilai ekuitas minimal 30% dari nilai investasi yang diusulkan.
6. Deskripsi rencana pengembangan KEK yang diusulkan. Minimal : 1) Rencana, 2) Sumber Pembiayaan dan 3) Jadwal Pembangunan KEK.
7. Peta detail lokasi pengembangan KEK yang diusulkan, serta luas area yang diusulkan.
8. Rencana peruntukan ruang pada lokasi KEK yang dilengkapi dengan peraturan Zonasi.
9. Study Kelayakan Ekonomi & Finansial.
10. Analisis Dampak lingkungan hidup yang sesuai perUUan.
11. Usulan jangka waktu beroperasinya KEK & Renstra Pengembangan KEK.
12. Izin Lokasi.
13. Rekomendasi dari Otoritas pengelola infrastruktur pendukung dalam hal pengoperasian KEK memerlukan dukungan infrastruktur lainnya.
14. Pernyataan kesanggupan melaksanakan pembangunan & pengelolaan KEK.

Ditambah dengan :
1. Formulir usulan (Kelengkapan ini Mengacu kepada Peraturan Menteri Koordinator Perekonomian Nomor Per-07/M.Ekon/10/ 2011 Tentang Pedoman Pengusulan Pembentukan KEK)
2. Komitmen dukungan Pemerintah daerah berupa Nota Kesepahaman antara Kepada Daerah dengan Ketua DPRD Kabupaten/Kota dalam memberikan dukungan finansial, insentif dan keringanan pajak serta kemudahan perijinan dan kemudahan lainnya. Persyaratan ini mengacu kepada pasal 13 Butir 4 PP 2 Tahun 2011.

Itu dulu yach. Selain syarat usulan tentu mekanisme usulan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus adalah hal yang penting dalam bab usulan ini. Tapi sabar yaa, soalnya hari minggu itu jadwal tetap ngasuh anak sholehah nich, yang nggak mau lepas dari ayahnya sambil curi-curi sempat ngetik di notepad tentang KEK ini.

Ntar dilanjut yaa, Wassalam. (Akw)

*Manusia Bertajuk Waktu*

Jalani hari berburu waktu, bersama dinginnya pagi dan semilir keengganan untuk meraih waktu yang berkualitas.

Photo : Gedung sate ba’da Shubuh / dokpri.

Sentuhan dingin di senin dini hari telah menjadi teman sejati. Membelah temaram berteman lampu jalan, sudah lumrah dan malah berwujud sebuah kebutuhan. Menjalani perlahan dan menjadi kebiasaan, terhindar dari crowded nya kemacetan senin pagi sekaligus nge-cas keyakinan agar nambah paham dan juga bersua dengan banyak kawan.

Senin pagi (06/11) ba’da sholat shubuh, ustad Aam Amiruddin yang memberikan tauziah dengan judul : Manusia dalam Perspektif waktu.

Sambil terantuk oleh ngantuk, terbuai oleh suasana senyap. Jemari berusaha menari diatas keyboard smartphone, menuliskan rangkaian kata bermakna untuk ditulis semampunya. Mari kita simak gan :

Assalamualaikum Wr Wbr.
Manusia selalu bertransformasi, beradaptasi menyesuaikan dengan keadaan, tetapi ada yang tidak merasa berubah, itulah uniknya.

Terdapat 4 (empat) istilah yang terkait manusia dalam dimensi waktu yaitu :
1. Ad dahru.
2. Al maukut.
3. Al ashr.
4. Al Azl.

Pertama adalah Ad dahru, dimana manusia itu asalnya tiada.. menjadi ada dan selanjutnya tidak ada. 100 tahun lalu kita tidak ada, sekarang ada hadir kedunia tanpa bisa memilih dilahirkan dimana, oleh siapa dan menjadi suku mana atau menjadi bagian bangsa mana. Sehingga yang masih mengutak atik suku bangsa dan asal muasal, itu termasuk Jahiliyah lho (kata pa Ustad).

Setelah itu kita semua tiada, meninggalkan dunia fana sesuai dengan hitungan masing-masing yang merupakan rahasia.
Perbandingan lamanya hidup di dunia dibanding kehidupan akherat menurut sabda Nabi Muhammad adalah “Celupkan ke air laut, kehidupan dunia bagaikan air yang ada ditelunjuk sementara Kehidupan akherat adalah air yang ada di samudera”. (Punten klo ga lengkap seperti Haditsnya ya….)

Kedua adalah Al Maukut yang berarti bagaimana manusia memanage waktu. QS Annisa 103. Dalam hal memanage waktu harus definitif seperti waktu sholat, jelas batasnya jelas saatnya. Sehingga kehidupan inipun harus jelas program kerjanya, rundown-nya gimana, kapan dan siapa yang menjadi pelakunya. Mari kita terbiasa menetapkan waktu secara definitif, nggak boleh terlalu abstrak dan jangan ambigu.

Ketiga adalah Al Ashr, semua pasti udah tahu surat ini, surat yang rutin dibaca sholat menemani kulhu dan inna a’toina. Pengertiannya disini adalah bagaimana manusia mengisi waktunya dengan berkualitas. Waktu 1 hari tetap 24 jam, tetapi cara mengisi waktunya masing-masing individu berbeda. Contoh waktu 1 jam antara magrib dan isya diisi oleh si A dengan membaca Alqur’an sementara si B menonton televisi dengan tayangan yang gitu-gitu ajah. Nah menurut ajaran Islam, orang yang beruntung adalah orang yang bisa mengisi waktu dengan berkualitas.

Yang terakhir, keempat adalah Al Ajl yaitu Ajal. Dalam QS Yunus ayat 49 disebutkan bahwa setiap umat ada ajalnya, setiap orang tidak ada yang bisa menangguhkan dan mempercepatnya. Selanjutnya dalam QS Annaml ayat 96 disebutkan bahwa.. yang ada digenggamanmu akan habis…. rambut memutih, rontok, gigi morolok karena semuanya fana. Termasuk kecerdasanpun akan menurun seiring waktu. Semua ada ujungnya, pegawai pada akhirnya pensiun juga. Khusus pegawai yang punya amanah jabatan, antisipasi dari sekarang masalah post power syndrome dengan cara perkuat iman agar ikhlas menerima kenyataan.

Demikian tangkapan dengar cernaan pikir dari hamba yang penuh kekurangan tentang tauziah senin pagi minggu ini. Ada sambungannya tentang bagaimana cara supaya waktu yang dimiliki temporary ini berkualitas… bentar lagi ditulis dulu.

Sementara ini dulu. “Kucing ungu berkencan sambil tersenyum cantik, sabar menunggu sambungan karena sedang diketik” Wassalam. (Akw).

Levitasi di tanah Sriwijaya.

Akhirnya mencoba loncat lagi dengan segenap perjuangan dan pengorbanan akibat meroketnya berat badan.

Perjalanan kali ini menyeberangi Selat Sunda menuju Pulau Sumatera, itu kalo perjalanan darat dengan mobil – naik kapal feri – naik mobil lagi. Klo via udara ya lurus aja kali… dari Bandara Husein Sastranegara hingga mendarat di bandara Sultan Mahmud Badarrudin II. Bandara ini berjarak kurang lebih 45 menit dari Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Maka kamipun dari Bandung sudah berbatik sehingga turun di pesawat bisa langsung naik mobil menuju tempat pertemuan tanpa perlu berganti pakaian. Jikalau ada keringat maks tinggal disapu dengan deodoran atau parfum yang setia menjadi kawan perjalanan. Turun dari mobil langsung kunjungan, praktis khan?…

Diluar kunjungan itu, ada target lain yaitu nambah koleksi Jumpshot dan Levitasi. Kesempatan pertama photo loncat dilakukan sambil peninjauan pintu gerbang Tol Palindra (Palembang – Indralaya), tapi ternyata gagtot (gagal total) apalagi suhu udara dan terik mentari menyengat ubun-ubun kami sehingga hasilnya seperti ini.

Photo loncatan yang gagtot / dokpri.

Jangan ngledek ya warganet, tapi perjuangannya wajib diapresiasi. Kesempatan kedua di sore hari berhasil menjadikan momen loncat yang indah (kata yang loncat). Perjalanan dengan perahu selama 1 jam menyusuri sungai Musi hingga tiba di Pulau Kemaro. Berpusing-pusing eh berputar-putar mengelilingi pulau kecil ini hingga akhirnya berJumpshot berlatar belakang pagoda kelenteng yang cerah penuh warna.

Photo : Semangat meloncat / dekpri.

Ternyata loncatan perdana berbuah tertawa karena disaat meloncat, jilbabnya ikut terbang dan menutupi mukanya. Jadi buat para abege puteri yang berjilbab juga ibu-ibu yang sudah berumur agar hasilnya maksimal, bukan wajah jadi ketutupan kerudung.

Photo : Jumpshot Kura2 Ninja / dokpri.

Gaya pertama adalah jumpsot Kura-kura Ninja dengan pakaian serba hitam menghasilkan photo loncat yang (bisa jadi) kenangan. Meskipun smartphone harus terjatuh dari saku pakaian karena tak siap pas dipaksa meloncat mendadak.

Photo : Levitasi (maksa) di P. Kemaro / dokpri.

Untuk photo levitasi kali ini belum mendapatkan hasil sempurna, banyak faktor terutama mancungnya perut dan otomatis berat badan meningkat sehingga ripuh bin repot untuk ngambil adegan levitasi. Yach segini ge lumayan.

Photo : Mentari sore di P.Kemaro / dokpri.

Sebelum meninggalkan pulau Kemaro ini tak lupa abadikan mentari sore yang tak lama lagi akan tenggelam di ujung cakrawala. (Akw).