Levitasi di tanah Sriwijaya.

Akhirnya mencoba loncat lagi dengan segenap perjuangan dan pengorbanan akibat meroketnya berat badan.

Perjalanan kali ini menyeberangi Selat Sunda menuju Pulau Sumatera, itu kalo perjalanan darat dengan mobil – naik kapal feri – naik mobil lagi. Klo via udara ya lurus aja kali… dari Bandara Husein Sastranegara hingga mendarat di bandara Sultan Mahmud Badarrudin II. Bandara ini berjarak kurang lebih 45 menit dari Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Maka kamipun dari Bandung sudah berbatik sehingga turun di pesawat bisa langsung naik mobil menuju tempat pertemuan tanpa perlu berganti pakaian. Jikalau ada keringat maks tinggal disapu dengan deodoran atau parfum yang setia menjadi kawan perjalanan. Turun dari mobil langsung kunjungan, praktis khan?…

Diluar kunjungan itu, ada target lain yaitu nambah koleksi Jumpshot dan Levitasi. Kesempatan pertama photo loncat dilakukan sambil peninjauan pintu gerbang Tol Palindra (Palembang – Indralaya), tapi ternyata gagtot (gagal total) apalagi suhu udara dan terik mentari menyengat ubun-ubun kami sehingga hasilnya seperti ini.

Photo loncatan yang gagtot / dokpri.

Jangan ngledek ya warganet, tapi perjuangannya wajib diapresiasi. Kesempatan kedua di sore hari berhasil menjadikan momen loncat yang indah (kata yang loncat). Perjalanan dengan perahu selama 1 jam menyusuri sungai Musi hingga tiba di Pulau Kemaro. Berpusing-pusing eh berputar-putar mengelilingi pulau kecil ini hingga akhirnya berJumpshot berlatar belakang pagoda kelenteng yang cerah penuh warna.

Photo : Semangat meloncat / dekpri.

Ternyata loncatan perdana berbuah tertawa karena disaat meloncat, jilbabnya ikut terbang dan menutupi mukanya. Jadi buat para abege puteri yang berjilbab juga ibu-ibu yang sudah berumur agar hasilnya maksimal, bukan wajah jadi ketutupan kerudung.

Photo : Jumpshot Kura2 Ninja / dokpri.

Gaya pertama adalah jumpsot Kura-kura Ninja dengan pakaian serba hitam menghasilkan photo loncat yang (bisa jadi) kenangan. Meskipun smartphone harus terjatuh dari saku pakaian karena tak siap pas dipaksa meloncat mendadak.

Photo : Levitasi (maksa) di P. Kemaro / dokpri.

Untuk photo levitasi kali ini belum mendapatkan hasil sempurna, banyak faktor terutama mancungnya perut dan otomatis berat badan meningkat sehingga ripuh bin repot untuk ngambil adegan levitasi. Yach segini ge lumayan.

Photo : Mentari sore di P.Kemaro / dokpri.

Sebelum meninggalkan pulau Kemaro ini tak lupa abadikan mentari sore yang tak lama lagi akan tenggelam di ujung cakrawala. (Akw).

Kerajaan Abu yg Tak Kelabu..1)

Mengejar tahu merintis ilmu sambil memintal silaturahmi tanpa misi pribadi di sebuah kerajaan abu di wilayah Bandung utara.

Photo : Om Teddy Bear lg santai / dokpri.

Desau pagi menumpang angin berpadu padan dengan segarnya kerinduan. Embun keengganan masih menggelayut manja pada hijaunya dedaunan. Sang waktu sudah melesat membelah pagi, mengantarkan seikat janji yang harus dipenuhi pagi ini.

Setelah merayap membelah rasa menyusuri arah Bandung utara, tibalah di halaman bangunan megah yang mengingatkan nalar menguatkan khayal berada di sebuah kerajaan masa lalu. Tembok tinggi berwarna abu tidak menyiratkan kelabu, malah menelisik hati untuk masuk lebih dalam lagi.

Setelah kendaraan terparkir sempurna, kedua kaki melangkah ringan memasuki pelataran kerajaan abu-abu ini. Senyuman menyebar bertaburan menyambut setiap kedatangan, gemerlap lampu gantung dan sofa-sofa besar berpadu dengan hadokpringatnya lantai yang berselimut karpet tebal. Di ujung dekat perapian, Sang Teddy bear sedang asyik bersantai. Sesaat bertemu muka, senyum mengembang dan anggukan hormat yang tulus menambah rasa betah berada dilingkungan baru ini.

Penjaga dan pelayan kerajaan terlihat berbagi tugas menyambut tamu yang datang. Begitupun raga ini bergerak menuruni tangga, melewati kolam renang ukuran besaaar dengan kejernihan air yang begitu menggoda. Terlihat lambaian manja bidadari air, merajuk untuk ikut bergabung dalam segarnya gemericik air. Tapi jiwa menahan karena hadir disini bukan untuk itu, tetapi mencari sejumput mutiara ilmu yang berada di ruang pertemuan tidak jauh dari tempat para bidadari air menari riang.

photo : Kerajaan GeHa Universal / dokpri

Setelah berhasil melewati godaan bidadari air, raga bergerak menuju tangga kristal. Perlahan menurun dan disambut lagi gemericik air mancur kecil sebelum masuk ruang Tuscani. Sebuah ruangan abu yang fungsional, terang temaram merebak rasa kebersamaan dan semangat berbagi pengetahuan. Sebuah bahasan pengetahuan beralur cepat dengan aneka bahasa yang saling melengkapi. Baik bahasa ibu yang resmi di kerajaan juga bahasa asing yang akhirnya hanya mengangguk dan tersenyum tanpa paham apa yang dibicarakan. Tapi minimal dari gestur, ada sedikit yang bisa dimengerti.

Bahasan ilmu biar nanti dibahas khusus tapi yang pasti makasih atas kesempatan bersua dan diundang oleh KPPIP serta rekan-rekan Tusk consultant di bangunan megah klasik, seolah berada di sebuah kerajaan abu yang megah di bilangan Bandung utara, namanya Kerajaan GeHa-Universal.

Photo : Air mancur mini depan Tuscani / dokpri.

Sambil menikmati harmoni musik klasik yang lembut digabung dengan penjelasan tentang Pi-pi-pi, menambah ilmu menambah silaturahmi apalagi yang hadir ada 3 petinggi negeri punggawa utama tentu menambah takjub dan betah berlama-lama.

Meskipun bidadari air dan raja kantuk berlomba merebut rasa, tetapi ketetapan hati tak bergeming untuk terus menimba ilmu mengejar pengalaman. Sehingga keseluruhan latihan dan pembelajatan kehidupan bisa diikuti tuntas meskipun ada keterbatasan karena sudah mulai terjangkit penyakit endemik ‘lanang celup’, yakni gejala otak dan perasaan yang lambat nangkap dan cepat lupa he he he.

Met belajar para pangeran…….

Semoga nanti miliki waktu untuk menikmati hari menapaki relung relung kerajaan abu, selain untuk mendapat ilmu tapi juga pengalaman untuk beredar semu hingga berakhir pada satu pintu titik temu. (Akw).

Berseru hari berkawan hujan.

Biarkan sang hujan menjatuhkan diri ke bumi membuat goresan petualangan yang tak lekang oleh jaman….

Photo : Suasana Cafe di Cimahi Utara / dokpri.

Gemericik butir hujan menyentuh dedaunan dan atap yang menaungi kebersahajaan, membentuk melody kehidupan yang meresonansi jalinan kenyataan menjadi bentuk tafakur yang berbuah hikmah penuh berkah.

Peristiwa jatuhnya hujan terkadang dianggap penghalang, padahal hujan adalah pembawa berkah bagi semesta yang senantiasa menantang. Disitulah bedanya titik hikmah yang bisa menjadi tak serupa karena sudut pandang yang dipahami berdasarkan ilmu yang dimiliki.

Bagaimana cara menikmati gemericik hujan yang datang tidak terduga?….. banyak cara, tapi ada satu yang mudah yaitu ‘berkawanlah dengan dia, kopi’.

Pertama, jika berada di rumah bersama keluarga itulah saat luar biasa. Setelah selarik doa syukur terpanjat tentu menikmati penganan hangat dengan secangkir kopi panas plus senda gurau gelak tawa anak adalah keindahan rasa yang tak bisa dinilai. Tapi ingat usahakan kopi giling yaa… bukan kopi gunting atau sacetan (tah.. tah… tah mulai lagi urusan kopi).

Photo : Double shot espressoku / dokpri.

Jika tak punya coffee maker maka lakukan manual drip dengan V60 atau……. yang paling gampang adalah bikin kopi tubruk. Karena kopi tubruk adalah kepolosan yang menyimpan kejutan rasa nikmat, tanpa banyak basa basi kata Ben (Cicho Jericho) sang Barista dalam Filosopi Kopi The Movie. Tinggal pilih biji kopi pilihan hati, di grinder manual sambil melibatkan rasa dan cinta maka akan memunculkan sebuah citarasa yang tiada tara. Bagaikan kopi ‘tius‘ kopi tradisional dataran Dieng racikan Pak Seno yang bisa mengalahkan ‘Perpecto‘ nya kedai Filosopi kopi.

Kedua, disaat gemericik hujan mendera bumi dan kita posisi sedang dalam garis edar alias sedang beredar, maka menjambangi kedai kopi adalah sebuah sensasi tersendiri. Bisa juga cafe yang miliki varian produk kopi, peralatan dan tentunya barista handal yang ramah dan rendah hati.

photo kopi tersaji by V60 / dokpri.

Bagi penyuka kopi pahit, maka paling simple cukup beberapa pilihan dulu aja. Yaitu espresso, dopio alias double shot espresso atau kopi tubruk, atau bisa juga pake V60. Cold brewpun masih cocok meski dingin bersaing dengan derasnya hujan. Long black juga bisa menjadi teman setia.

Apa lagi klo cafe khan selain citarasa kopi juga pasti menjual suasana, bikin betah berlama-lama. Apalagi bersama istri tersayang yang memang lebih dulu ‘mencintai‘ kopi. Gemericik hujan terdengar berdentang riang, menemani sruput demi sruput angan yang berpendar keindahan.

Itulah secuil rasa yang bisa disesap dan dinikmati bersama sang kopi disaat langit sore sedang sendu terkungkung lembayung ungu. (Akw).

T&M di Sukabumi

Kembali berceloteh tentang T&M alias tugas dan makan, maka ditulislah apa yang sudah dimakan. Jangan lupa baca doa sebelum makan.

Perjalanan menuju wilayah Kabupaten sukabumi tak lepas dari tunainya tugas dan terpenuhinya janji. Memenuhi undangan rapat adalah salah satu kewajiban, jarak yang terentang menjadi pengalaman tersendiri untuk dijalani dan tentu ditafakuri.

Bandung – Sukabumi tepatnya daerah Cikidang berjarak 140 kilometer dan jarak tempuh versi gog-mep 4 jam 34 menit dalam kondisi lalulintas normal. Klo kenyataan bisa mencapai 7 jam lebih karena kemacetan sudah dimulai dari turunan jembatan layang paspati menuju pintu tol pasteur akibat dari proyek gorong-gorong yang katanya sebulan lagi kelar. Trus padat merayap di jalur tagog apu padalarang, daerah Karang tengah Cianjur karena aktifitas bubrik (bubar pabrik) dan terakhir yang parah di daerah Cimangkok Sukabumi dengan suasana sama karena aktifitas keluar masuk kendaraan dan karyawan pabrik di wilayah tersebut.

Secara kasar dengan perhitungan rasa, terlihat bahwa rasio jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan sudah tidak seimbang. Apalagi kalau membandingkan data pertumbuhan mobil dan motor yang beredar di jabar di bandingkan pertumbuham jalan… itu pasti jauh pisaaan. Makanya konsep pemerintah tentang pembangunan jalan tol sukabumi – bandung menjadi stategis. Alhamdulillah tol Bocimi (Bogor – Ciawi – Sukabumi) sedang dibangun. Harapannya tentu lanjutannya yang sudah di konsep dalam dokumen pra desain adalah sukabumi – Ciranjang, Ciranjang – Padalarang yang selanjutnya terkoneksi dengan ruas tol Cipularang.

Tapi ada hal penting lain yang menyangkut kebijakan pemerintah terkait pembatasan umur kendaraan bermotor roda empat dan roda dua. Hanya saja implementasinya belum jelas hingga kini.

Photo : Mesjid besar di Warung Kondang-Cianjur / dokpri.

Balik lagi ah ke urusan cerita perjalanan kali ini. Yang pertama sebelum masuk ke wilayah sukabumi, singgah dulu ke Mesjid di daerah Warung Kondang Cianjur ….. untuk sejenak rehat dan laporan kepada Sang Maha Pencipta. Nuansa sejuk dan damai menyelimuti rasa memberi kesejukan sebelum berlanjut menuju arah tujuan dunia.

Photo : Interior Mesjid di Warungkondang / Dokpri

Memasuki wilayah Cimangkok Sukabumi maka jalan tersendat dan lebih sering terdiam. Ya gimana lagi… tinggal sabar dan sabar. Akhirnya mendengarkan musik dan ber WA ria menjadi hiburan sementara.

Alhamdulillah perjalanan yang tersendatpun bisa terlewati hingga memasuki wilayah kota Sukabumi… wah waktunya sudah cocok untuk makan siang….. Sambil menuju daerah Cibadak yang menjadi perbatasan menuju Kabupaten Sukabumi, disitu menemukan pengalaman berkuliner yang bisa jadi rujukan dikala perut keroncongan dengan rasa yang dijamin ngangenin.

Photo : Rumah makan di Cibadak / dokpri.

Lebih tepatnya ditunjukin sama pa bos yang dulu pernah lama bertugas di Sukabumi. Beliau nunggu kami dan makan bareng-bareng. Warungnya sederhana sempit dan tempat duduk terbatas. Posisinya juga tidak dipinggir jalan, tapi sedikit masuk ke gang. Untuk parkir mobil harus di seberang jalan, itupun rebutan.

Menu yang tersaji adalah aneka sop baik sop daging, sop kikil, sop babat serta aneka jeroan ayam, sapi, kambing plus dendeng sapi dilengkapi perkedel kentang serta kerupuk aci. Sopnya disajikan panas – panas, nikmat pake bingit dech. Trus pelayan dan (kayaknya) merangkap pemilik juga lincah dan ramah melayani para tamu yang datang. Dengan harga terjangkau, kami bisa makan sepuasnya dan melewati siang ini dengan ceria.

Photo : Capture Yutub Bazit.

Perjalanan di lanjutkan menuju wilayah bukit Cikidang tempat meeting akan dilakukan. Bicara Cikidang maka serasa akrab karena sudah dipublikasikan onlen di yutub dengan akun ‘bazit‘ yang mentraslate adegan film yang dibintangi bruce willys dengan bahasa sunda yang agak kasar tapi jadi menghibur dengan judul ‘nyasab ka cikidang‘, buat yang ngerti bahasa sunda dijamin tersungging minimal senyum simpul. Ah udah ah… kok jadi ngomongin bazit.

Tiba di tempat meeting dan dilanjut nginap mungkin nanti ditulisnya, sekarang lagi concern sama kulinernya. Esok hari jam 11 siang meetingpun usai, segera kendaraan dikebut menuruni perbukitan Cikidang hingga tiba di pertigaan jalan raya yang menghubungkan Cibadak dengan Palabuanratu. Sopir reflek mengarahkan kendaraan ke kanan dan berhenti di halaman warung sate.

“Kok brenti disini pa?” Kami bertanya. Sang sopir jawab malu-malu, “Maaf pa, itu daging kambing mentah yang menggantung menarik saya untuk berhenti”.

“Moduuuuss kamuu!!!” Kami serentak teriak sambil tertawa, karena memang kami semua sudah mulai merasa lapar.

Photo : Sate + sop + kopi item / dokpri.

Ternyata feeling sopir terbukti benar, sajian sate kambing dan sop kambingnya maknyus dilengkapi dengan minuman penutup yang begitu ngangenin yaitu kopi item minus gula. Entah apa merknya tapi rasanya cukup memuaskan lidah dan nenangin hati. Meski nggak pake V60 ataupun fresh bean yang di grinder ngedadak, tapi bisa bertemu segelas kopi pahit adalah kenikmatan yang wajib disyukuri. Alhamdulillah.

Itu saja secuil cerita kuliner jalur Bandung ke Cikidang Sukabumi PP. Selamat wayah kieu (Waktu saat ini). Wassalam. (Akw).

Cikidang nggak jd Begadang

Menembus malam menjemput harapan, sebuah perjalanan yang menjadi bukti ketaatan dari tugas pekerjaan berbalut rindu terhadap keluarga yang penuh kehangatan

Photo Meeting Tim KEK / Dokpri.

Manusia berencana tetapi Allah-lah yang Maha berkehendak, menghadiri acara di Cikidang Kabupaten Sukabumi yang awalnya 2 hari ternyata harus diubah karena ada tugas lain menanti. Tanpa banyak bersensasi, segera pamit undur diri dari area Cikidang Plantation Resort yang menjadi tuan rumah pertemuan alias meeting tentang penyusunan proposal pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus di Jawa Barat khususnya dari Kabupaten Sukabumi serta 5 daerah lainnya.

Photo Club House Cikidang dari parkiran / dokpri.

Setelah adzan isya, kami bergerak meninggalkan Club House Cikidang yang berdiri megah diatas bukit penantian. Perjalanan malam membelah kabut yang begitu erat memeluk. Foglamp hampir menyerah karena tak sanggup menembus tebalnya tirai alam yang berbalut misteri. Foglamp alias lampu anti kabut, karena gara-gara satu huruf bisa bermakna lain yaitu froglamp berarti lampu katak, yang gimana itu?…..

Photo : Lampu mobil menembus kabut / dokpri.

Lampu jauh tak berkutik sehingga kami merayap turun penuh taktik, detik demi detik. Waspada menjalari dada, memanjangkan mata dan menjulurkan telinga agar semua tetap baik-baik saja.

Adrenalin merambat naik, detak jantung berdegup bulak-balik. Terasa ada ketegangan memynculkan prasangka, bersatu dengan bebasnya otak membayangkan yang tidak-tidak. Segera ditepis bayangan seram dengan logika dan setangkup doa agar hati tetap damai dan rasa kembali berbunga.

Rush hitam meliuk menuruni jalan berkelok yang licin karena rintik hujan yang tak berhenti, perlahan tapi pasti hingga mencapai jalan besar menuju arah pulang untuk bersua dengan keluarga tercintaaah. Seatbelt tetap terpasang meski duduk di jok belakang, bukan pupujieun tapi guncangan terasa semakin kencang, perlu ada pengikat sehingga kuat bersandar dalam kebersahajaan.

Photo : Toko Moci Kaswari ‘Lampion’ / dokpri.

Photo : Pilihan moci Kaswari ‘Lampion’ / dokpri.

1,5 jam berlalu dan tibalah di Kota Sukabumi. Tanpa basa basi segera menuju burung kasuari eh jalan kasuari untuk memborong moci, penganan khas daerah sini yang enak dan aneka rasa. Banyak pilihan toko disini, tapi harap maklum klo kami bapak-bapak muda belanja pasti cari yang praktis. Karena jam 21.00 wib tinggal sesaat lagi, nyaris tak bisa beli moci. Untungnya diberi toleransi dan tanpa basa basi segera masing2 membeli.

Sebelum perjalanan dilanjut lagi, demi bugarnya sang sopir sejati serta berharap menemukan Vsixty maka berlabuh sesaat di Coffee Toffee jl. Suryakencana12 Sukabumi. Tapi ternyata untuk black coffee hanya espresso dan kopi tubruk yang bisa tersaji. Akhirnya double shot espresso Toraja yang membawa pilihan.

Photo Double Shot Espresso Toraja / Dokpri.

Sang sopir larut dengan hot coffee Caffe latte serta vicol pacarnya yang bekerja di ibukota, yaa harap maklum sopir abege.

Hanya 15 menit rehat sudah cukup mengembalikan stamina dan mood untuk segera melanjutkan perjalanan. Selamat beristirahat kawan. Wassalam. (Akw).

Keringat di senin pagi

Manfaatin waktu di senin pagi, didera jenuh dan ingin mencoba tampil beda, ternyata….

Photo : Sunrise di Gasibu / Dokpri.

Mentari pagi masih malu-malu menyapa hari, sehingga gerimis di rerumputanpun tetap bercengkerama sebelum terbang berpisah menjadi hampa. Tapi dari sela pucuk dedaunan mulai bergerak semburat pagi terbelah oleh tiang bendera putih yang tegak berdiri setiap pagi.

Trek biru tua dan muda masih basah tergenang air di beberapa bagian lapangan Gasibu. Tetapi itu semua tidak menyurutkan berpuluh pasang kaki bergerak menurut irama diri dalam drama lari pagi atau sekedar berjalan perlahan melancarkan nadi.

Ini senin pagi bung, tetapi dengan berbekal training dan sepatu olahraga maka bisa mengawali kerja dengan berjoging ria. Setelah tadi sholat subuh bersama maka sekarang lanjut berjamaah mengayunkan langkah menyusuri lintasan biru yang tiada ujungnya.

Trus jangan salah tafsir bahwa sholat shubuhnya pake trening. Tetap baju koko dan celana hitam kesayangan yang menemani pagi buta menembus jalanan lengang penuh makna dilanjut shalat bersama… berrr..sama.

Photo Trek lapangan Gasibu / dokpri.

Awalnya lari-lari kecil dilanjutkan dengan jalan cepat hingga semi lari. Tapi tak berani terlalu berkeras hati untuk berlari karena semua ada waktu dan tahapannya. Termasuk musti juga pemanasan agar otot tak tegang tiba-tiba. Sambil berlari pikiran ikut berlari menapak khayal berbaur keinginan memngkristal menjadi inspirasi yang ingin segera dieksekusi meski tetap harus berhitung tentang pentingnya eksistensi.

Sambil bergerak mengitari trek biru belang biru (B3) ini, tiba-tiba ada rasa jenuh karena selama hampir 2 tahun belakangan ini (maksudnya larinya sih sekali-kali hehehe. Nggak tiap hari)..

yang bikin jenuh itu adalah larinya pasti arahnya berlawanan dengan arah jarum jam dan semua sepakat ikut arah treknya seperti itu dan selalu seperti itu. Mbok ya sekali2 bisa berbalik arah sehingga searah jarum jam atau bisa aja satu dua orang berlawanan arah, khan jadi variatif dan rame.

Cuman resikonya mungkin dicemooh sama pejalan dan pelari lainnya. Tapi ternyata tak ada itu, semuanya taat dan patuh dengan alur trek seperti itu. Ayo dong ada yang berbeda arah…. tapi itu belum terjadi. Tadinya pengen nyoba, tapi sebelum itu perlu juga tabayun dan uji literasi mandiri via mbah gugel agar tak salah kaprah karena penasaran akibat jenuh dan keisengan bisa berakibat tidak menyenangkan.

Jadi search dulu donk, trus jangan kelamaan juga searchnya ntar ga jadi-jadi tulisannya. Langkah kaki terus bergerak menapak trek biru yang dibeberapa titik tertulis ‘bank jabar banten’ lengkap dengan logo serta dititik lain ada tulisan ‘Regupol‘ … eh penasaran juga, kayaknya merk cat yang digunakan di trek lari ini.

Photo Regupol / dokpri.

Buru2 buka smartphone sambil tetap berjalan cepat… tadaaa… ini penjelasannya begitu jelas dan lugas : ….…….Produkty BSW to producent podłóg sportowych, nawierzchni bezpiecznych, mat sportowych, wyrobów elastomerowych dla izolacji dźwięków krokowych i izolacji drgań, mat antypoślizgowych do zabezpieczania ładunków, a także mat ochronnych i mat przekładkowych…..

Euleuh ora muddeng, bahasa aon?… Ternyata kesalahan mata, ada logo bendera merah putih ternyata tibalik, atuh diterjemahkeun kana bahasa polandia… beuu.

Buru-buru dikoreksi, Regupol ternyata merk produk dari karet elastis yang di buat sedemikian rupa digunakan untuk melapisi trek atletik dan lantai lapangan beberapa cabang olahraga dengan berbagai fungsi.. udah ah gitu aja, yang penasaran mah search we olangan.

Kembali ke pertanyaan tadi tentang arah lari yang selalu memutari trek itu berlawanan dengan arah jarum jam ada bahasan simple tapi jelas dari brilio.net yang menjelaskan bahwa :

…..dari AnythingLeftHanded, Sabtu (16/5), meski terdengar sangat sepele, arah lintasan balapan yang berlawanan dengan arah jarum jam ternyata punya alasan tersendiri. Arah tersebut memang sudah menjadi kesepakatan internasional. Dalam Aturan 163.1 International Association of Athletics Federations (IAAF), tertulis, “The direction of running shall be left-hand inside.

Sedangkan menurut alasan medis, superior vena cava mengumpulkan darah melalui pemompaan jantung. Pembuluh ini membawa darah yang kaya akan karbon dioksida dari kiri ke kanan di tubuh. Gaya sentrifugal yang berlawanan arah jarum jam membantu proses pemompaan ini. Sebaliknya, jika kamu berlari searah jarum jam, maka gaya sentrifugal akan menghambat jalannya proses pemompaan……

Terjawab sudah kepenasaran senin pagi ini, nuhun mbah gugel. Tadinya niatan mau lawan aruspun tak jadi. Langkah terus berlanjut hingga tak terasa keringat meleleh berbulir bulir pertanda badan sudah bereaksi dan waktu berjalan cepat harus segera diakhiri. Karena setelah jalan pagi ini harus segera mandi lagi, berganti baju seragam dan bersiap ikutan apel senin pagi… Ciaooo.

Tak lupa sebagai penutup gerak badan senin pagi ini, push up 25x secara riil dan 75x di otak sehingga total 100x….

Have a nice monday guys.

Jus alpuket & KEK

Diawali oleh segelas jus alpuket dan angin sepoi-sepoi, berlanjut mencoba membuka lembaran cerita tentang Kawasan Ekonomi Khusus zona pariwisata. semoga bisa menambah cerita dan berbagi rasa.

Photo : Jus alpuket tanpa gula / dokpri.

Jus alpukat murni tanpa gula menemani siang hari yang cerah. Didukung angin sepoi menyapa rasa yang berhembus membawa rindu dari permukaan Situ Wanayasa. Panas terik matahari menjadi teduh penuh kedamaian. Sebuah saat untuk selalu ingat atas karunia Illahi. Ingin segera beranjak untuk bersujud di mushola atau mesjid diseberang situ (danau) karena waktu dhuhur telah tiba.

Tetapi… ada pertentangan, karena sate kambing lilit lemak dan semangkuk gule kambing juga terhidang sempurna. Aromanya begitu menggugah selera… ohh. Pertentangannya adalah sholat dulu atau makan dulu?…. bingung.

Sholat harus disegerakan, tapi takut sholat nggak khusuk karena inget sate, gule dan jus alpuket.

Mending mana guys?… sholat inget makan atau makan inget sholat?

Dilema menjalari kepala, berbenturan antara keroncong perut dengan nurani keyakinan. Tapi apa daya, saat ini makan dulu dech sambil inget sholat.

Photo mushola kecil yg enakeun.

Daaan….. setelah tandas tuh sajian, segera bergerak menuju mushola kecil di halaman rumah makan. Terdapat 2 kamar mandi dengan kloset jongkok yang bersih terpelihara. Begitupun mushola mungilnya ditata minimalis dan fungsional. Hanya cukup bertiga jika berjamaah, tetapi dengan tempelan banner besar bergambar Ka’bah dan sajadah bersih serta empuk memberi rasa khusuk yang merata, juga memang sudah kenyang he he he….

Photo Toilet bersih / Dokpri.

Meski tidak sempat meng-explore lebih komprehensif, tapi merasa puas dengan sajian rasa dan pelayanan di rumah makan Bang Jo di tepi Situ Wanayasa. Yup karena perjalanan musti dilanjut menuju daerah Jatiluhur dalam rangka menghadiri meeting tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Photo : satu sudut senja di Waduk Jatiluhur / Dokpri

Klo bicara Kawasan Ekonomi Khusus maka sangat perlu kita pahami dari sisi regulasi yang mengatur tentang hal ini. Sebagai pegangan maka 2 regulasi musti dibaca duluan, yaitu Undang-undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus dan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi khusus…. udah itu, aja baca ampe kelar, beres tuh urusan.

Masalahnya baca aturan itu cepet ngantuk dan banyak yang malas baca. Jadi ya udah, .. ..coba disarikan, diperas dan dipilih intisari philosophisnya sehingga lebih mudah dipahami… go!!!.

Kawasan Ekonomi khusus adalah Kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu….

Nah tuh definisinya. Trus KEK ini ada beberapa zona, klo yang udah agak familiar adalah kawasan ekonomi khusus industri. Ternyata ada zona KEK lain selain industri yaitu zona pengolahan ekspor, logistik, pengembangan teknologi, pariwisata, zona energi, zona ekonomi lain.

Untuk bedainnya…. ini lho Penjelasan :

Zona pengolahan ekspor itu berkaitan sama area yang diperuntukan bagi kegiatan logistik dan industri yang produksinya ditujukan untuk ekspor.

Zona logistik adalah area yang diperuntukan bagi kegiatan penyimpanan, perakitan, penyortiran, pengepakan, pendistribusian, perbaikan, dan perekondisian dari dalam negeri dan dari luar negeri.

Zona industri adalah area yang diperuntukan bagi kegiatan industri yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi, serta agroindustri dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri yang produksinya untuk ekspor dan/atau untuk dalam negeri.

Zona pengembangan teknologi : area yang diperuntukan bagi kegiatan riset dan teknologi, rancang bangun dan rekayasa, teknologi terapan, pengembangan perangkat lunak, serta jasa di bidang teknologi informasi.

Photo Keindahan Pantai di Zona KEK Tanjung kelayang / Dokpri

Zona pariwisata : area yg diperuntukan bagi kegiatan usaha pariwisata untuk mendukung penyelenggaraan hiburan dan rekreasi, pertemuan, perjalanan insentif dan pameran serta kegiatan yang terkait.

Zona ekonomi lain adalah area yang diperuntukan antara lain dapat berupa zona industri kreatif dan zona olahraga.

Photo panorama KEK Mandalika / dokpri.

Dari ke7 zona tersebut yang sekarang sedang digenjot juga oleh pemerintah adalah KEK Pariwisata yang tersebar di seluruh indonesia. Diantaranya KEK Tanjung Kelayang Pulau Belitung, KEK Mandalika di Lombok, KEK Morotai Maluku Utara dan KEK Tanjung Lesung Banten. Pengusulan KEK ini menjadi menarik karena dengan target nasional di tahun 2019 adalah lahirnya 10 KEK baru zona pariwisata dari target 15 KEK berbagai zona, maka diperlukan effort dan koordinasi intensif serta sinergi semua elemen khususnya kesiapan calon pengusul yaitu Pemerintah daerah atau badan usaha.

Photo Situ Wanayasa / Dokpri.

Udah ah gitu dulu urusan KEK, karena waktu jua yang tak bisa diubah seenaknya. Next time pengen bahas juga lanjutan KEK ini terkait kriteria lokasi untuk calon usulan Kawasan Ekonomi Khusus zona pariwisata. Wassalam. (Akw).