Douwe Egbert & Gula Cair.

Ikutan dan nikmati tapi hati-hati.

Photo : Bersiap ujian / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Keseriusan dalam mengisi ujian dan keriuhan di kepala masing-masing peserta meramaikan jagad kompetisi sehat kali ini. Semua berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya plus adaptasi dengan peralatan yang disediakan panicia…. eh panitia.

Tata tertibnya membuat kangen pergi ke bandara kawan, karena semua peralatan elektronik dan peralatan penyimpanan eksternal harus ditanggalkan termasuk jam tangan canggih yang selalu terkoneksi dengan smartphone kita. Untung aja daleman nggak disuruh dicopot juga hehehehe.

Samrtphone, flashdisk, jam tangan, tablet atau tab, laptop apalagi PC harus dititip di panitia. Praktis hanya bawa otak, otot dan kumpulan perasaan yang tidak karuan. Apalagi digunakan metal detektor, serasa mau naik pesawat dan pergi terbang ke suatu tempat…. ah kangen yach, semoga pandemi covid-19 ini segera berakhir.

Allohumma inni Audzubuka Minal Baroosi Waljunuuni Walzuzami Wassayyidil Askoom

Photo : Espresso dari DE / dokpri.

Proses ujiannya menjadi menantang, karena konsentrasi menjadi super penting, fokus terhadap satu hal, suara arahan panitia dan apa yang ditampilkan di layar di depan peserta. Lalu laptop yang disediakan panitia sudah standby bersiap menjadi tempat penuangan ide gagasan dan mimpi yang akan diwujudkan dalam kerangka wewenang jabatan.

Cemunguut kakak….

Disinilah raga dan jiwa ini bersua dengan mesin kopi Douwe Egbert pada saat jam istirahat. Mesin kopi yang terlihat tangguh dan gagah dengan pilihan sajian lengkap meskipun tidak semuanya akan dinikmati…. kembung atuh kalau semua di coba mah.

Photo : Douwe Egbert coffee machine / dokpri.

Pastinya espresso dan americano yang dipijit berulang kali, capucinno dan latte hanya coba sesekali, agak takut soalnya ada susu….. suka pengen terus kalau ada susu… gemes soalnya :).

Jadi lengkap sudah, tantangan dan fasilitas yang mumpuni, memberi kesempatan terbuka untuk meng-eksplore diri. Hadirkan kemampuan dan kebisaan secara elegan hingga akhirnya diukur oleh deretan angka yang singkat namun penuh makna.

Catatan penting : harus hati-hati dikala akan menikmati sajian kopi dan masih membutuhkan manisnya gula. Bukan apa-apa, selain gula putih dalan bentuk sachet terdapat juga gula cair….. upss…. ternyata bukaaannnn gula cair, itu adalah hand sanitizer… sebuah bentuk adaptasi kebiasaan baru d masa pandemi corona ini.

Tapiiii….. karena posisinya deket mesin kopi, ini bisa salah menuangkan… meskipuuun…… eh tapi jadi penasaran, gimana rasanya kopi espresso ditambah gula cair hand sanitizer hehehehehe.

Selamat berkarya di jumat ceria. Wassalam (AKW).

Biru di Hilton

Akhirnya bisa lihat lagi…

Photo : Swimming Pool Hotel Hilton Bandung / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi cerah mengharu biru, mengantarkan raga menuju kawah candradimuka. Biarpun baru pada tahap pendakian pertama tetapi ternyata segumpal khawatir hadir menemani ketidaktahuan.

Itulah kehidupan, perjalanan menuju sebuah titik yang sudah ditentukan seyogyanya adalah memulai titik baru perjalanan yang nantinya perlu pendalaman, percepatan dan tentu saudaraan.

Nah daripada kegalauan malah datang mendera tanpa belas rasa, lebih baik bercerita tentang sebuah suasana damai yang ada di lantai 6 hotel ternama.

Kehadiran disini memang bukan untuk bercengkerama dengan kesegaran air bening penuh suka, tetapi menghadiri meeting perdana yang dilaksanakan di hotel semenjak merebaknya pandemi corona.

Berbagai protokol kesehatan diberlakukan dari semenjak masuk area hotel hingga ruangan meeting yang sulit melakukan bisik-bisik karena posisi duduknya masing-masing berjarak 1,5 meter, padahal banyak rahasia kehidupan yang ingin di curhatkan heuheuheu.

Handsanitizer juga disediakan masing-masing satu botol kecil begitupun di pintu masuk ada juga hand sanitizer untuk umum plus tissu dan bunga, pengen liat photo dan tulisannya klik DISINI.

Dilantai 6 lah kedamaian terasa, semilir angin bercengkerama dengan gemericik sendu air kolam renang memberi sensasi keindahan yang sulit untuk dilukiskan. Andaikan tidak ada batas policeline… eh covidline kali yaa… karena bentuknya hanya seutas maka sudah dipastikan meloncat dan byuuur….. bergabung dan bercengkerama dengan kesegaran tiada tara sambil menghirup oksigen dengan bebas….. segaaarnyaaah.

Terima kasih Ya Allah atas kemudahan bernafas, kebebasan menghirup oksigen sepuasnya dan tentunya kenikmatan semuanya tiada hingga dalam menjalani kehidupan fana ini.

Selamat tinggal kolam renang lantai 6, raga ini harus kembali ke tempat meeting dilantai 3. Selamat menjalani hari ini kawan. Wassalam (AKW).

Deadline

Mari kita jalani…

Photo : Deadline / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Detik dan menit seakan berlomba beradu kecepatan, membawa suasana yang tenang menjadi sedikit tegang. Seiring gerakan waktu berlalu, sejalan dengan detak jantung yang berdetak tidak menentu.

Segala upaya dikerahkan dalam perlombaan abadi ini, meskipun mungkin ritmenya yang tak selalu memaksa berlari. Sesekali bisa menghela nafas tapi sisanya adalah pendakian perasaan yang menyesakkan penuh dengan perjuangan.

Memang ini situasi tidak bisa, tetapi ingatlah bahwa kehidupan ini tidak selamanya biasa. Ada saatnya bergerak cepat meraih asa dan ada waktunya sedikit melambat dan mengambil posisi santuy… semua ada saatnya.

Sekarang menit dan detik begitu aktif menggelitiki nasib, memberi senyuman monyong sedikit supaya tidak terlalu tertekan dengan keadaan. Lumayan menguras rasa dan membebani badan tambun yang bersahaja.

Tapi ingat kawan, ini semua bukan beban, tapi tantangan untuk kita bisa berkarya lebih terdepan. Biarkan menit dan detik berkejaran dalam batas waktu berbingkai batasan, karena sebenarnya adalah bagaimana kita menyikapinya, menghadapinya, mensyukurinya dan tentu menjalaninya….. ikuti saja permainannya dan ikhlas menjalani tahapan yang mengharu biru.

Eh ternyata sang menit dan detik terus berpacu menuju batasan awal kenyataan, mau tidak mau mari ikuti ritmenya, gerakan tangan dan kakimu sehingga melarut dengan nada dasar kehidupan.

Jangan khawatir dengan batasan, karena setelah tiba pada batas yang ditentukan, sejatinya kita bersiap dengan tarian detik dan menit untuk tahapan harapan selanjutnya. Selamat berpacu kawan, Wassalam (AKW).

Waspada yuk.

Harus itu, penting sekali.

Photo : Handsanitizer dan bunga / IG akwnulis

BANDUNG, akwnulis.com. Media sosial semakin booming pasca pandemi covid-19 melanda negeri. Kaum rebahan yang sebelumnya dicap golongan pemalas unfaedah menjadi bertambah banyak meningkat signifikan karena diperintahkan negara dengan slogan singkat #stayathome juga #workfromhome.

Kenapa booming?.. karena medsos menjadi tempat berinteraksi baru, bersilaturahmi sekaligus menginformasikan aktifitas diri kepada khalayak banyak

Tiga bulan telah berlalu, ternyata mencoba menjadi kaum rebahan itu tidak mudah, rasa bosan melanda, tertekan karena ingin melihat dunia luar, sementara belum ada kepastian bahwa vaksin buat sang virus hadir segera di hadapan kita.

Nah, sekarang muncul istilah new normal juga adaptasi kebiasaan baru (AKB) yang mulai melonggarkan pergerakan dengan pola terbatas dan protokol kesehatan yang ketat, tentu disambut antusias oleh masyarakat dan semua pihak untuk kembali beraktifitas.

Tapii…. protokol kesehatan menjadi mutlak diperlukan.

Kenyataannya ternyata belum semua paham, baik kaum rebahan dan non kaum rebahan. Mayoritas adalah anggapan sepele dan kembali beraktifitas biasa… sehingga kasus-kasus baru bermunculan dari momentum kerumunan salah satunya yang pasti tak bisa dihindarkan adalah pasar.

Maafkan jika pilihannya dengan istilah kaum rebahan dan rebahan, karena mungkin juga ada yang variatif antara seneng rebahan tapi sibuk beredar, jangan risau kawan, ini hanya istilah saja.

Jadi jikalau harus berinteraksi dengan kerumunan, pastikan kita siap dengan peralatan perang. Minimal menggunakan masker, bersarung tangan dan menjaga jarak dengan orang lain, gunakan handsanitizer dan mencuci tangan…. minimmmmal itu teh. Klo bicara maksimal… usahakan jangan berinteraksi dengan kerumunan….. tapi khan kita banyak kebutuhan yang perlu interaksi.

Ibu-ibu mayoritas berkomentar terkait belanja di pasar adalah, “Tapi da aku mah nggak bisa onlen, paling ke warung tetangga atau nyegat mang sayur yang lewat”

Photo : Ruang rapat jaga jarak / dokpri.

Maka kembali ke rumus tadi, gunakan masker dan sarung tangan serta jaga jarak. Senantiasa mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap selesai berinterkasi dengan orang lain.

Begitupun jikalau harus meeting secara phisik, pastikan bahwa protokol kesehatan sudah diterapkan. Penyediaan handsanitizer bukan lagi hiasan, tetapi suatu kewajiban yang harus kita gunakan. Kursi meja berjarak minimal 1 meter harus didesain sedemikian rupa dan penggunaan masker sudah pasti, itu mutlak bin harus kawan.

Jangan sampai ketidakwaspadaan kita menjadi celah bagi sang virus covid-19 ini merajalela. Selamat beraktifitas kawan, Wassalam (AKW).

Catatan : akwnulis juga ada di IG, kepoin aja IG : akwnulis.

Jamu Herbal Rempah dkk.

Minuman tradisional penjaga imun tubuh, imun kuat tapi imin dan iman harus lebih kuat.

Photo : Jamu berlima sedang bersama / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Nah siang kemarin sudah hadir dihadapanku 5 botol minuman kesehatan alami yang terdiri dari 3 botol jamu rempah herbal dan 2 botol jamu kunyit asam. Packing yang rapih serta terlihat segar di siang hari, ternyata menggoda juga di siang hari bulan ramadhan ini….

Dari dua jenis minuman sehat alami yang tersaji ini di klaim oleh sang pembuat betul-betul menggunakan bahan-bahan alami terbaik… insyaalloh percaya apalagi ini bulan puasa, berbohong khan merusak pahala.

Jadi klo nggak bulan puasa boleh bo’ong?”

Ah dasar kamu mah, tetep aja nggak boleh, cuman di bulan puasa lebih dahsyat akibatnya karena merusak nilai pahala”

“Iyaa A ustad hehehehe”

Photo : 3 sekawan jamu / dokpri.

Jamu rempah herbalnya memang kumplit dengan bahan-bahan yang terdiri dari kunyit, gula aren, temulawak, jahe, sereh, kayu manis dan air.

Sementara Jamu kunyit asem udah jelas bahannya kunyit dan asam kandis.. bukan bahan lain yang mengandung rasa asem. Nah dua-duanya punya bahan yang sama yaitu air…. lhaaa iya atuh, masa nggak pake air, gimana minumnya?.. ntar seret di tenggorokan atuh kang.

Tidak lupa ditambah gula aren kualitas tinggi agar rasa yang dihasilkan tidak getir dan pahit seperti ditinggal menikah oleh mantan gebetan…. halaah apalagi nich, maksudnya supaya segmentasi penikmat jamu ini tidak hanya kalangan penggila jamu saja tetapi juga bisa buat anak-anak, remaja dan mudamudi yang tertarik menikmati minuman tradisional alami ini.

Kenapa jadi suka jamu kang, kopinya berhenti?”

Photo : Wedang jahe, ini mah bonus / dokpri.

Ih kepo amat, ya suka-suka aku aja, mau seneng kopi, mau seneng jamu ya bebas-bebas aja…. eh tapi ingat diriku ya, nggak boleh menggerutu. Sang penanya pasti pihak yang penasaran karena selama ini objek tulisannya adalah #ngopay alias sruput kopi manual dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk tulisan ala-ala.

Itulah kehidupan, sebuah tema blog yang telah dipublikasikan harus dipertanggungjawabkan. Yaa memang taglinenya ‘ngopay dan ngojay‘, tetapi di moment shaum ini ada sedikit geser variasi konten tulisan dengan hal lain diluar tema kopi kopi kohitala kotala dan sebagainya, insyaalloh pasca idul fitri besok akan kembali menulis artikel bertema kopi.

Kali ini kosentrasi dulu untuk menuntaskan tulisan ini, yaitu jamu rempah dan jamu kunyit asam yang memiliki fungsi guna sebagai penambah stamina dan imun tubuh. Sebuah kegunaan minuman alami yang begitu penting di masa pandemi covid19 ini.

Harganya 20ribu/botol dan variannya adalah Jamu Rempah herbal, Jamu Kunyit Asam, Jamu Jahe dan bisa juga request jamu lain, seperti jamu buyung upik… ahaay serasa masa kecil… kecuali jamu cepat kaya untuk sementara belum diproduksi. Pembuatnya seorang ibu tangguh yang di support anaknya seorang pemuda kreatif dan brilian yang membantu ibunya disela-sela usahanya yang spesifik berkaitan dengan printer 3D (halah sotoy, ini hasil cerita dari ibunya....)

Photo : Jamu Kunyit Asam / dokpri.

Jadi cekidot, minum jamu yuk guys… Srupuuut… suegerrr… insyaalloh sehat bugar dan imun terjaga sehingga bisa melawan atau menangkal penyakit khususnya Covid19….Alhamdulillah, Selamat berpuasa di hari terakhir bulan ramadhan tahun ini, semoga masih diberi kesempatan jumpa di tahun depan, Wassalam (AKW).

***

Mencari Vitamin C.

Pertemuan tidak disengaja bukan hanya say hellow saja, tapi bisa berbeda.

CIMAHI, akwnulis.com. Cerita kali ini adalah sebuah kejadian yang seperti kebetulan, padahal memang skenario Illahi yang sudah dirancang begitu rapih dan tidak terbantahkan.

Pagi hingga siang kesibukan di tempat kerja tidak berhenti, dari mulai penyusunan bahan da konsep hingga meeting – meeting berjarak dengan peserta terbatas plus 1 video meeting virtual yang harus dilakukan.

Yach, situasi waspada pencegahan pandemi corona membuat kita semua harus esktra adaptasi dan harus mampu mengikuti perubahan alam semesta ini. Status wfh (work from home) sudah diatur sedemikian rupa, tentu itu menjadi pedoman untuk memaksimalkan bekerja di rumah, tetapi… dalam satu minggu minimal 2 kali hari harus berada di kantor karena berbagai pertimbangan.

Meskipun tentu perjalanan kantor – rumah – kantor harus extra waspada bermasker, handsanitizer, sarung tangan hingga rajin cuci tangan. Hingga berjaga jarak dan membatasi durasi pertemuan dalam ber-meeting… ternyata yang membuat lelah mudah datang itu karena rasa kekhawatiran tentang penyebaran covid19 yang bisa memgintai dimana dan kapan saja.

Salah satu antisipasinya adalah penguatan diri khususnya asupan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh yaitu Vitamin C, meskipun tentu vitamin lainnyapun tetap penting.

Di sela istirahat kerja mencoba menjambangi beberapa minimarket dan warung untuk membeli vitamin C, ternyata dimana-mana stock kosong…. wadduh, lalu cek via online, harganya berlipat-lipat ngikuten harga masker dan hand sanitizer… alamaak, makin pusing.

Photo : Penerapan standar pencegahan di RM / dokpri.

Setelah waktu istirahat hampir habis, maka kembali bergerak menuju kantor. Tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk, ‘Jangan lupa beliin masakan ya, di rumah nggak masak‘… plus nama rumah makan yang ditujunya.

Siettt….

Langsung belok kiri karena arahnya sedikit berlawanan dengan arah kantor, namanya RM dalaraos di jalan siliwangi Kota Bandung.

Ngeeeng……

Tiba di rumah makan, segera menuju etalase touchscreen, maksudnya tunjuk makanan di kaca yang jadi pilihan dan langsung dibungkus dengan ukuran sesuai request. Tapi sebelumnya mengamati kondisi sekitar, terlihat bahwa RM ini sudah menerapkan prinsip pencegahan covid19 yang dianjurkan oleh pemerintah, diantaranya tersedia bak cuci tangan lengkap dengan sabun cuci tangannya di teras lalu antrean dibuat tanda dengan stiker di lantai dan berjarak 1 meter, ada juga hand sanitizer di dekat tempat makanan touchscreen, semua pelayan dan pengunjung menggunakan masker, ada hijab plastik yang membatasi kasir dengan pembeli serta tidak melayani makan di tempat hanya untuk take away saja plus beberapa pengumuman seperti : wajib masker, wajib antri dan yang paling wajib adalah wajib bayar setelah milah milih masakan yang dibungkus.

Nah di kala mengantri inilah tetiba berinteraksi dengan seorang ibu, lalu menawarkan sebotol jamu rempah buatannya. Dari pembicaraan awal tersebut ternyata jamu rempah ibu ini sudah banyak yang mengkonsumsi… keren, dan yang paling menarik adalah pada saat menawarkan jeruk lemon dengan harga bersahabat.

Wah cocok nich, sumber vitamin C alami dengan harga terjangkau” dalam hati berbicara dan nggak pake lama langsung diputuskan membelinya..

Jreng.

Tuntas dari RM tersebut kembali ke kantor dan menghabiskan sisa waktu kerja dengan menyelesaikan beberapa berkas yang ada serta kordinasi via WAvideocall.

Gaya banget kontak-kontak pake videocall

Pada nggak tau yaa…. itu sangat berguna buat pelaporan kinerja harian guys. Jadi pas WAvidcal sambil di capture… dapet deh bukti koordinasinya.

Oh gitu” Sang penanya mengangguk-angguk mengamini komentar ini.

Kembali ke jeruk lemon, Bahasa latinnya citrus lemon dan memang sangat kaya vitamin C juga unsur vitamin lainnya sehingga cukup dengan diminum air perasannya pagi hari campur madu, sudah cukup memberikan asupan vitamin bagi kekebalan dan kesegaran tubuh. Hikmah perjumpaan tadi ternyata, vitamin C alaminya alias buah jeruk lemonnya langsung diantar ke rumah pake motor oleh ibu Wati yang berjumpa tadi, luar biasa.

Begitulah sebuah cerita sederhana tentang kejadian keseharian yang bisa dianggap biasa, ataupun bisa membaca beberapa makna hikmah yang terkandung dalam kejadian ini. Selamat menjalani perubahan kehidupan dengan tetap optimis dan mengkonsumsi vitamin secara teratur. Wassalam (AKW).

Komansu & Kohitala Biji Pak Asep.

Berlanjut menikmati biji lainnya.

Photo : Seliter Cold brew biji pak Asep / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hanya perlu 3 hari untuk menikmati buah karya biji kang Yuda, sebotol besar tandas tiada sisa dan yang ada tinggal seonggok botol kaca benderang tembus cahaya. Penasaran tentang cerita menikmati biji eh kopi kang Yuda, klik saja DISINI.

Hari keempat mulai berharap bisa menikmati biji lainnya disela kesibukan yang mendera.

Emangnya sibuk apa pak, khan PNS enak disuruh libur atau #workfrom home alias kerja dirumah?

Sebuah tanya yang bisa hadirkan jawaban beraneka, meskipun sebuah tanya wajar hadir karena sudah menjadi persepsi bahwa kesantaian seakan melekat di status PNS.

Padahal, kondisi saat ini justru merupakan tantangan untuk terus beradaptasi dengan kenyataan dan tetap produktif di posisi apapun. Bicara kesibukan tentu relatif, tetapi kami bisa mengklaim bahwa dunia PNS kami penuh tantangan, monitoring dan pelaporan online untuk mengukur kinerja kami baik pas piket di kantor ataupun ber-WFH di rumah ataupun terlibat dalam sub divisi gugus tugas pencegahan pandemi covid19.

Absensi di smartphone dengan photo selpi minimal 2x sehari dengan GPS di lock di posisi kantor masing-masing membuat kepatuhan yang hakiki. Pelaporan harian minimal 300 menit perhari dengan rincian tugas yang sudah diatur serta harus dilengkapi photo up todate adalah keharusan, harus lapor dan harus narsis… awww jadi takut terkenaaal.

Jadi sisi adaptasi teknologi adalah tantangan terkini, dari mulai koordinasi via videocall di whatsapps yang cuman muat maksimal 4 orang lalu bergeser dengan belajar ID meeting via aplikasi zoom yang sekarang diramaikan tentang kerentanan dari sisi keamanan atau kembali lagi ke aplikasi skype yang pernah bertahun lalu menjadi pelepas rindu pelaku LDR lintas kota, batas negara dan benua.

Trus hubungannya sama menikmati biji kang yuda dan biji lainnya gimana?”

Photo : Seliter Komansu biji Pak Asep / dokpri.

Itu dia, karena dengan model adaptasi teknologi di masa pandemi ini, maka virtual meeting menjadi keharusan yang ternyata perlu effort lebih dari biasanya. Dari mulai persiapan peralatan, download aplikasi, wifi kantor yang jadi favorit plua kuota wifi pribadi atau untuk tethering jika pas WFH hingga standar smartphone yang ternyata belum kompatible adalah sebuah dinamika. Belum lagi aplikasi virtual meeting gratisan yang lagi booming ternyata ada masa 40 menit putus nyambung, cukup bikin deg-degan pada awalnya… selanjutnya deg-degan juga atuh… klo nggak deg-degan berarti jantung anda bermasalah hehehehehe.

Jadi masa jeda istirahat siang begitu berharga untuk makan dan shalat dhuhur sebelum dilanjut lagi masuk ruangan kerja didepan laptop ditengah rumah untuk melanjutkan virtual meeting yang terjeda ishoma.

Maka kebiasaan prosesi ngopay eh ngopinya sedikit berubah. Biasanya bisa menyeduh sendiri yang butuh waktu untuk persiapan dan pelaksanaannya….. tetapi sekarang dengan segala aktivitas WFH yang ternyata lumayan menyita waktu, maka cold brew dan kopi susu dari biji (kopi) pak Asep adalah pilihan tepat… tinggal order, dikirim, buka, srupuut.

Terima kasih juga kepada bos Yuda-Halu yang membuat diri ini terpapar dan terjangkit ketergantungan terhadap biji pak Asep… eh biji kopi pak Asep yang diolah apik menjadi sajian kopi yang menarik hati.

Bahannya sama yaitu Espresso Blend dari Desa Girimekar biji kopi pak Asep yang dibuat original cold brew dan satu lagi komansu (kopi manis bersusu). Dua pilihan produk ini jadi lengkap untuk mengakomodir aliran kohitala (kopi hitam tanpa gula) dan penikmat komansu.

Rasa cold brewnya seger, dingin dingin asam dan kepahitan sedang nan menggoda. Klo kopsusnya sih kata akumah manis banget, tapi istriku menyatakan enak banget…. langsung saja aku setuju hehehehehe.

Selamat membaca dan membayangkan menyeruput produk kopi dingin siap minum yang bijinya dari pak Asep Girimekar. Tetap semangat meskipun kondisi kehidupan sedang berubah cepat. Wassalam (AKW).

Berjemur yuk…

Yuk ikutan menikmati sapaan sinar mentari pagi..

Photo : Berjemur dulu / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Aktifitas yang satu ini menjadi trend sekarang, apalagi dengan serbuan seruan serta anjuran dan kekhawatiran plus kebosanan karena memenjarakan diri di rumah alias #stayathome demi melawan wabah pandemi yang mencengkeram negeri, pasti perlu celah pelarian.

Dilengkapi dengan peran media sosial yang bisa menyalurkan hasrat narsis agar diketahui buanyaak orang…. dilengkapi aneka tantangan untuk mengajak posting aktifitas ini dengan gaya – gaya unik.

Maka…. terpaparlah diri ini untuk ikutan menampilkan sisi diri yang sedang beraktifitas moyan alias berjemur di pagi hari dikala sang mentari baru beberapa waktu menghangatkan bumi.

Photo : Berjemur bersama bueuk / dok kang ATH.

Kalau punggung yang kena sinar mentari maka disebutnya ‘moto’ alias ‘moè tonggong‘ dan jikalau wajah tersinari langsung maka istilahnya motar (moè tarang)…. ada juga istilah moè korong, itu istilah yang disematkan kepada para ‘layangan hunter‘ alias pemburu layangan putus akibat beradu kuat di angkasa. Istilah ini hadir karena wajah sang pemburu akan senantiasa menengadah ke langit melihat layangan yang sedang bertanding, dan jikalau ada yang putus, maka segera dikejar demi mendapatkan kepuasan… yap kepuasan. Dengan efek samping sang upil (korong) mengering karena terpapar sinar mentari sepanjang hari.

Hasilnyapun lebih ke kepuasan batin saja, karena mayoritas layangan yang didapat dalam kondisi robek karena rebutan dengan hunter cilik lainnya… asli memang, terasa menyenangkan, tertawa dan terkadang bersitegang rebutan layangan putus….. ah pengalaman masa kecil yang tak terlupakan.

Photo : Berjemur bersama kucing dan kawan / dokpri.

Back to topik… di medsos berseliweran anjuran tentang waktu yang baik untuk berjemur alias moyan. Ada yang menyebut maksimal sampai jam 09.00 wib ada juga yang menyarankan jam 10.00 supaya imun tubuh bertumbuh. Ada juga yang berjemurnya dianjurkan diatas atap rumah sambil bolak-balik kayak ikan asin dan telanjang dada.. teteh, ibu-ibu dan ma nini mah jangan yaa… tetap harus menutup aurat… bahayyya.

Maka di medsos berseliweran photo aktifitas moyan ini, dari yang normal hingga yang rada-rada nyleneh bin unik… itulah warga negeri +62.

Diriku juga tentu tidak boleh ketinggalan, mari posting berjemur dengan segala gaya dan keadaan. Tidak usah protes ataupun terkejut, itulah salah satu cara mensyukuri hidup dalam suasana yang sangat berbeda akibat gempuran virus corona yang mencengkeram dunia.

Photo : Jemur full body / dokpri.

Mari berjemur tetapi tetap mengukur waktu dengan teratur, jangan sampai terlalu lama karena khawatir ada efek lain, yaitu kulit menghitam dan terbakar… bahaya itu, apalagi pas berjemur lihat mantan berjemur berduaan, pasti yang terbakar bukan hanya kulit tapi juga tembus ke hati.. sakiiit dan panaasss… aw.. aw.. aw.

Udah ah, mau berjemur dulu sambil rebahan supaya sinar mentarinya hadir merata ke sekujur tubuh dan raga. Tidak hanya muka tetapi seluruh jengkal tubuh bisa merasakan hangatnya sinar mentari yang perlahan tapi pasti semakin panas dan nèrèptèp (panas banget)…. udah ah.

Selamat beraktifitas pagi ini, sempatkan berjemur dan senantiasa bersyukur. Wassalam (AKW).

Flores Red Honey vs Covid19

Antara Waspada, kerja dan Arabica Flores yang menggoda selera.

Photo : Masker & petugas / dokpri – sketsa.

BANDUNG, akwnulis.com. Pas kebagian jadwal piket di kantor.. eh masuk kantor, maka berbagai perlengkapan juga disiagakan. Masker kain dipakai, hand sanitizer di botol kecil udah masuk saku celana kanan, sabun cair di celana sebelah kiri. Tak lupa semprotan kecil berisi disinfektan untuk menyemprot gagang pintu dan permukaan toilet disaat kebelit eh kebelet pipis atau eek. Plastik sarung tangan buat bikin kue juga ready di tas, dan jas hujan jikalau memang hari hujan.

Bukan parno bin panik tapi waspada, sebuah prinsip yang harus dipegang dalam memerangi wabah ‘gaib’…. halah kok segitunya pake sebutan gaib segala. Memang bener kok, tapi ini hanya istilah, karena virus corona tidak terlihat tetapi efeknya dahsyat dan kita tidak tahu virusnya ada dimana dan sedang apa sama siapa?….

Maka antisipasi pencegahan pribadi menjadi penting dan utama. Begitupun dengan pembatasan jarak yang jelas atau bahasa kerennya phisical distancing… pembatasan jarak phisik harus menjadi prinsip, tak peduli sedekat apapun…. buatlah jarak.

Photo : Arabica Flores Red Honey siap minum / dokpri.

Lha pusing dengan istilah, kemarin – kemarin nyebutnya social distancing, belum paham bener… eh udah diubah lagi. Kayaknya yang dulu anak sosial yang bikin dan sekarang anak fisika yang nimpalin, trus anak biologi istilahnya belum muncul?” Sebuah celotehan yang mengundang senyum, lumayan ngurangin stres dalam suasana menegangkan ini sambil memori menerawang masa-masa menyenangkan di kala menjadi siswa SMA.

Tiba di kantor tentu bekerja, disemprot dulu, hand sanitizer, cuci tangan dan tetap masker menutup sebagian muka. Tuntaskan konsep dan perbaiki segera, buat surat serta koordinasi dengan berbagai pihak plus video conference dengan mitra – mitra yang tersebar diseantero jabar dan banten raya.

Tetapi jangan lupa, dikala jam istirahat tiba, maka hiburan hakiki diri ini adalah menyeduh kopi dengan sebuah prosesi yang tak luput dari dokumentasi.

Menu makan siang sudah diorder ke mamang ojol via aplikasi, sambil menanti saatnya menyeduh kopi dengan metode Vsixti (v60) dan pilihannya adalah Arabica Flores red hani (honey) hasil roasting Suka Sangrai.

Maka….. jeng.. jreng… proses pembuatan kopi tanpa gula yang mungkin lama dan bertele-tele bagi yang tidak biasa. Tapi jangan salah kawan, dibalik keribetan prosesi penyeduhan manual ini tersimpan keribetan…. eh sama aja, tersimpan sebuah kenikmatan dan rasa syukur yang semakin menguatkan kita untuk senantiasa nyeduh kopi sambil senantiasa bersyukur atas nikmat kehidupan dari Allah SWT.

Sesaat ketegangan karena pandemi corona agak terlupa, seluruh indera dalam raga fokus kepada prosesi di depan mata, hingga akhirnya hadir se-wadah kopi panas kohitala yang menggoda selera.

Tuangkan ke gelas kecil…. dan… srupuut.

Owww….. Body medium, acidity medium serta rasa segar menengah mengitari lidah dan rongga mulut bagian tengah. Menyegarkan pikiran dan menenangkan harapan, rasanya medium tetapi mampu memberikan ketenangan, Alhamdulillah.

Selamat berkarya dan tetap waspada, dimanapun berada. Protokol kesehatan menjadi utama dan nyeduh kopi secara manual jangan tertunda. Semangaaaat, Wassalam (AKW)

***

Catatan di bungkusnya :

Flores Red Honey Single origin, Farm : Aurelia Dagabo, Process : Red honey, Altitude : 1300 – 1500 Mdpl, Varietas : Kartika, Lini s 795, Roaster : Sukasangrai, Flavor notes : Vanilla, Orange, Brown sugar, Herb.

Janji pagi.

Sebuah janji yang butuh ekstra perjuangan untuk dipenuhi.

Photo : Treadmil sambil video call urusan kerjaan / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah janji adalah komitmen yang menjadi keharusan untuk dipenuhi. Meskipun terkadang angin kegalauan sering menghadirkan godaan sehingga membimbangkan perasaan untuk menundanya atau malah menelantarkannya.

Padahal semakin dibiarkan, sang janji tetap hadir dalam relung hati malah ditambah dengan janji-janji lain demi menutupi ketidakhirauan ini.

Kamu tèh janji sama siapa kang?”

“Janji pada diri sendiri”

“Har ituh, kirain janji sama siapa, sok atuh segera dipenuhi”

Raga terdiam meskipun pikiran norowèco (bacèprot… eh masih bahasa sunda, maksudnya cerewet bin bawel).. tapi tidak terucap secara harfiah karena diskusinya antara neocortec dan amigdala dengan disaksikan myelin yang tersenyum tanpa kata-kata.

Sebetulnya janji awalnya sangat sederhana, ingin menjaga berat raga ideal sesuai ketinggian yang merupakan kenyataan. Tetapi ternyata melawan atau mengendalikan diri sendiri adalah hal yang tersulit. Mendisiplinkan diri dan mengatur waktu untuk diri sendiri, ternyata begitu rumit dan super mudah tergoda.. aslina mang.

Biar badag (gendut) juga yang penting sehat” kata amigdala sambil ketawa-ketawa. Diaminkan oleh raga sambil….. tak kuasa melihat angka digital timbangan yang menunjukan batas psikologis garis PSK (pemuda seratus kilo)…. awww pemudanya sih memang, tapi itu sekuintalnya yang adaaaw….

Photo : Rapat via video conference / dokpri.

Apalagi ditambah dengan kebijakan tentang #WFH (working from home) yang musti lebih banyak di rumah…. alamak.. godaan semakin buanyak… tidak kemana-mana demi menjadi bagian pencegahan penyebaran virus covid19 tetapi harus pintar-pintar menjaga mulut.. maksudnya jangan sembarang waktu menghuapkan (memakan) makanan yang senantiasa tersaji di meja makan atau aneka cemilan yang stanby menunggu untuk dicicipi berulangkali.

Aturan kantorku tidak full di rumah bekerja tetapi menggunakan pola bergiliran tugas ke kantor dengan istilah menterengnya adalah flexible working arangement (FWA), yaitu pengaturan pekerjaan secara fleksibel dengan model shift terjadwal. Sehingga masih variasi dengan aktifitas pekerjaan biasa.

***

Balik lagi ke janji pengendalian diri, .. “Jadi gimana?”

Tentu berproses turun naik, dalam situasi saat ini maka cara terbaik adalah penyesuaian dan jaga mulut eh jaga diri… jika keluar rumah ikuti protokol kesehatan pencegahan virus dan jika jadwal ngendon kerja di rumah, jaga mulut dari asupan berlebihan terutama diluar jam makan yang seharusnya. Serta yang lebih penting adalah rutin berolahraga.

Selamat menjalani aktifitas hari ini kawan, mari saling mendoakan agar wabah ini cepat berakhir dan hilang dari muka bumi sehingga kehidupan kembali baik-baik saja. Wassalam (AKW).