Ngebolang dines di Cimaung

Cerita ngeboldin (Ngebolang dinas) etape 1 sama bos ke wilayah Cimaung Bandung Selatan. Berkunjung untuk mengamati, memaknai dan tentunya silaturahmi ke jalur SPAM Regional dari JDU – Reservoir – IPA – Praset – Intake.

Photo :Tim yang nyubuh udah ready di Tollgate / dokpri.

Adzan shubuh menemani pergerakan dari rumah yang berada dipinggiran kota menuju titik kumpul di pinggiran kota (juga) tapi pinggir yang lainnya, ah ribet amat, rumah di Cimahi dan ketemuan di exit tol Mohammad Toha, gitu aja repot. Oh ya, Tentu tak lupa menyegerakan mencari mesjid yang terlewati untuk tunaikan kewajiban rutin harian sebagai bentuk ketaatan hamba.

Hari ini adalah dinas luar perdana di awal tahun 2018, istilahnya ngebolang. Berkeliling untuk melakukan monitoring, koordinasi dan fasilitasi urusan kerjaan yang berkaitan khususnya urusan infrastruktur di Jawa Barat.

Tuntas sholat shubuh, bergegas menuju titik kumpul yang telah disepakati. Gerbang tol Moh Toha masih lengang meskipun tetap gagah menyongsong hari dan menyambut siapapun yang keluar masuk dengan syarat mutlak membawa dan menempelkan e-tol. Jikalau ada yang make tongtol alias tongkat e-tol ya itu sah – sah saja, lha wong tujuannya membantu pengemudi agar tidak menjulurkan tangannya terlalu jauh.

Eh kok jadi bahas tongtol seeh?… gpp atuh, apalagi tongtolnya yang warna pink dan hijau muda. Lucu kayaknya.

Tepat pukul 06.00 wib bos dateng dan sang pengantar sekaligus penanggungjawab objek yang akan dikunjungipun tiba yakni dari PT Tirta Gemah Ripah, salah satu BUMD Pemprov Jabar inipun bersiap memimpin konvoy. Mini konvoy tepatnya karena hanya 4 mobil doang.

Photo : Peninjauan Titik ahir JDU / dokpri.

Titik pertama adalah ujung JDU yang akan nyambung dengan jaringan yang dipasang PDAM Kota Bandung. JDU itu singkatan dari Jaringan distribusi utama, yaitu jaringan pipa yang menghubungkan reservoir dari IPA dengan SR.. oalaaah apa lagi itu?… IPA Instalasi Pengolahan Air dan SR itu sambungan rumah.

Photo : Semburat mentari pagi menyambut kami / dokpri.

Konvoy bergerak lagi dan pukul 07.02 Wib sudah tiba di Titik kedua dipinggir jalan raya Ciherang – Cangkuang yang berada di wilayah Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung. Melihat batas pemasangan JDU oleh Disperkim Provinsj yang terhubung dengan jaringan PDAM. Nah disini ada rencana penambahan PRV.

Bingung lagi… apa itu PRV?

Yang spontan muncul di otak ada 2. Pertama, PRV di Daerah Gerlong hilir yaitu nama perumahan elit, Parahyangan Rumah Villa. Komplek perumahan tempat tinggal bigbos dahulu.
Kedua, adalah kendaraan dinas tunggangan para sekretaris OPD di Pemprov Jabar. Oppps…. itumah CRV :).

Nyerah?… Akhirnya googling dech.

Tuh mahluk PRV adalah sebuah alat untuk mengatur ketinggian tekanan air sehingga sesuai dengan kondisi jaringan. PRV adalah Pressure Regulating Valve. Kebayang khan klo nggak diatur tekanannya. Air nggrojok dari sumber reservoir begitu besar langsung masuk jaringan pipa yang lebih kecil, ya jebol. Rencananya dititik kedua ini akan dipasang PRV untuk memaksimalkan penyaluran air bersih kepada masyarakat pelanggan.

Photo : Kantor Instalasi Pengolahan Air SPAM bdg selatan / dokpri.

Perjalanan berlanjut ke titik ketiga, memasuki jalan desa yang berkontur nanjak berkelok serta relatif sempit untuk ukuran Toyota fortuner. Untungnya kami mah nyetirnya Toyota Rush, ramping lincah dan lumayan irit. Perjalanan terasa nyaman karena kanan kiri adalah kebun sayuran yang menghijau manjakan mata. Jalan berkelokpun tidak terlalu mengocok perut karena ada tumpuan lain yang bisa alihkan perhatian, hingga akhirnya jalan berbelok kiri menurun lalu tekuk kanan memasuki jalan beton hingga tiba di gerbang area perkantoran yang terletak di dataran tinggi Cimaung Pangalengan ini. Tertulis megah di atas gedung, SPAM Regional Bandung Selatan.

Diskusi dan peninjauan titik ketiga ini cukup hangat terutama diskusi yang membedah dari awal alur cerita dari SPAM Regional ini. Mulai sumber air dari Over flow PLTA Cikalong dan Sungai Citanduy, masuk ke Intake, trus Kolam Prasedimen, ngalir terus ke Instalasi Pengolahan Air, Reservoir terus ke pipa JDU, dibagi per sistem PDAM Kabupaten Bandung dan PDAM Kota Bandung hingga akhirnya sampai ke SR di rumah-rumah masyarakat.

Photo : Gunung Patuha dilihat dari lt atas gd IPA / dokpri.

Pembahasan ditemani jagung dan kacang rebus serta kopi hitam sekaligus sarapan kami pagi ini di dataran tinggi Cimaung Bandung Selatan. Terkait sumber anggaran yang multi sumber baik APBN via Dirjen SDA dan Dirjen Ciptakarya KemenPU juga APBD Provinsi Jawa barat dan APBD Kabupaten Bandung dan APBD Kota Bandung. Juga urusan lahan dan kewenangan pemerintahan menjadi pembahasan yang menarik dengan kerangka kerjasama sinergis antara tingkatan pemerintahan. Termasuk menyeruak istilah BASTO dalam diskusi ini. Awalnya kirain tentang bakso (maklum efek belum sarapan jadi yang kepikirannya makanan) tapi pas lama-lama diperhatikan adalah urusan serah terima aset. Yakin ini mah yang dimaksud Basto itu adalah Berita Acara Serah Terima Operasional.

Photo : di lantai atas gd IPA / dokpri.

Tuntas diskusi sambil duduk dilanjutkan diskusi sambil melihat instalasi pengolahan dari mulai pipa masuk ke area IPA, masuk di sistem pengolahan hingga ke reservoir. Naik tangga ke lantai atas terlihat bak penampungan air raksasa seperti kolam renang dengan kedalaman 6 meteran. Melewati itu menuju lantai atas bagian luar terdapat beberapa lubang besar yang ditutup besi-besi baja sehingga tidak khawatir untuk diinjak. Udara sejuk memanjakan kami dan di lantai atas ini segera kami menikmati pemandangan alam yang luar biasa, ke utara terhampar dataran cekungan bandung dan di arah selatan berdiri gagah Gunung Patuha.

Tuntas dari lantai atas, kembali turun ke lantai bawah dan keluar bangunan gedung menuju halaman kantor dimana 2 reservoir air berada. Melihat secara langsung terasa berbeda dengan pemaparan di kantor, padahal dengan objek yang sama. Sehingga peninjauan obyek pekerjaan itu sebuah keharusan. Selain bisa melihat kasat mata bukan sekedar imajinasi juga bisa melihat beberapa potensi permasalahan yang musti diantisipasi, lebih khusus lagi adalah menambah silaturahmi.

Titik keempat terkait peninjauan Sistem Penyediaan Air Minum Regional Bandung Selatan ini adalah lokasi kolam Prased yang terletak sekitar 4 km dari lokasi IPA dan reservoir. Bergeraklah mini konvoy ini menuju lokasi Prased yang masih berada di wilayah Cimaung ini. Peninjauan titik keempat ini menjadi akhir ngabolang (sementara) di awal tahun 2018 ini. Sekaligus titik awal ngabolang awal tahun etape 2 menuju wilayah Garut selatan.

Tunggu yach di tulisan selanjutnya. Wassalam. (Akw).

(Bukan) Resensi ‘Bagaimana Saya Menulis’

Sebuah catatan kecil (bukan) resensi buku dari kumpulan pengalaman dan perjalanan penulisan para pegiat Gerakan Birokrat Menulis.

Photo : Buku Bagaimana Saya menulis + kopi / dokpri.

Malam telah kembali sunyi, gelak tawa anak semata wayangpun telah tergantikan dengkuran halus sambil mulut mungilnya tak mau lepas dari nenen ibunya. Untaian doa rutin sebelum tidur mengantar mereka terlelap di malam ini. Perlahan melirik jam meja ternyata sudah pukul 23.05 Wib, persiapaaan……

Me time mulai berlaku. Berjingkat keluar kamar dengan suara minimal. Buka tutup pintu ekstra hati-hati. Bergeser ke ruang makan, menggelar koran sebagai alas di meja makan karena khawatir ada tetesan sisa minuman atau ceceran makanan yang bisa merusak mood karena harus bersih-bersih dan lap-lap dulu.

Amplop besar warna coklat yang menyambut kedatanganku tadi ba’da isya di ruang tamu begitu menggoda untuk segera dibuka dan dibaca. Meskipun raga masih terasa lelah karena sabtu tanggal merah inipun harus dinas luar ke wilayah Cirebon dan Majalengka. Tetapi klo lihat ada paket kiriman buku baru, tidak ada kata kompromi untuk segera dinikmati. Ditemani seduhan kopi Arabica Java Preanger ‘Gunung Tilu’ versi pribadi pake V60, rasa segar menyeruak dan paket buku segera dibedah.

Dua buah buku mungil bersampul semburat mentari sore yang menjadi latar alami seseorang termangu di dermaga sederhana di tepi pantai berjudul ‘Bagaimana Saya Menulis’ memberi energi baru untuk melahap 127 halaman tanpa jeda. Karena berisi pengalaman dan perjalanan penulisan para pegiat gerakan birokrat menulis.

Eh jeda kok disaat menyeruput kopi hangat seduhan sendiri, nikmat tak tergantikan.

Buku yang disusun oleh para penggiat gerakan ‘Birokrat Menulis’ ini mulai dibolak balik dan entah apa yang mendorong diri ini untuk baca dari halaman 127 dulu. Berjumpa dengan para penulis yang berkontribusi lengkap dengan photo dan CV singkatnya sebanyak 13 orang. Para birokrat yang sukses menulis dan karyanya telah bertebaran di berbagai media internal ataupun media massa. Jadi iri dech…

Mas Muji Santosa (Nyebut mas ah, soalnya moo pake pak atau bapak, kok jadinya serasa bikin nota dinas atau telaahan staf hehehe) yang sudah menginspirasi banyak orang dengan buku-buku tentang pengadaan dan kontrak. Dilanjut dengan tulisan Mas Raden Murwantara mengupas tuntas tentang penulisan Jurnal Ilmiah internasional yang begitu lengkap dari mulai persiapan hingga syarat-syarat. Menjadi tantangan pribadi untuk bisa membuat tulisan jurnal ilmiah dan berkelas internasional hungga bisa terindeks SCOPUS & SCIMAGO dengan impact factornya. Meskipun bahasa inggris pas pasan tapi yang penting khan keberanian untuk menuangkan ide dan gagasan seperti kata Bang Marudut R. Napitupulu. Jangan lupa ikutin tahapan proses mendengarkan – membaca – berbicara – dan terakhir menulis seperti yang terjadi disaat ikutan test IELTS.

Test IELTS atau International English Language Testing System, itu sodaranya TOEFL (Test of English as a Foreign Language), Sebagai syarat untuk kuliah di luarnegeri.

Photo : Peralatan nyeduh sang kopi / dokpri.

Lanjut yaa…….

Mas Ilham Nurhidayat yang aktif di majalah kantor hingga mempersiapkan pembuatan bukunya. Kegelisahan menjadi energi awal untuk menuangkan sesuatu menjadi tambang ide tulisan menurut mas Setya Nugraha, hingga filosofi jalinan kata dari Bang Mutia Rizal yang menggugah selera membaca dengan mencontohkan berbagai tokoh penulis dunia dan indonesia. Memaksa diri untuk terus setia membuka lembar berikutnya padahal jam dinding sudah melewati dini hari.

Menulis itu mengasyikan, apalagi bersua dengan seseorang dan lingkungan yang mendukung untuk terus menghasilkan karya seperti kata Mas Eko Heri Winarno juga Kakanda Andi P.Rukka yang hasil karyanya telah menghiasi perpustakaan National Library of Australia. Hingga tips keenam yaitu Write first-Edit laternya mas Ardero Kurniawan semakin membubungkan semangat untuk menggerakkan jemari ini menuangkan kata demi kata.

Mbak Nur Ana Sejati melengkapi dengan aktivitas catat mencatat itu sangat penting karena akan sangat membantu memahami apa yang sedang dipelajari. Didukung oleh Bang Adrinal Tanjung bahwa menulis itu tidak untuk menggurui orang lain tetapi menulis itu menggurui diri sendiri maka menulis itu bukan perkara sulit. Disusul oleh Mbak Pratiwi Retnaningdyah yang fokus pada konsepsi pelayanan umum dari pengalamannya di dalam dan di luar negeri, membuka pemikiran diri untuk terus menulis apapun khususnya kegiatan sehari-hari yang terkait pekerjaan atau profesi di jajaran birokrasi.

Dan…. terakhir tulisan yang tersaji adalah wejangan dari Bang Rudi M.Harahap berbagi tips agar bisa membuat tulisan berkualitas adalah peran mentor dan motivasi kita menulis sesuatu. Ide bisa muncul dimana saja maka gunakan fasilitas catatan di smartphone untuk mencatat topik yang menarik untuk ditulis. Serta segera tulis, tulis dan tulis.

Tak terasa bercengkerama dengan buku yang diterbitkan ‘Birokrat Menulis‘ telah usai. Meskipun masih ingin membolak baliknya, tetapi harus adil juga berbagi rasa dengan raga yang harus beristirahat juga untuk menyongsong hari esok yang senantiasa bahagia serta ceria.

Terima kasih mas Ardero Kurniawan atas paket bukunya. Semoga menjadi jalan kebaikan bagi kita semua dan tentu semakin suksesnya para punggawa serta anggota ‘BM’ dimanapun berada. Wabilkhusus BM semakin berkibar dan menjadi wahana berlatih dan menghasilkan tulisan bernas serta ilmiah untuk kemajuan bangsa.

Tak lupa gelas kedua seduhan kopi Arabica JP Gunung Tilu menutup sesi dini hari ini. Dentang jam dinding pukul 01.30 wib di hari terakhir tahun 2017 ini mengingatkan kembali untuk menutup percengkramaan dini hari ini. Wassalam. (Akw).

NEBENG

Urban legend di Cadas Pangeran, sebuah cerita 5 tahun lalu.

“Ikut yach!” sebuah kalimat sendu menggema di rongga telinga menyentuh degup rasa di sisa sepertiga malam menuju dini hari. Tidak menjadi pikiran dan dianggap angin lalu, mungkin hanya desau angin yang menjadi halusinasi, atau memang ceracau otak yang sudah lelah menemani raga yang terus beredar menapaki dunia.

Kedua tangan memegang stang kendali motor matic kesayangan. Sementara pelindung kepala adalah helm jadul bertemakan gaya pilot tempur lengkap dengan stiker Persib, menang kalah jiwa ragaku. Menembus gerimis hujan yang tetesannya berlomba masuk ke dalam helm. Mencoba menyapa rasa dan bercengkerama di atas kulit kepala di daerah Cadas Pangeran, sebuah perjalanan malam ke sekian kali dari Bandung ke Sumedang.

Tidak berapa lama, tercium harum melati yang melenakan. Meski semakin dicium terasa wanginya itu ditambah bau lain, wangi kesedihan dan nestapa. Motor terasa berat padahal gas sudah poll di batas maksimal. Wewangian dan bau terasa semakin menusuk, sesakkan dada dan membuat jantung berdebar lebih kencang tanpa kendali. Kulit punggung terasa dingin sedingin es balok yang terikat erat di belakang badan. Seolah menemani kebekuan hati yang kembali menjadi-jadi akibat penolakan gadis kota, sore tadi.

Jalan berkelok terasa sepi, kabut tipis menemani tanpa basa-basi. Menambah suasana penuh kengerian dan sensasi. “Apa yang sedang terjadi?” Suara hati kecil menggema.

Tangan kanan memutarkan stang gas sampai maksimal, berharap motor matic ini segera berlari kencang melewati Cadas Pangeran. Tetapi yang terjadi adalah motor matic ini bergerak perlahan seolah ada beban berat yang menghambat juga halangan tak kasat mata. Pikiran waras masih membekas, dan terbayang bahwa oli rem maticnya mungkin sudah habis. Sehingga transmisinya terganggu. Sang malam terus menemani dengan setia.

Mesin motor menderu maksimal, tetapi bergerak tetap lambat, terseok-seok bagaikan ayam keok. Harum melati berganti menjadi bau bangkai, dingin dan sepi semakin terasa mencengkeram. Tidak ada pilihan lain yakni berdoa kepada Allah sambil berusaha mengendalikan motor matic ini agar tetap bergerak di jalur jalan, menjauh dari jurang yang begitu menanti kedatangan. Gerimis terus turun menambah suasana semakin penuh tekanan.

Istigfar dan aneka doa terus dilafalkan hingga setengah berteriak. Motor bergerak meski perlahan.

Tepat melewati batas tugu melewati daerah Cadas Pangeran, motor melonjak terasa ringan. Bergerak lincah kembali seperti biasanya. Beban dipundak hilang sekejap, bau bangkaipun lenyap terganti harum tanah disaput tetesan hujan. Dingin menusuk berganti hangatnya banjir keringat. Tak banyak tanya, langsung tancap gas menuju Kota Sumedang.

Tak berapa lama, terdengar bisikan serak tanpa wujud, “Terima kasih Nak.” Tangan reflek untuk tancap gas semakin cepat sambil berteriak, “Allahu Akbar!!!!.”
Bulan sabit dini hari tersenyum melihat tingkah polahku. Sesosok bayangan hitam perlahan menghilang di ujung Cadas Pangeran.

*)Catatan : Cerita Urban Legend yang ditulis 5 tahun lalu dalam versi fiksimini bahasa sunda. Ditulis ulang dan menggunakan bahasa indonesia agar bisa dinikmati oleh para pembaca. Tidak lupa versi aslinya di tampilkan dengan beberapa perbaikan. Selamat menikmati.

Versi Asli, 24 Desember 2012

***NU NEBENG***

“Ngiring” Soanten leuleuy ngagupay cepil dina simpéna wengi ngudag janari. Teu janten émutan paling ogé kukupingan, maklum awor sareng angin anu silih surung lebet kana sela-sela hélm butut. Ngaréncangan kuring uih ti Bandung ngabujeng ka Sumedang numpak motor métik si kukut.

Mung teu lami ti dinya asa kaambeu seungit malati nu ngalewangkeun ati, asa jauh panineungan. Teras motor karaos abot padahal mung nyalira da dipengker mah kuéh pamasihan pimitohaeun. Teras tonggong karaos nyecep tiis nembus na tulang, sumawonna jalan ogé mingkin simpé maturan kuring nu tunggara.

Ah di gas wé satarikna supados énggal dugi, tapi kalahka gegerungan lalaunan bangun nu ripuh. Boa boa oli metikna séép janten ngaganggu kana transmisi. Nya si kukut maju wé samampuhna. Pas leupas ti péngkolan pamungkas Cadas Pangéran, kaambeu téh janten bau bangké. Langsung istigfar bari si kukut digas satakerna, motor hampang deui sakumaha ilaharna.

“Nuhun” Soanten anteb dina cepil katuhu.(Akw).

WASTAFEL *)

Mendengarkan peringatan itu penting, tetapi mampu meredam kesombongan pribadi itu jauh lebih penting.

(Photo : Ilustrasi Wastafel / Mr HP by request)

“Jangan menyikat gigi atau cuci muka pas jam dua belas malam di wastafel itu ya!” Suara bapak kost sambil menunjuk wastafel di ujung lorong. Sebuah informasi disaat kami baru memulai mencoba menjadi anak kost di wilayah Jatinangor. Kami hanya tersenyum dan menganggukan kepala tanpa komentar, tak acuh. Terus berlalu memasuki kamar masing-masing.

Ada 5 kamar yang baru terisi dari 12 kamar yang ada. Kamar depan yang terluas, disitu bapak kost tinggal seorang diri. Kost-an ini memang agak terkesan seram karena itu adalah bangunan tua, tetapi dengan harga nego dan bersahabat maka kost ini menjadi ideal bagi kami yang butuh pengiritan biaya.

Satu bulan berlalu, kami berlima menjadi akrab meski beda fakultas. Mencoba menjadi mahasiswa yang baik, belajar dan belajar demi meraih nilai baik untuk dipersembahkan ke orangtua yang berjibaku di kampung sana demi membiayai anak-anaknya meraih cita. Kost rumah putih ini telah menjadi rumah bersama kami, rumah kedua tempat kami belajar bersama di ruang tengah. Nonton tv dan maen PS. Ataupun bersih-bersih bersama di hari libur. Wastafel di lorong tetap berfungsi tanpa perlu ditakuti.

Bulan ketiga ada tambahan warga di kost-an, namanya Jefri. “Nurdin” Tanganku terulur dan langsung disambut dengan genggaman erat, “Jefri si Anak Rantau.” Anaknya agak cuek tapi menyenangkan. Yang bikin kami khawatir adalah disaat peringatan tentang wastafel disampaikan, Jefri tertawa. “Ah kalian penakut semua. Nanti malam kita coba. Siapa yang berani macam-macam dengan Jefri Si Anak Rantau!!!” Kami terdiam, bapak kost hanya memandang dengan diam.

(Photo : Ilustrasi Wastafel / Mr HP by request)

Sore beranjak malam suasana rumah menjadi tegang. Ruang tengah tidak ramai karena kita berkumpul sambil belajar, tetapi lebih banyak diam dan berdoa tidak ada kejadian apa-apa. Jefri berjalan sambil bersiul, duduk di ruang tengah, “Tenang saja kawan, tak usah khawatirkan aku.”

Mendekati jam 12 malam, terasa semakin mencekam. Gerimis diluar dan suara desau angin menambah dramatis keadaan. Terdengar siulan ringan dan langkah kaki Jefri menuju wastafel di lorong. Kami di kamar masing-masing mendengarkan penuh ketegangan. Termasuk bapak kost yang juga khawatir dengan kenekatan ini, beliau standbye di kamarnya, kamar paling depan.

Pukul 00.00 wib pun tiba, suasana sepi dan sunyi betul-betul mengunci hati membekukan pikiran. Gerimis dan desau angin menghilang dalam gelapnya malam. Tidak ada suara teriak ketakutan dari Jefri karena ada sesuatu atau suara lainnya. Akupun merasa tenang juga (mungkin) perasaan bapak kost dan kawan kost lainnya.

Tapi…. hingga 20 menit berlalu, suasana sepi sunyi terus berlanjut. Kami penasaran, tak berapa lama terdengar suara pintu kamar depan membuka, langkah kaki menuju wastafel di lorong. Aku mengintip dari jendela ternyata bapak kost. Akupun membuka pintu kamar dan bergabung bersamanya. Juga anak kost lainnya.

“Astagfirullohal Adzim”, Bapak Kost bergumam, kami semua terdiam melihat apa yang ada di hadapan. Jefri meringkuk sambil menggigil, mulut terbuka mata melotot penuh ketakutan tanpa bisa berucap sepatah katapun. Wajahnya pucat badan membiru. Peralatan sikat gigi dan gayung tersimpan rapi di wastafel. Kamipun menggotongnya bersama-sama tubuh Jefri yang kaku seolah membeku menuju ruang tengah untuk diberikan pertolongan pertama.

Melirik ke bapak kost, terlihat wajah sedih dan sendu tapi penuh tanda tanya. Disaat kami bergerak menjauh dari wastafel, sesuatu dalam kaca wastafel tersenyum puas dan tertawa tanpa kata. Bergerak dan menghilang. (Akw).

*)Catatan : Tulisan fiksi ini 5 tahun lalu, terinspirasi dari true story jaman kuliah. Tulisan singkat ini tertuang dalam Facebook di grup Fiksimini sunda. Ditulis tentu dengan bahasa sunda, tetapi sekarang dicoba dibuat versi bahasa indonesia agar lebih mudah membaca dan menikmatinya. Berikut tersaji versi awal dengan judul yang sama.

***

WASTAFEL ***

“Kadé ulah nyikat huntu atawa sibeungeut dina wastafel pas jam duawelas peuting” Papagah Wa Udan basa mimiti asup ka imah kos di totogan Sukawening. Imah kos wangunan baheula karasa rada geugeuman, tapi da loba batur ieuh.

“Usép” Leungeun uing nyolongkrong, “Enud” Ceuk manéhna bari seuri. Tuluy ngawangkong pancakaki ngalor ngidul kawas nu loma. Antukna jadi dalit jeung si Enud teh. Ngan hanjakal boga sifat keukeuh peuteukeuh.

Kaasup anu dihulag nyoo wastafel tengah peuting, kalahka nangtang jeung rék ngabuktikeun. Satengah duabelas malem jumaah geus saged rék nyikat huntu bari teu weléh sura-seuri, padahal sakabéh pangeusi kos tagiwur bisi katempuhan urusan anu can karuhan.

Téng jam dualas, euweuh sora nanaon deukeut wastafel. Istuning jempling, simpé. Lalaunan, Wa Guru, Uing oge babaturan ngadeukeutan wastafel tea. Kaciri Si Enud ngaringkuk handapeun wastafel, leungeun méréngkél. Teu bisa ditanya, teu bisa digulanggapér. Ngagibrig bari molotot.
Na jero kaca wastafel aya nu ngaléos bari nyéréngéh.

Bongé

Ngarujak poék dibaturan simpé, bari anteng ngaraga meneng.

*)FiksiminiBasaSunda

Photo : Mung Ilustrasi / Doklang.

Seubeuh nyuruput soré, ayeuna mulutan peuting. Poék mongkléng ditoélan, bari keukeuh teu bisa dihulag ku omongan. Teu kaop dicarék, ngadon molototan. Purnama dirawél béntang dibubat babét. Rungsing sakujur alam.

Ari sia nanaonan?” Sora ahéng handaruan nepi ka tungtung deuleu. Nu ditojo haré-haré. Batan ngalieuk kalah ka tuluy culubak celebek.

Sia téh bongé?” Sakali deui sora ahéng meulah jomantara parat ka tungtung langit. Karék manéhna ngarandeg, tilu gunung diburakeun jeung cai atah ti Citarum nu ngabayabah ngabau hangru. “Ngaing teu bongé Ki Sobat, ukur nyeri ceuli ngadéngé sia mangratus taun nyarita tapi euweuh nu mangrupa.”

“Geus hayu dibaturan, ari hayang mérésan mah” Sora ahéng rada leuleuy. Manéhna giak ngeureunan lampah. Sanajan poék geus téréh nepi ka mongkléng. Teu loba nyarita, duanana leumpang pakaléng-kaléng. Jangjian ngaraksa bumi ngajaga sagara keur sampeureun jaga. Purnama jeung para béntang sujud syukur bisa salamet tina sulaya. (Akw).

Nulis Tanpa Mikir

Menulis itu perlu niat, Basmallah dan coretan awal, selanjutnya ngalir menyusuri waktu yang terus melaju.

Photo : Kutrat kotret di Diary / Japri.


Menjelang rabu dini hari, terasa ada yang hilang dan terlupakan.

“Apa yang lupa yach?” Suara hati menelusuri jalinan waktu yang telah sesaat berlalu. “Oh iya belum kotrat kotret, nulis sesuatu. Memintal kata mewujud kalimat rasa”, Senandung penyesalan tak bisa meraih momen yang telah hilang.

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, “Knapa ga nulis, khan biasanya apa aja ditulis dan langsung posting di blog?”

Jawaban pembenar segera berkibar menyemburkan berjuta alasan sehingga semua menjadi rasional.

Tanpa harus berjibaku dengan sesal dan berburuk sangka pada keadaan, rehat sejenak menarik nafas menjadi obat pengurang kegalauan. Apalagi jika kaki beranjak menuju kejernihan air tuk digunakan membasuh muka membersihkan hati dalam upacara mandiri yang miliki makna bersuci. Terasa seluruh kegalauan itu sirna, berganti ceria untuk menapaki hari dan mengisinya dengan alunan cinta.

Diingat kembali dengan membuka notepad di gawai pribadi, ternyata berserakan konsep tulisan yang terhenti sebelum mampu wujudkan satu paragraf. Atau konsep lain adalah poin-poin kata yang tergeletak tak berdaya karena tak digunakan untuk menjalin cerita. “Ada apa kemarin ya?”

Ternyata jawabannya sederhana, ‘Karena terlalu banyak berfikir!’

“Nggak percaya?”

Udah percaya aja dech, supaya cepat kelar nich cerita. Hehehe… maksa. Tapi bener ding, kemarin lebih banyak baca ketimbang nulis, lebih banyak terdiam dibanding mengetik hurup menggambar angka. Karena mencoba menulis sesuatu yang bermakna dengan ilmu bahasa yang sudah ada aturannya.

Seorang kawan memberi tantangan agar menulisnya menggunakan pola eksposisi disertai link yang mengajak diri membaca konsep ilmu kebahasaan yang ternyata beraneka rupa. Menantang memang, tapi alih-alih menulis sesuatu seperti yang diatur dalam tata naskah kebahasaan. Kenyataannya asyik membuka literatur menusuri alam gugel demi tahu tentang berbagai definisi paragraf menulis seperti apa itu ‘Narasi’ atau ‘Deskripsi’.

Ternyata menulis selama ini bener-bener ga pake kaidah bahasa tapi hanya berpedoman pada olah rasa. Xixixi… jadi malu juga. Karena dengan tulisan paragraf Eksposisi maka tulisan tersebut memberi makna dan bobot yang jelas didukung pernyataan ahli serta data terpercaya untuk menguatkan pendapat yang ditulis oleh siapa.

Ada lagi yang disebut Paragraf Eksplanasi mengupas tema lebih jelas lagi dengan bahasa ilmiah dan berbagai kerangka cara penulisannya. Beda dengan tulisan yang versi “ngalir aja”, cenderung menjadi paragraf narasi atau deskripsi yang tentu tinggi tendensi atau malah penuh emosi. Objektif di satu sisi tapi subjektifpun menaungi. Yang pasti luapan rasa hati bisa mewujud dalam karya diri, mungkin menjadi sesuatu untuk suatu saat dan mengerucut menjadi warisan abadi.

Ternyata tulis aja sesuatu bisa rumit ataupun bisa mudah. Nah daripada bahas sesuatu yang rumit hingga akhirnya tak kunjung menulis, mending gerakan jari jemari di layar gawaimu. Ketik sebuah kata diikuti kata lain, terus ulangi dan ulangi terus hingga membangun satu untaian kalimat dan berwujud paragraf.

Jika sudah jadi satu paragraf, ulangi proses menyusun kata tadi. Biarkan satu kata dengan kata selanjutnya bersinergi, berteman karib saling berjanji menaut rasa memadu niat untuk wujudkan paragraf yang bertujuan. Insyaalloh, dua tiga dan empat paragraf akan tersaji dan cobalah baca dari awal. Itulah modal tulisan perdana kita. Rapihkan penulisan, bereskan hurup rapihkan angka serta jangan lupa tanda baca.

Masalah isi or content tulisan tentu menjadi pertimbangan. Tetapi banyak orang yang tak jadi tak berhasil menulis karena ingin menyajikan yang terbaik (versi dirinya), ketakutan di cela oleh pembaca ataupun khawatir tak sesuai aturan tata bahasa. Sehingga adagium bahwa ‘Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tak tuntas dibuat’ kembali menggema.

Hidup ini tidak ada yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT saja. Mari menulis seiring kata hati dan gerakan jemari. Tapi ingat hindari tema yang tendensius dan memancing konflik. Bikin tulisan wujudkan warisan dalam bentuk buah pikiran original kita masing-masing. Klo belum pede ketik langsung di gawai, ya kutrat kotret dulu di buku catatan karena ide menulis itu datang tanpa diundang juga pergi tanpa bisa dilarang.

Manfaatkan kemajuan jaman, Jangan lupa niatkan dan baca Basmallah, mulai deh nulis di gawai trus upload di blog pribadi. Banyak yang gratisan seperti wordpress dan blogspot. Trus linknya share pada kontak WA kawan dan Medsos kita, Facebook, instagram, path, twitter termasuk status whatsapps.

Tunggu responnya dan tanggapi dengan santai klo ada komentar apapun. Klo ada yang ngoreksi segera perbaiki, klo ada yang menghina berarti pahala penghina untuk kita dan klo ada yang mengapresiasi jadikan lecutan diri untuk perbaikan kualitas dan kuantitas tulisan selanjutnya.

Selamat menulis…..

Wassalam. (@andriekw).

Bahas KEK di Bogor Icon

Bergerak dan bekerja sambil mencoba merangkai kata. Jangan bertanya kenapa masih banyak kurangnya, tetapi bacalah dengan seksama dan ‘japri’ kalau ada yang tak tepat menyentuh asa.

Photo : Tamanhijau depan ruang rapat / dokpri.

Kala mentari baru beranjak menyinari hari, kami susah melesat menyusuri jalan bebas hambatan berbayar Cipularang – Cikampek – Cikunir JORR – Jagorawi – Lingkar luar bogor sehingga total 4 ruas tol yang dilewati, alhamdulillah perjalanan lancar sehingga waktu 2;5 jam sudah mendekati tempat tujuan sesuai yang tertera di Undangan.

Tak ingin berbasa-basi dan tak suka berujar harap, tetapi sebuah usaha menangkap kata meskipun berjuta makna untuk dipintal menjadi cerita yang bisa berguna bagi yang suka ataupun memang demi pelaporan semata.

Yup, rapat inipun adalah suatu wujud komitmen bersama antara pihak pemerintah baik Kementerian Pariwisata, Kemenko Perekonomian, Pemprov Jawa Barat, Pemkab Pangandaran dan Sukabumi untuk mendorong Badan Usaha yang menjadi Pengusul Kawasan Ekonomi di Provinsi Jawa Barat.

Photo : Suasana Rapat FGD / Dokpri.

Telah berpuluh rapat beraneka diskusi yang dijalani tetapi tak ada kata menyerah menghadapi semua hambatan dan halangan yang ada justru menjadi lecutan untuk mampu lewati semua tantangan dengan cara bergandengan tangan bahu-membahu tanpa terganggu ego sektoral untuk wujudkan harapan bersama.

Berikut tersaji catatan hasil rapat pembahasannya, semoga bisa memberi secercah manfaat baik secara administratif juga mungkin melengkapi konten untuk raih hasil yang kompetitif.

Haturan….

Assalamualaikum Wr Wbr.
Laporan kegiatan Acara Forum FGD Penguatan Kemitraan Jejaring Kawasan Terpadu & Pengembangan Kawasan Wisata Terpadu Kementerian Pariwisata, di Bogor Icon Hotel, Selasa 05 Desember 2017 sbb :

I. Rapat dimulai oleh Pa Burhan Kemenpar lalu dipandu oleh Pa Azwir selaku Ketua Tim Percepatan KEK Kemenpar dihadiri oleh Pa Arifin KabiroSPIBUMD, SahliEkbang, KabiroDalbang & KabiroProdi Setda Prov Jabar. Direktur Badan Usaha Pengusul KEK di Jabar, Pemkab dan Tim Perintis KEK Prov Jabar.
Prof DJP selaku Ketua Tim Perintis Pembangunan KEK Provinsi Jawa barat datang menyusul.

II. Acara dimulai dengan paparan dari 4 Pimpinan Badan Usaha Pengusul :
a. Pa Anggoro Dirut KCIC
b. Pa Dani Direktur PT. Bintang Raya Lokalestari – Geopark Sukabumi.
c. Pa Abi Direktur PT PMB Pangandaran.
d. Pa Virda Dirut PT BIJB.
disela acara tersebut dilaksanakan Prosesi penandatanganan Kerjasama antara PT. Bintang Raya Lokalestari – Geopark Sukabumi dg PT PGN (Perusahaan Gas Negara) dlm rangka dukungan investasi pembangunan dan pengembangan KEK di Kabupaten Sukabumi.

Photo : Refleksi gaya kebersamaan / Dokpri.

III. Kesimpulan FGD Penguatan Kemitraan Jejaring Kawasan Terpadu adalah :

A. Pak Arifin :
1. Pembagian tugas yang jelas antara tugas teknis adminstrasi, fungsi eksekusi & Substansi di pemkapb dan pemprov Jabar.
2. Mekanisme pengusulan sesuai regulasi dan dokumen administrasi segera dilengkapi seperti berita acara verifikasi di level kabupaten dan selanjutnya dikirimkan ke gubernur dengan surat pengantar bupati untuk diverifikasi di level provinsi, baru gubernur membuat surat pengajuan usulan KEK ke Dewan Nasional KEK.
3. Tambahan 1 slide tentang perbandingan pertumbuhan ekonomi di jabar dengan adanya KEK untuk segera dilaporkan ke Tim Perumus.
4. Perlu simulasi final dengan Badan Usaha Pengusul sebelum pertemuan Gubernur dengan Menpar tgl 14 Desember 2017.

Photo : Menu maksi (sebagian) / Dokpri.

B. Pa DJP :
1. Kesimpulan hasil pertemuan tgl 23-24 Nopember 2017 dari 6 vadan usaha pengusul dikategorikan Berdasarkan kelengkapan perrsyaratan adalah KEK Pangandaran dan KEK Cikidang Gepark Sukabumi disebut Batch I dan KEK Walini KCIC dan KEK Kertajati BIJB adalah Batch II dan sisanya KEK Jatigede Sumedang & Purwakarta kemungkinan mundur karena tidak bisa melengkapi persyaratan.

2. Selain syarat normatif yg tercantum pd PP 2/2011 & Permenko BidEko No 07/2011 juga ada surat pernyataan dari Direksi Badan Usaha Pengusul bahwa dokumen yang diajukan adalah benar dan bisa dipertanggungjawabkan serta status lahan yang diajukan tidak sedang bersengketa juga sah legalitasnya.

3. Bertanggungjawab secara eksekusi & substansi usulan dan teknis administratif berdasarkan regulasi adalah AsdaEkbang & KabiroSPIBUMD.

C. Pa Buchori, Sekretariat Dewan Nasional KEK :
1. Beberapa isu penting dlm usulan KEK : Ketersediaan Air sehingga AMDAL harus ada, Pemerataan Ekonomi, Kepastian Luas Lahan, komitmen Investor dan pembuatan tabel untuk memudahkan monitoring & evaluasi.

2. Untuk BIJB secara konsep rencana bisnis sudah dinilai OK oleh Wakil Ketua Sekretariat Dewan Nasional KEK tetapi ketersediaan lahan tetap menjadi syarat utama. Jikalau belum dimiliki bisa saja dikuasai dengan kerjasama yang mengikat dan janfka waktu yg jelas seperti dengan pihak Perhutani.

3. Sepakat dengan ide adanya panduan yang jelas dan penyajian usulan proposal KEK dari Dewan Nasional KEK, tetapi untuk saat ini masih informal dimana tahapan usulan KEK ini berproses di Tim Kecil DNKEK, level Eselon I Kementerian hingga mengerucut di Sidang Dewan Nasional KEK.

4. Hal penting dalam usulan KEK ini adalah terkait Devisa negara yang bisa dioptimalkan.

5. Top of mine dari tiap usulan KEK harus diterjemahkan dalam bentuk angka-angka yang rasional seperti laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan perkapita.

D. Pa Azwir :
1. Lahan yang diajukan harus clear & clean, pengusul yang jelas dan dukungan penuh pemerintah daerah.

2. Tindak lanjut dari akselerasi usukan KEK ini akan ada pertemuan dengan Menteri Pariwisata. Surat undangan pertemuan Pak Menpar dengan Gub jabar, Gub jatim, Gub babel, Gub Sumbar pd tgl 14 Desember pukul16.00 wib sd 18.00 akan dibuat oleh kementerian Pariwisata.

3. Gubernur diharapkan hadir dengan para bupati pengusul KEK serta para mitra calon investor yang akan berinvestasi di area KEK.

4. Mari kita dukung penuh Usulan KEK dari 4 badan usaha pengusul sehingga momen berharga ini dapat menjadi sejarah khususnya terwudnya KEK Walini dan Kertajati yang akan mengubah konstalasi ekonomi di Jabar.

Photo : Rada Eksis dikit / Dokpri.

Demikian laporan dan info kami, semoga KEK di Provinsi Jawa Barat dapat segera terwujud. Wassalam. (Akw).