Taruang & Tataruang

Sambil ‘tuang’ ingat sama tata ruang, ya udah orat oret tanpa sebab semoga jadi manfaat.

Photo : makan siang yuk / dokpri.

Siang yang cerah berbuah berkah, menggugah tingkah agar tidak terengah. Hilangkan pongah tapi tetap bungah… alias kembung di tengah.

Intermezzo dulu di siang yang cerah.

Makan siang sepiring yang mengenyangkan bersama teman-teman lainnya yang dalam bahasa sunda, makan itu ‘tuang‘ dan yang makan lebih dari satu disebut ‘taruang‘… nah… taruang ini ditambah –ta– didepannya maka jadilah ‘ta-taruang’ atau tata ruang yang definisinya adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.

Struktur ruang dan pola ruang itu apa?… sebelum lebih bingung, mending kita cari dulu definisi ‘Ruang’ dulu…

Ruang adalah : wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara termasuk ruang didalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia dan mahluk lain hidup melakukan kehidupan dan memelihara kelangsungan hidupnya (ps1a UU 26/2007).

Tah definisi yang serius dan ini adalah undang-undang yang menjadi pedoman bagi penataan ruangan di negara tercinta ini. Sebelum bergerak lebih luas ini kata UU 26/2007 lagi ya….

Pengertian Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan sarana prasarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional (ps1.3).

Pengertian Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya (ps1.4).

Belum kelar pasal 1 udah mulai puyeng pala berbiih.. tapi pengertian kudu paham dulu sebelum bahas lebih daleem.

Ngomong-ngomong tata ruang, klo penataan ruang artinya naon?… Jawab lagi sama pasal 1.5 dech :

Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Menarik atau ngebosenin?… silahkan jawab masing2 dech.

Buat penulis mah egepe, moo dibaca syukur nggak dibaca juga harus, khan ini penting 🙂 apa lagi menurut khotib jumatan tadi, yang bakalan diminta pertanggungjawab dari kita semua itu ada 4 hal lho.

Salah satunya ‘Ilmu“. Uraiannya gini lho….

Pertama Umur, moo umur pendek moo umur panjang bakal ditanya ngapain aja tuh umur dipake?

Kedua Ilmu, nyari ilmu apa aja? Trus ilmunya dipake ibadah atau ngadalin orang lain?…. nah ini yang nyambung dengan ilmu tata ruang, biarpun puyeng ayo kita pelajari… insyaalloh berkah.

Ketiga harta, ini jelas bakalan ditanya cara nyari harta dan dipake apa aja? Ibadah atau maksiat. Kadang kita mah bingung, harta banyak eh kebutuhan nggak ada (ngarep…).

Keempat raga, raga ini dipakai apa saja selama hidup didunia. Itu pertanyaan yang harus kita jawab dan pertanggungjawabkan. Balik lagi ke urusan tata ruang guys…

Jika melihat aktor dan unsur perbuatan maka urusan tata ruang ini terbagi 3 yaitu : pemerintah, pengusaha dan masyarakat. Pertama pemerintah berarti meliputi pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten/kota.

Apa yang menjadi tugas pemerintah?…..

Ada 4 tugasnya yaitu : 1) Membuat regulasi. 2) Menyusun Arah Kebijakan 3) Melakukan pengendalian 4) Melakukan koordinasi.

Bicara regulasi tentu salah satunya mengacu kepada Undang-undang 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Undang-Undang bidang Agraria Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria dan Undang Undang No.32 Tahun 2009 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan ditindaklanjuti dengan berbagai Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, peraturan menteri hingga peraturan daerah di level provinsi dan kabupaten/kota.

Penyusunan arah kebijakan maka ini harus singkron dengan mekanisme perencanaan nasional yang di breakdown oleh daerah melalui peraturan daerah baik di pemerintah provinsi juga pemerintah kabupaten/kota. Sebagai acuan tentu Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional menjadi pedomannya plus Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007. Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 serta Peraturan Presiden (Perpres) No. 2/2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang memuat sasaran, arah kebijakan, dan strategi pembangunan.

Photo : menu maksi juga / dokpri.

Segitu dulu yach…. ntar dilanjut guys, taruang eh… makan siangnya dilanjut duyuuu.(Akw).

Dulokaeuw

Salah sawios panyawat nu kedah diwaspadai, terutami kanu tos jegud loba rejeki.

Photo : Masjid bumi Alloh di Lombok / dokpri

Mimiti ukur ngejeletit, tuluy nyaliara. Mapay urat muru kekemplong, karasa paregel tina indung suku nepika palangkakan. Teu loba rumahuh sabab da mun aya karasa téh cukup wé ku dibalur binahong jeung babadotan. Adug lajer tetempoan karonéng, leng… dunya karasa poék, jempling tingtrim leungit kasakit.

Jedug.. cangkéng katuhu karasa nyeri. Panon beunta. Geuning ngabadug sisi méja. Kénca katuhu ngariung loba jelema. Campuh parebut barang kawas nu kakara. Bari kukumpul pangacian, karasa nu tingjeletit leungit, pegel ngilang awak karasa seger. “Boa aing geus di surga?.. tapi pan aing lain jelema soléh. Ibadah gé belang betong” gerentes haté.

“Pih tos séhat ayeuna mah?… mamih ka tempat kudung heulanya” sora halimpu gigireun, dilieuk téh jikan jeung anak incu. Uing ngahuleng, unggeuk lalaunan.

Karasa ramo katuhu nyekel kertas leutik, tuluy diilikan. Geuning resép ti dokter subspésialis urusan panyakit jero. Dibaca diagnosis, uing téh katerap panyakit dulokaeuw (duit loba kabutuh euweuh). Ubarna ngan hiji, sedekah. (Akw).

Mengejar Gas Natural & Gas Pribadi

Urusan gas yang menarik untuk di catat, baik gas alam ataupun gas buatan termasuk gas buatan sendiri.

Photo langit dan taman di halaman Aston Cirebon / dokpri.

Perjalanan nyubuh kali ini menuju salah satu dari tiga daerah metropolitan dan titik pertumbuhan jawa barat yaitu wilayah metropolitan Cirebon Raya. Wuih metropolitan bro, yup memang Cirebon daerah yang sangat potensial. Selain Cirebon Raya ada Metropolitan Bodebekkarpur dan Metropolitan Bandung Raya, itu yang termaktub dalam Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2014.

Tapi tulisan sekarang bakal fokus tentang agenda acara terkait urusan energi yang berasal dari gas bumi yang kebetulan memang bakal tempatnya di Cirebon ini. Sebelum jauh bahas urusan di cirebon, tiba-tiba ingatan melayang ke masa kecil… rumah di kampung halaman. Klo inget di rumah, pasti kita akrab banget sama tabung warna biru yang disebut tabung elpiji. Dulu mah minyak tanah buat keperluan rumah tangga. Harap maklum karena bisa menikmati listrik itu di usia SLTP, maklum kampungku masuk daerah IDT…

Masih inget nggak?.. yg program Inpres desa tertinggal?... Jadi hingga tuntas sekolah dasar, sangat akrab ama yang namanya minyak tanah. Buat kompor yang pake sumbu dan juga beraneka lampu bagi penerangan di malam gulita. Ada 6 lampu minyak gantung dan 8 lampu minyak semprong.

Nah jadwal pembersihan kaca dari kesemua jenis lampu tersebut adalah ba’da asyar sekaligus mengisi minyak tanahnya… rutinitas nostalgia yang ternyata membentuk karakter kedisiplinan.

Photo : Aston Hotel Cirebon / dokpri

Balik lagi ke tabung biru yang namanya elpiji, ternyata elpiji itu merk dagang dari Pertamina.Isinya LPG (Liquified Petrolium Gas) yaitu gas minyak bumi yang dicairkan, hasil penyulingan minyak. Caranya dengan di turunkan suhunya dan ditambah tekanan, maka gas berubah jadi cair. Klo search di mbah gugel, LPG itu dalemnya propana (C3H8) dan butana (C4H10) dan sebagian kecil etana (C2H6) dan pentana (C5H12)… jadi inget belajar unsur kimia jaman SMA.. Hehehe. Aslinya si LNG ini tidak berbau sehingga ditambahin ‘mercaptan‘ supaya klo bocor terdengar oleh penciuman, eh tercium oleh hidung dengan baunya yang khas.

Sementara yang dibahas sekarang di lantai 2 Hotel Aston Cirebon adalah gas alam atau gas bumi yaitu bahan bakar fosil yang berbentuk gas. Ieu gas naon deui?.… Nama bekennya LNG (Liquified Natural Gas), gas alam yang didapat dari ladang minyak, ladang gas bumi serta tambang batubara yaitu gas Metana (CH4), molekul hidrokarbon terpendek dan teringan.

Gas alam juga bisa berasal dari pembusukan bakteri anaerob dari bahan-bahan organik biasanya terdapat di daerah rawa-rawa, tempat pembuangan sampah dan penampungan kotoran hewan dan manusia yang disebut ‘biogas‘. Klo gas alam ini didistribusikan yang paling umum adalah melalui pipa-pipa dari sumber gas hingga distribusi kepada pelanggan (end-user) tentunya sangat kompetitip bagi dunia industri yang membutuhkan sumber energi yang besar dan kontinyu. Termasuk juga untuk digunakan di urusan properti seperti apartemen, perhotelan dan transportasi serta berbagai bidang usaha lainnya.

Photo :Para pembicara / dokpri

Semangat membangun jaringan gas antara cirebon – semarang yang berjarak 230 – 235 kilometer ini yang bergema di sini. Sebuah acara kerja bareng Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat bersama PT Rekayasa Industri sebagai Pemegang konsesi pembangunan jaringan gas dengan PT Energi Negeri Mandiri yang merupakan anak perusahaan BUMD provinsi Jawa barat di bidang Energi yaitu PT Migas Hulu Jabar.

Setelah di akhir agustus 2017 lalu MOU, maka PT Rekind & PT ENM tancap gas untuk proses sosialisasi di jabar dan di Jateng sehingga target sehingga kegiatan offtaker gathering dan investor bisa tuntas di 2017, trus dilanjut ke penyusunan Feasibility Study, AMDAL serta pelelangan konstruksi di tahun 2018. Targetnya 2020 sudah bisa beroperasi dan melayani kebutuhan gas di wilayah Cirebon – semarang.

Diskusi hangat di acara ini saling melengkapi, baik dari BPH Migas sebagai pengatur juga para pelaku usaha di wilayah cirebon dan sekitarnya. Semua pihak berharap program ini bisa terwujud, bukan hanya BBG (bolak balik gagal, pinjem istilah pa Karsono Organda Cirebon)… plesetan dari bahan bakar gas (BBG) yang sudah pernah digagas sejak 10 tahun silam dengan berbagai nama termasuk juga program langit biru.

Eh ada yang lupa, si LNG inipun bisa juga di distribusikan menggunakan bejana tekan, tentunya sebelumnya dikompresi dulu. Nama istilahnya Compresed Natural Gas (CNG), kegunaannya adalah kepraktisan dan tentunya ramah lingkungan. Klo di jakarta sudah diterapkan pada busway dan bajaj. Juga didistribusikan untuk industri yang memerlukan gas alam.

Photo : Menu Maksi full / dokpri

Ya udh ah, gitu dulu cerita gas nyah. Soalnya kebanyakan makan siang berlemak jadinya pengen buang gas… ups maaf.

Nah klo yang akan keluar ini namanya kentut atau bahasa kerennya flatus, unsur kimianya adalah : Nitrogen: 20-90%, Hidrogen: 0-50%? Karbon Dioksida: 10-30%, Oksigen: 0-10% dan Methane: 0-10%. Flatus sering bau! Bener nggak?…. gak percaya?… coba aja diisap dech olangan.

Ada beberapa bahan kimia yang berkontribusi mewujudkan urusan bau ini yaitu Skatole (produk sampingan dari pencernaan daging), Indole (produk sampingan dari pencernaan daging), Methanethiol (senyawa sulfur), Dimetil sulfida (senyawa sulfur), Hidrogen sulfida (bau telur busuk, mudah terbakar), Amina yang mudah menguap, Asam lemak rantai pendek, Feses (jika ada dalam rektum) dan bakteri. Eh klo malah bahas kentut… tapi memang itu gas yang akrab juga dengan keseharian kita.

Sebelum berpisah, sebuah pantun dadakan semoga memberi sedikit hiburan dalam pembahasan gas-gas ini.. gasss polll.

“Membawa kawat dicampur abon, menjalin tali memanen kurma.

Diskusi hangat di Aston Cirebon, ngobrolin gas bumi bersama-sama”

Ada satu pantun lagi :

“Mengikat janji menjadi simpul, mencari ikan & cumi-cumi tanpa bertanya.

Hari ini kita berkumpul, jadi saksi terwujudnya pemanfaatan gas bumi di cirebon dan sekitarnya”.

Selesay…..

Akhirnya waktu jualah yang membatasi. Meskipun tetap sehari 24 jam tapi nilai manfaat kembali kepada apa yang kita perbuat. Wassalam. (Akw).

Sumber :

Ide sendiri + google.co.id, wikipedia.com, bphmigas.co.id, bisakimia.com

Qurban 1438 H

Ikuti tuntunan agama, belajar ikhlas, sabar dan pasrah sesuai syariat agama.

Sore ceria menemani langkah menyusuri jalan menembus gang kecil menuju satu sasaran. Supaya tidak kesasar maka di WA minta send location dan mister Jipi-és pun otomatis beraksi. Tak khawatir meskipun satelit telkom dikabarkan hilang, karena jaringan internet tetap aman. Yang rawan adalah dompet, karena gesek di mesin ATM semua pada diam. Tak ada respon seolah sudah tidak berkenan ditarik uang.

Meskipun dari hasil penerawangan, ATM tidak bisa keluar uang itu banyak faktor, bisa karena gangguan satelit, emang rekening tabungannya kosong atau salah pake ATM khusus seperti ATM beras :)…. atau bisa aja kartu ATM yang di masukkan ke mesin ATM ternyata kartu e-money untuk tol ( maklum buru-buru).

Photo : domba yang malu-malu domba/dokpri

Kembali ke posisi ondewey, sambil liat layar hape dengan petunjuk arahnya plus kondisi riil yang kasat mata, akhirnya tiba di rumah saudara yang sudah menunggu beberapa lama. Sebuah rumah di kampung yang adem dan komplit, ada kolam ikan, kebun kecil untuk bercocok tanam dan kandang domba… yaa kandang domba, disitulah tujuan akhir kedatangan sore ini. Untuk menengok dulur sekaligus memastikan keberadaan sang domba yang akan dikurbankan esok hari.

Domba gagah berbulu keriting dengan tanduk yang besar, juga terlihat berkaos kaki putih hitam. Tatapannya masih malu-malu karena baru berjumpa secara langsung. Tetapi dengan rayuan rumput hijau ditangan, bisa juga mengelus kepalanya meski terlihat sang domba tetap tegang. Itulah sang domba kami…

Sampai berjumpa esok pagi dom.

Trek..

Trek…

Trekk…

“Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Laailaahaillalloh huwallahu akbar, Allaahu akbar walilla ilham!!”

Gema takbir menggetarkan kalbu terus berkumandang sepanjang malam. Bergema seluruh alam memuji dan memuja Allah Sang Maha Pencipta. Hingga pagi haripun tiba. Bagi saudara kita yang datang dari segala penjuru dunia untuk menuju satu tempat suci tentu sedang bersiap dan berkumpul di padang Arafah. Melaksanakan wukuf di Tanah Suci Mekah Almukaromah.

Photo Mushofahah / dokpri

Photo sedang bersalaman : Dokpri

Kami yang disinipun bersiap menuju masjid besar di lereng gunung Ciremai untuk bersiap menunaikan shalat Idul Adha secara berjamaah. Suasana kekeluargaan terasa begitu kental, karena rata-rata adalah saudara meskipun saudara jauh. Mesjidpun tak kuasa menampung jemaah sehingga jalan dan pelataran rumah penuh berebut demi shalat bersama. Begitupun usai sholat dan khutbah ied, antrian bersalaman (Mushofahah) cukup panjang dan mengular.

Usai shalat ied bergerak menuju makam papah mertua, berdoa bersama di tahun ketiga kematiannya, semoga tenang dan bahagia di alam sana. Kembali ke rumah, segera menuju tanah belakang tempat yang disepakati untuk penyembelihan hewan kurban. Alhamdulillah ijab kabul dan doa memanjat menuju arasyi dengan taburan ayat alquran dan keheningan. Mencoba memaknai ketaqwaan, kesabaran dan kepasrahan serta keikhlasan yang tiada hingga dari Nabi Ibrahim dengan putranya, Ismail.

Darah sudah mengucur dan domba segera diproses untuk berbagi dengan sesama. Ijab kabul penyerahan hewan qurban berikut 3K (kaki, kepala dan kulit) bagi yang bertugas menguliti, mencacag dan membagi. Sekaligus hak 1/3 diijabkan untuk silahkan menjadi bagian yang akan disebar.

Kambing, sapi ataupun unta hanya perantara karena yang sampai kepada Allah SWT adalah nilai taqwa dari hambanya.

Happy Iedul Adha 1438 H. (Andriekw).

Khusuk di Mushola Mall

Dilema disaat kenyataan tidak sesuai harapan, terpaksa sebuah rasa dikorbankan demi harapan di masa mendatang.

Ini hanya contoh photo Mushola yang cukup representatif / dokpri

Photo : Contoh Mushola yang representatif di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. (Dokpri)

Adzan magrib berkumandang tepat di saat parkir di halaman mall, alhamdulillah. Segera bergegas menuju mushola yang terletak di basement. Ternyata… udah banyak orang yang antri wudhu. Bersiap menunaikan kewajiban rutin umat islam. Selesai wudu dalam antrian yang lumayan, kembali menunggu karena mushola kecil ini udah penuh.

Iseng diitung kapasitas mushola, yang cuman dua baris ini. 1 imam dan 11 makmum, euleuh cuman maksimal 1 losin eh 12 orang. Padahal yang moo sholat banyak. Sabarr…. tunggu aja. Ternyata tidak lama dan kloter keduapun siap menunaikan sholat.

Dapet posisi jajaran kedua dan segera takbirotul ihram, ‘Allahu Akbar’ mengikuti imam. Imamnya anak muda dan melafalkan Alfatihah serta surat Al Insyiroh di rakaat pertama dengan fasih dan enak iramanya.

Tetapi ternyata memakan waktu lama dan membuat antrian selanjutnya tidak sabar. Muncul celetukan, “Musholanya kecil banget nich”, “Lama banget sih, banyak yang ngantri nich”. Terus terang kekhusukan yang begitu sulit didapatpun terusik. Sang imam muda bertahan dengan bacaan tartil dan gerakan tumaninahnya. Yang ngantri dan merasa kelamaan nunggupun semakin gencar menggerutu.

Diriku terjebak dalam dilema, tapi tak bisa berbuat apa karena keriuhan diskusi hanya di otak saja. Kekhusukan terpaksa tergadaikan, berganti dengan rasa iba merasakan nasib pengantri sambil tetap ikuti gerakan sholat sang imam muda.

Sejumput doa terpanjat, semoga musholla kecil ini segera berubah menjadi luas, lapang dan nyaman serta jamaah yang akan sholat juga tetap banyak. Amin.

Citadines

Ah ini sih iseng kutrat kotret pas lihat nama hotel yang sepertinya sudah akrab.

Photo : Dokpri

Tadinya nggak iseng dengan nama hotel, apalagi udah lelah meeting seharian plus jalan macet menuju lokasi hotel. Jadi di tempatkan di hotel manapun ya terima aja yang penting ada tempat nginep. Trus agenda rapatnya dekat, cukup itu. Tapi ternyata pas mau belok dari jalan raya trus liat nama hotelnya…..

O ow… 

Yang menggelitik adalah nama hotelnya. Terletak di jalan Hasanuddin Kota Makassar dan coba tebak apa nama hotelnya?….

Namanya Hotel Citadines, Namanya akrab banget dengan PNS yang sedang DL (Dines luar) atau perjalanan dines (baca : dinas) luar provinsi :).

Cita dan dines, diawali dari cita-cita untuk terbang pake pesawat dan urusannya dines ke luar provinsi, eh nginepnya di hotel cita-cita dines alias citadines (maaf klo maksa tapi mirip khan?….)

Ternyata setelah masuk ke hotel dan wawancara satpam tentang arti citadines, bingung dia jawabnya. Resepsionis hanya bilang itu berasal dari bahasa prancis. Ditanya ke resepsionisnya, ternyata ini hotel baru banget, baru beroperasi bulan april 2017 atau baru berumur 4 bulan lho. 

Ya udah nggak banyak lagi tanya-tanya, check in dan segera menuju kamar. Dalam kamarlah semakin terang benderang kenapa namanya kok mirip2 urusan ‘dines’. Ini hotel adalah bagian dari jaringan hotel internasional dibawah Grup Ascott The Residence dan Somerset Serviced Residence di negara perancis sono.

Citadines apart’ hotel adalah jaringan hotel internasional dan yang di tempati sekarang adalah Citadines Royal Bay Makasar. 

Ya udah ah… kok jadi iklan gratis inih mah. Wassalam. (Akw).

Sunset vs Sunrise

Mengejar mentari terbit dan tenggelam dan terbit lagi dan tenggelam lagi dan…

​Makassar (23/08).

Sunrise di Monumen mandala/ dokpri.

Dikala senja menjelang, berbondong orang mencari tempat terbaik untuk berusaha mengabadikan fenomena alam yang sebetulnya terjadi setiap hari tetapi memberi sensasi tersendiri. Mengabadikan mentari tenggelam di barat adalah salah satu ritual kebiasaan terutama bagi sang pelancong alias traveller, baik traveller sejati ataupun traveller kebetulan… maksudnya yang sekalian hadir di kondangan sodara atau juga yang traveller Cardin (Carena Dinas) alias DL (Dinas Luar).

Sensasi mengabadikan matahari tenggelam begitu kuat menarik siapapun. Tentu dengan berbagai alasan, yang paling umum jaman begonoh adalah for eksis time, aktualisasi kehadiran diri yang secara real time dilaporkan kepada dunia melalui media sosialnya. Maka photo momen matahari tenggelam atau sunset ini bertebaran di Facebook, Instagram, Path, Pinterest dan kawan-kawannya. Tidak lupa untuk yang ingin Narsem (Narsus sempurna) pasti sangat akrab dengan aplikasi Camera360 & bejibun aplikasi penghalus wajah instant yang bertebaran di playstore, i-store dan balad-baladnya.

Sunset di P. Belitung / dokpri

Untuk sunset ini bagi yang narsis sebetulnya kurang pas karena hasil photo akan backlight. Jadi dikejarnya pasti siluet wajah dan badan berlatar semburat jingga kekuning merahan. Tempat favorit tentu berada di tepi pantai. Yang udah mainstream di pulau dewata adalah pantai Jimbaran sambil menikmati sajian seafood yang banyak bertebaran atau di pantau Kuta berselonjor kaki di pasir putihnya. 

Sunset di Pantai Tanjung An Lombok/dokpri

Terbang ke lombok, mencoba mengejar sunset Gili Air atau Gili Trawangan. Bisa juga alternatif di pantai Tanjung An Lombok Tengah serta tempat-tempat keren lainnya. Bicara berburu sunset mah nggak ada habisnya, di Pulau Belitung Provinsi Babelpun begitu menawan menikmati kemulau riak air laut di sela batu-batu raksasa yang menjadi salah satu tempat shooting film Laskar Pelanginya Andrea Hirata.

Sunrise di Stasiun Purwakarta / dokpri

Udah dulu ah ngomongin sunset, sekarang sodaranya sunset yaitu sunrise alias momen mentari terbit yang tidak kalah menakjubkan. Juga butuh effort lebih karena musti bangun dini hari, trus ditambah acara daki-mendaki… ya minimal nyiapin lutut untuk jalan menanjak menuju spot yang diharapkan. Yang terkenal seperti di lokasi Pananjakan, untuk melihat mentari mulai bersinar di Gunung Bromo. Terbang ke Bali, beberapa spot di Danau Batur bisa jadi lokasi Sunrise yang keren. Atau kalau yang mau paket sunset dan sunrisenya nggak terlalu sulit dicapai serta deket dari Kota Bandung maka pantai Pangandaran adalah tempat ideal. Bisa menikmati momen tenggelam matahari di pantai barat dan terbit matahari di keesokan harinya di pantai timur pangandaran.

Kalau di Pulau Sulawasi khususnya di Kota Makasar maka Pantai Losari yang memberi banyak arti. Tetapi disini sunset saja yang bisa diabadikan, klo sunrise musti naik ke bangunan tinggi dan berbackground bangunan di Kota Makasar. Beruntung penulis kebagian hotel yang pas sehingga sunrise di Kota Makasar bisa didapat ditemani gagahnya Monumen Mandala yang dibangun untuk mengenang pembebasan Irian Barat dari tangan penjajah dan dibangun tahun 1994.

Sunset tertutup awan di Pantai Kuta Mandalika / Dokpri

Kembali urusan sunset dan sunrise, ada yang senengnya sunrise doang atau sunset doang. Itu sih terserah masing-masing orang. Tapi penulis senang kedua-duanya, karena itu salah satu bukti kekuasaan Allah SWT dan juga salah satu penanda bahwa  kiamat besar masih jauh dari kita sebagaimana yang disampaikan dalam hadits HR Buchori.

Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga matahari terbit dari barat. Ketika (manusia) menyaksikan matahari terbit dari barat, (maka) semua manusia akan beriman. Pada hari tersebut tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau ia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya (HR Bukhari).

Sehingga patut dan wajib bagi kita untuk senantiasa bersyukur serta beribadah bersungguh-sungguh agar menjadi jalan bagi rahmat dan hidayah Allah SWT dan menggolongkan kita masuk menjadi layak untuk masuk ke surga-Nya kelak. Amiin Yaa Robbal alamin. (Akw).