Kolam renang Aryaduta Jkt

Mencoba menikmati fasilitas kolam renang disela tugas yang padat merayap.

Akwnulis.com, Jakarta. Angin segar menerpa wajah, disaat membuka akses pintu hotel dari lantai 3 hotel Aryaduta Tugu Tani Jakarta menuju halaman yang terdapat pepohonan serta beberapa ornamen kayu yang menyejukkan hati di tengah kepungan gedung-gedung tinggi ibukota.
Sesaat tengok kanan tengok kiri, ternyata lokasi sasaran agak tersembunyi di sebelah kiri. Melangkah pasti menuju tempat yang dituju, beberapa kursi santai plus payung berwarna hijau mengelilingi kolam renang. Yups.

Kolam renang sasaran pagi ini.

Sebuah kolam renang yang privat dan relatif sepi, fasilitas hotel bagi siapapun yang menginap di Hotel Aryaduta Jakarta, tepatnya Aryaduta yang terletak depan Tugu tani bilangan Menteng Jakarta pusat.

Tempat bermain air yang menyenangkan, kenapa disebut bermain air?… karena banyak aktifitas yang bisa dilakukan di kolam renang selain berenang. Nggak percaya?… coba aja masuk ke area kolam renang atau nyemplung di kolam renang. Bisa berenang, bisa nyelam, bisa juga cuman kongkong-kongkow sambil minum sajian dari pool bar, bisa juga photo session ataupun buat cari inspirasi dan tiduran di kursi malam sambil nonton yang berenang, boleh juga sambil tiduran melamun sebelum melamun itu dilarang.

Kembali ke kolam renang Aryaduta, airnya bening dengan kedalaman mulai dari 1,5 meter hingga 2,2 meter dengan dimensi panjang 20 meter dan lebar 9 meter. Disekelilingnya terdapat kursi-kursi santai plus payung hijaunya, bikin nyaman buat bejemur dan melamun. Di pinggirnya ada pool bar lengkap dengan 3 set meja makan dan kursi bar, nyediain makanan dan minuman yang memanjakan lidah serta pikiran. Makanan nggak sempet icip-icip tapi minuman yang wajib dicoba so pasti dipesan… coffee… karena manual brew tidak tersedia, double espresso yang tersaji dari beannya arabica-robusta ala aryaduta yang menggugah selera.

Nggak lupa juga coldbrewnya Kiwari Farmer Coffee258 ikutan mampir disini, malah dicicipin sama bapak S, yang melayani dengan ceria pagi ini. Beliau pernah menjadi artis televisi dalam rangka adu panco di Indosiar, baheula.

Trus handuk tinggal minta di pa S, jangan lupa sebutin atau liatin kunci kamarnya.

Fasilitas toilet ada di sebelah kiri dan …. ada juga whirpoolnya boo!!. Bikin betah dipagi hari, setelah bermain air di kolam renang lanjutin berendam di kolam air hangat yang ngaburukbuk.. eh yang bergelembung-gelembung dan memberi pijatan relaksasi yang menyenangkan.

Tapii… nggak bisa lama karena jadwal acara jam 09.00 wib sudah menanti. Akhirnya menikmati fasilitas ini harus berakhir. Sebagai penutup segera keluar dari whirpool dan beranjak menuju tangga le lantai bawah. Membersihkan badan dengan shower yang tersedia. Berganti baju dan usai sudah menikmati fasilitas disini.

Recomended untuk yang moo nginep di jakarta dan suka berenang, tapi memang belum ada kolam untuk anak-anak kecil. Wassalam. (AKW).

Ngudag Panonpoé

Ngudag kahayang ngabuktikeun kamampuh, kudu bisa.

“Sok geura udag kahayang jang, jugjug mun bener éta hayang silaing!” Sora Aki Umid ngajelengéng dina sirah basa uing balaka hayang ngudag panonpoé.

Teu loba carita, gasik bébérés. Pangsi jeung iket digémbol maké sarung. Teu poho bedog si cépot jeung koréd leutik. Uyah sapuruluk jeung hinis keur pakarang pamungkas.

Indung peuting karék reup basa uing amitan ti paguron Tapak waja. Teu loba nu nyaho, ukur Ki Umid jeung Sanghyang Widi.

Leumpang mapay landeuh unggah pasir, teu beurang teu peuting muru kahayang nu can kacumponan. Didodoho isuk-isuk kalah nyamos, ditungguan pasosoré kalah ka ngilang. Tungtungna moro nu aya, meunang layung dua gémbolan. Matapoé mah nyingcet tuluy digilir ku purnama jeung béntang nu kucap kiceup baranang.

Kitu jeung kitu wé salila genep warsih téh, capé. Ampir-ampiran pegat harepan, balik éra teu balik kumaha.

***

Ayeuna uing didieu, nempokeun anjeun datang nyaangan dunya. Tingtrim rasa seger rumasa, aya bagja jeung tumarima nyaliara dina awak nu teu boga daya upaya.

Geuning lain anjeun nu kudu jadi jugjugan uing, tapi nu nyieun anjeun nu kudu ku uing di sembah di dama-dama.

Wassalam.

Palataran masjid Pasirhalang, 200318. (Akw).

Gerbong Priority

Kerja kerja kerja sambil memaknai perjalanan yang menyenangkan di Gerbong Priority Argo Parahyangan.

Photo : Gerbong Priority tiba di Stasiun Gambir / Dokpri.

Berawal dari sepenggal informasi tentang promosi Gerbong KA Priority dengan rute Bandung-Jakarta yang beredar di medsos. Tertarik?… pasti. Tapi nggak elok juga jikalau tiba-tiba berangkat gitu aja tanpa alasan yang jelas, atuh bisa Penilaian SKP terganggu. Maka disini kekuatan doa menjadi jalan pembuka, meminta kepada Allah sang Maha Mem-bolakbalikan hati.

Tring…

Sebuah disposisi bigboss menugaskan untuk hadir mewakili sebuah acara di Jakarta… ahiiw. Senangnya. Tapi… ternyata acaranya 2 hari, wajib nginep hiks hiks hiks. Dilema. Tapi ya gimana lagi, tugas ini adalah konsekuensi sebagai ASN. Ya jalani dan laksanakan sebaik-baiknya.

***

Shalat shubuh di Mushola Stasiun Cimahi menjadi awal perjalanan pagi ini, setelah beberapa menit yang lalu kedinginan karena dikejar angin dini hari diatas jok grabbike. Udah solat mah tenang. Beberapa menit kemudian terdengar suara nyaring datangnya rangKaian Argo Parahyangan yang kemudian lampu sorot di kepala lokomotif menerangi wajah-wajah penuh penantian.

Loko berhenti diikuti gerbong-gerbongpun ikut menahan langkah agar para penumpang bisa naik dengan nyaman. Tadaaa…. langkah kaki bergerak memasuki gerbong ekskutif dan melewati jajaran kursi penumpang menuju gerbong paling belakang, gerbong priority. Tiket promo seharga 200 ribu dipegang erat ditangan untuk memastikan dapet tempat duduk sesuai ketentuan.

Pintu terbuka, suasana spesial menyambut hangat. Dinding kayu yang elegan dan semerbak parfum ruangan yang lembut memberi kenyamanan. Pantry dan minibar di sebelah kanan serta senyum manis pramugari mengantarkan langkah menuju kursi penumpang. Hanya tersisa 1 kursi sesuai tiket dan sisanya 27 kursi terisi penuh.

Duduk perlahan dan bersandar di kursi seempuk sofa, langsung disodorin kotak snack berwarna hitam. Tak perlu hitungan detik, dibuka… 1 botol air kemasan dan 2 roti tersenyum penuh arti. Melirik ke samping jendela lalu mata beredar menjalari dinding kayu yang mengesankan ini. Trus untuk fasilitas entertainmentnya sebuah televisi flat ukuran 65 inchi memutar film Jurrasic Park 3. Di depan masing-masing penumpang terdapat layar video yang menyajikan film-film serta musik pilihan yang bisa dinikmati privat dengan minta headset ke petugas.

Rasa ngantukpun tertahan karena penaaasaran melihat-lihat fasilitas gerbong priority ini. Pertama kamar mandi, terletak di samping pantry, isi kamar mandinya serasa di hotel, WC duduk dan wastafel plus goyang-goyang, maklum khan kereta apinya lagi jalan.

Lalu di minibar tersedia air panas lengkap dengan kopi/teh celup plus gula and krimer, moo bikin sendiri atau dilayani yaa tinggal reques aja. Untuk lebih melengkapi, segera balik ke kursi, buka tas dan ambil botol cold brewnya manglayang karlina dari @238coffee daan…. rasa khas high acidity-medium body and sweetnya melewati kerongkongan ini memberi sensasi perjalanan yang tak terlupakan.

Puas menikmati area minibar, kembali ke kursi penumpang, mencoba video on demandnya Kawista eh Kereta Api Wisata ini, dengerin musik dan nonton film dengan akselerasi alias dicepet-cepetin 🙂 ada Mission Imposible 3, Transporter juga Poltergeist, Despicable me dan lainnya… ya film produksi 2-3 tahun lalu, tapi dengan kualitas gambar yang bagus, tentu jadi hiburan tersendiri.

Trus yang penting juga adalah silaturahmi dengan penumpang disamping kanan, seorang bapak yang simpatik, Dosen dan pimpinan Lab Mesin di ITB, bapak DR Ir.Iman, menimba pengalaman dan cerita tentang beberapa hal, Alhamdulillah.

***

Perjalanan 3 jam terasa lebih singkat, karena baru saja mencoba sedikit terlelap… eh udah ada pengumuman bahwa Kereta Api tiba di Stasiun Bekasi. Tentu tak berapa lama lagi Jatinegara dan akhirnya Stasiun Gambir sebagai tujuan akhir. Segera mempersiapkan diri. Membaca kembali bahan-bahan rapat terkait Universal Akses dan Pokja Sanitasi Jawa Barat.

Buat yang penasaran bisa buka IG Kawisata.

Wassalam.
Aryaduta-Jakarta, 130318. (AKW).

Dimensi Religiusitas vs PEE

Power of Emak-emak dan materi kultum ba’da shubuh di Mesjid Almuttaqien Gedung Sate.

Assalamualaikum Wr Wbr.

Cerita aah….

Photo : Dini hari di Bandung utara / Dokpri.

Dini hari sudah ngebut di balik kemudi, padahal waktu masih sangat luang, jam digital di dashboard masih di 03.45 wib. Tapi entahlah kenapa energi tersalur ke kaki begitu kuat dan otak mendukung dengan ucapan, “Meungpeung jalan lowong, tancaap boss!!!”

Pas belokan ke arah tol, ibu-ibu naek motor nggak pake rihting (baca : lighting), Cekiitt… mobil ngerem mendadak dan hampir hidung mobil memyentuhnya. Power of Emak-emak berlaku. Mobil terdiam sambil terengah dan menarik nafas lega karena tidak ada kejadian yang tidak diharapkan.

Ema itupun seyum dan lempeng aja melawan arus.. heu heu heu. Tapi jadi mengingatkan sama emakku sendiri, istriku dan anak perempuanku. Bahwa jangan egois dengan ngebut di jalanan yang lengang karena anak istri dan emak berharap keselamatan bagiku.

Sisa perjalanan menuju Mesjid Almuttaqien Gedung Sate bergerak normal dengan kecepatan sedang, ditemani dinginnya udara pagi yang terasa menyeliputi hati.

***

Shalat Shubuh berjamaah di Mesjid AlMuttaqien terasa syahdu penuh kekeluargaan, dilanjut dengan ceramah oleh Ustad DR. Aam Amirudin yang mengupas tentang Religiusitas atau Keberagamaan.

Dengan penyampaian yang jelas dan ringkas, terasa materi mengalir dan bisa lebih mudah dipahami oleh para hadirin yang sadar dan tidak ketiduran, bahwa terdapat 4 dimensi dalam Religiusitas, yaitu :

Pertama, The Involvement of Idealism.
Kedua, Ritual Involvement
Ketiga, Intellectual Involvement
Keempat, Involvement of Consequences.

Pertama, The Involvement of Idealisme adalah berkaitan dengan Keyakinan, meyakini sesuatu yang sulit atau malah tidak bisa dibuktikan secara empirik atau juga berarti diluar logiko-hipotetiko-verifikatif. Terus dari mana muncul keyakinan tersebut?.. hal itu melalui pendekatan Authority, yaitu mengutip ayat suci yang diyakini. Apa itu?.. adalah wahyu Illahi Alquranul Karim dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Sebagai contoh apakah umat muslim yakin bahwa kehidupan di alam barzah itu ada?… tidak bisa dibuktikan secara empirik tetapi seluruh umat islam meyakini itu ada.

Kedua, Ritual Involvement. Dalam kerangka religiusitas terdapat dua keterlibatan ritual yaitu Ritual vertikal (Hablumminallah) dan Ritual Horizontal (Hablum Minannas). Nah Ritual Horizontal terbagi menjadi dua yaitu urusan dengan manusia dan urusan dengan alam.

Disini berbicara tentang komitmen dan disiplin serta berbagai tatacara ritual yang sudah jelas pada Alqur’an dan hadits. Termasuk yang menarik adalah Tata cara sholat, Sholat adalah Ritual vertikal yang diawali Takbir yang jelas urusannya dengan Allah SWT tetapi pada saat akhir sholat ditutup dengan salam yang jelas mendoakan kanan kiri kita yang jelas-jelas urusan sosial hablum minannnas.

Ketiga, Intellectual Involvement. Religiusitas harus didasari dengan pemahaman secara komprehensif. Karena tanpa pemahaman maka religiusitas dipertanyakan. Cara untuk paham adalah Fa’lan (pelajari), ayat Alqur’an pertama yang diturunkan adalah Iqro (bacalah).. bismirobbikalladzi kholaq…., jadi untuk meraih pemahaman perlu literasi dan ini memerlukan usaha terus menerus dalam jangka waktu yang panjang.

Contoh : seabad lalu rakyat jepang tidak suka makan ikan, tetapi sekarang mereka menjadi negara yang rakyatnya mengkonsumsi ikat terbanyak di dunia. Hal ini bisa dilakukan dengan edukasi literasi terus menerus.

Keempat adalah Involvement of Consequences. Yaitu adanya konsekuensi yang harus dihadapi dalam melakukan religiusitas, dimana tidak semua pihak akan senang dengan apa yang sedang dan sudah kita lakukan sesuai tuntunan ibadah dan muamalah dalam islam.

Kisah Lukmanulhakim pada Alquran dikala lukman dan anaknya membawa keledai menghadirkan pendapat dan anggapan yang berbeda dari beberapa kelompok orang. Begitupun disaat kita berperilaku jujur, belum tentu semua pihak menyukainya.

Dari keempat dimensi tadi maka semuanya harus dilakukan secara istiqomah atau konsisten sehingga menghasilkan religiusitas yang optimal.

***

Usai Ceramah shubuh bergegas menuju kantor dan masih memikirkan tentang 4 dimensi religiusitas versus power of Emak-emak. Yang pasti dicoba untuk selalu membaca termasuk membaca situasi, plus nggak boleh nyetir sembarangan, harus ingat PEE (Power of Emak-Emak).

Wassalam, Gedung Sate 120318 (AKW).

Kuliner dini hari

Dinginnya pagi jangan menjadi alasan untuk berdiam diri, tapi sebuah tantangan untuk nikmati kuliner penuh arti.

Gelap masih menyelimuti hari, ditemani gigitan lembut dinginnya pagi yang mencengkeram raga dari segala sisi. Tapi itu semua tidak menyurutkan langkah untuk terus menyusuri jalan kehidupan yang terbentang di hadapan.

Bergerak menyusuri jalan perumahan yang masih sepi seolah kehidupan sedang berjeda. Tapi beberapa rumah sudah mulai terdengar gemericik air, sementara dengkuran halus masih mendominasi kenyataan. Ahh.. biarkan saja. Itu khan sesuai dengan komitmen masing-masing dengan prinsip hidupnya.

“Trus kamu ngapain jam segini sudah beredar?”, sepotong tanya lewati nalar, memberi peluang untuk tersenyum dan menjawab, “Ya pengen aja, apa pedulimu?” Agak ketus jawaban yang keluar, tapi tidak menjadi awal perseteruan karena dialognya masih berada dalam satu kepala.

Beberapa pemulung terlihat sudah berdinas, mengais kotak sampah warga untuk mengumpulkan plastik atau barang bekas yang mungkin berharga. Meskipun disaat diri ini melewati mereka, sapaan salam hanya dijawab dengan tatapan tanpa kata. Kembali permakluman menggema, mungkin memang sedang menghemat suara.

Setelah berjalan hingga 1,5 kilometer akhirnya tujuan pun sampai. Seorang ibu tua berkerudung menyambut dengan senyum ramahnya. Sementara satu tangan lagi sibuk mengatur posisi kayu bakar agar hasilkan panas yang sesuai. Harum adonan tepung beras dan oncom berpadu membuat aroma khas di pagi ceria, dingin dan lembab hilang sudah tergantikan oleh suasana penuh kehangatan.

Tak banyak cakap karena ternyata banyak juga yang datang mendekat. Transaksi singkat diperkuat oleh cahaya lampu mobil yang berkilat-kilat, menyaksikan peralihan barang dan uang di pagi buta penuh kekaguman.

Pilihan rasa terbatas tapi itulah yang menjadi makna kualitas. Menjaga rasa pantas serta kekuatan originalitas, membuatnya bertahan jalanani perubahan jaman tanpa takut turun kelas. Kuncinya adalah ikhlas dan melayani pembeli dengan prioritas.

Suguhan raja dan rakyat biasa atau disingkat SURABI, penganan sederhana yang miliki seribu makna. Meski pilihannya hanya surabi oncom dan surabi kinca, tapi disitulah sejarah kuliner lokal tetap membahana. Ibu tua ini berjualan dini hari mulai jam tiga, hingga ludes tepat jam lima. Jikalau jam enam pagi baru tiba, maka hanya rasa hampa yang akan mengemuka.

Wilujeng berburu dan menikmati surabi asli tanpa toping dan aneka varian yang warna warni.

Lokasi : di Sebrangnya Jalan Raya Kerkof No. 71 Leuwigajah Cimahi Selatan. Sebelum gapura pintu masuk Perumahan Cipta Mas Leuwigajah. Jam operasional 03.00 sd 05.00 wib… ya kadang ampe jam 06.00 Wib. Wassalam. (AKW).

Shalat bermusik

Ini bukan jenis shalat yang tak sesuai tuntunan agama lho, tapi shalat yang dihiasi lantunan nada.

“Allahu Akbar.. Allaaaahu Akbar”, pembuka adzan dhuhur menggema. Menjadi seruan wajib bagi umat muslim, untuk segera meninggalkan urusan dunia dan meninggalkan kepentingan lain demi berbakti kepada Illahi Robbi.
Berwudhu dengan syahdu, Tahiyatul masjid dan sholat qobla menjadi pembuka. Barisan jamaah semakin tertata untuk bersama-sama sholat dan berdoa.

“Allahu Akbar…”, Takbiratul ihram dipimpin Imam sholat begitu damai, suasana hening dan sedikit suara tarikan nafas para jemaah, memberikan nuansa kepasrahan yang kaffah. Semua terlarut dalam khusyunya

***
“Di suaa…tu hari tanpa sengaja…”, suara Anji dengan iringan musik yang akrab di telinga memecahkan konsentrasi menjadi kepingan debu kegalauan yang mengoyak keheningan rakaat kedua shalat dhuhur berjamaah ini. Disaat sedang berusaha melaksanakan sholat se-khusyu mungkin, tentunya berusaha konsentrasi untuk mencoba berserah diri. Ternyata harus buyar karena lantunan nada dan syair lagu yang pernah hits beberapa waktu lalu.

“Ah sialan, siapa tuh yang sholat ga silent dulu or matiin hapenya!”, gerutu dalam hati meluncur tanpa tertahan. Hancurkan ketenangan dan hasilkan kegundahan. Secara phisik dan realita, rakaat selanjutnya tetap terlaksana tetapi nilai hakiki dan makna sholatnya sudah berbeda.

Yakin juga bukan diri ini yang terganggu dan terbuyarkan konsentrasi, tetapi juga jamaah sholat lainnya termasuk Imam sholat, entahlah.

Ingin sekali mendatangi orangnya, omelin ampe puas supaya kapok tuh. Tapi… apa menyelesaikan masalah?

Keselnya lagi, sebelum sholat khan udah ada pengumuman, “Perhatian para hadirin jamaah shalat dhuhur, bagi yang membawa alat komunikasi agar mematikan handphonenya atau mode agar tidak mengganggu khidmatnya ibadah shalat.”

Juga pengumuman dalam bentuk tulisan yang ditempel di dinding mesjidpun ternyata tidak cukup untuk menjadi pengingat.. Grrrrrrr.. sebbel dech.

***

Ada ide juga agar DKM disarankan beli alat pengacak sinyal telepon pada area masjid khususnya area sholat sehingga tidak ada panggilan masuk selama di mesjid. Pengennya nyumbang, tapi kayaknya belum kesampaian duitnya trus DKMnya jangan-jangan nggak bisa ngoperasikan.

Sebagai langkah sederhana, ya mulai dari diri sendiri dulu dech. Pertama pastikan Smartphone ini mode silent atau posisi mati disaat akan beribadah sholat di mesjid. Atau kalau bisa simpen di ruangan aja nggak usah dibawa sholat, dengan syarat beres sholat bergegas ke ruangan untuk ambil HP.

Soalnya pernah nyoba 3 hari, sholat nggak bawa HP disimpen di ruang kerja. Lakadalah.. beres sholat asyik ngobrol sama temen dan pa ustadnya sampe lebih dari 1 jam. Nyampe ke ruangan, tanda miscall ada 10x dari bos dan beberapa rekan… ternyata ada rapat mendadak dan perlu bahan. Akibatnya ya terbayang… keburu-buru kesana kemari dan telat hadir rapat, nasib.. apes dech.

Ah udah ah… pokonya bagi yang baca ni tulisan, dimohon bingiit buat muslim yang moo ibadah sholat berjamaah.. please luangin waktu 5 detik nengok HP, switch ke mode Silent baru wudhu atau masuk ruangan mesjid. Urusan pas sholat ternyata masih ada HP yang berdering…. ya minimal bukan HP kita.

Trus ingetin kawan kanan kiri supaya aware dengan HP masing-masing.

***

“Allahu akbar… Allaaahu Akbar…..” Adzan Ashar memanggil, bergegas raga ini menuju mesjid. Nggak lupa mode silent dulu HP kesayangan baru wudhu dan memasuki ruang dalam mesjid untuk bersiap shalat ashar.

***

Rakaat ketiga, “I will always loveee youuu… kekasihku….” Suara sahdu Pasya Ungu kembali menggetarkan kedamaian, jelas berasal dari shaf kedua.

“Astagfirullahal adzim….. .”

Bandung, 010318. (AKW).

Shalat Tahajjud

Shalat Tahajud : Niat-Shalawat-Doa-Istigfar

Niat :
USHALLII SUNNATAT TAHAJUDDI RAK’ATAINI LILLAHI TA’ALA
Saya berniat shalat sunnat Tahajjud dua raka’at karena Allah Ta’ala.

Rakaat I : AlFatihah + Al Insyiroh
Rakaat II : AlFatihah + Al Ikhlas

Bacaan setelah salam :
A. Hadiah para nabi
ILLA HADHRATIN NABIYYIL MUSTHAFAA RASUULILLAH SAW. AlFatihah 1X

B. Al Ikhlas 3X, Al Falaq, AnNass, Ayat Kursi.

C. Dzikir

D. Shalawat :
1) Shalawat Nur 7X
Allahumma shalli’alaa nuuril anwar, wasirril asrar watiryaa qil aghyaar wamiftaahi baabilyasaar. Sayyidina Muhammadinil mukhtaar, waaalihil athhaar wa ashaabihim akhyaar ‘adada ni’amullaahi wa ifdhaalih.
(Ya Allah limpahkanlah shalawat atas cahaya diantara cahaya, rahasia diantara rahasia, penawar duka dan pembuka pintu kemudahan, Sayyidina Muhammad, Manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan Karunia-Nya.)

2) Shalawat Tibbil Qulub 3X
ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN TIBBIL QULUUB, WA DAWAA-IHAA, WA’AAFIAT ABDAANWASUIFAA-IHAA, WA NUURIL ABSHAAR WA DHIAA-IHA WA’ALAA AALIHII WA SHAHBIHI WA SALLIM.
(Ya Allah, Semoga Engkau menambah Rahmat bagi Junjunan kami Nabi Muhammad SAW, dokter hati dan obatnya serta obat unt3uk badan, dan menyembuhkannya, dan cahaya mata dengan penglihatannya. Semoga Engkau memberikan juga rahmat bagi keluarganya dan bagi para sahabatnya dan semoga Allah menambah berkah dan keselamatan.)

3) Shalawat Darajah 3X
ALLAAHUMMA YAA DAA-IMAL FADHLI ‘ALAL BARIYYAH, YAA BAASITHAL YADAINI BIL’ATHIYYAH, YAA SHAAHIBAL MAWAAHIBIS SANIYYAH, SHALLI ALAA SAYYIDINNAA MUHAMMADIN KHAIRIL WARAA SAJIYYAH, WAGFIRLANAA YAADZAL’ ULAA FII HAADZIHIL’ ASYIYYAH.
(Ya Allah yang melestarikan kesejahteraan atas semua mahluk, yang melapangkan anugerah dan yang memiliki pemberian yang baik, curahkan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad SAW dengan sebaik-baik kenangan. Dan ampuniLah dosa kami wahai Allah yang mempunyai kesejahteraan dalam kehidupan ini.)

DOA TAHAJJUD 1X
ALLAHUMMA LAKALHAMDU ANTA QAYYIMUS SAMAAWAATI WAL ARDHI WAMAN FIIHINNA, WALAKAL HAMDU ANTA MALIKUS SAMAAWAATI WAL ARDHI WAMAN FIIHINNA, WALAKAL HAMDU ANTA NUURUS SAMAAWAATI WAL ARDHI WAMAN FIIHINNA WALAKAL BAMDU ANTAL HAQQU, WA WA’DUKA HAQQUN, WA QAULUKA HAQQUN, WALIQOO UKA HAQQUN, WALJANNATU HAQQUN, WAN NAARU HAQQUN WAS SAA’ATU HAQQUN, WANNABIYYUUNA HAQQUN, WA MUHAMMADUN SAW HAQQUN,
ALLAHUMMA LAKA ASLAMTU WAALAIKA TAWAKKALTU, WABUKA AAMANTU, WAILAIKA ANABTU, WABIKA KAASHAMTU, WAILAIKA HAAKAMTU, WA MAA ASRORTU, WA MAA A’LANTU, WA MAA ANTA A’LAMU BIHII, ANTAL MUQODDIMU WA ANTAL MU-AKH KHIRU LAA ILAA HA ILLA ANTA WALAA ILAAHA GHOIRUKA WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.
(Ya Allah bagiMu segala puji, Engkaulah penegak langit dan bumi dan alam semesta serta segala isinya. BagiMu lah segala puji, engkaulah raja penguasa langit dan bumi. BagiMu lah segala puji, pemancar cahaya langit dan bumi. BagiMu lah segala puji, EngkauLah yang haq (benar-benar ada), dan janjiMu adalah haq dan firmanMu adalah haq, dan perjumpaanMu adalah haq, dan surga adalah haq, dan neraka adalah haq, dan saat hari kiamat itu adalah haq, dan nabi-nabi itu haq dan Nabi Muhammad SAW itu haq.
Ya Allah, kepadaMu lah kami berserah diri (bertawakal), dan kepadaMu kami beriman, kepada Engkau jualah kami kembali, dan kepadaMu lah kami rindu, dan kepada Engkau kami berhukum.
Ampunilah kami atas kesalahan ya g sudah kami lakukan dan yang sebelumnya, baik yang kami sembunyikan maupun yang kami nyatakan. Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan yang terakhir. Tiada Tuhan melainkan Engkau ya Allah yang menguasai seluruh alam. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.)

ISTIGFAR
ASTAGHFIRULLAAHAL AZHIIM WA ATUUBU ILAIH. ALLAAHUMMA ANTA ROBBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA KHALAQTANII WA ALA’ABDUKA, WA ANA ALAA AHDIKA, WA WA’DIKAMAATATHA’TU A’UUDZUBIKA MIN SYARRIMAA SHANA’TU ABUU-U LAKA BINI’MATIKA’ ALAYYA, WA ABUU-U BIDZAMBII FAGHFIRLII FA INNAHUU LAA YAGHFIRUDZ-DZUNUUBA ILLAA ANTA.
(Aku mohon ampun kepada Allah yang maha agung, dan aku bertaubat kepada-Nya.
Ya Allah Engkaulah Tuhan kami, tiada Tuhan melainkan Engkau yang telah menciptakanku…

Catatan : Diketik ulang di Smartphone dari Buku Shalat & Dzikir , Penyusun H.Subagdja Prawata, Penerbit Perum Percetakan Negara RI, Cetakan ke 12 Juni 2012.