Kerajaan Abu yg Tak Kelabu..1)

Mengejar tahu merintis ilmu sambil memintal silaturahmi tanpa misi pribadi di sebuah kerajaan abu di wilayah Bandung utara.

Photo : Om Teddy Bear lg santai / dokpri.

Desau pagi menumpang angin berpadu padan dengan segarnya kerinduan. Embun keengganan masih menggelayut manja pada hijaunya dedaunan. Sang waktu sudah melesat membelah pagi, mengantarkan seikat janji yang harus dipenuhi pagi ini.

Setelah merayap membelah rasa menyusuri arah Bandung utara, tibalah di halaman bangunan megah yang mengingatkan nalar menguatkan khayal berada di sebuah kerajaan masa lalu. Tembok tinggi berwarna abu tidak menyiratkan kelabu, malah menelisik hati untuk masuk lebih dalam lagi.

Setelah kendaraan terparkir sempurna, kedua kaki melangkah ringan memasuki pelataran kerajaan abu-abu ini. Senyuman menyebar bertaburan menyambut setiap kedatangan, gemerlap lampu gantung dan sofa-sofa besar berpadu dengan hadokpringatnya lantai yang berselimut karpet tebal. Di ujung dekat perapian, Sang Teddy bear sedang asyik bersantai. Sesaat bertemu muka, senyum mengembang dan anggukan hormat yang tulus menambah rasa betah berada dilingkungan baru ini.

Penjaga dan pelayan kerajaan terlihat berbagi tugas menyambut tamu yang datang. Begitupun raga ini bergerak menuruni tangga, melewati kolam renang ukuran besaaar dengan kejernihan air yang begitu menggoda. Terlihat lambaian manja bidadari air, merajuk untuk ikut bergabung dalam segarnya gemericik air. Tapi jiwa menahan karena hadir disini bukan untuk itu, tetapi mencari sejumput mutiara ilmu yang berada di ruang pertemuan tidak jauh dari tempat para bidadari air menari riang.

photo : Kerajaan GeHa Universal / dokpri

Setelah berhasil melewati godaan bidadari air, raga bergerak menuju tangga kristal. Perlahan menurun dan disambut lagi gemericik air mancur kecil sebelum masuk ruang Tuscani. Sebuah ruangan abu yang fungsional, terang temaram merebak rasa kebersamaan dan semangat berbagi pengetahuan. Sebuah bahasan pengetahuan beralur cepat dengan aneka bahasa yang saling melengkapi. Baik bahasa ibu yang resmi di kerajaan juga bahasa asing yang akhirnya hanya mengangguk dan tersenyum tanpa paham apa yang dibicarakan. Tapi minimal dari gestur, ada sedikit yang bisa dimengerti.

Bahasan ilmu biar nanti dibahas khusus tapi yang pasti makasih atas kesempatan bersua dan diundang oleh KPPIP serta rekan-rekan Tusk consultant di bangunan megah klasik, seolah berada di sebuah kerajaan abu yang megah di bilangan Bandung utara, namanya Kerajaan GeHa-Universal.

Photo : Air mancur mini depan Tuscani / dokpri.

Sambil menikmati harmoni musik klasik yang lembut digabung dengan penjelasan tentang Pi-pi-pi, menambah ilmu menambah silaturahmi apalagi yang hadir ada 3 petinggi negeri punggawa utama tentu menambah takjub dan betah berlama-lama.

Meskipun bidadari air dan raja kantuk berlomba merebut rasa, tetapi ketetapan hati tak bergeming untuk terus menimba ilmu mengejar pengalaman. Sehingga keseluruhan latihan dan pembelajatan kehidupan bisa diikuti tuntas meskipun ada keterbatasan karena sudah mulai terjangkit penyakit endemik ‘lanang celup’, yakni gejala otak dan perasaan yang lambat nangkap dan cepat lupa he he he.

Met belajar para pangeran…….

Semoga nanti miliki waktu untuk menikmati hari menapaki relung relung kerajaan abu, selain untuk mendapat ilmu tapi juga pengalaman untuk beredar semu hingga berakhir pada satu pintu titik temu. (Akw).

Berseru hari berkawan hujan.

Biarkan sang hujan menjatuhkan diri ke bumi membuat goresan petualangan yang tak lekang oleh jaman….

Photo : Suasana Cafe di Cimahi Utara / dokpri.

Gemericik butir hujan menyentuh dedaunan dan atap yang menaungi kebersahajaan, membentuk melody kehidupan yang meresonansi jalinan kenyataan menjadi bentuk tafakur yang berbuah hikmah penuh berkah.

Peristiwa jatuhnya hujan terkadang dianggap penghalang, padahal hujan adalah pembawa berkah bagi semesta yang senantiasa menantang. Disitulah bedanya titik hikmah yang bisa menjadi tak serupa karena sudut pandang yang dipahami berdasarkan ilmu yang dimiliki.

Bagaimana cara menikmati gemericik hujan yang datang tidak terduga?….. banyak cara, tapi ada satu yang mudah yaitu ‘berkawanlah dengan dia, kopi’.

Pertama, jika berada di rumah bersama keluarga itulah saat luar biasa. Setelah selarik doa syukur terpanjat tentu menikmati penganan hangat dengan secangkir kopi panas plus senda gurau gelak tawa anak adalah keindahan rasa yang tak bisa dinilai. Tapi ingat usahakan kopi giling yaa… bukan kopi gunting atau sacetan (tah.. tah… tah mulai lagi urusan kopi).

Photo : Double shot espressoku / dokpri.

Jika tak punya coffee maker maka lakukan manual drip dengan V60 atau……. yang paling gampang adalah bikin kopi tubruk. Karena kopi tubruk adalah kepolosan yang menyimpan kejutan rasa nikmat, tanpa banyak basa basi kata Ben (Cicho Jericho) sang Barista dalam Filosopi Kopi The Movie. Tinggal pilih biji kopi pilihan hati, di grinder manual sambil melibatkan rasa dan cinta maka akan memunculkan sebuah citarasa yang tiada tara. Bagaikan kopi ‘tius‘ kopi tradisional dataran Dieng racikan Pak Seno yang bisa mengalahkan ‘Perpecto‘ nya kedai Filosopi kopi.

Kedua, disaat gemericik hujan mendera bumi dan kita posisi sedang dalam garis edar alias sedang beredar, maka menjambangi kedai kopi adalah sebuah sensasi tersendiri. Bisa juga cafe yang miliki varian produk kopi, peralatan dan tentunya barista handal yang ramah dan rendah hati.

photo kopi tersaji by V60 / dokpri.

Bagi penyuka kopi pahit, maka paling simple cukup beberapa pilihan dulu aja. Yaitu espresso, dopio alias double shot espresso atau kopi tubruk, atau bisa juga pake V60. Cold brewpun masih cocok meski dingin bersaing dengan derasnya hujan. Long black juga bisa menjadi teman setia.

Apa lagi klo cafe khan selain citarasa kopi juga pasti menjual suasana, bikin betah berlama-lama. Apalagi bersama istri tersayang yang memang lebih dulu ‘mencintai‘ kopi. Gemericik hujan terdengar berdentang riang, menemani sruput demi sruput angan yang berpendar keindahan.

Itulah secuil rasa yang bisa disesap dan dinikmati bersama sang kopi disaat langit sore sedang sendu terkungkung lembayung ungu. (Akw).

Kenangan pertama mengenalmu..*)

Jumpa pertama memberi kesan mendalam, apalagi dilengkapi peristiwa yang tak terlupakan. lengkap sudah sebuah memori terpatri di hati dan terekam jelas di ingatan.

Photo : Mamang bandros sedang standbye / dokpri.

Segarnya udara pagi menambah energi untuk mengarungi hari yang selalu mudah untuk dijalani. Setelah masuk kelas diawali doa pagi serta menyanyi, tersaji bubur kacang hijau hangat yang diletakkan pada mangkuk warna warni.

Semua berdoa dengan seksama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya supaya si kacang hijau cepat berpindah ke dalam perut mungil kami. Kenapa kacang hijau?.. karena ini hari senin, klo selasa-rabu biasanya susu murni ditambah kue mari.

Nyam… nyam… nyam. Perut kenyang hati senang dan bu guru cantik kembali mengajak berdendang sesaat sebelum istirahat pagipun datang. Senda gurau bersama kawan disaat istirahat adalah momen yang begitu indah untuk dikenang. Tak banyak yang perlu dipikirkan. Cukup datang tepat waktu, berbaris berdoa dan bernyanyi, makan dan bernyanyi lagi sebelum akhurnya tiba waktu pulang.

Disinilah aku tumbuh bersama kawan lainnya, disebuah daerah pegunungan di perkebunan teh Bandung Selatan. Disini kami belajar mengenal teman dan bisa bermain sepuasnya meski dikungkung oleh bangunan dan taman menghijau yang cukup luas bagi kami untuk bersilaturahmi dengan alam dan menikmati aneka permainan. Dari mulai cungkelik cungkedang, panjat tali, komidi putar, rumah-rumahan, ucing sumput, rerebonan, balap karung serta yang paling trending adalah ayun-ayunan atau gugulayunan.

Photo : Seloyang Bandros / dokpri.

Ditempat ini pula mulai mengenal aneka makanan dan beberapa jajanan meskipun terbatas. Karena untuk jajanan, ibu kepala sekolah pasti pasang muka galak dan suara menggelegar sehingga hanya sedikit pedagang yang berani berjualan jajanan atau mainan. Satu jajanan yang jadi favorit adalah ‘bandros’, jajanan khas jawa barat yang bahannya adalah terigu, kelapa dan garam. Dibuat dengan menggunakan loyang cetakan, dimasak mendadak dengan memasukan adonan putih agak encer tersebut ke loyang dan dibawahnya dipanaskan oleh bara api yang menggunakan bahan bakar potongan kecil kayu bakar.

Bentuknya atau sebutan lainnya yaitu ‘kue pancong’ dan tersaji hanya dua rasa yakni original berarti agak asin dan manis, jika ditabur gula putih diatasnya. Belum berfikir rasa-rasa variasi lha wong gitu aja selalu ludes diserbu oleh kami, anak kecil haus jajan.

Aku punya selera setengah mateng sehingga hasilnys masih lembek dan lembut atau sekali-kali cukup kering sehingga ada kriuk dikit pas dikunyah di mulut kami. Itulah sensasi yang terejam di memori ini.

Yang lebih bikin nggak terlupakan tentang bandros ini adalah sensasi tenggelam akibat rebutan bandros. Dibilang tenggelam mungkin agak lebay, tapi itulah kenyataan.

Sekolah kami TK Melati milik PT Perkebunan Nusantara VIII di Bandung Selatan memang dikelilingi taman serta selokan kecil dan di depan sekolah kami ada selokan yang cukup besar buat kami anak TK.

Siang itu kami berkumpul mengelingi mamang bandros yang lagi hits saat itu. Pas satu baris bandros tuntas dimasak, kami bersiap menerima dengan sigap. Hanya saja karena ingin duluan jadi berebut dan saling dorong. Akibatnya aku dan Dade temanku terdorong ke belakang serta kecebur ke selokan.

Gujubar…….. semua terkesiap dan siap membantu. Tapi kami berdua yang tenggelam sudah bisa berdiri lagi di selokan yang cuma berkedalaman 40cm. Yang jadi judul tenggelam karena wajah kami.. eh kepala kami yang meluncur duluan menyentuh permukaan air selokan sehingga tenggelam ‘sesaat’ :).

Bu guru TK yang cantik terlihat datang tergopoh dengan wajah pucat pasi khawatir anak didiknya menderita luka. Tetapi sesaat tersenyum lebar melihat kami yang tertawa-tawa sambil menyantap banderos setengah mateng yang udah campur sama air selokan. Meskipun sudah pasti basah kuyup dan kedinginan. Tukang banderos hanya bisa terdiam dan serba salah. Tapi menjaga pikulan peralatan dagang lebih utama dibanding membantu kami, karena itu menyangkut hajat hidupnya.

Sejak itu keakraban kami dengan banderos semakin erat, tiada hari tanpa jajan sang bandros dengan menu tetap, setengah mateng. Termasuk disaat kami mulai menginjak sekolah dasar, banderos panas tetap setia menanti di halaman depan sekolah untuk ditukar dengan uang receh yang kami pegang. Meski tentu mamangnya berganti-ganti orang.

Photo : Bandros siap tersaji dokpri.

Udah mateng pak, ini bandrosnya!!”, suara mamang bandros membuyarkan kenangan, terlihat sajian hangat satu loyang bandros yang membangkitkan kenangan. “Makasih mang” selembar uang berpindah tangan, selarik kenangan memperkaya ruang. Hatur nuhun mang. (Akw).

*) Maksudnya kenangan pertama mengenal bandros.

Gagenhésbeg

Lain istilah ti Jérman ieu mah, tapi geus loba nu ngiluan, WASPADALAH.

Potona doklang (dokumén olangan).

Enggah enggéh bari ngahégak padahal sakuriling gé can tamat, lumpat pasosoré di lapang gasibu. Lumpat pacampur jeung leumpang bari teu nolih kénca katuhu. Pokona targét soré ieu bisa hatam 5 kuriling. Baju kaos jeung tréning ngahaja meuli tadi ba’da jumaahan di golodog pusda’i. Néangan nu mècing, meunang kaos beureum jeung tréning héjo.

Sabot anteng leumpang gancang dina trék bulao. Ujug-ujug trék nampuyak, suku mebes kawas nincak leutak. Tuluy sacangkéng, beuheung nepi ka laput ngaliwatan congo buuk. Leungeun roroésan teu ngaruh sabab sagala rupa nu dirawél téh haripu. Leng poék mongkléng.

Lalaunan beunta kaciri loba jelema, “Dimana ieu?” Jajang ngagerendeng. “Cicing tong gogorowokan jang, geus ngilu ngantri kadinyah” gigireun nini-nini gembrut nyorongot. Jajang murungkut, teu loba ngomong kapaksa nurut. Kaciri nu ngantri rébuan jelema, kabéh bayuhyuh. Ditelek-telek sakabéhna muru lawang cahaya nu gumebyar caang, aya tulisan ngajeblag di luhur gerbangna. Dibaca lalaunan, “Wilujeng sumping Aliran Gagenhésbeg”.

Cikidang nggak jd Begadang

Menembus malam menjemput harapan, sebuah perjalanan yang menjadi bukti ketaatan dari tugas pekerjaan berbalut rindu terhadap keluarga yang penuh kehangatan

Photo Meeting Tim KEK / Dokpri.

Manusia berencana tetapi Allah-lah yang Maha berkehendak, menghadiri acara di Cikidang Kabupaten Sukabumi yang awalnya 2 hari ternyata harus diubah karena ada tugas lain menanti. Tanpa banyak bersensasi, segera pamit undur diri dari area Cikidang Plantation Resort yang menjadi tuan rumah pertemuan alias meeting tentang penyusunan proposal pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus di Jawa Barat khususnya dari Kabupaten Sukabumi serta 5 daerah lainnya.

Photo Club House Cikidang dari parkiran / dokpri.

Setelah adzan isya, kami bergerak meninggalkan Club House Cikidang yang berdiri megah diatas bukit penantian. Perjalanan malam membelah kabut yang begitu erat memeluk. Foglamp hampir menyerah karena tak sanggup menembus tebalnya tirai alam yang berbalut misteri. Foglamp alias lampu anti kabut, karena gara-gara satu huruf bisa bermakna lain yaitu froglamp berarti lampu katak, yang gimana itu?…..

Photo : Lampu mobil menembus kabut / dokpri.

Lampu jauh tak berkutik sehingga kami merayap turun penuh taktik, detik demi detik. Waspada menjalari dada, memanjangkan mata dan menjulurkan telinga agar semua tetap baik-baik saja.

Adrenalin merambat naik, detak jantung berdegup bulak-balik. Terasa ada ketegangan memynculkan prasangka, bersatu dengan bebasnya otak membayangkan yang tidak-tidak. Segera ditepis bayangan seram dengan logika dan setangkup doa agar hati tetap damai dan rasa kembali berbunga.

Rush hitam meliuk menuruni jalan berkelok yang licin karena rintik hujan yang tak berhenti, perlahan tapi pasti hingga mencapai jalan besar menuju arah pulang untuk bersua dengan keluarga tercintaaah. Seatbelt tetap terpasang meski duduk di jok belakang, bukan pupujieun tapi guncangan terasa semakin kencang, perlu ada pengikat sehingga kuat bersandar dalam kebersahajaan.

Photo : Toko Moci Kaswari ‘Lampion’ / dokpri.

Photo : Pilihan moci Kaswari ‘Lampion’ / dokpri.

1,5 jam berlalu dan tibalah di Kota Sukabumi. Tanpa basa basi segera menuju burung kasuari eh jalan kasuari untuk memborong moci, penganan khas daerah sini yang enak dan aneka rasa. Banyak pilihan toko disini, tapi harap maklum klo kami bapak-bapak muda belanja pasti cari yang praktis. Karena jam 21.00 wib tinggal sesaat lagi, nyaris tak bisa beli moci. Untungnya diberi toleransi dan tanpa basa basi segera masing2 membeli.

Sebelum perjalanan dilanjut lagi, demi bugarnya sang sopir sejati serta berharap menemukan Vsixty maka berlabuh sesaat di Coffee Toffee jl. Suryakencana12 Sukabumi. Tapi ternyata untuk black coffee hanya espresso dan kopi tubruk yang bisa tersaji. Akhirnya double shot espresso Toraja yang membawa pilihan.

Photo Double Shot Espresso Toraja / Dokpri.

Sang sopir larut dengan hot coffee Caffe latte serta vicol pacarnya yang bekerja di ibukota, yaa harap maklum sopir abege.

Hanya 15 menit rehat sudah cukup mengembalikan stamina dan mood untuk segera melanjutkan perjalanan. Selamat beristirahat kawan. Wassalam. (Akw).

Kepahitan yang melenakan

Perlahan menapak kepahitan dalam ketenangan. Menyentuh rongga perasa dan memahitkan kemauan serta memperjuangkan harapan.

Photo : Cold Drip + Es batu / Dokpri.

Semarak sore terus menggemuruh diiringi alunan bayu berpendar rindu di pelataran kehidupan. Dihadapan terhampar meja besar sebuah bagian pohon yang dipernis sehingga menjadi cerah cemerlang seolah berbalut kristal alam yang memantulkan kerinduan.

Membentuk pantulan rasa yang memberi refleksi nyata tentang apa yang dirasa. Sambil bercengkerama dengan semilir angin sore, sebotol kecil coffee dingin cold press dan segelas es batu menjadi padu serasi yang sukses mengisi siang menuju sore hari.

Photo : Segelas black coffee di sela meeting / dokpri.

Cita rasa coffee arabika yang berani mengoyak ujung lidah dengan ‘pahit tegas’ nya semakun mengukuhkan rasa cinta untuk menikmati kopi… just a coffee… tanpa gula. Jika dulu favorite nongkring itu adalah affogato atau cappucino, dimana sang eskrim vanilla meleleh berpadu dengan rasa kopi pekat, bergumul sesaat hingga akhirnya menyatu dalam cita rasa yang membuat waktu seakan terhenti sesaat untuk ikut menikmati rasa yang tersaji sempurna. Sesekali kopi vietnam-pun menjadi pilihan.

Photo : Kopi luwak dan tumbuk halus merk Kiwari / dokpri.

Sekarang ada perubahan karena sudah cukup lama memisahkan kopi dari gula meskipun lidah belum faham mana robusta dan mana arabica tapi tetap yakin kalau afrikana rasanya beda.. ups ngarang itu mah :).

Photo : Kopi bubuk tumbuk halus sudah ready / Dokpri.

Maksudnya kopi saja tanpa gula, tanpa susu, tanpa krimer, tanpa teman pendamping setianya. Ternyata memang semakin di dekati, semakin penasaran. Biasanya untuk menikmati kopi hitam nan praktis, cukup 2 sachet nescafe kopi hitam dengan secangkir kecil air panas. Tapi semakin mengenal si hitam manis mulai berkolaborasi dengan coffee produk asli bandung yang terkenal yaitu merk Aroma. Meskipun awalnya nebeng bin minta dari istri tercinta yang udah demen lama. Sekarang makin rajin mencoba berbagai kopi hasil dari bumi parahyangan.

Photo : Didit 238Coffee lagi bergaya depan conternya / dokpri.

Apalagi 2 even ngopi saraosna yang digeber temen-temen humas jabar di halaman gedung sate makin melebarkan rasa penasaran dan memperluas ke-kepo-an tentang si hitam ngangenin ini. Ditambah sajian coffee yang diolah versi wine oleh 238coffee dengan tagline ‘sundawine‘ menyajikan rasa ‘berani‘ yang menantang lidah untuk terus menikmati. Meskipun ada pertanyaan menggantung, “Klo bikin mabuk gimana?… khan ga bisa juga disebut mabuk syariah?”

Ntar ditulis di tulisan selanjutnya setelah nanya ustad dan ulama.

Photo : Hario Dripper V60 + Filter / dokpri.

Nah supaya lebih kukuh dalam menikmati kopi hitam ini, coba ikutan beli V60 yang terjangkau plus filternya. V60 atau visixty… kata urang sunda mah ‘pisikti‘ hihihi… kata sayah ketang. Yang bentuknya mirip cangkir tapi dibawahnya bolong. Disimpan diatas gelas, bejana atau wawadahan untuk menampung coffee siap minum.

Pas udah beli tuh pede aja, langsung pake. Cuci dulu ding. Simpen diatas gelas, pasang kertas penyaring, isi dengan kopi bubuk. Currr…. dituang air panas dari dispenser.

Daaan…. hasilnya cawérang alias hambar. Itulah namanya sotoy tanpa ilmu, tapi hikmahnya jadi tau, klo caranya salah ya hasilnya ga sesuai harapan.

Coldbrew Sunda Wine / dokpri

Setelah sadar bahwa semuanya ada ilmunya baru nonton blog tentang kopi dan baca-baca yutub… ternyata tekniknya salah.

Malu aku… malu aku.

Kesalahan pertama, kertas penyaringnya setelah disimpen di V60 musti di basahin dulu dengan air panas hingga merata. Kesalahan kedua, air panas yang dituangkan musti panasnya stabil dengan suhu tertentu. Ketiga, nuangin air panasnya pun ada teknik tersendiri. Pokona mah semua ada ilmunya.

Berhubung senjatanya baru V60 + filter didukung dispenser doang, akhirnya ngalah dech… ambil kunci motor, nggak lupa ajak anak istri dan ngloyor ke kedai kopi… ngopi yuuuk. Wassalam. (Akw).

Melarang Tapi Melakukan

Belajar menjadi ayah yang menjadi pedoman kehidupan anak-anaknya, mudah diucapkan tetapi penuh perjuangan dalam melaksanakan.

Photo : Mentari muncul di cakrawala, sebuah konsistensi yang di ciptakan Allah SWT / Dokpri.

Fragmen hidup memang senantiasa berdinamika. Bisa sederhana lurus-lurus saja atau berliku penuh tikungan bermisteri. Meski satu hal yang pasti adalah sang waktu terus melaju, menggerus jatah umur sekaligus membuat terlena sehingga hari demi hari terasa begitu cepat berlalu. Minggu bertemu minggu hingga bulan berjumpa tahun.

Tapi sebuah ‘legacy‘ bisa bertahan lama dan salah satunya yang ‘mungkin’ abadi adalah sebuah tulisan dan of course gambar photo serta video yang dikemas apik dan tersimpan rapih. Bisa dicetak menjadi sebuah buku, keping DVD video ataupun tulisan, gambar dan video yang selanjutnya diunggah dan disimpan di dunia maya baik di facebook, twitter, path atau pinterest juga instagram dan pastinya youtube serta seabreg aplikasi lainnya.

Maafkan jemari dan pikiran ini jikalau tulisan yang tersaji ini hanya berkutat dalam bahasan yang kelewat sederhana. Bukan menulis sesuatu yang mendalam atau berbuncah teori konspirasi yang sedang rajin menghiasi wall linimasa belakangan hari. Tapi satu keyakinan terpatri, bahwa sederhana itu adalah inti dari segala hal yang penuh kompleksitas kerumitan tingkat dewa.

Sebuah pilihan telah teguh dipegang sejak blog ini lahir. Tulislah apa adanya dan mencoba bertahan dalam balutan originalitas, baik tulisan ataupun gambar dan video. Jikalau ada kutipan dari sumber lain, sudah etika dan hukum alam bahwa pencantuman sumber tulisan adalah kewajiban. Juga rumus kehidupan bahwa ikuti aturan maka alam melindungi kita.

Hari ini tertarik menulis tentang hubungan ayah dan anak yang ternyata memberi hikmah tersendiri. Ceritanya… jeng jreng….

…………Siang itu cuaca begitu panas menyengat. Sehingga minuman dingin menjadi favorit, terlihat di ruang tengah 2 orang anak sedang menikmati kesegaran yang dihadirkan oleh es kelapa muda gula merah. Anak 6 tahun dan 12 tahun terlihat menyendok minuman yang tersaji dengan lahapnya.

Tetapi pestanya harus buyar karena suara sang ayah menggema, “Hey anak kecil nggak boleh minum es banyak-banyak” sambil bergerak merebut mangkok es kelapa muda yang sedang anak-anaknya nikmati. Kedua anak itu terdiam, kecewa tapi tiada daya.

Adegan selanjutnya sang ayah yang tadi begitu garang melarang, ternyata….. langsung menikmati es kelapa muda gula merah tersebut tanpa malu-malu dimana kedua anaknya memandang tanpa bisa berkata-kata. Tetapi rasa kecewa karena dilarang terlihat dari raut cemberut mereka, semakin bertambah dongkol karena sang ayah tidak konsisten dengan ucapannya, melarang tapi melakukan.

………………………………………

Itulah titik pangkal yang menarik yaitu melarang tapi melakukan alias standar ganda. Tapi yang kita bahas disini lebih ke sebuah komitmen konsistensi dari ucap dan sikap. Jangan mentang-mentang berkuasa sehingga bisa seenaknya dan semena-mena, tapi yaa kembali ke leptop… itulah kenyataannya.

Keteladanan memang mudah diucapkan, tetapi tetasa sulit dilaksanakan disaat kita dalam posisi merasa memiliki kewenangan, baik sebagai orang tua kepada anaknya atau atasan kepada bawahannya. Maka lebih sering tidak sadar dan yang menonjol adalah rasa arogan serta keteladanan terlupakan.

Padahal……… dengan keteladanan inilah pelajaran kehidupan bergulir dan menggema dalam lorong kehidupan fana, yang akan terpatri di dalam diri tertanam di dalam jiwa terutama bagi anak kita yang merupakan photo copyan atau cerminan dari tingkah polah perilaku kita.

Sebagai refleksi diri sendiri dalam belajar mendidik anak, adegan tadi memberi pelajaran berharga. Bahwa kita melarang anak berarti kitapun harus memberi contoh keteladanan bahwa kitapun tidak melanggar larangan itu meskipun secara kewenangan bisa dipaksakan.

Konsekuensinya yang menjadi poin penting adalah manakala inkonsistensi ini semakin berlarut maka mengikis rasa hormat sang anak kepada orangtuanya dan pada titik kulminasi akan menghapus sosok ayah yang harus diteladani menjadi sosok ayah yang tercampakkan dan tidak akan dihormati… audzibillahiminzalik.

Lho kok jadi nglantur beginih yah?….., ah gpp donk…….

Tulis saja apa yang terasa meski etika tentu harus tetap dijalani sempurna. Andaikan aku jadi sosok ayah tadi, tentu setelah melarang makan es kelapa gula merah tersebut lalu menyimpannya di kulkas. Daan…. kalaupun aku kepengen bingit, tahanlah sekuat tenaga hingga kedua anak sudah tidak ada di ruang makan. Ambil mangkoknya perlahan dan nikmati cepat-cepat. Insyaalloh anak-anak akan belajar ‘konsisten‘ dari sosok ayahnya.

Fragmen kehidupan terus berlanjut, menjalin rasa memintal peristiwa yang akhirnya menjadi cerminan dan kenangan. Selamat belajar menjadi ayah yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. (Akw).