Senyum Singa.

Sebuah senyum yang berbeda….

Photo : Senyum singa / source : IG wildandwilder diedit.

DAGO, akwnulis.com. Hadirnya gigi diantara keramahan wajah menjadi prasyarat sebuah senyuman tanpa tekanan. Senyum ikhlas dan seimbang terlihat dari ikuran yang pas antara tarikan ke kanan dan tarikan ke kiri, juga batas atas batas bawah.

Gigipun hadir tidak harus terlihat semua, tetapi cukup menghadirkan jajaran gigi depan yang (mungkin) menawan.

Tetapi ternyata ada juga senyuman seimbang yang beraura menegangkan. Bukannya rasa senang yang didapat tetapi dedg degan nggak karuan pas melihat senyumannya.

Deretan giginya bersih dan lengkap, tetapi terlihat seperti siap menangkap. Begitupun sorot mata yang tajam, ternyata membuat hati ini terancam.

Nggak percaya?…. Silahkan lihat photo senyuman di awal tulisan ini, monggo

Mayoritas berpendapat setelah melihat gambar tersebut di IG akwnulisdan di FB selaras dengan pikiran penulis, senyum garang yang menegangkan hehehehe.

Pertama yang senyumnya dulu, siapakah?…. Singaaa. Yup jadi melihat senyuman tidak hanya bibirnya saja, tetapi siapa yang senyumnya, karena jika dihadapan kita seekor singa tersenyum menyeringai, itu bukan maksudnya menghormati kita tapi…. bersiap untuk menyantap menu makanan lezat yang hadir dihadapannya.

Kedua dimana dulu tempat seseorang eh seseekor itu tersenyum lepas. Karena senyuman di alam bebas dengan senyuman khusus yang diberikan kepada kita, memiliki arti yang berbeda.

Terakhir yang patut kita yakini adalah, sebuah senyuman yang kita hadirkan adalah sebuah senyum yang merupakan bagian dari ibadah sesuai tuntutan hadist, tentunya diberikan dengan tulus ikhlas.

Duka ari senyuman seekor singa mah, Waalohualam bissawab, Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

Ikuti tahapan & Typica puntang.

Jangan galau kawan, seduh saja dengan perlahan.

Photo : Ujian dulu cuy / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Tahapan demi tahapan mulai bergerak menjalankan fungsinya, mengoyak mental dan membebani pikiran tanpa bisa mengelak. Itulah sebuah pengalaman yang akan dikenang kelak.

Sakit perut atau tiba-tiba pusing terkadang menjadi penanda bahwa jiwa kita sedang dalam kondisi tidak biasa, atau muncul kekhawatiran yang tidak beralasan sehingga sulit mengkonsentrasikan akal dan pikiran. Itulah sebuah tahapan meraih asa yang lebih mapan.

Padahal jikalau merunut ke masa silam, suasana ekstrim penuh pendadakan memang tidak mengenakkan, tetapi sekaligus menjadi hiburan.. jadi kenapa mesti galau kawan?…

Jalani saja fragmen permainan kehidupan kali ini, nikmati tiap tahap permainannya… insyaalloh akhirnya kelar juga dan terbebas dari beban pikiran.

Tapi….. ternyata kegalauan masih setia menguntit raga menggelitiki jiwa yang sudah terforsir mengikuti ritme percepatan permainan tingkat tinggi ini, ada rasa lelah mendera dan menggerogoti kemapanan rasa, tapi itulah indahnya menjalani suasana berbeda.

Photo : Persiapan Ngopay / dokpri.

Kegalauan masih me-nangkod (menggelayut) di samping kanan raga dan itu harus segera diobati dengan cara seksama dan waktu yang sesingkat-singkatnya. Tanpa basa basi peralatan anti galau digelar…. jeng jreeeeng.

Filter V60, corong V60, gelas ukur, server, grinder, sendok plastik, timbangan, termometer daaaan……. beannya adalah Sunda Typica Puntang Coffee.

Grinder kasar langsung mengharumkan suasana, 40gr beannya berubah menjadi bubuk kasar siap seduh. Proses brewing dipercepat dengan tetap panas airnya 90 derajat, diharapkan mendapatkan hasil yang tepat.

Currrr…. keclak.. keclaak.. keclak... wah baru ikutin tahapan proses aja udah mulai tenang nih perasaan. Alhamdulillah.

Setelah cairan hitam penenang rasa hadir di server kaca, tak pake lama langsung tuang di gelas kaca dan sruput panas – panas itu sensasinya ruaaar biasa.

Photo : Sruput guys / dokpri

Galau sirna berganti bahagia, rasa kopinya yang medium baik body juga acidity tetep bikin hepi. Sedikit ada acidity yang ninggal di bawah lidah dilengkapi after taste fruitty, tamarind dan citrun meskipun selarik tapi menarik.

Tahapan permainan sesaat terlupakan, berganti kenikmatan menyeruput si kopi hitam. Biarkan esok masih ada tantangan untuk meyakinkan pihak yang berkepentingan, tapi minimal hari ini semuanya bisa dengan lancar dilewatkan.

Selamat ngopay kawan, galau akhirnya musnah, berganti menikmati sajian yang bikin hati cerah dan pantang susah…. Terserah. Wassalam (AKW).

Deadline

Mari kita jalani…

Photo : Deadline / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Detik dan menit seakan berlomba beradu kecepatan, membawa suasana yang tenang menjadi sedikit tegang. Seiring gerakan waktu berlalu, sejalan dengan detak jantung yang berdetak tidak menentu.

Segala upaya dikerahkan dalam perlombaan abadi ini, meskipun mungkin ritmenya yang tak selalu memaksa berlari. Sesekali bisa menghela nafas tapi sisanya adalah pendakian perasaan yang menyesakkan penuh dengan perjuangan.

Memang ini situasi tidak bisa, tetapi ingatlah bahwa kehidupan ini tidak selamanya biasa. Ada saatnya bergerak cepat meraih asa dan ada waktunya sedikit melambat dan mengambil posisi santuy… semua ada saatnya.

Sekarang menit dan detik begitu aktif menggelitiki nasib, memberi senyuman monyong sedikit supaya tidak terlalu tertekan dengan keadaan. Lumayan menguras rasa dan membebani badan tambun yang bersahaja.

Tapi ingat kawan, ini semua bukan beban, tapi tantangan untuk kita bisa berkarya lebih terdepan. Biarkan menit dan detik berkejaran dalam batas waktu berbingkai batasan, karena sebenarnya adalah bagaimana kita menyikapinya, menghadapinya, mensyukurinya dan tentu menjalaninya….. ikuti saja permainannya dan ikhlas menjalani tahapan yang mengharu biru.

Eh ternyata sang menit dan detik terus berpacu menuju batasan awal kenyataan, mau tidak mau mari ikuti ritmenya, gerakan tangan dan kakimu sehingga melarut dengan nada dasar kehidupan.

Jangan khawatir dengan batasan, karena setelah tiba pada batas yang ditentukan, sejatinya kita bersiap dengan tarian detik dan menit untuk tahapan harapan selanjutnya. Selamat berpacu kawan, Wassalam (AKW).

Rindu bersandar.

Mencari sandaran & pegangan….

Photo : Lagi mikir / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sejumput rindu bersandar dan bersenandung di bahu, memberikan kedamaian meskipun nirharapan. Itulah salah satu fragmen kehidupan.

Mengapa kamu perlu bersandar di bahu seseorang sebelum bersenandung?, padahal bahumupun lebar tak kurang suatu apapun

Sebuah tanya yang dijawab dengan senyuman, dilengkapi dua kedip mata kanan yang bisa menyelesaikan semua permasalahan.

Bukan bahunya sebetulnya yang diperlukan, tetapi sebuah simbol kerapuhan yang harus dipertontonkan sehingga pilihan terakhir adalah bersandar pada bahu seseorang, yang ternyata sebenarnya lebih rapuh dari yang bersandàr.

Yang bikin keren adalah, keduanya tidak menyadari itu. Sehingga dapat ditarik garis merah persoalan bahwa kerapuhan bisa disandari kerapuhan yang lain asalkan masing-masing tidak paham dengan kenyataan.

Jadi sebuah istilah ‘Ketidaktahuan adalah berkah’ memang sedang berjalan disini.

Kesimpulan lainnya adalah, manakala sebuah kerapuhan bersua dengan kerapuhan lain maka mungkin saja terjadi simbiosis mutualisme yang berakhir dengan semangat saling menguatkan dan berusaha bangkit kembali dalam keterpurukan ini…. ataau saling merapuhkan dan akhirnya luruh menjadi puing-puing ketiadaan.

Photo : Awas jatuh, ayo pegangan / dokpri.

Itulah kehidupan, banyak makna yang mendalam dari seluruh kejadian. Semua kejadian dan kenyataan tidak ada yang terjadi begitu saja, tetapi skenarios super rumit tersebut sudah disiapkan jauh jauh hari oleh Allah Sang Maha Pencipta langit dan bumi beserta isinya.

Mari berjuang bersama dan memberi sandaran kepada yang sedang merana, meskipun kita sebenarnya sedang butuh sandaran juga.

Selamat weekend kawan, jangan lupa memberi sesaat kesempatan untuk seseorang yang perlu sandaran, meskipun sebenarnya kitapun perlu dukungan. Dengan begitu semoga jiwa kita tetap tegar dan fokus dengan segala beban dan tantangan. Wassalam (AKW).

Air mata

Hapuslah dengan senyuman…

BANDUNG, akwnulis.com. Uraian kalimat yang disampaikan begitu panjang dan tanpa jeda, meskipun dari sisi nada terkadang melemah menahan duka dan beban yang dirasa.

Akhirnya ada juga masa dimana kalimat dan kata terhenti karena mulut tercekat oleh perasaan dan menahan diri agar air mata tidak tumpah di hadapan khalayak warga.

Jikalau hanya berdua, mungkin lelehan airmata adalah salah satu cara membersihkan penglihatan dan mengurangi beban stok air mata yang tersimpan diantara kulit dan tulang kenyataan. Tetapi dihadapan banyak orang, air mata tertumpah malah menghadirkan ketidakberdayaan dan bukan dukungan yang datang tetapi tatapan sinis dan dianggap lemah mental…. mungkinn…

Bisa saja ada satu dua pihak yang merengkuh luruh untuk membantu saudaranya yang sedang jatuh. Membantu kembali berdiri tegak dengan sokongan ikhlas yang penuh pengertian.

Sebuah kata yang menjadi utama adalah sikap kita menghadapi dilema. Tahanlah airmata tertumpah dihadapan banyak manusia, simpan untuk nanti dikala bersimpuh di malam hari, sambil bernunajat kepada Robbul Izzati.

Kesedihan bukan akhir dari segalanya, karena kesedihan adalah pelengkap dari kebahagiaan yang setia mendampinginya. Berbahagialah kita yang masih bisa merasakan sedih, karena dengan merasakan sedih kita akan tahu betapa bahagianya merasakan bahagia.

Seiring uraian kata selanjutnya, ketegaran mulai terasa. Menampilkan secercah harapan diantara puing asa yang tertunda. Biarkan kesedihan itu ada, tetapi semangat bangkit kembali adalah yang paling utama.

Sebuah pantun semoga bisa mewakili keadaannya :

Berhimpun di meja menyantap ikan,
Langsung berkeringat berebut suapan’

‘Biarpun kenyataan masih menyedihkan,
Tapi semua tetap semangat untuk perbaikan’

Selamat beraktifitas di jumat sore ini kawan, Wassalam (AKW).

TEU PIRA – fbs.

Mung jejedudan wungkul, tapi…

Photo : Sketsa menahan sakit / dokrpi.

Fikmin # TEU PIRA #

*)Sebuah tulisan fiksi berbahasa sunda, terinspirasi dari rasa sakit yang begitu menyiksa.

TEU PIRA (TIDAK SEBERAPA)

Teu pira da ngan saukur, tapi geuning geus karasa nyayautan mah teu bisa ditulung batur.

Teu pira kabeuki tèh ngaheumheum sangu, karasa amis disela huntu. Unggal poè nu aya di pawon ukur sangu jeung uyah beuleum. Teu ngarasula nampi kana qodarna, sawarèh di dahar sèsana dibaheum.

Teu pira tadi beurang aya kurubuk dina beuteung, pas inget boga kèrèwèd pamèrè juragan lebè. Buru-buru dibersihan, diteukteukan laleutik, digalokeun jeung cèngèk ogè sèsa uyah beuleum.

Teu pira dikosrang kosrèng nyieun sangu gorèng, seungit kacida matak bangir irung pèsèk. Pinikmateun geus aya dina tikoro, dahar ngeunah lain kokoro.

Teu pira, karèk gè tilu huap. Aya gajih kèrèwèd asup kana liang huntu nu geus lila mèlènģè. Jeduddd…… aduuuuh anjrit, baham calangap, panon cirambay.

Teu pira ukur nyeri huntu, tapi geuning bisa ngeureunkeun waktu, ngahuleng jiga bueuk dibabuk batu, geus teu kapikir deui nyatu, nu penting mah geura cageur teu judad jedud kawas gunung bitu. (AKW).

***

IKUTAN

Ya sudahlah….

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah aplikasi yang pernah booming dua tahun lalu, sekarang hadir kembali diantarkan oleh kegabutan banyak orang karena terkekang sangkar pandemi.

Padahal aplikasi ini 4 bulan lalu hampir hilang dari peredaran atau malah sudah tidak dipakai lagi , tetapi ternyata takdirnya berbeda kawan….. karena memiliki tema hiburan lintas usia dan keyakinan maka cukup membantu mengurangi kebosanan banyak orang dan meng-eksis-kan individu dalam ranah dunia media sosial yang mengharu biru.

Jadi, bukan ikut-ikutan ini mah, tetapi tepatnya IKUTAN, titik. (AKW).

Hujan di Malam lara.

Malam temaram berpadu hujan.

Photo : Temaram di Belakang / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Malam ini terasa temaram ditemani gemericik air hujan yang bercengkerama dengan dedaunan. Sebuah rasa melesat ke angkasa dan memandang alam sekitar tidak sehinggar bingar dan terang benderang seperti biasanya.

Sebuah rasa khawatir menyeruak di dada, “Apa yang sebenarnya terjadi kawan?”

Benarkah alam dunia sedang menyembuhkan dirinya dan mengingatkan kepada manusia bahwa kita semua hanya menumpang sementara saja sehingga tidak boleh semena-mena terhadap dunia?

Sebongkah tanya hadirkan beraneka penasaran dan memaksa kumpulkan cerita dan informasi yang bertebaran di jagad maya. Hasilnya ternyata luar biasa membingungkan, mana yang hoak mana yang kabar burung berkelindan dengan teori kontipasi yang berujung pada kengerian dan kebingungan. Medsos dan jagad maya menyajikan limpahruahan informasi yang mungkin nirfaedah…. ahh pusiiing.

Lebih baik sementara kembali dari langit menjejak bumi, menikmati gemericik hujan yang bercumbu dengan dedaunan. Memberikan harum tanah yang tak bisa dilukiskan. Biarkan rasa syukur melingkupi jiwa dan menyadarkan raga, karena ternyata nikmat bisa tetap menjalani kehidupan seringnya terabaikan sehingga kita lupa kepada sang Maha Punya… Allah Taala.

Sepakat tidak sepakat, ini bukan lagi wacana tetapi sudah nyata di hadapan mata. Jadi mari nikmati dan syukuri apa yang ada dan jangan lupa berbagi dengan saudara kita diluar sana yang mungkin tidak seberuntung kita. Semangaaat, Wassalam (AKW).

Rindu Bapak Ibu.

Sebuah coretan rindu yang tertahan ‘sesuatu’.

Photo : Kopi Kerinduan / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sejumput haru bersembunyi diujung dada kesendirian, sebait harap tetap dipegang meskipun kenyataan belum sesuai harapan.

Hari lebaran yang emosional, harus menahan rindu untuk tidak bisa wajah, raga dan jiwa bertemu langsung dengan kedua orangtuaku…..m yang sebenarnya jikalau hanya bicara jarak, sangat mudah untuk ditemui.

Bersimpuh di kaki mereka, memohon doa keberkahan dan keselamatan dunia akherat di momen hari suci pasca dilatih selama 30 hari di bulan ramadhan 1441 hijriah.

Memeluk ibu bapak dengan penuh kehangatan dan ketulusan, dimana karena merekalah, karena pengorbanan, pola pendidikan, motivasi dan keikhlasan kepada anaknya hingga segalanya dilakukan demi cita-cita hakiki yaitu agar anak cucunya kelak bahagia di kehidupan masa depannya.

Mendengarkan cerita dari ibu dan bapak, betapa kenakalanku di masa lalu adalah rangkaian kebahagiaan yang mengharu biru, tiada umpatan kasar atau bentakan, tetapi peringatan halus yang memberi ketenangan.

Berpose terbaik setahun sekali dengan senyuman dan tawa yang tak pernah habisnya lalu memposting di media sosial agar tahu bahwa dunia ikut bahagia melihat kita ceria, itu dulu karena sekarang harus menahan diri terlebih dahulu.

Maafkan anakmu ibu bapak, pandemi ini membatasi hadirnya raga tetapi jiwa dan asa tetap tidak bisa dihalangi untuk senantiasa menyayangimu sepanjang hayat ini.

Ketidakhadiran kami di kampung halaman adalah bukti kasih sayang kami untuk menjaga kebersamaan ini memiliki kesempatan lebih lama lagi.

Ah sedih….. tapi inilah pengorbanan. Jikalau tenaga kesehatan berjibaku di medan pertempuran menyelamatkan nyawa manusia yang sedang melawan ganasnya covid-19, maka kami disini berkorban untuk menghentikan penyebaran pandemi ini dengan menahan diri, mengendalikan rindu sekaligus menata rasa agar tidak memposting photo ceria bersama keluarga di media sosial kita.

Karena….. mungkin banyak yang berduka atau malah merasa pengorbanan ini menjadi sia-sia akibat terjebak oleh sebuah kultur budaya yang sebetulnya bisa kita tahan sementara.

Ah sudahlah, jangan berfikir pengorbanan rasa ini sia-sia, ikhlaslah menata asa, karena hanya Allah SWT yang tahu pengorbanan kita, semoga menjadi pahala yang menyelamatkan kita di dunia dan alam akherat nantinya.

Tetap jaga silaturahmi dengan memanfaatkan teknologi tanpa harus pergi-pergi di masa pandemi ini.

Secangkir eh setengah cangkir kopi coldbrew cukup mengerti kegundahan ini, ditemani semerbak bunga sedap malam yang mekar mewangikan kesepian malam ini. Tanpa banyak basa basi merelakan diri disruput gelas pergelas hingga sebotol 250 ml tandas tuntas tanpa ampas dan keharuman bunga seolah tiada batas.

Banyak sekali yang ingin dituliskan untuk mewakili kegundahan ini, tapi biarlah sisanya tersimpan di sanubari dan catatan hakiki milik alam semesta ini.

Bapak dan ibu, maafkan kami.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

Jiwa semoga kembali suci dan bersiap melanjutkan hari, menjaga ibadah seperti sebelum idul fitri, serta tidak lupa kembali menulis tentang hari ini dan cerita kopi.

Semoga pengorbanan ini menjadi berkah, dan sembuhkan gundah menjadi masa depan yang indah. Wassalam (AKW).