KOPI JAPATI

Kembali menikmati KOPI (bersama) merpati.

Photo : Gunung Burangrang tertutup awan / dokpri.

PASIRHALANG, akwnulis.com. Semilir angin dari kaki gunung Burangrang memberikan kesegaran dan kedamaian. Setelah 4 purnama tidak pernah lagi nongkrong di meja sebuah cafe alam, maka hari ini pecah telor. Meskipun masih dihinggapi kekhawatiran terhadap pandemi covid19, tetapi dengan menghindari kerumunan maka kemungkinan tertular sangat kecil. Lagian di cafe ini nggak pernah kongkow dengan orang lain. Cukup bercanda dengan desau angin pegunungan dan sesekali tertawa berderai melihat aksi kumbang berebut putik bunga yang mulai mekar.

Sebelum pandemi tiba, tempat ini menjadi favorit untuk menghabiskan waktu dalam kesendirian ditemani botol server berisi sajian kopi v60 dan cangkir kecil untuk menyruputnya…. yummmy.

Beberapa tulisan terdahulu tentang cafe ini bisa dilihat di tulisan NGOPAY DI MELOH CAFE dan tulisan KOPI CIKURAI PENGOBAT LARA.

Tapi itu dulu, sekarang suasananya telah berbeda. Dunia berubah dengan cepat dan menjungkirbalikkan fakta seiring wabah pandemi yang belum ada vaksin penawarnya. Kalaupun ada produsen obat yang sudah mampu menghasilkan obat anti covid19 di amrik sana, ternyata langsung di borong Om Trump dengan semangat arogansi adidayanya.

Photo : Sajian manual brew V60 Arabica Ciwidey / dokpri.

Sudahlah, sekarang lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta sembari ihtiar usaha semaksimal mungkin dengan mengikuti protokol kesehatan pencegahan covid19 yang sudah jelas petunjuk – petunjuknya. Yakinlah bahwa bahaya Covid19 ini masih gentayangan di sekitar kita, apalagi dengan status OTG yang bisa mengecoh kita.

Tetap gunakan masker dan lakukan phisical distancing, sering mencuci tangan, gunakan hand sanitizer dan bawa semprotan anti bakteri dan virus (serasa isi TRK… aplikasi kinerja harian yach di kolom tugas covid19 hehehehe)… jika masih khawatir juga dengan berkas-berkas dan orang yang ada, maka lengkapi dengan face shield dan sarung tangan plastik.

Back to laptop…

Kali ini menikmati sajian kopi hitam tanpa gula hasil manual brew dengan V60 terasa begitu emosional, inilah ngopay perdana di masa pandemi corona… meskipun berbatas waktu tetapi cukup memberikan suasana berbeda dan menuntaskan rindu. Sajian kopi arabica ciwidey menemani kenikmatan siang ini.

Acidity medium dan body menengah dilengkapi aftertaste rasa berry dan citrun serta sekilas rasa cocoa dan dibalut rasa keasaman alami ciri khas kopi bandung selatan.

Photo : Minum kopi bersama Japati – merpati / dokpri.

Kejutan lainnya adalah teman ngopinyapun spesial, yaitu merpati atau japati. Entah lapar atau memang merpati nggak pernah ingkar janji, maka dikala raga ini sedang sendiri, datanglah seekor merpati menemani. Clingak clinguk dan memberi sedikit kerling serta senyumannya kepadaku, kubalas dengan menyorongkan kamera agar dapat mengabadikan momen berharga ini, NGOPI JAPATI. Minum kopi sambil ditemani seekor merpati yang tiba-tiba hadir tanpa basa basi.

Itulah sekelumit aktifitas ngopay diluar rumah yang tuntas dihadiri meskipun bukan kumpul-kumpul, tetapi hanya menyendiri di meja panjang pualam sambil merenungi perjalanan kehidupan yang begitu beraham dan sarat hikmah pengalaman.

Semilir angin gunung Burangrang kembali mengingatkan untuk segera beranjak pergi karena tugas pribadi sudah menanti, Wassalam (AKW).

***

Cerita Mantan OB (Open Bidding).

9 cerita dan satu makna : menulislah.

BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan mengikuti turbulensi telah berakhir seiring dengan tuntasnya shelter seleksi terbuka jabatan pimpinan tinggi pratama (JPTP). Sebuah momen singkat yang menghasilkan aneka pengalaman, beragam cerita, rasa suka dan duka hingga ketegangan yang datang tanpa diduga.

Hasil akhir adalah yang terbaik dan qodar dari Allah SWT, sebagai salah mahluk tuhan di bumi maka salah satu tugas kita adalah ikhtiar dan mengambil hikmah dari seluruh rangkaian perjalanan kehidupan ini.

Gambar awal blog ini adalah momen shalat jumat dengan adaptasi kebiasaan baru di antara proses Seleksi Terbuka JPTP yang telah berlalu.

Dalam tulisan ini, hanya ingin berbagi tentang sejumput kata yang dirangkum menjadi beberapa cerita, di permanis sajian photo sederhana tapi nyata yang terjadi selama proses seleksi terbuka.

1. Deadline, sebuah judul yang menceritakan pemberkasan administrasi, yang mau baca klik saja DEADLINE.

2. Proses Uji assesment menghasilkan tulisan IKUTI TAHAPAN & TYPICA PUNTANG.

3. Muncul juga semangat berkompetisi tetapi tetap tersenyum, diwakili oleh tulisan SENYUM SINGA.

4. Saking tegangnya jadi laper melulu… maka diwakili oleh coretan MAKANAN & TULISAN.

5. Tidak lupa mencoba menenangkan diri di area uji kompetensi yang tercermin dari tulisan TURBULENSI KOPI.

6. Ujian dilanjut dengan pembuatan makalah dan wawancara, yang diwakili dengan tulisan DOUWE EGBERT & GULA CAIR.

7. Masih sesi Ujian, hasilkan juga tulisan KOPI AKB.

8. Setelah lolos 3 besar, memasuki sesi wawancara dengan Tim Penguji Profesional hingga wawancara langsung dengan Gubernur, ternyata belum sempet menulis karena ketegangan meningkat. Diwakili saja dengan meme TEH PAKUAN seperti gambar dibawah ini.

9. Sesi akhir adalah Tes Kesehatan yang lengkap dan menghasilkan cerita KOHITALA PRAMITA.

10. Ditutup oleh tulisan singkat fiksi berbahasa sunda yaitu CEK LAB – fbs.

Alhamdulillah, ternyata lumayan juga, terdapat 9 tulisan yang mewakili perjalanan singkat menikmati eh menjalani turbulensi dan akhirnya kembali normal.. eh new normal… eh AKB… ya begitulah.

Selamat menikmati dan menjalani hari-hari penuh adaptasi. Satu catatan penting, keberanian iseng-iseng menulis ini yang menjadi poin penting dalam mengikuti seleksi terbuka JPTP ini, meskipun hasil akhir adalah sebuah takdir.

Selamat kepada akang teteh (soalnya diriku peserta seleksi termuda) yang telah mengemban amanah jabatan JPTP untuk sukseskan JABAR JUARA. Wassalam (AKW).

Kohitala Pramita.

Ngopay dulu…

Photo : Sajian Kopi Double di Lab Pramita / Dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan rasa menikmati sajian kohitala memang belum bisa bersua dengan sajian manual brew yang cuoocok gitcu…. maksudnya minimal diseduh manual pake v60. Klo dirumah sih sudah rutin tetapi diluar rumah masih mikir-mikir, nggak berani nongkrong sembarangan.

Ada salah satu tempat ngopi yang sebenernya seduhan manualnya recomended, tapi pas moo mampir, semua pegawainya nggak pake masker trus tamu-tamu ngariung di satu meja seolah pandemi corona sudah tidak ada… ill feel deh. Nggak jadi mampir ah, biar ntar nyeduh sepuasnya di rumah.

Nah kali ini mau cerita singkat tentang kopi tanpa gula yang disajikan menggunakan coffee maker bermerk GETRA. Pilihannya terbatas, hanya single dan double aja yang ditandai dengan logo 1 cangkir dan 2 cangkir. Trus diatas mesin kopinya ada petunjuk penggunaan, tinggal baca, resapi dan hafalkan…. siapa tahu besok lusa jadi soal ujian hehehehehe.

Jadi setelah membaca petunjuknya dengan seksama, pasang cangkir putih ditempat yang sudah disediakan… pijit tombol bergambar 2 cangkir….. greeeeeeezzzz… mesin bekerja menggrinder biji kopi dan memproses dengan air panas yang ada hingga akhirnya keluar memenuhi cangkir putih, dan 2x terjadi… itu yang dimaksud tombol 2 cangkir.

Masalah rasa jelas pahit tanpa pemanis, tapi pahit itu hanya di lidah lho, kalau di otak dan perasaan tergantung persepsi. Bisa jadi manis karena memang sudah manis dari sanahnya, atau semakin meningkat rasa pahitnya karena ternyata kenyataan yang ada berbeda dengan harapan dan keinginan… apalagi yang terbelit beban masa lalu…dan menghadapi kenyataan bahwa dirinya sudah bersama yang lain…. halah kok kesinih ceritanya.

Photo : Mesin Kopi GETRA / dokpri.

Pastinya setelah masuk ke perut mah sama aja. Nah begitupun dengan kopi ini. Dari sisi kualitas rasa mah biasa saja, tapi lumayan bisa memenuhi dahaga kohitala meskipun tidak tahu ini bean yang diprosesnya apa…… mencoba menikmati dan bersyukur saja.

Oh iya, bertemu dengan mesin kopi ini di Lab Pramita lantai dua yang di Jalan Martadinata. Setelah mengikuti rangkaian tes kesehatan yang beraneka rupa lalu sarapan nasi dus sambil bercengkerama dan akhirnya ditutup dengan sajian kohitala dari mesin kopi merk Getra.

Itulah sebuah cerita tentang menikmati kohitala, semoga esok lusa bisa bersua dengan sajian kohitala yang menggunakan manual dan alat-alat semestinya. Wassalam (AKW).

Kopi AKB

Menikmati Kopipun perlu adaptasi…

Photo : Menikmati Kopi AKB / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pandemi covid-19 masih menghantui dan era baru harus dijalani. Istilah yang digunakan adalah adaptasi kebiasaan baru atau AKB.

Nah, terkait aktifitas ngopi eh minum kohitala (kopi hitam tanpa gula) yang biasanya dilakukan berkeliling ke cafe dan kedai kopi…. ahaay berkeliling gitcu… sekarang tidak bisa lagi, harus menahan diri demi terhindar dari si covid19 yang senantiasa mengintai.

Nah, dikala tugas bejibun dan laptop menyala maka kehadiran sajian kopi sangat dirindukan… aslinyah… sakaw kopi hihihihi…. tak ada kongkow tak ada ngopay… sedih rasanya… tapi itulah pengorbanan yang ada.

Begitupun kali ini, sajian kopi disamping laptop terpaksa ditemani sebotol kecil hand sanitizer… bukan untuk bahan campuran kopi tapi untuk jaga-jaga kebersihan jari jemari dan akhirnya untuk menenangkan hati.

Photo : Sajian Kopi AKB / dokpri.

Kopi disruput dengan perlahan tapi pasti, laptop mulai diraba-raba dan akhirnya ditekan-tekanlah keyboardnya dengan sebelas jari. Maka berderetlah angka dan hurup menjadi kata serta kalimat yang mewakili suara hati tentang membangun janji dalam balutan optimisme diri.

Setelah semua tuntas, file di laptop di save di google drive dan kopi di cangkir sudah tandas tanpa bekas. Maka semprotan hand sanitizer adalah penutup agar jari jemari kembali bersih dan terlindungi. Itulah salah satu protap ngopi AKB yang musti dijalani. Wassalam (AKW).

Douwe Egbert & Gula Cair.

Ikutan dan nikmati tapi hati-hati.

Photo : Bersiap ujian / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Keseriusan dalam mengisi ujian dan keriuhan di kepala masing-masing peserta meramaikan jagad kompetisi sehat kali ini. Semua berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya plus adaptasi dengan peralatan yang disediakan panicia…. eh panitia.

Tata tertibnya membuat kangen pergi ke bandara kawan, karena semua peralatan elektronik dan peralatan penyimpanan eksternal harus ditanggalkan termasuk jam tangan canggih yang selalu terkoneksi dengan smartphone kita. Untung aja daleman nggak disuruh dicopot juga hehehehe.

Samrtphone, flashdisk, jam tangan, tablet atau tab, laptop apalagi PC harus dititip di panitia. Praktis hanya bawa otak, otot dan kumpulan perasaan yang tidak karuan. Apalagi digunakan metal detektor, serasa mau naik pesawat dan pergi terbang ke suatu tempat…. ah kangen yach, semoga pandemi covid-19 ini segera berakhir.

Allohumma inni Audzubuka Minal Baroosi Waljunuuni Walzuzami Wassayyidil Askoom

Photo : Espresso dari DE / dokpri.

Proses ujiannya menjadi menantang, karena konsentrasi menjadi super penting, fokus terhadap satu hal, suara arahan panitia dan apa yang ditampilkan di layar di depan peserta. Lalu laptop yang disediakan panitia sudah standby bersiap menjadi tempat penuangan ide gagasan dan mimpi yang akan diwujudkan dalam kerangka wewenang jabatan.

Cemunguut kakak….

Disinilah raga dan jiwa ini bersua dengan mesin kopi Douwe Egbert pada saat jam istirahat. Mesin kopi yang terlihat tangguh dan gagah dengan pilihan sajian lengkap meskipun tidak semuanya akan dinikmati…. kembung atuh kalau semua di coba mah.

Photo : Douwe Egbert coffee machine / dokpri.

Pastinya espresso dan americano yang dipijit berulang kali, capucinno dan latte hanya coba sesekali, agak takut soalnya ada susu….. suka pengen terus kalau ada susu… gemes soalnya :).

Jadi lengkap sudah, tantangan dan fasilitas yang mumpuni, memberi kesempatan terbuka untuk meng-eksplore diri. Hadirkan kemampuan dan kebisaan secara elegan hingga akhirnya diukur oleh deretan angka yang singkat namun penuh makna.

Catatan penting : harus hati-hati dikala akan menikmati sajian kopi dan masih membutuhkan manisnya gula. Bukan apa-apa, selain gula putih dalan bentuk sachet terdapat juga gula cair….. upss…. ternyata bukaaannnn gula cair, itu adalah hand sanitizer… sebuah bentuk adaptasi kebiasaan baru d masa pandemi corona ini.

Tapiiii….. karena posisinya deket mesin kopi, ini bisa salah menuangkan… meskipuuun…… eh tapi jadi penasaran, gimana rasanya kopi espresso ditambah gula cair hand sanitizer hehehehehe.

Selamat berkarya di jumat ceria. Wassalam (AKW).

Turbulensi Kopi.

Biarkan turun naik & naik turun yang penting sruput dulu.

Photo : Ngopay & Ngojay di Intercontinental / dokpri.

DAGO, akwnulis.com. Semilir angin pagi menyambut raga yang galau karena didera dengan bertubi tekanan luar dalam. Tahapan perjalanan rollercoaster mengemuka dalam minggu-minggu ini.

Siapa suruh keluar zona nyaman, dan tertarik dengan tantangan”

Sebuah pendapat terngiang ringan di telinga kanan, seakan menegaskan bahwa turbulensi rasa dan angin puting beliung kenyataan ini memberi berjuta makna.

Hidup itu tidak selamanya datar kawan, adakalanya menanjak dengan drastis lalu terjerembab karena tidak pas dikala memilih pijakan. Adapula yang sudah berulangkali terjerembab dan kembali bangkit untuk meraih cita-cita yang penuh tanda tanya.

Jadi, dikala diharuskan lakukan sesuatu dalam waktu yang terbatas, maka tidak banyak galau, tetapi segera bergerak. Ikuti ritmenya dan nikmati alunan ketidakrutinannya sehingga akhirnya terasa melodi turbulensi bisa membuat senyum dikala ramai dan terbahak manakala sepi.

Memang pasti ada jetlag karena sudah sangat jarang melakukan pendadakan, tapi ibarat bersepeda meskipun sudah lama jarang menaikinya, masih bisa menjalaninya… menikmati meskipun sedikit oleng ke kanan dan ke kiri.

Sebagai pelengkap menapaki turbulensi hati maka perlu ada penyeimbang yang mengembalikan kekisruhan otak dan nurani agar kembali damai seperti hari-hari yang telah terlewati.

Caranya sederhana, ingat tagline awal corat coretku ini yaitu ‘ngopay dan ngojay‘…. aktifitas yang berbeda tetapi ada kemiripan tulisan dan pelafalan….. yang artinya ‘minum kopi dan berenang’…..

Jadi dikala kesempatan itu datang, ambil secepat kilat dan biarkan suasana turbulensi musnah berganti kesegaran raga dan hilangkan dahaga. “Nggak percaya?… monggo di coba“.

Photo : Infinity pool at Intercontinental Hotel Dago Pakar / dokpri.

Sruput secangkir kopi double espresso sambil menikmati keindahan infinity pool yang dikelilingi kehijauan alami, memberikan ketenangan yang hakiki. Melepaskan dari kegalauan, dan mengembalikan percaya diri bahwa perjalanan ini memang betul terjadi.

Selamat bertasbih dengan untaian hari, jalani ketidakpastian dengan sepenuh arti dan biarkan semesta yang memetakan arah takdir hingga pada saatnya tentu akan hadir. Wassalam (AKW).

Ikuti tahapan & Typica puntang.

Jangan galau kawan, seduh saja dengan perlahan.

Photo : Ujian dulu cuy / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Tahapan demi tahapan mulai bergerak menjalankan fungsinya, mengoyak mental dan membebani pikiran tanpa bisa mengelak. Itulah sebuah pengalaman yang akan dikenang kelak.

Sakit perut atau tiba-tiba pusing terkadang menjadi penanda bahwa jiwa kita sedang dalam kondisi tidak biasa, atau muncul kekhawatiran yang tidak beralasan sehingga sulit mengkonsentrasikan akal dan pikiran. Itulah sebuah tahapan meraih asa yang lebih mapan.

Padahal jikalau merunut ke masa silam, suasana ekstrim penuh pendadakan memang tidak mengenakkan, tetapi sekaligus menjadi hiburan.. jadi kenapa mesti galau kawan?…

Jalani saja fragmen permainan kehidupan kali ini, nikmati tiap tahap permainannya… insyaalloh akhirnya kelar juga dan terbebas dari beban pikiran.

Tapi….. ternyata kegalauan masih setia menguntit raga menggelitiki jiwa yang sudah terforsir mengikuti ritme percepatan permainan tingkat tinggi ini, ada rasa lelah mendera dan menggerogoti kemapanan rasa, tapi itulah indahnya menjalani suasana berbeda.

Photo : Persiapan Ngopay / dokpri.

Kegalauan masih me-nangkod (menggelayut) di samping kanan raga dan itu harus segera diobati dengan cara seksama dan waktu yang sesingkat-singkatnya. Tanpa basa basi peralatan anti galau digelar…. jeng jreeeeng.

Filter V60, corong V60, gelas ukur, server, grinder, sendok plastik, timbangan, termometer daaaan……. beannya adalah Sunda Typica Puntang Coffee.

Grinder kasar langsung mengharumkan suasana, 40gr beannya berubah menjadi bubuk kasar siap seduh. Proses brewing dipercepat dengan tetap panas airnya 90 derajat, diharapkan mendapatkan hasil yang tepat.

Currrr…. keclak.. keclaak.. keclak... wah baru ikutin tahapan proses aja udah mulai tenang nih perasaan. Alhamdulillah.

Setelah cairan hitam penenang rasa hadir di server kaca, tak pake lama langsung tuang di gelas kaca dan sruput panas – panas itu sensasinya ruaaar biasa.

Photo : Sruput guys / dokpri

Galau sirna berganti bahagia, rasa kopinya yang medium baik body juga acidity tetep bikin hepi. Sedikit ada acidity yang ninggal di bawah lidah dilengkapi after taste fruitty, tamarind dan citrun meskipun selarik tapi menarik.

Tahapan permainan sesaat terlupakan, berganti kenikmatan menyeruput si kopi hitam. Biarkan esok masih ada tantangan untuk meyakinkan pihak yang berkepentingan, tapi minimal hari ini semuanya bisa dengan lancar dilewatkan.

Selamat ngopay kawan, galau akhirnya musnah, berganti menikmati sajian yang bikin hati cerah dan pantang susah…. Terserah. Wassalam (AKW).

Rindu bersandar.

Mencari sandaran & pegangan….

Photo : Lagi mikir / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sejumput rindu bersandar dan bersenandung di bahu, memberikan kedamaian meskipun nirharapan. Itulah salah satu fragmen kehidupan.

Mengapa kamu perlu bersandar di bahu seseorang sebelum bersenandung?, padahal bahumupun lebar tak kurang suatu apapun

Sebuah tanya yang dijawab dengan senyuman, dilengkapi dua kedip mata kanan yang bisa menyelesaikan semua permasalahan.

Bukan bahunya sebetulnya yang diperlukan, tetapi sebuah simbol kerapuhan yang harus dipertontonkan sehingga pilihan terakhir adalah bersandar pada bahu seseorang, yang ternyata sebenarnya lebih rapuh dari yang bersandàr.

Yang bikin keren adalah, keduanya tidak menyadari itu. Sehingga dapat ditarik garis merah persoalan bahwa kerapuhan bisa disandari kerapuhan yang lain asalkan masing-masing tidak paham dengan kenyataan.

Jadi sebuah istilah ‘Ketidaktahuan adalah berkah’ memang sedang berjalan disini.

Kesimpulan lainnya adalah, manakala sebuah kerapuhan bersua dengan kerapuhan lain maka mungkin saja terjadi simbiosis mutualisme yang berakhir dengan semangat saling menguatkan dan berusaha bangkit kembali dalam keterpurukan ini…. ataau saling merapuhkan dan akhirnya luruh menjadi puing-puing ketiadaan.

Photo : Awas jatuh, ayo pegangan / dokpri.

Itulah kehidupan, banyak makna yang mendalam dari seluruh kejadian. Semua kejadian dan kenyataan tidak ada yang terjadi begitu saja, tetapi skenarios super rumit tersebut sudah disiapkan jauh jauh hari oleh Allah Sang Maha Pencipta langit dan bumi beserta isinya.

Mari berjuang bersama dan memberi sandaran kepada yang sedang merana, meskipun kita sebenarnya sedang butuh sandaran juga.

Selamat weekend kawan, jangan lupa memberi sesaat kesempatan untuk seseorang yang perlu sandaran, meskipun sebenarnya kitapun perlu dukungan. Dengan begitu semoga jiwa kita tetap tegar dan fokus dengan segala beban dan tantangan. Wassalam (AKW).

Wine Arabica Puntang Coffee.

Dahaga rasa akhirnya terlaksana…

Photo : Sajian V60 Wine Arabica Puntang Coffee / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Malam ini sebuah penantian panjang akhirnya selesai, setelah selama bulan ramadhan aktifitas ber-Kohitala (kopi hitam tanpa gula) dengan metode manual brew V60 ala-ala praktis tertunda karena bukan apa-apa, waktu dimalam hari ramadhan hingga waktunya sahur lebih diutamakan beribadah dibanding prosesi nyeduh manual brew kopi yang memakan waktu…. cieee ibadaah… ih jangan riya, bilang aja memang malas repot mempersiapkan dan membereskan peralatannya… gitu aja, jujur itu lebih bermakna.

(Mode tersipu)

Yap, memang betul sekali, kenikmatan menyruput sajian kopi alami dengan racikan sendiri butuh persiapan yang matang, baik dari sisi peralatan juga bean yang akan diolah. Gramasi terkadang diabaikan kawan, kira-kiranya di 20gr per sajian… cukup khan kawan?… prosesi ini perlu waktu rata-rata 20 -25 menit untuk waktu sajian dan menyisakan beberapa peralatan yang kotor yaitu corong V60, bejana server, gelas, teko leher angka, kertas filternya, tempat kopi sebelum dan sesudah di grinder… ditambah tentu peralatan yang harus dibersihkan seperti timbangan digital, mesin grinder mini dan termometer.

Klo panas air buat nyeduh tetap bermain di level 90° celcius dengan putaran melawan jarum jam. Oh ya… beannya tetap digrinder mendadak dengan hasil kasar (ukuran 3 di grindernya)…. eta keukeuh.

Photo : Persiapan prosesi / dokpri.

Alhamdulillah, setelah memprosesnya dengan penuh sukacita, karena ini adalah manual brew V60 perdana setelah ramadhan tahun ini, maka .. dengan bean spesial kiriman seorang kolega pencinta kopi juga Mr AGS maka semakin menyenangkan prosesi ini. Beannya adalah Wine Arabica Puntang Coffee yang diproduksi oleh Puntang Coffee Indonesia – Gunung Puntang Kab. Bandung 40377 belum apa-apa sudah harum abisss….. apalagi pas di grinder dengan putaran 3, wuihh harum semerbak memenuhi ruangan dan menjadi parfum alami yang menyenangkan hati.

Prosesi pembersihan kertas filter V60 dengan air panas segera dilakukan dan setelah air curahannya dibuang, dimulailah proses penyeduhan yang menyenangkan.

Serpihan bubuk bean kopi ini bertengger diatas kertas filter v60 segera berekstraksi dengan curahan perlahan tapi pasti air panas 90° celcius mengeluarkan hasil kopi yang diharapkan sesuai ekspektasi.

Tetesan cairan hitam nan harum melengkapi kepenasaran cuping hidung yang mencium kenikmatan, tak sabar setelah berkumpul di gelas server maka dituangkanlah di gelas kaca kecil kesayangan…. currr…. tadaaa…. siap2 di sruput gan….

Srupuuttt…… woaaaaah…. rasanyaaa..… tak berani langsung menyeruput semua, karena kenikmatan winenya nyaris sempurna, keasaman maksimal yang menggigit bibir mencengkeram lidah begitu kuat… acidity strong, mengembalikan dan menuntaskan kepenasaran ngopay selama ini. Bodynya yang semi bold melengkapi acidity strong ini…. eddun, nyereng… apa yach bahasanya?… euh sampai ada efek bulu roma merinding saking asamnya… (jangan-jangan merinding karena hal lain?… nggak laaah, asli gara-gara sensasi kopi ini).

Untuk pemula, kopi ini tidak disarankan karena rasanya akan mengagetkan dan khawatir mengagetkan lambung dengan keasaman yang tinggi ini. Tapi bagi penikmat kopi, inilah rajanya. Yang bikin lebih bangga adalah rasanya bisa menandingi arabica wine gayo yang terkenal, kopi puntang ini adalah rivalnya dengan beraneka rasa buah seperti jeruk citrun, tamarind, anggur dan selarik harum durian berpadu membentuk kuatnya rasa wine… itu yang ruaaar biasa.

Photo : Dilengkapi cemilan / dokpri.

Satu gelas kecil lagi ahhh…. sruputtt… awwww.. merinding lagi. Ruaaar biasa….. nikmat, Alhamdulillahirobil alamiiin.

Selamat menjalani hari ini dan jangan lupa sempatkan membuat kopi dengan prosesi manual brew v60 serta pilihan bean yang tentu berkualitas tinggi. Sebuah prosesi yang perlahan tapi pasti memberi sensasi tersendiri, betapa nikmat Allah SWT adalah nikmat abadi yang tiada henti dengan memberi kesempatan banyaaaak hal, dan…. belum kita syukuri termasuk menikmati ciptaannya yaitu biji kopi berkualitas tinggi, kesempatan menikmati prosesi hingga menyruputnya tiada henti. Wassalam (AKW).

Rindu Bapak Ibu.

Sebuah coretan rindu yang tertahan ‘sesuatu’.

Photo : Kopi Kerinduan / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sejumput haru bersembunyi diujung dada kesendirian, sebait harap tetap dipegang meskipun kenyataan belum sesuai harapan.

Hari lebaran yang emosional, harus menahan rindu untuk tidak bisa wajah, raga dan jiwa bertemu langsung dengan kedua orangtuaku…..m yang sebenarnya jikalau hanya bicara jarak, sangat mudah untuk ditemui.

Bersimpuh di kaki mereka, memohon doa keberkahan dan keselamatan dunia akherat di momen hari suci pasca dilatih selama 30 hari di bulan ramadhan 1441 hijriah.

Memeluk ibu bapak dengan penuh kehangatan dan ketulusan, dimana karena merekalah, karena pengorbanan, pola pendidikan, motivasi dan keikhlasan kepada anaknya hingga segalanya dilakukan demi cita-cita hakiki yaitu agar anak cucunya kelak bahagia di kehidupan masa depannya.

Mendengarkan cerita dari ibu dan bapak, betapa kenakalanku di masa lalu adalah rangkaian kebahagiaan yang mengharu biru, tiada umpatan kasar atau bentakan, tetapi peringatan halus yang memberi ketenangan.

Berpose terbaik setahun sekali dengan senyuman dan tawa yang tak pernah habisnya lalu memposting di media sosial agar tahu bahwa dunia ikut bahagia melihat kita ceria, itu dulu karena sekarang harus menahan diri terlebih dahulu.

Maafkan anakmu ibu bapak, pandemi ini membatasi hadirnya raga tetapi jiwa dan asa tetap tidak bisa dihalangi untuk senantiasa menyayangimu sepanjang hayat ini.

Ketidakhadiran kami di kampung halaman adalah bukti kasih sayang kami untuk menjaga kebersamaan ini memiliki kesempatan lebih lama lagi.

Ah sedih….. tapi inilah pengorbanan. Jikalau tenaga kesehatan berjibaku di medan pertempuran menyelamatkan nyawa manusia yang sedang melawan ganasnya covid-19, maka kami disini berkorban untuk menghentikan penyebaran pandemi ini dengan menahan diri, mengendalikan rindu sekaligus menata rasa agar tidak memposting photo ceria bersama keluarga di media sosial kita.

Karena….. mungkin banyak yang berduka atau malah merasa pengorbanan ini menjadi sia-sia akibat terjebak oleh sebuah kultur budaya yang sebetulnya bisa kita tahan sementara.

Ah sudahlah, jangan berfikir pengorbanan rasa ini sia-sia, ikhlaslah menata asa, karena hanya Allah SWT yang tahu pengorbanan kita, semoga menjadi pahala yang menyelamatkan kita di dunia dan alam akherat nantinya.

Tetap jaga silaturahmi dengan memanfaatkan teknologi tanpa harus pergi-pergi di masa pandemi ini.

Secangkir eh setengah cangkir kopi coldbrew cukup mengerti kegundahan ini, ditemani semerbak bunga sedap malam yang mekar mewangikan kesepian malam ini. Tanpa banyak basa basi merelakan diri disruput gelas pergelas hingga sebotol 250 ml tandas tuntas tanpa ampas dan keharuman bunga seolah tiada batas.

Banyak sekali yang ingin dituliskan untuk mewakili kegundahan ini, tapi biarlah sisanya tersimpan di sanubari dan catatan hakiki milik alam semesta ini.

Bapak dan ibu, maafkan kami.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

Jiwa semoga kembali suci dan bersiap melanjutkan hari, menjaga ibadah seperti sebelum idul fitri, serta tidak lupa kembali menulis tentang hari ini dan cerita kopi.

Semoga pengorbanan ini menjadi berkah, dan sembuhkan gundah menjadi masa depan yang indah. Wassalam (AKW).