Rahasia Kegelapan

Kegelapan memberi kesempatan, meraih asa dan harapan dalam sebersit cahaya keabadian.

Kegelapan itu bukan melulu melahirkan ketakutan, tetapi dengan hadirnya gelap maka kita bisa menghitung seberapa terang suatu cahaya berpendar dan menerawang.

Tetapi memang otak kita sudah dibiasakan faham bersama bahwa dibalik kegelapan tersimpan ketakutan, kesedihan, kengerian dan kejahatan yang menjadi suatu alasan untuk menghindari, menjauh ataupun berusaha melupakan.

Kegelapan identik dengan hitam dan hitam itu diandaikan sebagai kegelapan.

Padahal..

Kegelapanlah yang menjadikan sinar bintang dan bulan begitu cemerlang.

Kegelapanlah sebagai batasan ukuran kehadiran cahaya yang penuh harapan.

Kegelapanlah yang memberi ruang kepada otak manusia untuk menghitung intensitas cahaya dan berbagai rumus lainnya sehingga dikenal e=mc’kuandrat’ nya Einstein atau Hukum Stefan Boltzman tentang radiasi kalor yang terkait benda hitam.

Termasuk keindahan alam dikala menjelang senja ataupun pagi menjelang dimana mentari bersiap berlabuh ataupun mentari kembali bersinar, butuh gelap agar moment itu kembali menjadi kenangan.

Satu hal yang pasti, disaat kegelapan menyelimuti bumi di waktu sepertiga malam, saatnya mengakses cahaya Illahi Rabb untuk bertaubat, bersujud, mengadu dan memohon dalam refleksi gerakan sholat Tahajud dan doa kepasrahan.

***

Selamat menjalani minggu terakhir ramadhan 1439 H, biarkan gelap menjadi pengingat dan menyongsong cahaya pintu maaf di awal bulan syawal dengan penuh khidmat.

Penerbangan Komersial Perdana ke Bandara Internasional KJT

Sebuah pengalaman berharga diajakin ikut penerbangan komersial perdana Pesawat Citilink ke Bandara Internasional KJT.

“Haii para pembaca setia blogku… ada yang penasaran dengan cerita ‘KERAMUD’ku gimana kelanjutannya?”

Monggo… cekidot..

…..

Photo : Suasana meriah Warung Pak Umar di Sidoarjo/dokpri.

Tiba kembali di pelataran Hotel Swiss Bell Airport Juanda hampir jam 00.00 wib. Sebenernya jam 20.00 wib udah nyampe, tapi balik lagi ke Bandara Juanda jemput bapak bos yang pake penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusumah trus dilanjut makan nasi soto dulu di RM Warung Pak Umar di Jl. Sedati Gede No 126 Sidoarjo ….. bersama-sama, setelah tuntas baru meluncur kembali ke hotel.

Badan dan pikiran sudah lelah, sangat membutuhkan istirahat sehingga kunci kamar menjadi jalan untuk masuk dan disambut empuknya tempat tidur di lantai 5 Hotel ini.

Eits… jangan tidur duyuuu…. membersihkan diri sudah jadi keharusan. Call ke resepsionis Untuk morning call tuntas dan shalat magrib-isya yang bergandeng mesra dengan ikatan jama qoshor dilanjut tarawih dan witir harus dilaksanakan.

‘Gejeburr!!’
‘Gejebur!!’

Segarnya air menyentuh kulit, sedikit mengurangi rasa lelah.

Tapiii….. meskipun sudah mandi dan berwudhu, prosesi sholat terasa begitu berat seakan setan satu pasukan mengganggu bersama-sama.

Padahal khan bulan ramadhan itu para setan diiket nggak boleh gangguin manusia. “Trus ini siapa yang goda aku?…. jangan-jangan tanpa disadari udah berperilaku mendekati atau mirip setan laknatulloh…. Astagfirullohal adzim.!!”

Lawan dengan sekuat tenaga, tuntaskan shalat meski lelah mendera hingga akhirnya terlelap dipeluk malam yang semakin larut mendekati dini hari, melirik jam di smartphone, pukul 00.57 wib… Zzzzzzz..zzzz

***

‘Kringgg!!!..’
‘Kringgg!!!..’

Telepon meja disamping berdering, segara tersadar, bangun dan mengangkat gagang telepon, “Good morning Sir, Morning Call!!”
“Thank you”.

Klik!
Sambungan telepon dari resepsionis hotel ditutup dan menghambur ke kamar mandi untuk membilas diri karena waktu sudah tak bisa kompromi lagi. Jam 03.15 mandipun tuntas, ganti baju, packing dan menghambur ke lobby.. lumayan bisa tidur 2 jam.

Sahur dilakukan super kilat, 2 potong ayam, fish fillet, tumis pakcoy dan 2 botol air mineral tandas hitungan menit. Langsung check out dan bergerak menuju bandara bersama rombongan. Jam 04.00 wib masuk bandara, lalu proses security check hingga akhirnya bersiap di ruang tunggu. Tidak lupa berpose dulu dengan latar belakang informasi penerbangan, termasuk rencana penerbangan ke Bandara Internasional Kebanggaan Jawa Barat dengan kode KJT.

Sholat shubuh berjamaah dilaksanakan di Mushola bandara Juanda bersama calon penumpang dan tak berapa lama panggilan untuk memasuki pesawat Citilink A320-200 dengan nomor penerbangan QG 9820 berkumandang.

***
Pesawat Airbus 320 mulai bergerak menjauhi apron melewati taxiway hingga bergerak menuju landasan pacu. Setelah semuanya siap, Kapten Joko Pitono menerbangkannya dengan gagah. Menuju langit di ketinggian 32.000 kaki dpl dengan kecepatan rata-data 825 km/jam dan cuaca dalam keadaan cerah sehingga estimasi waktu tempuh sekitar 55 menit saja.

***

Photo : Sajian alami semburat pagi diperjalanan menuju Kertajati/dokpri.

Pemandangan pagi dilihat dari jendela pesawat begitu mengesankan. Semburat merah berpadupadan dengan biru dan abu serta gumpalan putih awan kehidupan menghasilkan semarak alam tanpa tandingan. Kuasa Allah kembali tersaji.

Alhamdulillah….

Menengok ke samping semua sedang mengheningkan cipta, menutup kelopak mata dan nafas teratur, sungguh terlihat nikmat sekali. Tak ingin mengganggu kekhidmatan mereka, mencoba jalan-jalan menuju toilet di ekor pesawat Citilink ini.

Eh……. rejeki anak sholeh, ternyata para pramugari lagi ngaso disitu… langsung aja ijin minta berphoto dengan pose spesial ramadhan. Tangan menangkup, badan sedikit membungkuk, berpose untuk “Selamat Hari Lebaran.”

***

Tepat pukul 05.55 Wib, Airbus 320-200 dengan nomor penerbangan …. mendarat mulus pisan di Bandara Internasional Kertajati Majalengka Jawa Barat.

Photo : prosesi Salute Water Canon/dokBIJB

Membawa para penumpang spesial yang terdiri dari KaBiroSPIBUMD Pemprov Jabar beserta jajaran, Direktur Keuangan PT BIJB & rengrengan, Dirut PT Citilink & Jajaran serta Kadishub Jawa Timur & Protokol Setda Jatim mewakili Gubernur Jatim plus para penumpang lainnya disambut dengan prosesi ‘Salute Water Canon” ... itu tuh yang disiram oleh 2 kendaraan water canon Pemadam Kebakarannya Bandara sehingga membentuk gerbang air sebagai bentuk penghormatan terhadap penerbangan komersial perdana ke Bandara Internasional Kertajati Jawa Barat di Majalengka.

Pas pesawat disiram air… serasa kayak lagi nyuci mobil otomatis.. yang kacanya diguyur semburan air. Terasa dingin dan basah ke kulit kita… karena tetesan air.. ahhay lebay.

Yang pasti perjuangan begadang dan berasa mudik padahal dinas telah terbayarkan dengan suksesnya acara yang diselenggarakan PT BIJB.

Photo : Para Pejabat berpose bersama kru Pesawat/dokpri.

Selanjutnya seluruh penumpang keluar pesawat melalui garbarata dan disambut lagu ‘Manuk dadali’ beserta tarian anak-anak berbaju putih yang penuh keceriaan menuju ruang kedatangan yang sudah disetting sedemikian rupa melalui penyambutan khusus…. disambut langsung oleh Dirut PT BIJB dan DirOps PT Angkasapura 2…. semua penumpang perdana dikasih kalungan bunga lho…. serasa atlet yang sukses berlaga di negeri orang dan pulang disambut penuh kebanggaan.

Photo : Pesawat Citilink sebagai pesawat komersial pertama di bandara KJT/dokpri.

Sambutan-sambutan, doa syukur dan photo bersama menutup rangkaian acara yang dipersiapkan dari kemarin. Meskipun perjalanan masih panjang, karena dari Bandara Internasional Kertajati masih harus menempuh jalan darat via tol Cipali – Cipularang hingga akhirnya akan tiba di kantor dan disambut dengan rapat resmi ba’da jumaat…. semangaaat… itu namanya RÉJEN alias ‘resiko jeneng‘ atau konsekuensi jabatan…

Rumusnya simpel…. Jalani, Nikmati dan Syukuri. Wassalam (AKW).

Dinas Luar Injury Time

Tugas dinas di penghujung hari kerja sebelum libur panjang itu adalah sebuah tantangan sekaligus perjuangan.

Photo : Pesawat menunggu penumpang, senja hari di Bandara Husein S/dokpri.

“AllahuAkbar… AllaaahuAkbar!..” Kumandan adzan magrib dari smartphone menggema…. seiring dengan pengumuman dari crew kabin pesawat Citilink jenis Airbus 320 – 200 dengan nomor penerbangan QG 825, “Para penumpang yang terhormat telah tiba saatnya berbuka puasa, selamat berbuka puasa.”

Serentak para penumpang membuka bekal masing-masing untuk menyegerakan berbuka puasa. Ada yang minum air mineral, teh botol dalam kotak atau teh botol dalam kotak, sebutir kurma juga yang nggak bekel cemilan… ngumpet di belakang karena berbuka dengan yang maniiiz… ahiiiw.

Sebuah pengalaman baru di bulan ramadhan ini untuk berbuka puasa di pesawat. Kebetulan pesawatnya masih terdiam di Apron bandara Husein Sastranegara menunggu antrian untuk take off menuju ke Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo Jawa Timur.

You Pegawai negeri ya? Emang udah mulai mudik?.. khan liburannya mulai senen?” Bapak gemuk yang duduk di samping kiri, baru aja kenalan barusan udah memberondong pertanyaan.

Photo : Para pemudik di Ruang tunggu Bandara Husein /dokpri.

Itu yang menggelitik hati menggerayangi lidah untuk segera menjawab, maklum pakaian dinas masih melekat plus name tag dan pangkat serta barang-barang yang dibawa terlihat ‘angkaribung‘ (banyak tas yang dibawa).

“Bapak mau tau atau mau tau banget?”

Bapak gendut tersenyum, “Pengen tau bangeeet” sambil wajahnya berubah manja. Ahaaay.
Hueeek!!, jadi sebeeel. Tapi ditahan kok, nggak boleh bersikap tidak sopan dihadapan orang tua, takut kualat.

Kami ini dalam rangka program KERAMUD pa”

“Apa itu keramud?”

“Itu program khusus pa, program kerja disaat hari terakhir kerja sebelum libur panjang Idul fitri sehingga bergabung dengan para pemudik seperti bapak, jadi rasanya kayak mudik lho. Nah istilah programnya yaitu Kerja Rasa Mudik disingkat KERAMUD hehehehe”

Bapak gendut itu terdiam mendengar penjelasanku, lalu terkekeh, “Ah bisa aja kaww….”

“Hahaha…..”

Akhirnya kami tertawa bersama, berbincang akrab sambil menikmati menu berbuka puasa versi Citilink….
yang terbang menyusuri langit malam di ketinggian 33.000 kaki… hingga akhirnya landing yang nyaman di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Alhamdulillahirobbil Alamin.

Photo : Samwan lagi pesan Takol via aplikasi/dokpri.

Penasaran dengan perjalanan KERAMUD kami?… tunggu postingan selanjutnya guys. Wassalam (AKW).

Adzan Magrib Pamungkas

Carita fiksi bahasa sunda dina sétting bulan puasa wanci rék buka.

#FikminBasaSunda *)

Photo : Masjid di Ngamprah KBB/dokpri.

Adzan magrib jadi idola ayeuna mah, teu kolot teu budak ngadepong nungguan sora ‘Allohuakbar Allohuakbar…‘ cicirén kualitas kaimanan di Nagara ieu geus ngaronjat.

Saregep di palataran masjid, nganghareupan sarupaning dahareun jeung inuman ogé 2 karung kurma, matak sugema.

Ngong adzan, ngadaru’a. Tuluy ngahuap babarengan, kolek, candil, bubur sumsum, pacar cina, sop buah, bubur kacang, aqua gelas, korma, bala-bala, géhu, rarawuan, témpé goréng, bakwan, martabak mini, balakécrakan. Inumeun ngajajar, cihérang, limun, sirop, entéh, kopi, susu, bandrék, bajigur jeung lahang.

Photo : Masjid di Desa Sade – Lombok NTB/dokpri.

Tapi teu maké itungan menit, béak kabéh teu nyésa. Kitu deui palastik jeung sèsa wawadahan ilang teu matak jadi runtah. Kaasup karpét jeung tihang, ornamén masjid puturul didalahar. Kulah jeung pancuran diuyup. Mimbar kana mix jeung toa disuruput, pamungkasna kubah masjid digereges, béak sagalana.

Solat magrib jamaahan jadina dina luhureun ruruntuk masjid, ngaheruk. (AKW).

***

*)Fiksimini Basa Sunda adalah tulisan fiksi dalam bahasa sunda berukuran mini, maksimal 150 kata dan tuntas menjalin sebuah alur cerita.

Cerita Ramadhan – Ngendok*)

Ini ceritaku disaat ramadhan tiba, cerianya masa kecil dalam lingkungan keluarga kecil bahagia. penasaran?… monggo nikmati ceritanyaa.

Sore itu aku udah bergerak belajar melangkah dan merangkak mondar mandir kesana kemari, mulai dari dapur tempat ibuku masak untuk sajian berbuka puasa hingga ruang tamu.. eh sebelumnya ruang tengah juga diubek. Abis aku senengnya bergerak kesana kemari, gatal kaki dan tangan ini kalau hanya berdiam diri.

Setelah tadi ba’da dhuhur nenen trus disuapin sama ibunda, abis 2 buah pisang ambon trus barusan susu pake dot, kuenyaaang. Tapi nggak ngantuk, bawaan pengen beredar terus.. gerak… geraak.

Ayah dan ibunda begitu sabar menjaga, menemani dan mengejar diriku yang beredar kesana kemari. Sering terdengar ayah dan ibunda berucap, “Astagfirullohal adzim…” begitu nyaman terdengar di telinga mungilku,……. ternyata itu ucapan doa.

Aku jarang tidur siang, entah kenapa. Tapi alangkah ruginya waktu yang ada dipake tidur. Mending buat bergerak kesana kemari melatih otot dan sendi serta aku bisa tahu semua wilayah di dalam rumah termasuk di kolong tempat tidur dan dibawah meja makan keluarga. Bisa juga di dalam lemari baju ayah ibuku. Semua tempat miliki sensasi dan karakteristik tersendiri.

“Ayah…”
“ibb..buu”
Suara mungilku memberikan rona bahagia dan mata berbinar dari kedua orangtuaku. Ibundaku suka langsung menunduk sambil mulutnya bergumam.. akupun ikutan, dan mereka tertawa bahagia bersama.

***

Hari ini beberapa kosakata baru hinggap di otakku dan langsung menempel, yang pertama ‘pipis’ dan kedua ‘Endok‘ atau endog… bahasa sundanya untuk telur. Itu istilah jikalau aku udah pengen pipis dan ee. Sehingga ayah dan ibunda bersiap dengan popok yang baru dan kering, maklum belum jaman pampers jadi kebayang repotnya klo pipis sembarangan dan nembus popok.

Alhamdulillah aku mah gampang hafal meskipun terkadang lupa bilang pas kejadian… tapi jangan lupa ada rumus pamungkas… apa itu?.. tinggal nangis aja sekencang-kencangnya… beress.. bantuan akan dataaaang.

***

Menjelang berbuka puasa, ayah ibu sibuk bekerjasama menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka. Akupun ikutan nimbrung, sok sibuk, pegang itu pegang ini, seru kawaaan. Ibunda beberapa kali mengambil gelas kaca dari tanganku juga piring beling yang dibawa berlari olehku, kenapa sewot ya?… padahal aku hati-hati lho bawanya.

Tiba-tiba…. terasa perut melilit… oh pengen ee. Inget kata-kata yang dilatih ibunda. Tapi ibunda sedang sibuk di dapur, ada ayah ding..

“Endok.. endok!!” Aku teriak sambil narik-narik sarung ayah. Ayah tersenyum, berjongkok dan bertanya, “Ada apa anak cakep ayah?”

“Endok… endook” Aku setengah berteriak, terlihat wajah sumringah ayahku mendengar kosakata baru.

“Anak pintar ayah, sini klo mau endok” badanku diangkat, senangnya. Tapi…. kok aku didudukin di meja makan?… ah nggak banyak tanya, aku harus tuntaskan tugas dari perut ini dimanapun berada… Procooot.

***

‘Duk… duk.duuuk!!…
“Allahu Akbar.. Allahuakbar…”
Adzan magrib berkumandang bertepatan dengan tuntasnya aku menyelesaikan tugas…. di meja makan.

“Astagfirullohhhal adzimmm…. Ayaaah…!!!!” teriak ibunda yang berada didekatku.

Ayah datang tergopoh-gopoh… dan terdiam. Melihat seonggok ‘endog‘ karyaku disamping rendang telur hasil olahan ibunda.
Mereka berpandang-pandangan dan tersenyum simpul.

Dengan cekatan ayah mengangkat tubuh aku dan membawa ke kamar mandi untuk cebok, ibunda yang membereskan ‘endok’ku.

Terdengar suara pelan ayah ke ibunda, “Maafkan ayah, tadi dikirain pengen endok/telur yang ibu masak.. eh ternyata pengen ‘ngendok‘.” Ibunda senyum lalu terkekeh.

Aku tersenyum karena pantat sudah bersih dan perut longsong… plus udah bisa menghafal kosakata baru. Makasih, met berbuka puasa ya semuahnyaaah.

Jangan lupa yang masak aneka telur… dihabiskan yaa… Wassalam (AKW).

***

Catatan :

*)Ngendok = istilah dalam bahasa sunda yang artinya BAB/ee/buang air besar... atau bahasa sunda lainnya disebut juga ‘modol’.

Misteri Hati *)part 1

Seonggok hati meneguhkan diri.

#sebuahpuisiAkw

Jendela kerelaan menguàp pasrah
Diemban pilu menugas rasa
Dengan sengaja kubertepuk dada
Meraih sesungging pisau yang menajam

Terucap janji kuhunjamkan pada tubuhku
Membelit kulit bertebar perih
Dipaksa untaian tanganku bergerak
Mencari seonggok daging penentu hari

Setelah waktu terus berlari
Tuk kutemui sepotong hati di tubuh ini
Tanganku menjalar di bawah kulit diatas daging
Mengikuti aliran nadi yang bersorak…
Semua hening.

Kuseka keringat pengharapan
Dari kening kebimbangan yang tampan
Tapi tanganku tak temukan sepotong hati
Tinggalkan tubuh beracak jemu.

Tiba-tiba sesuatu menyentuh jiwaku
Menyuruh otak untuk berpaling menatap beku
Sentuh jalinan jiwa dalam ragaku
‘tuk meraih harapan tak hampa di depan mata menyala

Sesaat decit burung menatap
Kuambil leher ini hingga menjerit
Mataku kupungut hingga dapat
Dengan paksa kupasang dalam kelopak kehidupan

Nafasku tertahan….

***
Catatan :
Coretan puisi ini tertuang di hvs biru muda tertanggal 18 sept’2K ka.up 12.000 WIB Edisi Revisi… sebuah coretan pribadi yang pernah terdokumentasi. Berjudul Misteri Hati part 1.

Selamat menikmati. (AKW)

Nge-unboxing Kopi Amrik

Yukk kita Un-boxing Biji Kopi Arabica dari Pegunungan Andes yang dikemas oleh Trader joe’s.

Duhh kangen unboxing kopi bro… tapi di bulan ramadhan ini kesempatan waktunya kudu pinter-pinter. Soalnya klo terburu-buru, rasa dan suasananya bakal kabur dan hanya tersisa kepahitan semata…

Bukan karena tadarus dan shalat tarawih berjamaah tapi si kecil yang makin meningkat usia.. semakin lengket sama ayahnya. Makin manja dan banyak ngatur serta segala pengen tau dan dipegang. Sehingga beberapa kali unboxing kopi.. gagal, karena V60, filter, termometer, timbangan dan gelas ukurnya di pake main sama anak kesayangan.

***

Malam ini disaat jarum jam hampir berhimpit di angka 12, saatnya tiba untuk unboxing setelah sang anak tidur dibuaian ibunya. Itupun penuh perjuangan karena harus bermain dulu, lari kejar-kejaran ataupun baca buku dan mendongeng tentang Omar & Hana versi priangan.

Sambil sedikit berjingkat, peralatan manual brew ditata rapih. Pelan tapi pasti karena jangan sampai terjadi kegaduhan dan bangunkan penghuni rumah lainnya… berabe khan?…

“Kopi apa yang akan dinikmati sekarang?”…. itulah bahasan intinya.

Sekaleng kopi sebanyak 397 gram sudah ready di hadapan…

Kalengnya mirip kaleng susu dancow, dengan label kuning dan hijau..eh biru, tak sabar segera tutup plastik atasnya dibuka… tapp!!!. Ternyata masih ada lagi lapisan perak alumunium foil… pelan-pelan dibuka…

Jrengg….

Harum khas kopi arabica menyambar penciuman, rasa khas yang menyenangkan. Biji kopi arabica menyambut dengan hangat… siap di grinder untuk memecahkan biji hasilkan sensasi kopi yang penuh arti.

Unboxing kopi tengah malam ini cukup spesial karena kopi yang sedang di oprek-oprek berasal dari benua Amrik nun jauh disanah… klo di globe sih cuman sejauh dua jengkal tapi kenyataannya sangat jauh… bisa mencapai waktu 1 bulan lebih karena yang lama itu ngurus visanya hehehehe… atau malah bisa tahunan karena harus nabung dulu untuk biaya perjalananya yang selangit.

Yup… kopi ini adalah kopi organik produksi Trader Joe’s Organic dengan nama ‘breakfast blend’ merupakan 100% arabica whole bean coffee yang berasal dari pegunungan Andes di South America. Tapi nggak dapet tuh keterangan di tanam di ketinggian berapa… yang pasti pegunungan Andes adalah sistem pegunungan yang sangat tinggi di Amerika Selatan.

“Emang kenapa butuh data ketinggian?” .. ada dech.. ntar dibahas di tulisan selanjutnya yaa…

***

Nggak pake lama, manual brew pake V60 dengan panas air 91 derajat celcius dan perbandingan 1 : 14 menghasilkan se teko kopi yang haruuum…. jangan kaget dengan se-teko. Karena yang diseduhnya langsung 48 gram… otomatis air panasnya pun memyesuaikan.

Tuntas sudah kopi dari pegunungan Andes ini berextraksi, Makasih Mr.Endi yang ngasih gratis nich kopi… langsung dibawa dari Amrik sono.. jangan bosen yaaa… sekali lagi makasih.

Nggak pake lama, gelas kaca kesayangan segera diisi cairan kopi yang udah ready…. surupuut… kumur dikit… glek..

Enak?… enaaaaak atuh. Kopi item manual brew panas2 di tengah malem yang sunyi… Fabi ayyi alaa irobbikuma tukadziban… gratis deuh hehehehehe.

Karakter arabicanya dapet, acidity medium, aroma harum, bodynya lite dan ada taste floral serta mint yang muncul… yang pasti rasanya ringan dqn menyenangkan tetapi selarik body membekas di lidah dan memang cocok dengan taglinenya ‘breakfast blend’ … bisa menemani sarapan kita dengan nyaman karena rasa bodynya tidak terlalu tebal tetap harum kopi dan profile taste mint serta floralnya yang bikin ketagihan.

Nggak kerasa se-teko kopi panas amrik tinggal tersisa setengahnya… menemani malam yang sudah menuju dini hari. Alhamdulillah berkesempatan meng-unboxing kopi malam eh menjelang pagi dini hari ini.

Hayu ngopi sobaaaat. Wassalam (AKW).