COLD BREW at CALIA Resto.

MELBOURNE, akwnulis.com. Nama tempatnya adalah restoran CALIA, sebuah tempat yang menarik bagi pelancong perdana yang baru belajar menjejakkan kaki di luar negeri pasca 2 tahun lebih pandemi covid-19 mendera. Setiap detik dan capture suasana di kota melbourne ini adalah catatan penting kehidupan yang sebisa mungkin di rekam dalam ingatan serta sebagian tersimpan dalam dokumen photo dan video di smartphone sebagai dokumentasi mentah. Selanjutnya diolah sesuai kebutuhan, apakah menjadi laporan resmi perjalanan luar negeri atau laporan tidak resmi yang tersaji di media sosial dan website / blog pribadi.

Ditempat inilah kehangatan persaudaraan begitu kental tersaji, padahal baru berjumpa dan berkenalan dengan pasangan suami istri yaitu ibu Nita dan Pak Emil, pasangan suami istri yang sukses di negeri kangguru dan menjadi resident permanen warga australia sekaligus sebagai contoh diaspora yang berhasil, proud of you.

Diskusi yang penuh kehangatan terus bergulir, sementara penulis menyempatkan diri menelusuri menu makan siang kali ini yang cenderung adalah sajian makanan asia khususnya jepang. Sebenernya bukan itu yang dicari, tapi target utama adalah manual brew kopi yang ternyata harus mentok dengan kopi buatan mesin saja. Nah sebagai pilihan akhirnya mencoba kohitala di negeri kangguru ini adalah kopi cold brew saja. Kopi hitam tanpa gula yang diproses dengan metode manual meskipun butuh waktu cukup lama, 12 jam lalu atau sehari sebelumnya.

Cold brew original coffee, please”

Untuk sajian makanan beratnya dipesankan bersama-sama, karena jika satu persatu khawatir tidak habis dengan perut masing-masing yang perlu penyesuaian. Biasa nasi berganti roti, mungkin bisa jadi problem bagi sebagian orang, kalau penulis mah apa aja, digayem hehehehe.

Tak berapa lama segelas kopi hitam dengan es batu tersaji, disertai semangkuk edamame dan di piring panjang potongan segar daging ikan dari kakap, salmon juga cumi-cumi dan baby octopus dilengkapi kecap asin, taburan rempah serta wasabi, itulah menu makanan berat kali ini, sashimi.

Benar saja, sebagai peserta delegasi laki-laki termuda, uhuy termuda karena kebetulan saja maka mendapatkan tugas penting sebagai petugas kebersihan makanan. Maka sashimi yang cukup berlimpah menjadi tugas baru untuk dihabiskan sekaligus menjadi sajian menu makan siang yang mengenangkan. Dilengkapi sruputan kopi cold brew yang menyegarkan dan tidak sempat review lengkap karena keterbatasan kesempatan untuk berdiskusi dengan pelayannya yang mulai sibuk dengan pesanan – pesanan lainnya.

Nikmatnya kopi dingin ini melengkapi pengalaman ngopi di negeri kangguru tepatnya di pusat kota Melbourne Victoria.

Tunggu catatan kopi lainnya ya, termasuk berburu kopi yang tidak semuanya sesuai rencana. Itulah makna perjalanan kehidupan. Wassalam (AKW).

***

CALIA – Japanese Resto
Addres : Shop 31A/287 Lonsdale st, Melbourne Victoria 3000, Ostrali.

.

MELBOURNE & KOPI – meeting & coffee

Sarapan jalan meeting jalan ngopi..

MELBOURNE, akwnulis.com. Makan pagi sekaligus ngopi Longblack di Golden Mug’s Cafe adalah memontum pertama menikmati kopi hitam tanpa gula di benua australia. Belum apa-apa udah kangen pengen minum manual brew V60 dengan diawali keharuman biji kopi yang di grinder sempurna lalu berproses seduhan lembut sehingga mampu berekstraksi maksimal, hmmm sedapnya.

Tapi itu masih di tataran khayalan, karena kenyataannya langsung berhadapan dengan agenda kegiatan yang cukup padat merayap. Buktinya sekarang sudah dua meeting terlaksana. Pertama meeting di Golden Mug’s cafe dalam rangka persiapan dan kedua adalah meeting serius di ABC Building Shoutbank bersama pengurus MSO (Melbourne Simphony Orchestra). Dari Novotel Hotel Central kami berempat berjalan kaki menembus suasana kota melbourne yang cerah namun terasa dingin berangin dengan cuaca sekitar 10 ° celcius.

Berjalan cukup jauh dan menghabiskan waktu sekitar 35 menit. Tetapi perjalanan skuter ini, maksudnya suku (kaki) muter ini begitu menyenangkan karena bisa menikmati suasana dan pemandangan kota yang beragam. Gedung-gedung modern dan gedung – gedung tua saling berdampingan dan menjadi sinergi lanskap yang memukau.

Juga perjalanan melewati jembatan yang dibawahnya mengalir sungai Yarra begitu memikat untuk diabadikan dalam pose terbaik sebagai bagian dari sejarah hidup.

Cetrek.
Cetrek.
Cetrek.

Diskusi dengan pihak MSO diawali dengan tahapan masuk gedung dan registerasi menggunakan mesin pendaftaran touchscreen dan akhirnya keluarlah kartu tamu lengkap dengan nama dan photo kita serta siapa yang akan dituju. Jadi jangan lupa nama kita, pekerjaan, alamat email dan nomor hp sebagai kelengkapan registerasi… lanjut.

Pada tahapan diskusi dan hasilnya nanti tertuang dalam nota dinas lampiran ya. Karena memang tulisan ini memang urusannya dengan perkopian yang kebetulan ngopinya nanti setelah tugas resmi tuntas ya… kecuali kalau pas meeting disuguhinya kopi, itu bakal beda lagi ceritanya.

Tuntas pertemuan maka saatnya berjalan kaki kembali menuju hotel. Tapi ternyata air hujan menyambut dengan derasnya, membuat kita berempat terpaksa berteduh dulu di balik bangunan tinggi sambil menunggu hujan mereda. Betul – betul summer yang aneh, tapi mari kita nikmati karena tidak setiap hari huhujanan (hujan – hujanan) di negeri orang.

Nah setelah agak raat eh mereda, mulailah berjalan kaki kembali. Meskipun sesekali masih harus menghindar dari tetesan butir hujan yang tiba-tiba datang. Disinilah kegesitan diuji. Sieeet.. nyingceet dan berteduh. Lalu berjalan lagi dengan rute agak berbeda dengan menyusuri boulevard sungai yarra yang luas banget, pokoknya buat para pedestrian mah kota ini surga.
Sebagai bukti dokumentasi maka beberapa swapoto bersama menjadi penting, kebetulan pak bos jago ambil gambar dengan smartphone canggihnya, lengkap sudah photo kami berempat dengan latar belakang keindahan kota melbourne ini.

Sebagai penutup tulisan ini, maka kesempatan bersua dengan secangkir kopi sambil menikmati deru hujan badai yang hadir tiba-tiba menjadi sensasi tersendiri.

Atuda nggak kebayang kawan, tadi jalan kaki dan berphoto riang menyusuri boulevard sungai yarra dalam keadaan cerah meskipun berangin, lalu pas sudah menyebrang jalan di jembatan suasana berubah menjadi teduh dan berawan. Maka diputuskan untuk berhenti sesaat di dekat stasiun… karena kebetulan juga melihat kedai kopi dan mungkin cemilan yang bisa menemani serta mengisi perut ini karena mungkin mulai kosong setelah energinya terkuras oleh jalan kaki siang ini.

Setelah pesan segelas americano eh longblack ukuran medium dan 3 cappucino ukuran medium juga. Kami berempat duduk sesaat sambil menikmati sore. Sementara Bu Enci memesan juga cemilan agak berat berupa chicken wings yang hadir menyusul.

Awalnya hujan gerimis saja tetapi hanya hitungan menit menjadi hujan besar dan berangin, seperti badai kecil yang mulai meresahkan. Semua aktifitas pergerakan manusia di jalanan terhenti dan menepi menghindari hujan yang mengganas. Hanya hitungan menit suasana berubah seperti badai dengan angin kencang dan air hujan yang begitu deras menghunjam bumi. Awalnya hati ini khawatir takutnya muncul banjir cileuncang melihat curah hujan yang begitu menggila. Tapi melihat wajah – wajah yang berteduh biasa saja dan hanya menepi menghindari hujan, berarti situasi begini adalah rutinitas. Ya sudah lebih baik duduk dan ngopi saja, kebetulan sajian kopi sudah hadir tinggal di eksekusi eh disruputi.

Bener saja, 4 menit kemudian suasana berubah. Hujannya tiba-tiba reda dan angin kencang berganti semilir angin yang menawarkan kedamaian, awan mendung perlahan pergi dan cahaya mentari kembali hadir meskipun terlihat malu-malu. Orang-orang bergerak kembali dengan aktifitasnya dan kamipun lanjutkan ngopi lalu setelah habis, bergerak pergi. Melangkahkan kaki lagi menuju hotel tempat menginap sambil menikmati luasnya trotoar di kota melbourne ini. Wassalam (AKW).

Longblack Only.

Tidak ada waktu bersantai, gasskeun…

MELBOURNE, akwnulis.com. Early check in menjadi pengobat rasa lelah dan mengurangi kepenatan setelah penerbangan selama 5 jam 45 menit dari Denpasar ke Melbourne, dilanjutkan 90 menit proses keluar bandara. Tentu itu membutuhkan stamina dan kesabaran, apalagi penyesuaian waktu dengan perbedaan lebih cepat 4 jam di banding di indonesia, perlu juga kekuatan lahir bathin menghadapinya.

“I need a mood bosster” teriakan halus dalam hati semakin menguat dan membahana hingga menyentuh amigdala. Maka tubuh segera bergerak ke kamar mandi hotel dan membersihkan diri menjadi sebuah kewajiban. Segar terasa disaat butiran air di shower menyentuh kulit di badan ini.

Tidak ada waktu untuk jetlag karena siang hari nanti langsung dihadapkan dengan agenda pertemuan perdana bersama pihak Melbourne Sympony  Orchestra. Semangat kawan. Mandi lalu bongkar koper dan ganti baju serta bersiap untuk menghadapi kenyataan serta bersyukur bisa menginjakkan kaki ini di benua australia.

Longblack & Chicken Salad / Dokpri.

Turun dari lift hotel langsung menuju ke loby dan bergegas belok kiri menuju sebuah cafe yang bernama Golden Mug’s cafe. Kebetulan relatif sepi sehingga bisa memilih tempat duduk sesukanya.

Disinilah sebuah percakapan awal tentang kopi dimulai, meskipun dengan bahasa inggris terbata-bata tetapi dengan kepercayaan tinggi bahwa kemampuan penguasaan bahasa kita lebih baik, maka semua jadi baik – baik saja.
“Maksudnya bahasa inggris kamu lebih baik?

Bukan begitu persfektifnya kawan, tapi begini. Mereka fasih sekali bahasa inggris tetapi hanya satu bahasa yang dikuasai sementara kita rata-rata menguasai 3 bahasa

Longblack & Air Mineral / Dokpri.

Bahasa apa saja?” Berondongan pertanyaan datang begitu gencar.

Kalem bro, kita bisa bahasa inggris terbata-bata, bahasa Indonesia dan bahasa sunda atau bahasa daerah lainnya”

Rekanku terdiam dan tersenyum, lalu mengangguk sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatal. Tapi pada prinsipnya setuju dengan pendapatku.

Americano medium Sir”

Wajah pelayannya agak menegang dan menjawab, “We dont have Americano, only Longblack!” Tegas banget.

Sarapan yuk / Dokpri

Olala, otak langsung loading dan ingat bahwa ini australia, americano mah di amerika, lha wong namanya juga america + no.

Oke, medium longblack and chicken salad”

Baru tuh bule tersenyum dan melanjutkan pelayanan sambil menghitung harga hingga muncul angka 24.8 Aud atau sekitar Rp. 267.840.. lumayan mahal juga untuk ngopi dan sarapan. Kalau kopinya saja ukuran medium itu 5 dolar australia (Rp. 54.000).

Tapi karena ini judulnya adalah pengalaman, ya ditebak saja harga segitu. Asal jangan tiap hari, bisa jebol keuangan atuh.

Urusan rasa tidak ada yang istimewa karena longblack itu adalah sajian kopi espresso yang dicampur dengan segelas air panas sehingga secara volume lebih banyak. Hanya model pembuatannya saja yang dibalik jika dibandingkan kopi americano. Kalau americano diawali dengan menuangkan double shot espresso baru dikucurkan air sementara longblack sebaliknya.

Sisa sisa / Dokpri.

Srupuuut…… nikmat guys. Bukan rasa kopinya tetapi suasana dan perjuangan hingga sampai ke tempat ini termasuk kesempatan langka yang patut disyukuri. Lalu hadirnya chicken salad adalah sarapan perdana di negeri kangguru karena sejak turun dari Qantas Airlines tadi pagi belum masuk sedikitpun makanan di perut ini.

Nyam nyam
Srupuuut….

Piring berisi chicken salad sudah tandas begitupun disusul dengan kosongnya cangkir yang berisi longblack ukuran medium.

Sarapan pagi yang penuh arti dan ngopi hitam tanpa gula pertama di negeri orang. Wassalam (AKW).

Americano Cocorico

Menikmati Sajian Americano Cocorico dan kawannya.

DAGO, akwnulis.com. Senin pagi identik dengan pelaksanaan apel pagi tentunya. Sebuah aktifitas rutin yang sekaligus dinilai sebagai salah satu komitmen kedisiplinan sebagai aparatur sipil negara. Maka ketepatan waktu hadir di kantor atau sebaiknya datang lebih awal menjadi sangat penting untuk mempersiapkan berbagai kemungkinan, karena posisi sebagai peserta apel bisa seketika berubah menjadi pembina apel pagi.

Tuntas apel pagi maka bersiap dengan segala kesibukan seminggu ke depan yang diawali oleh rapim (rapat pimpinan) atau tugas lain yang mengharuskan hadir mewakili pimpinan sekaligus menyampaikan kata – kata sambutan. Begitupun kali ini, tugas disampaikan dan setelah briefing internal segera berangkat menuju lokasi acara di daerah dago atas.

Ternyata disinilah kembali bersua dengan kohitala, si kopi hitam tanpa gula. Alhamdulillah. Teman – teman panitia gercep dan langsung menyajikan di meja tempat para tamu undangan. Langsung disambut dan tentunya baca Basmalah baru di sruput.

..ups, sedikit terdiam, ternyata panitia yang membuatnya adalah kopi standar, maksudnya kopi hitam dan masih diberi gula. Terasa begitu manis tetapi bukan itu yang diharapkan. Manis ini yang menghilangkan makna rasa dari perkopian. Tapi demi sebuah penghargaan karena telah disajikan, sruput lagi sekali dan sudah. Manisnya begitu memabukkan seperti manisnya kamu huhuy.

Sesi sambutan telah berlalu diteruskan diskusi dan basa basi hingga tiba akhirnya jam istirahat dan bergeser dari tempat acara ke tempat makan siang. Disinilah pertemuan dengan kohitala yang sebenarnya yaitu ‘Americano Cocorico’. “Keren khan namanya?”

Sajian Americano Cocorico ini adalah segelas kopi hitam tanpa gula yang hadir dari sajian doubleshot espresso ditambah air panas sehingga menjadi secangkir besar penuh krema dan makna. Cocoriconya adalah nama cafenya. Sebuah cafe yang mengembalikan kenangan masa kecil karena namanya adalah nama sebuah permen terkenal bagi anak sembilan puluhan. Permen gula berbungkus coklat dan cukup awet diemut dimulut karena keras dan padat.

Melengkapi makna cocorico ini tentu perlu juga ditanyakan kepada managernya yang kebetulan berada di tempat. Makna cocorico itu katanya berasal dari bahasa itali yang berarti ayam berkokok di pagi hari… otak langsung muter, jangan – jangan suara ayam berkokok kita kedengeran sama orang itali bukan ‘kongkorongok’ tapi ‘koo korikoo’ .. ah aya aya wae.

Sang manager melanjutkan, secara makna memiliki arti mendalam yaitu untuk meraih rejeki yang banyak dan berkah maka harus bangun dan berihtiar sepagi mungkin diawali dengan kokok ayam cocorico, begitu katanya kawan.

Sekarang saatnya menikmati sajian Americano Cocoriconya tentu dengan sruputan pertama dan sruputan selanjutnya. Body boldnya hadir memanjakan indra perasa, acidity jelas less begitupun aftertaste, tapi sentuhan kremanya memberikan sensasi berbeda. Selamat ngopay hari ini. Wassalam (AKW).

NGOPI DI SITU CIBURUY

Menikmati Kopi sambil menyeruput harapan di Situ Ciburuy.

KBB, akwnulis.com. Siang baru beringsut sedikit menuju sore pada saat raga ini tertegun dijegal oleh kemacetan lalulintas di daerah Tagog Apu Padalarang. Penyebabnya biasa tidak jelas tetapi macet tetap terjadi,  kali ini disebabkan oleh terjerembabnya truk besar pengangkut batu karena roda asnya patah, mungkin akibat kelelahan. Maka macet mengular cukup panjang. Kami yang terjebak kemacetan memutuskan untuk turun dari kendaraan dan memunggu sesaat disebrang jalan sambil menikmati pemandangan alam di sebuah danau yaitu Situ Ciburuy.

Berjalan bersemangat menuju danau kecil ini yang sudah ditata oleh pemerintah provinsi jabar serta segera diresmikan oleh gubernur jawa barat dalam waktu dekat. Duh maaf diksinya lebay, sudah jelas kalau segera itu ya dalam waktu ďekat hehehe.

Nah sebenernya tujuan datang kesini sambil memanfaatkan waktu macet adalah untuk sekedar berjalan santai menyusuŕi boulevar dan berhenti di satu kios atau warung yang menyediakan kopi panas. Tapi rencana dan kenyataan bisa berbeda, seiring adagium besar yaitu manusia merencanakan dan tuhanlah yang menentukan.

Rencana hanya menyeruput kopi ternyata berlanjut dengan menikmati keindahan danau situ ciburuy ini menggunakan perahu milik mang Alo yang berkelir merah menyala dan cukup besar untuk ditumpangi berempat saja.

Kopi tetap dipesan yaitu kopi kapal api dengan gelas plastik standar, tapi meminumnya di perahu yang bergerak mengelilingi Situ Ciburuy ini. Begitu nikmatbdan menyenangkan kawan, perpaduan rasa kopi yang masuk ke mulut ditemani suara motor diesel perahu serta suara angin dan riak air yang tersibak oleh perahu merah ini…. srupuuut.

Tak hanya berkeliling dengan perahu saja, tetapi kita berhenti sejenak di tengah danau yang terdapat rumah makan serta area bermain. Ada juga bekas kolam renang yang tidk digunakan karena bocor dan kesulitan pemeliharaannya, itu kata pengelolanya yang bernama Mang Ayi. Tempatnya agak temaram, tetapi cukup lumayan jika digunakan untuk kumpul-kumpul gathering atau malah rapat. Karena bisa konsentrasi disini dan nggak bisa kabur kemana-mana karena sekelilingnya adalah air danau.

Dengan biaya per orang Rp 30.000,- maka perjalanan ini bisa terwujud ditambah segelas plastik kopi tubruk yang tak lebih dari Rp 5.000,- telah mewujudkan momentum ngopi yang berbeda. Maka kembali tasyakur binnikmah menjadi utama, karena kesempatan sehat dan waktu luang ini adalah sebuah rejeki dari Allah Sang Maha Kuasa.

Hayu ah kembali ke urusan kemacetan dan melanjutkan perjalanan sesuai rencana semula. Yang pasti suasana hati dan pikiran menjadi lebih segar dengan healing colongan sore ini. Lets go. Wassalam. (AKW).

Ngopi di Lombok

Kembali ke sini, sambil ngopi.

LOMBOK, akwnulis.com. Deburan ombak menyapa karang menyajikan harmoni musik alam yang menenangkan. Meskipun tahu bahwa kedalaman lautan bisa menjadi ancaman, tetapi suasana damai yang tercipta adalah keberkahan. Begitupun di siang yang menyenangkan ini. Setelah menempuh perjalanan dari Kota Mataram melewati jalan bypass yang lurus dan lebar, maka waktu tempuh 45 menitpun terasa hanya sesaat saja, karena dimanjakan oleh dengkuran manja yang tak tertahankan.

Oalah kirain nggak kerasa waktu perjalanan karena menikmati suasana yang dilewati sehingga waktu tak terasa, eh ternyata tidur toh”

Hahahaha, santai bro. Tidur itu sebuah berkah dan gratis pula. Jadi menikmati perjalanan dengan terbuai mimpi khan tidak ada salahnya. Lagian memang nikmat kok.

Akhirnya setelah 7 tahun berlalu, raga ini bisa kembali menyentuh batu karang dan merasakan semangat kebanggaan dari pantai mandalika lombok ini. Meskipun sekarang tidak kekejar kalau harus mendaku bukit di sekitar tanjung Aan lalu mencari jejak nyale di pantai. Tapi minimal beberapa momentum bermain di pantai bisa dilaksanakan.

Ini salah satu tulisanku SI KECIL & TANJUNG AAN.

Apalagi saat ini kehadiran disini tidak hanya raga saja tetapi segenap jiwa hadir menemani sebuah kata yaitu ‘kopi’ yang menjafi nafas dari berbagai tulisan di blog ini. Apalagi memang kopi yang tersaji sudah melewati perjalanan panjang nan jauh termasuk mengangkasa membelah awan yang terkadang kurang bersahabat diatas sana.

Lalu jangan lupa, dikala kopi sudah tertuang di gelas kaca diatas batu karang di pantai mandalika. Ucap doa dan rasa syukur menjadi utama juga posisi duduk pas minum adalah sesuai tuntunan agama.

Srupuuut nikmat dan berkah.

Sebagai pelengkap dalam urusan ngopay dan ngopay ini maka setelah puas dengan mngopay di pantay eh pantai, maka dilanjutkan dengan hunting sajian kopi hitam tanpa gula di sekitar pantai ini. Ternyata ada sebuah cafe kecil namanya Lan Yan Kitchen meskipun sajian kopinya bukan seduh manual tetap berbasis mesin. Ya minimal ada rasa kopi hitam on site yang bisa dinikmati. Langsung saja order americano ala mandalikano.

Lumayan bisa melengkapi rasa tentang kohitala di pulau sumbawa. Salam ngopaaay. Wassalam (AKW).

LOTÈNG – fbs

Celotèh singkat, cerita semalam (fiksi bhs sunda)

CIMAHI, akwnulis.com. Setelah berjibaku dengan kesibukan sehari-hari yang seolah tiada henti, maka ada saatnya untuk sejenak rehat dan menarik nafas serta menjauh dari riuh kesibukan. Meskipun hanya sesaat tapi bisa menghasilkan sesuatu yang tidak hanya tersirat namun tersurat.

Menulis singkat menjadi obat dalam mengurangi rasa penat. Lebih spesifik lagi dengan genre cerita fiksi berbahasa daerah yang secara idealis berbicara tentang kata pelestarian dan semoga bahasa daerah tetap abadi.

Selamat menikmati :

FIKMIN # LOTÈNG #

Teu pira pèdah tadi beurang ngahèotan Nyi Acah basa ngaliwat di buruan. Jikan samutut timburuan, biwir baketut bari jubras jebris. Dahareun beurang leungit tina mèja, ukur cai hèrang sabekong.

Teu loba carita da rumasa boga dosa, nguliwed ka tukang nèang gobang,  rèk dipakè nuar tangkal nu geus nampeu kana kandang hayam.

Nepi ka adzan magrib, pamajikan angger samutut bari miceun beungeut mun pasalia. Rungsing.

Bada isya Jikan nyalukan, “Kadieu Bah”
Teu talangkè tuluy dideukeutan.

Candak kampuh di lomari lotèng”

Mangga geulis” Asa atoh Jikan geus nitah deui.

Nètè tètècèan asa bèda rarasaan, komo pas geus tepi ka loteng, poèk meredong. Hapè dihurungkeun lampuna. Klik.

Gebeg tèh, gigireun kampuh ngajentul nu cawigwig baju bodas.

Geus ulah ganggu, dihandap leuwih pikasieuneun”

Nu cawigwig diliwat, kampuh dibawa. Nyi Kunti ngahuleng teu puguh rasa. Bah Gugun turun muru ka Jikan. Nyi Kunti carinakdak, ngiles lalaunan.

***

Catatan :
Mungkin ada kalimat dan kata yang sulit dicerna, itulah saatnya membuat tanya dan hadirkan di kolom komentar yang tersedia.

Bisa juga ditanyakan dikala jumpa, ditemani secangkir kopi untuk meraih bahagia. Wassalam (AKW).

KOPI & KANTUK – 2K

Apakah berhubungan antara ngantuk dan ngopi?…

BANDUNG, akwnulis.com. Ada sebuah kebiasaan bahwa dianjurkan minum kopi agar tidak memgantuk dan ini di-iyakan oleh mayoritas khalayak masyarakat, begitupun penulis. Tetapi seiring waktu tentu bertambah informasi dan dilengkapi berbagai pengalaman pribadi bersentuhan dengan sajian cairan hitam bernama kopi. Ternyata banyak ragam dan kegunaan yang berkaitan dengan urusan kantuk mengantuk ini.

Pengalaman pribadi bersama kopi khususnya dalam 4 tahun belakangan ini fokus untuk menikmati kopi secara esensi, hakiki dan philosopi dengan pilhannya adalah menikmati kopi tanpa bahan campuran lainnya dan membuat istilah sendiri yaitu KOHITALA (Kopi hitam tanpa gula). Sebuah istilah yang diciptakan menjadi komitmen diri agar menjaga prinsip ini, baik dari pemilihan biji hingga pemprosesan dengan grinder lalu penyeduhan manual hingga akhirnya dinikmati.

Oh iya, penulis bukan sebagai pengopi sejati yang sudah mampu memahami dari hulu hingga hilir. Tetapi hanya sebagai bagian dari pecinta citarasa kopi yang diawali dari bean hasil roastingnya. Nah kalau dari mulai memilih bibit, mempersiapkan lahan, menanam dan merawatnya, lalu memanen hingga berproses menjadi greenbean, itu adalah perjuangan luar biasa dari para petani kopi… Bravo para petani kopi.

Hingga akhirnya greenbean ini tiba di mesin roasting baik milik petani, milik pihak lain, pihak ketiga, keempat dan kelima hinga packaging yang biasa, unik atau aneh sekalipun. Nah disini penulis ikut melanjutkan sebagian kisah kopi ini sebagai pecinta kopi atau tepatnya penikmat kopi.

Jadi dari mulai bean hasil roastingnya disitulah raga ini bersama. Memproses yang paling rutin tentu dengan manual brew V60 dan sesekali flat bottom serta tidak alergi juga kalau diproses dengan model kopi tubruk biasa.. no problem. Jika tidak bisa mendapatkan kopi seduh manual maka pilihannya adalah mesin kopi dan hadirlah espresso, americano, longblack dan dopio. Sesekali cappucino, latte, dan afogato, jikalau terpaksa.

Dari perjalanan inilah dirasakan bahwa menikmati kopi dengan hadirnya kantuk itu berbeda. Karena tidak semua kopi mengandung kafein tinggi, seperti kopi jenis robusta. Kebetulan saya kurang menyukai jenis kopi robusta yang memiliki rasa pahit saja tanpa bisa dipilah acidity dan after tastenya, hanya body atau kepahitan saja yang hadir sehngga lebih cocok dicampur dengan gula, susu, krimer, sirup dan sebagainya.

Jadi kalau malam menjelang sekitar jam 23.00 wib, grinder dulu bean kopi arabica lalu diseduh dengan manual brew V60. Duduk sejenak sambil menikmati keheningan dan menyeruput kopi buatan sendiri, lalu minum air putih dan gosok gigi. Beranjak ke tempat tidur dan terlelap hingga pagi menjelang. Sesekali juga terbangun jam 01.00 dini hari. Langsung seduh kopi, sruput dan bobo lagi hehehehehe. Jadi bagi penulis kopi hitam tanpa gula justru menjadi kawan akrab dalam kengantukan.

Pas ngebahas urusan ngantuk, jadi inget tulisannya Om Winter ( W. Christ Winter, MD) di buku yang berjudul The Sleep Solution. Dibahas tuntas tentang ngantuk dan nikmatnya tidur itu berdasarkan kajian-kajian dan penelitian akademik. Termasuk perbedaan dari ngantuk dengan kelelahan. Biasanya kita tidak peduli dengan perbedaan ini, padahal kelelahan itu berbeda. Ngantuk hanya indikator awal, sementara kelelahan termasuk dengan depresi, kekurangan vitamin serta perlu penanganan komprehensif tidak sekedar mengganti dengan waktu tidur saja.

Bentar ya….  supaya nulisnya lebih semangat maka sruput dulu kopi manual brew yang sudah disiapkan dari tadi oleh sang Barista dari T-box Tea Coffee & Bakery. Kopi arabica Bali Mt. Batukaru natural menemani sore yang menyenangkan ini, menambah inspirasi untuk kembali menulis sebagai ‘pelarian hakiki’ dari segala kesibukan yang mendera dari hari ke hari.

Kembali ke buku tadi, ternyata tidur itu terbagi menjadi beberapa fase. Pertama adalah fase tidur ringan yang ditandai dengan kondisi tidur namun masih bisa mendengarkan aktifitas sekeliling serta mudah untuk terbangun, fase ini berkisar di 5% hingga 50% tidur kita. Fase kedua adalah tidur nyenyak, kondisi inilah yang mampu memulihkan kelelahan termasuk fungsi faal tubuh yang telah diforsir sepanjang hari dengan porsi rata-rata 25%.

Fase terakhir adalah tidur REM (rapid eye movement) atau fase tidur dengan gerak mata cepat. Fase ini disebut juga tidur mimpi, dan menyumbangkan rata-rata 25% dari tidur kita. Dari ketiga fase ini dapat dipahami bahwa tidur yang tepat akan menjaga ritme siklus sirkadian kita tetap stabil dan menjaga keseimbangan emosional, hormonal dan kondisi tubuh untuk segar kembali dalam menjalani aktifitas di pagi hari.

Nah, bagi yang senang begadang dengan minum kopi yang berkafein tinggi khususnya jenis robusta maka harus juga berhati-hati karena dalam jangka panjang beresiko menimbulkan ketidakseimbangan metabolisme, hormonal hingga emosional. Disini penulis bersyukur bahwa menikmati kopinya adalah jenis kopi yang rendah kafein dan masih begitu mudah untuk mengantuk jika memang sudah menjelang malam. Trus kalau mau ngopi dengan base-nya arabica khususnya kopi mesin seperti espresso, americano dan longblack, nikmatilah siang hari sehingga efek kafeinnya tidak mengganggu jam tidur kita.

Jadi catatan pentingnya adalah :
– Jika mengantuk segera mempersiapkan diri untuk tidur karena obat ngantuk itu tidur hehehe.
– menikmati kopi yang berkafein tinggi, disarankan pagi, siang atau sore hari sehingga tidak mengganggu siklus ngantuk dan tidur kita.
– Jika memang perlu begadang sesekali, kopi dengan bean robusta menjadi pilihan utama.
– kohitala manual brew dengan bean arabica relatif aman dinikmati kapanpun dengan syarat tanpa tambahan apapun baik gula, susu, krimer, sirup dan sebagainya.

Itu dulu ya celoteh kopi kali ini, yang penting kira syukuri kesempatan ngopi juga saat berharga bisa sruput kopi apalagi diproses dengan biji pilihan dan dikerjakan sendiri atau bantuan barista hingga akhirnya disruput sendiri. Happy weekend kawan, Wassalam (AKW).

Kopi Spesial Pangersa Cilame.

Menikmati kopi spesial winewine

SOREANG, akwnulis.com. Sebuah perjalanan kali ini cukup menantang karena ternyata meskipun dekat dari kota bandung apalagi setelah ada akses jalan tol soroja, maka durasi tempuh semakin singkat. Ya sedikit tersendat di jalan layang paspati adalah hal biasa, tetapi terbayarkan dengan kelancaran dikala memasuki pintu tol pasteur hingga keluar pintu tol soreang.

Dari pintu tol soreang perjalanan dilanjutkan menuju arah ciwidey dengan kondisi lalulintas cukup padat tapi lancar atau istilahnya RAMLAN (ramai lancar). Tepat di daerah Cilame, maka ambil jalur kanan dan tantangan dimulai. Jalan cukup sempit serta kondisi mulus – mulus berbatu, turun menikung seperti menuju dasar bumi lalu berkelok menanjang tiada henti dengan samping kiri adalah terbuka. Menyusuri lereng bukit yang memiliki pemandangan menyegarkan namun harus ekstra hati-hati mengemudi karena kemungkinan perewis eh pasalingsingan… berpapasan maksudnya dengan kendaraan berlawanan maka perlu perlahan atau bergantian karena kondisi jalan yang lebarnya pas pasan, kanan tebih dan kiri jurang. Wow pokonya mah.

Sebelum berangkat dan memenuhi undangan ke tempat ini sempat nggak nyadar bahwa lokasinya di daerah kecamatan Kutawaringin Kabupaten Bandung. Karena yang penulis ketahui bahwa daerah Cilame itu di sekitar padalarang perbatasan antara Kabupatun Bandung Barat dan Kota Cimahi, eh ternyata salah. Ini daerah Cilame yang berada di Kabupaten Bandung tepatnya di Kecamatan Kutawaringin dan melewati dulu daerah kecamatan Soreang.

Pendakian terus berlanjut, mobil meliuk melahap belokan dan tanjakan yang seolah tak berakhir. Tapi tenang kawan, semua pasti ada akhirnya. Jadi jalani saja dan gas terus, eh gabung sama injak rem yaa.. kombinasi gerakan kaki serta kedua tangan mengendalikan kemudi adalah sinergi dari pengemudi adalah sebuah keahlian yang dinamakan ‘bisa ngopir.’

Betul juga, akhirnya kondisi jalan agak melandai dan tiba di lokasi, sebuah bangunan permanen yang berdiri megah disamping bukit dengan pemandangan alam ciamik. Pemilik rumah atau villa inilah yang mengundang kehadiran kami dan memberikan suguhan spesial. Sajian kopi super spesial yang sementara tanpa label resmi. Biji kopi yang dihasilkan setelah diproses dan diroasting hingga siap digrinder diberi label KOPI PANGERSA. Tetapi yang disajikan ini berbeda, sebuah cairan bening kecoklathitaman yang memiliki keharuman cukup tajam.

Ini kopi apa namanya Abah?”

Kami memanggil sang pemilik villa dengan sebutan Abah, panggilan khusus kepada beliau.

Jangan banyak komentar, ayo cicipi dulu” Abah menjawab sambil tersenyum dan menuangkan sajian kopi super spesial ini ke gelas – gelas kecil untuk segera dinikmati bersama.

Wah keharumannya begitu semerbak, lalu tak pake lama disruput bersama. Mata terbelalak sedikit tak percaya, karena rasa kopinya luar biasa. Ada rasa wine yang mencengangkan (dalam makna sebenarnya) eh malah lebih wine serta keasaman tingkat dewa serta rasa manis yang mengigit plus begitu hangat menyapa rongga mulut, makin penasaran tentang cairan kopi apa ini.

Enak pisan, kopi apa ini Bah?”

Ini belum dikasih nama, tapi hasil experiment abah dengan melakukan fermentasi sederhana dari cairan kopi yang diproses serta disimpan selama kurang lebih 4 bulan lamanya”

Euleuh…. kembali mata terbelalak, kaget disaat mendengarkan tentang proses pembuatannya. Ternyata begitu sulit dan lama, tapi memang setimpal dengan rasa yang ada.

Betapa prosesnya betul – betul harus telaten dan dilakukan seseorang yang memiliki jiwa seni. Karena mulai dari proses awal memanen biji mentah kopi atau ceri. Dipilah dan dipilih dengan cara memasukan ke kolam, lalu yang mngambang dibuang dan biji yang terpilih yang lanjutkan proses penjemuran eh pengeringan. Proses penjemuran juga kembali disortir dengan kasat mata melihat ukuran dan dites kembali dengan merendam di air lalu dijemur kembali hingga memenuhi standar yang diharapkan.

Barulah memasuki tahapan roasting dan dihasilkan biji sempurna siap dilakukan penggrinderan (penggilingan) dengan mode giling kasar lalu dilakukan penyeduhan manual menggunakan corong dan filter V60 untuk mendapatkan cairan kopi yang akan menghadirkan kenikmatan. Ternyata proses berlanjut, kumpulan seduhan manual brew V60 ini dilakukan proses fermentasi yang tentunya perlu trial and error berulang kali hingga akhirnya didiamkan pada suhu kamar selama murang lebih 4 bulan lamanya.

Proses penyulingan dalam fermentasi ini tidak dijelaskan detail oleh Abah, tetapi kemungkinan tingkat kerumitan dan kesabarannya itu yang menjadi dasarnya. Ini perlu seni, ketelitian, ketelatenan dan jelas modal karena biji kopinyapun terbaik, prosesnya panjang serta alat fermentasi dan penyulingan yang customize. Maka cara terbaik adalah bersyukur dan berterima kasih karena mendapatkan kesempatan langka bisa menikmati sajian kopi yang luar biasa.

Perjalanan pendakian dan liukan tajam tanjakan telah terbayarkan dengan sajian kopi ‘ajaib’ yang menghangatkan badan serta mempererat silaturahmi plus keakraban perbincangan sore hari ini. Sambil bersendagurau, memandang hamparan daerah kabupaten bandung serta tidak lupa ikut menyumbangkan lagu (maksudnya mencoba bernyanyi ternyata yang keluar suaranya sumbang hehehehe) karena hadir juga grup band yang sedang berlatih di basement villa ini. Oh ya sekaligus informasi bahwa Abah ini selain ahli meracik kopi spesial juga drummer handal yang begitu memukau.

Begitulah celotehan dan pertemuan dengan sajian kopi spesial kali ini. Sekarang harus pamit karena mentari mulai beranjak ke peraduan, sehingga perjalanan menuruni bukit perlu lebih hati-hati karena licin dan berkabut. Tapi rasa kopi spesial cilame ini terus membayangi, tapi tetep harus pulang. Hayu ah, go. Wassalam (AKW).

Jalan kaki – Ngopi – Hepi.

Cerita kerja, jalan dan ngopi lalu kerja lagi.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah perhelatan sedang berlangsung di Artha kiara park Kota Bandung yang bertajuk GPM (Gelar pangan murah) dalam rangka hari pangan sedunia tahun 2022. Sebuah acara yang dihadiri atas nama tugas kedinasan, tentu disambut dengan suka cita, hadiiir.

Waw, kok begitu semangat, ada apa?”

Seorang kawan melihat antusiasme yang tidak biasa juga gestur tubuh yang berbeda. Padahal khan memang hadirnya rasa senang itu anugerah Illahi. Bisa hadir dalam segala suasana juga dalam konteks berbeda-beda. Jawaban ter-universal adalah hadirkan sebuah senyuman sempurna tanpa perlu banyak kata. Sementara itu cukup kawan.

Hayu berangkat” Teriakan singkat yang langsung menggerakkan raga ini melyncur ke lokasi acara dari kantor menggunakan kendaraan menuju TKP (Tempat Kegiatan Perlangsung).

Tiba di acara langsung berbaur saja, isi absen, mencari tempat duduk dan menyapa para tamu undangan yang berdekatan. Oh ya tak lhpa menggunakan kaos dari panitia namun dilengkapi rompi sebagai bagian dari ihtiar menyamarkan perut yang tercetak pas karena ukuran kaosnya 1 nomor dibawah seharusnya.

Tuntas acara, saatnya me time. Sederhana kok cuma jalan kaki mengelilingi area kiara artha park sambil sesekali menengok jam di pergelangan tangan, terutama melihat jumlah langkah kaki yang sudah dilaksanakan. Tentu target hariannya simpel kok, cukup minimal 6.000 langkah saja. Lumayan 3 keliling sudah dilakukan. Tapi ternyata baru 2.895 langkah saja.

Maka jalan kaki siang ini harus dilanjutkan, apalagi pas diskusi dengan emak-emak pengawal hari ini ternyata siap mengikuti challenge ini yaitu jalan kaki dari area artha kiara park ke kantor sejauh 2 kilometer dan bisa ditempuh selama 26 menit kata google map, hayu berangkat…

Maka dengan formasi jajaran genjang kami berempat bergerak menyusuri jalan kiara condong – jalan jakarta dengan model pengamanan ketat. Di depan ibu Erna ‘ngagidig’ samping kanan nutup jalan ada amih Yeti yang gesit berjalan sambil mengawasi lalu lintas sementara di belakang sebagai tim penyapu ada bu Poppy yang selalu waspada dengan mata tajam dan layar smartphonya untuk merekam gerakan – gerakan dan fenomena dijalan untuk diunggah pada akun tiktok pribadinya. Wah pokoknya serasa pejabat yang dikawal tiga prajurit senior hehehehe…

Nah setelah dari terusan jalan jakarta ada keinginan naik flyover yang membelah jalan ahmad yani tapi ternyata bukan untuk pejalan kaki, itu khusus kendaraan. Maka rute diubah menuju jalan sukabumi lalu belok kanan memasuki jalan cianjur lalu berjalan teruus dan teruuus hingga mentok di jalan laswi. Ternyata adzan dhuhur berkumandang, Alhamdulillah saatnya Ishoma. Rehat sejenak dari pekerjaan untuk lapor rutin kepada Sang Pencipta dilanjutkan makan siang sambil bercengkerama.

Mumpung sedang diluar kantor, maka pilihannya langsung yang terlihat oleh mata yaitu di kawasan LASWEE creative space. Karena banyak pilihan stand untuk makan juga terlihat cafe kopi yang bisa menenangkan hati plus mushola untuk ibadah dhuhur sebagai janji hakiki.

Makan siang lengkap dengan ibu – ibu yang tetap semangat meskipun bersimbah keringat karena jalan kaki tepat di siang hari disusul driver yang mengikuti juga ada anak magang yang menyusul untuk bergabung pada sesi makan siang ini.

Khusus diriku tentu pilihan kopi manual brew dengan filter V60 menjadi menu tersendiri. Namanya cafe STUU kebetulan pas diskusi, nama baristanya sama, andri. Lalu gramasi satu sajiannya 15 gram dengan biji pilihan yang berasal dari pegunungan bandung selatan yaitu arabica natural puntang dengan merk dagang beannya adalah KOZI. Bercampur dalam proses manual brew dengan 250 ml air. Menghasilkan sajian kopi panas tanpa ampas dengan cita rasa yang bikun bengras.

Srupuuut… body mediumnya menyapa lidah dan rongga mulut sementara aciditynya menari menggelitiki langit-langit mulut dengan keasaman yang medium high plus aftertase citrun, tamarin dan beri yang menyegarkan. Nikmat.

Urusan menu makanan sih tidak jauh – jauh dari mulai pilihan baso urat campur, aneka dimsum, pisang goreng hingga tidak lupa nasi putih yang merupakan kewajiban. Karena kalau belum makan nasi berarti belum makan, meskuoun bakso sudah 3 mangkok hahahahaha..

Itulah sejumput cerita perjalanan tugas sehari-hari dibalut dengan kebersamaan dan tentunya menyempatkan diri untuk ngopay meskipun ada sekat jam kerja khususnya jam istirahat siang.

Maka setelah makan minum, ngopay dan shalat dhuhur sudah tertunai dilanjutkan dengan bergerak berjalan kembali meninggalkan area Laswee creative space menuju kantor yang tinggal bergerak lurus, menyebrangi jalan ahmad yani dan tiba di kantor untuk melanjutkan akfifitas siang menuju sore ini. Wassalam (AKW).