Buku PENYINTAS COVID19

Mana cerita covid19mu?….

DAGO, akwnulis.com. Suasana rapat offline di tempat full AC dengan ruangan nyaman mulai kembali dilaksanakan setelah hampir 2 tahun pelaksanaan meeting-meeting itu via layar smartphone, laptop dan infokus dan sangat akrab bersama aplikasi zoom, google meet  cisco webex, whatsapps, skype, slack, Jitsi Meet, Gotomeeting dan sebagainya.

Meskipun tetap rapatnya terbagi antara yang wajib hadir offline dan sisanya hadir online atas nama ‘hybrid meeting’. Yang pasti jaman sudah berubah dalam segala hal setelah kita melewati disrupsi maha dahsyat atas nama penyebaran Virus Covid19 hingga terakhir yang dinamain ‘omicron.’

Mengenang perjuangan, perjalanan, suka duka dan berbagai kejadian yang menyayat hati karena harus kehilangan pasangan hidup, orang tua, saudara, atasan dan kolega, guru, tetangga serta siapapun yang direnggut oleh ganasnya virus ini. Maka sebuah dokumentasi harus menjadi legacy, saksi sejarah atas disrupsi yang terjadi hingga menjadi hikmah bagi kehidupan dan tata nilai baru untuk kemanusiaan.

Secara institusi tentu sudah banyak yang membuat laporan, dokumentasi tertulis dan video plus photo. Juga banyak yang membuat cerita di medsos masing-masing tentang keterpaparan covid19 dari berbagai sudut pandang.

Pertanyaan besarnya, “Anda bikin apa tentang keterpaparan covid19 ini?”

Inilah tantangan yang harus dijawab tanpa perlu banyak bicara hanya untuk memberikan segumpal alasan atas nama kemalasan. Tapi mari kita buat sesuatu yang akan berguna sebagai bukti serta legacy bahwa kita pernah tahu dan ada hikmah dari semua itu.

Klo di Pemprov Jabar, produk dokumentasi resmi sudah berbentuk beberapa buku tebal dan komprehensif yang disusun oleh para pejabat yang kompeten. Tetapi yang versi pribadi ini, kayaknya perlu juga di ekspose ya….

Maka teringat pernah buat sebuah video yang tayang dikanal pribadi setahun lalu, pastinya di platform youtube. Ini linknya, klik aja ya DONOR DARAH PLASMA CONVALESEN,  maafkan kualitas videonya masih rendah, maklum youtuber amatiran (belum) monetize.

Nah dalam bentuk tulisan juga hadir atas prakarsa Mbak Nenny Azkiya, yang mempertemukan kami dengan para penggiat menulis di seantero nusantara. Kami belum pernah bersua, tetapi terasa dekat melalui chat Whatsaps, mungkin besok lusa ada takdir sehingga bisa hadir offline bersama.

Bukunya berjudul PENYINTAS COVID19, adalah kumpulan pengalaman dari 24 penulis yang digabung alias dikeroyok sehingga berbentuk buku ciamik dan menjadi souvenir cantik, mengingatkan diri akan sebuah suka duka dan hikmah dari keterpaparan covid19.

Itulah sejumput catatan dan dokumentasi pribadi tentang covid19, hanya sebutir pasir di padang pasir dokumentasi. Tapi minimal penulis sudah punya suatu kebanggaan bahwa pengalaman hidup sudah tercatat dan bersiap melanjutkan kehidupan dengan optimisme dan kebersamaan. Wassalam (AKW).

BUKU keroyokan ke3

Buku kolaborasi ketigaku..

CIMAHI, akwnulis.com. Ba’da Shalat tarawih terasa hilang kantuk yang tadi begitu erat menggelayut. Ternyata hanya godaan dan tantangan dikala ibadah menjelang. Maka niat tadarus diawali dulu dengan menyeduh manual V60 kopi java preanger wine hasil minggu lalu silaturahmi ke garut.

Nah, pas menuju ruang kerja eh atau gudang kerja ya?… maklum berantakan dan penuh barang-barang. Tiba-tiba mata tertuju pada sebuah buku, bersampul putih dan biru. Judulnya ‘PENTIGRAF, Pesan Bersayap”

Reflek diambil dan dibuka halaman – halamannya, menarik segera memori dua tahun lalu dari otak untuk kembali hadir dan sebuah proses awal nulis bersama kembali hadir.

Meskipun hanya 2 judul yang hadir di buku ini, namun itulah makna kontribusi. Sedikitpn tetap menjadi bagian dalam melengkapi hadirnya buku ‘keroyokan’ ini.

Berarti ini adalah buku keroyokanku yang ketiga. Pertama adalah buku 888 Quote Kebajikan trus  yang kedua buku AJUDAN karya pak Dr. Iip Hidayat dan di tahun 2020 buku Pesan Bersayap ini hadir, wow 2 tahun lalu.

Buku PENTIGRAF Pesan Bersayap ini adalah kumpulan cerita – cerita singkat yang tuntas dalam satu jalinan cerita yang ‘berusaha’ menghadirkan plot twist di akhir cerita. 2 judul penfigrafku hadir disini dengan tema misteri atau urban legend, jadi yang penakut bolh baca di pagi atau siang hari hehehehe….

Gitu aja ah, Alhamdulillah. Wassalam (AKW).

Kopi Luwak Liar Java Preanger – Cipanas Garut

Merasakan citarasa liar dari kohitala.

GARUT, akwnulis.com. Catatanku kali ini tetap berkutat di seputar pengalaman ngopay (ngopi) yang dilakukan di bulan ramadhan 1443 hijriyah ini, tentu dilakukan pasca kumandang adzan magrib menggema dan prosesi pembatalan puasa terlaksana di meeting area Hotel Harmoni. Nah berbuka puasa tetap dengan air putih dan potongan buah-buahan yang ada dilengkapi sedikit cemilan siomay dan burayot yang menjadi kue khas di garut ini.

Setelah tuntas pembatalan puasa, shalat magrib dan akhirnya memastikan acara resmi tuntas. Saatnya berburu kenikmatan ngopay di garut ini, tepatnya di kawasan Cipanas.

Tadinya ada ide untuk berendam, khan cipanas adalah daerah yang kaya air panas alami yang berasal dari gunung….  Tetapi dengan waktu yang terbatas dan harus kembali ke bandung untuk dan atas nama keluarga serta bejibunnya tugas dinas, maka aktifitas berendam air panas di tunda menunggu saat yang pas.

Meluncurlah ke sebuah tempat ngopay yang difasilitasi bos Yudi dan rengrengan, nuhun pisan. Nama tempatnya RM Saung Pananjung Cipanas Garut.

Menu makanannya bervariasi dan tempatnya nyaman, tetapi konsentrasinya adalah ke ujung kiri pas pintu masuk, dimana pojokan ini adalah markas sang barista meracik kopi dan ditemani peralatan manual brew plus mesin dilengkapi jajaran bean siap diproses. Beannya cukup lengkap dari wine, natural, honey gunung papandayan serta kopi luwak dengan pilihan luwak liar dan luwak penangkaran.

Pesan V60 bean luwak liar ya kang”
Mangga kang”

Maka tanpa berlama-lama, sajian V60 manual brew berproses dan tersaji. Disajikan langsung oleh sang barista, kang Rasid.

Sebuah sajian kopi manual brew dengan beannya yang spesial dihargai 45 ribu rupiah, lebih mahal 5 ribu rupiah dari kopi luwak penangkaran. Tepatnya beannya adalah Kopi Luwak Liar Java Preanger (KLLJV)

Sebuah cerita dari sang Barista, membahas tentang asal muasal kopi yang baru saja dinikmati yaitu kopi luwak liar dari hutan sekitar gunung papandayan.

Katanya proses pengumpulan bean kopi ini dikumpulkan oleh petani dari ceceran kotoran luwak liar yang berada di sekitar hutan di gunung papandayan. Nggak kebayang bagaimana mulungannya (mengumpulkannya)… tapi penulis berusaha percayai bahwa proses itu terjadi, mungkin besok lusa pengen juga ikutan kukurusukan ke hutan merasakan betapa sulitnya melakukan pengumpulan kopi dari (maaf)… keluar dari pantat binatang luwak ini.

Udah ah, sekarang saatnya menikmati sajian kohitala spesial ini, bismillah.

Rasanya enak dan berbeda, ada kepahitan diujung lidah yang meyertai sebuah body medium dan acidity menengah yang mudah dirasakan tanpa perlu terkaget oleh rasa asam yang berat. After tastenya agak sulit didefinisikan karena terasa banyak campurannya, tetapi yang cukup menarik adalah selarik rasa manis hadir ditengah kepahitan yang mendera.

Itulah salah satu cerita singkat ngopay di ramadhan tahun 2022 ini, pertemuan singkat namun bermakna. Tidak bisa berlama-lama karena tarawih dan witir sudah menunggu untuk segera terlaksana. Oh ya disini juga tersaji steak domba dan domba bakar yang juga miliki kenikmatan sensasi rasa berbeda.

Sekali lagi hatur nuhun fasilitasinya Bos Yudi serta ditemeni Ezi, jangan bosen ya. Srupuut.. Wassalam. (AKW).

***

Lokasi : RM Saung Pananjung, No 509 Tanjung, Jl. Raya Cipanas Pananjung Kabupaten Garut. Provinsi Jawa Barat 44151.

BERPISAH

Alhamdulillah, Akhirnya terbebas sudah..

KOPO, akwnulis.com. Perjalanan pagi sedikit berdebar mengingat akan ada keputusan besar yang ditentukan berdasarkan kondisinya, dilengkapi standar keilmuan dan pengalaman yang mumpuni. Tapi tetap terselip rasa khawatir andaikan putusan yang hadir jauh dari keinginan dan harapan. Namun itulah makna kehidupan, dimana harapan dan kenyataan tidak selalu seiring sejalan. Minimal adalah kita senantiasa tidak kehilangan harapan, berikhtiar optimis dalam segala hal.

Diawali dengan registerasi lalu antri untuk mendapatkan tindakan dan perhatian, diskusi santaipun berjalan dengan terapis yang bermasker double sebagai standar prokes yang dijalankan. Di lantai 3 RS Immanuel Bandung.

Masuk registerasi kedua dan beranjak ke lantai 1 untuk photo rontgen, sebuah pelayanan prima hadir dari Pak Amar, seorang ambulatory*) yang baik hati dan menjadi sahabat baru selama 3 bulan ini. Lancar sudah berphoto di ruang rontgen ini, meskipun ukuran photonya nggak bisa milih karena sudah ditentukan dan hasilnya adalah photo klise besar dan nggak berwarna, cuma hitam putih aja. Tapi tetap diterima karena itu syaratnya untuk kontrol ke dokter spesialis orthopedi.

*)Ambulatory adalah istilah yang digunakan untuk petugas yang melayani pasien rawat jalan, jadi pelayanan khusus dari mulai turun dari kendaraan di lobi hingga diantar ke tempat pendaftaran, rontgent hingga ke poliklinik.

Nah istilah bahasa inggris juga menyebutkan bahwa ‘ambulatory care’ artinya rawat jalan.

Tadinya kirain orangnya disebut ambulator, eh ternyata artinya beda lagi… ya udah ah.

Kembali ke lantai 3, getar khawatir melingkupi diri. Tertatih dengan kruk tongkat penyangga di tangan sebelah kiri, memasuki lift dan tetap optimis bahwa putusannya nanti dari dokter yang terbaik harus diterima dengan keikhlasan.

Bapak AndrieKW, silahkan ke ruang dokter” Suara perawat memanggil, maka raga ini bergegas. Dokter Alvin, seorang dokter muda yang berdedikasi, menyambut dengan wajah cerah dan senyum merekah meskipun tertutup masker di hampir separuh wajah.

Mempersilahkan duduk dan menunjukan hasil rontgent beberapa saat lalu, “Ini hasil photo rontgent terakhir pak, kalus sudah terbentuk di sisi kanan dan kiri tulang yang patah, serta kondisi tulang yang semakin membaik, bapak boleh lepas tongkat penyangga, Congratulation”

Alhamdulillahirobbil alamin” Sebuah ungkapan bahagia setelah 3 bulan terbatas bergerak karena harus berkursi roda dan kruk penyangga, hari ini kembali normal meskipun tetap harus ekstra hati-hati dan bertahap.

HORE…

HORE…

Tanpa banyak kata segera beranjak pergi dan hindari menggunakan tongkat penyangga. Tapi nggak ditinggal di rumah sakit tongkatnya, karena harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Lalu kursi roda yang setia di bagasi mobilpun harus berakhir tugasnya, setelah sekian purnama menemani menjadi sahabat karib, hari ini harus rela berpisah dan kembali ke markasnya di Museum Sribaduga.

Meskipun harus tetap menggesek ATM untuk proses registrasi-terapi-rontgentphotograpy-kontrolisasi tetapi keputusan yang dinanti meringankan suasana hati. Lepas tongkat dan kembali normal sabihara bihari.

Goodbye kursi roda, dadah tongkat kruk penyangga. Tugasmu sudah tuntas menemani hari-hariku dalam menjalani kejadian patah kaki ini. Tak usah bertemu di lain hari, tetapi menjadi memori yang abadi. Wassalam (AKW).

NGOPAY & NGASUH

Ramadhan dan penyembuhan plus ngopay…

CIMAHI, akwnulis.com. Shalat tarawih tuntas dilengkapi dengan 3 rakaat witir, peluh mengucur dan hawa terasa panas. Padahal gerakan dilakukan secara perlahan, apalagi pada saat i’tidal menuju sujud dan dari posisi duduk untuk kembali berdiri. Tangan kanan dipastikan memegang kursi yang setia menemani, membantu menahan raga yang semakin berisi, berisi lemak tentunya hehehehe.

Kenapa sampe nahan pake kursi begitu?”

Yup, kondisi ini sebuah proses penyembuhan setelah kecelakaan kecil akibat loncatin pot mini dan salah mendarat, ternyata berakibat patah salah satu tulang telapak kaki dengan posisi meruncing, baca PATAH MERUNCING.

Ditambah lagi dengan stop berolahraga hampir 3 bulan, sementara makan enak jalan terus. Tak terasa ‘penggemukan’ berhasil. Meningkat berat badan 6 kg melengkapi 1 kuintal yang sudah ada. Maka program diet menjadi prioritas utama, tentu setelah intruksi dokter berdasarkan kondisi yang ada.

Nah, dikala beranjak ke ruang tengah disuguhkan dengan atraksi kucing gemoy sedang latihan loncat di pintu kulkas, sungguh menggemaskan. Anak kesayangan juga tertawa-tawa melihat tingkah kucing yang seolah ingin unjuk kabisa (kemampuan).

Tapi sebelum bermain dengan kucing kesayangan maka buat kohitala (kopi hitam tanpa gula) seolah menjadi kewajiban. Mengalahkan sajian kolak, cingcau dan kolang-kaling yang cemberut di meja karena belum disentuh siapa-siapa.

Apa mau dikata, kohitala tetap utama. Proses manual brew dengan corong v60 segera dilakukan, tak lupa grinder kasar dulu bean yang ada dengan ukuran ala-ala.

Tuntas lakukan prosesi kopi, maka sruputan perdana memberikan kesegaran alami. Meskipun perbandingan air diperbanyak, agar tidak terlalu nendang rasanya tetapi aroma natural kopi tetap hadir meskipun hanya selarik rasa saja… srupuut… nikmaat.

Tiba-tiba ada ide, “Gimana kalau sambil ngasuh anak dan main sama kucing sambil tetap ngopay?”

Raga beranjak dan menyimpan secangkir kopi di lantai, pake gelas kecil tentunya. Dilengkapi ketukan tangan dan suara mengeong dari mulut ini, perlahan tapi pasti mahluk berbulu putih kuning dan coklat mendatangi dan mengendus gelas kopi.

Jangan-jangan kucing ini suka kopi”

Tapi hanya mengendus saja, setelah itu bergerak pergi dan kembali bermain dengan dunianya.

Maka raga ini beranjak ke meja makan untuk menikmati kohitala buatan sendiri ini sekaligus menahan diri dari godaan pastel, risoles serta kolak yang seakan memanggil penuh kemesraan.

Eh nggak berapa lama, ternyata si kucing ikut loncat ke pangkuan dan berusaha mengendus kembali gelas kopi mini ini. Maka sambil ngopay kohitala, ternyata sekaligus ‘ngasuh’ kucing juga.

Tring!…. Muncul ide untuk jadi bahan konten youtube, maka video pendek-pendek yang dibantu merekam oleh anak tersayang akhirnya menghasilkan video, Alhamdulillah.

Selamat menikmati dan mengisi waktu bulan shaum dengan berbagai amalan penuh bonus pahala, juga jangan lupa tetap ngopay dan bercengkerama dengan anak istri dan binatang kesayangan semua. Wassalam. AKW.

KOPI APRESIATIF

Sruput kopi sambil diskusi bersama para peserta yang penuh motivasi.

SOREANG, akwnulis.com. Pagi sedikit sendu di lobi hotel Grand Sunshine, menemani sebuah perjumpaan virtual yang penuh harapan. Duduk menghadap kolam renang meskipun dibatasi kaca besar, namun deburan air dan teriak kesegaran menjadi sebuah hiburan.

Mengapa penuh harapan?”

Karena diskusi virtual kali ini membuka sebuah cakrawala dan momentum untuk gerak bersama sebagai sesama penulis dalam kelembagaan atau kumpulan penulis dengan nama APRESIATIF (Asosiasi Aparatur Penulis Penggerak Literasi Kreatif) dibawah lindungan organisasi KORPRI JABAR.

Nggak ngerti ah, maksudnya gimana?”

Yach, ini mah harus ngopi dulu, supaya kembali segar untuk menapaki kehidupan. Let’s go..

Tangan kanan otomatis menggapai dan menggupay, memanggil sang pelayan yang tergopoh mendatangi bersama daftar menu di tangan.

Pesen kopi bergambar hati kang!”
“Mangga”

Pelayanan prima euy, tapi itulah bentuk hospitality dari sebuah hotel yang menghasilkan rasa nyaman plus betah berlama-lama duduk di lobi sambil diskusi virtual bersama yang diselenggarakan oleh BPSDM Provinsi Jawa Barat.

Trus dapet tugas musti sharing tentang cara menulis, jadi ya sudah saya coba aja deh. Meskipun hanya secuil pengalaman, tapi mungkin bisa ikut menjadi sejumput api penghasil bara yang membantu hadirnya gemuruh api semangat menulis menjadi berkobar untuk kebanggaan bersama.

Jadi, menulis itu garis besarnya ada dua guys. Pertama TERPAKSA dan kedua adalah KEINGINAN. Eh kebalik ya?…. iya yang pertama adalah keinginan donk, ingin nulis tapi gimana caranya?..

Paling utama adalah Niat dulu ya.. bismillahirrohmaniirohim.

Lalu tulislah sesuatu, dan jangan khawatir dengan salah dan benar, tulis saja dulu.

Yang kedua, tulis lagi dan baca ulang 2x khawatir typo. Lalu upload di medsos kita, di blog gratisan atau dimanapun. Nanti jelas ada wadahnya yaitu di prajaberdaya BPSDM Prov Jabar, tunggu tanggal mainnya… sekarang mah daftar yuk rame-rame.

Sudah?….” kalau sudah, biarkan secara alami mengalir dalam ranah kehidupan dan menjadi bagian legacy pribadi dimasa depan. Jikalau ternyata menjadi pencerahan bagi sidang pembaca lainnya, itulah berkah lanjutan dari Allah SWT.

Klo versi TERPAKSA, itu cenderung menulis yang resmi dan karya ilmiah, atau laporan, sambutan dan nota dinas karena ada tuntutan tugas atau perintah atasan. Ini relatif terukur karena ada pedoman tata naskah dinas atau standar penulisan. Tinggal ikuti SOPnya. Apalagi bagi para pejabat fungsional, menulis karya ilmiah dan jurnal itu berhubungan dengan hajat hidup keberlanjutan bulanan.

Jadi ayo semangat menulis meskipun awalnya keterpaksaan dan bukan keinginan.

Seiring tulisan singkat ini berakhir, hadirlah kopi bergambar hati yang melengkapi kenyamanan kali ini. Diskusi penuh sensasi dan berbagi inspirasi bersama insan peserta webinar yang penuh motivasi. Sruputtt… Alhamdulillah. Wassalam (AKW).

PECINTA KOPI – asal muasal

Belajar mencintai dan menikmati…

LEUWIPANJANG, akwnulis.com. Sebuah sebutan semakin sering terdengar dan menjadi hal biasa manakala ada komentar dan pendapat yang menyebut tentang ‘pecinta kopi’.

Cinta atau love memiliki sejarah panjang, tentu hadir seiring adanya mahluk manusia dimuka bumi ini. Jika wikipedia membagi menjadi 4 istilah yaitu eros, philia, agape dan storge. Dimana eros lebih cenderung bentuk cinta yaitu romantisme, asmara, dan hawa nafsu. Maka philia adalah rasa sayang yang hadir bagi keluarga dan teman-teman. Pada saat rasa cinta ini hadir untuk keluarga dan tuhan, maka sebutannya adalah agape. Lalu dikala cinta ini fokus pada patriotisme, nasionalisme dan narsisme itu disebut storge.

Walah jadi serius ya?…. gpp atuh mungpung masih pagi.

Lalu klo pencinta kopi masuk kemana?”

Nah kalau melihat empat istilah tersebut lebih cenderung ke eros dan philia, karena rasa keinginan ngopi yang menggebu ini terbit dari rasa kasih sayang kepada sang istri yang juga coffeelover, dimana prinsip penulis simpel, kesenangan istri adalah hobby suami, titik.

Sebelum menikah tidak terlalu fokus dan menyukai kopi. Tetapi pas momentum pertemuan pertama dengan istri di salah satu cafe kopi di bandung utara dan juga langsung minum kopi… waktu itu belum kohitala (kopi hitam tanpa gula) tapi kopi bergula… nikmat pisan.. sruput… kenalan, dilanjutkan dengan diskusi tanpa tendensi, bubar kembali ke dunia masing-masing. Tetapi 1,5 bulan kemudian dilakukan prosesi lamaran dan alhamdulillah bisa bersama-sama meraih keluarga samawa, Amin Yaa Robbal alamin.

Menukil buku The Art of Loving, maka Erich Fromm menyebutkan 4 gejala terkait cinta yaitu : care, responsibility, respect and knowledge akan muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai.

Keempat prinsip ini yang bergerak seiring rasa sayang sama istri juga menemukan kenikmatan bersama kopi. Ternyata menemukan sesuatu yang menggebu disaat menikmati kopi tanpa gula dengan metode giling dan seduh sederhana. Karena sensasi rasa di lidah ternyata bervariasa juga yang diwakili oleh 3 istilah yaitu BAAT (body, acidity & after taste)… makin cinta deh sama istri dan kopi.

Maka istilah KOHITALA (kopi hitam tanpa gula) menjadi penciptaan sederhana. Bukan klaim ini mah, mungkin aja sudah ada yang menggunakan singkatan ini sebelumnya. Tapi kalau belum, ya di klaim aja atuh sebagai pencetus singkatan ini. Bismillah.

Sebuah konsistensi dimulai dengan menuangkan dalam tulisan berbagai aktifitas me-ngopi ini dan semuanya didasari dari pengalaman pribadi bersama kopi. Kohitala dengan manual brew V60 adalah andalan, tetapi sesekali menikmati hadirnya sedikit campuran seperti susu ataupun coklat juga sejumput gula jikalau dirasakan perlu untuk mengalihkan rasa amis (hanyir, bhs sunda) pada sajian kopi telur.

Kopi telur?”

Iya kopi telur, kopi hitam dicampur telur bebek mentah, eh nanti aja ceritanya ya… sabbb bar.

Maka istilah pecinta kopi ini baru sebatas penikmat kopi dan menuangkan dalam kata plus kalimat di blog pribadi ini, lalu video singkatnya di channel youtube @andrie kw serta next time kita susun buku tentang kopi dengan alternatif judul ‘Coffee & Me.’

Sah khan jadi pecinta kopi sekaligus pecinta istri….. hehehe?”

Jadi, lets go, “Apakah sudah ngopi pagi ini?”

Sruput, Alhamdulillah. (AKW).

MOKA & KOPI

Menikmati cafelatte bersama mojang jajaka.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah obrolan singkat dengan Mojang Jajaka Jabar 2021 asal Kota Cirebon dan Kota Depok yang bersua di JCC ajang Inacraft 2022 memberikan sebuah perenungan.

Mengapa Mojang Jajaka Jabar ada di main stage Dekranasda Provinsi Jawa Barat?”

Tentu mereka adalah duta Jawa barat di bidang pariwisata dan kebudayaan sekaligus ekonomi kreatif dan hadir di ajang Inacraft 2022 ini sebagai bagian kolaborasi Disparbud dalam lintas instansi, swasta, media, industri, UMKM, masyarakat untuk mensukseskan program jabar juara.

Duh jadi serius gini tulisannya, bentar bentar… kita sruput dulu sajian kopi cafelatte jabaranonya.

Basa basi tentu menjadi awal diskusi, dilanjutkan dengan bahasan berbeda sambil tetap memperhatikan flow pengunjung yang datang silih berganti pada main stage ini.

Apa yang dirasakan setelah menjadi finalis mojang jajaka jabar 2021?”

Keduanya berpandangan, tetapi satu persatu memberi jawaban yang tune-nya sama. Bahwa dengan menjadi finalis, maka membuka peluang untuk lebih mengembangkan diri dan tentunya menentukan arah masa depan.

Diskusi singkat ini bermakna dalam, karena setelah mereka berkontestansi dalam ajang mojang jajaka maka yang terpenting adalah didapatkan PELUANG, untuk mengembangkan diri, meluaskan jaringan sekaligus mengumpulkan hasil finansial.

Tetapi jangan lupa, PELUANG harus ditindaklanjuti dengan IHTIAR untuk menangkap momentum ini dengan KERJA KERAS dan perjuangan agar bisa meraih impian.

Terpancar semangat optimisme dan keinginan yang menyala-nyala untuk wujudkan mimpi dengan memanfaatkan peluang yang membentang di depan mata. Selamat berjuang para millenial kebanggaan. Wassalam (AKW).

PARASÈA

Geuning kitu.. Èong

LIANG MÈONG, akwnulis.com.Méooooong… ngéooooong, méééééong.. whaaaaong” sora ucing paséa patémbalan, rungseb kana ceuli, ngagéréan teu katahan.  Méré lolongkrang kana jajantung sina ratug, neken angen dongkap amarah. Rék peureum pasosoré balik capé digawé, diganggu ku ucing gétréng nu parebut pamor dina suhunan bari disada teu eureun-eureun.

Mééééooong, grrrrmmm…. méooong” Ucing bikang beuki séah, masang kuda-kuda. Bulu narangtung ceulina rancung, panon melong bangun nu ngitung. Ucing jalu nu bulu hiris mah uang éong bari nyérépét muru ka bikang, ari nu hideung meles mah camperego, panon gular giler.

Amarah geus ngabudah, raga teu tahan, jiwa baruntak. Ucup ngajleng tina dipan, najong panto hareup, langsung luncat kana suhunan. Taki-taki bari nyanggéréng, huntu ranggéténg sihung ngajentul, langsung babaung.

Auuuuuuuuuuu….”

Ucing nu keur paséa jep jempling, papelong-pelong, tuluy narangtung maké dua suku.  Pacantél, tuluy indit lalaunan ninggalkeun uing bari pakaléng-kaléng. Kadéngé samar-samar nu bikang disada, “Hayu urang ngalih amengna akang-akang, di dieu mah paur, aya anjing ageung.” Cag. (AKW).

PANDA LATTE

Menikmati panda diatas kopi…

KBB, akwnulis.com. Menyempatkan diri untuk sekedar mampir dan memilih menu di kedai kopi atau restoran yang ready menu kopi adalah hiburan diri yang hakiki. Apalagi jikalau waktunya tepat, bisa janji ketemuan sama istri tercinta yang sibuk bekerja, itu luar biasa.

Waktu yang terbatas menjadi berkualitas, karena suasana berbeda jikalau dibandingkan bersua di rumah dikala badan dan pikiran sudah terforsir untuk bekerja yang tiada habisnya, maka diskusi pillow talk juga akhirnya ditutup dengan ketiduran salah satunya, eh penulis yang suka ketiduran duluan.

Maka nongki berdua ini menjadi momen berharga, sambil tentunya memilih menu kopi apa yang bisa menemani dan memberikan nilai rasa berbeda.

Tak berapa lama pelayan mendatangi dengan wajah sumringah sambil menyerahkan buku menunya. Dibuka-buka sebentar, ternyata pilihan manual brewnya nggak ada. Maka pilihannya pada kopi mesin, eh maksudnya biji kopi yang diproses dengan mesin kopi. Pilihannya ya espresso, latte, americano, dopio, picollo cappucino deh….

Kang, pesen latte aja tapi yang gambarnya lucu”
Pelayan tersenyum penuh arti dan ngangguk-ngangguk.

Istriku tertawa karena mungkin aneh, pesen kopi bukan karena jenis dan rasa, tapi malah urusan gambar di permukaan kopinya.

Tapi nggak salah khan?, ya suka-suka yang pesen aja” jawabanku yang membuat siang itu menjadi ceria.

Sebenernya sederhana guys, karena makna menikmati sajian kopi itu sangat luas. Umumnya adalah rasa, lalu rasa dan rasa hehehehe… padahal sajian kopi itu seni, tidak hanya rasa, tapi keberanian menampilkannya, kemampuan membuat gambar di foamnya, cara penyeduhannya yang banyak aturan kalau manual brew, keberanian menggabungkan dengan bahan lain tetapi citarasa kopinya tetap terjaga, juga mesin kopinya seperti apa, beannya apa dan dari mana juga di blend atau mandiri…. ah banyak pokoknya faktor penentunya. Termasuk siapa dan bagaimana tampilan, kemampuan dan keramahan baristanya.

Nah kali ini dalam suasana santai tapi waktu yang terbatas, cukup diwakili dengan request bikin latte yang gambarnya lucu, “Simpel khan?”

Tak terasa waktu berjalan begitu singkat, tiba-tiba sang pelayan sudah datang membawa sajian latte pesanan tadi, daan…. tadaaaa…

Yang hadir secangkir latte bergambar panda guys, berarti kita kasih nama ‘Panda latte’. Jadi penasaran, “Kang, kenapa milih gambar lucunya panda?”

Sang pelayan tersenyum, lalu bilang, “Barista yang buatnya kakak, cuman saya bilang tamunya minta latte yang bergambar lucu”… lalu pelayanna nambahin, “Sebelum bikin lukisan latte, sang baristanya liat kakak dulu baru beraksi”

Wkwkwkwwkwkwk” Istriku tertawa renyah dan begitu senangnya sampai pelayan bingung. Diriku tersenyum juga dan tak banyak nanya lagi, langsung sruput panda latte, ternyata enak rasanya, Alhamdulillah.

Itulah cerita tentang kopi eh menikmati kopi kali ini, Wassalam. (AKW).