Puntang Klasik Kaweni.

Akhirnya menikmati lagi sajian manual brew V60.

Photo : Puntang Klasik Kaweni Manual Brew / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Semerbak angin pagi menerpa wajah yang sedikit lelah setelah menempuh perjalanan panjang lintas samudera demi kembali bersua dengan keluarga dan tugas negara.

Perjumpaan dengan keluarga kecil di rumah adalah momen bahagia yang tetap harus dijaga, peluk erat anak dan istri mematrikan janji untuk saling menjaga dalam suka dan duka demi cinta abadi. Meskipun harus terpisah sejenak karena senin pagi adalah waktunya mulai bekerja lagi, tapi sore nanti bisa bersua dan bercanda kembali.

Salah satu yang dinanti selain kembali selamat sehat bugar seperti sediakala adalah…. oleh-oleh…. buah tangan tea geuning.

Oleh-oleh, meskipun bukan kewajiban karena kepergian lintas negara adalah dalam rangka dinas. Tetapi kurang afdol rasanya jika tidak ada oleh-oleh yang ditenteng sebagai tanda buah tangan dari negeri seberang. Inipun penuh perjuangan karena ditengah agenda yang bejibun, menyempatkan datang ke tempat oleh-oleh dengan pola belanja impulsif… nggak pake mikir, sesuaikan dengan duit Won di tangan…. ambil2.. pilih2.. bayaar. klo ternyata duit won nya kurang, balikin lagi oleh-oleh yang udah dipilih… alias nggak jadi sebagian hehehehehe….

Photo : Pilihan bean yang ada di Cups Coffee & Kitchen / dokpri.

Jadi….. maafkan jikalau oleh-olehnya hanya kata-kata berbentuk cerita yang seperti tak guna… tapi ini justru bermakna abadi tanpa takut waktu membatasi.

Nah hari ini setelah bersua dengan keluarga dilanjutkan dengan rutinitas di kantor bersama rekan-rekan sepekerjaan maka ada perjumpaan lain yang begitu dinanti…..

Perjumpaan kembali dengan sajian manual brew V60 coffee dengan beannya adalah Puntang Klasik Kaweni…. Yummmy.

Aciditynya yang kuat mengembalikan lagi sebuah harapan dan semangat dalam menjalani kehidupan, Body medium dan aftertaste berry plus citrun menambah sensasi kesegaran…

Selamat beraktifitas kawan. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Cups Coffee & Kitchen
Jl. Trunojoyo No.25 Kel. Citarum Kec. Bawet Kota Bandung.

Berenang & Bimbimbab.

Antara lamunan dan kenyataan terseliplah harapan.

Photo : Bandara Incheon / dokpri.

DI LANGIT, akwnulis.com. Raga yang menembus waktu melewati langit angkasa dengan kecepatan 942 km/jam di ketinggian 10.363 meter tentu memerlukan relaksasi…… Harapannya adalah setiba di tanah air disambut dengan rebahan di kasur yang empuk lalu menuju area whirpool yang menjadi salah satu fasilitas hotel di jakarta sanah….

Berendam sambil pejamkan mata.. kehangatan air whirpool yang memberikan pijatan lembut namun terukur, terasa menenangkan dan memberi sensasi kesegaran terbaru….

Segala kesegaran raga bisa kembali dengan segera dan bersiap melakukan aktifitas rutin di senin pagi.

Pilihan lainnya adalah berenang santai di kolam renang ukuran olimpic sambil membebaskan pikiran dari segala macam permasalahan atau urusan yang ternyata (klo dipikirin doang) … nggak bakalan selesai-selesai.

Pilihannya cukup 2 saja, pertama pikirkan dan lakukan langkah-langkah penyelesaian dan kedua, biarkan saja jangan dikerjakan… seperti pepatah sesat yang sering berseliweran di jagad medsos kita dalam bentuk meme, atau kata-kata di status WA, Fb, Telegram, Line, WeChat dan lainnyah…. Bunyinya :

“Pekerjaan akan menjadi mudah manakala tidak dikerjakan.”

Photo : Kolam renang Hotel Borobudur Jkt / dokpri

Klo dipikir-pikir bener juga lho, tapi konsekuensinya adalah… Memang (seolah) lebih mudah… tapi kepercayaan kepada kita dari pemberi pekerjaan (client or bos) akan luntur dan musnah… ujung-ujungnya pekerjaan menjauh dan pergi menjauh… begitupun dengan rejeki, salary dan bonusnyah heuheuheu…. alias nggak punya pekerjaan heuheuheuheu.

Jadi segimana beratnya beban tugas dalam pekerjaan, kerjakanlah dengan semangat ikhlas dan menahan emosi meskipun mungkin ada hal yang mengganjal di hati.

Ingat kepada orang lain yang tidak seberuntung kita punya pekerjaan dan penghasilan, maka kembali ke laptop…. kerjakan saja sesuai kemampuan kita, bismillah… nah kerjakan tugas dengan penuh keikhlasan….

Ahay kok jadi ngelantur begini?… efek naik pesawat kali yaa… jadi pengennya turun pesawat langsung menuju hotel, lalu mandi air hangat dan rebahan…. ntar udah segeran lanjut ke whirpool dan dipijat aliran air hangat sambil berendam.. ahhh kabayang nikmatnyaa..

Tapi…… kenyataan nggak begitu. Ntar pas mendarat bakalan langsung kordinasi dengan sopir sang penjemput, dan setelah itu langsung menuju Bandung melewati jalur tol Jakarta cikampek lalu cipularang…. semoga kemacetan tidak terlalu parah dan bisa tiba di rumah pada senin dini hari… I hope.

Sambil menunggu kenyataan terjadi, kembali terlarut dalam lamunan berendam di whirpool hotel aryaduta ataupun berenang santai di lantai 8 kolam renang Hotel Merlyn Park juga di kolam renang ukuran olimpic Hotel Borobudur Jakarta…. lumayan membuat hati senang sambil perlahan tapi pasti mencoba menyantap sajian bimbimbab di kabin pesawat korean Airlines ini. Sambil nengok ke sebelah … takut salah cara penyajian dan cara makannya….. dan buka saus odolnya….. tuangkan ke nasi dan sayuran, maka aduk-aduklah semua……

Photo : Bimbimbab di Korean Airlines / dokpri.

“Gimana rasanya?”

“Enak, alhamdulillah” menjawab dengan wajah agak meringis karena rasanya sedikit asing di lidah, tapi karena urusan rasa ada kemiripan dengan lotek atau lecel, maka sang lidah relatif mudah menyesuaikan… dan sekaligus mulut mengunyah dan menelan untuk menghabiskan….

Habis tandas dan dibonusin senyum pramugari mirip personil blackpink… pas dia ambil nampanku… terlihat makanannya bersih semua alias habis.

Akhirnya mencoba terlelap, dan membayangkan kembali berenang di air hangat, sebelum akhirnya….. harus berdamai dengan kenyataan dan menyiapkan diri melanjutkan perjalanan darat sekitar 4-5 jam… untuk kembali meriung dengan keluarga tercinta juga tugas-tugas negara yang telah menanti dengan setia untuk penyelesaiannya. Wassalam (AKW).

Kopi terakhir di korea.

Menikmati si hitam di injury time.

Photo : Botolnya dibawa pas sarapan / dokpi.

SEOUL, akwnulis.com. Malam menjelang waktu pukul 23.00 wako (waktu korea) dikala raga baru sampai di hotel setelah seharian berjibaku dengan agenda yang padat merayap dari pagi hingga malam. Pakaian jas dasi kemeja lengkap masih melekat di tubuh ini dengan tas punggung yang selalu melekat. Tidak ada keringat yang hadir karena cuaca dingin menahan keluarnya keringat, jadi berjas dasi seharian sambil bertas punggung serta banyak melakukan jalan kakipun tidak masalah, seger seger aja.

Setelah kemarin ngopi ‘pembagian rapat’di Caonan Asan Station dilanjutkan Double espresso-nya di acara sarapan pagi, maka kesempatan terakhir malam ini ingin mencoba kopi yang berbeda, kangen kopi puntang dan gununghalu atau kiwari manglayang dengan metode manual brew V60… tapi nggak ada disini.

Jadi agak nyesel nggak bawa corong V60, filter dan beannya… tapi apa daya, penyesalan itu selalu datang terlambat karena kalau datang diawal rasa sesal itu maka itu namanya Pendahuluan eh.. kata pengantar atau executif summary ya??…. apa sih inih, kok kayak lagi nyusun disertasi.

Maka…. meskipun tas punggung masih melekat dan jas dasi masih erat melingkari leher, maka bersama partner sekamar berjalan kaki keluar hotel mengitari jalan raya blok gangnam kota seoul dengan tujuan mencari kedai kopi yang menyajiKan manual brew..

Alhasil… tiada kedai kopi manual brewnya… Akhirnya mendarat di toko minimarket 24 jamnya korea. Mencari-cari kopi kemasan yang tentu tanpa gula…. banyak pilihan tapi sedih karena kohitala (kopi hitam tanpa gula) tidak tampak di rak minimarket, adanya pasti kopi bergula, kopi berkrimer atau malah air gula berkopi saking manisnya…..

Alhamdulillah, diujung kanan atas bertengger kopi kaleng cold brew… ambiiil… Alhamdulillah

Bayar segera dengan sisa duit won yang ada dan beringsut menuju hotel karena penasaran ingin menikmati cold brew yang ada.

Tidak lupa sebelum dinikmati, maka dokumentasi adalah tindakan pasti. Jejerin di kasur hotel bealaskan selimut.. jepret.. jepret… jadi deh.

Lalu dibuat captionnya yang berbunyi, “Bukan masalah pilih yang mana, tapi bisa #Ngopay itu Bahagia“.

Bener khan?”

Langkah terakhir adalah, buka kemasannya.. dan srupuut… srupuut.. tandaskan..

Nikmat …kannn?”…..

Tuntas minum kopi, mungkin menjadi kopi terakhir di Negeri Ginseng ini, karena besok pagi harus sudah kembali ke tanah air dengan perjalanan selama 7 jam.

Ahnyong asiong
Khamsa hamnida.

Wassalam (AKW).

Sarapan dulu…

Sarapanpun wajib ada kopi xixixixi…

Photo : Dopio di pagi hari / dokpri.

SEOUL, akwnulis.com. Perbedaan waktu 2 jam dengan di rumah ternyata cukup memerlukan penyesuaian yang signifikan. Karena meeting selanjutnya di rencanakan pukul 08.00 wako (waktu korea) maka makan pagi harus jam 06.30 wiko alias jam 04.30 wib…. sahurrr. Tapi ternyata sudah benderang disinihh kawaan…

Turun ke lantai 2 menuju restoran menjadi tujuan utama pagi ini. Ngantuk masih menggelayut tetapi musti dilawan karena agenda kegiatan sudah menghadang di hadapan.

Sebelum nandain tempat duduk, maka mencari segelas kopi adalah keharusan…. culang cileung… tap… ada mesin kopi…. merapaattt.

Photo : Mesin kopi / dokpri.

Mesin kopi merk Toro menyapa dengan senyuman khas nya, yang Pasti pilihan menu nya adalah espresso, dopio dan americano untuk penganut kohitala dan latte serta cappucino yang masih memuja foam susu… langsung ambil cangkir dan dudukan pada tempatnya.

Pijit tombol ‘espresso‘ 2x supaya hadir dopio alias doube espresso dan tunggu hasilnya…. terrrr… currr…. kopi hitam menetes memenuhi cangkir putih yang ciamik. Wangi aroma kopi membangkitkan birahi… eh sensasi kesegaran untuk mendukung agenda hari ini.

Sebagai pendukung dari sisi sajian sarapan pagi maka diperlukan kesegaran dari aneka sayuran yang hadir dengan berbagai pilihan. Ada terong, sayur antanan, brokoli, tomat cery, kol merah dan chiaseed serta kismis plus kuaci… eh kuaci bukan ya?.. atau biji bunga matahari?.. tambah saus salad yang tersedia.

Photo : Sayuran + kopi / dokpri.

Untuk karbohidratnya tentu nasi goreng yang tersedia diambil 2 sendok ditemani scramble, tumis kacang tanah dan potongan ikan laut, cukup untuk menjaga energi hari ini.

Jadi rumusnya banyak ragam tetapi ukurannya icip-icip. Bukan masalah kenyang atau tidak tetapi bagaimana semua sajian rasa bisa dicoba tanpa muncul persepsi berbeda.

Nasi goreng rasanya tetep nasi goreng begitupun sajian lainnya, yang beda adalah suasana dan tentunya suasana hehehehe…… Urusan kohitala telah terwakili oleh double espresso yang dihasilkan mesin kopi.

Akhirnya…. tuntas sudah sarapan beraneka rasa ini.

Photo : Protein & Karbohidrat / dokpri.

Selamat makan dan ngopi pagi ini, sebelum berlanjut meeting dan meeting, dan beredar demi sebuah tugas sekaligus kesempatan meraih pengalaman di sebuah kota besar yang jauh dari tempat tinggal. Wassalam (AKW).

Kopi perdana di Korea

Akhirnya bisa menikmati kopi di Korea.

CHAONAN, akwnulis.com. Perjalanan 2 jam 24 menit menyusuri jalan lebar dengan berbagai pemandangan yang tersaji memberi pengalaman tak bernilai. Diawali melewati jalan besar yang membelah lautan karena incheon adalah sebuah pulau terpisah, dilanjutkan berbagai bangunan tinggi baik komplek pabrik dan perumahan juga bentang alam kehijauan yang cerah di akhir musim gugur tahun ini.

Masih sendirian karena belum bersua dengan delegasi yang telah hadir lebih dulu, insyaalloh ALONE di INCHEON akan berakhir.

Berbincang dengan sang driver, ini adalah momen musim terbaik karena matahari bersinar sepanjang hari dengan suhu sekitar 3° s.d 10° celcius, karena menurut perhitungan prakiraan cuaca di awal desember sudah masuk musim dingin dan suhu bisa sampai minus 20° celcius.

“Kebayang membeku dan meriut”

Perjalanan perdana jalur darat di korea akhirnya harus sampai di tujuan yang telah ditentukan yaitu sebuah tempat meeting yang berada di area stasiun Chaonan Asan yang merupakan ibukota provinsi CengChungnam-do.

Alhamdulillah setelah membayar taksi internasional dengan selembar 100 dollar US dan 40.000 won..
(euleuh di hitung-hitung ternyata mihill… tapi apa daya, demi sebuah janji, maka pengorbanan adalah bagian dari konsekuensi). Juga yang pasti dijamin tidak akan nyasab (kesasar) di negeri orang.

Photo : Berpose di depan stasiun Chaonan Asan / dokpri.

Pertemuan berjalan lancar dan penuh kekeluargaan, delegasi Jawa Barat yang sudah ada di Seoul akhirnya bersua disini bersama daku.. ehm dan tentunya dengan para pejabat di Provinsi Cengchungnam-do plus para pimpinan perusahaan yang membidangi credit guarantee dan start up bidang solar energy.

Laporan resminya entar aja yaa… itu mah bentuknya nota dinas hehehehe.

Sekarang ingin cerita tentang si hitam nikmat.. kohitala. Maklum udah 24 jam nggak jumpa dengan sensasi pahit yang menggoda.

Pas masuk area stasiun sebetulnya sudah ada cafe yang direncanakan dimampiri… tapii… jadwal meeting sudah dekat plus harus berjumpa dulu dengan para bos yang berangkat dari Seoul… urung sudah, tapi tidak uring.

Ternyata… Allah maha tahu isi hati hambanya yang merasa tak berdaya tapi ingin nyeruput kopi apa aja yang penting tanpa gula.

What do you want to drink? Coffee or tea?”

Woaaah senangnya… “Please coffee sir“… akhirnyaa… pucuk dicinta ulam tiba. Sebuah doa berbuah nyata, secangkir kopi hitam tanpa gula hadir dihadapan bersama bahan presentasi mereka, Ahaaay.

Nggak pake basa-basi lagi, disaat para bos masih diskusi, kopinya sudah di tangan untuk dinikmati…. hmmm harummm… kopinya pake mesin, tapi double espresso bisa memenuhi hasrat ngopi kali ini.

Photo : Kopi perdana di Korea / dokpri.

Sruputtt…. segerrr, pahitnya menenangkan. Memberi rasa bahagia dan semangat untuk terus berkarya dan menjelajahi negeri ginseng ini.

Perbincangan berlanjut dengan berbagai pembahasan, diriku terlarut dalam kebersamaan dan tidak lupa sruput kopi yang terus tersedia. Wassalam (AKW).

Alone di Incheon.

Akhirnya menginjakkan kaki di negeri ginseng meskipun sendirian.

Photo : Pesawat Korean Airlines di Incheon Airport / dokpri.

INCHEON, akwnulis.com. Akhirnya setelah perjalanan menembus malam selama kurang lebih 7 jam, maka sang burung baja Korean Arlines mendarat dengan lembut di landasan runway bandara Incheon Korea Selatan.

Sebongkah syukur kembali terucap dalam hati dimana di tahun ini akhirnya bisa nge-cap paspor lagi, dan yang membuat lebih bersyukur adalah hadirnya paspor biru setelah 2014 lalu habis tapi tidak diperpanjang lagi.

Tepat setahun lalu beredar di negeri tetangga yang dekat-dekat saja, salah satu tulisannya nggak jauh-jauh… urusan bikin kopi sambil nyeduh manual pake V60, ini tulisannya : MANUAL BREW DI NEGERI SINGA.

Tiba di Bandara Incheon tentu segera bergerak menyusuri koridor bandara yang cukup panjang. Konsentrasi penuh sambil mengkombinasikan mata antara melihat petunjuk arah yang mayoritas bertuliskan mongul korea juga bahasa inggris dipadupadankan dengan gerakan orang – orang yang pasti nggak bakal kemana-mana… arahnya ke imigrasi terus ambil bagasi atau yang transit dan entah kemana mereka akan pergi.

Photo : Satu sudut Incheon Airport / dokpri.

Seorang diri berjalan mengikuti takdir ini, sambil tak lupa menikmati momen perdana menginjakkan kaki di korea. Proses imigrasi lancar dan cepat, pengambilan bagasipun hanya butuh sedikit kesabaran dan akhirnya tas pink besar hadir menemani kesendirian.

Langkah selanjutnya yang sangat penting adalah menuju toilet untuk segera membasuh raga serta berganti pakaian dengan long jhon lalu dibalut celana hitam dan kemeja pink, tidak lupa berdasi senada dan akhirnya jas hitam melengkapinya… gaya khan?…

Bukan apa-apa, tetapi sebuah persiapan untuk mengikuti meeting sesuai schedulle yang sudah tersusun… eh sikat gigi, gel rambut dan cukur jenggot tidak lupa dilakukan, sehingga keluar toilet dengan tampilan stylish. Bisa menutupi kekhawatiran dan kebingungan yang tersimpan di hati dengan wajah dan penampilan hitam & pink yang rapih… siapa tahu di bandara ketemu sama personil kpop cewek yang lagi hits disini, BLACKPINK heu heu heu heu ngarep

“Gimana caranya menggunakan transportasi di sini?”

Tidak sulit, tinggal cari petugas yang akan memberikan informasi tentang pertanyaan tersebut. Tadinya ingin mencoba menggunakan MRTnya korea atau kereta api expressnya…. tetapi ternyata ke lokasi yang dituju harus berganti 3x kereta dan dari stasiun satu ke stasiun lain akan membingungkan bagi yang pertama kali…. trus nentengin koper pink gede lagi.

-berfikir keras-……

Photo : Kartu Taksi Internasional / dokpri.

Akhirnya karena waktu mepet tinggal 3 jam lagi, diputuskan menggunakan jasa taksi internasional, agak mahal sih tapi apa mau dikata…. ternyata bener adagium ‘

“Waktu adalah Uang“…. lebih mahal tapi pasti apalagi di negeri orang… capcuss

Eh belummm… kita musti nunggu dulu sopir taksinya, namanya Mr Kim… bayarnya nanti pas udah nyampe tujuan dan berdasarkan argo, kaleem……

Hanya sekitar 5 menit menanti, datanglah sang sopir taksi. Tanpa basa basi langsung bergerak menuju arah luar bandara…. pas pintu kaca terbuka dan berada di posisi luar area bandara….. cepppppp…. udara dingin menerpa wajah dan raga…. dingiiiiin…. 4° celcius ternyata… brrrrrrr… dingiin.

Aslinya dingin banget menusuk tulang lho… padahal sudah berpakaian 3 rangkap.. Long jhon + Kemeja pink + Jas serta nggak lupa dasi pink.

Photo : Taksi Internasional di Korea / dokpri.

Perlahan tapi pasti, suhu badan menyesuaikan dan rasa dingin yang menyergap bisa di jalani dengan ikhlas hehehehe…. maksudnya otomatis menyesuaikan.

Menuju taksi dan segera menuju pintu depan sebelah kiri dengan maksud mau duduk di depan untuk menikmati pemandangan. Tiba-tiba… “Nooo… it is my chair!!”

Terlonjak kaget karena sopir taksi langsung menarik gagang pintu belakang dan melarang meraih pintu kiri depan…. ternyata memang pintu kiri depan adalah kursi sopir… khan di korea mobilnya stir kiri… heuheuheu… dasar ndeso.

Dengan senyum dikulum dan pipi sedikit merona menahan malu, masuklah ke dalam taksi dan bersiap menikmati perjalanan selama kurang lebih 2,5 jam dari Bandara Incheon menuju tempat pertemuan di Caosan Asan Station Provinsi Cengchungnam Korea selatan. Berangkaaat, Bismillah (AKW).

TEGURAN PAGI – puisi.

Puisi curhat jadikan senin semangat.

Photo : Bayangan kesendirian / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Udah lama nggak nulis puisi maksa yang berisi curhat colongan (curcol), nulis aah :

TEGURAN PAGI

Pagi cerah di senin ceria
Ternyata hadirkan peristiwa
Yang mungkin tak terduga
begini kronologisnya

Datang lebih dulu
tanpa mengharu biru
ambil posisi barisan nomor satu
langsung abadikan bayangan yang melaju

Disaat semua hampir siap
Ternyata komandan yang ditunjuk tidak ditempat
Semua menolak tanpa berharap
Akhirnya mencoba menjadi pelengkap
Maju ke depan dengan terhormat

Ternyata….

Menggantikan seseorang
Tidak cukup niat baik
Harus siap dengan segala hal
Termasuk perlengkapan perang

Akhirnya bukan puji yang didapat
Tetapi teguran karena tidak lengkap
Atribut oke kecuali peci hitam mengkilat
Jadi judul kedisiplinan sikap

Koreksi adalah sebuah perhatian
Yang dilontarkan oleh pimpinan
Menjadi cambuk untuk menjaga kedisiplinan
Hari ini esok dan masa depan

Itulah sekelumit kisah
Di Senin pagi yang cerah
Tidak perlu menjadi resah
Tunjukan disiplin dengan sumringah.

Cemungguuutt… Eaaaa.

Wassalam (AKW).