NGOPI DI TANAH KELAHIRAN.

Catatan ngopi yang miliki makna pribadi.

GUNUNGHALU, akwnulis.com. Menyeruput kopi dan menikmatinya dengan segenap rasa dan suasana adalah aktifitas biasa sebagai pecinta kopi agak sejati. Belum berani bilang pecinta kopi sejati karena memang kopi belum menjadi segala-galanya, hanya menjadi konten utama dalam menyajikan jalinan cerita baik dalam bentuk tulisan juga lisan dan video yang diupload di media sosial pribadi.

Bagi yang suka dengan jalinan kata maka klik saja www.akwnulis.com ataupun yang malas baca – baca dan sukanya dengan video maka jangan ragu mampirlah di channel youtube-ku @andriekw, praktis khan?…

Untuk tulisan kali ini terasa begitu bermakna, karena setelah sekian purnama bisa kembali menikmati kopi dengan 2 poin utama. Pertama adalah momentum shalat idul fitri bersama keluarga dan orangtua tercinta dan kedua adalah bisa menikmati sruputan kopi di tanah kelahiran 45 tahun yang lalu. Ya, 45 tahun lalu terlahir bayi montok di kampung ini dan sekarang sudah berubah jadi pria dewasa meskipun tetap montok hehehehe dan sangat menyenangi sajian kopi.

Momentum ngopinya baru didapatkan setelah selesai shalat ied dan sungkeman kepada kedua orangtua juga photo bersama dengan anak istri adik dan ponakan yang heboh serta sibuk mabar roblok dan game spongebob sambil ketawa ketiwi. Senangnya bermain bersama.

Tapi pas buka perlengkapan ada sedikit rasa sedih, ternyata kopi hasil giling kasarnya tertinggal sementara yang dibawa adalah kopi arabica fullwash dari Tona’s coffee dan sudah dalam bentuk bubuk halus, pemberian seorang kolega. Gepepe, ini juga cukup bisa mewujudkan ngopi kali ini. Tentu buka dengan menggunakan metode manual brew V60 tapi cukup dengan metode manual brew tersimpel dan sudah dilakukan dari jaman baheula yaitu metode seduh tubruk, tubruk pelan-pelan ya. Karena jika terlalu cepat tubruknya bisa menimbulkan rasa sakit berkepanjangan.

Air panasnya juga nggak pake ukuran suhu, cukup ambil dari termos. Langsung seduh pelan-pelan. Ya diaduk dikit supaya larut dan diamkan sejenak, ternyata cremanya naik ke permukaan dan membantuk lapisan berbeda berwarna coklat. Hmmm keharuman kopi menggugah selera. Untuk melengkapi rasa dan suasana, jangan di dapur ah. Geser ke halaman samping dan bersiap untuk diabadikan diantara bunga anggrek kesayangan ibunda.

Setelah diabadikan melalui hasil jepretan photo maka saatnya sruputan yang begitu bermakna. Body kopi arabica fullwash cukup bold dan acidity yang medium high memenuhi rongga mukut dilengkapi aftetaste lemon dan tamarin yang harum menyegarkan. Apalagi suasana kampung yang ditandai suara tonggeret dari pohon samping rumah menghadirkan suasana spesial yang sangat bernilai. Srupuut gan.

Untuk kepentingan video maka segera diedit di hape dan upload di channel youtube ku dengan judul NGOPI DI TANAH KELAHIRAN, monggo klik saja. Nggak bakal nyesel kok, palingan jadi pengen ngopi atau pengen mudik lagi, eh atau malah pengen bunga anggrek berwarna kuning yang berjajar?… terserah pembaca aja deh. Pengen itu adalah hak semua orang, tapi dapat atau tidak tergantung dari takdir yang terjadi.

Hayu ah ngopay dulu… Sruput gan. Wassalam (AKW).

Mesjid & Masa Kecil : #ceritalebaran

Mesjid masa kecil & kenangan.

MONTAYA, akwnulis.com. Tahapan menuju shalat idul fitri begitu bermakna dan mendebarkan hati. Secara hablumminalloh sangat jelas ada rasa khawatir bahwa diklat selama satu bulan ini akan terkikis oleh rutinitas dan kemalasan di bulan – bulan selanjutnya. Maka berusaha menguatkan diri untuk istiqomah agar hasil diklat sebulan ini betul – betul membekas.

Nah pas giliran hablumminannas terasa jantung ini berdetak lebih kencang, karena lintasan pengalaman masa lalu terus bergantian dan seakan nyata hadir dihadapan mata dalam fragmen aktifitas acak masa kecil hingga remaja. Dari mulai malas mengaji hingga akhirnya menjadi rajin ke mesjid kecamatan ini karena direnovasi dengan dipasang marmer sekelilingnya dan menjadi arena balap tarik sarung yang seru melebihi grand prix Mandalika… hehehehe lebay.

Betapa begitu semangatnya menuju mesjid, lalu antri sorogan ke guru ngaji legend waktu itu, almarhum Ustad Ikin. Juga setor hafalan dan setelah beres giliran, langsung ijin pengen kencing ke kamar mandi. Nah pas keluar ruangan mengaji maka rasa pengen kencing hilang berganti semangat balapan karena lantai marmer mengkilat terbentang dihadapan. Begitupun kawan lain, Dade, Hilal, Deni, Deden, Agus, Hendra sudah bersiap dengan pasangannya untuk menarik sarung dan melesat paling cepat.

Berangkaaaat……

Tawa semangat dan teriakan canda anak – anak membahana, tetapi tentu tidak terdengar oleh pak ustad guru ngaji karena terpisah tembok ruangan yang cukup tebal. Hanya saja disaat para murid mengaji mayoritas ijin ke kamar mandi dan tidak kembali ke ruang mengaji, beranjaklah pas ustad untuk mencari kami yang ternyata asyik bermain.

Disaat beliau melihat kami yang sedang balapan. Kami refleks langsung berhenti dan menunduk karena rasa bersalah. Siap – siap dimarahin. Tidak ada kalimat sumpah serapah, tetapi sebuah kalimat nasehat bahwa sebaiknya di mesjid adalah tempat beribadah dan kurangi bersendagurau. Kami ber 7 kembali menuju ruang pengajian, bukan rasa takut yang hadir terhadap beliau, tetapi rasa hormat dan menjadi semakin segan.

Begitupun jika shalat menjelang, apalagi shalat tarawih yang cukup panjang dan ada celah lintas shaf rakaat maka arena eh jajaran orang berjamaah yang lurus, sangat cocok untuk ajang lari jangka pendek. Itupun bukan amarah yang dihadirkan, tetapi dikumpulkan setelah shalat dan diberikan wejangan tentang arti penting shalat berjamaah dan tidak menjadi pengganggu karena jelas merusak nilai pahala ibadah kita. Ah sebuah kenangan indah tenfang keberadaan masjid dan suasana yang ramah anak.

Sesekali ada hardikan atau makian dari orang dewasa yang menjadi makmum dan merasa terganggu dengan kenakalan kami. Tetapi mayoritas memakluminya serta menegur kami dengan kelembutan sehingga akhirnya kami paham bahwa proses benar dan salah perilaku itu menjadi kekuatan dan warna kehidupan pribadi di kala beranjak dewasa.

Ada juga perilaku kami di malam takbiran yang menghebohkan sekampung karena tengah malam membuat onar disaat bertakbiran di mesjid. Cerita lengkapnya bisa dibaca di CERITA RAMADHAN – PENTAKBIR MISTERIUS.

Kalau urusan romantisme berkaitan mesjid ini relatif tidak ada, karena belum memasuki tahapan beger… ‘Apa ya beger itu?’  Pengertian versi penulis adalah fase remaja yang mulai menyukai lawan jenis dan melihat bahwa lawan jenis itu begitu menarik hati. Jadi lebih banyak masa kenakalan anak saja bersama teman-teman tanpa repot dengan namanya pacaran atau putus cinta.

Kembali kepada kenyataan, hal yang harus disyukuri adalah kesempatan waktu dan segala unsur pendukungnya sehingga bisa menjalani hari terakhir puasa dan berlebaran bersama ayah ibu yang sudah memasuki usia 76 – 77 tahun yang selalu bugar serta memberi teladan bersikap, bahwa kehidupan ini harus dijalani dengan kesabaran dan terus diperjuangkan untuk memberi kemanfaatan kepada banyak orang. Semoga ayah dan ibu sehat selalu dan berumur panjang.

Nanti kita jumpa lagi pada celoteh ringan tulisanku ini. Met Lebaran ya guys, 1 Syawal 1444 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin. Wassalam (AKW).

Mudik : berpisah & bertemu.

Mudik itu perlu diperjuangan – 🙂

CIMAHI, akwnulis.com. Disaat pergerakan orang secara masif mulai terlihat, gelombang semangatbpulang kampung yang disebut mudik kembali membahana setelah 2 tahun terakhir tersandera karena pandemi melanda. Hari kemarin sebagai hari pertama libur resmi bersama secara nasional, didapatkan beberapa titik kemacetan yang luar biasa seperti yang terjadi di daerah limbangan garut, sepanjang jalan tol ke arah timur dan berbagai ruas jalan lainnya.

Sementara kami mah hari kemarin masih stanby di rumah karena ibu negara tetap berdinas bergiliran sebagai bagian dari pelayanan langsung kepada masyarakat di sektor kesehatan. Sambil mengisi libur perdana tentu beberes rumah dan persiapan mudik juga termasuk mengantarkan kucing kesayangan untuk tinggal beberapa hari di hotel kucing di daerah antapani.

Ada rasa haru sang anak manakala harus berpisah dengan hewan kesayangannya, padahal cuma beberapa hari ke depan saja. Si kucing diajak ngobrol dan disampaikan untuk betah di tempat sementara dan jangan nakal ya pus. Malah untuk memastikan bahwa hotel kucingnya layak, bela-belain masuk ke kandang sementaranya itu dan diskusi dengan si kucing.

Ikatan batin dengan hewan kesayangannya cukup kental, tentu ini menjadi modal dasar dalam belajar memaknai kehidupan tentang sebuah ikatan kebersamaan. Bagaimana memaknai dan mensyukuri keberadaan seseorang atau seseekor dan bersifat fana karena suatu saat akan berpisah.

Kali ini hanya pisah sementara, tetapi baru beberapa jam saja sudah kangen sama kucingnya sambil kedua belah matanya berkaca-kaca. Untungnya teknologi mendukung dan sang owner hotel penitipan kucingnyapun baik hati dalam pelayanannya sehingga memenuhi kerinduan sama kucingnya via pengiriman video dan penjadwalan videocall untuk menghapus kerinduan.

Itu baru urusan dengan hewan, maka menjadi hal yang wajar jika pergerakan manusia hari kemarin, hari ini dan esok lusa demi sebuah momentum untuk bertemu dalam suasana kekeluargaan yang kental serta memiliki nilai religi spiritual yang tak bisa dinilai dengan mata uang serta tak bisa membahas tentang rating peristiwa ini.

Tujuan utama mudik itu adalah kembali bersama, kembali berkumpul bersama keluarga setelah sekian purnama mengumpulkan rejeki demi memenuhi kebutuhan kehidupan masing-masing. Ada juga alasan utama adalah berkumpul berlebaran bersama bersama orangtua tercinta, bisa orang tua kandung atau ibu bapak mertua dari pasangan kita, setelah menikah tentu memiliki derajat perhatian yang sama. Karena mayoritas beda tempat dan berjarak, maka bergiliran tahunan menjadi solusinya. Kecuali yang awalnya ‘pacar 5 langkah’ maka tidak bingung milih berlebaran di orang tua yang mana, karena dipastikan rumah orang tua dan rumah mertua hanya selemparan batu, lha wong cuma 5 langkah dari rumah hehehehe.

Selamat menjalankan perjalanan penuh perjuangan tapi dibalik itu berbalut berkah. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Bagi yang orang tuanya belum meninggalkan dunia fana, inilah momentum bersama dan memaknai kembalinya kita. Memaknai asal muasal kita, seorang anak kecil yang tiada daya dan tergantung keberadaan orang tua. Hingga hadir hari ini menjadi individu seimbang, mandiri dan berkepribadian yang kuat serta berdiri tegak menghadapi tantangan kehidupan. Wassalam (AKW).

Bukuku Bukukita PERJALANAN WISATA.

Sebuah cerita singkat tentang buku kumpulan ceritaku yang ke.. sekian.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah penantian berhubungan dengan harapan, disitulah terpelihara semangat untuk tetap konsisten dalam sebuah perilaku yang terwujud nyata pada saatnya. Apapun itu harapannya, pasti melalui proses yang sudah seharusnya dijalani, disyukuri dan dinikmati seperti tulisan terdahulu, JaSuNi (jalani syukuri nikmati). Ulasannya ada di tulisan Merajut janji di Bekasi (04/2019) dan  Kopi Dirut & Banjir (02/2020).

Maka siang tadi menjadi salah satu momentum yang patut disyukuri. Suara mamang paket di halaman rumah memang dianggap biasa, karena kehadirannya berhubungan dengan jari jemari orang rumah yang memesan online aneka barang yang berada dimana-mana, dengan kemajuan jaman semuanya terasa begitu mudah dan berbeda. Baik paket yang sudah dibayar dan tinggal terima saja, ataupun yang model COD (Cuma Omong Doang) eh salah…. Cash On Delivery alias datang barang maka bayar (DBMB).

Pakeeet!!”
“Tunggu maaaang”

Lalu pintu terbuka dan kotak coklat berpindah tangan. Tak lupa berpose dulu dengan memegang kotak paket. Cetrek!, Lalu mamang paketnya pamit ditutup dengan ucapan terima kasih. Tak banyak cakap, kembali masuk ke rumah dan menyimpan paket tersebut di belakang. Selesai. Raga ini kembali ke rutinitas.

Ternyata pas lagi santuy di ruang kerja, anak kesayangan datang sambil membawa paket yang sudah terbuka berisi 3 buku bersampul biru. “Ayahhh… aku buka paketnya, ternyata buku ayah”

Deg!!

Walah ini yang ditunggu-tunggu. Langsung paket yang sudah terbuka itu disambut dan segera dikeluarkan. Benar saja, 3 buah buku dengan judul PERJALANAN WISATA telah hadir didepan mata, Alhamdulillahirobbil alamin.
Sebuah karya bersama telah hadir kembali melengkapi buku – buku antologi terdahulu. Buku ini hadir tak lepas dari peran sentral 2 perempuan hebat yang selalu memotivasi diri ini sebagai penulis amatir untuk terus berkarya plus. Disebut berkarya plus, karena bicara karya tentu bicara tentang hasil tulisan dan itu bisa dilakukan kapanpun serta disimpan di note hape atau diposting di medsos dan blog sendiri. Nah plusnya adalah diwujudkan dalam bentuk real, bentuk cetak yang bisa digenggang dan dirasakan kehadiran phisiknya.

Maka diawali dengan penawaran buat antologi buku atau kumpulan buku dengan tema pengalaman berwisata masing-masing pasca pandemi covid19 yang memporakporandakan tatanan kehidupan dunia sekaligus menghadirkan model kehidupan AKB (adaptasi kebiasaan baru), para penulis amatir ini mulai menulis, mengirimkan di grup whatsapp easy_writing dan berproseslah di bulan nopember 2022 lalu.

Orang pertama yang paling getol memotivasi dan menagih tulisan masing-masing adalah Bunda Retno Hadijati dari mulai woro-woro, mengumpulkan, menagih hingga sebagai editor dari aneka tulisan yang terserak lintas pulau lho serta Mbak Nenny_makmun yang terus konsisten mengawal pergerakan kami hingga akhirnya berproses untuk finishing yaitu penerbitan buku yang dilengkapi legalisasi karya ini.

Para penulis kumpulan buku inipun lintas profesi dan lintas pulau, tidak hanya di pulau jawa tetapi juga hadir perwakilan dari pulau kalimantan dan sekitarnya. Lebih ajib lagi adalah, saya sebagai salah satu penulisnya belum pernah bersua secara phisik dengan masing-masing tapi kami meyakini bahwa dengan semangat terus menulis, inilah persaudaraan yang hakiki dan besok lusa bisa berjumpa secara nyata dan berdiskusi dalam forum yang berbeda.

Pertanyaan selanjutnya, “Bagaimana pembiayaannya?”

Nah ini adalah pertanyaan yang mungkin membebani pikiran atau malah menghalangi kreatifitas menulis kita. Jangan khawatir, dengan semangat kebersamaan maka semua menjadi lebih mudah. Caranya adalah dengan membeli karya kita yang sudah menjadi buku, minimal 2 buah saja tentu dengan hitungan yang sudah ditentukan bersama, simpel kan. Jadi tak perlu khawatir harus mengeluarkan banyak uang. Tapi inilah jalan ninja untuk siapapun yang bersemangat menulis dan diwujudkan menjadi buku phisik yang nyata.

Memang sekarang pamor buku cetak berbeda, tergerus oleh buku digital atau ebook yang berserakan di dunia maya. Tapi pengalaman pribadi, sebuah kebahagiaan terasa disaat menggenggam buku hasil karya bersama dan ada nama kita tertera disana. Lalu untuk langkah selanjutnya untuk meniti perkembangan jaman yaitu menerbitkan buku dalam bentuk ebook begitu terbuka, karena naskahnya sudah tersedia. Tinggal berproses dan tring… jadilah ebook yang didamba.

Begitulah cerita singkat tentang buku kumpulan cerita PERJALANAN WISATA ini, yang secara kebetulan juga waktu itu sangat pas dengan penugasan di instansi yang mengurus tentang kepariwisataan. Meskipun disaat terbit buku ini, penugasannya sudah berbeda tetapi rangkaian perjalanan ini semakin menguatkan makna. Selamat weekend di 10 hari terakhir bulan Ramadhan 1444 H kawan. Semangaaat, Wassalam (AKW).

Misi Penyelamatan di Cibalagung.

Misi Penyelamatan Sore yang memukau.

CIBALAGUNG, akwnulis.com. Suasana sendu di sore hari menyambut kehadiran kami dengan menebar suasana keteduhan yang mendamaikan. Hijaunya pepohonan disertai kicau burung plus serangga sore baik tonggeret dan turaes yang bernyanyi bersama menyenandungkan rasa syukur atas berkah kehidupan ini.

Sementara sajian kopi hitam tanpa gula (kohitala) masih tertahan oleh waktu yang dijaga ketat hingga adzan magrib tiba. Tetapi untuk persiapan, perlu juga disiapkan cangkir terbaik dan kopi liong khas kota bogor tentunya.

Berkeliling di halaman tempat ini yang begitu asri, termasuk terdapat sebuah tempat yang berisi genangan air dengan air jernih sehingga sebagian dasarnya terlihat. Disitulah mata terpana karena banyak sekali mahluk yang sedang tenggelam di dalam air.

Menapaki halaman yang asri memberi ketenangan yang tak ternilai harganya. Apalagi disambut oleh senyuman anak – anak yang begitu polos meskipun nasib mereka sebelumnya kurang beruntung. Sekarang anak – anak yang telantar ataupun ditelantarkan telah menjadi penghuni tempat ini dan menjadi tugas negara untuk memeliharanya. Bergabung bersama menapaki masa depan ditemani para petugas pengasuh yang melayani mereka sepenuh hati.

Ini harus segera dilakukan penyelamatan” Teriakanku menghadirkan reaksi beragam, tapi tentu semua sudah memahami tugas masing-masing. Peralatan penyelamatan hewan yang tenggelam segera disiapkan di pinggir genangan air yang cukup luas tersebut. Diantaranya kayu tipis panjang tetapi lentur yang dilengkapi tali khusus yang kuat. Ember besar dan tentunya berbagai peralatan lainnya.

Tanpa menunggu waktu karena khawatir korban tenggelam bertambah, langsung sajaj kayu tipis lentur dijulurkan dan hanya hitungan detik, hewan yang beraneka warna itu dapat diselamatkan dari bahaya tenggelam dan diangkat serta dibariskan di daratan, Alhamdulillahirobbil alamin.

Mayoritas memiliki warna merah menyala dan sisanya putih dan hitam. Semua berhasil diselamatkan dan dirapihkan. Termasuk diberikan polesan akhir adalah membersihkannya dengan air dan baluran minyak panas sehingga pada saat berbaris bersama di atas loyang begitu memukau.

Misi penyelamatan dadakan kami tuntas karena hasil kerja bareng semua pihak, tanpa melihat strata jabatan dan kewenangan. Semua bahu membahu sehingga misi penyelamatan ini berhasil dilakukan dalam waktu yang singkat dengan jumlah hewan tenggelam di air yang dipindahkan cukup banyak jumlahnya.

Semoga kekompakan ini terus terjaga dan menjadi nilai tambah pahala di dalam perjalanan akhir menuju sisa waktu bulan ramadhan tahun ini. Wassalam (AKW).

TERAS BACA – Tips menulisku.

Sebuah catatan tentang Tips Menulisku..

CIMAHI, akwnulis.com. Pertanyaan – pertanyaan yang hadir memiliki kecenderungan tentang kegamangan dan rasa khawatir tidak bisa menulis karena bukan bakat, karena banyak pengaruh dari luar, karena perkembangan teknologi dan karena tayangan televisi yang mengurangi atau malah menghilangkan hasrat untuk menulis. Itulah rangkuman dari berbagai pertanyaan yang hadir di acara TERAS BACA – MQFM dengan tema MANAJEMEN WAKTUProduktif Menulis yang sudah dilaksanakan tadi siang.

Aneka pertanyaan yang mewakili kegalauan untuk sebuah kalimat, “Bisakah saya menulis?”

Tentu secara fundamental adalah dimulai dari niat kita untuk membuat tulisan. Pertanyaannya adalah “Tulisan tentang apa?”

Maka secara tuntunan agama islam dan dicontohkan oleh nabi adalah selama 24 jam per hari ini dibagi menjadi 3 bagian. Sepertiga waktu untuk beribadah, sepertiga waktu untuk bekerja dan sepertiga waktu untuk beristirahat. Berarti 8 jam adalah akumulatif waktu untuk beribadah, padahal penulis paling cuma 5 menit x waktu shalat lima waktu, aaw cuma 25 menit saja. Sisa 7 jam 35 menitnya ngapain?.. aduh gawat nich.

Oke guys itu tataran ideal ya, terkadang malah waktu bekerja yang terlalu banyak, lebih dari 8 jam atau malah waktu istirahat yang berlebihan, itu semua kembali kepada niat dari diri kita masing-masing.

Udah ah, sekarang mau jawab pertanyaan yang pertama. “BISAKAH SAYA MENULIS” jawabannya tegas, “BISA”. lha wong bikin status whatsaps dan posting di medsos bisa sehari 5x, padahal jelas itukan dasarnya menulis. Memberikan komentar pada postingan orang di media sosial, jelas adalah rangkaian kata yang merupakan aktifitas menulis. Jadi tidak ada alasan lagi, menulis dan menulislah.

Pertanyaan selanjutnya adalah “Menulis tentang apa?”… langsung sambar jawabannya, “Menulislah apa yang anda suka, apakah yang memang dialami sendiri, atau berharap dialami sendiri ataupun setelah membaca sesuatu lalu ingin menuangkan versi kata dan kalimat sendiri

Gampang khan?”

Ih ngegampangin banget, padahal susah kan. Gitu gerutu dalam hati ya. Maka ini sebagai sharing pengalaman saja sebagai penulis, aduh berat juga nyebut penulis. Tapi kenyataannya memang hingga paragraf ini adalah aktifitas menulis.

Nah supaya nggak bertele-tele, inilah AKWTips untuk menulis kali ini.

1. Tuliskan segera apa yang menjadi harapan, apa yang disuka dan apa yang didambakan. Tret kutret.

2. Metode menulisnya (jika mau) jangan menggunakan komputer karena kemungkinan tergoda untuk mengerjakan hal lain apalagi menulis di kertas bekas gorengan, biasanya fokus ngabisin gorengannya dan nggak keburu nulisnya… tapi menulisnya di aplikasi NOTE smartphone android (jangan protes pengguna Iphone, kebetulan penulis memang pake hape android).

3. Tulislah apa yang disenangi, baca sekali saja khawatir ada typo atau salah tulis.

4. Jangan sering-sering dibaca ulang, kecenderungannya malah nggak jadi tulisan karena terus menerus dikoreksi sendiri :).

5. Posting di medsos pribadi atau yang senang dalam bentuk diary online bisa gunakan fasilitas blog gratisan berbasis blogspot dan wordpres atau platform lainnya.

6. Bisa juga kirim hasil karya kita atau link blog kita ke kontak yang ada di hape via japri di WA atau share di WA grup.

7. Lupakan dan kita kembali ke nomor 1 untuk memulai lagi menulis.

Percaya deh, kalau tahapan ke-7 ini dilewati dan kembali ke tahapan 1 berarti anda sudah menghasilkan sebuah tulisan.

Sebagai pelengkap bisa ditambah photo hasil jepretan sendiri atau ngambil punya orang, konsekuensinya harus disebut sumbernya. Kalau penulis simple saja, jika lihat di blog ini ada photo dan dibawahnya ditulis DOKPRI artinya dokumen pribadi atau kalau yang berbahasa sunda ditulis DOKLANG (dokumen olangan).

Gitu deh tulisan singkat kali ini, selamat menulis ya. Oh iya terima kasih Bu Anita Owner Bitread dan juga Kang M Huda MQFM atas kesempatan silaturahmi dan bersiaran di radio tadi siang. Selamat berbuka shaum hari ke-18 ini. Wassalam (AKW).

DIRACEK – fbs

Tulisan singkat buat ngabuburit.

CIMAHI, akwnulis.com. Minggu ini dengan hari kerja hanya 4 hari saja karena hari jumatnya libur nasional, ternyata cukup menyita waktu dengan berbagai aktifitas yang cukup padat. Ditambah dengan aktifitas bulan ramadhan yang harus dimakmurkan oleh berbagai aktifitas. Mulai dari tadarus dengan target one juz one day, pengajian, ikut kultum hingga hadir di bazaar dan ngabuburit menunggu saatnya tiba buka puasa.

Menyusun kata-kata menjadi agak tertunda, tetapi jangan lupa. Menulis ini harus dipertahankan dalam kondisi apapun. Karena dengan menulis sesuatu dan meng-uploadnya berarti telah menyimpan memori fana di sebuah tempat yang bernama blog dan cloud yang besok lusa menjadi selarik warna dalam perjalanan kehidupan.

Juga bagi penikmat tulisan santai ini lalu tertarik untuk ikut mencoba membuat tulisan. Jangan takut, langsung menulis saja dan upload di blog pribadi atau di wall facebook, di postingan instagram atau tiktok plus gambar yang relevan. Lakukan rutin. Tentu ada pakemnya, jangan menulis SARA, dan ujaran kebencian. Lebih aman tulis saja pengalaman pribadi sehingga menjadi catatan online yang besok lusa bisa ditengok kembali dengan mengakses aplikasi atau via searching enggine internet.

Jangan takut tulisan jelek, tapi tulis dan sebarkan. Jika ada kesalahan penulisan dan dikoreksi oleh seseorang, tidak usah baper, ucapkan terima kasih dan segera klik tombol edit, perbaiki. Se-simpel itu kawan.

Kali ini tulisan fiksi singkat berbahasa sunda dengan background pengalaman kehidupan asrama. Lumayan hanya 150 kata, cukup 1 sampain2 menit saja untuk membacanya.

Seperti biasa, sebagai pelengkapnya, jikalau tidak mengerti, tinggal japri atau tulis komentar di kolom yang berada dibawah ini. Selamat membaca…

FIKMIN # DIRACEK #

Geus dua poè seuseut barang dahar tèh. Hèsè pisan ngahuapkeun sangu jeung dahareun lainna. Lain sorangan nu kitu peta, tapi lobaan. Teu kaop rèk am, ngurel nu aya.

Papelong – pelong jeung babaturan, sarua teu bisa ngahuapkeun dahareun. Kèsang mimiti renung, geus kabayang bakal dihukum. Enya wè, waktu dahar lekasan. Kabèh ngabring ka lapang.

Maranèh teu ngahargaan nu geus popolah, jungkir siah!!!”

Sora handaruan pelatih, beuteung lapar, jujungkiran dina, duh nasib asa kieu-kieu teuing.

Nu jadi sabab musabab mah teu pira, pèdah di asrama kapanggih aya nu dolmo teu dibanjur, ngadungkuk bau. Ditalèk euweuh nu ngaku, tungtungna 30 urang dibariskeun. Saurang – saurang asup ka wèsè, nyabak taeun bari kudu diracek. Tuluy baris deu, teu meunang dikumbah.

Mun euweuh nu ngaku, muih deui tinu kahiji. Tungtungna puteran kadua aya nu ngaku, Si Asep. Acara racek taeun, eureun. Ngan hanjakal rarasaeun ramètèk dina ramo hèsè leungit tina implengan, saminggu campleng.

***

Itulah coretan kata hari ini atau minggu ini ya?.. (Salam Asrama – salam Barak dan Salam anak-anak Kedinasan ) ….. ya sudah tidak usah dipikirkan. Paling penting disini adalah tulislah dan sebarkan. Siapa tahu menjadi penghibur atau menginspirasi. Met libur long weekend kawan. Wassalam (AKW).

Pandanlatte & V60 Bali Senja.

Sore gini enaknya sruput kopi.

KUNINGAN, akwnulis.com. Ternyata sebuah kata nikmat itu tak bisa dinilai dengan angka dan berat untuk ditulis dengan kata-kata. Apalagi ternyata suasana yang hadir sangat mendukung dalam menjaga vibe kebersamaan ini meski dengan waktu yang terbatas sebelum ada videocall dari sang anak yang tak ikut karena memilih bermain di rumah saja.

Kehadiran minuman berbasis kopi pertama adalah pandanlatte yang diolah secara mandiri oleh cafe ini, namanya DOMO Coffee & Space. Setelah dituang di gelas yang berisi es batu berbentuk kotak, maka sruputan perdana begitu nikmat karena dibahu kiri bergelayut manja tangan lembut istri tercinta. Srupuut….. hmmm tentang rasa B aja, karena lebih seperti kopi susu dilengkapi sirup pandan, titik.

Menjadi mahal adalah suasana berduanya itu ditengah ketidaksingkronan jadwal kerja dan pergerakan luar kota yang ternyata sabtu minggupun masih beredar atas nama kerja. Maka kebersamaan kali ini begitu bermakna.

Penasaran dengan sajian kopi yang sebenarnya, maka sementara gelayutan manja diberi jeda. Karena raga harus bergerak kembali ke depan menemui sang barista tentu lengkap dengan basa basi dan pertanyaan seputar kohitala. Ternyata meskipun menu manual brew tercantum, ternyata beannya tinggal satu hanya bean arabica Bali Senja Batukaang Kintamani. Ya sudah lumayan masih ada bean yang bisa dinikmati.

Buatin V60 hot yang kang”
“Baik kakak, ditunggu ya”

Kembali raga menuju meja dalam dimana istri tercinta setia menanti. Senyuman dan perbincangan hangat kembali menggema sambil melihat lalu lalang dan tingkah laku orang-orang yang juga saling berbagi senyum dan tawa.

Ini kopinya kaka” Sebuah kalimat lembut mengantarkan sajian manual brew V60 didepan meja kami bersua, wah harum sekali. Alhamdulillah. Tanpa menunggu lama, langsung dikucurkan di gelas kaca dan sruputan pertama mumpung masih panas. Hhmmm nikmat, kombinasi medium body dan acidity litenya berpadu dengan aftertaste selarik apricot dan tea menemani kebersamaan ini. Maka tuangkan lagi dan disruput lagi. Mata merem untuk memaknai detik – detik kenikmatan ini… tapi tiba-tiba teringat sesuatu yang penting.

Ini khan bulan puasa, kok ngopi jam segini?”

Iya bener, tapi apa mau dikata karena ini adalah cerita latepost kawan, karena kalau dilakukan sekarang berarti membatalkan puasa hari ke 10 ini hehehehe.

Tiada maksud ‘ngabibita‘ tapi sebagai penyemangat untuk menambah kesabaran menuju berkumandangnya adzan magrib di malam minggu ini. Happy Malming with Family, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
DOMO Coffee & Space
Jl. LLRE Martadinata No, 99 Cijoho Kuningan Jawa Barat.

INTISHOR NAMA MESJID.

Apalah arti sebuah nama? tapi arti harus dicari.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah peralihan adalah bagian dari petualangan hidup, maka sinyal adaptasi dan rasa penasaran menjadi modal utama. Begitupun dikala langkah kaki menuju mesjid di kawasan tempat bekerja sekarang dan disaat berada di dalam mesjid langsung mengeja nama mesjidnya, yaitu AL INTISHOR.

Tring.. apa artinya ya?

Maka segera bertanya kepada beberapa jemaah yang akan bersama-sama menunaikan ibadah shalat dhuhur. Tetapi dari 6 orang yang ditanya, mayoritas yang hadir adalah sunggingan senyum untuk melengkapi kebelumtahuan. Nggak perlu kecewa, tinggal buka hape dan minta bantuan mister guggel serta yang terbaru menggunakan ChatGPT.

Ternyata ini menjadi petualangan juga karena yang pertama adalah kesalahan pengetikan pada kesempatan pertama sehingga hasil pencariannyapun berbeda. Kata yang diketik dengan jempol terpeleset sedikit, yaitu Al Ikhtisor. Maka pengertian yang muncul adalah metode pembelajaran untuk menguasai cara membaca dan memahami kitab kuning atau lebih dikenal dengan arab gundul yang dikembangkan di pesantren – pesantren terutama di wilayah pulau jawa sebelah timur.

Maka dengan pedenya menjadi pengetahuan baru dan di beberapa kesempatan disampaikan. Sok JNE (Jiga nu enya) tea. Padahal ada satu hurup krusial yang berbeda. Tidak mengapa, minimal menjadi tambahan pengetahuan saja.

Tersadar bahwa istilah tersebut berbeda dengan nama mesjid yang dikamsud eh dimaksud. Metode untuk membaca kitab kuning adalah IKHTISOR, sementara nama mesjid itu adalah INTISHOR. Walah satu huruf ini tentu membedakan artinya.

Semangat lagi mencari arti nama mesjid ini, tapi beberapa orang yang ditanya, kembali menjawab dengan senyuman dan gelengan kepala yang khas. Maka sebagai penguatan mencari istilah, mang gugel harus dilengkapi dengan chatGPT. Sugan we lebih jelas.

Ketik ketik geser… ketik. Tring.

Nah sekarang muncul hasil pencarian via mang gugel bahwa INTISHOR itu adalah memiliki arti KEMENANGAN. Beberapa situs website memiliki keseragaman arti, namun yang menggelitik adalah istilah kemenangan ini juga cocok untuk penamaan bagi anak perempuan ceunah. Ini agak sedikit jadi tambahan pertanyaan, karena mesjid juga tentu berkait erat dengan laki-laki. Tapi tidak apa-apa, sebuah arti kata KEMENANGAN, tentu cocok dengan nama sebuah mesjid, karena bisa dijadikan tempat untuk meraih kemenangan dari keimanan, ketakwaan dan juga hubungan antar manusia.

Tapi khan masih penasaran, mencoba mengunakan ChatGPT. Ternyata hasilnya berbeda, INTISHOR ini memiliki banyak arti, tidak hanya bermakna KEMENANGAN saja. Tetapi juga memiliki arti PENYEBARAN / PERSEBARAN.  Namun, dalam beberapa konteks tertentu, seperti dalam konteks pertempuran atau perang, kata “intishar” dapat digunakan untuk merujuk pada “kemenangan”. Sebagai contoh, “al-intishar fi al-harb” dapat diartikan sebagai “kemenangan dalam perang”. Namun, ini bukanlah makna umum dari kata “al intishor” dalam bahasa Arab.

Dari studi literisi online maksa (SLOM) ini maka makna dari INTISHOR ini adalah KEMENANGAN, Alhamdulillahirobbil alamin. Bungkuss.

Selamat menunaikan ibadah shaum hari ke tujuh ini bagi kaum muslimin dan bagi para pembaca  diberikan kekuatan dan kesehatan dalam meniti kehidupan dunia yang sementara ini penuh keberkahan.

Jika masih penasaran, maka dengan tangan terbuka untuk saling melengkapi dan membahas penamaan ini. Bisa chat, komen atau berkirim email. Terima kasih, Wassalam. (AKW)..

Kopi hari ke 5.

Catatanku dan Kopi di Ramadhan 1444 Hijriah

CIMAHI, akwnulis.com. Menginjak hari kelima di bulan ramadhan ini, kesempatan menulis agak tertunda. Tentu yang dicari adalah alasan pembenarannya karena itu merupakan sifat dasar manusia. Bukannya introspeksi tapi malah menghakimi hehehehe. Maka dengan sekuat tenaga mencoba memgidentifikasi kemalasan yang terjadi. Nah itu dapat satu kata, kemalasan.

Kemalasan hadir dari diri sendiri dan juga didukung faktor esternal. Kalau dari diri sendiri maka alibi yang dihadirkan karena suasana bulan puasa itu berbeda, apalagi kalau sudah kantuk menyerang, begitu mudahnya terlelap dalam buaian. Ditambah dengan pendapat bahwa tidur di bulan ramadhan adalah bernilai ibadah, ceunah. Terus terang tentang pendapat itu masih ragu, tapi kembali kemalasan untuk mencari dasar hadist dan ayatnya sehingga kembali tertidur… eh gimana atuh.

Nah kalau faktor eksternalnya adalah kesibukan sehari-hari ditambah ibadah khusus bulan puasa seperti pengajian, tadarus, hafalan, imam sholat memberi kultum di mesjid hingga imam tarawih spesial 11 rakaat dan aktifitas lainnya… weits jadi riya ya. Jangan ribut, ibadah ini mah urusannya sama Allah. Stop jangan dibeja-beja.

Ada faktor eksternal lain yang cukup menyulitkan tulisan ini, yaitu aktifitas ngopi pagi siang hingga sore harus terhenti karena akan berakibat pembatalan puasa yang tentung berujung dosa karena membatalkan puasa dengan sengaja, apalagi batal berjamaah karena minum kopinya bareng – bareng.

Mau nongkrong minum kopi disaat berbuka puasa terasa kurang makna, lebih baik di rumah dengan sajian sederhana sambil mendidik anak semata wayang untuk belajar menahan haus lapar dan akhirnya disaat berbuka puasa manakala adzan magrib berkumandang, sebuah kalimat tanya adalah, “Alhamdulillah Ayah, semua minuman dan makanan ini kok enak semua?”

Sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan anak semata wayang yang belajar  berpuasa tahun ini hingga adzan magrib menggema. Begitu meneduhkan rasa. Melengkapi kebahagiaan dalam meraih pahala di bulan ramadhan ini.

Sebagai penutup cerita tentu tak afdol jika tidak hadir sejumput kata tentang si hitam kohitala. Maka setelah potongan buah dan dimsum plus kolak pisang dilengkapi roti macha keju… eh kok banyak ya?….  dilanjutkan dengan menggrinder biji kopi yang tersedia dan memproses seduh manual dengan corong flat bottom karena kebetulan kertas filternya hanya itu yang tersedia, proses….

Akhirnya sebuah cairan hitam terang melengkapi malam berbuka puasa ini. Memberikan citarasa pahit yang miliki aneka sensasi, tanpa perlu sebuah untaian kalimat sebagai definisi, pendapat anakku tadi telah mewakili…. setelah saatnya berbuka puasa semua makanan dan minuman begitu enakkk, srupuuuut.

Selamat berbuka puasa di hari kelima, dan bersiap mendulang pahala hingga bersiap untuk melanjutkan puasa di esok hari. Wassalam (AKW).