Memaknai Ketidaktahuan.

Kebingungan itu bisa menjadi inspirasi.

CIMAHI, akwnulis.com. Saat terjaga dini hari, sebuah pesan instan hadir tanpa basa – basi. Tangan yang sudah menggenggam smartphone diikuti dua bola mata yang sedikit memicing karena menyesuaikan dengan suasana gelap di sekitar. Agar bisa membaca pesan yang hadir bukan pada waktu yang lumrah.

Ternyata, sebuah pesan yang berisi lampiran surat berbentuk file pdf dan tercantum sebuah nama, namaku. Sebuah undangan pelantikan.

Sesaat terdiam, menarik nafas perlahan dan menghembuskannya selembut mungkin. Kembali surat elektronik tersebut dibaca dan memang namaku tertera disana.

Wajah tengadah membaca langit kamar yang seolah ikut faham dengan rasa hati yang tidak jelas ini. Ada angka samar yang diperhatikan seksama membentuk angka dua puluh, weleeh weleh bener juga, jika pelantikan ini terjadi berarti job ke 20 dalam masa karir menjadi aparatur sipil negara ini.


Ada terselip rasa masgyul dan bingung serta khawatir karena tidak tahu dan tidak jelas akan ditugaskan kemana. Manusiawi dong, detak jantung terasa lebih cepat dan pikiran bergerak kesana kemari.

Itulah sebuah momentum rasa yang dirasakan diri ini disaat memghadapi kenyataan yang kita belum diberi kesempatan untuk tahu akan ditugaskan kemana kita ini. Ada tekanan di pikiran juga menghadirkan suasana galau tidak hanya dalam hati tapi terkadang menuju perut dan seolah sembelit atau mual-mual juga bisa tiba-tiba pusing dan berkeringat.

Nah inilah sebuah saat dimana raga dan jiwa ini harus bersinergi dengan komando sang otak yang bersikap biasa saja padahal penuh tanda tanya. Biarkan gempuran kekhawatiran menjadi semangat untuk menghadapi segala perubahan. Alarm adaptasi langsung berbunyi dan hanya satu kata yang harus disiapkan, HADAPI.

Setelah shalat shubuh maka bergegas mandi, lalu menginformasikan tentang hal ini kepada istri tercinta, anak kesayangan, ibunda mertua dan ayah ibu di kampung sana. Mohon doa dan dukungannya semoga perubahan ini adalah menuju kebaikan, keberkahan dan amanah jabatan yang menambah pahala sebagai bagian dari ibadah kepada sang maha Pencipta.

Perjalanan ke kantor ternyata disambut dengan kemacetan yang tidak seperti biasanya, sehingga harus merelakan diri jika harus tercatat beberapa menit terlambat hadir di aplikasi absensi. Sementara mendung dan rintik hujan seolah menemani prosesi perubahan ini.

Tiba di kantor dihadapkan dengan wajah sendu rekan-rekan yang mencoba memaknai sebuah kalimat bahwa ‘Perpisahan terjadi karena adanya Pertemuan.‘ Bibir sulit berkata-kata hanya bola mata yang berusaha menguatkan semuanya dan yakinlah ini takdir yang harus dijalani dan dihadapi bersama.

Maka rasa galau ini dititipkan dalam untaian kalimat singkat pada tulisan kalimat ini, seiring detik dan menit mengantarkan semuanya terhadap kenyataan yang sebenarnya. Wassalam (AKW).

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

6 thoughts on “Memaknai Ketidaktahuan.”

  1. Tulisan pak Andrie luar biasa yg bisa jadi mewakili perasaan kebanyakan PNS yg harus siap ditempatkan dimana saja walau kadang ada konflik batin. Alhamdulillah saya sudah melewati masa itu. Terus semangat ya pak Andrie yakin akan mencapai sesuatu yg diharapkan dng melalui banyak tantangan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: