Mariottalatte Yogya.

Sebuah perjalanan, tugas dan harapan.

CONDONGCATUR, akwnulis.com. Pagi hari sudah kembali menikmati semilir angin kota Yogyakarta dengan memegang erat pinggang mas gojek yang melaju sedikit kencang karena sebuah permintaan. Udara segar dihirup bersama berbagai nuansa kenangan yang begitu kental di kota ini. Sulit memang melupakannya.

Melewati ruas jalan besar dan sesekali masuk jalan kecil plus menyusuri sisi kampus UGM dan terus menuju sebuah hotel yang tertera dalam surat undangan, Hotel JW Marriot Yogyakarta. Perjalanan 17 menit dari jalan sosrowijan ke lokasi. Setelah berterima kasih dan pijit tombol bintang lima dilanjutkan dengan prosesi photo selpi dengan background hotel yang dituju.

Cetrek…
Cetrek..

Ini penting guys, karena setiap photo aktifitas dinas ini bernilai rupiah. Tentu dengan pelaporan rutin dalam aplikasi kegiatan harian dilengkapi syarat lainnya. Kebetulan juga seneng photo selpi, jadi ya saling melengkapi hehehehehe.

Materi rapat nanti di bahas di nota dinas, dalam tulisan singkat ini lebih menyoroti sajian kopinya sekaligus tempat ngojaynya yaitu kolam renang, lha terlalu bertele-tele masa iya berenang di kolam ikan. Apalagi hotel bertabur bintang maka jelas standar kolam renangnya segede gaban. Entar ah, di jam istirahat coba beredar.

Ternyata, keinginan menggabungkan Ngojay (berenang) dan Ngopay (ngopi sruput kopi) langsung cespleng dikabulkan Tuhan. Pertama adalah ruang meeting dilantai 2 acara Kemenparekraf ini tersedia mesin kopi… yuhhhu… minimal espresso, latte  cappucino, americano bisa direquest.

Setelah bersabar 24 jam lebih karena ‘gagal ngopi’ hehehehehe.. lengkapnya di tulisan ini YOGYA, KOPI & MATI. maka sekarang diberi jawaban dan kesempatan yang lengkap. Bisa ngopay daaan….

Kedua, ternyata pemandangan dari koridor depan ruang meeting tersebut adalah kolam renang infinity pool yang luas… Alhamdulillah lengkap sudah.

Maka sebelum acara resmi dimulai, langsung pesen kopi caffelatte dan mengabadikannya dengan background kolam renang.

Cetrek…. inilah hasilnya.

Sebuah gambar yang mewakili tema besar dari blog ini yaitu ngopay dan ngojay, memberi kesan tersendiri. Meskipun jelas bahwa ini bukan hanya kebetulan dan keberuntungan saja. Tetapi sebuah takdir dari Illahi Rabbi. Maka tunduk syukur dan berdua adalah sebuah ritual pribadi dari segala kemudahan ini. Baru setelah itu srupur tiada henti…. eh… maksudnya sruput dulu dan jika dimungkinkan pesan lagi. Karena petugas hotel yang menggawangi mesin kopi tetap setia berada disisinya dan disibukkan dengan reques para penikmat dan pecinta kopi yang hadir dari berbagai penjuru nusantara untuk hadir di meeting ini.

Sebuah nama tersemat untuk secangkir kopi ini, yaitu Mariotalatte Yogya. Maafkan jika terkesan maksa, namun itulah keindahan kata yang menjadi pengingat tentang sebuah rasa, kesan, tempat dan kenyataan.

Selamat ngopay dan diskusi kawan. Wassalam (AKW).

Yogya, Kopi & Mati

yogya dan kopi, bersabarlah.

SOSROWIJAN, akwnulis.com. Perjalanan kali ini adalah kembali ke kota kenangan, Yogyakarta. Tentu berbalut penugasan kedinasan, tetapi di sela padatnya jadwal harus bisa mlipir sedikit untuk menikmati si kopi hitam. Maka skenario dirancang meskipun eksekusinya menyesuaikan, ada plan A, plan B dan no plan alias spontan lihat situasi.

Ternyata yang kepake adalah No plan euy, karena keberangkatannya begitu mendadak acaranya cukup padat. Jadi harus pinter – pinter baca, yakni baca situasi.

Perintah datang di rapim dan tak banyak waktu berkemas. Langsung pesan tiket kereta untuk keberangkatan di malam hari. Tentu stasiun Bandung menjadi saksi, berangkat sendiri karena yang lain agak kesulitan kalau didadak untuk berangkat. Ya sudah, Bismillah.

Dengan perkembangan teknologi maka pemesanan tiket kereta dan hotel bisa dilakukan segera. Apalagi setelah vaksin 3 kali, sudah tidak lagi harus rapid tes antigen.

Nah kesempatan pertama menikmati kopi adalah cafelatte di stasiun bandung, akan tetapi harapan tinggal harapan. Waktu yang tersedia begitu terbatas sehingga pilihannya adalah bersegera memasuki stasiun dan mencari gerbong KA Mutiara Selatan yang akan menjadi tempat bermalam sambil bergerak menuju stasiun tugu yogya.

Kesempatan kedua adalah menikmati kohitala di restoKA atau menunggu petugas restoKA yang bergerak mendatangi penumpang secara berkala. Baiklah ditunggu di kursi saja sambil sedikit rebahan meluruskan badan dan pikiran karena akan menghadapi perjalanan dengan estimasi selama 8 jam.

Tapi lagi – lagi harus bersabar karena menu kopi hitam sudah keburu habis di gerbong lainnya. Hehehe gagal ngopay kedua kali. Maka pilihan terbaik adalah mencoba kontak istri dan anak dan ngobrol ngaler ngidul di telepon. Sudahlah malam ini dipastikan untuk beristirahat dulu.

***

Tepat jam menunjukan pukul 03.30 wib waktu yogyakarta. Raga ini harus turun dari gerbong dan bergegas keluar. Karena kalau tidak segera turun, akan terbawa pergerakan kereta selanjutnya, menuju pemberhentian akhir di stasiun gubeng Surabaya.

Maka setelah keluar area stasiun tugu bergegas menyebrang jalan dan memasuki jalan gang menuju jalan sosrowijan. Pede saja seperti yang sudah biasa di yogya, padahal bermodal petunjuk googlemap di smartphone. Tujuannya jelas sebuah hotel kapsul yang bernama The Capsule Hotel Malioboro.

Kok milih hotel kapsul sih?”

Ada beberapa pertanyaan senada dan jawabannya simpel saja. Itulah gayaku, menikmati menjadi backpackeran beberapa jam adalah kebahagiaan tersendiri. Sekaligus mengingatkan diri pada ujung kehidupan bahwa segala keindahan, kemudahan hidup ini akan berakhir pada kotak tanah nan sempit, gelap dan lembab dikala nyawa sudah tidak dikandung badan. Nah kotak hotel capsule ini bisa mengingatkan lagi itu semua.

Terkait sruput kopi masih harus menanti kesempatan dengan sabar. Sekarang saatnya meluruskan badan dan terlelap sejenak. Wassalam ( AKW).

Gedung Negara Sumedang & Aku.

Ternyata sang waktu begitu cepat berlalu, tapi memori tetap abadi.

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala mentari pagi hampir muncul di ufuk timur, maka raga ini sudah bergegas keluar kamar mandi dan bersiap dandan berbenah diri tak peduli hari ini tanggal merah atau tidak. Karena sebentar lagi tugas – tugas telah menanti.

Teeeeeeett teeeeeeet…”

Benar saja, tepat jam 06.30 suara bel panggilan menggema. Kaki melangkah cepat menuju sumber suara dan langsung berhadapan dengan atasan yang menanyakan dengan metode 5W1H.

Apa saja acara hari ini, Siapa saja pendamping dinas yang hadir, Berapa orang tamu yang akan datang, Dimana akan diterima dan Mengapa harus pagi dan siang menerimanya dan Bagaimana teknisnya?”

Berondongan pertanyaan yang langsung diberikan jawaban lengkap dan tegas. Terlihat air muka atasan tidak menegang, tandanya beliau menerima semua jawaban ini dan ditutup singkat dengan kalimat, “Oke dipersiapkan semua dengan baik”

Siap Bapak”

Barulah raga ini balik kanan dan langsung menuju ke dapur untuk bersua dengan menu sarapan serta secangkir teh hangat sebagai mood booster dalam hadapi rangkaian acara yang begitu padat di hari sabtu ini.

Rangkaian acara dimulai di jam 07.30 wib bertempat di alun – alun, dilanjutkan jam 10.00 menuju ke daerah Darmaraja dengan judul peresmian puskesmas hingga kembali ke gedung negara dan pukul 14.00 wib menerima tamu dari tokoh nasional didampingi para kepala dinas dan asisten dilanjutkan pukul 16.00 menerima audiensi seniman dan budayawan hingga dilanjutkan malam harinya berdiskusi tentang pengembangan konsepsi pembangunan di kampung toga bersama beberapa komunitas dan tokoh masyarakat, sambil bermalam minggu menikmati city light kota Sumedang.

Ternyata …

…..itu adalah memori 20 tahun yang lalu… oh my God, betapa berkah perjalanan waktu begitu ajaib. Serasa semua itu baru terjadi kemarin. Alhamdulillah Ya Allah diberikan berkah waktu yang menakjubkan. Semoga terus diberi kesempatan umur yang panjang penuh keberkahan.

Memori 20 tahun lalu dikala ditugaskan mengabdi menjadi ajudan bupati Sumedang yang penuh dinamika serta suka duka menjadi pondasi dan pijakan awal untuk meniti karier menjadi birokrat muda hingga saat ini. Menjadi ‘buntut gajah‘ alias ajudan Bupati yang tinggi besar, tegas serta penuh wibawa, Bapak Drs. H. Misbach yang memegang jabatan bupati sumedang periode 1998- 2003.

Maka berada di gedung negara Sumedang kali ini begitu sarat makna. Terima kasih bapak Bupati Sumedang saat ini, Bapak Dony Munir yang berkenan mengundang untuk hadir disini menikmati dan memaknai kenangan masa lalu. Juga terima kasih kepada bapak Kadisparbudpora dan Kabid pariwisata kab sumedang yang juga dulu pernah mengabdi menjadi ajudan bupati sumedang meskipun berbeda periodesasinya.

Raga bergerak menyusuri ruang tengah gedung negara, menatap kursi – kursi dan penataan cahaya yang menguatkan makna sebuah kenangan. Berjalan ke aula depan gedung negara, kembali disuguhi suasana tenang dan jendela-jendela kaca yang pernah menjadi saksi pontang pantingnya seorang birokrat muda untuk mendampingi pak Bupati yang selalu tegas plus perfeksionis.

Ahh… tak habis kata untuk terus berceritera. Namun biarlah kenangan lengkapnya menjadi memori indah yang tersimpan di kepala serta sebagian dititipkan di berbagai tempat di gedung negara.

Maka beberapa pose penting sedang berdiskusi di kursi bapak bupati dikala memimpin rapat di ruang tengah gedung negara, yang diperankan bersama kabid pariwisata sumedang menjadi replika kenangan yang tak ternilai serta penuh makna. Lalu berpose sendiri dengan berusaha hadirkan senyum terbaiknya. Alhamdulillairobbil alamin.

Tidak lupa juga mlipir ke belakang melewati pintu keluar dan menikmati sentuhan semilir angin di pinggir kolam besar yang dikenal dengan ’empang gedung negara’ serta ditengah terdapat bangunan mushola yang sering menjadi tempat favorit untuk kontemplasi diri, 20 tahun lalu. Wassalam (AKW).

NYÈRÈNGÈH – fbs

Teu pira sakerejep wèh..

BRAMBANGAN, akwnulis.com. Panon geus dipeureumkeun bari teu poho babacaan, tapi kalahka beuki cènghar. Beunta deui bari ningali jam nu naplok dihareupeun, geus ngadeukeutan waktuna indung peuting.

Padahal beurang tadi pabeulit gawè cilingcingcat kaditu kadieu.  kuduna mah capè. Tapi beuki seger waè. Meuni kasiksa. Kahayang mah gèk diuk dina korsi nu merenah tèh tuluy nundutan. Reup sarè bari ngimpi nu èndah, kabayang nikmat pisan. Pas gigisik sautik, laju beunta tèh geus nepi ka nu dituju. Kari jrut turun, cènghar teu tunduh deui.

Tapi geuning kahayang ogè lamunan teu sajalur jeung kanyataan. Istuning patukang tonggong.

Babacaan deui, sugan wè pitunduheun datang. Panon dipeureumkeun lalaunan. Gebeg tèh, korsi gigireun aya nu nyèrèngèh.

Pas panon beunta mah suwung, korsi gigireun kosong euweuh sasaha.

Lalaunan dipeureumkeun, janggelek aya deui. Huntu rogès nyèrèngèh. Teu loba carita, nangtung bari beunta. Pindah kana korsi kosong di tukang bari teu eureun istigfar.

Karèk gè gèk dieuk, beunta kènèh. Gigireun geus nyèrèngèh. (AKW).

Cageur lur?

Duh teu kuat gan..

Gosrokeuuuun lur…

CIMAHI, akwnulis.com. Ti hareup eungap nyedek tina kekemplong nyundul kaluhur, ogè panas bunghak teu bisa hitut. Ti tukang nyèksrèk tonggong beulah kènca, cangkeul pisan leuwih ti ilaharna. Antukna dua poè dua peuting aduglajer nahan kanyeri.

Beuteung mules murilit tapi euweuh rasa keur miceunna. Bulak balik cingogo dina pacilingan, suwung nu aya, teu hitut – hitut acan. Balik deui ka pangkèng, nangkuban karasa beuteung seueul jeung nyeri. Giliran nangkarak, karasa tulang tonggong nyarugak kana raga bari teu eureun nyanyautan.

Geus hayang sahinghingeun ceurik, tapi èra kana awak nu sembada. Bakal peupeus atuh jajaka gaya jadi pèloy teu walakaya.

Jikan ijigimbrang nèangan ubar, mitoha rawah riwih karunyaeun. Ucing ogè ngadadak ogo jeung cicingeun, nyahoeun dunungan keur teu puguh rarasaan. Iwal ti budak wè nu keukeuh muntang hayang digandong.

Tah geus kieu mah karasa, ubar nu utama tèh du’a ka Gusti Alloh nu maha kawasa. Tangtuna ihtiar uubar ogè kudu dileukeunan. Tapi mènta cageur jeung panghampura tina sagala dosa jadi nu utama. Urang tèh ukur mahluk nu teu daya teu upaya, istuning ku kanyaah Gusti bisa kumelendang di alam dunya. Cag.

Cageur lur?….. 

SAKAW bin Kangen

Kangen boleh, tapi sabar juga sangat penting.

PASTEUR, akwnulis.com. Baru empat hari saja tidak berjumpa, ternyata rindu menggebu begitu menggelora. Apa mau dikata namun itulah kenyataan yang ada. Apalagi yang lebih tersiksa adalah kehadiranmu didepan mata namun hanya boleh disentuh tanpa bisa menikmatinya.

Padahal 8 tahun lalu, raga ini tidak begini. Bertemu denganmu biasa saja. Seperlunya saja tanpa dikuasai gelora rasa membuncah yang berbeda. Berbagai pilihan gayamupun tidak menjadi ketertarikan berlebihan, ya secukupnya saja.

Tapi seiring waktu berjalan, ternyata sekarang berbeda. Kehadiranmu berbeda, selalu bisa memberi inspirasi dalam menghias kata. Juga memberi nafas hadirnya ide dalam berkarya. Meskipun hasil karya sederhana atau mungkin masih sangat amatir dari segala sisinya, tapi itulah sebuah karya dari ide yang ada.

Kenapa harus bangga?” Harus itu, karena sesederhana sebuah karya yang tercipta lebih bermakna dibandingkan ide brilian yang hanya menari diatas angan tanpa berbuah hasil dan kejelasan.

Apalagi berbicara bentuk dan jenis makin menguatkan diri untuk selalu dekat dan tidak terpisahkan.

Namun itulah kehidupan, ada saatnya kita diingatkan sama Tuhan bahwa ini adalah dunia fana. Ada batasan dalam semua hal, meskipun hanya sementara.

Begitupun dengan dirimu. Sekarang harus berbeda. Hubungan kita dijeda karena keadaan yang berbeda.

Maksudnya apa ini?”

Lha malah nanya, ini khan lagi curhat. Kalau bahasa kerennya mah sakaw… sakit karna kaw, heu heu heu. Eh salah kebalik, karena sakit sehingga tidak bisa sementara bersama kaw :).

Jadi sudah 4 hari ini, libur dulu bercengkerama menikmati kenikmatan pahitmu, hai Kohitala kesayangan. Kopi hitam tanpa gula. Sebuah konsekuensi akibat kelelahan dilengkapi dengan keteledoran sehingga terjadi kompilasi kesakitan.. yakni gangguan di lambung sehingga perut kembung dan tidak bisa BAB juga secuil kentut sekalipun dilengkapi dengan otot punggung menegang (urat ngajepret) karena kelamaan duduk dibelakang kemudi dengan judul mudik dan balik.

Akibatnya depan kembung belakang bingung, tak bisa tidur 2 hari bikin limbung. Salah satunya yang dilarang ya itu tadi bercengkerama dan sruput kohitala harus ditunda, sambil menunggu asam lambung mereda.

Alhamdulillah, Allah Maha Penyembuh. Setelah ihtiar menggayem kunyit, jambu klutuk dan berkenalan dengan antangin JRG, norit, mylanta, lansoprazol, hingga mevinal plus terakhir donperidom & symbio juga tak henti berdoa kepada Illahi Robbi. Maka rasa sakit depan belakang ini telah berangsur pulih dan kembali membaik seperti sediakala. Meskipun menyentuhmu eh menyeduhmu masih belum berani karena khawatir berakibat sesuatu, maafkan aku. Wassalam (AKW).

KETUKAN TENGAH MALAM.

Sepi dan gelap hadirkan cerita singkat.

KUNINGAN, akwnulis.com. Pelan tapi pasti suara lirih dan ketukan teratur terdengar di pintu kamarku. Tapi tidak terlalu dipedulikan karena mungkin itu adalah bagian kecil dari mimpiku malam ini. Biarkan saja ah.

Tok tok tok!’

Namun ketukan itu kembali hadir seiring berjalannya waktu yang merambati tengah malam menuju dini hari. Aku terus terang terganggu, namun tetap saja diyakini bahwa ini hanya khayalan semata.

Kang… kaaang”

Walah, ternyata panggilan suara itu terdengar nyata. Suara serak tapi bernada. Berasal dari pintu luar kamar tidur utama. Dalam kemalasan maka perlahan memicingkan mata dan berusaha melihat keadaan sekeliling khususnya sumber suara.

Tapi…. ternyata semua gelap gulita. Hanya kehitaman dan sunyi yang menyergap rasa. Ada desir angin yang membuat kebekuan raga, sembari tak tahu dari mana sumbernya.

Suasana hening, raga terdiam. Konsentrasi, sambil memperkirakan posisi yang sebenarnya. Sehingga bisa diperkirakan posisi pintu kamar yang seharusnya.

Ketukan tadi telah hilang, termasuk suara panggilan. Sepi menyelimuti suasana tengah malam, hanya jangkrik yang setia bernyanyi di kejauhan.

Perlahan tapi pasti, kesadaran kembali pulih dan mampu memposisikan keadaan.  Berarti sedang tidur di ranjang dan pintu kamar berada di depan sebelah kiri dekat lemari besar kayu jati andalan.

Tak lupa komat kamit membaca doa yang bisa hafal, tentu baca dalam hati agar tidak menimbulkan kegaduhan. Beringsut turun dari ranjang dengan tangan keduanya ke samping dan ke depan khawatir menabrak sesuatu di tengah gulita yang mulai sedikit menakutkan.

Tok tok tok!’

Jantung hampir copot mendengar ketukan di pintu ternyata ada lagi. Seolah suaranya menggema dan menggetarkan hati, membuat ciut dan harus berhati-hati. Tapi ada hikmahnya juga, menjadi petunjuk arah untuk bergerak menggapai pintu.

Teringat akan smartphone, yang ada fitur flashlightnya, tapi ternyata tidak berdaya karena disimpan di ruang tamu sambil di charge. Wah gawat.

Kaki perlahan melangkah sambil telapak tangan menyasar dinding tembok. Permukaan lemari hingga akhirnya mendekati pintu kamar. Agak ragu untuk memutar anak kunci yang menempel di pintu. Tapi rasa penasaran semakin meningkat, siapa tahu diluar sana memang ada yang membutuhkan pertolongan.

Ayat kursi dan falaq binnas terus dibaca berulang dalam hati. Doa abadi penguat hati. Perlahan tapi pasti, anak kunci diputar ke kiri.

Cetrèk!

Pintu kamar pelan – pelan dibuka. Kegelapan kembali menyeruak dan menyambut raga. Mata dibelalakkan agar bisa menembus kegelapan. Namun ternyata semua gulita, sepi dan rasa dingin menyapa.

Kok nggak ada siapa-siapa ya,?” Bicara sendiri tapi dalam hati. Ada sedikit pergerakan di kuduk sehungga beberapa bulu berdiri. Pertanda ada rasa takut tapi juga penasaran, siapa yang iseng tengah malam begini.

Tiba – tiba mata melihat kilatan cahaya dan siluet gerakan seseorang secara acak di dapur belakang. Bergerak mendekat…. degup jantung bergerak cepat.

***

Ternyata ibu mertua yang sedang mencari sesuatu di laci dapur dengan bantuan cahaya dari senter hape, “Cari apa mah?”

Ibu mertua sedikit terkejut, tapi terlihat wajahnya senang. “Cari lilin, tapi lupa simpannya. Listrik mati kayaknya token listrik habis”

Siyaaap Mah” sebuah jawaban yang bikin plong semua. Hanya dengan gerakan jemari di aplikasi Mbanking, token listrik bisa dibeli dan langsung diisi. Alhamdulillah, lampu – lampu nyala kembali. Wassalam (AKW).

***

#Ceritaliburlebaran
#ceritamudik

SABAR & SURAT EDARAN

Tidak bukber dulu…

KUNINGAN, akwnulis.com. Sebuah catatan penting dalam berpuasa tentu 3 hal besar yang bisa membatalkan puasa yaitu makan, minum dan berhubungan suami istri. Namun ada hal yang lebih berbahaya dan tidak kasat mata, yaitu tergerusnya amalan ramadhan kita karena berbagai perilaku yang tidak sesuai tuntunan agama.

Berpuasa adalah menahan diri dari segala hal, melakukan berbagai tindakan yang baik serta memohin ampunan atas dosa -dosa selama ini. Plus menjadi patokan dasar dalam menjalani 11 bulan lainnya yang akan dijalani sebelum kembali dengan bulan ramadhan tahun depan. Amiin.

Itu banyak pisan amalannya dari mulai ghibah, berbohong, iseng berlebihan, menipu temen, nge-prank dan banyak lagi tindakan kita yang berpotensi menggerus amal shaum kita… hehehe kok jadi kayak ustad yaaa.

Nah dalam lingkup profesi juga ada hal yang perlu disikapi dengan sabar, yaitu hadirnya surat edaran menteri agama Nomor 08 Tahun 2022 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah pada Bulan Ramadhan  dan Idul fitri 2443 H/2022  tanggal 29 maret 2022 yang salah satunya mengatur tentang buka puasa bagi pegawai negeri sipil atau ASN yaitu pada poin 5 yang berbunyi : ‘Pejabat dan Aparatur Sipil Negara dilarang mengadakan atau menghadiri kegiatan buka puasa bersama, sahur bersama dan atau open house Idul Fitri.’

Lalu bagi masyarakat yang mau bukber (buka puasa bersama) bisa dilakukan namun dilarang ngobrol, ini penjelasan dari Juru bicara Satgas Covid19 nasional, Om Wiku Adisasmito. Maka reaksi tentu beragam dan sahut menyahut apalagi di media sosial. Tapi kembali ke rumus sabar tadi, maka pilihannya sederhana :
a. Melakukan buka puasa bersama baik dengan rekan kerja, mitra, alumni, kerabat dan sebagainya tapi dengan catatan hanya berbuka puasa dan makan saja, tetapi tidak boleh berbicara atau ngobrol.
b. Tidak berbuka puasa diluar, tetapi di rumah bersama keluarga saja atau jika tidak terkejar maka buka puasa di kantor saja.

Kalau buat ASN?… Gak bolehh say.

Kebayang khan, sudah 2 tahun bukber itu dibatasi. Ternyata sekarangpun masih dibatasi oleh yang berwenang. Ya sudah, anggaplah ini bagian dari latihan kesabaran di bulan ramadhan 1443 hijriyah ini.

Lagian, kalaupun sembunyi-sembunyi kita hadir dan melaksanakan bukber baik dengan kawan dan mitra tentu bisa dilakukan. Namun ketaatan terhadap surat edaran dan bentuk keteladanan kita sebagai abdi negara pelayan masyarakat akan dipertanyakan.

Maka bersabarlah kawan. Insyaalloh ada ramadhan tahun depan yang sudah bebas bisa bukber bagi ASN tanpa terkekang surat edaran karena pertimbangan yang lebih luas menyangkut kesehatan akibat penyebaran virus covid19.

Meskipun terus terang, diri inipun hampir tak kuat menahan keinginan untuk bukber bersama kawan-kawan, baik kolega ataupun mitra kerja dan alumni semasa SMA. Tapi kembali, itu tadi ketaatan dan keteladanan yang diutamakan. Satu kesempatan berbuka puasa di hotel berbintang 5 di pusat kota bandungpun dilakukan sendirian, meuni teungteuingeun yach…

Sebagai bukti dokumentasi bukber limited edition ini, photo secangkir kopi dan ornamen kubah dari kayu menjadi saksi bisu dari salah satu latihan kesabaran ini. Wassalam (AKW).