PENGORBANAN (TAK) SIA-SIA.

Berkorban itu perlu, tapi pikirkan dulu.

TJIMAHI, akwnulis.com. Terkadang sebuah keinginan hadir tanpa alasan, muncul begitu saja di benak ini dan diucapkan dengan lantang. Sehingga didengarkan oleh rekan staf dan menjadi sebuah perintah yang harus dilaksanakan.

Itulah yang terjadi, setelah sekian waktu berusaha makan siang itu adalah makanan sehat dengan menu aneka salad. Ternyata ada gejolak jiwa cheating yang ingin menikmati sajian makanan lain yang digandrungi kawula muda.

Sebuah sajian makanan alias jajanan yang berbasis kerupuk dengan aroma kencur yang dilengkapi dengan berbagai boga bahari, protein seperti serpihan telur, daging ayam, ceker, tulang, sosis, termasuk baso dan banyak lagi pilihan dengan rasa gurih pedas dengan nama sajiannya adalah seblak.

Maka bergeserlah dari salad ke seblak, sama awalan s tetapi begitu berbeda dari warna dan rupa serta tentunya rasa. Tapi hidup ini butuh variasi kawan. Sesekali perlu menikmati sajian ekstrim yang membuat hati berdebar (seseblakan) akibat rasa kuah yang memerah karena minta diberi bumbu pedas level dewa.

Jika hari kemarin adalah menikmati kesegaran eggplant salad, maka siang ini mencoba menikmati sajian seblak kumplit pedas maksimal.

Dilihat sepintas terasa tantangannya karena kuahnya begitu merah dan biji cabe bertaburan di permukaan mangkok putih bercahaya. Setelah membaca BIsmillah, prosesi penyuapan kuah dimulai… amm.. srupp…..

Mata langsung membelalak dan hati berdebar, apalagi mulut dan lidah tidak bisa mengucapkan banyak kata. Semua bergabung di otak dan teriak didalam neocortec, “Ampyuuuun Lada Pisaaaaan…..”

Tak perlu lama, butiran keringat muncul dan desah mulut kepanasan langsung memenuhi ruanganku yang sederhana ini. Tapi masalahnya bukannya berhenti makan, malah lanjutkan penyuapan. Karena dibalik sensasi pedas, panas dan gurih ini hadir kenikmatan berbeda yang wajib disyukuri…. nyam nyaam.

Akhirnya setelah sekian lama berusaha, menyerah tanpa bisa menghabiskan sajian seblak yang ada. Karena ternyata peluh bercucuran dan lidah teriak karena sudah tidak siap menerima level kepedasan ini, begitupun perut mulai bereaksi. Betapa cepatnya rasa pedas ini menguasai raga yang rapuh ini.

Lalu bergegas mengambil gelas dan meminum air putih yang tersedia di meja sebelah. Meskipun tidak menghilangkan pedas tetapi minimal memberi waktu bagi mulut untuk berdamai dengan keadaan dan tidak harus tertekan oleh pedas yang hadir bertubi-tubi.

Dampak ikutannya ternyata sang perut tidak kompromi karena berbagai faktor, terutama faktor U (umur). Perut panas sepanjang malam dan hingga dini hari bolak balik kamar mandi karena sembelit dan perut rasa melilit.

Kapok ah. Jangan maksain jikalau tak siap. Kendalikan keinginan dan sandingkan dengan kenyataan. Karena sebuah pengorbanan yang terjadi tidak sebanding dengan keinginan awal yang terucap begitu saja. Have a nice weekend kawan. Wassalam (AKW).

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

7 thoughts on “PENGORBANAN (TAK) SIA-SIA.”

  1. Wah uedan..pedaaasss etamah… Saran utk pak Kadis, jgn coba lagi, aku pun pernah begitu, usus luka, walhasil malah (maaf) darah yg keluar dari anus, langsung tobat, itu sehabis makan lotek dengan cengek level pedas dan ngopi panas, waw kapok urang ti ka ayeuna, emut jiga pa Andrie… wkwkwk 😁🙏

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: