KA JAKARTA – fbs

Èlèh Uing…..

FIKMIN # KA JAKARTA #

Karèk gè kaluar tol Padalarang, kirining sora hapè Si Asèp. Bari leungeun pakupis nyekel setir, hapè ditapelkeun kana ceuli.

Nembè dugi Padalarang Mah, badè ka jakarta”

Teu lila di tanjakan Cipanas Cianjur, èta hapè ngirining deui.

Di daèrah Cipanas Mah”

Kring…!!

Katilu di tol Jagorawi, “Nembè lebet ka Jagorawi Mah”

Sèp sia mah dijajah pisan ku jikan tèh, pan geus bèbèja lin, ka Jakarta jeung uing nèang proyèk muru rejeki?”

Asèp ukur nyèrèngèh.

‘Kring kring kring!!’
Rikat hapè diangkat ku si Asep, “Muhun mah, kaleresan tos di Grogol, katawisna sakedap deui dugi”

Uing ngagakgak, nikmat nyeungseurikeun sohib nu kasiksa ku kalakuan jikanna. Aslina karunya.

Deudeuh teuing Sèp, awak gagah banda loba, geuning dijajah pisan ku jikan, teu sirikna unggal jam di telepon. Teu rieut maneh?”

Asep ngan nyèrèngèh, “Ah henteu da èta tèh bentèn-bentèn Ang”

“Hah?” Uing curinghak, olohok. (AKW)

Fiksimini Basa Sunda

Tulisan singkat berbahasa sunda dengan maksimal 150 kata sudah membangun satu cerita.

Arabica Wine Gununghalu.

Giliran arabica wine Gununghalu yang di seduh… ajiib.

BANDUNG, akwnulis.com. Setelah 2 hari yang lalu menikmati arabica wine Abah Papandayan, maka kali ini mencoba biji kopi yang diproses wine juga. Yaitu kopi arabica Gununghalu. Sebenernya sebulan yang lalu sudah pernah diseduh tetapi nggak sempet bikin review ala-ala. Buat nuntasin itu, ya musti bikin lagi donk, supaya feelnya dapet dan menuliskan apa adanya, apa yang dirasa dan apa yang diamatinya.

Inilah ceritanya….

Oh ya jangan bosen ya brow, jikalau cerita proses seduh kopinya gitu – gitu aja. Memang begitu protapnya buat nyeduh manual pake versi corong keclak (corong yang nantinya menetes) baik corong V60 ataupun flat bottom dengan 3 bolongan.

Maka standarnya sama 2 x 13gr biji kopinya di grinder dengan ukuran 3 dan 4. Tak lupa air panas dijerang… eh air dari galon dijerang agar mendidih sebagai standar kepanasan sang air penyeduh ini.

Setelah biji berubah wujud menjadi serpihan, maka rasa sedih terasa menyesakkan hati… lhaa kok kesinih sih… gara-gara kata serpihan ya?Padahal serpihan ini mah nikmat, segar dan harum.

Berhubung kertas filter V60nya habis sementara yang ready adalah kertas filter flat bottom, maka proses manual brewnya berbeda dari biasanya. Kesamaannya adalah prosesi corongisasi ini yang diyakunkan bahwa menghasilkan cairan kopi yang bersih bebas ampas serta jelas tanpa manisnya gula.

Biji kopi kali ini adalah biji kopi arabica Gununghalu yang di proses secara wine. Sebuah pilihan processsing coffee yang (hanya) bisa dinikmati seseorang yang sudah masuk (maniak) kopi. Karena profile rasanya mayoritas body bold dan acidity super strong trus memberi sengatan rasa yang bikin kaget…. seperti sensasi pas nyruput wine, katanya mirip. Plus ada rasa ninggal yang bisa bertahan beberapa saat di pangkal lidah, tentu dengan rasanya yang khas.

Buat yang belum pernah dan mau mencoba, tentu tidak mengapa. Tapi hati-hati dengan sengatan kombinasi keasaman dan kepahitan maksimalnya…

Yuk ah… seduh dulu… airnya udah mendidih brow.

200 ml air 90° derajat celcius berpadu dengan 26 gram serpihan biji kopi menghadirkan rasa yang penuh sensasi. Tak lupa sebelum di sruput wajib bin kudu untuk di dokumentasikan dulu… Cetrek.

Nah baru dituangkan di gelas, dan srupuuttt…

hmmm.. enak euy.

Versi lidahku mah after tastenya ada tamarind dan dark chocolate serta selarik fruity. Bodynya bold tapi sedikit tipis, nah aciditynya ajib…. strong sadis bikin terhenyak dengan nyerengnya….. grrrrr…

…. dan diakhiri sebuah rasa ninggal di pangkal lidah sebelum hilang kembali digerus kenangan.

Srupuuuut….. yummy…. tenggg… nyereng brow. Nikmat.

Disclaimer :

Maafkan jika cerita sruput kohitala ini bikin baper dan terkesan ngabibita dan PHP.. bikin pengen aja tapi biji kopinya nggak dikirim.
Maafkan semuanya, stoknya sedikit dan itupun pemberian hehehehehe…. tetapi dengan sebuah cerita, maka rasa yang ada akan selalu terjaga..
uhuy.

Wassalam (AKW)

Coffee Arabica Abah Papandayan.

Akhirnya bisa menikmati kembali prosesi dan sruputisasi…

CILEUNYI, akwnulis.com. Tak sabar sebuncah rasa untuk kembali mereview ala – ala sebuah keajaiban rasa yang dihadirkan oleh si biji hitam misterius yang penuh sensasi. Kali ini hadir atas kebaikan seorang kawan, kopi arabica Abah Papandayan.

Tanpa banyak cingcong dan diskusi mendalam dengan diri sendiri, meskipun phisik masih agak lelah, semoga menyeduh kopi secara manual ini bisa menjadi mood booster untuk kembali menjadi perkasa menapaki hari-hari yang harus dimaknai dengan rasa syukur yang penuh berkah meskipun situasi pandemi masih penuh ketidakpastian.

Maka segeralah peralatan perang eh…. peralatan seduh manual dipersiapkan… jeng jrengg.

Jreng….

Peralatan sederhana tapi penuh makna, kertas filter flat bottom, corong flat bottom, air panas pake merk amidis dan dijerang agar menggolak… eh mendidik. Tak lupa 2x takaran bean sekitar 28 gram di grinder dengan ukuran 3-4 agar menghasilkan serpihan kasar yang menuh keharuman.

Segar dan harum menyeruak memenuhi ruang hati, melengkapi proses penggilingan ini… hmmmm.

Setelah air mendidih, diamkan sejenak agar mendekat suhu 90° celcius. Lalu diguyurkan perlahan denganteko kaca gooseneck ke kertas filter sebelum dilakuka prosesi manual brew ini. Lalu serpihan kasar biji kopi memenuhi kertas filter di corong flat bottom dann…….. currr kembali teko kaca gooseneck beraksi menyalurkan air panas berpadu serasi dengan serpihan biji kopi untuk bersama-sama lakukan proses ekstraksi… diputerr cuur… puternya searah jarum jam ya… tadaaa… tetes demi tetes cairan hitam harum berkumpul di dasar bejana kaca… asyiik.

Tak lupa gelas kaca kecilku, selalu setia sebagai sarana penyeruputan kopi yang elegan dan penuh kenangan.

Setelah tuntas bermanual brew, saatnya cairan hitam dipindah ke gelas kaca.

Srupuuut…..

Woow….

Rasa winenya menyerang syaraf – syaraf mulut dengan dahsyatnya setelah sekian lama jarang bersua dengan sensasi rasa. Betapa nikmatnya, acidity strong menguasai semua perasa didukung body bold maksimal yang melingkupi segala suasana.

After taste yang dihadirkan begitu ‘ninggal‘ di pangkal lidah beberapa menit berselang serta ada rasa ‘nyereng’ atau menyengat yang merupakan kekhasan biji kopi wine yang penuh kesempurnaan. Hadir rasa lime yang asam kecut plus tamarind serta ada rasa anggur hijau yang kesat segar (semoga lidahnya bener inih…) dan aroma fruity lain yang agak sulit didefinisikan oleh keterbatasan lidahku inih.

Sungguh menyenangkan bisa nyeduh biji kopi abah papandayan ini yang diproduksi oleh Kareumbi Farmer ini. PiRT No. 2093272010054-19 ini hadir atas kebaikan seorang kawan yang sengaja datang ke kantor bersama Bos petani kopi sekaligus roasternya, hatur nuhun Kang Rino & Kang Bayu.

Kopi Arabica Abah Papandayan ditanam di Kaki Gunung Papandayan pada ketinggian 1400 mdpl terdiri dari varietas unggulan diantaranya Yellow Borbon, AS-1 dan Preanger Buhun dengan naungan pohon jeruk dan pohon kayu hutan hujan tropis (ini tertulis di bungkusnya kawan…)

Itulah mood boster kali ini, badan segar hati nyaman begitupun lidah terus mengecap rasa nikmat yang tertinggal. Happy weekend kawan, dont forget to sruput your coffee…. kopi hitam asli tanpa gula. Wassalam (AKW).

HIDUP & MATI

Duh, Betapa bertubi-tubi… Tabah semua ya.

LEMBANG, akwnulis.com. Bismillahirohmaniirohim,
Tiada saat kita bisa sedikit menghela nafas, dikala begitu banyak berita duka hadir menghampiri kita. Di media sosial sudah jelas informasi yang tersaji, di WA grup, Facebook, Twitter, Telegram, Line dan sebagainya, semuanya seragam… berita duka, cerita kehilangan orang-orang tercinta untuk kembali dipanggil pulang oleh Allah Sang Pencipta.

Yang menjadi keterhenyakan adalah bertubinya berita, dan terasa begitu dekat menghimpit nalar kita. Ucapan duka cita, belasungkawa ataupun template stiker bertuliskan ‘Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun” serta ketikan mendadak yang dihadirkan demi memberikan kata-kata penguat semangat ketabahan dan kehormatan bagi keluarga yang ditinggalkan dan tentunya kiriman doa semoga almarhum almarhumah husnul hotimah.

Karangan bunga duka cita sekarang berseliweran untuk hadir sesaat sebagai bukti ikut peduli dan merasakan duka lara yang terjadi. Sebagai wakil raga yang tak bisa datang secara nyata karena pandemi memghalanginya.

Saking banyaknya berita duka setiap hari, terkadang kitapun terlewati untuk mengetik chat atau comment dalam rangka ungkapan dukacita, atau paling simpel dengan template stiker. Apalagi menelepon keluarga inti untuk berlisan secara langsung.

Jadi sekarang kembali kesadaran, kesabaran dan ketabahan kita semua diuji lahir batin. Satu sisi kita ikut atau (diharapkan) ikut untuk mengekpresikan rasa simpati kepada keluarga, kolega dan mitra yang ditinggalkan tapi di sisi lain harus waspada karena perang kali ini menghadapi musuh tak kasat mana yang bisa menyerang siapa saja, kapan saja dikala abai protokol kesehatan… itu secara phisik.

Secara psikis spritual, kita tebalkan keyakinan masing-masing dengan berbekal rasa takut dan khawatir yang semakin hari semakin menjadi. Mendekatkan diri kepala Illahi Rabb adalah hal utama kali ini dan tentu didukung penuh dengan ihtiar lahiriah yaitu utamakan protokol keshatan yang sudah digembar gemborkan.

Maka jikalau memiliki luang, ekspresikan keduakaan, kepedulian, keprihatinan dalam untaian kata lisan via telepon, tuliskan dalam status, coment  dan kata2 di medsos atau stiker belasungkawa atau minimal sepucuk doa yang hadir di hati kita. Jikalau ternyata tidak menyampaikan ucapan keprihatunan di grup WA, bukan berarti tidak peduli, mungkin saja memang sedang sama-sama berduka.

Karangan bunga bisa menjadi media penyambung duka, ataupun dukungan dana meskipun terbatas tapi mungkin bisa membantu semangat ketabahan. Kalaupun tidak, tak mengapa, seuntai doa yang tulus menjadi bekal bagi semuanya.

Hal yang terpenting lagi adalah kematian itu pasti, ditengah kehidupan fana yang berbatas. Jadi kembali tafakuri diri dan jalani hari – hari ini dengan selalu bersyukur terhadap skenario Allah SWT yang dibungkus dalam Takdir serta berdampingan dengan pernasiban.

Astagfirullohal adzim.
Innalillahi Wainna Ilaihi Roojiun.’

-Sesungguhnya kami adalah Kepunyaan Allah dan kepada Allah juga lah kami kembali.”

Wassalam. (AKW).

BEBEJA – fbs

Dongèng kiwari – Bèbèja – carita fiksi.

FIKMIN # BÈBÈJA #

Teu karasa ngawangkong tèh geus manjing ka sorè. Silih tèmbal ngobrolkeun kahayang, tapi tungtungna kalah ka ngobrolkeun kuwu nu dianggap rada teu sajalur kana kawijakannana.

Nu tarik nyarios tèh Wa Oji, salah sahiji Kadus. Meuni jiga nu ngèwa ka kuwu tèh. Aki Haji Sanusi ogè pupuhu karang taruna ngawitan kapangaruhan. Ngawangkong beuki maceuh, tapi janten sapertos badè nyokèl kalungguhan Kuwu.

Uing mah anak bawang, ukur olohok wè bari sakali-kali ngilu seuri. Leungeun mah nyoo hapè, ngabèjaan ka Wa Udan.

Èh Pak Danramil, mangga linggih” Wa Oji jeung nu ngawangkong eureun ngobrolna, rareuwaseun.

Kaleresan ngalangkung ieu mah, mung ningal meuni resep ngariung raramèan”

Ah henteu Komandan, mung ngawangkong ngalèr ngidul wè” Wa Oji mairan.

Sok lajengkeun, mung titipnya. Ayeuna mah urang kedah guyub dina mayunan cocobi dunya ku nerekabna virus covid-19. Ulah ngabahas urusan suksèsi, engkè gè aya mangsana”

Sumuhuun Komandan” sadayana ngawaler bari silih kiceupan. (AKW)

Gara – Gara JEMPOL.

Sebuah kisah akibat jempol berulah..

CiMaHi, akwnulis.com. Selamat malam dunia dan selamat memaknai hari yang penuh dinamika. Malam ini nggak kuat pengen menuangkan rasa dalam bentuk kata-kata yang  masih bercokol masygul di ujung dada. Masih terasa tersisa sebuah sesal akibat ketidak konsentrasian yang hampir saja berujung insiden memalukan.

Begini ceritanya…

Jeng jreng…

Pagi ini berangkat ngantor ditengah kontroversi istilah esensial, non esensial dan critical dalam kerangka PPKM darurat…. wadduh berat nich kata-katanya yach guys.

Klo mau cari dasar regulasinya tinggal search ama donlot aja Inmendagri 15/2021 deh.

Nah…. karena kurang waspada, sehingga business as usual, masuk pintu tol ajah… menuju tol pasteur….

Ternyata penyekatan sudah mulai dan ikut terjebak diantara ratusan kendaraan lainnya sampai hampir 2 jam lamanya.

Alamak…. ilmu manajemen stres dipraktekan, tarik nafas panjang, konsentrasi dan mencoba berserah diri… weitts ga bisaaa… ada beberapa agenda rapat yang harus segera dimulai… maka kordinasi sana sini via WA, telepon, telegram dan telepati bercampur baur. Buka laptop dan nyalain hotspot dari hape supaya bisa tethering….. tring, laptop nyala dan bisa ikutan zoom meeting meskipun konsentrasi terbagi antara setir, rem, pedal gas, pedal kupling, layar laptop yang digawangi oleh mata dan telinga sambil tetap memelototi arah depan jikalau harus maju perlahan.

Akhirnya setelah 1 jam 45 menit, barulah terbebas dari sekatan. Meluncur lancar demi sebuah pengabdian, meskipun hanya setitik tetapi mungkin berarti dan tercatat dalam sejarah hidup menjadi unsur pendukung satgas covid19 dan komite pemulihan ekonomi daerah.

Nah… karena hampir 2 jam terjebak dan disambil rapat zoom darurat tadi, ternyata menyisakan ke-tidakkonsentrasi-an dikala tiba di kantor.

Untuk rapat zoom lanjutan di Kantor berjalan lancar, tetapi disaat ada informasi masuk ke WA lalu langsung dilanjutkan ke salah satu staf untuk ditinjut (tindaklanjuti)… ini yang terjadi akibat kurang konsentrasi…

4 deret kalimat WA yang seharusnya direct message ternyata terkirim menjadi braodcast message kepada lebih dari 150 kontak… alamaaaak..

Tring
Tring
Tring!!!….

Banyak WA masuk dan isinya seragam, “Salah kirim yaa?”

Gaswat preen….. gara-gara jempol yang ditengarai di suruh oleh otak yang tak konsentrasi karena mikirin kelangkaan oksigen… jadi salah kirimm…

Gimana atuh?”

Mulai dijawab chat yang masuk satu-satu, tapi yang WA banyak lagi dengan pertanyaan yang sama… Pusiiing.

Akhirnya pasrah dan biarkan WA berdatangan bagai banjir bandang….

Sesaat menarik nafas panjang, berdiri dari duduk yang gundah dan bergerak menuju kamar mandi untuk segera berwudhu dan menunaikan ibadah shalat….

Shalatpun masih agak susah konsentrasi, tapi diperjuangkan agar tuntas sampai finish di atahiyat akhir lalu berucap salam dan dilanjutkan doa berserah diri serta mohon ampun plus mohon petunjuk atas kegundahan ini.

Singkat cerita, sebuah permohonan maaf dengan DM satu persatu belum tentu tepat sasaran. Maka segera buat gambar berisi kata maaf dan ucapan salah kirim dilengkapi photo diri yang senada. Lalu di broadcast all ke semua kontak yang tadi terlanjur ‘terganggu’ dengan kirimanku.

Alhamdulillah, respon cepat dan mayoritas emoticon tertawa dan tersenyum menutup kegalauan ini.

Sekali lagi maafkan kiriman DMku karena aksi jempol tanpa konsentrasi memadai. Selamat malam dan salam sehat semuanya, Wassalam (AKW).

Jumat Pagi & Anosmia.

Renunganku di kehangatan Jumat Pagi

Bandung, akwnulis.com. Sebuah kata yang menjadi trending saat ini adalah anosmia. Sedang menjadi hits dan sering disebut dalam terpaan gelombang kedua pandemi covid19 yang sedang melanda. Ya, karena arti yang dihadirkan adalah kehilangan indra penciuman dan diyakini merupakan gejala yang dirasakan oleh raga dikala virus covid19 sudah berada di dalamnya, merajalela.

Pada saat penciuman menghilang perlahan dan akhirnya sama sekali tidak bisa membaui, disitulah rasa khawatir merayapi hari dan menggerogoti keyakinan akan terjadi sesuatu yang lebih parah. Seolah dunia akan runtuh dan kehidupan ini berakhir. Titik.

Maka hadirlah tangis menguasai raga, ketidakpercayaan dan sesal tiada hingga melingkupi pikiran dan psikis kita. Panik hadir dengan tiba-tiba dan terasa bahwa ini tragedi dan akhir kehidupan kita.

Apalagi dilengkapi dengan hilangnya indera perasa, membuat semua rasa itu hambar tanpa makna. Kesedihan dan kebingungan melanda.

Disinilah sebuah takdir Tuhan memerankan kekuatannya, memperlihatkan betapa kecilnya manusia yang terkadang masih banyak berlaku dzolim dan jumawa serta tidak mau bersyukur atas semua nikmat kehidupan ini.

Padahal penciuman dan perasa itu baru sebagian kecil nikmat yang diberikan Allah Subhanahu Wataala. Sangat banyak nikmat – nikmat lainnya yang melingkupi detik demi detik, menit dan menit kehidupan kita.

Selama ini seolah biasa saja, bahwa bisa mencium dan merasakan lezatnya rasa adalah biasa saja….. dan kita tidak atau jarang mensyukurinya.. Astagfirullohal Adzim.

Kembalikan indera saya, Yaa Allah Sang Maha Hebat….”

Sebuah ratapan berbuah tobat, sebuah keinginan bangkitkan insyap serta setahap ikhlas menjadi pendewasa dalam memaknai indahnya kehidupan fana.

Maka kesabaran dan keikhlasan ini menjadi nilai tak terhingga, dan memberi kepasrahan serta ketenangan dalam menjalani fase anosmia ini. Sembari tentu ikhtiar dalam memgkonsumsi vitamin dan makanan serta buah-buahan segar agar imun tubuh stabil dan meningkat plus obat yang diharuskan mengawal kesembuhan.

Dari semua usaha duniawi, maka  munajat doa dalam kesabaran dan keikhlasan. Dzikir rutin serta membaca ayat Alquran adalah cara universal seorang muslim untuk berserah diri dan memohon, begitupun dengan saudara kita yang memiliki keyakinan berbeda, masing-masing punya cara untuk mendekati Tuhannya.

Sehingga cukuplah anosmia sebagai gejala ringan saja yang dihadapinya dan dapat segera sembuh kembali serta pulih seperti sediakala.

Sebuah hikmah telah berbuncah, seikat syukur menyeruak cerah, ikhtiar terus ke segala arah, sabar dan taubat obat terindah. Selamat memaknai hangatnya jumat pagi, Wassalam (AKW).