Kerumunan KOPI.

Akhirnya berkerumun juga….

KBB, akwnulis.com. Ngobrol bareng dan ngopi bersama menjadi momen yang sangat berharga karena setahun lebih telah tercerai berai akibat penyebaran pandemi covid19 yang menerkam dunia.

Harapannya saat ini semua sudah sirna dan semua baik-baik saja. Tetapi ternyata itu masih mimpi yang bersembunyi di pelupuk mata. Karena kenyataaannya justru kita sekarang harus lebih waspada. Virus covid19 yang bermutasi telah menghadirkan kekhawatiran gelombang serangan kedua, dengan segala kehebatannya termasuk (katanya) tak mempan dideteksi dengan swab PCR….

Aduuh makin hawatir saja tapi jiwa berontak, sampai kapan terkungkung dalam ketakutan dan ketidakpastian ini?”

Bergelas-gelas kopi sudah dinikmati di rumah dengan metode pres, model tubruk hingga andalan adalah seduh manual filter V60. Tapi ternyata ada yang kurang, bukan urusan kopi… tapi teman ngopi….

GuBRAk….  jangan berfikir yang macam-macam. Yang dimaksud adalah teman-teman pecinta kopi, khususnya kopi tanpa gula. Saling diskusi sruput kohitala dan terkadang berantem karena beda rasa antara keyakinan selarik banana dengan aroma nangka.

Jikalau sendirian, itu tidak bisa. Pernah ada ide cupping kopinya via zoom karena masa pandemi. Tapi ya nggak afdol karena berarti bikin manual sendiri baru dinikmati. Tidak ada objektifitas saling tukar hasil karya.

Tapi, jikalau memaksa. Resiko kemungkinan tertular adalah niscaya, dan yang lebih menyakitkan adalah jikalau karena pertemuan atau pergaulan kita ternyata membawa virus ke rumah dan menularkan kepada keluarga termasuk orangtua atau anak kecil dan saudara yang punya penyakit bawaan (komorbid)… Audzubillahi Mindzalik.

Maka cara terbaik yang bisa dilakukan adalah berkerumunlah di cafe dengan kopi.

Apa itu?”

Iya cari cafe yang penerapan protokol kesehatannya bagus, tersedia cuci tangan, cek suhu, hand sanitizer plus kapasitas pengunjung yang terkendali dengan model duduk jaga jarak.

Susah atuh bos!”

Ini khan hanya ihtiar, disatu sisi ingin ngopi sambil kongkow bareng dan jadilah kerumunan. Di sisi lain takut terjadi kontak erat dan menjadi lanjutan penularan. Maka cara terbaik adalah…. biarkan kopi yang berkerumun hehehehe.

Pesen kopi kohitala 2 porsi dan (terpaksa) nikmati sendiri. Jangan sedih karena sulit kongkow kali ini. Tapi kembali bersabar sambil menunggu pandemi pergi. Nanti mah kita bisa lanjut kongkow ngopay tanpa harus terlihat lebay.

Semangat kawan, biarkan sekarang kopinya yang berkerumun dengan gelas dan botol saji tembikar ditemani 2 keping kue kopi yang terbungkus plastik rapi. Wassalam (AKW).

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

4 thoughts on “Kerumunan KOPI.”

  1. Hehhehe…kerumunan kopi dan snak….
    Mugia kapayun enggal situasi.membaik lepas dari pandemi…sehingga bisa kerumunan orang dalam suasana bahagia…
    Aamiiin…🤲🤲

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s