BANDUNG, akwnulis.com. Terduduk dan termenung sambil (acting) membaca sambil menulis catatan harian yang langsung diabadikan oleh camera hape seorang kawan di sebuah tempat bersejarah yang merupakan salah satu tempat sebagai saksi bisu prosesi lahirnya konsepsi falsafah berbangsa dan bernegara Republik Indonesia yaitu Pancasila & penyusunan pembelaan kedzaliman Pemerintahan Hindia Belanda dalam bentuk Pledoi INDONESIA MENGGUGAT.
Ya, sebuah kamar sempit berukuran 1,5 meter x 2 meter dengan fasilitas sangat minim yang menjadi tempat penahanan atau sel penjara tahanan politik hindia belanda. Disitulah bapak bangsa, founding father kita, Bapak Soekarno menjalani hari-hari penahanannya selama satu tahun lebih medio 1929 – 1930 bersama tahanan politik lainnya.
Di kamar sempit inilah, Soekarno muda tetap mengobarkan semangat pergerakan, perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa. Terus berfikir dan menulis tanpa tersekat kungkungan sel sempit bagi tahanan politik. Buah fikirnya tertuang dalam tulisan – tulisan dan khususnya penyusunan pledoi pembelaan ‘Indonesia Menggugat‘ yang dibacakan pada saat sidang di akhir tahun 1930.
Sebuah hikmah besar yang harus kita teladani, dimanapun dan kapanpun. Kita tetap harus produktif dan menuangkan buah pikiran kita dalam bentuk tulisan yang bisa menjadi bukti eksistensi sekaligus (mungkin) bisa mengguncang dunia yang penuh misteri.
Selamat pagi Kawan dan selamat meraih harapan yang penuh perjuangan. Wassalam (AKW).
Hebat lah pak sekdis bisa duduk di kamar bersejarah sambil merenung dan berkarya.
LikeLike