WAGOKOPI

Sebuah rasa adalah pembeda.

Photo : Wagokopi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah pesan di whatsapps memberikan tantangan baru, karena diminta mereview sebuah citarasa yang tersembunyi dibalik biji kopi yang penuh misteri.

Diri ini bukan siapa-siapa, apalagi bicara sebuah citarasa. Tetapi hanya anak manusia yang seneng kohitala alias mencoba menikmati sajian kopi tanpa gula dengan proses manual dan ‘agak ribet‘ bagi beberapa orang karena dianggap terlalu mengada-ada. Padahal ujungnya sama. Segelas kopi yang tinggal diminum saja.

Nah, justru dalam tahapan proseslah akan hadir sebuah syukur dan makna tertentu yang diawali dari indahnya butiran biji kopi dengan keharuman alami. Lalu berlanjut dengan pembubukan… halah nggak enakeun, penggilingan biji tepatnya. Tentu dengan takaran tertentu yang berlaku di dunia manual brew.

Hingga akhirnya proses penyeduhan yang sesimpel mungkin dengan takaran 1 : 13 dan panas airnya 91° celcius, prosesi manual brew segera dilaksanakan…

Bean nya apa?”

Eh iya lupa, ujug-ujug seduh. Atuh timbang dulu lalu grinder dengan ukuran 3 ke 4. Trus pasang kertas filter dan basahin pake air panas biar hilang bau kertas dan juga kemungkinan unsur kimia lainnya… dan jangan lupa, nama beannya adalah : Arabica Coffee WAGOKOPI.

Pilihan kopi dari tanah pasundan tepatnya dari dataran tinggi ciwidey. Hadir karena silaturahmi dan diminta untuk mereview sebuah rasa. Sangat tersanjung dan malu, karena bukan penyicip sejati. Tetapi menjadi sebuah tantangan, bahwa sensasi rasa yang hadir perlu dituliskan menemani catatan takdir meskipun bukan jaminan resmi karena memang bukan barista yang tersertifikasi.

Photo : Wagokopi tampak belakang / dokpri.

Sruputan perdana memberi sensasi rasa menggoda dengan body medium menuju bold. Menariknya ada selarik ninggal di ujung lidah dengan sensasi kacang tanah dengan tingkat acidity medium dan bergeser ke after taste ada rasa sensasi mint dan seulas lemon… yummy seger.

Itulah rasa dan sensasi yang hadir, dari keterbatasan kemampuan mengecap dan mengecup… eh, mengecap dan menelan atuh…

Hatur nuhun Kang Irvan, bean kopinya ajib. Jangan bosen ngirim yaa… Hahahaha, ngarep. Selamat pagiii semuaah. Wassalam (AKW).