Hijau Bergaya.*)

Puisi sederhana dengan pose binar yg lucu

Hijau itu Anugerah
Diantara pucuk merekah
Perlahan kaki melangkah
Menuju kebun yang indah

Bertiga berpose bersama
Aneka gaya ceria
Ikuti petunjuk pemandu yang ada
Harus kompak apa adanya

Tapi anak semata wayang ini beda
gaya sendiri diluar aba-aba
Kami bergaya gigit apelnya
Binar tetap dengan gaya berbeda

Beda gaya itu biasa
Karena hasil photo penuh nuansa
Yang penting semua bahagia
Dengan pose suka-suka

Petik apel itu judulnya
Kebersamaan adalah ruhnya
Jarak jauh itu perjuangannya
Momen kenangan berharga hasilnya

Segarnya suasana disini
Sambil gigit apel yang tersaji
Kunyah sepuasnya diri
Atau sekuat barisan gigi

Selamat tinggal 2019
Tahun penuh hikmah berkelas
Kebaikan harus dibalas
Kesalahan perbaiki sampai tuntas.

Wassalam,
Kusuma Agrowisata
Batu – Malang, Des 2019.

*) Puisi sederhana AKW.

Duduk Sejenak.

Sebuah perjalanan panjang & duduk sejenak.

KOREA, akwnulis.com. Sebuah perjalanan kehidupan masih terbentang memanjang, sebuah keharusan bagi manusia untuk terus maju dan jalani tahapan demi tahapan seiring arus waktu yang tak mau menoleh kemasa lalu.

“Bolehkah duduk sejenak?”

Pertanyaan singkat yang akan hadirkan jawaban dengan berbagai perspektif.

Pertama, Sebuah jawaban yang akan melarang melakukan itu. Tetapi untuk terus bergerak dan bergerak karena kehidupan yang dianggap terbentang luas itu adalah juga diyakini sangat singkat. Sehingga duduk sejenak bisa berakibat terlepasnya momentum kesempatan sukses yang diraih sebagai fondasi kehidupan. Pokoknya manfaatkan seluruh waktu untuk bergerak, bersiap, bekerja tanpa jeda untuk meraih sukses di waktu yang terus mendera.

Kedua, Ada juga yang mendukung dengan duduk sejenak dan mungkin lebih lama. Dilanjutkan kongkow bersama kawan sambil menyecap minuman kesukaan yang penuh citarasa. Bertabur cerita absurd dan tawa bersama, menghentikan sang waktu sehingga duduk-duduk sejenak menjadi lebih dari sehari…. tapi tidak mengapa yang penting bahagia.

Ketiga, dari dimensi ini tentu menjawab bahwa berhenti duduk sejenak dalam rangkaian perjalanan panjang adalah sebuah hal yang wajar dan perlu dilakukan. Karena sebuah perjalanan butuh rehat untuk menyeimbangkan adrenalin pengejaran tahapan kesuksesan dengan ketenangan bathin, meskipun hanya menghela nafas sesaat sambil duduk dibawah pohon rindang keemasan… hmmmmm.. Alhamdulillah.

Tidak semua orang bisa rehat sejenak dikala meniti derasnya gelombang waktu, atau ada juga yang terjebak dalam pusaran kemalasan sehingga tak bisa (tak mau) beranjak dan terus berkutat dengan waktu yang stagnan. Maka keseimbangan itu penting kawan…

Satu lagi yang paling penting adalah rehat batin yang merupakan kewajiban Umat manusia kepada Tuhannya. Aku muslim dan kewajiban bersujud rutin dengan rumus wajib pada waktu tertentu 5x sehari dengan aturan waktu tertentu.

Sebuah kewajiban hakiki agar perjalanan hidup lahir dan batin meraih sukses bukan hanya di masa depan, tetapi sukses penuh berkah dalam setiap fase kehidupan, duia & akherat.

Duduklah sejenak, bertafakur atas perjalan hidup yang sudah dilalui dan persiapan untuk tahap selanjutnya. Jangan lupa jika waktunya telah tiba, bersegera ambil wudhu dan bersujud dalam shalat kita.

Mari bersyukur sambil mengingat perjalanan kehidupan di 2019 dan bersiap menyongsong penuh Optimisme di 2020 dengan peningkatan kualitas dan kapasitas diri terutama nilai ibadah sebagai hamba Illahi. Wassalam (AKW).

JUMP lagi 3.

KOREA, akwnulis.com. Lutut ditekuk dan badan agak condong ke depan, hitung aba-aba… dan.. 1.. 2.. 3.. loncaat!!! sekaligus tangan eh jari beraksi di layar handphone untuk mengabadikan gambar yang terjadi (.. yang pasti bukan jari sendiri, tapi jari teman yang berkenan ikhlas membantu mengambil photo eh… memotretkan gerakan loncat yang ternyata menjadi gaya abadi bagi banyak orang.)

Gaya photo loncat inipun beraneka sebutan, ada yang memang loncat seloncat-loncatnya juga ekspresi teriak yang disebut Jumpshot. Ada juga aliran Levitasi yang merupakan photo hasil meloncat tetapi berusaha keras menampilkan wajah cool dan gerak tubuh seolah tidak meloncat sehingga muncul kesan melayang di udara atau mengambang dikit diatas permukaan tanah… gaya levitasi ini yang penuh perjuangan, untuk dapatkan 1 photo saja bisa loncat lebih dari 8x (pengalaman pribadi maksudnya)…

Klo photo loncat biasa, bisa satu kali langsung jadi… atau bisa juga berulangkali kalau emang nggak puas dengan hasil jepretan yang didapat.

Gambar diatas adalah hasil peloncatan.. eh perjuangan meloncat yang ke-5, baru deh dapet momentumnya (menurutku), hatur nuhun sang photografer mr Luk2 atas kesediannya sedikit nonggeng untuk hasilkan gambar ini hehehehe….

Captionnya adalah ‘JUMP, Meloncatlah sebelum meloncat itu dilarang (karena usia)’….

Jadi mumpung masih punya usia, meloncatlah (itu juga kalau suka), kalau yang nggak suka ya jangan dipaksa… masing-masing punya kesukaan yang berbeda.

Karena jika usia sudah tiada maka terhenti semua aktivitas termasuk kesempatan meloncati dunia. Hatur nuhun (AKW).

Hayuu luncaat… JUMP.

***

Lokasi :
Songak-myeon, Asan-si, Chungcheongnam-do Korea Selatan.

Kopi & Kawan Sejati.

Kopi dan Udud, apakah kawan sejati?

CIREBON, akwnulis.com. Sebuah persahabatan dan pertemanan memiliki kadar kekentalan variatif, banyak faktor yang melingkupi. Kawan menjadi lawan, musuh menjadi sekutu bukanlah hal yang baku. Tetapi pertemanan abadi juga bukan hal yang tidak pasti, malah inilah yang harus dijaga dengan sepenuh hati.

“Ngomongin apa sih kamu?.. lagi kecewa ya?”

“Nggak brow, aku mah lagi fine fine aja”

Sebuah jawaban singkat sambil menyusun puzzle kehidupan yang diwakili oleh sebungkus rokok dan panekernya, sebungkus kopi arabica cawene garut, kunci mobil plus remote dan sebuah tanda no smoking sekaligus penanda tempat dimana semua barang ini berada (pada saat diphoto maksudnya).

Dari photo tersebut adalah sebuah frame persahabatan yang kental antara kopi dan rokok atau disebut juga Udud (b. sunda). Betapa akrabnya kopi dan udud ini, dimana ada segelas udud maka akan hadir sebatang kopi… eh tibalik… yaa gitu deh maksudnya.

Betapa nikmatnya nyruput kopi sambil merokok… itulah gambaran umum yang terjadi.

Padahal tidak semua kopi berteman dengan udud. Kopi dinikmati sendiri dan tentu tanpa hadirnya rokok alias udud.

Bisa gitu?”

“Bisa pisan 😀😀😀 ”

Jadi yang tertarik menikmati kopi tidak perlu khawatir jadi musti merokok. Kopi dan rokok bukan sahabat sejati, tetapi kopi dan rokok sesekali bersua untuk silaturahmi, khususnya seperti yang tertera di photo awal tulisan ini.

Maka kembali kepada rumus kawan, berkawanlah biasa tanpa perlu berlebihan, apalagi terlalu menggantungkan harapan kepada mahluk yang fana… bersiaplah kecewa.

Selamat menambah kawan dalam setiap momentum yang ada, kawan sejati yang akrab di dunia tetapi juga merajut pahala untuk bekal di akherat sana. Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Hotel Patra Cirebon.

Kopi Sore di Sampireun.

Kopi sore di ujung senja.

GARUT, akwnulis.com. Angin semilir membelai wajah lelah yang sedang bersandar santuy di kursi kayu setelah berlari-lari kecil mengelilingi eh mengitari keindahan danau alami yang memiliki daya tarik tersendiri.

Sambil menarik nafas panjang, hadirlah secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap kesempurnaan. Berlatar pagar tanaman (bukan pagar makan tanaman yaaa) dan suasana sore yang menuju temaram, keberadaan secangkir kohitala melengkapi ke-santuy-an ini dan memberi aneka makna.

Jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, terhindar dari hinggar bingar klakson karena kemacetan lalulintas dan gerutu penumpang yang terjebak dalam labirin jalan di kota Bandung… disini tenang dan tentram kawan.. meskipun memang harus mengorbankan waktu dan sebagainya… tapi itulah kehidupan.. ada pengorbanan dan hadirlah suatu harapan. Meskipun itu semua adalah secuil fragmen kehidupan yang memberi pelajaran bahwa apapun yang terjadi senantiasa di syukuri dan ditafakuri.

Photo : Danau Kampung Sampireun / dokpri.

Pahitnya kopi hitam yang menyapa indera perasa di ujung lidah ternyata bisa berpendar menjadi gula-gula kehidupan dengan rasa manis alami yang sulit membuat definisi, inilah salah satu dari unlimited-nya nikmat Illahi yang (kembali) wajib disyukuri.

Kembali semilir angin sore membawa berita bahwa sebentar lagi Adzan mahrib akan menggema. Sungguh tidak terasa, serasa sekejap bersandar di kursi dan menikmati kopi ini… ternyata waktu begitu cepat berlalu.

Mari bergegas kawan, memenuhi panggilan Illahi untuk bersujud sesuai dengan janji. Wassalam (AKW).

Warna Warni.

Belajar menikmati hari dalam suasana warna warni.

BANDUNG, akwnulis.com. Manakala warna berpadu maka hadirlah sebuah sensasi rasa yang penuh dinamika. Begitupun kehidupan, warna warni kejadian silih berganti setiap waktu. Senang, ceria, atraktif, tertawa lalu sedih, murung, pendiam, dan menangis serta berbagai sikap diri yang senantiasa berbeda karena suasana.

Jadi…….. nikmatilah aneka warna kehidupan yang bervariasi. Kecil kemungkinan kita bahagia seumur hidup, pasti ada sedihnya karena Allah SWT menciptakan suasana kehidupan ini berpasang-pasangan untuk memberi kesempatan kepada hambanya agar senantiasa bersyukur dikala bahagia dan bersabar disaat derita dan kesedihan mendera.

Begitupun dalam ilustrasi warna, tidak elok dipandang jikalau hanya warna hijau atau merah saja yang ada, tetapi dengan gabungan warna lainnya hadirkan nuansa penuh dinamika.

Apalagi aneka warnanya itu adalah suguhan makanan yang harus segera dinikmati…. itu mah insyaalloh bahagia dan tak kuat menahan diri untuk menyantapnya, Bismillah.

Selamat Berlibur di hari selasa kawan (buat yang libur).. yang tidak libur karena tugas…. semangaaat.. termasuk istriku……. insyalloh dianter kok hehehe.

Itulah cerita warna yang terlintas di benak pagi ini, Wassalam (AKW).

Coklat Kopi

Selamat menyoklat di hari ini.

BANDUNG, akwnulis.com. Terkadang sebuah ungkapan yang hadir bertentangan dengan referensi di otak yang menguasai segala kosakata, tapi itulah indahnya bahasa yang tertuang dalam kucuran kata serta air terjun kalimat yang deras membasuh dahaga kekeringan asa. Selanjutnya mengalir membentuk aliran sungai cerita dan bermuara menjadi kumpulan buku cetak ataupun e-book serta mengisi relung arsip keniscayaan yang tidak hanya hadir secara kasat mata di hadapan dunia tetapi tersembunyi pada labirin cloud computing yang sementara disebut sebagai unlimited space…. besok lusa pasti ada batasnya karena itu buatan manusia, percayalah.

Maka jangan bingung membaca kalimat ini : .…Coklat itu antara kopi dan meja….,

jangan memaksa berfikir bahwa coklat itu adalah minuman coklat panas yang tersaji di cangkir saja, tetapi coklat juga adalah warna yang bisa menjadi bagian terpisah dari cairan penuh rasa… meskipun ada juga cairan coklat yang ternyata bukan coklat, seperti cikolomberan (air kotor di selokan – bhs sunda).

Coba lihat lagi photo diatas, warna meja dan warna permukaan kopinya juga coklat… eh bener khan?

Jadi kalimat tadi bisa menjadi relevan…. oke guys?..

Klo masih belum paham, santuy aja. pemahaman nggak serta merta, ada tahapan proses kok. Selamat bersenin pagi ceria, Cemunguuuut. Wassalam (AKW).