Kontradiktif…

Berbeda itu biasa, meski perlu waktu untuk pembiasĂ annya.

JAKARTA, akwnulis.com. Dikala senja berkalang dusta
Disitulah terpuruknya sebuah jiwa
Harapan menyerpih berserak
Dihantam angin yang terus bergerak

Tiada keinginan selain pergi
Pergi dari kenyataan yang abadi
Terlintas gagasan untuk mati
Demi hindari perasaan hati

Biarkan kesakitan ini menjadi saksi
Betapa ku berkorban demi sebuah janji
Janji sehidup semati
Yang akhirnya kau ingkari

***

Photo : Hiasan dinding di Toilet Cafe Kotaku Pwkt / dokpri.

Bunga mekar dipayungi mentari
Merekah segar harum mewangi
Begitupun dengan hati ini
Terus berseri tiada henti

Harapan awal hanya impian
Kini terwujud menjadi kenyataan
Dikau pujaan hati yang kudambakan
Sekarang bukan lagi sekedar teman

Langkah kaki terasa ringan
Dikala kita berjalan beriringan
Nafasmu adalah nafas kehidupan
Bagi diriku yang butuh sandaran

***

Kamu memang penipu
Wajahmu ternyata palsu
Senyum tulusmu berubah kaku
Ternyata kejam semua niatmu

Aku terbuai bujuk rayumu
Yang meyakinkan dengan jurusmu
Janjikan harap ternyata tipu
Dasar buaya memakai baju

***

Inilah sajak kontradiktif yang tiba-tiba hadir di kepala dan langsung mengalir menuju jari jemari. Maka mulailah menjalin kata menjahit kalimat menjadi nyata.

“Kamu bikin tulisan apa seeh?… nggak jelas”

Itulah komentar perdana, sesaat setelah samwan membaca tulisan diatas.

Nggak usah jadi pikiran kawan, teruslah berkarya.

Photo : Salah satu obat galaw, esscaloppe de paullet / dokpri.

Diawali dengan tulisan receh, jikalau konsisten maka bisa ditukar jadi tulisan lembaran biru ama merah lho (Kayak diut aje).

Tapi ingat yang terpenting adalah konsistensi. Menulis adalah kegiatan sederhana yang mungkin semua orang bisa, “Nggak percaya?”.… buka aja medsos, dari mulai halaman facebook, Instagram, status WA lengkap dengan broadcast copas-nya, line, wechat dan teman-temannya tak lepas dari permainan kata-kata.

Kembali ke sajak kontradiktif diatas, itu adalah sekelumit cerminan kehidupan. Sebuah pasangan rasa antara sedih dan senang, terluka dan berbunga, marah versus keindahan trus marah lagi dan mungkin menjadi indah untuk kedua kalinya, begitulah seterusnya…. terus dan teruuss.

Yang pasti…….. jangan lupa bersyukur, semua kegalauan rasa tidak akan menjadi cerita jikalau kita sudah tidak bernyawa. Mari syukuri nikmat kehidupan ini, ambil sisi positif dalam memaknai kesedihan-kesenangan yang datang silih berganti.

Isi nikmat kehidupan ini dengan mengumpulkan bekal untuk kehidupan akherat nanti sesuai petunjuk agama yang telah diyakini. Wassalam (AKW).

Nyoba MRT jakarta.

Akhirnya bisa menikmati MRT di negeri sendiri.

Photo : Kartu single trip MRT & kartu duit elektronik / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah kebanggaan menyeruak dikala meeting tuntas dan waktu luang masih tersedia sebelum tiba saatnya harus kembali ke Bandung menggunakan kereta api dari stasiun gambir jakarta.

“Emangnya moo kemana?.. ngopi yach?”

Ahay, pertanyaan tentang ngopi alias minum kopi menjadi common judge bagi diriku, sebagai penggila kopi, penyuka kopi yeaah… pokoknya minum kopi kapanpun dimanapun. Padahal, itu hanya pencitraan kok. Itu hanya sekelumit rutinitas kehidupanku yang merupakan salah satu syukur nikmat terhadap rejeki yang ada yaitu bisa menikmati kopi tanpa gula, kopi asli seduh manual dan offcourse without sugar, karena sudah manis seeeh….

Gubrak!!!!

Trus yang bikin keren adalah, semakin kita bersyukur dengan salah satu nikmat Illahi ini, semakin sering berkesempatan, berjumpa dengan beraneka jenis kopi atau kedai kopi, restoran yang menyediakan sajian manual brew hingga pas dapet kamar hotel…. eh ada mesin espressonya… ngopi lagi. Alhamdulillah.

Balik lagi ke waktu luang ini, meetingnya di area perkantoran SCBD (Sudirman Central Business Distrik) Jakarta, dan deket banget sama pintu masuk ke MRT Jakarta.

“Ohh… moo nyoba MRT, belum pernah yach?.. kacian”

Ya memang belum pernah, maklum jarang ke kota besar hehehe. Ah nggak usah dimasukin ke hati klo ada pernyataan nyinyir mah, biarkan saja. Memang belum pernah naik MRT di Jakarta, jadi mari kita coba. Cekidot.

Masuk dari stasiun Istora menuju Stasiun Bunderan HI, lalu keluar area stasiun… trus masuk lagi... jadi start resmi dimulai dari Stasiun Bundaran HI….. berangkaaat.

***

MRT Jakarta (Mass Rapid Transit) menjadi kebanggaan diriku sebagai warga NKRI, jadi bagi yang belum pernah mencoba MRT, nggak perlu musti terbang ke singapura. Sekarang tinggal beredar di ibukota, cari akses ke beberapa stasiun MRT….. langsung cobaa.

Oh iya, yang kepo dengan MRT ini, dari mulai sejarahnya, siapa yang jadi penanggungjawabnya, berapa biayanya termasuk bagaimana kelanjutan dari proyek MRT ini, tinggal pantengin aja.. eh emangnya radio.. đŸ€ŁđŸ€ŁđŸ€Ł, maksudnya klik aja website resminya DISINI.

Photo : Kolase ekspresi girang naik MRT / dokpri.

Nah karena aku juga baru berkesempatan nyoba sekarang, maka pengen berbagi sekaligus pamer, semoga menjadi informasi yang bermanfaat sekaligus ngomporin yang belum pernah nyoba, pasti ketagihan lho… dijamin.

MRT yang sekarang sudah resmi beroperasi terbentang dari Bundaran HI, nggak pas bundaran HI sih. Tetapi sedikit bergeser ke depan Plaza Indonesia ada petunjuk yang sangat jelas tentang pintu masuk MRT. Baik di kiri jalan depan Plaza Indonesia, di ssberang jalan Thamrin ataupun di jalur tengah tempat naik busway, cuman klo lewat jalur busway ini musti lewati dulu orang-orang calon penumpang busway baru di ujung ada jalan turun ke bawah tanah.

“Ticketnya gimana?”

Nggak usah khawatir, pokoknya turun dulu aja ke bawah tanah… cuss, bisa via tangga dengan anak tangga yang lumayan banyak… latihan dengkul, atau bagi calon penumpang prioritas tersedia lift yang diperuntukan untuk lansia, bumil, busui dll.

Nah pas nyampe lantai bawah, banyak penawaran kartu duit elektronik baik dari beberapa bank nasional seperti e-money mandiri, flazz bca, brizzi bri, jak-card ataupun tiket sekali jalan yang dikeluarkan pihak MRT yaitu single trip card yang berlaku selama 7 hari.

Klo yang pertama kali, mendingan pake kartu yang dikeluarkan MRT, lumayan buat kenang-kenangan, untuk selanjutnya bisa pake e-money yang sudah dipunyai.

Pembelian single trip cardnya bisa via petugas, harganya 20ribu untuk kartunya dan 14ribu untuk biaya dari stasiun HI sampai Stasiun Lebak bulus…. murah khaan?... atau juga melalui mesin.

Caranya gampang, baca petunjuknya secara seksama dan sejelas-jelasnya, ikuti instruksi, keluar deh kartu yang diminta… jikalau bingung, bertanyalah pada petugas…. ingat dengan pepatah lawas, ‘Malu bertanya sesat di jalan, besar kemaluan susah berjalan’.

Beres urusan kartu, baru menuju mesin entri. Tempel dan masuklah kita ke area keberangkatan, tengak temgoklah petunjuk yang bertebaran… ikuti instruksi.

MRT yang datang akan membuka pintu otomatis, maka prioritaskan orang yang keluar dan masuklah dengan tertib.

Jikalau dapat tempat duduk, duduklah. Tapi prioritaskan lansia, bumil, busui dan… lihatlah petunjuk diatas kursi prioritas… jelas kok disana.

Lebih aman berdiri sambil berpegang tali, jangan lupa ambil photo selpi dan segera upload karena para netizen menanti….. eaaaaaaa.

Dari Stasiun Bundaran HI kita akan berhenti di stasiun dukuh atas-setiabudi-benhil-istora-senayan-sisingamaraja-blok M-blok A-haji nawi-cipete raya-fatmawati-.. hingga berakhir di stasiun Lebak Bulus.

Klo udah nyampe, jangan lupa photo-photo lagi, trus tap tiket di mesin untuk keluar, dari situ cari mesin lagi atau petugas untuk beli tiket 14ribu atau top up kartu elektronikmu… masuk lagi dech dengan cara yang sama, tap lagi di pintu masuk…. cekidot.

Nah…. saran aku sih, pilih gerbong MRT terakhir… dijamin masih kosong melongpong.

Trus?….

Disinilah sifat asli wong ndesonya muncul. Pertama sih pose jaim (jaga image), lalu mulai sedikit berulah, pegang sana sini, loncat-loncat… ih bikin malu aja.

Malah diriku juga kepeleset saking semangatnya loncat dan diabadikan oleh seorang rekan…. hasilnya jadi bisa berpose tiduran di lantai gerbong MRT…. aduuh malu. Tapi apa mau dikata, sekarang semua orang jadi pewarta dengan modal smartphonenya, jadi harus ikhlas jikalau photo nggak kobe (kontrol beungeut/wajah) kita tiba-tiba nongol di WAgrup tetangga… alamaaak.

Ah udah ah seru-seruannya, akhirnya kembali duduk di kursi yang tersedia karena di stasiun berikutnya mulai masuk penumpang lainnya dan semua kembali jaga sikap seolah-olah tidak ada kehebohan apa-apa.

Trus yang menarik untuk MRT koridor Bundaran HI sampai lebak bulus itu akan kita dapatkan 2 pengalaman sekaligus. Yaitu perjalanan gelap dari bawah tanah, trus di daerah depan Al Azhar sebelum Blok M, gerbong MRTnya muncul ke permukaan dan langsung berada di atas jalan serta hamparan kota jakarta selatan, excited bingit.

Jadi, yang belum mencoba.. disegerakanlah, bukan hanya menikah bagi para jomlo yang sudah berani eh mampu yang disegerakan, tetapi menjajal MRT inipun harus menjadi prioritas…. mungpung masih agak lowong.

Photo : Dulu, naik MRT di Singapura / dokpri.

Besok lusa tentu akan menjadi lebih padat karena merupakan tulang punggung transportasi massal di Jakarta… percayalah.

Oh iya satu lagi, ada satu stasiun yang akses langsung ke mall yaitu stasiun Mall Blok M… keren khan?… jajal MRT trus nge-mall, shopping, masuk lagi MRT… tepat waktu, murah, cepat dan bersih….. ayoo cobaa.

Oke itu dulu aja cerita kelakuan ndesoku, jikalau dulu berteriak girang karena bisa menjajal MRT di negeri singa, sekarang lebih berbangga karena menikmati MRT di negeri sendiri. Wassalam (AKW).

Musuh Gerot – fbs

Pangémut diri pikeun uih kana purwadaksina.

FBS : Fiksimini basa sunda, sebuah genre tulisan berbahasa sunda menceritakan sebuah cerita fiksi dalam tulisan maksimal 150 kata sudah membangun sebuah cerita.

Silahkan…..

# MUSUH GEROT #

Jempling ngalungkawing ngabaturan indung peuting. Haté sumeblak teu puguh cabak, cus cos émutan nu matak héman.

“Kunaon kasĂ©p?”

Patarosan nu nyamuni tapi ngabalukarkeun isin ka diri. Margi éta patarosan téh tos terang waleranna, tos apal kedah kumaha ngalaksanakeunnana, malih mah sok dicobi dipilampah, mung tara lana.

“Naha?”

Kitu geuning nyata karasa, nu jadi sabab musabab sanés patarosan salira, tapi musuh gerot nu ngahalangan saban mangsa.

“Tah geuning geus apal, naha teu dilawan lur?”

Carinakdak cisoca diusap ku dampal pangbagéa, sanés teu tiasa, tapi geuning musuh panggerotna aya dina jero dada, ogé ngawasa uteuk disabudereun néocortéx jeung amigdala.

“Cobian deui…”

“Bismillah..”, gerentes niat muntang ka Allah Maha Kawasa, HapĂ© diilo, lalaunan sababaraha aplikasi favorit dipupus saharita. HapĂ© ditunda, ngolĂ©sĂ©d ka musola, wudu tuluy muka quran nu aya.

“Halah… naha janten balĂ©lol kieu?” hurup arabna teu tiasa di aos, ngadon nyarumput dina sisi tutunjuk awi. Cimata bedah ku hanjakal, hatĂ© gimir mayunan kanyataan, rumaos tambelar. (AKW).

***

Catatan : Diposting di halaman Grup Facebook FBS, Sabtu 270719 Pukul 01.13 wib.

Sedikit damai di Pantai Kuta.

Mencari sejumput damai disini..

Photo : Senja di pantai Kuta / dokpri.

KUTA, akwnulis.com. Menginjak pasir pantai di sore yang berangin memberikan ketenangan, bukan semilir lho… tapi hembusan kencang yang mungkin bisa menerbangkan harapan.

Memandang ke sekitar, sekian banyak mahluk yang sedang hadir bersama menikmati pemandangan alam dengan persepsi berbeda. Ada yang berbunga bersama pasangannya, ataupun yang sedang bersedih karena sekeping hatinya tertinggal disini.

Beberapa remaja bersendagurau sambil bermain air di tepi pantai, sementara remaja lainnya sibuk mengabadikan momen sunset pake kamera DLSRnya dan Smartphonenya.

Jepret… jepret.. jepret…Sepuasnya sepanjang memori mencukupi.

Jadi ingat masa lalu, dimana aktifitas mengambil gambar photo via kamera itu adalah sesuatu yang cukup butuh pengorbanan, termasuk keterbatasan pengambilan gambar karena harus sesuai dengan roll film yang dibeli. ISOnya musti pas, ada yang 200 atau 400, masangnya juga musti bener, klo nggak… semua gambar photo yang diambil akan hancur atau istilahnya ‘kebakar‘,… atau kadang photonya numpuk dan seolah ada siluet mahluk lain… hiiiy.

Belum lagi, proses cetaknya nggak sembarangan, musti ke Toko cuci cetak photo dan hasilnya ada 2 ada photo gambar dan ada negative photo….. ah.. masa lalu yang sudah terlewati.

Aih kok jadi melamun siih…. padahal khan tujuan kesinih adalah dalam rangka menenangkan pikir memberi rongga leluasa di jiwa di sela tugas yang tak rela jikalau manusia ini bersantai barang sebentar saja.

Kembali berjalan, menjejakkan hati eh…. kaki diantara kelembutan pasir pantai yang terdiam dalam kepasrahan. Sambil menikmati semburat jingga diujung pantai, menghiasi horizon langit bertabur warna.

Meskipun lalu lalang manusia yang cukup banyak tetap bergerak dengan arah masing-masing, dengan pikiran masing masing dan niat yang berbeda satu sama lain.

…….Mungkin kesamaannya adalah bagaimana menikmati suasana, menyerap rasa dan akhirnya sedikit rilex serta sejumput damai menyeruak di pantai Kuta. Wassalam (AKW).

Sunken Pool & Sunken Bar

Berenang sambil bersantai…

Photo : Sunken Pool / dokpri.

KUTA, akwnulis.com. Bersantai sesaat ditengah tekanan tugas dan target yang harus tuntas segera adalah salah satu obat mujarab yang bisa mengembalikan mood serta semangat untuk terus berkarya, bertugas dan ceria.

Caranya tentu beraneka macam, tapi di kala bertugas di luar kantor maka fasilitas hotel tempat menginap bisa dimanfaatkan untuk lepaskan penat.

Salah satunya adalah disini, di sebuah kolam renang yang memiliki multi fungsi, selain sebagai kolam renang tempat berenang dan bercengkerama dengan kesegaran air, sekaligus bisa sambil kongkow dan makan cemilan dengan posisi sebagian tubuh masih terendam air kolam renang, asyik khan?.

Inilah salah satu tempatnya, Sanken Pool & Sanken Bar. Sebuah kolam renang yang merupakan fasilitas hotel Inna Garuda Kuta di Bali ini memanjakan penginap untuk bersantai sejenak.

Kedalaman kolam dewasa 1,5 meter dan dipinggir sebelah kiri terdapat area untuk berenang anak dengan kedalaman 1,15 meter serta terdapat pagar pembatas dari stainless, sehingga relatif aman bagi anak yang sedang berenang tidak akan loncat ke kolam yang lebih dalam.

Photo : Sunken Bar Inna Garuda Kuta / dokpri.

Jadi beres berenang merapat ke sisi bar, pilih kursi dan segera pesan makanan atau minuman. Sayangnya diriku nggak bisa sempurna menikmatinya, karena pas nge-jebur ke kolam dan berusaha berenang dengan gaya batu andalan.. ternyata rekan sekamar dipinggir kolam memanggil sambil memperlihatkan smartphone yang dititipkan.

Segera menelepon setelah menepi dan, “Hallow..”

“Segera meluncur ke Denpasar, bawa berkas lengkap!!!”

“Siyaaap”

Sunken bar-nya gatot (gagal total), segera beringsut setengah berlari menuju kamar, mandi dan berganti pakaian secepat kilat dan langsung menghambur menuju kendaraan yang akan membawa diri bersama kawan untuk bergabung dalam diskusi pekerjaan di Kota Denpasar.

Cusss……….

Ngopay Ngojay di Ohana Bali

Ngopay Ngojay di Ohana Kuta.

Photo : Kolam renang anak & dewasa di Ohana Hotel / dokpri.

KUTA, akwnulis.com. Mendarat di Bandara Ngurai Rai, trus meluncur menuju hotel adalah hal yang lumrah, tetapi yang bikin degdegan adalah memilih hotelnya begitu mendadak dan pertimbangan utamanya adalah budget, budget dan budget… baru tentang lokasi dan kenyamanan.

Awalnya memang dikala jari jemari menjelajahi aplikasi perjalanan online untuk menemukan berbagai hotel murah di sekitar Kuta Bali, tetapi tentu tidak hanya murah tetapi juga memiliki standar kenyamanan. Jadi dalam waktu yang terbatas, melototin pilihan photo-photo hotel dengan harga pas di kantong.

“Lha.. nggak dibayarin kantor mas?”

“Sttt…. jangan ribut, ini mah non-Budget”

“Ooh… xixixixi….”

Jadi petualanganpun harus di jalani, meskipun cukup pede karena dilihat dari photo-photo dan cek lokasi via gugelmep memang masih di sekitar area Kuta meskipun bukan di jalan utama…. nah lo.

***

Jam 23.58 wita, kaki menjejak di lantai hotel disambut senyuman satpam dan resepsionis. Alhamdulillah hotelnya lumayan, meskipun jauh dari area pantai (klo jalan kaki) tetapi lebih tenang karena tidak mudah tergoda oleh hiruk pikuk keramaian seperti di sekitar kuta-legian-dan sekitarnya.

Photo : Kamar di lt.3 / dokpri.

Dengan harga 350Ribuan/malam udah dapet kamar hotel yang cukup bersih dan tenang, Bed yang besar juga ada kursi luarnya di mini balkon….. tapi lorong menuju kamarnya agak sempit, jadi mirip masuk ke lorong kamar kost-kosan hehehehe….. atau mungkin lantai ini aja kali….. jadi gampang akses ke kamar.

Over all untuk ruangan dan kelengkapannya cukup baik dengan kamar mandi yang memadai.

Yang menarik adalah terdapat juga kolam renang di lantai dasar, cukup buat bermain-main dengan sang buah hati (klo ikut maksudnya)… yang memang sudah dari sonohnya anak kecil mah seneng main air. Karena sekarang sendirian, ya sudah… tidur aja segera.. eh mandi dulu deh, baru tidurrr…

Nama hotelnya adalah Ohana Hotel Kuta, liat di traveloka lebih megah dari kenyataannnya tapi ya memang iklan harus begitu… ditampilkan semenarik mungkin dengan sudut photo dan pencahayaan yang memberi hasil lebih wah… yaaa mirip kamera jahat yang bikin wajah bercorak menjadi lembut tanpa jejak… kenyataannya juga lumayan, dengan budget terbatas dapat hotel yang bisa memberikan kenyamanan, menghilangkan penat dan mengembalikan kesegaran untuk menyongsong kerjaan yang nggak kelar-kelar.

Masuk kamar, lalu mandi, sholat, nyalain tivi… dan tivi nonton diriku… alias dotonton tivi…. yaaa karena diriku yang langsung terlelap, ternyata jam dinding di kamar sudah menunjukan waktu yang melewati tengah malam.

Photo : Nikmati Kopi Hotel / dokpri.

Esok harinya turun ke lantai 1, Sarapan pagi lumayan variatif, tapi karena hanya buah potong yang boleh dimakan di pagi hari, maka potongan semangka dan melon menemani makan pagi kali ini, sambil memperhatikan anak kecil dan kakaknya yang bersiap bermain air di kolam renang (Kolam renangnya di tengah-tengah dan untuk akses ke ruang makan akan melewati pinggir kanan kiri kolam renang).

Tak lupa secangkir kopi hotel dinikmati sambil mereka-reka rencana dan mempersiapkan diri untuk bertugas hari ini, cemunguuutz…

Jebur….

“Brrrr dingiiiin!” Celoteh sang kakak, diikuti adiknya meloncat ke tengah kolam untuk bercengkerama dengan air kolam renang di pagi ceria. Mereka tertawa dan duniapun penuh dengan canda. Selamat menjalani hari di pulau bali. Wassalam (AKW).

Viet Black Coffee

Minum kopi di tempat berbeda.

Photo : Viet Black Coffee / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sensasi mencoba sesuatu yang berbeda itu bisa diartikan mendapatkan pengalaman baru, karena sudut pandang suatu momen tergantung dari mana kita melihatnya. Meskipun mungkin sudah tahu tentang barang itu, tetapi dengan lokasi yang berbeda akan lain juga suasana yang didapatkannya atau sebuah rasa yang dihadirkan.

Itulah yang terjadi sore ini, memasuki basement Plaza Indonesia Jakarta, berkeliling mencari kedai kopi hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah restoran yang berornamen asia, yaitu restoran Namnam, sebuah restoran vietnam.

Photo : dilihat dari luar / dokpri.

Restoran ini berbasis di Singapura, dan membuka cabang di Jakarta dan Bali…. “Lha kok promosi?…”

“Yo wis, monggo gugling aja yang pengen tahu resto ini”

“Kenapa memilih tempat ini?”

Jawaban yang muncul sederhana, hanya ingin tahu dengan sajian kopi vietnam yang dibuat dengan metode vietnam drip.

“Halah kagak aneh itu mah, udah banyak yang pake”

Nah itulah pokok bahasan ini, merasakan sebuah sajian kopi dengan cara seduh yang sudah lumrah pake vietnam drip tapi tempatnya beda, sebuah tempat yang disetting suasana vietnam banget sehingga mungkin bisa menghasilkan rasa berbeda.

Photo : Kopi & salad / dokpri.

Sajian kopinya bernama CÀ PHĂȘ DEN ( Viet black coffee) dengan harga 35 ribu, bentuknya yaa…. sajian kopi dengan vietnam drip.

Rasa yang dihasilkan memiliki kecenderungan body strong atau bold dan tanpa acidity karena memang basisnya adalah kopi robusta. Tetapi tetap gula yang disajikan tidak akan disentuh, karena sudah istiqomah dengan Kotala, kopi tanpa gula.

Dilengkapi oleh sajian salad yang bernama GÓI BUÓI TOM THIT, berisi Pomelo salad, prawn, chicken, assorted crackers alias kurupuk udang…. ternyata miliki rasa nano-nano, rasa manis dari jeruk.bali yang segar bergabung segarnya udang dan sejumput daging ayam ditambah dengan olive oil dan cuka, hasilkan rasa rujak seafood yang agak asing di lidah…. segar meski agak membingungkan..

Tapi tenaaaang kawan…

Photo : Suasana Restoran Namnam / dokpri.

Masalah rasa jangan khawatir, reseptor otak menerima sinyal kesyukuran, menghasilkan warna rasa di dalam kepala dan mengkristal menjadi rasa segar diantara kepahit-asam-manisan yang merata.

Ditopang oleh suasana resto vietnam yang detail lengkap dengan lampion merahnya, maka sruputan kotala yang tersaji berhasil memberikan aneka makna. Menambah rasa syukur terhadap tambahan pengalaman yang begitu berharga. Sruputtt… nikmaat, Wassalam (AKW).