Berenang di Hotel Margo

Berbasah ria di The Margo hotel, baru meeting.

photo : Swimming pool Margo Hotel / dokpri.

DEPOK, akwnulis.com. Di kala sang mentari masih malu-malu menampakkan diri, raga ini sudah bergerak sendiri menuruni titian janji, berjingkat perlahan tapi pasti menjauhi peraduan dan akhirnya menuju lantai yang telah ditentukan.

Tepatnya lantai 3 yang menjadi tujuan, keluar dari lift belok kanan langsung disambut oleh si belang putih merah ati yang akan menemani dalam prosesi pengeringan nanti.

Melewati pintu kaca dan berjumpa dengan gemericik air kolam renang yang menenangkan jiwa dan mengajak raga untuk bercengkerama.

‘Jangan lupa buka baju dulu’

Jeburrrr!!!….

Kesegaran menyeruak menyentuh pori yang butuh kesegaran. Adrenalin meningkat seiring lamanya badan menahan nafas, lantai kolam renang yang biru menghasilkan siluet indah hasil kolaborasi cahaya dan gerakan air yang dinamis optimis.

Swimming pool Hotel Margo di jalan Margonda Kota Depok ini memang nyaman, meskipun ukurannya bukan kelas olimpic, tapi lumayan buat hiburan dan bersantai sambil melihat pandangan ke arah jalan raya dan mukanya mall margonda.

Kolam dewasa dengan kedalaman 160 cm dan kolam anak 60 cm, dilengkapi air yang menyemprot dari ujung kanan kiri, memberi kesan meriah dan menyenangkan.

Cuman musti hati-hati berenangnya, jangan sambil mangap, ntar nggak sengaja neguk air kolam dan dilanjutkan neguk lagi…. maka kerugian buat kita, pertama shaumnya batal trus kedua rasanya nggak enak karena sudah diberi kaporit ehh mentah lagi airnya..

Berenang kesana kemari akhirnya berhenti karena memgingat di bulan ramadhan ini musti jaga stamina serta bersiap ikutan meeting pagi ini.

“Lha emang sekarang jam brp?”

“Jam 06.15 mas”

“Busyeet niat banget kamu…”

Hanya senyum dan gejebur yang menjawabnya. Tidak ada niat berlebihan, tapi sedikit menikmati fasilitas di sela kerjaan yang bejibun dan injury time moo libur…. khan hal yang wajar.

Selamat beraktifitas dan bersiap menjalani libur panjang Idul Fitri 1440 H. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
The Margo Hotel, Jl. Margonda Raya No.358, Kemiri Muka, Kec. Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424.

Robusta Rum..

Kopi tapi Rum, memabukkan nggak?.. hati2 ah.

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala rutinitas menikmati kopi tanpa gula menjadi bagian dari gaya hidup, disadari atau tidak ternyata ada sebuah tuntutan yang mengharapkan adanya peningkatan kualitas rasa yang berbeda dari sebuah sajian atau racikan kopi versi ‘nikotala‘.

“Maksudna naon ieu teh?”

“Kalem Mang, jangan poporongos (marah-marah) begitu, slow saja slow kata Wahyu (penyanyi) juga…”

Maksudnya adalah ….. seiring dengan kerutinitasan menikmati dan memaknai nikmatnya pahit getirnya kopi tanpa gula, ternyata serasa ditantang untuk bisa menikmati rasa kopi yang berbeda.

Berbeda disini adalah kualitas rasa yang ternyata berstrata, tadinya hanya yang di fermentasi biasa, sekarang bergeser mencari biji yang menghasilkan acidity dan body lebih strong, minimal yang ‘honey process’. Untuk kopi arabica, jelas hasilnya adalah tingkat acidity yang tinggi dan ketebalan rasa pahit semakin mantab…..

Eh setelah itu dikenalin sama arabica wine…

Kopi gayo wine

Sendiri & Kopi Wine

Gayo Wine Aman Kuba

Arabica Wine & Ijen

Gayo wine stasiun coffee

Gayo wine japanesse

Arabica wine DNa coffee

Makin ningkat lagi nich selera, kopi arabica wine strata rasa setingkat diatas honey process, waktu fermentasinya lebih lama… jangan khawatir bukan wine beneran, hanya sensasi awal saja.

Maka seneng banget klo ada arabica wine, tentu harapannya adalah kopi wine jabar selain Gayo wine yang sudah terkenal.

Untuk jenis robusta, diriku agak jarang menikmati karena rasanya ya g flat, tanpa ada acidity atau minim acidity, dengan rasa pahit (kadang rasa hangus) dan kafeinnya tinggi sehingga bisa maksa begadang tanpa ampun.

Nah…. pada saat diberikan secara khusus dari Pak Kadis D, awalnya agak sangsi, “Makasih Pak Bos, tapi saya jarang minum robusta”
“Coba dulu, baru komen”
“Siapppp, makasih pak Bos”

Sebungkus kopi bubuk berpindah tangan dan mencoba dibuka, merasakan aromanya….. serrrr.

Wuiih ada rasa tembakau dan mint yang menyapa indera penciuman, “Kayaknya enak”

“Coba aja nanti, nggak bakal nyesel dech!” Jawaban Pak D sambil tersenyum.

***

Tiba di rumah sudah menjelang jam 22.00 wib, segera membersihkan badan dan say hello to my lovely wife and my little princess…. maklum tadi ikutan tarling (taraweh keliling).

Akhirnya….. prosesi penyeduhan pake v60 dimulaiii….

(Cerita proses di skip ya guys)

Hasilnya adalah sebuah sajian kopi robusta, yang memiliki aroma harum tembakau….. segera di sruput….

Sadiiiis!!!… rasanya brow!… ueddan nich.

Rasa pahit robusta tidak terasa, tergantikan oleh sebuah rasa tembakau, selarik mint dan juga ada unsur cengkehnya…. waaah ini melanggar pakem.. gitu yang ada di fikiran. Tapi memang kenyataaan…

Rasa tembakau, cengkeh dan mintnya stabil, serta ninggal tebal di ujung lidah terdalam… enak pisannn…

Tapi diriku nggak bisa nulis, merk mana dan dari mana karena bungkus kopinya tanpa label. Pokoknya dari Pak D, hatur nuhun pisan Pak Kadis. Pokoknya rasanya beda, jadi seneng nyeduh kopi robusta kayak gini…. maafkan buat rekan-rekan pecinta atau penyuka sesama kopi, sekarang baru cerita dulu aja di blog… jangan kabita yach, karena dikasihnya sangat terbatas. Kecuali yang kebetulan bersua di ruang kerja, ada waktu, kopinya masih ada, mari kita seduh bersama… eh tapi pasca lebaran yaa… sekarang khan masih shaum dan siap-siap cuti bersama-sama.

Met mudik dan bersua dengan sanak saudara, Mohon maaf lahir dan bathin.

Eh blum mudik kok, besok masih wajib ngantor ikutan upacara hari kelahiran Pancasila tanggal 1 Juni 2019. Merdeeekaaa…. eh Wassalam (AKW).

***

Ngopay di Orange Steak Culture Cafe.

Ngopaynya geser ke Tasik bray..

Photo : Sajian V60 Arabica Yellow Bourbon / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Jikalau biasanya sudah tersemat di alam bawah sadar bahwasanya menikmati bubur Jaenal dan baso Laksana adalah sebuah kewajiban di kala beredar di kota tasikmalaya. Maka sekarang pola pikir alam bawah sadar itu masih sama mulai bergeser dengan hadirnya semangat ngopay yang terus menggelora.

Tapi tetep jikalau kesempatannya ada dan my stomach masih kuat menampung sajian makanan di tembolok kanan kiri depan belakang maka tentu tetap didatangi, dipesan, dimakan dan dinikmati…. abis enakk seeeh.

Jadi, semangkok besar bubur jaenal yang legendaris tetap mendapatkan tempat di perut serta kenangan manis, nggak bakal ditolak klo ada yang ngajak sekaligus nraktir, apalagi di bulan ramadhan, pahala nraktirnya berlipat-lipat, dengan syarat niatnya benar dan tidak pamer yang menjurus ke ujub riya.

“Eh guys, udah tahu khan bubur jaenal?”

Photo : Bubur Zaenal 1 porsi / dokpri.

Yang menggeleng berarti kasian dech lu. Ada makanan enak legendaris yang belum dicoba. Meskipun memang terdapat dua aliran yang bertentangan, itu terjadiklo duduk disini, di daerah sekitar mesjid agung kota tasikmalaya tidak sampai berantem dan bikin kerusuhan karena semangkuk bubur, nama alirannya adalah GAB (grup aduk bubur) dan GNTAB (grup natural tanpa aduk bubur)…… kamu masuk grup mana klo ngebubur mas?

Klo kepo bin penasaran… gugling aja ya guys… keywordnya : bubur jenal kolektoran tasikmalaya.

Udah ah, sekarang moo bahas ngopay dulu bray.

“Ngopay apa dimana say?”

Photo : Suasana Cafe Orange steak culture / dokpri.

Ngopaynya kopi Arabica Yellow Bourbon honey di Cafe OTC (orange steak culture), masih di jalan Ikik Kota tasikmalaya, deketan bangeet sama lokasi bubur janal yang dibahas tadi.

Jadi bisa ngebubur dulu lanjut ngopay atau sebaliknya, ngopay dulu baru pulang…. eh ngebuburnya kaapaan?…..

Nemuin kopi inipun random aja, ada cafe dan ada sajian kopi manual. Masuk dan tanya2 kopi bean yang ready…. banyak sih, tapi yellow bourbon honey yang recomended…

“Pesen kang, pake manual brew V60 yaa”
“Oke kakak”

Suasana kafenya cozy dan menyenangkan dengan menu variatif western, asia dan tentu kopi dengan sajian beraneka rupa dan rasa.

Nikmat buat kongkow atau ber-alone juga mencari inspirasi dan menikmati kesendirian meskipun terkadang menyesakkan… ahhhhh.

Photo : Sebungkus bean Rancabali Natural / dokpri.

Sajian pertama adalah Arabica Yellow Bourbon honey yang diseduh manual dengan fiter v60 pada panas 89° celcius menghasilkan rasa nikmat dan keharuman memikat. Body-nya kategori bold/tebel pahitnya juga tingkat keasaman (acidity) maksimal ditambah yang unik adalah aftertastenya ada selarik rasa kola yang nyereng seperti ada semut kecil yang bergerak di bibir dalam, gagarayaman.

Dilanjutkan sajian kedua adalah versi dinginnya dan tentu menggunakan bean yang berbeda, yaitu Japanese Arabica Rancabali natural. Sang barista, Rizal mainkan bean dan air dengan perbandingan 1 : 18 pada suhun 89°celcius dan pola muter arah kanan serta di gelas server bersiap es batu menerima tetesan ekstraksi biji kopi yang penuh arti.

Photo : Japanese Arabica Rancabali Natural / dokpri.

Setelah tersaji…. srupuuut.

Tidak segalak sajian pertama, body dan aciditynya medium, sedang-sedang saja, tetapi aftertastenya muncul selarik rasa citrun, serta yang pasti menjadi pembeda rasa adalah rasa dinginnya yang menyegarkan…. sueģerr rek.

Oh iya lokasi cafenya di jalan R. Ikik Wiradikarta No.53, Tawangsari, Kec. Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46112. Selamat ngopay di Tasik mang, Wassalam (AKW).

Kopi Lintas Batas.

Perjalanan memaknai kopi lintas batas wilayah kota kabupaten…. cemunguut.

Photo : Suasana pagi di Depok City / dokpri.

CIANJUR, akwnulis.com. Setelah pembatasan medsos beberapa hari lalu, maka fasting breaking medsospun disambut dengan sukacita karena om Rudiantara mencabut kembali puasa akses gunakan medsos yang sudah menjadi warna denyutan kehidupan rakyat bangsa indonesia saat ini.

Dahaga bermedsos akhirnya kembali terpenuhi dan jikalau dihitung dengan ukuran kira-kira plus rumus sekenanya, ternyata tingkatan nafsu yang paling sulit dikendalikan di bulan ramadhan penuh berkah ini adalahhhh…… nafsu bermedsos (upss maaf klo salah).

“Ah kamu mah ngawur, nggak ada haditsnya bermedsos membatalkan puasa”

“Yang membatalkan shaum itu makan minum dan bersenggama”

Sudahlah nggak usah diperdebatkan, yang pasti menahan nafsu dan mengendalikannya adalah hal WAJIB di bulan ramadhan ini, sekaligus latihan penting untuk diimplementasikan di 11 bulan selanjutnya.

Alhamdulillah sekarang bisa buka medsos lagi, ngecengin agenda para selebgram sambil tak lupa pasang status kekinian…. tuhhh khaaan… nggak kuat klo nggak ngoprek medsos barang sehari saja… kecuali dipaksa sama pemerintah 🙂 … itupun pada latah pasang VPN gratisan yang tentu miliki banyak resiko…

Pas buka IG, terlihat statusnya Taqi malik, ‘Sahur di Abu dhabi, berbuka puasa di Mesir’….. wuiih shaum lintas negara. Maka tulisan inipun musti ikutan dengan statusnya Taqi ah… supaya kekinian gaul abiiez.

Maka judulnya adalah…. ‘Sahur di Depok dan berbuka shaum di Cianjur’…. nah lintas batas negara kabupaten kota lho… batas Kota Depok, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, hingga akhirnya memasuki wilayah Kabupaten Cianjur…. lebih kereeen… ini melewati 4 wilayaaah. (Maaf yach klo maksa… tapi perjalanan cukup lama lho, bisa nyampe 6 jam-an).

Coba klo bandingin perjalanan dari Abu dhabi ke Mesir, klo pake Etihad airways itu cuma sekitar 4 jam perjalanan (penerbangan) menempuh jarak lurus 2624 km dengan kecepatan 700km/jam…… Sementara dari depok ke cianjur lebih lama dari itu, pake pesawat Toyota rush keluaran lawas…. kecepatan maksimal 90km/jam, sebanding khan?…. Nggak banget. Tapi itulah kondisi sekarang, sering banyak analisis perbandingan yang sebenernya nggak sebanding, tapi sudahlah….

Photo : Senja di Cianjur / dokpri.

Sahur di depok diwakili oleh sajian kopi Arabica gayo di Cafe juliet juga Noe Reborn Cafe Library yang bersua dengan si meong lucu dan seneng banget berpose dengan kopi berlatar belakang buku-buku di perpustakaannya.

Lalu setibanya di Cianjur, setelah membatali diri dengan air mineral maka dilanjutkan menikmati kopi Arabica Tangkuban parahu di AR7_coffeecorner, Alhamdulillah.

Begitulah perjalanan menikmati kopi lintas negara kabupaten kota, dari sahur hingga berbuka puasa. Selamat menikmati hari, jangan lupa ngopi. Wassalam (AKW).

Nikmati Kopi Gayo di Juliet.

Menikmati Kopi Gayo di Kota Depok..

Photo : Aceh Gayo by Aeropress / dokpri.

DEPOK, akwnulis.com. Melangkahkan kaki di sepanjang jalan Margonda ditemani berisiknya suara mobil dan motor yang bergerombol dalam lautan kemacetan, terasa sebuah tekanan kehidupan yang musti dihadapi day by day.
Wajah-wajah lelah dibalik helm mereka, berbaur juga helm dan jaket hijau para pejuang ojol (ojeg online) mengantarkan penumpang menuju tujuan masing-masing.
Suara klakson dan bisingnya mesin menjadi musik harmoni keterpaksaan yang harus diterima dengan kepasrahan. Semoga semua sabar menjalani kehidupan.

Jalan kaki terus berlanjut, naik turun trotoar jalan Margonda yang terkadang terhalangi oleh gerobak dorong pedagang ataupun kumpulan motor pejuang ojol yang menunggu panggilan di aplikasi. Jadi berjalan di pinggir jalanpun harus hati-hati plus konsentrasi.

Photo : Ruangan Juliet Cafe / dokpri.

Tetiba di pinggir jalan sebuah bangunan putih terlihat terang benderang dan kayaknya ada sajian kopi yang mungkin saja bisa ikut mewarnai hari, khususnya malam ini di sebuah kota satelit ibukota, yakni Kota Depok meskipun hanya beredar di area terbatas jalan margonda.

Namanya Juliet cafe, masuk aja. Nuansa simpel dan elegan menyambut diri, tapi sudah tidak berfikir pilihan menu yang akan tersaji, fokusnya satu, pesen kopi.

Sesaat basa basi dengan pramusaji, akhirnya menjatuhkan pilihan pada sajian manual brew menggunakan aeropres bukan v60 (katanya sih memang nggak tersedia, ya sudah…. kita coba).

Pilihan bean kopinya pun simple, hanya ada gayo saja untuk manual brew tapi untuk menu kopi lainnya mereka menggunakan houseblended_coffee. Ya sudah gayo pake aeropress aja.

Kafe ini baru direnovasi setelah 2 tahun terbengkalai, dan mengusung tema baru beserta aneka fasilitas yang ada, termasuk tersedianya ruang meeting di lantai 3 yang juga bisa di sewa. Buat gathering dan juga meeting.

Disinipun tersedia pilihan untuk membeli bean kopi, tapi hanya terbatas di display saja…. harap maklum donk, ini khan buka kafe atau kedai kopi… jadi kopi bukan bagian yang utama….

“Ih aku mah pengen kopiiii”
“Berarti kamu salah masuk cafe”

Gitu diskusi dalam kepala, tapi akhirnya sepakat bahwa tak usah berdebat ah, udah nikmati aja. Sruput, rasakan, tulis, edit, postinglah pada dunia juga broadcast via WA.

“Khan WAnya lagi down?”
“Iya bener, tapi share link blog sih baik2 saja, lagian bukan ngirim hoax ini mah….”

***

Photo : Display kopi di cafe ini / dokpri.

Akhirnya sebuah sajian kopi hadir menghampiri, cangkir merah dan aeropressnya datang serta langsung mengambil posisi di meja. Gula dan sendok ditolak karena bertentangan dengan prinsip nikotala.

Currr…..

Srupuuut…

Overall lumayan bisa menikmati kopi tanpa gula. Tapi karena media seduhnya adalah aeropress maka sajian yang dihasilkan masih mengandung bubuk-bubuk kopi yang mengeruhkan. Kopi gayo yang tersaji lebih cenderung mirip biji robusta, less acidity and strong body, atau mungkin beannya hasil roasting dark roast atau juga air untuk menyeduhnya terlalu panas sehingga yang hadir lebih cenderung rasa bean hangus… ah sudahlah… sruput saja. Lagian khan bukan cafe spesialis black coffee juga.

Sruput lagiie… tandas.

Harga 21ribu bagi sajian ini, menjadi pantas karena bukan hanya kopi yang dihitung tapi suasana kafe yang perlu perawatan agar senantiasa bersih dan elegan.

Tadinya moo kepo nanyain romeo, khan ini cafe juliet… tapi ternyata asal kata namanya cafe ini nggak urusan sama romeo tetapi didasari dari nama Julianna, sang pemilik. Selamat menjalani malam ramadhan di Kota Depok guys, Wassalam (AKW).

AR7 coffee Cjr

Pasca berbuka dilanjut ngopay di AR7-coffeecorner Cianjur

Photo : Arabica Tangkuban parahu di AR7_coffeecorner / dokpri.

Berbuka puasa terasa bahagia
Meskipun dalam posisi berada di sebuah kota
Setelah batalin dengan setetes aqua
Dilanjutkan dengan makan bersama

Lalu beranjak mencari
Sesuai yang hakiki
Cairan hitam penuh arti
Namanya kopi yaa kopi

Ternyata gayung bersambut
Hanya selemparan batu kopi menyambut
Tanpa rame-rame dan ribut
Semuanya sudah pasti berurut

AR7_coffeecorner itu namanya
Menunya banyak tempatnya enak
Pilihan kopinyapun nikmat
Manual brew minum di tempat

Pilihannya tetep v60
Bikin rasa yang jadi pasti
Arabica Tangkuban perahu yang dinikmati
Diolah cermat oleh barista sejati

Photo : Suasana AR7_coffeecorner / dokpri.

Rasa yang hadir cukup menawan
Acidity medium dan body sepadan
Tidak ninggal dan ringan di organ
After taste berry bikin bertahan

Inilah kisah berbuka di negeri orang
Setelah hampir 3 hari nggak pulang
Demi jalani tugas yang datang
Komitmen sebagai kuli pejuang

Selamat menjalani kehidupan
Yang senantiasa bergerak penuh perbedaan
Jalani syukuri sembari bersimpuh
Nikmati adalah sikap yang ampuh.

Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Bojong, Karang tengah Cianjur.

Kopi berbulu.

Udah lama nggak bikin sajak, nulis aah.

DEPOK, akwnulis.com. Sajak dulu yaaa…..

***

Photo : coffee & cat / dokpri.

Pertemuan dengannya tidak disengaja
Tetapi itulah kejadian nyata
Semua terjadi apa adanya
Tanpa ada yang bisa menghalanginya

Plang merah sebagai penanda
Menarik raga untuk memasukinya
Ternyata aneka kopi menyambut dengan tangan terbuka
Bersiap dinikmati dengan berbagai cara

Terpilihlah kopi gayo arabica
Diseduh manual dengan filter setia
V60 memberi sensasi pasti
Aroma rasa dan keasaman nyaris sempurna

Disaat menunggu kedatangan kopi
Disitulah dirimu menanti
Lembutnya dirimu menggetarkan hati
Menyegarkan fikir setelah perjalanan tanpa henti

Sambil membaca aneka buku
Kamu tersenyum hilangkan kaku
Mencoba berbincang diantara kuku
Malam termangu menjadi haru

Para pembaca tidak usah mengharu biru
Ini hanya pertemuan terbaru
Sejumput raga diriku
Dengan seekor kucing berbulu

***

Wilujeng ngopay… eh jangan sekarang mah, ntar batal. Wassalam (AKW).