Cerita Ramadhan – Ngendok*)

Ini ceritaku disaat ramadhan tiba, cerianya masa kecil dalam lingkungan keluarga kecil bahagia. penasaran?… monggo nikmati ceritanyaa.

Sore itu aku udah bergerak belajar melangkah dan merangkak mondar mandir kesana kemari, mulai dari dapur tempat ibuku masak untuk sajian berbuka puasa hingga ruang tamu.. eh sebelumnya ruang tengah juga diubek. Abis aku senengnya bergerak kesana kemari, gatal kaki dan tangan ini kalau hanya berdiam diri.

Setelah tadi ba’da dhuhur nenen trus disuapin sama ibunda, abis 2 buah pisang ambon trus barusan susu pake dot, kuenyaaang. Tapi nggak ngantuk, bawaan pengen beredar terus.. gerak… geraak.

Ayah dan ibunda begitu sabar menjaga, menemani dan mengejar diriku yang beredar kesana kemari. Sering terdengar ayah dan ibunda berucap, “Astagfirullohal adzim…” begitu nyaman terdengar di telinga mungilku,……. ternyata itu ucapan doa.

Aku jarang tidur siang, entah kenapa. Tapi alangkah ruginya waktu yang ada dipake tidur. Mending buat bergerak kesana kemari melatih otot dan sendi serta aku bisa tahu semua wilayah di dalam rumah termasuk di kolong tempat tidur dan dibawah meja makan keluarga. Bisa juga di dalam lemari baju ayah ibuku. Semua tempat miliki sensasi dan karakteristik tersendiri.

“Ayah…”
“ibb..buu”
Suara mungilku memberikan rona bahagia dan mata berbinar dari kedua orangtuaku. Ibundaku suka langsung menunduk sambil mulutnya bergumam.. akupun ikutan, dan mereka tertawa bahagia bersama.

***

Hari ini beberapa kosakata baru hinggap di otakku dan langsung menempel, yang pertama ‘pipis’ dan kedua ‘Endok‘ atau endog… bahasa sundanya untuk telur. Itu istilah jikalau aku udah pengen pipis dan ee. Sehingga ayah dan ibunda bersiap dengan popok yang baru dan kering, maklum belum jaman pampers jadi kebayang repotnya klo pipis sembarangan dan nembus popok.

Alhamdulillah aku mah gampang hafal meskipun terkadang lupa bilang pas kejadian… tapi jangan lupa ada rumus pamungkas… apa itu?.. tinggal nangis aja sekencang-kencangnya… beress.. bantuan akan dataaaang.

***

Menjelang berbuka puasa, ayah ibu sibuk bekerjasama menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka. Akupun ikutan nimbrung, sok sibuk, pegang itu pegang ini, seru kawaaan. Ibunda beberapa kali mengambil gelas kaca dari tanganku juga piring beling yang dibawa berlari olehku, kenapa sewot ya?… padahal aku hati-hati lho bawanya.

Tiba-tiba…. terasa perut melilit… oh pengen ee. Inget kata-kata yang dilatih ibunda. Tapi ibunda sedang sibuk di dapur, ada ayah ding..

“Endok.. endok!!” Aku teriak sambil narik-narik sarung ayah. Ayah tersenyum, berjongkok dan bertanya, “Ada apa anak cakep ayah?”

“Endok… endook” Aku setengah berteriak, terlihat wajah sumringah ayahku mendengar kosakata baru.

“Anak pintar ayah, sini klo mau endok” badanku diangkat, senangnya. Tapi…. kok aku didudukin di meja makan?… ah nggak banyak tanya, aku harus tuntaskan tugas dari perut ini dimanapun berada… Procooot.

***

‘Duk… duk.duuuk!!…
“Allahu Akbar.. Allahuakbar…”
Adzan magrib berkumandang bertepatan dengan tuntasnya aku menyelesaikan tugas…. di meja makan.

“Astagfirullohhhal adzimmm…. Ayaaah…!!!!” teriak ibunda yang berada didekatku.

Ayah datang tergopoh-gopoh… dan terdiam. Melihat seonggok ‘endog‘ karyaku disamping rendang telur hasil olahan ibunda.
Mereka berpandang-pandangan dan tersenyum simpul.

Dengan cekatan ayah mengangkat tubuh aku dan membawa ke kamar mandi untuk cebok, ibunda yang membereskan ‘endok’ku.

Terdengar suara pelan ayah ke ibunda, “Maafkan ayah, tadi dikirain pengen endok/telur yang ibu masak.. eh ternyata pengen ‘ngendok‘.” Ibunda senyum lalu terkekeh.

Aku tersenyum karena pantat sudah bersih dan perut longsong… plus udah bisa menghafal kosakata baru. Makasih, met berbuka puasa ya semuahnyaaah.

Jangan lupa yang masak aneka telur… dihabiskan yaa… Wassalam (AKW).

***

Catatan :

*)Ngendok = istilah dalam bahasa sunda yang artinya BAB/ee/buang air besar... atau bahasa sunda lainnya disebut juga ‘modol’.

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

4 thoughts on “Cerita Ramadhan – Ngendok*)”

  1. Anak kurang ajar,…..ari ayeuna kurang ajar keneh teu nya? Kasih sayang ayah bunda tdk ada batasna, di endogan oge, seuri weh….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s