Samagaha Blu-mun

Mapay samagaha bari teu hilap kana purwadaksina.

Fikmin310118

Ki, hayu geura balik” Nini Iroh nyalukan salakina nu keur anteng tanggah nempoan langit.
“Sakeudeung mamih, Papih keur kakagokna yeuh, nungguan blu-mun” Saur si Aki bari panon mah teu ngarérét saeutik ogé ka jikanna.

Karasa hanjakal nyaliara, sabada dibere hape android pas ultah ka 83, Si Aki jadi anteng nyoo hapé. Incu kapopohokeun, si Nini dianggap euweuh.
Kabeuki mukaan WA, kaasup carita ‘blue moon’ dina WAgrup nu matak si Aki lain solat samagaha di masjid tapi muru ka pasir ngadon tatanggahan.

Nini teu éléh géléng, ngagedig balik. Ganti kutang nu maké busa, matak nyeungseung kana pinareup. Tuluy daster bulao kameumeut jeung jékét kulit. Gidig ka tonggoh neéang si Aki.

Nepi ka pasir, leungeunna si Aki dirawél bari tuluy diantelkeun kana dada si Nini, “Hayu uih ganteng.” Si Aki sura seuri bari nuturkeun jikan. Gerentes haté si Aki, “Ieu leuwih éduun, Blue mun-u-u” bari leungeun embung leupas ti si Nini. (Akw).

Taki-taki

Élmu luhung pangalaman réa, tapi dina mayunan parebut tahta, teu cekap ku siloka.

FikminSunda-270118

Angin peuting ngageuing rungsing, handaruan alah batan rébuan éngang. Nyuruwuk geterkeun haté ngoyagkeun angen, meulit kana rumasa ngaheumbat mamarasna.
Mapay sagara siloka, malih rupa. Ngagentraan ka balaréa pikeun tumut kana maksud taat kana pangajakna.

Photo : Diajar perang di Lembur Sade, NTB/potlang.

Mercayakeun amanat sora dina waktuna marebutkeun tahta. Sabab geuning ayeuna mah, sora Gusti téh nyaéta sing saha waé nu meunang sora pangréana.

Ki Ara nyerangkeun nu tihothat bari diuk dina béntang. Angin peuting ngadeukeutan. Ngaléndotan bari ngelél, cenah hayang disebut pikalucueun.

Leungeun Ki Ara ngusapan bari taki-taki, bisi ngajongkélat jadi angin puyuh nu teu bisa dibawa gunem catur da rumasa téréh boga kawasa.

Janari beuki simpé, angin peuting ngaléos dituturkeun wadya baladna. kukumpul tanaga keur tanding dina mangsa bulan purnama. Tilu warsih ti ayeuna pikeun marebutkeun tanah pajajaran. Ki Ara teu loba nyarita, ngaléngkah bari ngarénghap panjang. Teu lila tuluy nyarandé, capé.(AKW).

mBarista demi Anak Tercinta

“Ayah bikin kopiii” sebuah mantera yang mengubah malam temaram menjadi kesenangan, hilangkan kantuk hadirkan kedamaian.

Disaat malam hampir menyentuh batas dini hari, raga masih termangu menemani si kecil yang masih full energi loncat-loncat dan ketawa-ketiwi. Anak semata wayang yang sering begadang sambil menunggu ayahnya pulang. Jam 22.00 wib baru tiba di rumah setelah rapat dinas di Jakarta, segera mandi dan berharap bisa rebahan sejenak meluruskan badan dan terlelap dalam kedamaian.

Tetapi melihat tingkah polah anak yang masih lincah dan ceria maka kembali terlarut dalam rasa syukur kehidupan untuk menjaga titipan Allah, menemani bermain hingga hampir tengah malam. Dan celoteh yang bikin dahi berkerut sambil senyum dikulum adalah, “Ayah bikin kopiii laah.”

Ibundanya yang sejak sore hingga malam ini mengawal, menemani dan menyusuipun agak menyerah karena sang anak memaksa untuk terus keluar dari kamar dan bermain bersama ayah. Tangan mungilnya menarik jemari ini sambil beringsut mengajak keluar kamar. Sekali lagi request spesialnya terdengar, “Ayah bikin kupiii.”

Jangan sayang, udah malam” suara selembut mungkin ternyata disambut dengan tangisan dan rengekan yang ‘keukeuh‘ untuk bikin kopi. Disini terasa ilmu negosiasi tumpul, sudah dicoba digunakan strategi sabar dan mengulur waktu, ternyata malah semakin membuat sang anak gusar dan cenderung mengamuk dengan suara tangis yang semakin keras mengguncang.

Masa kalah sama anak kecil” bicara dalam hati. Tapi, “Kasian juga nangis terus” suara hati selanjutnya. Ahh…. perbincangan dalam pikiran ini menjadi warna kehidupan, melatih kesabaran dan tentunya memberi pelajaran bahwa disinilah seni kehidupan berkelindan.

Akhirnya mengalah untuk berharap (nanti) menang. Sambil tangan kiri menggendong si kecil, tangan kanan mengumpulkan stock coffee yang ada. Sebotol cold brew Aceh Gayo-nya 258.. diambil dari kulkas, coffee luwak Soekirya hadiah seorang kawan, Mandailing coffee hasil hunting di Bandara LIA serta Toraja Kalosi Excelso. Semua tersaji di meja, dan bocah cilik dengan wajah berbinar memegang semua pilihan bak barista tenar, sambil senyum-senyum penuh kemenangan.

“Ini ayah, bikin kopii!” Tangan mungilnya megang Toraja Kalosi, satu-satunya yang berbentuk bean karena yang lain sudah digiling dan juga yang dibotol siap minum. “Oke cantik, ayah buat dulu yaa” Sebuah jawaban kompromi memecah sunyi sepi, disambut wajah berbinar sang anak kesayangan. “Giling ayaah… giling” rengekan berbentuk perintah menggerakkan tangan menyiapkan grinder, nyolokin kabel ke steker dan membuka bungkus kopinya.

Nggak pake lagi takaran, dengan rumus kira2 segera grinder bekerja di ukuran 2 saja karena berharap dapet ‘body‘ meski nggak mengesampingkan accidity, klo urusan aroma ya jangan ditanya… pasti mempesona……

Terrrrrr‘, harum khas kopi memenuhi ruang hati, menebar sensasi rasa di malam sepi menjadi penuh warna. “Wangiiii!!!”, Teriak mulut mungilnya menghilangkan penat dan ngantuk padahal tengah malam baru saja lewat.

Si Kecil cantik melonjak-lonjak girang, tangannya menyoel bubuk kopi yang sudah jadi.. langsung dimasukan ke mulutnya, “Mantapp.”

Jadi terkekeh melihat tingkahnya, indahnya titipan Allah SWT. Tangan kiri pegalpun hampir terlupa, karena larut dalam prosesi sakral memproses si hitam harum ini.

Cerita belum berakhir, karena proses brewing alias penyeduhan adalah tahap selanjutnya. Segera menyiapkan senjata perangnya : Hario V60, bejana, ketel, termometer dan tidak lupa filter paper plus ya….. air panasnya donk.

Owwww……. Tengah malam yang sibuk.

Jeng.. jreeeeng.

Akhirnya ng-brewing Toraja Kalosi pake V60 dengan tangan kanan, air dari dispenser lumayan 72 derajat celcius, dan tangan kiri tetep jagaain anak syantiik yang nempel terus nggak mau turun sambil senyum-senyum liat mBak-rista dadakan ini berkeringat di tengah malam.

Tetesan kopi menyentuh bejana jadi tontonan bersama hingga akhirnya tuntas menyajikan cairan hitam yang melenakan penuh keharuman. Ampas kopi yang tertinggal di V60 ternyata jadi mainan, ditoel pake tangan mungilnya trus dimakan, “Yummy ayah!” Terdengar seperti sebuah mantra yang melengkapi keajaiban menjalani hidup ini. Lelah, kantuk dan gundah pupus dan musnah, terganti senyum bahagia dalam tasyakur binnikmah.

***

Secangkir kecil kopi hitam seduhan malam ini dinikmati perlahan dan sedikit mampir di mulut anak kecil kesayangan. Senyum bahagia dan rona cerianya menuntaskan cerita dini hari tadi. Meskipun 30 menit kemudian harus bermain dengan boneka gajah dan beruang, akhirnya bisa terlelap di kamar nenek karena sudah lelah dan puas ‘ngerjain‘ ayah.

Met ngopi guys… slruup.. yummy. (AKW).

21 Pengertian Jalan

Terdapat 17 + 4 Pengertian tentang Jalan yang mungkin bisa nambah wawasan dan mewarnai perjalanan hidup kita semua.

Jalan itu definisinya adalah Prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu lintas yang berada pada permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan / atau air, serta diatas permukaan air kecuali jalan kereta api, jalan lori dan jalan kabel. Ps1.4.

1. Jalan Umum : Jalan yang diperuntukan untuk lalu lintas umum

2. Jalan Khusus : Jalan yang dibangun oleh instansi, Badan Usaha, Perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri.

3. Jalan Sistem Jaringan Primer : Sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang & jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan.

4. Jalan Sistem Jaringan Sekunder :
Sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang & jasa untuk masyarakat didalam wilayah perkotaan.

5. Jalan Arteri : Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.

6. Jalan Kolektor : Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang,
Kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi.

7. Jalan Lokal : Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

8. Jalan Lingkungan : Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat dan rata-rata kecepatan rendah.

9. Jalan Nasional : Jalan Arteri dan Jalan Kolektor dalam Sistem Jaringan Jalan Primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi, dan jalan strategis nasional serta jalan tol.

10. Jalan Provinsi : Jalan Kolektor dalam Sistem Jaringan Jalan Primer yang menghubungkan ibukota provinsi denfan ibukota kabupaten/kota, atau antar ibukota kabupaten/kota dan jalan strategis provinsi.

Photo : Akses masuk pintu Tol Soroja/Dokpri.

11. Jalan Kabupaten : Jalan lokal dalam Sistem Jaringan Jalan Primer yang tidak termasuk Jalan Nasional & jalan provinsi yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, ibu kota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal serta jalan umum dalam jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.

12. Jalan Kota : Jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antar pusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antar persil, serta menghubungkan antar pusat pemukiman yang berada di dalam kota.

13. Jalan Desa : Jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antar pemukiman di dalam desa serta jalan lingkungan.

14. Jalan Bebas Hambatan (freeway) adalah Jalan umum untuk lalu lintas menerus dengan pengendalian jalan masuk secara penuh dan tanpa adanya persimpangan sebidang serta dilengkapi dengan pagar ruang milik jalan, paling sedikit 2 lajur setiap arah, dan dilengkapi dengan median.

15. Jalan Raya (Highway) adalah jalan umum untuk lalu lintas menerus dengan pengendalian jalan masuk secara terbatas dan dilengkapi dengan median paling sedikit 2 lajur setiap arah.

16. Jalan Sedang (Road) adalah Jalan umum dengan lalu lintas jarak sedang dengan pengendalian jalan masuk tidak dibatasi, paling sedikit 2 lajur untuk 2 arah dengan lebar paling sedikit 7 meter.

17. Jalan Kecil (street) adalah Jalan umum dengan lalu lintas setempat, paling sedikit 2 lajur untuk 2 arah dengan lebar paling sedikit 5,5 meter.

Catatan : 17 pengertian jalan ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2008.

Dalam UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan terdapat juga pengertian tentang jalan yaitu pengelompokan kelas jalan berdasarkan fungsi dan intensitas lalu lintas guna kepentingan pengaturan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan adalah :

1. Jalan Kelas I yaitu Jalan Arteri dan Kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 mm, ukuran paling tinggi 4.200 mm dan muatan sumbu terberat 10 Ton.

2. Jalan Kelas II yaitu Jalan Arteri, Kolektor, Lokal dan Lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 12.000 mm, ukuran paling tinggi 4.200 mm dan muatan sumbu terberat 8 Ton.

3. Jalan Kelas III yaitu Jalan Arteri, Kolektor, Lokal & Lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100 mm, ukuran panjang tidak melebihi 9.000 mm, ukuran paling tinggi 3.500 mm dan muatan sumbu terberat 8 Ton.

4. Jalan Khusus yaitu Jalan Arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar melebihi 2.500 mm, ukuran panjang melebihi 18.000 mm, ukuran paling tinggi 4.200 mm dan muatan sumbu terberat lebih dari 10 Ton.

Total jadi 21 buah Pengertian Jalan. Jalan yuuk. (AKW).

Delay & Teh Tawar Dingin.

Delay itu sesuatu bro!!, bikin nyesek sama sedih.

“Berhubung alasan operasional, Pesawat Lion Air dengan Nomor penerbangan JT 953 jurusan Bandung, akan diberangkatkan pukul 19.50 waktu setempat. Atas keterlambatan ini kami mohon maaf.”

Suara merdu sang petugas terasa mengeruhkan hati, memaksa menekukkan wajah menambah keluh dan desah nafas tertahan dari para penumpang yang berharap cemas dari tadi.

“Euh delay euy” gerutu bapak tambun yang duduk membelakangi dengan logat sundanya. Terasa menjadi suara aspirasi yang sama tetapi sudah dikumandangkan orang lain lebih dulu. “Ternyata nggak sendirian yang bete karena pengumuman delay ini.”

Pengumuman delay terus beruntun. Diawali dari maskapai Lion Air, Air Asia, Wings Air hingga Citilink serta Garuda Airways… “Wah gaswat nich, jangan-jangan cuaca yang nggak ngedukung”

Rasa penasaran menggerakkan langkah menuju sisi bandara yang bisa melihat lebih dekat ke landasan pacu. Ternyata hujan sangat lebat, mungkin ini yang jadi penyebabnya. Dengan langkah gontai, kembali ke kursi yang setia menemani di ruang tunggu. Kursi yang tak bergeming meski hilir mudik manusia berpindah tempat, ia tetap mematri diri dengn lantai marmer di ruang tunggu Bandara Lombok International Airport (LIA).

Delay menjadi momok (arti dalam bahasa jawa yaa…) bagi para penumpang pesawat udara. Karena berarti waktu yang terbuang dan kesempatan yang sudah digadang-gadang bisa berubah seketika. Menjadi rentetan delay atau keterlambatan lainnya. Klo buat penumpang direct flight ya tinggal sabar menanti untuk diberangkatkan, tapi buat penumpang transit dan melanjutkan dengan penerbangan lain bukan penerbangan lanjutan bisa berabe, bisa ditinggal take off oleh pesawat lanjutannya.

Ah udah ah dari pada termangu malah melamun dan kerap menggerutu atau mencerca maskapai penerbangan, lebih baik waktu yang tersisa digunakan untuk hal-hal yang berguna. Segera menuju mushola, berwudhu lalu jama qashar magrib-isya sebagai bagian dari kewajiban sekaligus berserah diri atas semua keadaan ini.

Nah pas beres sholat, kok kepengen minuman dingin, tapi tanpa gula dan turunannya.

“Tapi air mineral dingin udah bosen, minum apa ya?”…

Bergerak menuju lemari pendingin di salah satu toko di ruang tunggu bandara ini. Berbagai merk minuman teh bergula menyambut dengan suka cita. Berjajar Freastea, Frutty, Teh Sosro, Teh melati, Green tea hingga Thai tea… uh yummy.

Tak kehabisan akal, segera tanya ke pelayan, “Mbak ada Teh dingin tanpa gula?”

“Ada pak, ini ada 2 dari Teh sosro. Ada yang less sugar dan rasa yang tawar”

Hati agak sanksi dengan yang less sugar, yakin ada gulanya meskipun seemprit. Nah yang ‘Teh Tawar’ ini baru denger. Iya beneran ada. Tapi sebelum dibayar ada tulisan ‘Tawar‘, ya udah ditawarlah harganya.

Eh si mbaknya nya marah. Cemberut. Akyu yang bingung, karena khan sesuai dengan tulisan di botolnya untuk di-tawar dulu.

Nggak percaya?… nich gambarnya.

Tapi dari pada nggak jadi minum teh tawar yang sudah diidamkan sejak tadi, perseteruan tawar menawar tak dilanjutkan. Segera membayar sesuai dengan harga yang disebutkan.

Apalagi terdengar suara sendu eneng petugas, “Perhatian-perhatian, para penumpang pesawat udara JT 953 jurusan Bandung, dipersilahkan memasuki pesawat udara melalui pintu 2!!!”

“Alhamdulillahirobbil alamin”

Segera berlari menuju petugas yang berjaga di pintu terakhir sebelum menuju pesawat. Perlihatkan katepe dan tiket sambil mulut notor teh tawar dingin ini… enakkk. Wassalam.

Bismillahi Mazreeha Walmursaha Innarrobbi Laa Gofurrurrohim. (Akw).

JALAN Versi AKW

Jalan-jalan harus sambil paham tentang pengertian jalan. Mau tau?… yuk atuh kita baca.

Pagi mas bro. Sekarang moo nulis tentang sesuatu yang udah lumrah kita tahu tapi giliran ditanya apa pengertiannya?

Pasti jawabannya, “Ya.. itu.. ya ono”

Coba dech, “Apa pengertian JALAN?”

Diem khan…. 🙂

Klo ngobrolin jalan, pasti semua orang sudah tau. Lha wong tiap hari musti nginjek jalan klo mau aktivitas. Minimal nggak nginjek beneran, ya ngelewatin diatas kendaraan. Moo milik sendiri, pinjeman, masih cicilan atapun angkol alias angkutan online. Dari mulai jalan gang, jalan perumahan, jalan gede yang agak besaran dikit. Itu tuh yang klo 2 mobil papasan musti ati-ati, klo nggak spion bisa ilang atawa rusak. Agak jauh lagi jalan gede yang pake pembatas di tengahnya hingga jalan tol.

Yang bikin ngegelitik tuh, klo ngikutin definisi aturan, apa pengertiannya jalan?… ubek ubek ubek, tanya sono-sini plus donlot via gugel. Dapet tuh Undang2nya, UU 38 Taun 2004 tentang Jalan. Kelar rasa penasaran, buka-buka halaman.. widihh tebel bingit. Lha gimana bacanya?… waktunya kapan?.. pertentangan bathin dimulai.

Tapi semangat tinggi musti dijaga, lawan kemalasan. ‘Iqro’ … kata Alqur’an juga, Bacalah!!!

Jadi, Jalan itu definisinya adalah Prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu lintas yang berada pada permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan / atau air, serta diatas permukaan air kecuali jalan kereta api, jalan lori dan jalan kabel. Ps1.4.

Wow ternyata jalan tuh bukan hanya yang diatas tanah bro, dibawah air juga masih disebut jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya. Diitung-itung secara garis besar ada 17 istilah yang musti dipahami… woyy pusing pale niich.

Tapi tuh dia lagi2, kembali terusik dan tertantang buat coba baca, coba hafalin (yakin sulit bingit) hingga muncul inspirasi dari pengalaman terindah masa SMU ngapalin rumus kimia, khan itu pake singkatan tuh… siapa tau cocok buat ngapalin tentang pembagian jalan.

Secara garis besar, dari sisi peruntukannya, jalan terbagi jadi 2 yaitu jalan umum dan jalan khusus.

Jalan Umum adalah Jalan yang diperuntukan untuk lalu lintas umum. Sementara Jalan khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, Badan Usaha, Perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri. Tuh udah 2 jenis tentang jalan. Nah jalan khusus nggak dibagi lagi, tapi jalan umum terbagi 4 lagi yang disingkat dengan SIFUSTAKEL (itu singkatan versiku yaa… jangan pada protes).

SIFUSTAKEL yang artinya SIstem, FUngsi, STAtus dan KELas.

Jadi jalan umum itu yang pertama adalah Sistem Jaringan jalan berarti saling berhubungan menjadi kesatuan dari berbagai jenis jalan. Sistem Jaringan jalan ini terbagi menjadi 2 sistem yaitu PRISEK (bukan bhs inggris yaaa….) atau Sistem Jaringan Jalan PRImer dan Sistem Jaringan Jalan SEKunder.

Kedua, Jalan umum itu berdasarkan fungsinya terbagi menjadi 4 bagian yaitu Jalan Arteri, Jalan Kolektor, Jalan Lokal dan Jalan Lingkungan atau supaya nggak mudah lupa ya kita singkat aja menjadi kata baru yaitu ARKOLOLI (ARteri KOlektor LOkal dan LIngkungan).

Ketiga, Jalan umum berdasarkan status dibagi menjadi 5 status. Nah yang ini hati2 karena tidak ada jalan yang statusnya Jomblo, LDR ataupun HTS (Hubungan tanpa status). Yang jelas kelima status jalan ini lebih didasari batas kewilayahan yaitu Jalan nasional, Jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota dan jalan desa atau klo disingkat adalah NASPROKAKODES.

Keempat, Jalan Umum ini terbagi atas kelas. Lagi-lagi ini bukan urutan kelas 1, 2 dan seterusnya tetapi terbagi 4 menjadi : Jalan Bebas hambatan, jalan raya, jalan sedang dan jalan kecil. Mau disingkat lagi supaya mudah ngapalin?…
Singkatannya adalah BEHARASEDKEC. Pembagian kelas jalan ini berdasarkan spesifiKasi penyediaan prasarana jalan untuk pengaturan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas. Diatur dengan UU 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas & Angkutan Jalan Raya.

Kesimpulannya tentang jalan ini coba apalin dulu aja dech :

SIFUSTAKEL Dibagi 4 yaitu :

PRISEK 2
ARKOLOLI 4
NASPROKAKODES 5
BEHARAYSEDKEC 4

Jadi jalan terbagi 2 yaitu jalan umum dan jalan khusus, trus jalan umum itu ada 15 Kriteria bro… jadi totalnya ada 17 khaan…

Semoga tulisan ini bikin penasaran, so capcus donlot UU 38/2004 & UU 22/2009… Baca tuntas bro… ada semua pengertian lengkap.6

Atau… Klik ini aja :

21 PENGERTIAN JALAN.

Wassalam (AKW).

Catatan : Singkatan-singkatan yang dibuat itu murni niatan agar mempermudah menghapal dan selanjutnya memahami.

Nyingkahkeun Bangbaluh

Ulah pasrah sumerah tapi dilawan sakuat tanaga, insyaalloh pinanggih bagja

#FiksiminiBasaSunda

Leumpang ngagandeuang bari héhéotan. Haté bungangang sabab geus kacumponan kahayang. Dunya béngras titingalian cékas. Karasa bangbaluh écag tina taktak, leungit sanggeus bieu kabawa palid ku cai leuwi nu ngagulidag.

Lagu Piapalén karék 2 kali di héotkeun, ujug karasa deui bangbaluh hirup ngorowotan awak. Teu puguh datang ti beulah mana, langsung ningker raga ngabeulit rasa. Sirah jeung suku dibetot, atuh tikusruk di galengan. Teterejelan. Beungeut lamokot ku leutak.

Karasa deui aya nu meulit kana ati, meureut beuteung. Adug lajer teu cukup ku pasrah sumerah, tapi kudu di lawan sakuat tanaga. Bari titingkuheun maksakeun hudang, apay-apayan turun deui ka sisi leuwi bari mapatkeun jampé pamaké.

Nepi ka sisi walungan, néangan batu lampar paranti semedi. Suku ngajégang panon bolotot bari ngagorowok, “Nyingkah siaaah!!!”

Bummmmm!!!!

Tarik naker sora bangbaluh nu teu rido dilepaskeun tina raga manusa. Ngangkleung ngaléngléong, ninggalkeun uing nu teu walakaya. Nyangsaya dina batu sisi sungapan. Bagja. (Akw).