NEBENG

Urban legend di Cadas Pangeran, sebuah cerita 5 tahun lalu.

“Ikut yach!” sebuah kalimat sendu menggema di rongga telinga menyentuh degup rasa di sisa sepertiga malam menuju dini hari. Tidak menjadi pikiran dan dianggap angin lalu, mungkin hanya desau angin yang menjadi halusinasi, atau memang ceracau otak yang sudah lelah menemani raga yang terus beredar menapaki dunia.

Kedua tangan memegang stang kendali motor matic kesayangan. Sementara pelindung kepala adalah helm jadul bertemakan gaya pilot tempur lengkap dengan stiker Persib, menang kalah jiwa ragaku. Menembus gerimis hujan yang tetesannya berlomba masuk ke dalam helm. Mencoba menyapa rasa dan bercengkerama di atas kulit kepala di daerah Cadas Pangeran, sebuah perjalanan malam ke sekian kali dari Bandung ke Sumedang.

Tidak berapa lama, tercium harum melati yang melenakan. Meski semakin dicium terasa wanginya itu ditambah bau lain, wangi kesedihan dan nestapa. Motor terasa berat padahal gas sudah poll di batas maksimal. Wewangian dan bau terasa semakin menusuk, sesakkan dada dan membuat jantung berdebar lebih kencang tanpa kendali. Kulit punggung terasa dingin sedingin es balok yang terikat erat di belakang badan. Seolah menemani kebekuan hati yang kembali menjadi-jadi akibat penolakan gadis kota, sore tadi.

Jalan berkelok terasa sepi, kabut tipis menemani tanpa basa-basi. Menambah suasana penuh kengerian dan sensasi. “Apa yang sedang terjadi?” Suara hati kecil menggema.

Tangan kanan memutarkan stang gas sampai maksimal, berharap motor matic ini segera berlari kencang melewati Cadas Pangeran. Tetapi yang terjadi adalah motor matic ini bergerak perlahan seolah ada beban berat yang menghambat juga halangan tak kasat mata. Pikiran waras masih membekas, dan terbayang bahwa oli rem maticnya mungkin sudah habis. Sehingga transmisinya terganggu. Sang malam terus menemani dengan setia.

Mesin motor menderu maksimal, tetapi bergerak tetap lambat, terseok-seok bagaikan ayam keok. Harum melati berganti menjadi bau bangkai, dingin dan sepi semakin terasa mencengkeram. Tidak ada pilihan lain yakni berdoa kepada Allah sambil berusaha mengendalikan motor matic ini agar tetap bergerak di jalur jalan, menjauh dari jurang yang begitu menanti kedatangan. Gerimis terus turun menambah suasana semakin penuh tekanan.

Istigfar dan aneka doa terus dilafalkan hingga setengah berteriak. Motor bergerak meski perlahan.

Tepat melewati batas tugu melewati daerah Cadas Pangeran, motor melonjak terasa ringan. Bergerak lincah kembali seperti biasanya. Beban dipundak hilang sekejap, bau bangkaipun lenyap terganti harum tanah disaput tetesan hujan. Dingin menusuk berganti hangatnya banjir keringat. Tak banyak tanya, langsung tancap gas menuju Kota Sumedang.

Tak berapa lama, terdengar bisikan serak tanpa wujud, “Terima kasih Nak.” Tangan reflek untuk tancap gas semakin cepat sambil berteriak, “Allahu Akbar!!!!.”
Bulan sabit dini hari tersenyum melihat tingkah polahku. Sesosok bayangan hitam perlahan menghilang di ujung Cadas Pangeran.

*)Catatan : Cerita Urban Legend yang ditulis 5 tahun lalu dalam versi fiksimini bahasa sunda. Ditulis ulang dan menggunakan bahasa indonesia agar bisa dinikmati oleh para pembaca. Tidak lupa versi aslinya di tampilkan dengan beberapa perbaikan. Selamat menikmati.

Versi Asli, 24 Desember 2012

***NU NEBENG***

“Ngiring” Soanten leuleuy ngagupay cepil dina simpéna wengi ngudag janari. Teu janten émutan paling ogé kukupingan, maklum awor sareng angin anu silih surung lebet kana sela-sela hélm butut. Ngaréncangan kuring uih ti Bandung ngabujeng ka Sumedang numpak motor métik si kukut.

Mung teu lami ti dinya asa kaambeu seungit malati nu ngalewangkeun ati, asa jauh panineungan. Teras motor karaos abot padahal mung nyalira da dipengker mah kuéh pamasihan pimitohaeun. Teras tonggong karaos nyecep tiis nembus na tulang, sumawonna jalan ogé mingkin simpé maturan kuring nu tunggara.

Ah di gas wé satarikna supados énggal dugi, tapi kalahka gegerungan lalaunan bangun nu ripuh. Boa boa oli metikna séép janten ngaganggu kana transmisi. Nya si kukut maju wé samampuhna. Pas leupas ti péngkolan pamungkas Cadas Pangéran, kaambeu téh janten bau bangké. Langsung istigfar bari si kukut digas satakerna, motor hampang deui sakumaha ilaharna.

“Nuhun” Soanten anteb dina cepil katuhu.(Akw).

WASTAFEL *)

Mendengarkan peringatan itu penting, tetapi mampu meredam kesombongan pribadi itu jauh lebih penting.

(Photo : Ilustrasi Wastafel / Mr HP by request)

“Jangan menyikat gigi atau cuci muka pas jam dua belas malam di wastafel itu ya!” Suara bapak kost sambil menunjuk wastafel di ujung lorong. Sebuah informasi disaat kami baru memulai mencoba menjadi anak kost di wilayah Jatinangor. Kami hanya tersenyum dan menganggukan kepala tanpa komentar, tak acuh. Terus berlalu memasuki kamar masing-masing.

Ada 5 kamar yang baru terisi dari 12 kamar yang ada. Kamar depan yang terluas, disitu bapak kost tinggal seorang diri. Kost-an ini memang agak terkesan seram karena itu adalah bangunan tua, tetapi dengan harga nego dan bersahabat maka kost ini menjadi ideal bagi kami yang butuh pengiritan biaya.

Satu bulan berlalu, kami berlima menjadi akrab meski beda fakultas. Mencoba menjadi mahasiswa yang baik, belajar dan belajar demi meraih nilai baik untuk dipersembahkan ke orangtua yang berjibaku di kampung sana demi membiayai anak-anaknya meraih cita. Kost rumah putih ini telah menjadi rumah bersama kami, rumah kedua tempat kami belajar bersama di ruang tengah. Nonton tv dan maen PS. Ataupun bersih-bersih bersama di hari libur. Wastafel di lorong tetap berfungsi tanpa perlu ditakuti.

Bulan ketiga ada tambahan warga di kost-an, namanya Jefri. “Nurdin” Tanganku terulur dan langsung disambut dengan genggaman erat, “Jefri si Anak Rantau.” Anaknya agak cuek tapi menyenangkan. Yang bikin kami khawatir adalah disaat peringatan tentang wastafel disampaikan, Jefri tertawa. “Ah kalian penakut semua. Nanti malam kita coba. Siapa yang berani macam-macam dengan Jefri Si Anak Rantau!!!” Kami terdiam, bapak kost hanya memandang dengan diam.

(Photo : Ilustrasi Wastafel / Mr HP by request)

Sore beranjak malam suasana rumah menjadi tegang. Ruang tengah tidak ramai karena kita berkumpul sambil belajar, tetapi lebih banyak diam dan berdoa tidak ada kejadian apa-apa. Jefri berjalan sambil bersiul, duduk di ruang tengah, “Tenang saja kawan, tak usah khawatirkan aku.”

Mendekati jam 12 malam, terasa semakin mencekam. Gerimis diluar dan suara desau angin menambah dramatis keadaan. Terdengar siulan ringan dan langkah kaki Jefri menuju wastafel di lorong. Kami di kamar masing-masing mendengarkan penuh ketegangan. Termasuk bapak kost yang juga khawatir dengan kenekatan ini, beliau standbye di kamarnya, kamar paling depan.

Pukul 00.00 wib pun tiba, suasana sepi dan sunyi betul-betul mengunci hati membekukan pikiran. Gerimis dan desau angin menghilang dalam gelapnya malam. Tidak ada suara teriak ketakutan dari Jefri karena ada sesuatu atau suara lainnya. Akupun merasa tenang juga (mungkin) perasaan bapak kost dan kawan kost lainnya.

Tapi…. hingga 20 menit berlalu, suasana sepi sunyi terus berlanjut. Kami penasaran, tak berapa lama terdengar suara pintu kamar depan membuka, langkah kaki menuju wastafel di lorong. Aku mengintip dari jendela ternyata bapak kost. Akupun membuka pintu kamar dan bergabung bersamanya. Juga anak kost lainnya.

“Astagfirullohal Adzim”, Bapak Kost bergumam, kami semua terdiam melihat apa yang ada di hadapan. Jefri meringkuk sambil menggigil, mulut terbuka mata melotot penuh ketakutan tanpa bisa berucap sepatah katapun. Wajahnya pucat badan membiru. Peralatan sikat gigi dan gayung tersimpan rapi di wastafel. Kamipun menggotongnya bersama-sama tubuh Jefri yang kaku seolah membeku menuju ruang tengah untuk diberikan pertolongan pertama.

Melirik ke bapak kost, terlihat wajah sedih dan sendu tapi penuh tanda tanya. Disaat kami bergerak menjauh dari wastafel, sesuatu dalam kaca wastafel tersenyum puas dan tertawa tanpa kata. Bergerak dan menghilang. (Akw).

*)Catatan : Tulisan fiksi ini 5 tahun lalu, terinspirasi dari true story jaman kuliah. Tulisan singkat ini tertuang dalam Facebook di grup Fiksimini sunda. Ditulis tentu dengan bahasa sunda, tetapi sekarang dicoba dibuat versi bahasa indonesia agar lebih mudah membaca dan menikmatinya. Berikut tersaji versi awal dengan judul yang sama.

***

WASTAFEL ***

“Kadé ulah nyikat huntu atawa sibeungeut dina wastafel pas jam duawelas peuting” Papagah Wa Udan basa mimiti asup ka imah kos di totogan Sukawening. Imah kos wangunan baheula karasa rada geugeuman, tapi da loba batur ieuh.

“Usép” Leungeun uing nyolongkrong, “Enud” Ceuk manéhna bari seuri. Tuluy ngawangkong pancakaki ngalor ngidul kawas nu loma. Antukna jadi dalit jeung si Enud teh. Ngan hanjakal boga sifat keukeuh peuteukeuh.

Kaasup anu dihulag nyoo wastafel tengah peuting, kalahka nangtang jeung rék ngabuktikeun. Satengah duabelas malem jumaah geus saged rék nyikat huntu bari teu weléh sura-seuri, padahal sakabéh pangeusi kos tagiwur bisi katempuhan urusan anu can karuhan.

Téng jam dualas, euweuh sora nanaon deukeut wastafel. Istuning jempling, simpé. Lalaunan, Wa Guru, Uing oge babaturan ngadeukeutan wastafel tea. Kaciri Si Enud ngaringkuk handapeun wastafel, leungeun méréngkél. Teu bisa ditanya, teu bisa digulanggapér. Ngagibrig bari molotot.
Na jero kaca wastafel aya nu ngaléos bari nyéréngéh.