Nulis Tanpa Mikir

Menulis itu perlu niat, Basmallah dan coretan awal, selanjutnya ngalir menyusuri waktu yang terus melaju.

Photo : Kutrat kotret di Diary / Japri.


Menjelang rabu dini hari, terasa ada yang hilang dan terlupakan.

“Apa yang lupa yach?” Suara hati menelusuri jalinan waktu yang telah sesaat berlalu. “Oh iya belum kotrat kotret, nulis sesuatu. Memintal kata mewujud kalimat rasa”, Senandung penyesalan tak bisa meraih momen yang telah hilang.

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, “Knapa ga nulis, khan biasanya apa aja ditulis dan langsung posting di blog?”

Jawaban pembenar segera berkibar menyemburkan berjuta alasan sehingga semua menjadi rasional.

Tanpa harus berjibaku dengan sesal dan berburuk sangka pada keadaan, rehat sejenak menarik nafas menjadi obat pengurang kegalauan. Apalagi jika kaki beranjak menuju kejernihan air tuk digunakan membasuh muka membersihkan hati dalam upacara mandiri yang miliki makna bersuci. Terasa seluruh kegalauan itu sirna, berganti ceria untuk menapaki hari dan mengisinya dengan alunan cinta.

Diingat kembali dengan membuka notepad di gawai pribadi, ternyata berserakan konsep tulisan yang terhenti sebelum mampu wujudkan satu paragraf. Atau konsep lain adalah poin-poin kata yang tergeletak tak berdaya karena tak digunakan untuk menjalin cerita. “Ada apa kemarin ya?”

Ternyata jawabannya sederhana, ‘Karena terlalu banyak berfikir!’

“Nggak percaya?”

Udah percaya aja dech, supaya cepat kelar nich cerita. Hehehe… maksa. Tapi bener ding, kemarin lebih banyak baca ketimbang nulis, lebih banyak terdiam dibanding mengetik hurup menggambar angka. Karena mencoba menulis sesuatu yang bermakna dengan ilmu bahasa yang sudah ada aturannya.

Seorang kawan memberi tantangan agar menulisnya menggunakan pola eksposisi disertai link yang mengajak diri membaca konsep ilmu kebahasaan yang ternyata beraneka rupa. Menantang memang, tapi alih-alih menulis sesuatu seperti yang diatur dalam tata naskah kebahasaan. Kenyataannya asyik membuka literatur menusuri alam gugel demi tahu tentang berbagai definisi paragraf menulis seperti apa itu ‘Narasi’ atau ‘Deskripsi’.

Ternyata menulis selama ini bener-bener ga pake kaidah bahasa tapi hanya berpedoman pada olah rasa. Xixixi… jadi malu juga. Karena dengan tulisan paragraf Eksposisi maka tulisan tersebut memberi makna dan bobot yang jelas didukung pernyataan ahli serta data terpercaya untuk menguatkan pendapat yang ditulis oleh siapa.

Ada lagi yang disebut Paragraf Eksplanasi mengupas tema lebih jelas lagi dengan bahasa ilmiah dan berbagai kerangka cara penulisannya. Beda dengan tulisan yang versi “ngalir aja”, cenderung menjadi paragraf narasi atau deskripsi yang tentu tinggi tendensi atau malah penuh emosi. Objektif di satu sisi tapi subjektifpun menaungi. Yang pasti luapan rasa hati bisa mewujud dalam karya diri, mungkin menjadi sesuatu untuk suatu saat dan mengerucut menjadi warisan abadi.

Ternyata tulis aja sesuatu bisa rumit ataupun bisa mudah. Nah daripada bahas sesuatu yang rumit hingga akhirnya tak kunjung menulis, mending gerakan jari jemari di layar gawaimu. Ketik sebuah kata diikuti kata lain, terus ulangi dan ulangi terus hingga membangun satu untaian kalimat dan berwujud paragraf.

Jika sudah jadi satu paragraf, ulangi proses menyusun kata tadi. Biarkan satu kata dengan kata selanjutnya bersinergi, berteman karib saling berjanji menaut rasa memadu niat untuk wujudkan paragraf yang bertujuan. Insyaalloh, dua tiga dan empat paragraf akan tersaji dan cobalah baca dari awal. Itulah modal tulisan perdana kita. Rapihkan penulisan, bereskan hurup rapihkan angka serta jangan lupa tanda baca.

Masalah isi or content tulisan tentu menjadi pertimbangan. Tetapi banyak orang yang tak jadi tak berhasil menulis karena ingin menyajikan yang terbaik (versi dirinya), ketakutan di cela oleh pembaca ataupun khawatir tak sesuai aturan tata bahasa. Sehingga adagium bahwa ‘Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tak tuntas dibuat’ kembali menggema.

Hidup ini tidak ada yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT saja. Mari menulis seiring kata hati dan gerakan jemari. Tapi ingat hindari tema yang tendensius dan memancing konflik. Bikin tulisan wujudkan warisan dalam bentuk buah pikiran original kita masing-masing. Klo belum pede ketik langsung di gawai, ya kutrat kotret dulu di buku catatan karena ide menulis itu datang tanpa diundang juga pergi tanpa bisa dilarang.

Manfaatkan kemajuan jaman, Jangan lupa niatkan dan baca Basmallah, mulai deh nulis di gawai trus upload di blog pribadi. Banyak yang gratisan seperti wordpress dan blogspot. Trus linknya share pada kontak WA kawan dan Medsos kita, Facebook, instagram, path, twitter termasuk status whatsapps.

Tunggu responnya dan tanggapi dengan santai klo ada komentar apapun. Klo ada yang ngoreksi segera perbaiki, klo ada yang menghina berarti pahala penghina untuk kita dan klo ada yang mengapresiasi jadikan lecutan diri untuk perbaikan kualitas dan kuantitas tulisan selanjutnya.

Selamat menulis…..

Wassalam. (@andriekw).

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

9 thoughts on “Nulis Tanpa Mikir”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s