(Bukan) Resensi ‘Bagaimana Saya Menulis’

Sebuah catatan kecil (bukan) resensi buku dari kumpulan pengalaman dan perjalanan penulisan para pegiat Gerakan Birokrat Menulis.

Photo : Buku Bagaimana Saya menulis + kopi / dokpri.

Malam telah kembali sunyi, gelak tawa anak semata wayangpun telah tergantikan dengkuran halus sambil mulut mungilnya tak mau lepas dari nenen ibunya. Untaian doa rutin sebelum tidur mengantar mereka terlelap di malam ini. Perlahan melirik jam meja ternyata sudah pukul 23.05 Wib, persiapaaan……

Me time mulai berlaku. Berjingkat keluar kamar dengan suara minimal. Buka tutup pintu ekstra hati-hati. Bergeser ke ruang makan, menggelar koran sebagai alas di meja makan karena khawatir ada tetesan sisa minuman atau ceceran makanan yang bisa merusak mood karena harus bersih-bersih dan lap-lap dulu.

Amplop besar warna coklat yang menyambut kedatanganku tadi ba’da isya di ruang tamu begitu menggoda untuk segera dibuka dan dibaca. Meskipun raga masih terasa lelah karena sabtu tanggal merah inipun harus dinas luar ke wilayah Cirebon dan Majalengka. Tetapi klo lihat ada paket kiriman buku baru, tidak ada kata kompromi untuk segera dinikmati. Ditemani seduhan kopi Arabica Java Preanger ‘Gunung Tilu’ versi pribadi pake V60, rasa segar menyeruak dan paket buku segera dibedah.

Dua buah buku mungil bersampul semburat mentari sore yang menjadi latar alami seseorang termangu di dermaga sederhana di tepi pantai berjudul ‘Bagaimana Saya Menulis’ memberi energi baru untuk melahap 127 halaman tanpa jeda. Karena berisi pengalaman dan perjalanan penulisan para pegiat gerakan birokrat menulis.

Eh jeda kok disaat menyeruput kopi hangat seduhan sendiri, nikmat tak tergantikan.

Buku yang disusun oleh para penggiat gerakan ‘Birokrat Menulis’ ini mulai dibolak balik dan entah apa yang mendorong diri ini untuk baca dari halaman 127 dulu. Berjumpa dengan para penulis yang berkontribusi lengkap dengan photo dan CV singkatnya sebanyak 13 orang. Para birokrat yang sukses menulis dan karyanya telah bertebaran di berbagai media internal ataupun media massa. Jadi iri dech…

Mas Muji Santosa (Nyebut mas ah, soalnya moo pake pak atau bapak, kok jadinya serasa bikin nota dinas atau telaahan staf hehehe) yang sudah menginspirasi banyak orang dengan buku-buku tentang pengadaan dan kontrak. Dilanjut dengan tulisan Mas Raden Murwantara mengupas tuntas tentang penulisan Jurnal Ilmiah internasional yang begitu lengkap dari mulai persiapan hingga syarat-syarat. Menjadi tantangan pribadi untuk bisa membuat tulisan jurnal ilmiah dan berkelas internasional hungga bisa terindeks SCOPUS & SCIMAGO dengan impact factornya. Meskipun bahasa inggris pas pasan tapi yang penting khan keberanian untuk menuangkan ide dan gagasan seperti kata Bang Marudut R. Napitupulu. Jangan lupa ikutin tahapan proses mendengarkan – membaca – berbicara – dan terakhir menulis seperti yang terjadi disaat ikutan test IELTS.

Test IELTS atau International English Language Testing System, itu sodaranya TOEFL (Test of English as a Foreign Language), Sebagai syarat untuk kuliah di luarnegeri.

Photo : Peralatan nyeduh sang kopi / dokpri.

Lanjut yaa…….

Mas Ilham Nurhidayat yang aktif di majalah kantor hingga mempersiapkan pembuatan bukunya. Kegelisahan menjadi energi awal untuk menuangkan sesuatu menjadi tambang ide tulisan menurut mas Setya Nugraha, hingga filosofi jalinan kata dari Bang Mutia Rizal yang menggugah selera membaca dengan mencontohkan berbagai tokoh penulis dunia dan indonesia. Memaksa diri untuk terus setia membuka lembar berikutnya padahal jam dinding sudah melewati dini hari.

Menulis itu mengasyikan, apalagi bersua dengan seseorang dan lingkungan yang mendukung untuk terus menghasilkan karya seperti kata Mas Eko Heri Winarno juga Kakanda Andi P.Rukka yang hasil karyanya telah menghiasi perpustakaan National Library of Australia. Hingga tips keenam yaitu Write first-Edit laternya mas Ardero Kurniawan semakin membubungkan semangat untuk menggerakkan jemari ini menuangkan kata demi kata.

Mbak Nur Ana Sejati melengkapi dengan aktivitas catat mencatat itu sangat penting karena akan sangat membantu memahami apa yang sedang dipelajari. Didukung oleh Bang Adrinal Tanjung bahwa menulis itu tidak untuk menggurui orang lain tetapi menulis itu menggurui diri sendiri maka menulis itu bukan perkara sulit. Disusul oleh Mbak Pratiwi Retnaningdyah yang fokus pada konsepsi pelayanan umum dari pengalamannya di dalam dan di luar negeri, membuka pemikiran diri untuk terus menulis apapun khususnya kegiatan sehari-hari yang terkait pekerjaan atau profesi di jajaran birokrasi.

Dan…. terakhir tulisan yang tersaji adalah wejangan dari Bang Rudi M.Harahap berbagi tips agar bisa membuat tulisan berkualitas adalah peran mentor dan motivasi kita menulis sesuatu. Ide bisa muncul dimana saja maka gunakan fasilitas catatan di smartphone untuk mencatat topik yang menarik untuk ditulis. Serta segera tulis, tulis dan tulis.

Tak terasa bercengkerama dengan buku yang diterbitkan ‘Birokrat Menulis‘ telah usai. Meskipun masih ingin membolak baliknya, tetapi harus adil juga berbagi rasa dengan raga yang harus beristirahat juga untuk menyongsong hari esok yang senantiasa bahagia serta ceria.

Terima kasih mas Ardero Kurniawan atas paket bukunya. Semoga menjadi jalan kebaikan bagi kita semua dan tentu semakin suksesnya para punggawa serta anggota ‘BM’ dimanapun berada. Wabilkhusus BM semakin berkibar dan menjadi wahana berlatih dan menghasilkan tulisan bernas serta ilmiah untuk kemajuan bangsa.

Tak lupa gelas kedua seduhan kopi Arabica JP Gunung Tilu menutup sesi dini hari ini. Dentang jam dinding pukul 01.30 wib di hari terakhir tahun 2017 ini mengingatkan kembali untuk menutup percengkramaan dini hari ini. Wassalam. (Akw).

Ngopi pagi di Pakuan

Bekerja di pagi hari sambil Nikmati sajian kopi asli di Gedung Negara Pakuan yang penuh harmoni.

Photo : Ruang utama Gd Negara Pakuan / Dokpri.

Disaat sang mentari masih bersembunyi dibalik lelahnya hari, raga ini sudah melesat membelah sepinya jalan menuju kediamanan Gubernur Jabar. Perjalanan dari Cimahi Selatan ke jalan Otista satu Kota Bandung bisa ditempuh 15 menit saja, padahal klo siang hari pas padat-padatnya para pengendara beredar kesana kemari maka bisa 1,5 jam hingga 2 jam.

Jarum jam menunjukan pukul 05.25 wib tepat disaat moncong toyota rush ini memasuki gerbang kediaman jabar satu yang disebut gedung negara pakuan. Disambut kehijauan taman yang asri memberi kesegaran hakiki. Mobil bergerak melengkung ke kiri mengikuti arah jalan menuju parkiran di halaman gedung art deco ini, eh ternyata bukan yang pertama karena sudah berjajar tujuh kendaraan yang bertamu pagi itu.

Setelah parkir sempurna, mengemasi berkas yang harua dibawa. Yah meskipun bukan panitia inti acara pagi ini tapi persiapan itu penting. Jadilah pendukung acara yang baik.

Segera bergegas mengajak kaki untuk melangkah menuju gedung yang indah. Gedung bercat putih terang penuh kelembutan, gedung negara pakuan yang penuh dengan kenangan.

Photo : Stand sarapan / dokpri.

Menaiki sepuluh anak tangga menapaki ruang tunggu tamu terlihat beberapa undangan sedang berbincang. Bergerak memasuki ruang depan disambut kemegahan kursi-kursi dan meja klasik bertabur hiasan ukiran yang mempesona. Belum selesai dari situ, bergerak kembali semakin masuk ke dalam gedung dan di ruang utama sudah tertata 14 meja bundar dengan kanan kiri stand – stand makanan minuman yang dipersiapkan untuk sarapan.

Yummy……

Photo : Stand kopi Java Preanger gnhalu / dokpri.

Daan… yang bikin hati ini lebih berbunga adalah satu stand yang membuat pagi ini semakin ceria dan dijamin acara pagi ini akan lebih berwarna. Gimana ga seneng, grinder listrik ready, bean sudah standbye 2 botol besar, peralatan menyeduhnya ada, kertas filter ada dan tentunya V60pun sudah melambaikan tangan agar segera digunakan. Tidak lupa pemanas air yang berdiam gagah disamping kanan. Tapi masih harus bersabar karena barista sang penyeduhnya belum terlihat. Sabaar.

Tepat jam 06.00 wib para Tamu undangan yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan. Pejabat Pemprov Jabar mendominasi, Pangdam III Siliwangi, Bupati Majalengka dan Sekdanya, Kepala BPN Jabar, Kakanwil I BJB & rengrengan. Unsur dari Polda Jabar, Polda Metrojaya, Kodam Metro Jaya, Kejaksaan Tinggi Jabar, PT. BJB, PT BIJB sudah lengkap dan mulai menikmati hidangan yang tersaji.

Disaat para tamu mengantri di stand makanan berat, segera menyelinap dan berdiri disamping barista gaul, namanya Kang Yuda. Masih muda, gagah dan pinter nyeduh kopi, ya iyaaa atuh… khan dia Baristanya.

Tepat pukul 06.30 wib, Pak Aher muncul dan bergabung bersama tamu undangan untuk bersama-sama sarapan dilanjutkan acara resmi yang dipandu oleh bagian keprotokolan.

Aku mah masih stay ditempat strategis, deket stand kopi. Tapi tetap mengikuti acara dengan khidmat.

Suara grinder menjadi musik pagi yang membumi, memberi suasana ceria di pagi yang sendu ini. Menghancurkan biji kopi java preanger gununghalu menjadi serpihan semi kasar pake ukuran 4,5 sampai 5 sehingga tidak terlalu halus. Tujuannya agar bisa tersaji kopi panas dengan metode V60 yang mengedepankan rasa sweet fruity, terasa maniis gitcu kayak aku… ahay.

Tujuannya menyajikan kopi tanpa gula cenderung fruitty adalah langkah bernas untuk memperkenalkan cara menikmati kopi tanpa gula dengan rasa yang relatif bisa diterima oleh seseorang yang bukan penikmat kopi. Bener saja, seorang bapak gagah berseragam mendekat, “Minta kopinya kang”

“Silahkan pak” Segera mengucur cairan kopi yang harum ke cangkir kopi karena kebetulan baru persekian detik tuntas membuat racikan perdana.

“Duh pahit nich, ga pake gula ya?”, Bapak berseragam meringis. Kami tersenyum, Kang Yudi menjawab, “Nggak pak, ini kopi asli dan dinikmati tanpa gula.”

Setelah bapak tadi berlalu, segera mengambil cangkir yang sudah terisi kopi. Menyeruput pelan-pelan, terasa sensasi manis buah-buahan menyeruak di seluruh rongga mulut. Enak dan kayaknya cocok untuk yang tidak biasa ngopi. Tapi dari sisi body kurang paten, acidity sedang dan ya itu tadi sweety diutamakan. Rasa manis ini didapatkan dari proses penyeduhan diatas V60.

V60 itu yang mirip corong dan digunakan untuk nyeduh kopi bubuk. Jangan lupa sebelum nyeduh menggunakan kertas filter yang disiapkan khusus. Tapi sekarang udah banyak yang jual. Harga V60 dari mulai 70ribuan yang berbahan plastik hingga ratusan ribu atau jutaan, itu yang keramik dan stainless stell. Sebelum kopi dituangkan dalam V60 yang udah dilengkapi kertas filter, basahi dulu kertas filter dengan air panas. Lalu tuangkan kopi bubuk yang sudah digiling tadi dengan ukuran 28gr/sajian/cangkir. Air panas yang dituangkanpun harus diukur, kang Yudi ini pake di 75 sd 85 derajat celcius. Jadi termometer adalah teman setia barista.

Proses penyeduhan pun harus bertahap. Tahap awal adalah blooming, yakni menyeduh sedikit bubuk kopi tersebut dengan tujuan melepas CO2 yang terjebak di dalam bubuk kopi. Diam beberapa saat, klo udah kelihatan ngaburukbuk ada gelembung udara itu tandanya proses blooming selesai dan siap seduh.

Ternyata cara nyeduhnya ini yang bisa hasilkan rasa kopi yang berbeda. Jika ingin mendapatkan rasa sweety maka putaran seduhan melingkar searah jarum jam dan berputar dari arah luar sementara untuk meraih rasa body atau level pahitnya kopi (ini biasanya untuk yang udah biasa ngopi item.. ya espresso juga dopio) maka menyeduhnya fokus dari tengah secara dominan.

Karena nempel terus sama sang Barista, maka yang bisa dinikmati adalah 2 cangkir versi sweety dan 2 cangkir versi body yang dapet rasa pahitnya citarasa kopi asli parahyangan dari dataran tinggi Bandung Selatan.

Itulah sekelumit kisah tentang ngopi gratis kedinasan. Pekerjaan tuntas dan ngopi aslipun bisa bergelas-gelas. Jangan merasa ribet dengan proses dan aturan pembuatan kopi yang berbelit dan memakan waktu. Karena jangan salah dalam proses itu terletak suatu makna keindahan. Bagaimana sebuah proses seduhan yang berbeda menghasilkan rasa yang berbeda?…

Amazing bingit dech.

Trus rasanya kok pahit?… coba pelan-pelan dan kontinyu. Maka lidah akan terbiasa dan mampu membedakan mana yang memang dibuat pahit karena ngejar bodi, keasaman aciditynya ataupun rasa manis buah-buahannya. Yakini kopi tanpa gula itu nikmat, tidak pahit karena lebih pahit kehidupan ini.

Jikalau kopi yang tersaji masih teuteeeep terasa pahit, ambil kaca. Sruput kopi pahit sambil pandangi wajah kita yang manis. Insyaalloh hati sedikit berbunga dan mulut senyum dikulum.

“Nanaonan ari kamu, nginum kopi bari ngeunteung?!!”

(“Kamu ngapain, minum kopi sambil bercermin?”) Paling itu yang bakalan terucap.

Nggak percaya? Silahkan coba.

Photo : Gubernur & pimpinan Instansi / dokpri.

Alhamdulillah, pak Gubernur Jabar tuntas berpidato setelah prosesi penandatangan dengan beberapa pihak dalam rangka pengamanan pilkada 2018 dan juga percepatan pembebasan lahan PT BIJB. Diakhiri dengan doa dan photo bersama. Kamipun tuntas menyeruput cangkir kopi ke-5, buatan sang Barista.

Hidup pagi ceria. Wassalam.(Akw).

NEBENG

Urban legend di Cadas Pangeran, sebuah cerita 5 tahun lalu.

“Ikut yach!” sebuah kalimat sendu menggema di rongga telinga menyentuh degup rasa di sisa sepertiga malam menuju dini hari. Tidak menjadi pikiran dan dianggap angin lalu, mungkin hanya desau angin yang menjadi halusinasi, atau memang ceracau otak yang sudah lelah menemani raga yang terus beredar menapaki dunia.

Kedua tangan memegang stang kendali motor matic kesayangan. Sementara pelindung kepala adalah helm jadul bertemakan gaya pilot tempur lengkap dengan stiker Persib, menang kalah jiwa ragaku. Menembus gerimis hujan yang tetesannya berlomba masuk ke dalam helm. Mencoba menyapa rasa dan bercengkerama di atas kulit kepala di daerah Cadas Pangeran, sebuah perjalanan malam ke sekian kali dari Bandung ke Sumedang.

Tidak berapa lama, tercium harum melati yang melenakan. Meski semakin dicium terasa wanginya itu ditambah bau lain, wangi kesedihan dan nestapa. Motor terasa berat padahal gas sudah poll di batas maksimal. Wewangian dan bau terasa semakin menusuk, sesakkan dada dan membuat jantung berdebar lebih kencang tanpa kendali. Kulit punggung terasa dingin sedingin es balok yang terikat erat di belakang badan. Seolah menemani kebekuan hati yang kembali menjadi-jadi akibat penolakan gadis kota, sore tadi.

Jalan berkelok terasa sepi, kabut tipis menemani tanpa basa-basi. Menambah suasana penuh kengerian dan sensasi. “Apa yang sedang terjadi?” Suara hati kecil menggema.

Tangan kanan memutarkan stang gas sampai maksimal, berharap motor matic ini segera berlari kencang melewati Cadas Pangeran. Tetapi yang terjadi adalah motor matic ini bergerak perlahan seolah ada beban berat yang menghambat juga halangan tak kasat mata. Pikiran waras masih membekas, dan terbayang bahwa oli rem maticnya mungkin sudah habis. Sehingga transmisinya terganggu. Sang malam terus menemani dengan setia.

Mesin motor menderu maksimal, tetapi bergerak tetap lambat, terseok-seok bagaikan ayam keok. Harum melati berganti menjadi bau bangkai, dingin dan sepi semakin terasa mencengkeram. Tidak ada pilihan lain yakni berdoa kepada Allah sambil berusaha mengendalikan motor matic ini agar tetap bergerak di jalur jalan, menjauh dari jurang yang begitu menanti kedatangan. Gerimis terus turun menambah suasana semakin penuh tekanan.

Istigfar dan aneka doa terus dilafalkan hingga setengah berteriak. Motor bergerak meski perlahan.

Tepat melewati batas tugu melewati daerah Cadas Pangeran, motor melonjak terasa ringan. Bergerak lincah kembali seperti biasanya. Beban dipundak hilang sekejap, bau bangkaipun lenyap terganti harum tanah disaput tetesan hujan. Dingin menusuk berganti hangatnya banjir keringat. Tak banyak tanya, langsung tancap gas menuju Kota Sumedang.

Tak berapa lama, terdengar bisikan serak tanpa wujud, “Terima kasih Nak.” Tangan reflek untuk tancap gas semakin cepat sambil berteriak, “Allahu Akbar!!!!.”
Bulan sabit dini hari tersenyum melihat tingkah polahku. Sesosok bayangan hitam perlahan menghilang di ujung Cadas Pangeran.

*)Catatan : Cerita Urban Legend yang ditulis 5 tahun lalu dalam versi fiksimini bahasa sunda. Ditulis ulang dan menggunakan bahasa indonesia agar bisa dinikmati oleh para pembaca. Tidak lupa versi aslinya di tampilkan dengan beberapa perbaikan. Selamat menikmati.

Versi Asli, 24 Desember 2012

***NU NEBENG***

“Ngiring” Soanten leuleuy ngagupay cepil dina simpéna wengi ngudag janari. Teu janten émutan paling ogé kukupingan, maklum awor sareng angin anu silih surung lebet kana sela-sela hélm butut. Ngaréncangan kuring uih ti Bandung ngabujeng ka Sumedang numpak motor métik si kukut.

Mung teu lami ti dinya asa kaambeu seungit malati nu ngalewangkeun ati, asa jauh panineungan. Teras motor karaos abot padahal mung nyalira da dipengker mah kuéh pamasihan pimitohaeun. Teras tonggong karaos nyecep tiis nembus na tulang, sumawonna jalan ogé mingkin simpé maturan kuring nu tunggara.

Ah di gas wé satarikna supados énggal dugi, tapi kalahka gegerungan lalaunan bangun nu ripuh. Boa boa oli metikna séép janten ngaganggu kana transmisi. Nya si kukut maju wé samampuhna. Pas leupas ti péngkolan pamungkas Cadas Pangéran, kaambeu téh janten bau bangké. Langsung istigfar bari si kukut digas satakerna, motor hampang deui sakumaha ilaharna.

“Nuhun” Soanten anteb dina cepil katuhu.(Akw).

WASTAFEL *)

Mendengarkan peringatan itu penting, tetapi mampu meredam kesombongan pribadi itu jauh lebih penting.

(Photo : Ilustrasi Wastafel / Mr HP by request)

“Jangan menyikat gigi atau cuci muka pas jam dua belas malam di wastafel itu ya!” Suara bapak kost sambil menunjuk wastafel di ujung lorong. Sebuah informasi disaat kami baru memulai mencoba menjadi anak kost di wilayah Jatinangor. Kami hanya tersenyum dan menganggukan kepala tanpa komentar, tak acuh. Terus berlalu memasuki kamar masing-masing.

Ada 5 kamar yang baru terisi dari 12 kamar yang ada. Kamar depan yang terluas, disitu bapak kost tinggal seorang diri. Kost-an ini memang agak terkesan seram karena itu adalah bangunan tua, tetapi dengan harga nego dan bersahabat maka kost ini menjadi ideal bagi kami yang butuh pengiritan biaya.

Satu bulan berlalu, kami berlima menjadi akrab meski beda fakultas. Mencoba menjadi mahasiswa yang baik, belajar dan belajar demi meraih nilai baik untuk dipersembahkan ke orangtua yang berjibaku di kampung sana demi membiayai anak-anaknya meraih cita. Kost rumah putih ini telah menjadi rumah bersama kami, rumah kedua tempat kami belajar bersama di ruang tengah. Nonton tv dan maen PS. Ataupun bersih-bersih bersama di hari libur. Wastafel di lorong tetap berfungsi tanpa perlu ditakuti.

Bulan ketiga ada tambahan warga di kost-an, namanya Jefri. “Nurdin” Tanganku terulur dan langsung disambut dengan genggaman erat, “Jefri si Anak Rantau.” Anaknya agak cuek tapi menyenangkan. Yang bikin kami khawatir adalah disaat peringatan tentang wastafel disampaikan, Jefri tertawa. “Ah kalian penakut semua. Nanti malam kita coba. Siapa yang berani macam-macam dengan Jefri Si Anak Rantau!!!” Kami terdiam, bapak kost hanya memandang dengan diam.

(Photo : Ilustrasi Wastafel / Mr HP by request)

Sore beranjak malam suasana rumah menjadi tegang. Ruang tengah tidak ramai karena kita berkumpul sambil belajar, tetapi lebih banyak diam dan berdoa tidak ada kejadian apa-apa. Jefri berjalan sambil bersiul, duduk di ruang tengah, “Tenang saja kawan, tak usah khawatirkan aku.”

Mendekati jam 12 malam, terasa semakin mencekam. Gerimis diluar dan suara desau angin menambah dramatis keadaan. Terdengar siulan ringan dan langkah kaki Jefri menuju wastafel di lorong. Kami di kamar masing-masing mendengarkan penuh ketegangan. Termasuk bapak kost yang juga khawatir dengan kenekatan ini, beliau standbye di kamarnya, kamar paling depan.

Pukul 00.00 wib pun tiba, suasana sepi dan sunyi betul-betul mengunci hati membekukan pikiran. Gerimis dan desau angin menghilang dalam gelapnya malam. Tidak ada suara teriak ketakutan dari Jefri karena ada sesuatu atau suara lainnya. Akupun merasa tenang juga (mungkin) perasaan bapak kost dan kawan kost lainnya.

Tapi…. hingga 20 menit berlalu, suasana sepi sunyi terus berlanjut. Kami penasaran, tak berapa lama terdengar suara pintu kamar depan membuka, langkah kaki menuju wastafel di lorong. Aku mengintip dari jendela ternyata bapak kost. Akupun membuka pintu kamar dan bergabung bersamanya. Juga anak kost lainnya.

“Astagfirullohal Adzim”, Bapak Kost bergumam, kami semua terdiam melihat apa yang ada di hadapan. Jefri meringkuk sambil menggigil, mulut terbuka mata melotot penuh ketakutan tanpa bisa berucap sepatah katapun. Wajahnya pucat badan membiru. Peralatan sikat gigi dan gayung tersimpan rapi di wastafel. Kamipun menggotongnya bersama-sama tubuh Jefri yang kaku seolah membeku menuju ruang tengah untuk diberikan pertolongan pertama.

Melirik ke bapak kost, terlihat wajah sedih dan sendu tapi penuh tanda tanya. Disaat kami bergerak menjauh dari wastafel, sesuatu dalam kaca wastafel tersenyum puas dan tertawa tanpa kata. Bergerak dan menghilang. (Akw).

*)Catatan : Tulisan fiksi ini 5 tahun lalu, terinspirasi dari true story jaman kuliah. Tulisan singkat ini tertuang dalam Facebook di grup Fiksimini sunda. Ditulis tentu dengan bahasa sunda, tetapi sekarang dicoba dibuat versi bahasa indonesia agar lebih mudah membaca dan menikmatinya. Berikut tersaji versi awal dengan judul yang sama.

***

WASTAFEL ***

“Kadé ulah nyikat huntu atawa sibeungeut dina wastafel pas jam duawelas peuting” Papagah Wa Udan basa mimiti asup ka imah kos di totogan Sukawening. Imah kos wangunan baheula karasa rada geugeuman, tapi da loba batur ieuh.

“Usép” Leungeun uing nyolongkrong, “Enud” Ceuk manéhna bari seuri. Tuluy ngawangkong pancakaki ngalor ngidul kawas nu loma. Antukna jadi dalit jeung si Enud teh. Ngan hanjakal boga sifat keukeuh peuteukeuh.

Kaasup anu dihulag nyoo wastafel tengah peuting, kalahka nangtang jeung rék ngabuktikeun. Satengah duabelas malem jumaah geus saged rék nyikat huntu bari teu weléh sura-seuri, padahal sakabéh pangeusi kos tagiwur bisi katempuhan urusan anu can karuhan.

Téng jam dualas, euweuh sora nanaon deukeut wastafel. Istuning jempling, simpé. Lalaunan, Wa Guru, Uing oge babaturan ngadeukeutan wastafel tea. Kaciri Si Enud ngaringkuk handapeun wastafel, leungeun méréngkél. Teu bisa ditanya, teu bisa digulanggapér. Ngagibrig bari molotot.
Na jero kaca wastafel aya nu ngaléos bari nyéréngéh.

Bongé

Ngarujak poék dibaturan simpé, bari anteng ngaraga meneng.

*)FiksiminiBasaSunda

Photo : Mung Ilustrasi / Doklang.

Seubeuh nyuruput soré, ayeuna mulutan peuting. Poék mongkléng ditoélan, bari keukeuh teu bisa dihulag ku omongan. Teu kaop dicarék, ngadon molototan. Purnama dirawél béntang dibubat babét. Rungsing sakujur alam.

Ari sia nanaonan?” Sora ahéng handaruan nepi ka tungtung deuleu. Nu ditojo haré-haré. Batan ngalieuk kalah ka tuluy culubak celebek.

Sia téh bongé?” Sakali deui sora ahéng meulah jomantara parat ka tungtung langit. Karék manéhna ngarandeg, tilu gunung diburakeun jeung cai atah ti Citarum nu ngabayabah ngabau hangru. “Ngaing teu bongé Ki Sobat, ukur nyeri ceuli ngadéngé sia mangratus taun nyarita tapi euweuh nu mangrupa.”

“Geus hayu dibaturan, ari hayang mérésan mah” Sora ahéng rada leuleuy. Manéhna giak ngeureunan lampah. Sanajan poék geus téréh nepi ka mongkléng. Teu loba nyarita, duanana leumpang pakaléng-kaléng. Jangjian ngaraksa bumi ngajaga sagara keur sampeureun jaga. Purnama jeung para béntang sujud syukur bisa salamet tina sulaya. (Akw).

Ngudag Katresna

Ngiringan ngareuah-reuah saémbara ahir taun FBS, dina wanda dalapan rubuhan.

Photo : Ilustrasi Tatangkalan / motlang

Mopoék ngarawu kélong, ngabigeu teu wasa melong. Éra ku rasa parada, isin ku banda teu boga. Sanajan niat mah luhur, geuning ajrih ku kapaur. Katresna ngancik pasini, teu bisa ukur ku surti. Rasa teu cukup ku ngarti, tapi kudu aya bukti. Hanjelu meupeuskeun hulu, poék haté ripuh saku.

Ihtiar muru ka dukun, meuli bikang hayam kalkun. Ceunah sarat méh mangpaat, katresna sugan ngolépat. Anjuk hutang uclak éclok, duit rénten gé dilebok. Nu penting mah jadi ginding, keur nyangreud parawan tingting.

Tapi geuning ukur sugan, implengan jeung kanyataan. Kalkun salosin téh nyamos, hutang raweuy awak hampos. Tukang rénten ngancam nyawa, tatangga ogé sarua. Prung mabur euweuh harepan, nyumput di leuweung tutupan. Nyamuni ngajadi kunti, nguatkeun élmu saépi. Nyébakeun jiwa nu rujit, nyembah sujud ka jin ifrit. Ayeuna kari hanjakal, langgeng jadi jurig tangkal. (Akw).

Catetan : Ieu fiksimini sunda nu di kotrét ku simkuring, dina raraga ngiring ngareuah-reuah saémbara FBS ahir taun.

Rumus : 8 engang, tungtung kalimah murwakanti.

LINI (fikminbasasunda..*)

Nampi papastén kalayan rido, da hirup di dunya ngan sajorélat.

Sirah beuki nyanyautan haté seseblakan, mikiran nasib Si Ujang nu keur aya dipangbérokan. Ngabadog tatangga alatan butuh narkoba. Kamari isuk-isuk imah dikepung, pulisi ranggéténg bedil. Si Ujang nu keur ngaréngkol dibangkol.
“Hampura Gusti, Uing teu lulus ngatik budak, hampuraaa….”
Raga rubuh cimata bedah, tajug réyod ngahelas ngiluan rambisak.

Nyeri sirah beuki nataku. Jorélat beungeut Si Jenat, ngusapan beungeut, “Sing sabar akang, hirup mah ukur sakedap. Serah sumerah ka Gusti, tobat miwah pasrah kana sagala papastén” Uing unggeuk, bari nyusut cimata.

Karék gé rék eungab ngajawab, tajug ngariyeg oyag-oyagan. Tingrarekét pikahariwangeun. “Lini…. lini, Allahu Akbar!!!” Spéker masjid ngabéjaan. Uing hudang tuluy lumpat muru ka buruan imah. Karék ogé ngaléngkah, gelap ngaburinyay, caringin badag rungkad jeung tutung. Poék.

Pas beunta awak karasa seger harampang, nyeri sirah leungit. Kaciri Uing diriung di tengah imah. Si Ujang aya. Uing imut tuluy ngaléos, bari nyekel pageuh leungeun Jikan Si Jenat. Ngalayang muru kaanggangan. (Akw).

*) Catetan : Dongéng rékaan, hatur lumayan.