Sunrise di Sukageuri View

Berburu Sunrise di Bukit Sukageuri, berbagi rasa dengan sesama pelancong dan penikmat pemandangan serta udara segar pagi hari di kaki Gunung Ciremai.

Photo : Sunrise di gerbang Bukit Sukageuri/dokpri.

Adzan shubuh belum berkumandang tetapi mata sudah terbuka lebar, bersiap menyambut panggilan sholat sebagai salah satu kewajiban umat islam.

Berjamaah sholat shubuh dilanjutkan dzikir akhirnya usai. Segera berganti kostum dan bersepatu olahraga. Bergerak menembus dinginnya hawa menuju titik lokasi yang mungkin tepat untuk abadikan kehadiran sang mentari di ufuk timur kota Kuningan.

Berburu sunrise di kaki Gunung Ciremai menjadi judul tulisan ini, setelah disaat yang lalu mereport tentang kabut yang enggan beranjak di Tenjolaut. Sekarang saatnya mencoba melihat sisi lain wilayah Palutungan.

Photo : Sunrise diatas Kota Kuningan

Ada korelasi positif antara berburu sunset dengan pola perilaku seseorang. Perilaku positif tersebut atau premis yang ada adalah : pemburu sunrise PASTIrabadiri‘ alias rajin bangun dini hari. Karena klo males bangun pagi, momen menikmati sunrise akan terhapus dengan sendirinya. Perilaku kedua adalah ‘Tidak takut udara dingin dan angin’.

Pic : Gn Ciremai dipagi hari / dokpri

Perjalanan pagi dilanjut bermobil ria karena jarak yang cukup lumayan sekitar 8,1 km dari Kota dengan kontur jalan berkelok menanjak. Tapi dengan bermobil, nikmat pisan menanjaknya. Jalan kaki bisa dicoba tapi perlu waktu 2 jam lebih.

Cuman klo telat nyampe… yaa sunrisenya kelewat. Tepat pukul 05.28 wib, daku udah menclok di dataran tinggi Palutungan dan segera mengabadikan momen sunrise yang begitu mempesona. Sinar kuning keemasan menyeruak gelapnya pagi, sambil tersenyum untuk segera menyinari alam ini. Puas menikmati ciptaan Allah SWT ini, segera beranjak menuju kawasan wisata yang bernama ‘Sukageuri View’.

Pic : Petunjuk gerbang masuk Bukit Sukageuri / dokpri.

Sebuah kawasan wisata yang dikembangkan oleh Pemda Kuningan bersama Desa Cisantana dan Kompepar Palutungan sejak tahun 2012 silam. Petunjuk arah ke bukit Sukageuri relatif eye catching berada di sisi kiri jalan raya, langsung belok kiri aja dan 50 meter kemudian ada loket pembayaran. Tiket Rp. 15.000,- per orang (tertera tulisan di samping gardu tiket), hanya saja karena masih rebun-rebun pagi-pagi…. eh petugas tiket belum ada. Yaa lewati dan free…. (moo bayar bayar kemana?) Padahal klo dihitung pengunjung yang sedang asyik ber-wefi dan selfi dengan latar sunrise sekitar 60 orang.

Pic : menara padang bulan sabit / dokpri.

Beberapa panggung tinjau dari bambu sudah dibangun oleh pengelola sehingga digandrungi pelancong. Meskipun harus extra hati-hati karena tanpa pengaman yang berarti. Ada yang berbentuk bintang, bulan sabit serta mahkota raja. Dipadu dengan sinar mentari pagi atau gagahnya gunung ciremai plus kamera smartphone atau DSLR yang mumpuni dijamin photonya instagramable.

Pic : Sunrise diantara menara bintang / dokpri.

Puas menikmati panggung pandang, kaki bergerak menyusuri area Bukit Sukageuri ini yang cukup luas. Cocok untuk jogging trek dan acara outdor lainnya. Dengan kontur bukit berbatu dan berundak-undak alami, cukup menantang untuk di jajal.

Pic : Tangga turun dari menara pandang / dokpri.

Fasilitas parkir mobil leluasa serta mesjid yang lumayan bisa menampung pengunjung memberi poin tersendiri. Termasuk pembuatan rumah-rumah hobbit yang bisa memuaskan dahaga pengunjung yang ingin selalu eksis dimanapun dengan tongsis dan pastinya narsis habis hingga kadang photonya itu 1/3 selalu wajah si empunya gadget hehehehe.

Pic : Rumah Hobbit di Bukit Sukageuri / dokpri.

Itulah cerita singkat tentang bukit Sukageuri, Palutungan Kecamatan Cigugur Kuningan.

Keluar dari area tersebut kira-kira 1 km ke arah bawah terdapat gapura bertuliskan ‘Taman Cisantana’...

Pic : Pintu gerbang Taman Wisata Cisantana / dokpri.

Penasaran, langsung rush hitam belok kanan dan masuk ke lokasi tersebut. Ada bangunan gerbang tiket yang lagi-lagi masih kosong tiada orang. Tertera tarif masuk Rp 10.000,- per pengunjung. Didalamnya area jogging track, tempat bermain dan kembali fasilitas narsis diatas bukit.

Pic : Bukit batu Taman Cisantana / dokpri.

Yang menarik adalah bukit batu yang berdiri kokoh menyambut pagi diatasnya terdapat trek untuk view serta jalan-jalan bagi pengunjung. Hanya memang tidak sempat memanjat sang bukit batu karena waktu jua yang membatasi.

Pic : taman Cisantana / dokpri.

Fasilitas toilet dan tempat makan tersedia, tetapi daku tak berlama-lama berada disini karena janji kepada istri tercinta bahwa jam 07.00 wib sudah kembali tiba di basecamp. Hatur nuhun. (Akw)

Sensasi Kuliner Nostalgia

Melanglang nostalgia melalui indera perasa, mengingatkan memori masa silam yang sekejap sesaat dan nikmatt.

Photo : eskrim 3rasa/dokpri

Masa kecil adalah masa yang indah, sebuah ungkapan yang terasa mengena dan langsung membekas disaat bibir bersentuhan dengan buliran lembut es krim 3 rasa bercorong coklat muda.

Rasanya masih sama…. disaat dahulu, 30 tahun lalu bercanda ria di alun-alun Bandung bersama kedua orang tua.

Rasanya masih sama………. racikan eskrim lokal yang diolah tradisional rumahan. Dicecap lidahku yang mungil jaman harita. Kembali terbayang teduhnya alun-alun, ceruanya anak-anak yang bermain ceria. Juga tukang photo polaroid yang saat itu terlihat begitu canggih karena photo langsung jadi. Syaratnya hasil photonya di kipas-kipas dulu supaya gambarnya segera muncul.

Sekarang rasa itu kembali hadir dengan harga Rp 3.000,- , eskrim cone yang begitu ngangenin. Mencair di bibir membawa rasa tiada hingga, melupakan sesaat masalah hidup dan kerjaan yang ada. Menjelma sesaat menjadi anak kecil yang tak punya beban masalah kehidupan. Me-lamotan eskrim tiga rasa dengan nikmat tiada tara di saat mentari begitu garang memanggang hari.

Ya siang ini sensasi masa lalu 31 tahun silam seolah kembali lagi, hadir sesaat meskipun hanya berhitung menit yang akhiri oleh prosesi habisnya eskrim tiga rasa tandas tak berbekas di halaman Pusdai Jawa Barat, menanti waktunya sholat jumat tiba.

Sesi kuliner kenangan tidak hanya oleh secorong eskrim, karena ada juga semangkok sajian yang menjadi jajanan wajib semasa menjadi mahasiswa… ya sekitar 18 tahun lalu.

Apa itu?…

pasti para pembaca tau dech..

CUANKI…

Hayooo pasti pada tau khan?… Sajian semangkok baso berkuah ditambah tahu putih, siomay dan jika mau tambah kenyang untuk modal perkuliahan siang hingga malam… ya tambah indomie sebagai pelengkap penyempurna. Paten pokonya mah.

Jangan lupa saus sambalnya agak banyakan… pedas merangsang keringat untuk mengucur, memberi sensasi kegerahan yang menggembirakan. Trus jangan salah guys, istilah cuanki bukan bahasa dari negeri tiongkok tapi istilah asli yang muncul di tanah priangan yang miliki arti nasional, Cuanki kependekan dari ‘Cari UANg jalan kaKI’ jadi ngider membawa baso dan kawan-kawannya lengkap juga panci dan kompor yang menjamin air kuah panci tetap panas menggelegak sepanjang hari.

Ingin rasanya makan cuanki lengkap dengan indomienya, apa daya sang protokol melarang. Tapi urusan dokumentasi tetap jalan. Tinggal menunggu yang jajan datang dan minta ijin di photo…. mangkoknya bukan orangnya. (Soalnya ada yang ge-er disangka moo photo wajah trus ngarep jadi viral, ampyun dech!!).

Jadi dech kenangan kuliah melintas lengkap di pikiran, pa lagi jaman harita masa-masa duit terbatas. Semangkok cuanki kumplit dan bonus semangkok kuahnya doang sangat cukup mengganjal perut hingga malam menjelang. Sekarang harganya Rp 10.000,- per mangkok dengan status kumplit termasuk indomie 1 bungkus.

Photo : Mamang Cuanki & teteh Eskrim/dokpri.

Yang penasaran, ditunggu ama teteh tukang eskrim dan mamang Cuanki di halaman depan Pusdai Jabar. Khususnya hari jumat, ya jam 10an. Karena selain aneka kuliner juga di jalan raya arah timur adalah pasar kaget mingguan.

Photo : Shalat jumat 080917/dokpri

Jadi met hunting kuliner nostalgia, murah rasanya, muanteeebb kenangannya. Saya mah moo sholat jumat duyu…..

Selamat berbelanja dan berkuliner nostalgia. (Akw).