Khusuk di Mushola Mall

Dilema disaat kenyataan tidak sesuai harapan, terpaksa sebuah rasa dikorbankan demi harapan di masa mendatang.

Ini hanya contoh photo Mushola yang cukup representatif / dokpri

Photo : Contoh Mushola yang representatif di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. (Dokpri)

Adzan magrib berkumandang tepat di saat parkir di halaman mall, alhamdulillah. Segera bergegas menuju mushola yang terletak di basement. Ternyata… udah banyak orang yang antri wudhu. Bersiap menunaikan kewajiban rutin umat islam. Selesai wudu dalam antrian yang lumayan, kembali menunggu karena mushola kecil ini udah penuh.

Iseng diitung kapasitas mushola, yang cuman dua baris ini. 1 imam dan 11 makmum, euleuh cuman maksimal 1 losin eh 12 orang. Padahal yang moo sholat banyak. Sabarr…. tunggu aja. Ternyata tidak lama dan kloter keduapun siap menunaikan sholat.

Dapet posisi jajaran kedua dan segera takbirotul ihram, ‘Allahu Akbar’ mengikuti imam. Imamnya anak muda dan melafalkan Alfatihah serta surat Al Insyiroh di rakaat pertama dengan fasih dan enak iramanya.

Tetapi ternyata memakan waktu lama dan membuat antrian selanjutnya tidak sabar. Muncul celetukan, “Musholanya kecil banget nich”, “Lama banget sih, banyak yang ngantri nich”. Terus terang kekhusukan yang begitu sulit didapatpun terusik. Sang imam muda bertahan dengan bacaan tartil dan gerakan tumaninahnya. Yang ngantri dan merasa kelamaan nunggupun semakin gencar menggerutu.

Diriku terjebak dalam dilema, tapi tak bisa berbuat apa karena keriuhan diskusi hanya di otak saja. Kekhusukan terpaksa tergadaikan, berganti dengan rasa iba merasakan nasib pengantri sambil tetap ikuti gerakan sholat sang imam muda.

Sejumput doa terpanjat, semoga musholla kecil ini segera berubah menjadi luas, lapang dan nyaman serta jamaah yang akan sholat juga tetap banyak. Amin.

Kulinas di acara PJT II

Kotretan tentang KuliNas (Kuliner Dinas), makan malam teratur dan terpola standar hotel (table manner) menyajikan kuliner istimewa di acara resmi penuh makna.

Pemandangan kota Jakarta / dokpri.

Sabtu adalah saatnya bercengkerama dengan keluarga, ocon sama orok dan pasti ibunyaa setelah senin hingga jumat malam berjibaku sama kerjaan yang nggak ada brentinya. Tetapi resiko tugas sebagai ASN yang harus siap dengan tugas mendadak, maka meskipun bersama keluarga, status ‘Siaga‘. Siaga trus penggalang baru pandega… eh itu mah Pramuka yach?… siaga ini juga bukan status gunung berapi yach. Tapi bentuk kewaspadaan pribadi karena fungsi memilih abdi negara sebagai profesi.
Sang istripun dengan sedikit murung berjuang untuk mengerti bahwa ini salah satu konsekuensi, mendukung dan berharap segera berkumpul kembali. Alhamdulillah istriku mah bageur dan sholehah.. Aamiin.

Apa yang terjadi?…. tugasss… Yup karena sabtu siang ini harus segera meluncur ke ibukota negara, jakarta. Mendapat perintah dari bos untuk hadiri acara di Ballroom Hotel Indonesia Kempinski Jakarta di malam minggu dalam acara ‘Gebyar 50 Tahun Perum Jasa Tirta II’. Berangkaat…. Bismillah.

4 jam perjalanan Bandung – Jakarta dilakoni olangan. Sedikit tersendat dari Km46 Tol Cikampek – Jakarta hingga masuk tol kota. Yang penting tiba di lokasi acara tepat waktu.

Ngemeng-ngemeng disinih nggak bakal bahas detail urusan acara yang pasti ada susunan serta agendanya. Tapi yang dibahas mah urusan hidangan atuh… kuliner hotel yeuh. Tabel manner tea geuning. Yang makan banyak aturan, beda-beda sendok dan pisau dengan sajian yang terdaftar. Yang klo mau makan lirik-lirik dulu, bisi salah pegang pisau atau sendok, soalnya sendok aja ada 3 model. Harap maklum aku mah penikmat kuliner yang tradisional, yang enaknya langsung pake tangan dicomot dan am. Klo ini mah penuh tatakrama dan jangan lupa lap putih berbentuk segitiga sudah siap diatas paha dimana sajian akan segers tiba.

Yuk kita bahas atu-atu. Cekidot.

Photo : dokpri

Sajian perdana air demineral ‘Jatiluhur”, membasahi tenggorokan yang dari tadi dibiarkan kering. Menu pembuka (Appetizer) tersaji di piring putih daging sapi tipis dengan daun parsley dan sebuah bunga oranye putih kemerahan. Nggak banyak cingcong, ambil garpu dan am am am. Urusan rasa sih relatif, yang pasti ada asem dikit dan enak. Giliran bunganya nggak berani makan, meskipun aku berpendapat bahwa sajian makanan itu ideal bisa dimakan semuanya. Ya kecuali duri dan tulang… :).. eits itu juga boleh klo giginya kuat ngegigitnya.

Appetizer / dokpri

Karena penasaran dan kepo, pas pelayan berbaju hitam datang. Ditanya, “Mas klo bunga ini boleh dimakan?” “Jangan pak, itu mah hiasan!” …. Alhamdulillah feeling so good. Tapi bapak yang di samping kiri agak tersipu karena beliau memakan tandas sajian appetizer tersebut tanpa sisa, termasuk bunga hiasannya…. xixixixi.

Soup : Crab bisque with seafood dumplings, parmesan puff pastry straw

Sajian kedua adalah soup kepiting dan bermacam campurannya atau lengkapnya ‘Crab bisque with seafood dumplings, parmesan puff pastry straw’ tersaji semangkuk soup kecoklatan dengan roti bawang. Nggak banyak basa-basi. Sikat habis bersih tak bersisa. Eh sisa ding… mangkok piring dan sendoknya.

Main course : Grilled beef terderloin served with steamed rice, sautéed vegatble and sate maranggi / dokpri

Tibalah menikmati sajian utama (Main course) yang full daging yaitu tenderloin dan sate maranggi ala hotel. Pasti ada nasi dibentuk kerucut jadi tumpeng super mini. Berhubung udah 1 tahun brenti makan nasi ya…. disisa-in dech. Klo tenderloin dan satenya jelas dieksekusi setelah terlebih dahulu dipotong-potong kecil untuk mempermudah penyuapan (ini penyuapan dalam arti sesungguhnya).

Photo makanan penutup / desert

Makanan tersaji untuk menutup sesi table manner ini adalah kue coklat dan mini ice cream atau nama lengkapnya ‘Baked chocolate mouse and apricot cake with almond crumble, fresh raspberries and vanilla bean ice cream’. Hanya berani setotol saja, nyacapkeun kapanasaran. Tak berani dimakan tuntas karena ada protokol makanan yang musti dijaga tegas.

Photo : dokpri

Terakhir tersaji kue-kue dan bola-bola coklat yang terlihat menggoda. Lagi-lagi hanya berani memandang dan mengabadikan saja agar dapat dikenang lebih lama. Plus pilihan hot black coffee atau teh yang menutup resmi jamuan makan malam di acara ini.
Alhamdulillah kenyang, semoga perut tidak berontak dan mencret berkepanjangan (maklum beuteung kampung).

Itulah perjalanan kulinas (kuliner dinas) malam minggu di kota jakarta tepatnya di Ballroom Hotel Indonesia Kempinski di bilangan bundaran HI – Kebon kacang, Jakarta pusat. Laporan dinasnya sih itu entar di kantor plus berkas visum dan bukti tol serta struk bbm. Ini mah urusan kulinernya aja.

Photo Kadis PSDA mewakili Gubernur, menerima penghargaan / dokpri

Hatur nuhun PJT II atas undangannya, dan Selamat ulang tahun setengah abad dan juga peluncuran bukunya. Serta terima kasih sudah memberikan penghargaan kepada Gubernur Jawa Barat sebagai ‘Outstanding Achievement on Environment Water Resources Award’ yang terima oleh Bapak Kadis SDA Provinsi Jawa Barat bersama Bupati Purwakarta dan Kepala BBWS Citarum.

Photo penghargaan & medali / dokpri

Akhirnya acara kelar dan musti kembali bersabar karena keluar gedung parkir lantai 9 hingga keluar ke jalan raya butuh 1 jam. Maklum bentrok sama yang bubaran malem mingguan dari mall ini. Iya acaranya di atas mall di lantai 11. Jadi lumayan pegal nginjak pedal rem menuruni gedung parkiran yang tinggi menjulang. Saking lamanya antri keluar dari parkiran, turun dulu dan ambil photo pemandangan kota jakarta di waktu malam, lumayan.
Perjalanan pulang menuju bundaran HI trus ke Semanggi padat merayap, beruntung kenalan sama bos PDAM Kota Bandung, jadi bisa ngikutin tanpa bingung arah tujuan di jalanan jakarta yang masih membingungkan. Setelah masuk tol kota, kembali nyetir olangan ditemani malam yang telah berganti hari menjadi hari minggu, hari keluarga.

Udah dulu ah, yang pasti Alhamdulillah dini hari sudah landing di bandung eh cimahi kétang, dan berkumpul kembali dengan keluarga tercinta. Wassalam. (Akw).

11 Kuliner di Makassar

Coba kumpulkan beraneka rasa makanan khas selama berkunjung di Kota Makasar yang menyajikan beragam varian kelezatan daaan…. kolesterol.

Photo lumpia & Jalangkote : Dokpri

Waktu yang terbatas, berada jauh dari rumah disela agenda meeting luar pulau luar provinsi yang berjadwal padat, maka pilihan yang paling tepat adalah berusaha menyempatkan diri mencicipi makanan khas yang ada di daerah tersebut. 

Bisa di malam hari jikalau memungkinkan, atau disela perjalanan menuju bandara. Karena kalau lagi meeting kabur dulu sangat tidak dianjurkan, apalagi cuma demi icip-icip makanan khas. Meeting ya meeting, klo moo santey dan banyak waktu ya liburan bersama keluarga. Nabung dulu trus ngajuin cuti ke kantor. Baru bisa mengatur agenda pribadi beredar baik dalam dan luar negeri.

Kali ini Kota Makasarlah yang menjadi tempat berburu makanan khas. Sebuah Kota yang berkembang semakin pesat seiring pertumbuhan ekonomi khususnya se provinsi Sulawesi Selatan  yang mencapai 7,01% diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Sebuah kota yang sibuk dan titik kemacetan semakin menyebar, tapi ya sudah kita nikmati saja. 

Bukan hanya makanan khas lokal saja, tapi makanan yang ada di Kota Makasar dan sempet di icip-icip yaitu :

Photo : dokpri

Pertama, Jalangkote. Makanan khas Makasar yang serupa dengan pastel di tanah jawa tapi isinya padat atau munu’u (bhs sunda). Bisa dinikmati ditempat ataupun dibawa pulang. Jangan lupa minta yang setengah matang jika untuk oleh2. Trus nyampe rumah masukin kulkas dulu. Bisa tahan 5 hari kata Ibu hj Diana yang jualan di Jalan Lasinrang Kota Makasar. Harga di range 6.500 hingga 7 ribu perbuah. Tapi klo di rumah banyak orang yaa nggak usah masukin kulkas, tinggal goreng, tiriskan, sajikan dannn…. habis tandas tiada sisa.

Photo Lumpia mentah & tetehnya (Dokpri)

Kedua, Lumpia. Sebenernya sama aja dengan lumpia di Bandung. Bedanya dari bumbunya saja. Klo masalah enak dan tidak, buat saya yang hobi makan ya pasti enak. Khan rumus makanan itu ada 2 pilihan. Enak dan enak bingit plus enaak bingiit (itu klo makanan khasnya dibayarin temen, bos, sodara, sponsor atau siapapun yang berbaik hati). Harga sama antara 6500 sd 7000 rupiah.

Photo tempat kuahnya segede gaban (dokpri)

Ketiga, Sop sodara. Ini sop berkuah yang pilihannya kikil, daging, lidah, paru plus perkedel kentang yang tersaji panas dengan mangkuk kecil. Untuk tambahan ada telur asin yang disajikan terpisah. Yang terkenal enak terletak di jalan Irian (itu juga kata travel) dan ternyata enak bingit karena pas laper setelah seharian meeting dan kunjungan lokasi yang cukup melelahkan. Eh lupa, Nasi sebagai pendukung utama sop sodara ini. Tapi saya cukup sop sodara campur aja dan minta 2 porsi. Lupa nggak nanya harga, soalnya pas bayar langsung ditotalin.

Photo coto makassar : dokpri

Keempat, Coto Makasar. Disajikan di mangkok kecil dengan pilihan Coto Daging, Coto Paru, Coto Ludah eh lidah, Coto jeroan, atau Coto Campur klo pengen kumplit semua ada. Tempat makan Coto tersebar di penjuru kota, yang direkomendasi sama sopir travel itu di jalan nusantara. Rasa?… enak donk. Kuah panas berpadu daging, jeroan, paru dan lidah dicampur bawang goreng dan bawang daun tidak lupa jeruk nipis dan sambel plus kecap… pedas mantabs. Lontong tersedia, tapi saya cukup semangkuk coto daging plus semangkuk coto campur hehehe. Harga 25ribu per mangkuk, lontong dan air teh atau juice nambah lagi.

Photo : dokpri

Kelima, Pisang Ijo. Itu sajian cuci mulut yang nikmat. Dengan terpaksa melanggar rumus diet karena penganan ini sarat karbo dan gula. Tapi demi review blog yaa terpaksa dinikmati (hehehe… alasannya klise ya?). Pisang ambon dibungkus lapisan terigu berwarna hijau, disajikan di piring ditemani seperti bubur sumsum berwarna putih plus diguyur kuah merah manis dari sirup plus gerusan es batu. Nikmat pisan, dingin, manis dan manis… ups. 

Photo Konro Bakar : Dokpri

Keenam, Konro. Ada dua pilihan penyajian, bisa berkuah atau konro bakar, disajikan terpisah dengan kuah. Daging rusuk yang besar, dibakar berbumbu khas, mirip bumbu sate dan enak, sedikit rasa manis beradu dengan rasa asin segar dari kuahnya yang sudah dikucuri perasan jeruk nipis… yummmy. Ini posisinya di Jalan Karebosi Kota Makasar. Beberapa warung dan rumah makan yang menyajikan konro, disini relatif luas dan ada 2 lantai sehingga bisa leluasa menampung rombongan. Sebagai teman setia tentu nasi sepaket dengan konro. Kecuali yang nggak makan nasi tinggal di oper ke temennya yang gembul. Harga 55 ribu untuk sop berkuah dan 57 ribu yang konro bakar.
Ketujuh, Risolles. Ini mah biasa di bandung juga ada. Tapi tetep penasaran jadi dijabanin barang satu dua buah. Lumayan buat ganjal perut malam-malam. Dengan isi potongan sosis, daging asap plus mayonnes enak di makan panas-panas. Harga 8 ribu per biji.

Photo : dokpri

Kedelapan, Sop Kepala Ikan. Sajian sop Kepala Ikan laut di Rumah Makan Pallu Kaloa, jalannya lupa euy. Membebaskan rasa lapar di siang terik yang begitu memanggang raga. Tersaji lagi-lagi dengan nasi. Tapi yang asyik selain nasi adalah telur ikan goreng yang rasanya garing gurih sedikit asin. Terasa daging kepala ikan yang maknyus memanjakan mulut meluncur ke perut. Alhamdulillairobbil alamin, terima kasih atas rejeki dan nikmat-Mu Yaa Allah. Ini rasanya nikmat bingit pake bingit lagi karena di traktir teman ya g sudah jadi pejabat di Kota Makassar. Thanks bro.

Kesembilan, ikan bakar. Sebetulnya berbagai jenis tetapi yang paling enak (kata pa Asda EkbangKesra Pemprov Sulsel waktu sambutannya di Kantor Gubernur Sulsel) Khasnya adalah ikan laut dalam jenis napoleon, tapi kesempatan waktu ternyata tidak memungkinkan. Mungkin next trip or next meeting ke Kota Makasar baru bisa mencicipinya. Trus ternyata disini tidak ada ikan, yang ada adalah Ikang (tambah hurup G di belakang :)) apapun itu yaa jadi catetan aja dulu.

Photo : dokpri

Kesepuluh, Baklave Irfan Hakim. Klo di Bandung Brownies Amanda lagi dikepung sama Makuta Laura CB, kue Princess sama kue.. lupa euy Mamanya Rafi Ahmad. Nah di Makasar ada Irfan Hakim dengan bakavenya. Tokonya di jalan Hasanuddin  Kota Makasar, harga perkotak 65 ribu dengan varian rasa original, coklat, keju, grinti (green tea) dan kacang. Ya ikutan coba beli meskipun tinggal 2 varian. Ntar diicip di rumah sama istri, anak dan keluarga.

Kesebelas… pengennya bahas otak-otak tapi …… euh udah ah. Ini juga udah eneg kekenyangan heu heu heu. Ntar klo kekenyangan bisa-bisa ngorok di ruang tunggu bandara dan ditinggal pergi pesawat karena hingga panggilan terakhir masih tertidur dengan lelapnya di kursi ruang tunggu bandara. Audzubillahimindzalik.

Eng.. ing.. enggg.

Alhamdulillah Lion Air JT 883 Dengan pesawat jenis Boeing 737-800 New Generation bisa take off tepat waktu untuk mengantarkan kembali ke Kota Bandung berkumpul kembali dengan keluarga tercinta. Wassalam. (Akw).

Citadines

Ah ini sih iseng kutrat kotret pas lihat nama hotel yang sepertinya sudah akrab.

Photo : Dokpri

Tadinya nggak iseng dengan nama hotel, apalagi udah lelah meeting seharian plus jalan macet menuju lokasi hotel. Jadi di tempatkan di hotel manapun ya terima aja yang penting ada tempat nginep. Trus agenda rapatnya dekat, cukup itu. Tapi ternyata pas mau belok dari jalan raya trus liat nama hotelnya…..

O ow… 

Yang menggelitik adalah nama hotelnya. Terletak di jalan Hasanuddin Kota Makassar dan coba tebak apa nama hotelnya?….

Namanya Hotel Citadines, Namanya akrab banget dengan PNS yang sedang DL (Dines luar) atau perjalanan dines (baca : dinas) luar provinsi :).

Cita dan dines, diawali dari cita-cita untuk terbang pake pesawat dan urusannya dines ke luar provinsi, eh nginepnya di hotel cita-cita dines alias citadines (maaf klo maksa tapi mirip khan?….)

Ternyata setelah masuk ke hotel dan wawancara satpam tentang arti citadines, bingung dia jawabnya. Resepsionis hanya bilang itu berasal dari bahasa prancis. Ditanya ke resepsionisnya, ternyata ini hotel baru banget, baru beroperasi bulan april 2017 atau baru berumur 4 bulan lho. 

Ya udah nggak banyak lagi tanya-tanya, check in dan segera menuju kamar. Dalam kamarlah semakin terang benderang kenapa namanya kok mirip2 urusan ‘dines’. Ini hotel adalah bagian dari jaringan hotel internasional dibawah Grup Ascott The Residence dan Somerset Serviced Residence di negara perancis sono.

Citadines apart’ hotel adalah jaringan hotel internasional dan yang di tempati sekarang adalah Citadines Royal Bay Makasar. 

Ya udah ah… kok jadi iklan gratis inih mah. Wassalam. (Akw).

Sunset vs Sunrise

Mengejar mentari terbit dan tenggelam dan terbit lagi dan tenggelam lagi dan…

​Makassar (23/08).

Sunrise di Monumen mandala/ dokpri.

Dikala senja menjelang, berbondong orang mencari tempat terbaik untuk berusaha mengabadikan fenomena alam yang sebetulnya terjadi setiap hari tetapi memberi sensasi tersendiri. Mengabadikan mentari tenggelam di barat adalah salah satu ritual kebiasaan terutama bagi sang pelancong alias traveller, baik traveller sejati ataupun traveller kebetulan… maksudnya yang sekalian hadir di kondangan sodara atau juga yang traveller Cardin (Carena Dinas) alias DL (Dinas Luar).

Sensasi mengabadikan matahari tenggelam begitu kuat menarik siapapun. Tentu dengan berbagai alasan, yang paling umum jaman begonoh adalah for eksis time, aktualisasi kehadiran diri yang secara real time dilaporkan kepada dunia melalui media sosialnya. Maka photo momen matahari tenggelam atau sunset ini bertebaran di Facebook, Instagram, Path, Pinterest dan kawan-kawannya. Tidak lupa untuk yang ingin Narsem (Narsus sempurna) pasti sangat akrab dengan aplikasi Camera360 & bejibun aplikasi penghalus wajah instant yang bertebaran di playstore, i-store dan balad-baladnya.

Sunset di P. Belitung / dokpri

Untuk sunset ini bagi yang narsis sebetulnya kurang pas karena hasil photo akan backlight. Jadi dikejarnya pasti siluet wajah dan badan berlatar semburat jingga kekuning merahan. Tempat favorit tentu berada di tepi pantai. Yang udah mainstream di pulau dewata adalah pantai Jimbaran sambil menikmati sajian seafood yang banyak bertebaran atau di pantau Kuta berselonjor kaki di pasir putihnya. 

Sunset di Pantai Tanjung An Lombok/dokpri

Terbang ke lombok, mencoba mengejar sunset Gili Air atau Gili Trawangan. Bisa juga alternatif di pantai Tanjung An Lombok Tengah serta tempat-tempat keren lainnya. Bicara berburu sunset mah nggak ada habisnya, di Pulau Belitung Provinsi Babelpun begitu menawan menikmati kemulau riak air laut di sela batu-batu raksasa yang menjadi salah satu tempat shooting film Laskar Pelanginya Andrea Hirata.

Sunrise di Stasiun Purwakarta / dokpri

Udah dulu ah ngomongin sunset, sekarang sodaranya sunset yaitu sunrise alias momen mentari terbit yang tidak kalah menakjubkan. Juga butuh effort lebih karena musti bangun dini hari, trus ditambah acara daki-mendaki… ya minimal nyiapin lutut untuk jalan menanjak menuju spot yang diharapkan. Yang terkenal seperti di lokasi Pananjakan, untuk melihat mentari mulai bersinar di Gunung Bromo. Terbang ke Bali, beberapa spot di Danau Batur bisa jadi lokasi Sunrise yang keren. Atau kalau yang mau paket sunset dan sunrisenya nggak terlalu sulit dicapai serta deket dari Kota Bandung maka pantai Pangandaran adalah tempat ideal. Bisa menikmati momen tenggelam matahari di pantai barat dan terbit matahari di keesokan harinya di pantai timur pangandaran.

Kalau di Pulau Sulawasi khususnya di Kota Makasar maka Pantai Losari yang memberi banyak arti. Tetapi disini sunset saja yang bisa diabadikan, klo sunrise musti naik ke bangunan tinggi dan berbackground bangunan di Kota Makasar. Beruntung penulis kebagian hotel yang pas sehingga sunrise di Kota Makasar bisa didapat ditemani gagahnya Monumen Mandala yang dibangun untuk mengenang pembebasan Irian Barat dari tangan penjajah dan dibangun tahun 1994.

Sunset tertutup awan di Pantai Kuta Mandalika / Dokpri

Kembali urusan sunset dan sunrise, ada yang senengnya sunrise doang atau sunset doang. Itu sih terserah masing-masing orang. Tapi penulis senang kedua-duanya, karena itu salah satu bukti kekuasaan Allah SWT dan juga salah satu penanda bahwa  kiamat besar masih jauh dari kita sebagaimana yang disampaikan dalam hadits HR Buchori.

Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga matahari terbit dari barat. Ketika (manusia) menyaksikan matahari terbit dari barat, (maka) semua manusia akan beriman. Pada hari tersebut tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau ia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya (HR Bukhari).

Sehingga patut dan wajib bagi kita untuk senantiasa bersyukur serta beribadah bersungguh-sungguh agar menjadi jalan bagi rahmat dan hidayah Allah SWT dan menggolongkan kita masuk menjadi layak untuk masuk ke surga-Nya kelak. Amiin Yaa Robbal alamin. (Akw).

Bersama M3R kang Lucky

Menikmati makna untuk menuai rasa sepanjang penerbangan Bandung – Makassar ditemani buku M3Rnya kang Lucky R Sumanang.

Photo : dokpri

Akhirnya sebuah buku bercover sunset mendarat di tangan ini. Ingin segera membuka, membaca lembar demi lembar serta mereguk rasa yang dijanjikan penuh makna. Tetapi harapan untuk segera bercengkerama harus tertunda karena tugas negara terus mendera.

Sang buku bercover sunset ikut ke rumah, dibawa lagi ke kantor termasuk jadi saksi bisu disaat meeting senin pagi, tapi hanya bisa menyentuh tanpa kuasa membuka.
Hari ketiga setelah buku bercover sunset ini menjadi teman setia, nggak sengaja takdir mempertemukan dengan sang penulis yang tanpa basa-basi ditodong tanda tangannya di halaman pertama. Horeee…. dan berjumpa di bandara Husein sastranegara untuk terbang menuju Kota Makasar bersama-sama.

Photo : dokpri

Setelah duduk manis bersabuk pengaman, Boeing 737-800 bergegas lari di landasan dan hitungan menit sudah goodbye dengan runway menuju langit pagi yang cerah meriah. Diatas awanlah sang buku bercover sunset mulai dibaca, dinikmati dan diresapi. Tulisan-tulisan sederhana sarat makna yang tercipta dari tangan dingin insinyur ‘murtad‘ yang bernama Kang Lucky R Sumanang dengan judul buku ‘Membaca Makna Menuai Rasa (M3R).

Photo : dokpri

Saya tidak bermaksud membedah buku ini karena bukan ahli bedah, hanya penikmat makna yang bakalan dapet rasa. Aliran cerita pengalaman pribadi kang Lucky yang berbackground sekolah insinyur tentu sarat dengan angka plus hitungan, bergelimang rumus serta perhitungan. Tetapi dalam buku M3R ini hitungan rumus berkelindan indah dengan philisophi kehidupan. Berpadu padan membentuk kesatuan cerita yang tidak membosankan. 

Kereen pisan pokona mah…

Photo kang Lucky lg pura2 serius (Dokpri)

Kang Lucky menyusun buku ringan bacanya tapi miliki makna mendalam, berpadu dengan quote dan gambar yang saling melengkapi. Sehingga terciptalah buku ini, buku M3R klo boleh saya sebut.

Buku M3R bercover sunset ini terbagi menjadi 2 bab dan 30 subjudul total 190 halaman menyajikan refleksi keseharian kita yang dikemas simple dan cocok buat temen perjalanan, wabilkhusus pas naik pesawat. Karena smartphone musti offline otomatis medsos terdiam sebentar dan kita diberi kesempatan lakukan aktifitas lain. Biasanya tidur atau klo nggak bisa… ya moto yang tidur hehehe.

Tapi sekarang bisa segar dan cenghar karena bisa menikmati membaca buku Kang Luki hingga tuntas tas tas tasss…
Kang Luki, tulisannya Lucky tapi dibaca Luki yang artinya ‘keberuntungan‘… eh pas ditanya ternyata Lucky itu singkatan. Yaitu singkatan bahasa sunda, “luncatna beuki” (senang meloncat).

Jadi pas dilahirkan diberi nama ‘asep‘ ternyata senang sekali loncat-loncat kesana kemari hingga suatu ketika loncat dari meja dan keseleo, diobati ke tukang patah tulang. Belum sembuh udah loncat lagi dan keseleo lagi. Berulang hungga 7 kali. Hingga akhirnya ayah ibunya mencoba mengganti nama sesuai hobinya itu yaitu senang loncat alias Luncat beuki.. disingkat lucki.. supaya keren ganti i oleh y jadilah lucky. Itulah sekelumit karangan singkat nama kang Lucky eh Luki dengan bermazhab cocokologi :).

Photo : dokpri

Yang pasti mah ‘Kang Luki’.... itu panggilan saya diluar dinas. Klo lagi meeting wajib nyebut ‘bapak’ soalnya klo nggak disebut suka cemberut dan molototan, trus khawatir nggak dapet buku gretongan lagi… hatur nuhun buku M3Rnya bos

Udah ah. Alhamdulillahirobbil alamin.   Wilujeng sumping di Makasar lur.  (22/08).

Ditunggu buku keren selanjutnya kang. Ciaoo. (Akw)

Ayo Loncat di Bandara Kertajati

Beredar di lokasi Bandara Kertajati BIJB di Majalengka yang udah makin keren, dan kita berjumpshoot & levitasi. Kemoon.

Siang terik menemani raga yang bergerak lincah menjelajah sisi darat (calon) bandara internasional Jawa Barat di Kertajati Kabupaten Majalengka. Titik pertama yang krusial adalah titik nol akses bandara yang sudah tuntas di bangun, di hotmix siap pakai yang nantinya bakalan nyambung ke jalan provinsi. Sekarang masih proses pembebasan lahannya. Klo cuman photo bareng mah biasa, tapi supaya lebih kerasa. Maksudnya kerasa terengah-engahnya… mari kita loncat, jumpshoot time fren….!!!

Photo : dokpri

Kesempatan pertama, Kang DAJ yang menjajal kemampuan terbangnya dengan gaya gokilnya. Jump….

Dan hasilnya keren, loncat dan ceria.

Photo : dokpri

Trus Mr J nggak mau kalah, segera siaga menunggu hitungan ketiga. Lompatan pertama masih belum memuaskan, loncatan kedua baru terlihat mampu melawan gravitasi dengan gaya ”X’ nya yang selalu diandalkan. Yang keren dan pasti (nggak sengaja) adalah bayangan yang di hasilkan berbentuk bayangan Drone.. iya drone. Aduh jadi kangen DGI Spark dech…. ups.
Trus karena ternyata klo saya yang loncat dan diphotoin orang lain ternyata gagal terus, kalahka cape loncat-loncat tapi hasilnya jelek khan nguras energi dan esmosi… emosi maksudnya.

Jadi…?

Photo : dokpri

Sambil ngetest trek jalan akses bandara BIJB sekaligus udah lama nggak nunggangin roda dua. Mumpung yang lain lagi sibuk liat sitemap, buru-buru jajal si hijau ramping KLX… brumm. Brummm.

Puas puter-puter, rombongan bergerak ke gedung terminal bandara. Otomatis cari spot yang tepat untyk bikin orang lain terbang. Lho kok ngurusin orang lain bukannya gawe?… ih usil, gawe so pasti. Ini mah sisi lain. Opini pribadi, ntar laporan resmi dibuat.

Kapan?.. ya entar 🙂

Ternyata di area Apron bandara yang luaaas pisan dan cuaca cukup terik sehingga menghela nafas dikit aja langsung keringetan, apa lagi klo inget kamu (naon seeh ga puguh-puguh). Dengan background menara pengawas yang dibangun oleh Pemerintah Pusat melalui AirNav akhirnya ada juga yang menjajal loncat dan sesaat berpisah dari bumi.

Photo : dokpri

MR AR mencoba meloncat dan ria, meski hasilnya belum maksimal tapi untuk loncatan perdana udah dapet nilai lumayan kata aku mah.

Photo : dokpri

Mr Af yang juga nyoba berjumpshoot dengan gaya andalannya. Berhasil terbang sesaat dengan backgroud Menara pengawas Airnav. Helm putihnya entah kemana.  Rompi mengawal dengan ketat takutnya jatuh, padahal helm berfungsi ya minimal kepala terlindungi. Klo lutut?… ya sakit pastinyah.

Photo : dokpri

Trus Mr DR meloncat dengan ceria dannn.. Mr TT berlevitasi ria, semakin handal bapak pejabat tinggi ini berlevitasi. Soalnya modalnya cukup, wajah cool, kumis rapih plus badan ringan…. cocok khan?.. jadi photonya bisa melayang.

Setelah itu rombongan balik dech ke basecamp tempat pertemuan awal. Menyisakan kebanggaan melihat progres pembangunan bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Cengkareng dan Bandara Pertama yang dirintis, dibangun dan tentu nantinya dikelola serta offcourse dimiliki Pemerintah Provinsi yaitu Pemprov Jabar.

Hatur nuhun. (Akw).