Rumah Keong di Belitong

Sebuah kisah tentang salah satu spot wisata di pulau Belitong

Disaat bus kencang bergerak menuju arah mesjid untuk mengantar kami menunaikan ibadah shalat jumat. Di sebelah kiri terlihat terlihat empat bangunan lucu berwarna krem, setengah lingkaran dan seperti bergaris-garis. Spontan pertanyaanpun berhamburan, “Tadi bangunan apa yach?”.

“Itu rumah keong”, jawab mbak putri, guide setia selama kami beredar di Pulau eksotis ini. Mbak putripun melanjutkan, “Itu tempat wisata baru, ada yang menyebut rumah keong tetapi juga ada yang menyebutnya rumah rotan. Juga disebut dermaga Kirana. Nanti setelah sholat jumat kita menuju ke sana”. Semua mengangguk setuju. Bis akhirnya berbelok memasuki pelataran mesjid dan kami berhampuran menuju tempat wudhu untuk memenuhi syarat sebelum sholat jumat.

Sholat jumat sudah selesai, tidak ada aktifitas makan siang karena ini bulan puasa bulan ramadhan yang merupakan bulan istimewa bagi umat islam. Bus bergerak pasti melahap jalanan yang tidak terlalu ramai, meliuk gesit menuju tempat yang tadi menimbulkan kepenasaran kami. Hanya butuh 9 menit perjalanan, bus hijau berbelok arah kanan dan tiba di halaman luas hamparan tanah keras berwarna coklat. Bus hijau segera bersandar mendekati pepohonan demu mendapat sedikit sentuhan keteduhan.
Ternyata betul rumah keong adalah tempat wisata baru, yang dibangun dipinggir rawa yang sekaligus memiliki fungsi dermaga. Namanya kereen, dermaga Kirana, mengingatkan pada judul lagu Dewa 19. 

Bangunan krem yang berbentuk mirip rumah keong dibangun dengan kobstruksi baja yang dililit oleh rotan. Rasa penasaran meraba rotan yang terjalin nyaris sempurna. Tetapi saat telapak tangan bersentuhan, terasa permukaan rotan terasa halus. Maka rabaan meluas karena rasa penasaran, akhirnya muncul sebuah kesimpulan bahwa ini bahan sintetis berbentuk rotan, mirip bingitt apalagi kalau dari kejauhan.

Setelah berkeliling di dalam rumah keong, kaki menjejak menuju dermaga. Tersaji pemandangan alam yang memanjakan mata, bentangan air bening rawa memanggil untuk sejenak bercengkerama. Beberapa perahu bersandar, siaga untuk mengantarkan pengunjung yang ingin beredar mengelilingi kawasan rawa dengan biaya Rp. 250 Ribu per perahu dengan kapasitas sampai 10 orang. 

Ada juga perahu kecil warna warni yang gunakan tenaga kayuh. Tetapi sementara hanya menjadi penghias warna berbalut ceria. Tapi kalau mau nekat mungkin bisa digunakan hanya saja resiko tanggung sendiri.

Setelah mengabadikan berbagai pemandangan yang begitu memanjakan hati. Akhirnya waktu jua yang membatasi semua kesenangan ini, apalagi jadwal pesawat di bandara tidak mau kompromi untuk menunda. Langkah kakipun perlahan membawa raga meninggalkan area dermaga kirana.

@andriekw 160517

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s