Jemput ibu negara

Siang menjelang, suasana terang perlahan meredup. Lumayan nggak terlalu panas, khan bentar lagi jemput ibu negara (maksudnya istri yaw)…. 

“Lho kok hari minggu istrinya kerja?”, pasti itu pertanyaannya. Ya jawaban yang paling umum adalah, “Resiko kuli, titik.”

Padahal dalam hati bersyukur punya istri yang bekerja, saling bahu membahu mendukung fondasi keuangan keluarga. Meskipun yang wajib memberi nafkah itu suami, tetapi kalau istripun bisa menghasilkan rejeki.. kenapa tidak?

Yang penting nafkah utama dari suami, kalau istripun bekerja dan dapat penghasilan berarti disaat istri membantu keuangan keluarga dapet pahala sedekah lho.

Jadi khan win-win. Suami dapet pahala karena memenuhi kewajiban menafkahi keluarga. Istri dapat pahala sedekah karena membantu keuangan keluarga.

Trus ngapain pake istilah ‘ibu negara?’

“Lah suka-suka gue. Itu khan istriku, ya hak diriku untuk memanggil dan menyebut dengan sebutan apa saja. Bener khan?”

Soalnya ada negara kecil yang sedang dibangun yang namanya keluarga. Rakyatnya minimal 3 orang. Ayah negara, ibu negara dan anak negara… ahay kok jadi lebay. Gpp ah suka-suka.

Alhamdulillah. Perjalanan menuju wilayah bandung utara ditemani rintik hujan yang semakin menderas. Tepat waktu, sampai di tempat kerja ibu negara.

Senyumnya menyambut, hayu kita pulang.

Capcuss.. 020417

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s